Diresmikan, Tiga Nama Jalan Baru di Tuban

JAYAKARTA NEWS—- Tiga nama jalan baru sekaligus yang berada di jalan lingkar Kabupaten Tuban diresmikan. Peresmian ditandai dengan pembukaan tirai oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa Sabtu (20/3/2021) di perempatan Penambangan.

Ke-3 nama jalan yang diresmikan tersebut masing-masing adalah Jalan KH Hasyim Ashari, Jalan KH Abd Wahab Hasbullah, dan Jalan Tonny Koeswoyo.

Kegiatan itu juga merupakan rangkaian giat gowes sambang Tuban yang dilakukan Gubernur Khofifah bersama jajaran pimpinan instansi vertikal di Jatim. Antara lain, Kepala BI Jatim, Kanreg OJK Jatim, Direktur BPJS Ketenagakerjaan Jatim, Kepala BPS Jatim, Dirut Bank Jatim, serta Dirut Bank UMKM.

Sebagaimana diketahui, Jalan Lingkar Tuban telah memanfaatkan dana hampir Rp 300 miliar yang digunakan mulai dari pembebasan lahan hingga pembangunan fisiknya. Lahan yang telah dibebaskan pemerintah daerah seluas 372.769,25 m2 dengan dana APBD Tahun 2014-2019 total senilai Rp152,392 miliar.

Pembangunan Jalan Lingkar Tuban Sisi Selatan menggunakan APBD Kabupaten Tuban Tahun 2019 dengan nilai Rp 70 Milyar sepanjang 5.770 meter. Sementara pada APBD Kabupaten Tuban Tahun 2019 Rp78,13 Milyar sepanjang 6.680 meter.

Seusai meresmikan, orang nomor satu di Pemprov Jatim itu menyampaikan, bahwa konektivitas Jalan Lingkar Tuban ini akan memberikan kemudahan mobilitas bagi masyarakat di Kabupaten Tuban dan sekitarnya. Utamanya, untuk mobilitas masyarakat dalam melakukan berbagai aktivitas termasuk kegiatan ekonomi.

“Alhamdulillah hari ini kita resmikan bersama nama Jalan Lingkar Tuban bersama Pak Wakil Bupati Tuban, serta rombongan instansi vertikal di Jatim. Kita optimistis proses ini bisa meningkatkan mobilitas dan konektivitas masyarakat dari satu titik ke titik lain sehingga akan memberikan nilai tambah,” jelas Khofifah.

Menurut Khofifah, Jalan Lingkar Tuban akan memberikan nilai tambah bagi Kabupaten Tuban. Sebagai contoh bisa memudahkan untuk melakukan transportasi perdagangan barang dan jasa yang ada di sini. Tentunya ini akan semakin menumbuhkan peningkatan ekonomi di Kabupaten Tuban.

“Tentu juga bagi mobilitas yang akan melakukan berbagai aktivitas sosial, pendidikan dan sebagainya. Harapannya terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata mantan Mensos RI ini.

Lebih lanjut disampaikan Khofifah, proses pengembangan jalan ini juga sudah dipresentasikan oleh Kementerian PUPR rumpun Jawa Timur untuk kelanjutan percepatan implementasi Perpres No 80 Tahun 2019. Sebab, jalan ini termasuk salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) Perpres No 80 Tahun 2019 menjadi akses ke kilang minyak.

“Insyaallah keberlanjutannya akan segera dituntaskan. Jalan ini akan berseiring dengan maksimalisasi layanan publik bagi masyarakat di sini, sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi di sini,” pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Tuban Noor Nahar Hussein memaparkan, Jalan Lingkar Tuban sudah direncanakan sejak tahun 2013, Pemkab Tuban dengan berkonsultasi pada Kementerian PUPR. Setelah berkonsultasi, Pemkab Tuban diberikan tugas untuk membebaskan lahan.

Mulai tahun 2015 Pemkab Tuban sudah membebaskan lahan sepanjang 13 Km, lebar 32 meter. Sehingga luas total 370.792 m2 yang menghabiskan biaya hampir Rp153 miliar.

“Alhamdulillah satu sisi ini sudah tembus. Sisi yang dua lajur lagi yang sebelah kanan itu sudah ditenderkan. Insyaallah tahun 2022 jika bisa P-APBN tahun 2021 diteruskan bisa tembus,” jelasnya.

