Arah Baru Modernisasi Armada Trans Semarang

Oleh Djoko Setijowarno

Pemerintah Kota Semarang melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Badan Layanan Umum (BLU) Trans Semarang terus berkomitmen meningkatkan kualitas pelayanan transportasi publik Trans Semarang melalui langkah strategis peremajaan armada secara menyeluruh hingga akhir tahun 2026 .

Modernisasi ini diarahkan untuk menjawab tantangan penuaan armada, efisiensi operasional, serta pemenuhan standar pelayanan minimal (SPM) yang lebih inklusif. Saat ini, implementasi program tersebut tengah berjalan secara bertahap di lapangan

Menurut data Dinas Perhubungan Kota Semarang (2026), modernisasi ini diawali dengan pengoperasian 61 armada baru pada tahap pertama. Langkah ini akan disusul oleh 20 unit yang saat ini tengah merampungkan proses administrasi, serta 51 unit lainnya yang masih dalam tahap perakitan di karoseri. Secara keseluruhan, program peremajaan ini mencakup 132 unit kendaraan, terdiri atas 27 bus besar, 41 bus sedang, dan 64 bus kecil. Seluruh armada tersebut dialokasikan khusus untuk memperkuat layanan di Koridor 4, Koridor 8, Feeder 1, serta Feeder 3, dengan target rampung sepenuhnya pada Desember 2026.

Penyegaran besar-besaran tengah disiapkan untuk Koridor 1 (Terminal Mangkang – Terminal Penggaron). Mulai September 2026, koridor utama ini akan sepenuhnya beralih menggunakan 27 armada bus listrik. Guna mendukung transisi ini, Trans Semarang menyiapkan bus besar tipe low deck dengan kapasitas 62 penumpang (32 duduk dan 30 berdiri) yang dirancang khusus untuk beroperasi di jalur khusus ( dedicated lane ) dengan posisi halte di tengah jalan.

Langkah tersebut diikuti dengan penataan ulang kekuatan armada, baik di koridor utama maupun jaringan pengumpan (feeder). Di jalur utama, Koridor 2 (Terminal Terboyo – Terminal Sisemut) akan diperkuat oleh 13 bus sedang, diikuti Koridor 4 (Terminal Cangkiran – Stasiun Tawang) dengan 10 bus sedang, serta Koridor 8 (Terminal Cangkiran – Gunungpati – Simpang Lima) yang mendapatkan alokasi 18 bus sedang. Sementara itu, jajaran armada pengumpan akan mengandalkan kendaraan tipe Elf dengan rincian 24 unit untuk Feeder 1, 22 unit untuk Feeder 2, dan 16 unit untuk Feeder 3.

Dampak

Peremajaan armada Bus Trans Semarang akan memiliki dampak yang sangat signifikan, tidak hanya bagi kenyamanan penumpang, tetapi juga dari aspek ekonomi, lingkungan, keselamatan, dan efisiensi fiskal daerah.

Pertama, peningkatan keselamatan dan keandalan operasional . Menekan risiko kecelakaan, armada baru dilengkapi dengan sistem pengereman, dan komponen elektrikal yang sesuai standar pabrikan terbaru, mengurangi risiko kecelakaan akibat kegagalan teknis (seperti rem blong atau patah as). Lalu, meminimalkan kendaraan mogok, bus yang sering mogok di koridor aktif memicu keterlambatan masif (headway berantakan) dan kemacetan. Peremajaan memastikan kesiapan armada (readiness factor) tetap tinggi.

Kedua, efisiensi biaya operasional dan fiskal (APBD) . Efisiensi bahan bakar, mesin generasi terbaru umumnya jauh lebih hemat konsumsi BBM dibandingkan mesin tua yang efisiensinya sudah turun drastis. Menurunkan biaya perawatan ( maintenance cost ), bus baru masih dalam masa garansi dan membutuhkan perawatan rutin minimal. Hal ini dapat mengoptimalkan alokasi anggaran subsidi tarif Trans Semarang dalam APBD Kota Semarang, karena biaya operasional per kilometer (BOK) dapat ditekan.

Ketiga, aksesibilitas dan kenyamanan pengguna . Fasilitas ramah difabel dan lansia, peremajaan membuka peluang integrasi armada ramah disabilitas (misalnya dengan lantai rendah/ low deck di koridor tertentu atau fasilitas ramp yang lebih baik). Kenyamanan kabin, AC yang lebih dingin, suspensi yang lebih empuk, tata letak kursi yang ergonomis, serta kebersihan kabin yang terjaga akan meningkatkan kepuasan pelanggan ( customer satisfaction index ).

