Ada Putu Wijaya dan Ebiet G Ade pada Malam Anugerah Piala HB Jassin 2025

Festival Sastra HB Jassin akan dipungkasi acara Malam Anugerah Piala HB Jassin. Acara ini akan dihelat Sabtu (18 Oktober 2025) di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Menteng, Jakarta Pusat.

Malam minggu bersastra itu, akan tampil sederet nama yang tak asing lagi di komunitas sastra. Di antarnya Putu Wijaya.

Lelaki Bali bernama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya (lahir 11 April 1944) adalah seorang sastrawan yang dikenal serba bisa. Ia adalah seorang penulis drama, cerpen, esai, novel, skenario film dan sinetron, tokoh teater, dan pelukis.

Putu Wijaya sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama. Ia juga telah menulis skenario film dan sinetron.

Sebagai seorang dramawan, ia memimpin Teater Mandiri sejak 1971, dan telah mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri. Di antaranya naskah Gerr (Geez), dan Aum (Roar) di Madison, Connecticut dan di LaMaMa, New York City. Tahun 1991 membawa Teater Mandiri dengan pertunjukkan Yel keliling Amerika. Puluhan penghargaan ia raih atas karya sastra dan skenario sinetron.

Selain Putu Wijaya, akan tampil juga musisi yang juga sastrawan, Ebiet G. Ade. Lelaki bernama asli H. Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far (lahir 21 April 1954) lebih dikenal sebagai penyanyi-penulis lagu balada dengan lirik-lirik puitis. Banyak lagu Ebiet bertemakan alam dan duka derita kelompok tersisih.

Lewat lagu-lagunya, ia memotret suasana kehidupan Indonesia pada akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Tema lagunya beragam, tidak hanya tentang cinta, tetap ada juga lagu-lagu bertemakan alam, sosial-politik, bencana, religius, keluarga, dan lain-lain.

Nama Ebiet G. Ade sendiri diambil dari pengalamannya saat kursus Bahasa Inggris, sang guru yang merupakan orang asing kesulitan memanggilnya ‘Abid’ Ghoffar. Dengan logat bulenya, Abid selalu dipanggil Ebiet karena dalam Bahasa Inggris ‘A’ dibaca ‘E’. Saat di Yogyakarta, Ebiet termasuk seniman yang tergabung dalam Sanggar Bambu.

Pengisi acara Malam Anugerah Piala HB Jassin 2025 juga akan dimeriahkan dengagn penampilan Lunar, Komunitas Sastra Vanderwijck, dan Teater Tanah Air. Adapun Kategori penghargaan terdiri atas Kritik Sastra, Pembacaan Puisi, Musikalisasi Puisi, Cerpen. (*)

Pentas Seni SENJA BERPUISI di Taman Ismail Marzuki : Perkenalkan Sastra untuk Anak Muda

JAYAKARTA NEWS – “Pentas seni Senja Berpuisi kali ini sengaja mengambil lokasi publik area untuk memperkenalkan dunia sastra khususnya kepada anak-anak muda generasi milenial di Kota Jakarta dan sekitarnya,” jelas Diki Lukman Hakim, Kepala Perpustakaan Jakarta dan Kepala Satuan Pelaksana Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB.Jassin.

Dalam wawancara khusus dengan penulis di ujung acara Pentas Seni SENJA BERPUISI (hari kedua-red) di selasar (pelataran ) depan Gedung Ali Sadikin, Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta, Minggu sore (20/8/2023), Diki Lukman Hakim didampingi Moch.Nanang Suryana mengatakan lagi sampai sore ini respon dari penonton terutama kawula muda sangat positip.

“Alhamdulilah, sampai sore ini penonton anak-anak muda cukup banyak dan padat.Mereka sangat antusias menonton pentas seni SENJA BERPUISI ,” ujarnya

Berdasarkan pengamatan penulis selama berlangsungnya pentas seni SENJA BERPUISI para penonton -yang kebanyakan anak-anak muda- duduk dengan tertib dan rapi di tangga selasar menuju Gedung Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB.Jassin.

