JAYAKARTA NEWS – Liburan akhir pekan ini, Anda sudah dapat ide mau masak cemilan apa? Beli belum dapat ide, boleh coba pisang goreng. Sederhana, tapi jika pintar mengolahnya, rasanya menjadi luar biasa. Apalagi dengan ditemani teh panas yang ‘Nasgitel’ (panas, legi, kenthel). Dengan kopi pahit pun oke kok.
Bagaimana pendekatan memasaknya, pilihan tepun, ternyata salah satu yang menjadi rahasia nikmatnya gorengan, seperti pisang goreng. Apalagi, jika Anda menemukan pisang kepok China –biar kepeng tapi manis– atau pisang tanduk, bisa juga pisang raja. Kalau tidak ketemu bahan istimewa itu, pisang jenis lain yang layak goreng, juga tidak masalah.
Bagaimana agar pisang goreng yang kita olah bisa renyah? Ternyata ada rahasianya lho.
Mencampurkan beberapa bahan dalam adonan tepung, bisa menghasilkan gorengan yang renyah. Padukan tepung terigu dengan sedikit tepung beras, dan tepung maizena. Bila ingin lebih renyah lagi, boleh tambahkan sedikit air kapur sirih atau baking powder ke adonan tepung. Sedikit tambahan santan, juga membuat renyahnya benar-benar mantap.
Pisang Goreng Pasir “Warisan” (foto kiri). Foto kanan: A. Wahab Matondang SE, M.Si (Ketua Umum Lepri Lembaga Ekonomi dan Pendidikan Rakyat Indonesia) – (kiri), dan Rahdiyan Kurniawan (Ketua Bidang Kewirausahaan Lepri) – (kanan). Foto: Monang S
TRADISI minum kopi sambil makan pisang goreng, ada di hampir setiap pelosok negeri ini. Jangan tanya sejarah dan asal-usulnya. Sebab, kalau kita tanyakan ke bapak, bapak akan bilang itu kebiasaan kakek. Ketika bapak bertanya ke kakek, kakek akan menjawab itu kebiasaan buyut. Itu artinya, pisang goreng adalah penganan warisan. Penganan turun-temurun.
Tidak salah jika kemudian lahir produk pisang goreng pasir dengan brand “Warisan” di Medan, Sumatera Utara. Salah satu outlet “Warisan” ada di Jl. Karya Wisata, Simpang Karya Tani, Medan Johor. Meski produk ini sudah ada sejak 1981, tetapi bercokol di lokasi ini sejak November 2017.
Karena rasa yang khas, ditambah inovasi topping aneka rasa, membuat pisang goreng pasir “Warisan” melesat pesat. Dalam waktu lima bulan, sudah memiliki 21 outlet. Sebagian besar di antaranya outlet kerjasama, atau franchise. Alhasil, pisang goreng pasir “Warisan” kini hadir di beberapa sudut kota Medan, Binjai, dan Deli Serdang.
Bagi yang menyukai pisang goreng pasir rasa original, outlet ini menjanjikan cita rasa legit. Bagi yang gemar berpetualang rasa, “Warisan” menyediakan aneka pilihan selera: ala richeese, choco, cappuccino, strawberry jam, tiramisu, nutella, chocomaltine, toblerone, dan lain-lain. Tak ayal, outlet pisang pasir “Warisan” senantiasa ramai pembeli, sejak buka pukul 11.00 hingga tutup pukul 22.00 WIB.
Outlet berbentuk gerobak dengan warna dominan biru dan kuning itu, tidak menyediakan banyak meja dan kursi. Sebab, sebagian besar pembelinya memang model take-away. Kalau toh makan di tempat, dijamin tidak harus menunggu lama, sebab semua bahan sudah siap goreng, terdiri atas pisang kepok pilihan, penggorengan, dan aneka topping.
Pesanan Pisang Goreng Pasir “Warisan” melalui jasa Go-Food. Foto: Ist
“Kedai pisang pasir Warisan ini juga sudah masuk aplikasi go food, sehingga pembeli banyak yang menggunakan jasa driver gojek,” ujar pemilik outet ayam goreng pasir “Warisan” di Jl. Karya Wisata, A. Wahab Matondang, SE, MSi. Dijumpai Jayakartanews baru-baru ini, dosen salah satu perguruan tinggi swasta di kota Medan itu mengaku, jika keadaan ramai bisa menjual hingga 80 kotak per hari.
Wahab menambahkan, harga per kotak pisang antara Rp 15.000 sampai Rp 30.000 per kotak isi delapan pisang. “Cita rasa yang terjaga, karena kami menjaga kualitas, mulai dari pemilihan pisang kepok, keju, susu, cokelat, dan bahan-bahan terbaik lainnya,” tambah Wahab.
