Kodok Ngorek di Tambang Gosowong

Inspeksi Doni Monardo di Malam Hari, Belajar Merawat Alam dari NHM

Catatan Egy Massadiah dari Halmahera

JAYAKARTA NEWS— Jadwal boleh tertunda, tetapi agenda kegiatan tidak boleh berubah. Matahari sudah masuk peraduan. Sementara masih ada jadwal “meninjau areal tambang”. Bahkan rembulan belum menampakkan kecantikannya. Gerimis senja masih menyisakan basah tanah.

“Tidak apa. Kita tunda makan malamnya. Sekarang meninjau lokasi tambang dulu. Ada lampu kan?” kata Doni Monardo, Komisaris Utama PT MIND ID, saat berkunjung ke lokasi tambang emas PT Nusa Halmahera Minerals (NHM), di Gosowong, Pulau Halmahera, Maluku Utara, pertengahan Juli 2022.

Pulau Halmahera ada di timur Pulau Sulawesi. Sekilas, bentuk Pulau Halmahera mirip Sulawesi. Gosowong ada di Kabupaten Halmahera Utara. Di situlah letak lokasi tambang emas yang dikelola PT NHM berdasar Kontrak Karya bersama Pemerintah Indonesia yang ditandatangani tanggal 28 April 1997. Mayoritas saham PT NHM dimiliki PT Indotan Halmahera Bangkit (75%) dan 25% sisanya dipunyai PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

Sebelum ke Gosowong, rombongan Doni Monardo harus menunggu di bandara Sultan Babullah Ternate lebih dua jam. Padahal, dua unit helikopter PK-OC Airfast warna kuning sudah terparkir di ujung apron sisi kiri bandara. Rombongan sedianya terbang ke Gosowong dari Sultan Babullah pukul 14.00 WIT.

Kondisi cuaca (angin kencang) jadi penghalang si chopper terbang. Di dunia aviasi, kecepatan angin menjadi pertimbangan utama. Jika angin berkecepatan di atas 34 knot, pesawat berbadan kecil tidak diizinkan terbang. Termasuk helikopter. Alhasil, ketika kecepatan angin sudah memungkinkan, kru Airfast segera menginformasikan persiapan penerbangan.

Helikopter pertama berpenumpang antara lain Doni Monardo, Irjen Pol Purn Martuani Sormin (Komisaris MIND ID), Basar Simanjuntak (Direktur SDM PT Antam), Toto Nugroho Pranantyasto (Dirut Indonesia Battery Corporation (IBC), Anando Hendra Setiawan, (Direktur PT FENI HALTIM).

Jarak bandara Sultan Babullah Ternate ke Gosowong Halmahera Utara, kurang dari 100 km. Jarak itu disapu oleh capung Airfast kurang dari 30 menit. Dari helipad area tambang, Doni dan rombongan dijemput Kepala Teknik Tambang (KTT) PT NHM, Amirudin Hasyim dan para manajer.

Kodok Ngorek

Kisah kembali ke acara meninjau area tambang PT NHM, pasca tenggelamnya matahari. Mantan Danjen Kopassus 2014-2015 itu sempat membuat peserta rapat dengan jajaran direksi PT NHM saling pandang, setengah terbengong. “Malam hari begini apa yang mau dilihat?” bisik seseorang, bernada heran.

Usai rapat Doni berkata, “Sekarang taruh barang-barang di kamar, setelah itu kita berkumpul di sini untuk memulai peninjauan.”

Beberapa unit kendaraan operasional tambang, jenis SUV 4×4 sudah siap. Mereka bergerak meninggalkan area “permukiman dan perkantoran” tambang menembus kegelapan malam. Titik yang dituju adalah lokasi tailing.

Tailing adalah kombinasi dari butiran halus (biasanya berukuran endapan dalam kisaran 0,001-0,6 mm). Bahan padat ini tersisa setelah logam mulia dan mineral telah diekstraksi dari bijih yang ditambang, bersama-sama dengan air yang digunakan dalam proses pemulihan. Di titik itu, Doni turun dan berjalan menjauh dari parkiran kendararan.

Kurang dari satu jam, rombongan kembali ke lokasi kedatangan pertama, tempat dilangsungkannya rapat dengan jajaran PT NHM. Di dalam ruang, telah terhidang aneka menu makan malam.