“Kita sengaja membuat panggung pentas seni SENJA BERPUISI di lokasi publik area atau depan pelataran Taman Ismail Marzuki.Sebelumnnya memang dilaksanakan di dalam, tetapi para penontonnya hanya terbatas komunitas sastra tertentu, khususnya yang sudah masuk ke dalam komunitas area Taman Ismail Marzuki,” jelasnya.

Dengan mengambil lokasi pentas seni SENJA BERPUISI di lokasi publik area, maka orang-orang yang lalu lalang atau kebetulan lewat Taman Ismail Marzuki jadi tertarik untuk singgah sejenak menonton pentas seni SENJA BERPUISI.

“Di sini orang-orang yang lewat Taman Ismail Marzuki jadi tertarik.Pada akhirnya nanti orang-orang luar Kota Jakarta atau yang sedang berkunjung maupun berlibur ke ibukota akan tahu di sini ada pentas-pentas kebudayaan.Setelah acara SENJA BERPUISI ini nanti akan kita evaluasi lagi apa ada kegiatan seni lainnya yang bisa di-akomodir di luar area Taman Ismail Marzuki,” katanya lagi.

Menjawab pertanyaan penulus apa sebetulnya target dari acara pentas seni SENJA BERPUISI ini, Diki Lukman Hakim sekali lagi mengatakan bahwa target utama acara ini untuk ‘menjaring’ anak-anak.muda guna ketertarikan mereka pada dunia sastra.

“Kita memang ingin memperkenalkan dunia sastra kepada generasi muda milenial.Makanya acara ini juga melibatkan sejumlah anak-anak muda yang kreatif dengan menampilkan beberapa variasi performance seperti musik, dance, pantomin, pembacaan cerpen dan puisi,” pungkasnya.

Semarak Merah Putih

Acara pentas seni SENJA BERPUISI -sekaligus memperingati HUT Kemerdekaan RI ke -78 tahun- pada hari pertama (Sabtu, 19 Agustus 2023) menghadirkan pembacaan puisi oleh Penyair Nanang R Supriyatin, Imam Ma’arif, Jose Rizal Manua, dan Nuyang Jaimaee.

Pada hari kedua pentas seni SENJA BERPUISI Minggu (20 Agustus 2023)-masih terkait dengan semarak Merah Putih- menampilkan street dance oleh Lassteam689, baca puisi oleh Sherina Klasika, Bardjan, dan Putri Ayudya.

Pantomin oleh Joko Joker, talk show bedah puisi oleh Reda Gaudiamo, dan musikalisasi puisi juga oleh Reda Gaudiamo.

Pembacaan cerita pendek (cerpen) oleh Badri AQT dan Willy Fahmy Agiska.

Pantomin dibawakan oleh Labs Theater SMP Labshool, monolog oleh David Karo-Karo, serta penutup musik Raim Laode.

Pada Sabtu kemarin (19/8/2023) ikut hadir Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Firmansyah, dan Camat Menteng, Kota Administrasi Jakarta Pusat, Suprayogi.***(Pulo Lasman Simanjuntak)

Jakarta Art Exhibition

JAYAKARTA NEWS – Tak kurang dari 24 seniman lukis pamer karya pada ajang Jakarta Art Exhibiton, yang dibuka Jumat (3/6/2022) di Wisma Seni (Gedung Panjang Lt 2) Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Pameran dibuka oleh Prof Dr Raldi H. Koestoer, MSc, PhD (Staf Ahli Kemenko Perekonomian RI) dan dr Basuri Tjahaja Purnama, M.Gizi, Sp.G (Presiden Direktur Jababeka Morotai).

Ke-24 seniman lukis yang meramaikan Bulan Seni dan Komunitas itu adalah: Andi Suandi, Ar Sudarto, Al Sutrisno, Ale Rumah Seni 28, Bharoz Ar, Baem Ibrahim, Bambang Winaryo, Chryshnanda DL, Cak Kandar, Dick Syahrir, Edo Abdullah, Eddy Kamal, Egy Sae, Gogor Purwoko, I Wayan Sudana, Marjo Jack, M. SOlech, Nuryanah, Nadia Iskandar, Pandu Dewanata, Sulan Lim, Sugiarto, Antoni Convoor, dan Udin Choiruddin.

