Nonton Film “Terbang Menembus Langit” Bersama Orang Terkasih

FILM ‘Terbang Menembus Langit’,  tayang perdana, 19 April 2018. Film ini  patut ditonton bersama orang-orang tekasih. Setidaknya itulah yang dikatakan Ririen Rumagit  yang telah dua kali menyaksikan film ini.

“Pertama nobar dengan teman-teman Fajar Nugros, 14 Maret di Plaza Indonesia dan kedua ketika roadshow 7 April di Detos, Depok,” ujar Ririen kepada jayakartanews.

Dia  merasa film ini sangat baik untuk ditonton maka ia pun antusias mengajak teman-temannya yang juga beberapa tokoh masyarakat Depok saat roadshow di Detos. Bahkan ia pun semangat mengajak rekan dan mahasiwa dimana ia mengajar sebagai dosen Metoda Riset dan Statistik di STT Skriptura Indonesia, Depok.

Semangatnya mengajak menyaksikan film ini, berangkat dari penilaiannya yang sangat positif dan kekagumannya akan makna hidup yang dalam dari  film garapan Fajar Nugros ini. Terbang Menembus Langit, tidak sekedar mengetengahkan perjalanan hidup seorang pengusaha yang juga motivator, bernama Onggy Hianata.

“Film ini sarat dengan pengajaran, baik untuk generasi muda, bahkan juga untuk suami istri, dan untuk hubungan kakak-adik,” ujar Ririen yang bernama lengkap Lestyowati Endang Widyantari.

Bagi generasi muda, ujar Ririen dengan semangat, film ini mengajarkan bahwa siapapun kita dan dalam kondisi apapun, entah miskin, terpencil, peluang kecil, itu bukan berarti tidak boleh bermimpi besar.  “Saat kita berani bermimpi besar, kita harus yakin bahwa kita bisa meraih mimpi itu sekalipun mungkin kondisi kita tidak mendukung, asal gigih, tidak menyerah, berani bertindak dan berharap hanya kepada Tuhan. Ibaratnya, jatuh seribu kali, mau bangkit seribu kali,” tandas ibu dari dua orang anak ini,

Ririen (kanan) bersama sang sutradara (tengah) dan putranya, Joshua Rumagit

Terbang Menembus Langit, juga sangat baik untuk disaksikan pasangan suami istri, paparnya lagi. “Istri sebagai penolong suami, harus terus mensupport suami  bahkan ketika suami dalam kondisi yang sangat terpuruk.” Bahkan untuk hubungan kakak-adik pun, film ini mau menegaskan bahwa saudara harus saling membantu sekalipun yang membantu dalam kondisi yang sulit, tapi tidak mengeluh dan tetap membantu saudaranya.

Terbang menembus langit dibuat berdasarkan kisah nyata Onggy Hianata, putra Tarakan, Kalimantan Utara  yang kini terkenal sebagai motivator sukses. Porsi utama film ini berkisah tenang kisah jatuh bangun Onggy sebelum ia mencapi kesuksesan itu.

Menurut Fajar Nugros, dirinya sengaja mengangkat kisah hidup seorang pria keturunan China bernama Onggy Hianata lantaran kekagumannya akan kerja keras pemuda asal Kalimantan tersebut. Ia menuturkan bahwa kisah mengenai perjuangan meraih mimpi sangatlah bagus untuk dijadikan motivasi para penonton agar bekerja keras demi meraih cita-cita.

Dalam Terbang Menembus Langit, sosok Onggy  diperankan oleh Dion Wiyoko bersama Laura Basuki sebagai sosok istri penuh kesabaran bernama Candra.  Film dari  rumah produksi Demi Istri Production ini jgua  menggaet beberapa artis kenamaan Indonesia seperti Baim Wong, Delon Thamrin, Chew Kin Wah, Aline Adita, Melisa Karim, Marcel Darwin, hingga Dinda Hauw. ***melva tobing

”Terbang, Menembus Langit” Kisah Nyata Perjuangan Meraih Kesuksesan

Ilustrasi film ‘Terbang Menembus Langit’ –istw

Penggarapan film layar lebar “Terbang : Menembus Langit” akhirnya memasuki tahap paska produksi dan siap ditayangkan di bioskop-bioskop di Indonesia. Sebelum siap ditayangkan, Demi Istri Production merilis teaser Film “ Terbang, Menembus Langit.

