Konser Pianis Klasik Jonathan Kuo, Diawali dari Karya Beethoven, Diakhiri dengan Prokof

JAYAKARTA NEWS – Menyaksikan konser musik klasik berbeda kita nonton musik bergenre lain, katakan pop, rock atau dangdut. Klasik adalah tertib, dan disiplin. Tak boleh berisik dan bercakap-cakap. Semua hening menyimak apa yang didendangkan di panggung pertunjukan.

Bagi khalayak yang telat datang sedangkan konser sudah dimulai lima menit yang lalu, kita tak boleh nekad menerobos masuk. Pintu hall sudah ditutup dan dijaga oleh seorang petugas. Kita harus menunggu di depan pintu dengan tertib. Setelah satu op (opus) usai dimainkan, barulah kita dibolehkan masuk dan mencari nomor kursi.

Seperti yang terjadi sewaktu konser pianis klasik Jonathan Kuo di Balai Resital Kertanegara, Jakarta Selatan, belum lama ini, semua tenang dan tertib. Ada interval lima belas menit di tengah acara dan kita boleh makan dan minum. Selama pertunjukan, kita tetap duduk tenang menyimak (mau kentut pun, mungkin harus ditahan), telepon genggam pun harus dimatikan.

Bayi yang masih ditaruh didalam kereta dorong tak boleh diajak nonton. Bisa menggangu konsentrasi khalayak nantinya, jika si bayi menangis minta nenen. Anak kecil yang sudah berusia 7 tahun ke atas dan sudah bisa tertib, boleh nonton.

Sekitar satu jam, Jonathan Kuo menggebrak 8 opus dengan jumawa. “Saya pertama datang dan memulai acara, sudah dag dig dug. Keringat sudah bercucuran,” aku Jonathan.
Namun, khalayak yang memadati hall memberikan aplus bergemuruh setiap Jonathan mengakhiri permainannya. Kesepuluh jarinya sungguh gemulai memainkan bilah-bilah piano

Namun anak muda ini mengawali karya komponis ‘eksentrik’ Ludwig van Beethoven (1770-1827). Thirty Two Variations in C Minor, WaO 80 mengalir syahdu ditangan Jonathan. Sepertinya Beethoven yang tak sempat menyaksikan karya megahnya, Symphony No 9 (karena keburu berada di alam lain) hadir di Balai Resital Kertanegara, malam itu.

Disusul nomor dari Franz Schubert (1797-1828) yang tak kalah megahnya : Impromptu in B-flat Major, Op 142, No 3 dimainkan dengan semangat tinggi.

Babak pertama menjadi hangat karena tak kurang Jonathan ‘mendatangkan’ roh Claude Debussy (1862-1918) yang memainkan ;The Girl with the Flaxen Hair’ dan ‘The Dance of Puck’ from Prelude, Book I. Dan di babak pertama ini ditutup dengan karya Robert Schumann (1810-1856) dengan melantunkan nomor Scherzino, Intermezzo & Finale drom Faschingsshwank aus Wien, Op. 26.

Di babak dua, hanya empat opus digebrak. Semua mahakarya nan megah dan indah.

Prelude & Fugue in C Major, BWV 870 karya Johann Sebastian Bach (1685-1750) mengalun melankolis, dan menghanyutkan relung jiwa khalayak.

Kemudian hanya Ludwig van Beethoven yang dimainkan dua kali oleh Jonathan, hanya di babak dua ini khusus karya Allegro vivace from Sonata in A Major, Op. 2 No 2 ini benar-benar agung, dan sangat indah. Beethoven yang wafat karena berbagai penyakit kuning,, radang paru-paru dantuli ini mencipta sebuah sonata alias sonate yaitu suatu bentuk komposisi instrumental yang mendahului zaman Romantik.

Tak ayal Frederick Chopin (1810-1849, muda nian usianya ya) dipersembahkan Jonathan lewat Ballade No.2 in F Major, Op. 38.

Dan Jonathan benar-benar mengakhiri pertunjukannya dengan menghadirkan karya Sergei Prokofiew (1891-1953) yang menjulang namanya lewat Vivace ffrom Sonata No. 2 in D Minor. Op. 14.

Lalu, Jonathan mengundurkan diri ke balik panggung. Tetapi khalayak banyak yang berdiri dan bertepuk tangan sebagai isyarat minta tambah opus. Kalau di konser rock, mungkin penonton ramai berteriak dengan kata ‘More, more’….

Dan Jonathan nongol lagi dengan keringat masih bercucuran. Digebrak satu nomor pendek. Dan ini benar-benar nomor terakhir, tak ada lagi nomor lain. Beberapa panitia dan kawannya sibuk naik panggung menyuguhkan seikat bunga kemudian cipika cipiki.

Puas enggak, Jo ?

“Kalau saya sudah puas, pasti saya dibilang sombong. Saya ini belum apa-apa, masih terus berlatih setiap hari memainkan piano,” jawabnya.

Yang terberat, karya siapa ?

“Nomor terakhir karya Sergei Prokofiev. Karya dia benar-benar menguras tenaga dan ini tantangan buat saya, Bukan berarti nomor dari komponis lain tidak berat. Beethoven juga menantang saya untuk menyuguhkan dua mahakaryanya,” sergap Jonathan s embari melap keringatnya dengan saputangan.