Jakarta Art Exhibition ini terselenggara atas kerja sama Perupa Jakarta Raya (Peruja), Jakpro, dan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. (rr)

Napak Tilas Teater 26 Tahun Lalu

Catatan Egy Massadiah
(Ditulis Oktober 2016)

DINGIN dan angin kencang kota New York September tahun 1990 meremas-remas sampai ke tulang. New York memang selalu membuat saya pulang. Iya hari ini, kenangan 26 tahun silam kembali mencuat saat saya bernapak tilas dan mampir sejenak berfoto di La Mama Teater.

Kala itu, 1990, Menteri Luar Negeri Prof Mochtar Kusumaatmaja memiliki program bertajuk “Diplomasi Kebudayaan Indonesia Amerika”. Putu Wijaya bersama Teater Mandiri-nya  berkesempatan  mengisi acara tersebut. Selain Putu, Teater Ketjil pimpinan Arifin C Noer juga mendapat jatah mengusung lakon “Dalam Bayangan Tuhan”.

Putu kemudian menunjuk 5 pemain merangkap crew untuk bergabung. Saya terpilih salah satunya. Kami kemudian melakukan latihan instens tiap malam di Taman Ismail Marzuki Cikini Raya selama hampir dua bulan.

Putu memberi judul “Yell”. Durasinya sekitar 1 jam. Tak ada dialog dan kata-kata. Putu membebaskan dirinya dari alur cerita dan plot. Hanya semburan cahaya yang komandoi Mbah Roedjito, hentakan gerak dan desingan musik yang digarap oleh Harry Roesly dan DKSB-nya. Keduanya kini almarhum.

Lanang Sidemen penari tradisional dari sebuah desa di Bali ikut bergabung dengan geraknya yang sakral dan magis sementara mulutnya memuntahkan mantra-mantra. Adapun saya dan empat pemain lainnya mengelola adegan dengan mengeksplorasi gerakan di balik layar dipandu semprotan lampu kuno. Delapan puluh persen adegan berlangsung di balik layar, jadi yang muncul adalah distorsi bayangan. Bentuknya tak jelas. Memang itu maunya Putu Wijaya. Konsep tontonannya adalah teror, ya teror mental. Jiwa teaternya Bertolak Dari Yang Ada, tak ada yang sia sia.

“Egy kita tidak mungkin manggung di Amerika dengan kecanggihan dan teknologi. Mereka lebih hebat. Kita bawa bahasa kepolosan kita. Kita bawa tradisi teater dari timur, dimana jarak penonton dan pemain lebur dan tak bersekat,” demikian kata Putu kepada kami dalam penerbangan Garuda Indonesia dari Jakarta menuju Los Angelas melalui titik transit di Denpasar, Biak, dan Honolulu. Seingat saya tahun itu merupakan penerbangan terakhir Garuda Indonesia ke Amerika dengan pesawat Boeing 747.

Di Amerika kami mendapat jatah pentas di empat kota masing masing dua malam. Di Wesleyan University Connecticut, terus di kawasan off off Broadway New York, kemudian di Seattle dan terakhir di California Los Angeles. Di empat kota itu kami mendapat sambutan istimewa. Di mata penonton Amerika, tontonan teater yang kami bawakan sangat “brutal” dan meneror. Mereka bilang meski tidak mengerti alur cerita namun bisa me “rasa” kan sukma “Yell” itu.

Ke “La Mama” Egy kembali. (foto: dokpri)

Kembali ke kisah napak tilas saya di La Mama. Jadi selain manggung kami juga mendapat kesempatan menyaksikan beberapa tontonan teater di Broadway dan off off Broadway. Ya salah satunya ya di La Mama itu.

Yang saya ingat kami diajak Rachel Cooper seorang penggiat seni Indonesia nonton Pinabausch kelompok teater asal Germany. Tahun 1990 itu kami pun berkenalan dengan bosnya La Mama seorang perempuan hitam nyentrik bernama Ellen Stewart. Ellen Stewart bersahabat dengan Putu Wijaya. Keduanya berkenalan pertama kali saat Putu tinggal dan mengajar selama 3 tahun di Wisconsin University Madison dan Cornell University di Ithaca atas undangan Fullbright tahun 1985. Salah satu murid Putu yang sampai hari tetap berhubungan dengan kami Cobina Gillitt, PhD teater yang kini menjadi dosen di NY.