Keempat, dampak lingkungan (mendukung green transportation ) . Penurunan emisi gas buang: Bus baru menggunakan standar emisi yang lebih ketat (seperti Euro 4 atau bahkan transisi ke bus Listrik ( electric vehicle /EV) jika anggarannya diarahkan ke sana). Ini sangat krusial untuk menurunkan beban polutan udara (PM2.5, CO2) di koridor padat seperti koridor pusat kota. Pengurangan polusi suara dan getaran, mesin baru bekerja lebih halus, mengurangi kebisingan di sepanjang jalur yang berdampak baik pada kenyamanan koridor.

Kelima, stimulus shift mode (perpindahan pengguna kendaraan pribadi) . Meningkatkan daya tarik, armada yang bersih, modern, dan andal secara psikologis mampu menarik minat masyarakat kelas menengah pengguna sepeda motor atau mobil pribadi untuk beralih ke transportasi publik. Selain itu dapat mengurangi kemacetan kota dengan meningkatnya ridership (jumlah penumpang) akibat armada yang prima, beban volume kendaraan di jalan-jalan protokol Semarang dapat berkurang secara bertahap.

Catatan Penutup

Proyek peremajaan masif yang ditargetkan rampung pada akhir tahun 2026 ini bukan sekadar agenda pembaruan fisik kendaraan semata. Melalui kombinasi armada konvensional yang lebih efisien dan transisi menuju armada listrik di Koridor 1, Pemerintah Kota Semarang sedang meletakkan fondasi baru bagi ekosistem mobilitas urban yang modern.

Keberhasilan program ini diharapkan mampu mentransformasi Trans Semarang menjadi pilihan utama masyarakat, sekaligus mewujudkan sistem transportasi publik yang ramah lingkungan, berkeadilan, dan berkelanjutan di ibu kota Jawa Tengah. ***

Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegjapranata dan Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)

Subsidi Tepat Sasaran KRL Jabodetabek

Oleh Djoko Setijowarno

JAYAKARTA NEWS – Sejatinya, subsidi transportasi umum diberikan kepada warga yang dalam mobilitas kesehariannya menggunakan transportasi umum untuk bekerja. Dapat dibedakan atau tidak tergantung kemauan politik pemerintahnya dan ketersediaan anggaran yang ada.

Layanan transportasi umum Bus Trans Jateng dan Bus Trans Semarang sudah memberlakukan pembedaan tarif untuk kelompom umum, pelajar, mahasiswa, buruh, lansia. Hingga sekarang cukup lancar dan tidak bermasalah. Malahan, buruh merasa terbantu dengan tarif khusus itu. Dapat mengurangi pengeluaran ongkos transportasi untuk bekerja.

Kontrak PSO ( public service obligation) untuk KRL Jabodetabek tahun 2022 sebesar Rp 1,8 triliun dan menurun di tahun 2023, yakni Rp 1,6 triliun. Demikian pula total PSO tahun 2022 sebesar Rp 2,8 triliun, turun di tahun 2023 menjadi Rp 2,5 triliun. Sebanyak 64 persen dari nilai total PSO Perkeretaapian diberikan untuk PSO KRL Jabodetabek.

Bandingkan dengan subsidi untuk daerah 3 T (Terdepan, Terpencil dan Tertinggal) dan Perbatasan dengan bus perintis se Indonesia cuma mendapat Rp 177 miliar (327 trayek). Sekitar sepersepuluh dari PSO KRL Jabodetabek. Subsidi angkutan perintis penyeberangan di 273 lintas Rp. 584 miliar. Angkutan perkotaan di 10 kota hanya Rp 500 miliar.

Alokasi Dana Kewajiban Pelayanan Publik ( Public Service Obligatian/PSO) Tahun Anggaran 2023 diprioritaskan untuk KRL dan KA Ekonomi Jarak Dekat karena KA itulah yang digunakan sebagian besar warga beraktivitas sehari-hari, sehingga diharapkan semakin banyak warga yang menggunakan kereta yang pada akhirnya mengurangi beban jalan raya

Ongkos murah naik KRL Jabodetabek, akan tetapi bisa jadi lebih mahal biaya perjalanan layanan transportasi dari tempat tinggal ke stasiun ( first mile) dan layanan transportasi dari stasiun ke tempat tujuan ( last mile). Yang perlu diperhitungkan ada ongkos total perjalan dari rumah hingga ke tempat tujuan tidak lebih dari 10 persen penghasilan bulanan. Policy Research Working Paper 4440 World Bank, belanja transportasi yang tepat bagi masyarakat adalah maksimal 10 persen dari upah bulanannya. Kajian World Bank itu berdasarkan riset dari negara-negara di Amerika Latin dan negara di Kepulauan Karibia 2007.