Doni Monardo bersama karyawan NHM

Setelah mengambil sesendok nasi dengan lauk ikan dan sayur, Doni tiba-tiba membuka pembicaraan, “Apakah tadi ada yang memperhatikan suara apa yang kita dengar di lokasi tailing?”

“Kodok ngorek…,” sahut beberapa orang bersamaan. Doni tertawa dan menyahut, “Benar. Jadi saya tidak perlu harus melihat kondisi tambang di siang hari, untuk mengetahui bahwa proses tambang di Gosowong ini sudah benar. Tidak ada limbah beracun atau bahan bekas tambang yang berbahaya. Kodok ngorek itu adalah bukti, bahwa ekosistem di lokasi tambang tadi terjaga dan telah pulih dengan baik.”

Mendengar itu, tampak beberapa orang berhenti menyuapkan sendok makan ke dalam mulut, dan melongo mendengar ucapan Doni Monardo. “Ditambah keterangan dari orang NHM, bahwa di lokasi tambang juga masih banyak ular, dan manajemen melarang siapa pun membunuh ular. Bahkan jika ketahuan, akan mendapatkan sanksi,” ujar Doni.

Hewan-hewan itu adalah indikator nyata tentang baik-buruknya sebuah ekosistem. “Jika lokasi tailing tadi beracun atau mengandung limbah berbahaya, saya pastikan tidak akan ada kodok dan ular yang mendekat. Sama seperti air sungai. Kalau sudah tidak ada ikan, itu tandanya air sungai tadi mengandung limbah beracun. Pernah ada video pendek beredar, di sebuah daerah banyak jenis ikan sapu-sapu yang mati. Padahal ikan sapu sapu jenis yang tahan banting. Artinya ada limbah yang fatal di wilayah itu,” ujar Kepala BNPB 2019 – 2021 itu.

Akrab dengan Maluku

Lebih lanjut lulusan Akmil 1985 itu, mengatakan, dirinya sangat akrab dengan wilayah kepulauan Maluku dan Maluku Utara. Sebab, lebih dua tahun ia bertugas sebagai Panglima Kodam XVI/Pattimura (2015 – 2017).

Sejarah PT NHM berawal di tahun 1994 ketika Newcrest Mining Ltd., perusahaan pertambangan dari Australia dan PT Antam, membentuk usaha bersama untuk menemukan kandungan emas di Pulau Halmahera. Pada tahun yang sama, usaha gabungan tersebut berhasil mengolah kandungan emas di Gosowong.

Kemudian Newcrest dan Antam bersama-sama mendirikan PT Nusa Halmahera Minerals, yang berlanjut dengan ditandatanganinya Kontrak Karya Bersama Pemerintah Indonesia pada tanggal 28 April 1997. Produk emas pertama, dihasilkan dari tambang terbuka Gosowong di bulan Juli 1999.

Saat ini PT NHM mengelola wilayah kerja seluas 29.622 hektare di Halmahera Utara. Penambangan sistem tambang terbuka di Tambang Emas Gosowong telah berakhir. Saat ini pola kegiatan penambangannya dua unit. Yaitu Kencana dan Toguraci, dengan memadukan metoda penambangan bawah tanah, underhand/overhand cut & fill dan long-hole stoping.

Di awal tahun 2020, PT Indotan Halmahera Bangkit yang dipimpin Haji Robert Nitiyudo Wachjo, mengambil alih mayoritas kepemilikan saham PT NHM dari Newcrest Australia. Dengan manajemen baru bersama Indotan, PT NHM semakin produktif. Kontribusinya aktif terhadap peningkatan pemberdayaan masyarakat, terutama warga yang berada di wilayah lingkar tambang.

“Karena itu, aksi demonstrasi masyararkat sejak tahun 2020 sudah relatif terkendali. Sebab, saya tahu pak Haji Robert orang yang sangat komit. Sebagai contoh, saat pandemi Covid-19, beliau sama sekali tidak melakukan pengurangan tenaga kerja, bahkan sama sekali tidak memotong hak-hak pekerja. Saya tahu persis, karena saya waktu itu menjabat Ketua Satgas Covid-19. Kontribusi beliau terhadap pengendalian pandemi luar biasa,” puji Doni kepada Haji Robert.