Selain itu kami anggota teater Mandiri diberi kesempatan membagi pengalaman kepada mahasiswa Teater di New York University. Karena bahasa Inggris kami super pas-pasan maka kami lebih banyak berbahasa tarzan. Ada sekitar 40 mahasiswa yang antusias mengikuti workshop yang kami berikan.

Mahasiswa NYU yang ikut workshop selalu mendahulukan “logika” dan “saya pikir”. Nah kami datang dengan mengajak mereka keluar sejenak dari cara itu: dengan memberi ruang kepada “rasa dan perasaan”. Sejenak mengajak mereka tidak menggunakan “pikiran” dan hanya mengikuti alur “rasa dan perasaan”. Beragam gerakan yang sifatnya mengolah rasa dan batin kami sajikan dalam workshop tersebut.

Saat mampir menyeruput capucino panas di Le Paint, Corin suami Cobina berkisah bahwa penyair hebat Indonesia WS Rendra pernah menjadi mahasiswa teater di THE AMERICAN ACADEMY of DRAMATIC ARTS New York sekitar tahun 1964-1967.

Salah seorang adik kelas Rendra adalah aktor terkenal Danny De Vito yang aktingnya sangat memukau di sejumlah layar lebar besutan Hollywood: aktingnya yang saya suka saat dia bermain dengan Arnold Swarhzenegger dalam Twins.

Angin kencang kembali menyalak di kota NY saat saya berfoto-foto. Saya pun senang karena berhasil memanggil kembali kenangan dahsyat 26 tahun silam.

Sebelumnya saya sempat mampir di Indonesian Fashion Gallery yang dikelola oleh Vanny, wanita berdarah Ambon yang sudah menjadi warga New York. Di gallery yang sejuk itu saya sempat melihat tanda tangan ibu Mufidah Jusuf Kalla saat berkunjung pada September 2016. Ibu Mufidah memang penyokong setia kerajinan bernuansa Indonesia. Saya pun sempat berkenalan dengan Sheila Tejana gadis manis asal Bali yang sedang memperdalam ilmu fashion di NY.

Itulah napak tilasku. Tabik

( www.lamama.org )

74A East 4th St

New York, NY 10003

Tolak Revitalisasi TIM, Para Seniman Temui Komisi X

JAYAKARTA NEWS— Para seniman dan budayawan yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli Taman Ismail Marzuki (TIM), menolak revitalisasi TIM yang sedang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Revitalisasi tersebut sarat kepentingan bisnis dan menyingkirkan para pemangku kepentingan di TIM yang sudah puluhan tahun bekerja, termasuk seniman dan budayawan.

Dalam rapat yang dipimpin Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda, para seniman menyoal kebijakan revitalisasi Pemprov Jakarta, tanpa mengajak bicara lebih dulu para seniman dan budayawan. Dipimpin Radhar Panca Dahana, di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin (17/2/2020), Forum Seniman Peduli TIM ini mengkritik keras Gubernur Jakarta Anies Baswedan yang dinilainya telah mengedepankan arogansi kekuasaan.

“Kami ingin mendengarkan sebanyak-banyaknya, semua masalah yang akan disampaikan. Dan kami akan respon di forum ini menyangkut revitalisasi TIM oleh Pemda DKI yang sudah berjalan dan mendapat penolakan yang keras dari para seniman dan budayawan yang selama ini bergerak, berkomunitas di TIM,” ucap Syaiful.

Radhar sendiri mengatakan, pihaknya sudah mengadukan masalah ini ke DPRD DKI dan otoritas dinas terkait. Ia menyerukan agar ada moratorium sejenak atas rencana revitalisasi itu.

Namun, tak dihiraukan sang gubernur. Malah kawasan TIM tiba-tiba dihancurkan. Bila yang dimaksud revitalisasi TIM untuk menjadi lebih baik, pihaknya setuju. Persoalannya, ini tanpa bicara dulu, langsung membersihkan Kawasan TIM. Dan belakangan diketahui akan membangun kawasan bisnis di sekitar TIM.