Menurut Jessica (16), asisten di kedai pisang pasir “Warisan”, tipikal pembeli terpeta jelas. Senin hingga Kamis, pembeli yang makan di tempat dan membawa pulang, komposisinya hampir sama. Sebaliknya, setiap Jumat hingga Minggu, mayoritas pembelinya menggunakan jasa go-food. “Selama sebulan bekerja di outlet pisang pasir Warisan Jalan Karya Wisata, ada tiga rasa yang sangat digemari yakni Tiramisu, Nutella, dan Chocomaltine,” jelas Jessica.
Sementara, Putri (20) pembeli pisang pasir “Warisan” mengaku, sekali mencoba dan ingin membeli lagi. “Ini yang keempat saya kesini. Pisangnya enak, apalagi kalau dimakan selagi hangat. Saya suka rasa richeese,” katanya. Sedangkan Iwan (23) pembeli lain, mengaku paling suka rasa coklat. “Coklatnya berasa. Paduan coklat berkualitas dengan pisang kepok goreng pasir, sunggu nikmat,” tambahnya.
Sekadar Informasi, siapa pun bisa bergabung dan sukses bersama pisang goreng “Warisan”. Di bawah naungan Lembaga Ekonomi dan Pendidikan Republik Indonesia (Lepri), “Warisan” membuka peluang kerjasama dalam bentuk franchise. “Lepri ini berdiri awal tahun 2009. Pembinanya Bapak Andrinof Chaniago, mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Ketua Bappenas 2014-2015,” kata Wahab Matondang, yang mengetuai Lepri Sumatera Utara. Divisi Kewirausahan dipegang Rahdiyan Kurniawan.
Salah satu tujuan Lepri adalah meningkatkan SDM serta menciptakan peluang usaha untuk kemajuan ekonomi masyarakat, dalam bentuk usaha kecil mandiri (UKM). Lepri juga memberi beasiswa dan bantuan pendidikan kepada anak-anak tak mampu, mulai dari jenjang SD hingga perguruan tinggi.
Yang menarik, untuk menjadi mitra franchise, Lepri tidak mematok nominal tertentu sebagai royalty yang wajib dibayar. Yang penting, peminat kerjasama harus sudah punya tempat berjualan. Setelah itu, silakan ambil paket dengan harga bervariasi sesuai item yang diambil. Harganya mulai dari Rp 8 juta sampai Rp 15 juta. “Kotak pisangnya harus standar dari kami, biar seragam,” katanya. ***
JANGAN mengaku penggemar pisgor alias pisang goreng, kalau belum mencoba Pisgor Brastagi Cililitan. Seenak itukah?
Matahari mulai condong ke barat, ketika saya bergegas menuju kawasan Cililitan, Jakarta Timur. Suasana weekend di Sabtu (11/3) itu, menjadikan kawasan yang biasa padat, menjadi kian macet. Apa boleh buat, kabar tentang pisgor Brastagi yang yummy itu jauh lebih menggoda dibanding kendala kemacetan.
Tidak terlalu sulit mencari lokasi Pisgor Brastagi di Cililitan. Ia tak jauh dari jembatan penyeberangan Cililitan yang hanya satu-satunya itu. Dari jarak beberapa meter, aroma harum pisgor Brastagi sudah menusuk-nusuk hidung. Makin mendekat, makin tak tahan untuk menyantap barang sepotong.
Adalah wanita paruh baya bernama Roffina Sinuhaji, sang penjual pisgor Brastagi. Darinya, didapatlah keterangan asal mula berjualan pisgor. “Ah… awalnya sih iseng saja, untuk mengisi waktu kosong,” ujarnya.
Bayangkan, dari bisnis iseng saja, Roffina bisa meraup penghasilan antara Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta per hari. Bagaimana kalau serius…. “Iya dek… hari minggu malah bisa sampai dua juta,” kata Roffina sambil menyungging tawa senang.
Dari iseng menjadi serius, itulah yang terjadi dengan bisnis pisgor Brastagi Roffina. Kini, setiap hari ia harus belanja pisang raja, sedikitnya tiga tandan. Dari tiga tandan, akan didapat sekitar 35 sisir pisang. Khusus akhir pekan, ada kalanya ia menambah stok pisang.
Dengan daging pisang yang tebal dan dengan resep pribadi, menjadikan pisang goreng Brastagi memiliki rasa yang gurih dan bertekstur renyah. Ingin tahu harga per potong? Sudahlah, worth it banget…. ***