Sambil menikmati malam di pedalaman Gosowong, Doni Monardo melakukan dialog interaktif dengan jajaran manajemen PT NHM, PT Antam, dan anggota rombongan lain. Doni tegas meminta anak-anak perusahaan MIND ID mencontoh manajemen tambang yang dijalankan Haji Robert, khususnya dalam mengelola limbah dan pelibatan/perhatian ke masyarakat sekitar.

Doni terkesan dengan motto yang diusung Haji Robert, yakni “menambang dengan hati”. Tak heran jika para pekerja merasakan apa yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Mereka merasa “dimanusiakan”. Di saat pandemi, Haji Robert justru membagi-bagikan bonus.

Sentuhan hati Haji Robert juga dirasakan masyarakat lewat program “peduli 4 suku di lingkar tambang”. Empat suku yang dimaksud adalah: suku Pagu, Madole, Boeng, dan Towiliko. Mereka memuji Haji Robert sebagai sosok yang sangat merawat budaya dan kearifan lokal. Jika tahun 2021 masing-masing suku dialokasikan dana CSR Rp 1 miliar, maka tahun 2022 naik 100 persen menjadi Rp 2 miliar.

Doni menyimpulkan, PT NHM tidak saja memberikan kesejahteraan kepada karyawan, tetapi juga peduli terhadap kesejahteraan masyarakat lingkar tambang. “Ini yang benar,” tegas Doni Monardo.

Jam menunjuk pukul 23.00 WIB, ketika Doni mengajak anggota rombongan beristirahat. Esok pagi, sudah siap agenda berikutnya, menuju Tanjung Buli. Melihat lokasi tambang lain, yang masih berada di bawah naungan PT MIND ID.***

Doni Monardo: Pulihkan Danau Toba, Inalum tak Bisa Kerja Sendiri

JAYAKARTA NEWS— Kontribusi BUMN kepada negara semakin besar. Salah satu BUMN penyumbang devisa negara adalah PT Inalum.

“Tapi harus diingat, Inalum memiliki utang budi kepada Danau Toba, karenanya harus membantu pemulihan ekosistem kawasan danau terbesar di Asia Tenggara ini,” ujar Tenaga Ahli Satgas Pemulihan Danau Toba, Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo.

Doni berbicara di hadapan Forkopimda Provinsi Sumatera Utara, serta para bupati (atau yang mewakili) dari tujuh kabupaten yang “memiliki” kawasan Danau Toba. Acara yang digelar Rabu (8/6/2022) di Taman Simalem Resort, Karo, Sumatera Utara itu bertajuk Rapat Koordinasi Tim Penyelamatan Ekosistem Danau Toba.

Selain sebagai Tenaga Ahli Satgas Danau Toba, Doni Monardo juga menjabat Komisaris Utama PT Mind ID, sebuah perusahaan konsorsium BUMN Tambang, yang salah satu anggotanya adalah PT Inalum. “Kami mendorong PT Inalum untuk membantu penyelamatan ekosistem Danau Toba,” tegas Doni.

PT Inalum dipuji Doni Monardo sebagai salah satu BUMN yang “performed”. Sebagaimana diketahui, pada tahun 2018, pemerintah bisa mengambil-alih saham PT Freeport sebesar 51 persen.

“Karenanya, kita harus bersyukur, melalui Inalum-lah pemerintah mendapatkan porsi saham yang lebih besar di Freeport,” tambah Kepala BNPB 2019 – 2021 itu.

PT Indonesia Asahan Aluminium atau lebih dikenal sebagai Inalum merupakan BUMN pertama dan terbesar Indonesia yang bergerak di bidang peleburan aluminium. Angka produksinya terus menanjak. Keuntungan perusahaan pun terus meningkat. “Harus diingat, Inalum bisa mendapatkan keuntungan jika ekosistem lingkungannya terawat dengan baik,” tambahnya.

Salah satu faktor adalah lancarnya pasokan listrik dari PLTA Asahan 1 dan Asahan 3. Listrik itulah yang memberikan sumber energi untuk produksi. Apa hubungannya dengan Danau Toba?

”Hubungannya karena PLTA Asahan sangat tergantung pada sumber air yang ada di Danau Toba. Artinya, Inalum harus merasa hutang budi kepada air Danau Toba. Karenanya, kami di jajaran PT Mind ID, melihat ada sesuatu yang perlu ditingkatkan, utamanya dalam hal kepedulian Inalum terhadap Danau Toba,” tegas Doni Monardo.