“Kebijakan ini seperti komet menghantam bumi, mendadak hancur berantakan tanpa ada kompromi. Tidak ada bicara dengan kami, tahu-tahu sudah diberlakukan. Kami protes. Kalau revitalisasi untuk kemajuan TIM kita setuju. Tapi kami tidak diajak bicara. TIM ini, kan, tidak saja pusat kesenian Jakarta, tapi Indonesia,” papar Radhar.

Ia juga mengaku sedih, TIM dinilai oleh Pemprov DKI hanya sebagai beban APBD. Dengan membangun Kawasan bisnis, diharapkan Pemprov mendapat profit dari kawasan komersial yang dibangunnya itu.***dpr.go.id/ebn

JPRUTT: “Bengkokkan Sedikit Telunjukmu Kalau Mencari Kambing Hitam”

Setelah sukses tertawai diri sendiri  di Bentara Budaya, Teater Mandiri  kembali mementaskan JPRUTT di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 28 dan 29  April 2018.  Kompilasi dari drama pendek ini kerap  diselenggarakan dalam rangkaian peringatan Kemerdekaan RI sekaligus HUT-nya  Teater Mandiri.

Dikisahkan, Lakon JPRUTT ini diangkat dari 5 drama pendek (drapen) karya Putu Wijaya, dengan total durasi 90 menit. Kelima drapen tersebut termuat di dalam buku ‘’Seratus Drapen’’ karya Putu Wijaya yang diterbitkan untuk dihibahkan ke sekolah-sekolah.

Lima drapen tersebut membangun sebuah komedi berdurasi 90 menit. Memaparkan betapa opini selalu tak bergigi bila diucapkan  warga  sendiri. Barulah kalau dilontarkan  orang asing, menjadi penting dan dihargai. Menjelang peringatan usia kemerdekaan yang ke-73, Ami,  putri Pak Amat, tokoh sentral JPRUTT berkata: “Bengkokkan sedikit telunjukmu kalau mencari kambing hitam, supaya tepat menunjuk ke arah hidungmu sendiri.”

Apakah pernyataan itu diam-diam mengandung kebencian kepada  orang asing (Barat)? Apakah itu luapan emosional dendam “Timur” yang sempat jadi koloni/jajahan Barat hingga kalap “menghitamkan” segala yang “putih”? Mari simak JPRUTT yang mengajak berusaha penonton menikmati betapa asyiknya menertawai diri sendiri.

JPRUTT didukung  Niniek L. Karim, Jose Rizal Manua, Bambang ismantoro, Laila Ulil, Ari Sumitro, Rukoyah, Lela Lubis, dan Penny Muhaji. JPRUTT yang disutradarai  Putu Wijaya, ini merupakan pertunjukan kerja sama Teater Mandiri dan Bakti Budaya Djarum Foundation yang juga mempersembahkan penerbitan buku hibah ‘’Seratus Drapen’’ dan Lomba Penampilan Drapen.  Peluncuran buku hibah dan Lomba Penampilan Drapen telah berlangsung pada 10,11,12 April lalu di Galeri Indonesia Kaya dengan peserta dari Jakarta, Malang, Surabaya, Jogjakarta, Riau, Aceh, Tegal, Palu, Serang, Bekasi, Depok, dan Bogor.***

 

TRUST Gelar Rockins’tra di TIM

Nathania Karina , dirigen Trinity Youth Symphony Orchestra –foto istimewa

Memasuki  tahun 2018, Trust alias Trinity Youth Symphony Orchestra menggelar konser yang diberi tajuk Rockins’tra  di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Sabtu (24/3).

Orkestra yang berdiri tahun 2008 kali ini menampilkan 75 musisi, berusia dari 9 sampai 21 tahun. Dengan durasi pergelaran 2 jam, penonton yang gratis masuk dengan membawa undangan ini dihibur dengan sekitar 15 nomor – vokal dan instrumentalia – lagu-lagu cadas dari Beatles, Queen, Deep Purple, Led Zeppelin, Guns N’ Roses, Bon Jovi, Aerosmith, Coldplay, Linkin Park, Muse, Green Day, Red Hot Chilli Peppers dan seabreg nomor lawas lainnya. Hanya satu lagu berlirik bahasa Indonesia yang bernuansa rock yaitu ‘Roman Picisan’ milik Dewa 19.