Survei Badan Litbang Perhubungan tahun 2013, ketika ditetapkan tarif KRL Jabodetabek satu harga dan murah, total ongkos transportasi yang dikeluarkan pengguna KRL Jabodetabek masih 32 persen dari pendapatan bulanan. Saat itu layanan transportasi last mile belum sebaik sekarang. Sekarang setiap stasiun KRL yang berada di Jakarta sudah terintegrasi dengan Bus Trans Jakarta dan Jak Lingko. Namun layanan transportasi first mile belum banyak perubahan dan cenderung angkutan ke stasiun makin berkurang jumlahnya. Belum ada perbaikan yang berarti, baru ada Bus Trans Pakuan di Bogor dan Bus Tayo di Tangerang.

Ciptakanlah transportasi umum seperti di Bogor dan Tangerang untuk di Kota Bekasi, Kab. Bekasi, Kota Depok, Kab. Tangerang, Kab. Bogor dan Kota Tangerang Selatan.

Kita jangan fokus hanya pada tarif KRL Jabodetabek, namun bagaimana kita merancang ongkos transportasi warga bisa kurang dari 10 persen dari pendapatan bulanan. Perancis dan Singapura sudah bisa menekan hingga 3 persen, sedangkan China 7 persen.

Kajian tahun 2018 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Perkeretaapian, pengguna KRL Jabodetabek di akhir pekan yang bekerja hari Sabtu 5 persen dan di hari Minggu 3 persen, sisanya bepergian tujuan perjalanan sosial (seperti berwisata, kunjungan keluarga, seminar, ke pusat perbelanjaan). Pada tahun yang sama juga telah ada  mekanisme usulan subsidi tepat sasaran bagi pengguna KRL Jabodetabek. Namun, belum ditanggapi dengan serius oleh pemerintah saat itu. Tidak ada salahnya jika sekarang perlu dipertajam lagi kajiannya, sehingga pada saat yang tepat dapat diterapkan setelah dilakukan beberapa sosialisasi ke masyarakat.

Dalam setahun bisa lebih 100 hari di akhir pekan dan hari libur. Jika dikurangi subsidinya, dapat menghemat sepertiga. Anggaran yang dihemat itu dapat dialihkan untuk subsidi angkutan umum feeder dari kawasan perumahan menuju stasiun.

Benchmark Penerapan Perbedaan Tarif

Berbagai sumber menyebutkan, penerapan perbedaan tarif berlaku di Singapura dengan memberikan subsidi bagi lansia ( discount 25 persen) dan disabilitas dan pelajar ( discount 50 persen). Negara bagian Victoria (Australia) menerapkan pemberian subsidi bagi lansia, disabilitas dan pelajar pada jam tidak sibuk antara jam 09.30 – 16.00 sebesar 30 persen. Belgia menerapkan discount 19 persen pada jam tidak sibuk dan sibuk untuk moda trem. Di Negara Amerika Serikat memberikan discount kisaran 20 persen hingga 50 persen (tiap negara bagian berbeda) untuk warga berpenghasilan di bawah upah standar. Metrolink di Kota Manchester (Inggris) menerapkan tarif discount 50 persen untuk penumpang berpendapatan per bulan kurang dari rata-rata (upah standar minimum) dan tarif discount 35 persen untuk lansia dan disabilitas. Negeri Swedia memberikan keringanan tarif bagi warga berstatus kesejahteraan tertentu (tidak bekerja karena cacat) dan manula. Wilayah Regional Marche (Italia) memberikan tarif discount bagi pengangguran sebesar 50 persen.

Insentif Kendaraan Listrik

Kebijakan insentif kendaraan listrik yang akan diluncurkan Kementerian Perindustrian cukup mengusik hati nurani para pengguna jasa transportasi umum, khususnya pengguna KRL Jabodetabek. Di tengah upaya memindahkan pengguna kendaraan pribadi ke angkutan umum, kebijakan ini kontra produktif, jika diberikan pada sejumlah pembelian mobil listrik dan sepeda motor listrik. Dampaknya akan menambah kemacetan dan angka kecelakaan lalu lintas.

Seharusnya, Kementerian Perindustrian turut mendukung upaya pembenahan transportasi umum yang sedang dilakukan oleh Kementerian Perhubungan di kawasan perkotaan dengan menggunakan bus listrik. Kendaraan konversi atau sepeda motor listrik di daerah sulit mendapatkan BBM.

Angkutan feeder dari kawasan perumahan di Kawasan Bodetabek menuju stasiun KRL Jabodetabek dapat menggunakan kendaraan umum listrik. Bisa kendaraan umum baru atau kendaraan umum yang ada dikonversi diprioritaskan untuk mendapat program insentif kendaraan listrik.

Subsidi tepat sasaran harus terus diupayakan dalam rangka memberikan rasa keadilan bagi pengguna transportasi umum. Setiap pengguna transportasi umum wajib menerima subsidi, karena sudah membantu pemerintah untuk mereduksi terjadinya kemacetan, menurunkan tingkat polusi udara, dan turut mengurangi angka kecelakaan.***

Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata