Gwadar

Gwadar Port, Pakistan–foto en.dailypakistan.com.pk

Oleh: Dahlan Iskan

Ini tidak penting: dibanding debat calon presiden nanti malam. Yang salah satu temanya HAM. Yang bikin saya melihat youtube ILC-nya Prof. Rocky Gerung Selasa lalu. Yang membuat tema debat itu seperti sudah kehilangan substansinya. Yang tema debat lainnya adalah  penegakan hukum. Yang apa lagi yang masih bisa diperdebatkan. Melihat kenyataan keadaan hukum kita.

Tapi biarlah teater demokrasi itu berjalan. Tontonlah itu. Jangan baca disway edisi hari ini. Yang hanya membahas perjuangan sebuah negera Islam. Untuk keluar dari kesulitannya yang parah: Pakistan.

Kita toh tidak dalam keadaan sulit. Negeri kita gemah ripah loh jinawi. Suatu saat nanti.

Tidak seperti Pakistan hari ini.

Pakistan sebenarnya punya alam yang jauh-gemah-jauh-ripah tapi amat strategis.

Namanya daerah Gwadar.

Pantainya amat menggiurkan. Untuk sebuah pelabuhan laut dalam. Terbaik di Pakistan. Lokasinya strategis. Di Laut Arab. Menghadap ke Oman. Bertetangga dengan Iran. Tidak jauh dari negara-negara kaya gas dan minyak: Iran, UEA, Qatar, Bahrain, Kuwait.

Begitu dekatnya sumber energi. Tapi Pakistan kini krisis listrik. Krisis gas. Krisis moneter. Krisis apa saja.

Gwadar, sayangnya, berada jauh dari pusat ekonomi Pakistan: Karachi, Lahore, Punjab.

Gwadar berada jauh di Barat. Yang penduduknya sedikit. Yang tanahnya gersang. Yang propinsinya tertinggal: Baluchistan.

Yang ingin merdeka pula.

Zaman dulu Gwadar tidak penting. Pelabuhan laut yang  dalam tidak begitu diperlukan. Populasi kapal besar tidak banyak.

Zaman berubah.

Kapal besar bisa mengangkut barang lebih banyak. Ongkos angkutnya menjadi lebih murah.

Keunggulan kompetisi sebuah negara kini juga ditentukan oleh ini: pelabuhannya dalam atau tidak.

Zaman Presiden Musharaf Gwadar sudah diincar. Modal asing diundang: Singapura. Yang dianggap juara dunia untuk manajemen pelabuhan. Pelabuhan Gwadar pun dibangun oleh Singapura. Senilai 250 juta dolar.

Itu 12 tahun lalu.

Pembangunannya sukses.

Cita-citanya gagal.

Pelabuhan itu tidak membawa kemajuan apa-apa. Kapal yang datang tidak pernah pergi. Dan yang pergi tidak pernah datang.

Ibaratnya begitu.

Itulah nasib infrastruktur yang kurang dihitung hinterlandnya. Termasuk kurang dihitung yang satu ini: Amerika menjatuhkan sanksi pada Iran. Yang semula dianggap akan bisa memanfaatkan pelabuhan itu. Untuk ekspor minyak dan gasnya.

Pakistan yang sekutu Amerika dan Singapura yang juga sekutu Amerika terkena dampak kebijakan Amerika.

Sepuluh tahun kemudian…

Datanglah ide besar.

Untuk Gwadar.

Dari siapa lagi.

Kalau bukan Tiongkok.

Gwadar akan dibangun lebih  gila-gilaan lagi. Dengan dana dua miliar dolar.

Kedalaman pelabuhannya akan mencapai 30 meter. Kita hanya punya satu pelabuhan sedalam itu: Bitung.

Kapal terbesar di dunia pun akan bisa berlabuh di Gwadar.

Angkut apa? Bukankah Gwadar  di daerah miskin? Yang tandus?

Tiongkok lah yang memikirkan ya. Negara itu akan membangun infrastruktur sambungannya: jalan tol, rel kereta api dan pipa. Yang panjangnya ribuan kilometer. Yang menghubungkan pelabuhan itu dengan….. Xinjiang!

Dari Xinjiang jangan dibicarakan lagi: sudah ada tol dari Xinjiang ke mana pun di Tiongkok. Sudah ada rel kereta cepat ke segala arah. Sudah ada pipa ke mana-mana.

Tiongkok berpikir: pelabuhan itu, biar pun di pantai Pakistan, tetap lebih dekat ke Xinjiang. Daripada dari pelabuhan Shanghai, Shenzhen atau mana pun.

Lewat Gwadar lebih mudah bagi Tiongkok membangun Xinjiang. Dan wilayah baratnya yang lain. Juga lebih aman: tidak perlu lagi lewat selat Malaka. Atau lewat Laut China Selatan. Yang bisa saja diblokade Amerika. Tiba-tiba. Untuk mengunci jalur logistik ke Tiongkok.