Dirigen dipegang Dr (musik) Nathania Karina lulusan Boston University. Sedangkan beberapa vokalis dicomot dari luar dengan penampilan ala rocker bagi biduannya yaitu Andy Owen (dari Teddy Sujaya Project) dan Andy Lee (dari grup Roy Jeconiah Boomerang), plus Nikki Thierry. Duet Andy Owen dan Andy Lee cukup prima ketika menggebrak lagu-lagu rock dari Aerosmith dan Queen. Owen sembari melantunkan vokalnya yang nyaring, juga memetik gitar elektrik.

Konser dibuka dengan nomor ‘We Will Rock You’ milik Queen. Lagu yang terasa cadas ini seketika menggiring penonton untuk bernyanyi bersama dan meggoyang-goyangkan badannya di tempat duduk.

Disusul nomor-nomor lain yang sangat akrab di telinga kita, dari lagu-lagu rock di tahun 70an sampai 90an, diantaranya ‘Stairway to Heaven’ (Deep Purple), ‘Come Together’ (Beatles), ‘Smoke on The Water’ (Deep Purple), ‘Bohemian Rhapsody’ (Queen), ‘Beautiful Day’ (U2), ‘Hysteria’ (Muse), ”I Don’t Wanna Miss A Thing’ (Aerosmith, lagu tema film ‘Armagedon’), Sweet Child O’ Mine (Guns N. Roses), ‘Yellow’ (Coldplay) plus beberapa medley (rangkaian lagu) seperti ‘Numb’ dan ‘In The End’ dari Linkin Park, ‘Always’ dan ‘It’s My Live’ dari Bon Jovi.sebagai lagu pamungkas.

Dr Nathania Karina disela-sela istirahat selama 15 menit memaparkan, latihan di Trust bersifat intensif namun fun. Para personel Trust terbanyak datang dari Jakarta, tapi ada yang datang dari Karawang, Bandung dan Lampung.

“Mereka lulus lewat serangkaian test. Yang utama, harus menguasai not balok dan lihai memainkan salah satu instrumen musik, baik piano, keyboard, gitar, drum, bas maupun string, biola dan lain-lain,” ungkap Nathania Karina.

Setiap anggota didukung untuk mengasah kemampuan individu mereka semaksimal mungkin. “Berbeda anggapan bahwa orkestra selalu membosankan, repertoar lagu yang dimainkan di Trust sangat bervariasi mulai dari klasik, pop, rock, jazz sampai tradisional. Kami enggak mengkotak-kotakkan genre musik. Semua jenis musik baik, asal dimainkan dengan benar dan berbobot,” tambahnya.

Trust pernah mewakili Indonesia dalam event Australia International Music Festival 2015 di Sydney Opera House, home orchestra Festival Film Indonesia 2015 di Banten dan di Java Jazz Festival 2015. Dan Juni 2017 yang lalu, Trust unjuk diri bersama Malaysian Youth Philharmonic Orchestra di Kuala Lumpur, Malaysia.

Bersifat non-profit, dan bernaung dibawah label Trinity Optima Production, keanggotaan Trust terbuka untuk umum dan setiap orang berkesempatan bergabung selama mereka berkomitmen dan mencintai musik. Sejak awal, Trust memiliki komitmen untuk memberikan wadah bagi anak muda belajar dan mengapresiasi musik serta memberikan ‘pathway to music industry’.

Ditengah sedikit sekali grup orkestra yang mampu bertahan di Jakarta, Trust hendak menunjukkan eksistensi mereka sebagai salah satu orkestra komunitas terbaik dan terbesar (serta terbanyak anggotanya) di Jakarta khususnya dan Indonesia umumnya.

“Musik orkestra enggak identik dengan sesuatu yang membosankan dan memberatkan. Kami bersama bisa mendorong generasi muda untuk semakin mencintai dan mengapresiasi musik di Indonesia secara general,” tegas Nathania Karina, yang menambahkan akan menghelat konser dengan tema lagu-lagu soundtrack film populer. ***