Jika, Inalum tidak memberikan kontribusi untuk penyelamatan ekosistem kawasan Danau Toba, maka permukaan air Toba akan terus mengalami penurunan. Kalau debit air Danau Toba turun, maka PLTA terancam tak bisa beroperasi. Tanpa pasokan listrik, maka Inalum juga terhenti.

“Tidak ada pesan lain, kecuali Inalum harus bekerjasama dengan seluruh komponen yang ada di Sumut, terutama yang ada di kawasan Danau Toba untuk mengembalikan fungsi konservasi, agar debit airnya bisa terjamin dan tidak mengalami penurunan lagi. Dengan begitu, aliran listrik dari PLTA Asahan ke Inalum menjadi lancar,” ujar Doni.

Di sisi lain, masyarakat Sumatera Utara, utamanya yang ada di kawasan Danau Toba juga harus merasa memiliki Inalum. Wajib mendukung Inalum dalam fungsinya memberi pendapatan kepada negara. Sebab, penerimaan negara ujungnya akan kembali juga kepada rakyat, termasuk kepada TNI dan Polri.

Doni Monardo menanam pohon Macadamia nut di bukit Gajah Bobok, Karo, Sumut. (Foto: Egy Massadiah)

Tambah Anggaran

Sebelumnya, Doni Monardo dan seluruh peserta Rakor mendengarkan program PT Inalum terkait penghijauan dan reboisasi kawasan gundul yang ada di sekitar Toba. Paparan disampaikan Benny Wiwoho, Direktur Eksekutif Umum dan SDM PT Inalum.

Kepada Inalum, melalui Benny, Doni berpesan agar fokus pada program serta pelaksanaannya. Inalum tidak bisa kerja sendiri. Karenanya Doni meminta Inalum melibatkan unsur-unsur yang ada di sekitar Danau Toba, mulai dari pemerintahan daerah, TNI-Polri, organisasi kemasyarakatan hingga para tokoh adat serta tokoh agama. “Buat sub satgas, pilih jenis tanaman yang sesuai. Kalau perlu datangkan mantan-mantan satgas Citarum Harum untuk saling berbagi pengalaman,” pesan Doni.

Doni Monardo, sang penggagas “Citarum Harum” itu bahkan menjamin, tanpa pelibatan unsur masyarakat dan pemerintah daerah yang ada di kawasan Danau Toba, program itu akan gagal. Doni pun mengambil contoh program Citarum Harum. Sejak tahun 80-an, sudah keluar dana yang tidak sedikit demi pemulihan Sungai Citarum yang tercemar berat.

Doni meluncurkan program Citarum Harum dengan melibatkan unsur masyarakat dan dipayungi oleh Peraturan Presiden. Saat ini kondisi Citarum sudah berada di fase tercemar ringan-sedang, dari yang semula tercemar berat.

Andaliman

Kepada pemerintah daerah yang nanti akan mendapatkan dana “Penyelamatan Danau Toba” dipersilakan menanam jenis tanaman yang sesuai. “Akan lebih baik kalau memilih tanaman yang tidak saja memiliki fungsi ekologis, tapi juga ekonomis,” kata Doni sambil menyebut salah satu jenis tanaman yang bernama andaliman. Juga tanaman lain seperti macadame nut, kemenyan, dan kemiri.

Informasi terakhir, Doni mendapat kabar harga andaliman mencapai 200 euro di Eropa. Itu hampir setara dengan Rp 3,5 juta per kg. Sebuah peluang yang sangat bagus jika kawasan Toba mampu memproduksi serta mengekspor andaliman.

Untuk diketahui, andaliman adalah sejenis merica Batak. Ia termasuk jenis rempah yang banyak ditemukan di daerah Batak dan kerap digunakan di berbagai kuliner khas tanah Tapanuli.

Andaliman juga memiliki cita rasa khas, tajam, dan meninggalkan sensasi ketir di lidah. Rempah ini berbentuk bulat dan kecil mirip lada. Andaliman juga memiliki manfaat yang luar biasa bagi kesehatan.

Kepada para bupati, Doni juga menyarankan agar memasukkan muatan lokal tentang Danau Toba, kepada siswa-siswa mulai dari SD hingga SMA. Anak-anak sejak dini harus dikenalkan mengenai sejarah dan kebanggaan Danau Toba. Termasuk memasukkan unsur-unsur konservasi, menjaga alam, merawat lingkungan.