Dengan Gwadar minyak dan gas tinggal diseberangkan. Dari negara-negara Teluk. Lalu dialirkan lewat pipa.

Pun barang-barang Tiongkok bisa dilewatkan kereta. Atau truk. Diekspor ke Timteng. Atau Eropa. Lewat Gwadar itu.

Pemimpin baru Pakistan, Imran Khan sadar. Kritik keras akan dibombardirkan ke proyek itu. Apa lagi kalau bukan karena proyek Tiongkok.

Maka Imran Khan bikin keseimbangan. Arab Saudi diundang masuk ke Gwadar. Dengan proyek senilai 6 miliar dolar. Proyek refinery. Minyak mentahnya dari Saudi. Diolah di Gwadar. Dengan segala industri keturunannya.

Pangeran MBS sudah setuju. Proyek segera dimulai. Bulan depan. Pangeran sendiri yang akan ke Gwadar.

Tapi hasilnya kan masih lama.

Padahal Pakistan perlu uang. Sekarang. Hari ini. Untuk mencegah kebangkrutannya.

Begitu besar persoalan negara itu.

Tapi tetap saja banyak yang memperebutkan kekuasaannya. ***

Mini APBN Made In Khan

Imran Khan–foto thenews.com.pk

Oleh: Dahlan Iskan

Pemerintah baru ini sangat berani: memperkenalkan ‘Mini APBN’.
Tentu ‘istilah APBN Mini’ jadi isu miring. Yang dimanfaatkan oposisi. Habis-habisan.

Tapi perdana menteri yang olahragawan ini cuek.

‘APBN Mini’ adalah rencana anggaran negara yang hanya  berlaku 4 bulan. Berarti dalam setahun ini akan ada pembahasan RAPBN tiga kali. Tiap 4 bulan.

Imran Khan, kapten tim kriket juara dunia, sangat percaya diri. Mentalnya mental juara. Memang baru di zaman Khanlah Pakistan juara dunia. Untuk pertama kali. Dan tidak pernah lagi.

Saat terpilih jadi perdana menteri Khan memang mewarisi ekonomi yang parah. Dari perdana menteri sebelumnya: Nawaz Sharif. Yang disebut belakangan itu juga mewarisi ekonomi yang lebih parah dari pendahulunya lagi. Begitu terus di Pakistan. Berpuluh tahun. Berhasil menjadi negara Islam yang sangat demokratis. Tapi gagal ekonominya. Berantakan.

Khan mencoba cari terobosan. Ia relatif tidak terlibat dua dinasti politik yang saling menjatuhkan: kelompok Bhutto dan kelompok Sharif.

Waktu kampanye Khan menunjukkan sangat anti dua-duanya. Termasuk anti proyek Tiongkok. Yang identik dengan pemerintahan Sharif.

Ia membawa motto ‘Pakistan Baru’.

Tapi begitu terpilih Khan sangat rasional. Tidak mau ditekan partai. Termasuk tidak mau mewujudkan anti proyek Tiongkoknya.

Pakistan diramalkan hanya akan bisa hidup enam bulan. Hutang jatuh temponya sangat besar. Cadangan devisanya hanya cukup untuk impor satu bulan.
Untuk bisa hidup perlu suntikan dana USD 12 miliar. Cito.

Apa boleh buat.

Khan segera mengontak IMF. Meski ia tahu rakyatnya sudah antipati. Lembaga itu dianggap penyengsara rakyat. Yang hanya akan minta tarif-tarif naik. Subsidi dicabut. Perusahaan negara diswastakan.
Tapi Pakistan perlu dana mendadak. Perlu juga sinyal yang baik.

Dengan mengontak IMF Khan tidak terasa anti Barat. Sikap anti Barat hanya akan menambah musuh.
Tapi ia juga tahu: prosedur minta tolong IMF sangat berbelit. Bisa-bisa Pakistan keburu pingsan.

Ia pun mengontak raja Arab Saudi. Sahabat lama Pakistan. Termasuk pelindung utama lawannya: Nawaz Sharif.

Tapi Khan rasional. Hanya Arab yang punya uang banyak. Dan kalau kalau bisa mengambil hatinya bisa memberikan apa saja.

Berhasil.

Sang Raja  menjanjikan bantuan USD 6 miliar.

Lega.

Tapi belum cukup.
Dan baru janji.

Khan segera melupakan ucapannya saat kampanye. Ia pun bergegas ke Beijing. Tiongkok lah yang punya uang banyak. Yang prosedurnya tidak sulit. Tidak seperti negara Arab. Yang dalam hal uang tidak punya agama. Pun perhitungannya mirip Yahudi.
Beijing menyambut Khan dengan hangat. Ucapan penyambutannya pun menyenangkan Khan: Tiongkok bisa jadi teman di segala cuaca.