Okay, Jo, mainkan terus musik klasik ya. (pik)

Jonathan Kuo Bawakan Karya Tchaikovsky dan Mozart

konser musik klasik bertajuk ‘Steinway & Sons Present Young Steinway Artist Gala Concert’

Jakarta Sinfonietta sukses menggelar konser musik klasik bertajuk ‘Steinway & Sons Present Young Steinway Artist Gala Concert’ di Aula Simfonia, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Minggu (7/10/2018). Konser musik klasik tersebut sekaligus peringatan kematian komposer andal asal Rusia, Pyotr Ilyich Tchaikovsky, yang ke-125. Ia juga bawakan konserto piano dari opus no 21 dalam C Major K 467 Mozart  (allegro maestro, andante dan allegro vivace assai).

Gelar konser resital solo Jonathan Kuo bawakan karya legendaris–foto istimewa

Jonathan dan Jakarta Simfonietta (dengan 53 piece) membuka konser tersebut dengan lantunan Suite Nutcracker, musik ciptaan Tchaikovsky pada 1892. Lagu itu digunakan sebagai musik latar pertunjukan balet, The Nutcracker, sekaligus menjadi salah satu karya terpopuler sang komposer hingga kini.

Pianis 16 tahun itu kembali memukau lebih dari 1.000 khalayak konsernya lewat tiga karya Tchaikovsky lainnya: Allergo con spirito, Andantino semplice, dan Allergo con fuoco. Ketiga karya musik itu diciptakan Tchaikovsky sepanjang periode 1840-1893.

Pada kesempatan itu, Jonathan juga mendapatkan penghargaan sebagai Young Steinway Artist oleh Steinway & Sons, sebuah produsen piano asal Manhattan, Amerika Serikat. “Penghargaan ini merupakan kehormatan bagi saya. Latihan keras selama 6 jam sehari akhirnya bisa membuahkan hasil memuaskan,” ujar Jonathan seusai konser.

Diakuinya, menggelar tur di beberapa negara seperti Malaysia dan China bukanlah hal mudah. Apalagi dia harus membawakan karya legendaris milik Tchaikovsky. “Sulit mempertahankan emosi agar stabil (sepanjang pertunjukan). Karena lagu itu kan berdurasi 40 menit, jadi kalau enggak konsentrasi semuanya bisa berantakan,” imbuhnya. (pik)

 

Pianis Muda Jonathan Kuo Perkenalkan Musik Klasik pada Milenial

Pianis muda Jonathan Kuo–foto poskota

Bertempat di Aula Simfonia Jakarta Jalan Industri Blok B. 14 Kav. 1, Kemayoran, Jakarta Utara, Jonathan Kuo, 16 tahun, akan memainkan komposisi piano klasik gubahan Tchaikovsky dan Mozart.  Pergelaran bertajuk Steinway & Sons Present Young Steinway Artist Gala Concert itu menampilkan Jonathan bersama kelompok orkestra di bawah pimpinan konduktor Iswargia R Sudarno.

Konser ini juga bertujuan untuk mengedukasi masyarakat Indonesia dan juga memperkenalkan musik klasik pada anak muda di Indonesia. “Karena saya juga melihat masih rada kurang peminat, berbeda sekali dengan peminat Via Vallen yang sudah jutaan,” kata Jonathan  pada press conference di Dharmawangsa Square, baru baru ini.

Pada usianya yang masih belia, Jonathan sudah meraih menyandang gelar sebagai Young Steinway Artist yang mengharumkan nama Indonesia di kancah nasional hingga internasional.

“Jo merupakan orang pertama yang dapat mencapai Steinway Artist tanpa sekolah formal conservatorium, karena sebelumnya Steinway Artist asal Surabaya juga ada, akan tetapi lulusan dari sekolah conservatorium” jelas Paulus Gani, sales dan marketing PT. Citra Intirama yang menjadi perwakilan dari Steinway & Sons Indonesia.

Menurut Paulus Gani, untuk menjadi Steinway Artist memerlukan waktu kurang lebih satu hingga dua tahun dan harus melewati banyak proses.

“Untuk menjadi ambassador Steinway Artist bukanlah bersifat bisnis, melainkan harus berprestasi,” tambah Paulus.

“Sangat senang bisa tampil lagi di konser piano klasik ini. Saya bangga,” ungkap Jonathan

Konser pada Oktober nanti, telah di persiapkan oleh Jonathan sejak bulan Juli lalu di mana ia berlatih untuk memainkan piano dengan durasi 70 menit. Terbagi dua buah lagu dengan durasi waktu 40 menit dan 30 menit.

Juga adanya encore dengan durasi waktu tujuh hingga delapan menit. “Menjadi guru sejak Jo umur delapan tahun memiliki kemajuan yang besar sekali. Sekarang sudah dapat dikategorikan sebagai artist,” ungkap Iswargia.

Jonathan, pria kelahiran Bandung, 21 September 2002 ini menyebutkan, saat konser nanti, dia ingin menikmati dan berupaya menampilkan yang terbaik.  Bagi Jonathan, repertoar di konser kali ini sulit karena lagu yang dia mainkan baru pertama kali. Lagunya susah sekali dan tidak bisa diremehkan, juga panjang,” katanya. (pik)