“Tujuannya agar dalam lima tahun ke depan, lahir generasi penerus yang sudah memiliki kesadaran tinggi tentang pentingnya menjaga ekosistem Danau Toba. Ini yang disebut upaya atau program perubahan perilaku. Program penyelamatan Danau Toba tidak akan berhasil dengan baik tanpa diikuti gerakan perubahan perilaku masyarakat,” ujar Doni Monardo.

Terakhir, Doni memohon kepada aparat kepolisian untuk tidak segan-segan menindak aksi pembalakan liar. “Jangan takut sama pembalak. Mereka adalah orang-orang berdosa. Bayangkan, sebuah pohon hingga memiliki diameter sampai satu meter, butuh waktu tumbuh puluhan bahkan ratusan tahun. Oleh pembalak ditebang begitu saja kurang dari satu jam. Pak polisi mohon bantuannya agar menghentikan aksi mereka,” pinta Doni.

Aksi pembalakan liar, tidak saja mengganggu debit air Danau Toba, tetapi juga bisa mengakibatkan banjir bandang dan longsor. “Jangan sampai kita membiarkan orang-orang mengambil keuntungan dengan cara illegal, sementara rakyatnya harus menderita karena bencana,” tegas Doni Monardo.

Master Plan

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Hubungan Kelembagaan PT Mind ID, Dany Amrul Ichdan menyampaikan pentingnya master plan penyelamatan Danau Toba yang berkelanjutan.

Dany yang juga pengajar dan penguji program doktor pada Doktor Manajemen Bisnis Universitas Padjadjaran itu mengisahkan pengalamannya menghadiri World Economy Forum di Davos, Swiss baru-baru ini. Dalam perjalanan ke sana, ia sempat singgah di salah satu danau yang terpelihara dengan sangat baik.

Ia bahkan menceritakan sebuah kawasan yang zero carbon di sekitar danau. Di daerah itu, diterapkan adanya area bebas energi fosil. Jadi yang boleh melintas adalah kendaraan listrik. Pengelolaan sampah dan limbahnya juga sangat bagus, menggunakan teknologi.

“Kalau dilihat, danau di Swiss kalah spektakuler dibanding Toba. Pertanyaannya, kenapa di sana bisa tertata? Karena ada master plan. Karena itu, di sini pun hendaknya ada master plan bersamaan program penanaman pohon di lahan gundul,” ujarnya.

Yang tak kalah menarik adalah testimoni dari salah satu tokoh masyarakat yang hadir dalam Rakor Penyelamatan Danau Toba. Dia adalah Mayjen TNI Purn Haposan Silalahi. Dalam usia yang menginjak 85 tahun, ia masih terlihat sehat dan aktif. Malam sebelum Rakor, Haposan bahkan sempat berbincang panjang dengan Doni Monardo, yuniornya di TNI-AD.

Haposan mengisahkan ihwal keberadaan Danau Toba yang sangat sentral bagi masyarakat Tapanuli. Apa daya, dari tahun ke tahun, ia menyaksikan penurunan kualitas danau. “Dulu, pantai Danau Toba ada persis di depan rumah. Saat ini sudah maju lima meter. Itu artinya debit air turun. Bukan hanya itu, dulu di pantai Toba juga banyak bebatuan yang bersih, tapi sekarang batu-batuan itu tampak berlumut, indikasi adanya pencemaran akut,” katanya.

Saat ini muka air Danau Toba sudah di angka 903 mdpl. Harusnya di angka ideal 905 mdpl, dan akan lebih bagus lagi jika bisa mencapai 906 mdpl. Haposan menyebutkan, kekurangan ketinggian muka air dua meter itu bukanlah angka yang kecil, mengingat panjang danau Toba yang sekitar 100 km dan lebar danau yang sekitar 30 km.

Haposan juga mengenang saat-saat Danau Toba masih menjadi primadona rakyat yang hidup di sekitarnya. Ikan-ikan yang ada di Danau Toba juga menjadi kebanggan. Dan saat ini banyak yang sudah punah.

“Ada satu yang sangat saya sesalkan, yakni punahnya gurapang, atau kepiting danau. Saya biasa makan kepiting itu, lezat dan bergizi tinggi. Kalau kita berenang di danau, bisa melihat kepiting bercorak warna-warni itu di tepi pantai,” kenang Haposan Silalahi.