Menurut Susanti Dewi Produser Film “Terbang, Menembus Langit” , film ini diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang pemuda keturunan Tionghoa dari Tarakan bernama Onggy Winata yang diperankan oleh Dion Wiyoko. Ia berjuang untuk meraih kesuksesan dengan melewati segala rintangan. Hingga akhirnya dari Kalimantan ia bisa merantau ke Surabaya hingga ke Jakarta. Di Jakarta, setelah menikah dengan Candra (Laura Basuki) yang kemudian hamil. Walau terjebak dalam peristiwa Mei 1998, untung kandungannya selamat.

“Awalnya sih kita lagi liburan, ngga ada niat bikin film. Nah saat saya dan Fajar ke Tarakan kebetulan ada cerita kalau di Tarakan ada orang biasa yang sukses di usahanya tapi memiliki perjuangan yang sangat luar biasa. Akhirnya saya mendengar cerita perjuangan hidupnya, sempet kaget juga kok bisa beliau melalui tantangan hidup dan dengan semangat mengejar cita-citanya saat itu? Ternyata perjuangan panjang penuh tantangan yang akhirnya membuat beliau sukses.  Itu membuat saya berfikir ini keren banget dan ini next story kita., Akhirnya kita bikin produksi ini. Harapannya film ini jadi inspirasi orang banyak, “ ujar Susanti Dewi.

Bagi Fajar Nugros, Film ini juga menjadi tantangan tersendiri baginya sebagai sutradara. Film ini baginya film priodik pertama yang ia garap. Buatnya menulis cerita mudah apalagi kalau kita tahu apa yang mau kita tulis.

“Ini kisah nyata. Yang susah adalah merangkai kisah karena harus sesuai kisah nyata 32 tahun yang lalu dibikin menjadi 2 jam. Kebayangkan gimana susahnya. Tapi ini merupakan kenaikan kelas buat saya bisa mengarap film “Terbang, Menembus Langit”, beda dengan film-film garapan saya sebelumnya,” jelas Fajar Nugros

Selain itu menurut Fajar Nugros, film ini digarap karena bisa menjawab situasi negara saat ini.

“Siapapun mau dari dari golongan apapun kalau soal kerja keras  itu untuk siapa saja, kesuksesan bisa buat siapa saja tanpa melihat perbedaan,” tandas Fajar

“Kami melakukan pencarian pemain-pemain lokal Tarakan dan Surabaya selama hampir tiga bulan. Seperti kisah dalam film ini, terkadang orang-orang di Indonesia hanya membutuhkan satu kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dan bakat mereka,”papar Fajar.

Berbicara soal latar waktu, film ini menggambarkan suasana era 70an hingga tahun 1998. Jadinya para tim make up dan wardrobe memiliki tantangan agar tidak meleset dengan tampilan pemain pada periode tersebut.

“Ini diambil dari kisah nyata, dan saya harus lebih menjiwai di film ini dengan berperan dalam tiga periode. Priode saat SMA, kuliah dan bekerja. Dan sebenarnya lumayan panjang saya memutuskan bekerja di film ini, namun ketika dikasih tahu sinopsisnya, dikasih tahu latar belakang, proses  syuting dan lain-lain. Akhirnya tertarik dan mutusin ikut terjun di di film ini,” ujar Dion Wiyoko

Bicara pengalaman, menurut Susanti Dewi, ini juga merupakan film priodik pertama bagi Demi Istri Production. Syuting film ini mempunyai keseruan dan tantangan yang unik, karena kedua setting yang menjadi lokasi syuting, belum pernah dijajaki oleh produksi film DIP sebelumnya, dimana semua peralatan teknis yang ada di jakarta dibawa ke Surabaya dan ke Tarakan.***