Ia berharap, Jalan Lingkar Tuban yang masuk dalam PSN Perpres No 80/2019 bisa semakin menambah aksesibilitas, mengurangi kemacetan, serta membuka akses ekonomi bagi Tuban bagian selatan.(poedji)

Petani Tuban Resah Akibat Langka Pupuk

JAYAKARTA NEWS—– Permasalahan kelangkaan pupuk di Jatim mulai terjadi. Kali ini kelangkaan terjadi di wilayah Tuban. Sehingga banyak para petani kelimpungan dan hasil produksi pertanian mengalami penurunan.

Hal ini disampaikan oleh Anggota DPRD Jatim, Agung Supriyanto saat melakukan serap aspirasi di wilayah Desa Temadang kecamatan Merak kabupaten Tuban, Senin (9/11/2020) malam.

Oleh karena itu pihaknya berharap agar Pemerintah Provinsi segera mengambil langkah taktis agar permasalahan pupuk dipecahkan dan kondisi bisa normal kembali.

“Para petani yang mulai melakukan penanaman dihadapkan dengan masalah pemupukan karena kelangkaan pupuk. Seluruh petani merasa risau,” katanya. 

Politisi PAN ini pun membeberkan kelangkaan pupuk subsidi di wilayah Bumi Ronggolawe langka. Secara nasional, diakui penyediaan pupuk berkurang. Dari awal 8,9 juta ton ini menjadi 7,8 juta ton. Karena penyediaan pupuk ini terjadi pengurangan, maka konsekuensi di lapangan juga sangat berdampak sekali. 

“Lalu bagaimana sikap politik dari Pemprov Jatim, saya menyakini pemprov ini kan sudah dari awal mengetahui. Harus ada sinkronisasi antara kebijakan nasional dan provinsi. Karena bagaimana pun berkaitan dengan penataan wilayah ini tidak lepas dari penataan nasional,” terangnya.

Maka, lanjut Agung yang juga Anggota Komisi C ini, semestinya begitu pusat mengurangi jatah penyediaan pupuk di tahun anggaran 2020, pemerintah daerah harus antisipasi.

“Apalagi kita mengetahui bahwa kebijakan politik anggaran itu berkaitan dengan rencana pembangunan,” imbuhnya.

Dijelaskan pula, Ada dua pilar yang dianggap sebagai perekonomian Jatim. Pertama adalah UMKM dan pertanian. Konsekuensi dari skala prioritas itu pun harus diimbangi dengan politik anggaran.

“Dikala, pemerintah pusat itu mengurangi jatah pupuk subsidi, mestinya harus ada langkah taktis Provinsi untuk menanggulanginya,” katanya.

Bahkan, Agung tidak melihat adanya intervensi dari Pemprov Jatim terkait kelangkaan pupuk subsidi yang terus terjadi. “Belum memaksimalkan perannya untuk hadir di tengah masyarakat, terutama di sektor pertanian,” demikian Agung.(poedji)

Uswatun Hasanah Melestarikan Batik Khas Tuban yang Hampir Punah

Uswatun Hasanah pelestari batik khas Tuban

Jika mampir ke Desa Kedungrejo, Kerek Tuban, Jawa Timur, jangan lupa berkunjung ke Sanggar ‘Sekar Ayu’ untuk belajar membatik khas Tuban. Pemilik sanggar ini adalah Uswatun Hasanah, tokoh masyarakat yang begitu peduli akan pelestarian batik khas daerahnya yang hampir punah. Uswatun bercerita, perjuangannya melestarikan batik Tuban dimulai awal tahun 90-an dan itu sungguh tidak mudah.

“Popularitas batik kala itu belum seperti sekarang. Batik belum menjadi ‘tuan di negeri sendiri’. Makanya ketika tahun 90-an itu saya membangun Sanggar Sekar Ayu dan mengajak warga bergabung, responnya kurang baik. Mereka lebih memilih ke sawah ketimbang membatik. Kala itu mereka tidak yakin kalau batik bisa meningkatkan perekonomian mereka,” ungkap Uswatun yang pada 2010 mendapat penghargaan Upakarti.

“Jadi terus terang saja, kala itu tantangannya berat sekali,” tambah Uswatun yang demi misinya itu dia rela merogoh kocek sendiri untuk membiayai pelatihan membatik warga desanya.