“Saya berharap Satgas Penyelamatan Danau Toba bisa mengembalikan Danau Toba seperti zaman saya kecil dulu,” ujar Haposan.

Usai Rakor Penyelamatan Danau Toba, Doni Monardo beserta para bupati, Sekda Prov Sumut, Dandim, Kapolres Karo meluncur ke bukit Gajah Bobok untuk melakukan penanaman pohon macadamia Australia (macadamia integrifolia) di lokasi lahan gundul.***rr

Doni Monardo Dapat Ilmu Baru Nanam Mangrove

JAYAKARTA NEWS – Menanam mangrove menggunakan polybag? Kuno. Doni Monardo mendapatkan ilmu baru dari kawasan hutan mangrove Belawan, Sumatera Utara. Ilmu baru itu didapat hari ini, Selasa (7/6/2022), saat Komisaris Utama PT Mind ID itu melakukan kunjungan ke Sumatera Utara.

Doni berangkat pagi hari bersama Dani Amrul Ichdan, Direktur Hubungan Kelembagaan PT Mind ID, beserta sejumlah staf. Mendarat di Bandar Kualanamu, Doni dan rombongan disambut Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, Herianto, pengurus PPAD (Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat), dan jajaran manajemen PT Inalum.

Agenda pertama adalah mengunjungi penggiat lingkungan, Effendy Wong (66) yang sudah menunggu di markas Polairud Belawan. Dengan tiga speed boat, rombongan Doni Monardo menuju hutan mangrove buah tangan dan ketekunan Effendy yang sudah dilakukannya selama 12 tahun.

“Saya mulai menanam mangrove tahun 2010. Saat ini sudah tertanam dan tumbuh sekitar 400.000 pohon di lahan kehutanan seluas sekitar 20 hekater,” kata pria berambut putih itu.

Sebagai penggiat lingkungan, siapa tidak kenal Doni Monardo. Termasuk Effendy. “Sudah lama saya ingin didatangi pak Doni. Saya ingin menunjukkan hutan mangrove yang saya kelola. Dan yang terpenting ingin menunjukkan cara menanam mangrove yang lain dari yang lain,” ujarnya.

Turun dari boat, Doni pun melintas jalan tanah berlumpur. Berjalan di antara rimbunnya hutan mangrove. Di situ, Doni diagendakan menanam mangrove. Sebuah kegiatan yang sebenarnya sudah tak terhitung berapa kali Doni lakukan.

Doni Monardo (ketiga dari kiri) bersama manajemen PT Mind ID, PT Inalum, Effendy Wong, Kadishut Sumut, Martuani Sormin Siregar, menanam mangrove bersama di kawasan hutan mangrove tepi Belawan, Sumatera Utara. (foto: egy massadiah)

“Hari ini saya mendapatkan ilmu baru. Saya mengucapkan terima kasih kepada pak Effendy. Ilmu baru menanam mangrove yang beliau ajarkan kepada saya, sungguh luar biasa. Bahwa menanam mangrove tidak perlu menggunakan polybag atau melalui penyemaian bibit. Ternyata, menanam mangrove bisa langsung dari biji atau buahnya,” kata Doni sumringah.

Buah mangrove, seperti diketahui, bentuknya menyerupai tongkat. Hijau warnanya. Panjang biji mangrove  yang siap tanam antara 25 – 35 cm. “Pilih buah mangrove yang di pangkalnya sudah keluar ring berwarna coklat. Jika sudah keluar ring, itu artinya siap tanam, dan hasilnyha 99 persen tumbuh,” kata Effendy.

Sebelum meninggalkan lokasi hutan mangrove, Doni bersama Dani Amrul, Irjen Pol Purn Martuani Sormin Siregar (Komisaris PT Mind ID), Herianto (Kadishut Sumut), menanam mangrove di lokasi yang telah disiapkan. Doni mengambil lima buah mangrove siap tanam. “Saya menanam lima. Pancasila,” kata Doni bersemangat.

Usai menanam, Doni pun memekikkan yel-yel khasnya, “Kita Jaga Alam….”, dan hadirin serentak menyahut “Alam Jaga Kita”. Doni pun mengulang yel-yel itu sebanyak lima kali. (egy/roso)