Respon masyarakat itu dipahami Uswatun. Karena memang pada masa itu kerajinan batik tidak lah menjadi sesuatu yang bisa meningkatkan perekonomian keluarga. Dia juga maklum karena batik Tuban tidak lah seperti batik di daerah lain yang sejak lama diperdagangkan. Dulu orang membuat batik Tuban hanya untuk keperluan tradisi.

“Batik Tuban memang agak berbeda dari daerah lain. Membuat batik untuk kepentingan tradisi dan ritual-ritual. Misalnya untuk seserahan pada upacara pernikahan,” ungkapnya sambil menambahkan, dulu  batik di Tuban menjadi simbol status sosial.

Karena kondisi tersebut maka, kata Uswatun, tak heran kalau keberadaan batik Tuban kurang terekspos secara luas seperti batik daerah lain di Jawa. Padahal batik Tuban sudah ada sejak jaman Kerajaan Majapahit.

Dalam perjalanannya jumlah pembatik motif Tuban semakin berkurang karena masyarakat tidak rutin memproduksinya. Lama kelamaan orang pun mulai jarang membatik bahkan nyaris lupa motif-motif khas Tuban. Situasi yang memprihatinkan ini lah yang memunculkan tekad  Uswatun untuk membangkitkan kembali batik daerahnya.

Namun Uswatun tak putus asa, ia tetap berjuang sembari meyakini warga bahwa dengan membatik selain bisa melestarikan budaya mereka juga bisa menambah penghasilan. Pada akhirnya upaya Uswatun tak sia-sia. Perlahan namun pasti warga pun mulai membatik karena dari hasil kerjanya ada uang yang bisa dibawa pulang untuk kehidupan sehari-hari. “Biasanya mereka habis bekerja di sawah datang ke sanggar untuk membatik. Hasil membatik, saya seleksi, yang bagus-bagus dijual. Namun bagi mereka yang hasilnya kurang bagus tetap saya beri upah supaya tetap semangat belajar membatik. Hanya saja, upah yang diberikan tentu berbeda dengan mereka yang hasilnya bagus. Dengan cara ini, saya bisa menggaet warga untuk tetap melanggengkan tradisi membatik khas Tuban,” ujar Uswanah yang mengoleksi 700 kain batik kuno.

TENUN BATIK TUBAN DIMINATI MANCANEGARA

Barulah setelah belasan tahun berjuang, pada 2007 upaya Uswatun melestarikan budaya membatik di daerahnya menunjukkan hasil yang signifikan. Hal ini karena adanya tawaran program kemitraan dari  PT Semen Indonesia yang kebetulan berkunjung ke daerahnya.

“Mereka (PT Semen) tanya itu anak-anak sedang apa. Lantas dijelaskan kalau mereka sedang belajar membatik. Pak Camat pun datang membawa orang PT Semen untuk melihat dari dekat kegiatan sanggar. Mereka juga bertanya kepada saya pembiayaan pelatihan. Saya bilang, ini saya biayai sendiri. Hasil menjual produk saya gunakan untuk pelatihan. Sedang kehidupan saya sehari-hari dari hasil sawah. Setelah penjelasan itu, pihak PT Semen pun menawarkan pada saya untuk mengikuti program kemitraan milik mereka.  Saya nantinya akan diberi modal usaha dan difasilitasi untuk pameran-pameran. Tentu saja saya setuju,” tuturnya.

Sejak itu, lanjut Uswatun, dia pun menjadi leluasa dalam memasarkan batik Tuban. Lewat pameran-pameran yang diikutinya, dia mendapat banyak pesanan dari berbagai daerah di antaranya Bali. Banyak yang suka batik Tuban yang dianggap memiliki corak yang unik serta batik tenun yang tergolong jarang ada di daerah lain.

Usahanya pun berkembang pesat. Masyarakat desa senang karena orderan membanjir yang berarti penghasilan mereka bertambah. Desa Kedungrejo yang dulu dikenal sebagai sentra batik pun ‘hidup lagi’ , bahkan kreasi produknya semakin bertambah. Yang lebih menggembirakan permintaan akan batik tenun Tuban datang bukan saja dari dalam negeri tapi juga luar negeri.

“Saya pun jadi sering menerima tamu, juga turis-turis yang ingin melihat langsung aktivitas membatik di desa kami. Jadi boleh dibilang secara tidak langsung kini desa kami menjadi tempat wisata batik Tuban,” ucapnya.***