Beres.

Gabungan Saudi-Beijing telah cukup.

Tidak usah buru-buru menyerah ke IMF – – meski tidak juga pernyataan tidak butuh lagi.

Gabungan Arab-Tiongkok juga kombinasi cerdas. Seperti apa cerdasnya? Ikuti disway besok. Semoga tidak ada yang mendadak penting.

Beijing sendiri senangnya bukan main. Yang semula sudah khawatir. Pemerintah baru dikira langsung berang: membatalkan proyek-proyek One Belt One Road. Yang komitmen ya dibuat di masa Nawaz Sharif. Yang proyeknya mencapai USD 60 miliar. Hanya untuk satu negara Pakistan.

Nilainya sama dengan proyek serupa. Yang diciptakan belakangan oleh Amerika. Untuk program serupa di seluruh dunia.

Tak ayal kalau proyek itu menimbulkan heboh juga. Di dalam negeri sendiri. Dan di seluruh dunia.
Yang bahkan beberapa pekerja Tiongkok sampai mati dibunuh. Yang konsulat Tiongkok sampai diserbu.

Khan tidak mau ditekan seperti itu. Ia lakukan penyelidikan total. Minggu lalu terungkap: penyerbuan ke konsulat itu dirancang di Afganistan. Didalangi oleh team intelijen India. Pelakunya gerakan separatil Baluchistan. Yang ingin merdeka dari Pakistan.

India menolak tuduhan itu. Tapi sudah biasa. Atau masih biasa. Kedua negara itu bermusuhan. Sejak pemisahan India-Pakistan. Menjadi negara Hindu dan Islam. Di tahun 1965.

India memang negara yang paling menolak One Belt One Road. Istilah ‘Jebakan Tiongkok’ pertama kali diciptakan oleh India. Dikampanyekan ke seluruh dunia. Didukung Amerika.

Khan cuek. Ia tidak mau terjebak perang dingin geopolitik itu. Ia menciptakan geopolitik sendiri: mengkombinasikan China-Arab.

Khan lagi cari jalan sendiri. Untuk menyelamatkan Pakistan.
Termasuk mengambil jalan sangat beresiko: mengajukan ‘APBN Mini’ ke DPR.
Apa pun langkah itu kreatif. Kreatif kepepet. Kepepet kreatif. Untuk bisa selamat dari kebangkrutan.

Sambil memberikan harapan.

Manufacturing hope.

Dalam posisi kepepet masih bisa merancang kemajuan.
Tidak terjebak hanya sebagai pemadam kebakaran. ***

Lelang Kerbau Nawas Sharif

Ilustrasi–foto Mansi Thapliyal/bbc com

Oleh: Dahlan Iskan

Berita politik paling top di Pakistan saat ini: lelang kerbau. Jumlahnya delapan. Kandangnya di belakang rumah perdana menteri.

Yang membeli perdana menteri lama: Nawas Sharif. Yang melelang perdana menteri baru: Imran Khan. Tujuan lelang: untuk penghematan uang negara.

Salah satu kerbau itu laku Rp 38 juta. ”Saya ikut lelang karena cinta pada Nawas Sharif. Saya belum tahu akan saya apakan kerbau ini,” kata pemenang lelang itu.

Pemerintah baru Pakistan memang harus hemat habis-habisan. Utang jatuh temponya sekitar Rp 150 triliun. Cadangan devisanya tinggal 10 miliar dolar. Hanya cukup untuk membiayai impor 6 bulan. Kebetulan impornya memang tidak besar. Di banding Indonesia.

Tentu jual kerbau saja tidak cukup. Tidak ada artinya. Maka dijual juga 120 mobil pemerintah pusat. Yang dianggap pemborosan. Termasuk mobil antipeluru dan antibom.

Halaman kantor perdana menteri seperti show room mobil. Mercy, BMW, Lexus, Toyota SUV berjajar di halaman itu saat lelang diadakan.

Imran Khan terus jadi sosok yang populer. Janji kampanyenya dulu ditepati: hidup hemat. ”Di Eropa biasa saja seorang perdana menteri naik sepeda. Seperti di Belanda,” katanya.

Imran juga sudah memutuskan: kantor-kantor pemerintah, rumah jabatan dan tanah-tanah yang luas dialihfungsikan.

Kantor perdana menteri akan dijadikan universitas. Yang luasnya sekitar 55 ha itu. Beberapa rumah gubernur akan dijadikan museum. Atau galeri. Atau hotel butik. Beberapa halaman luas juga dijadikan tempat parkir.

Tujuannya: menghemat biaya pemeliharaan. Yang ikut menggerogoti anggaran negara.

Gerakan penghematan ini juga jadi bumerang. Permintaan rakyat lebih dari itu. Imran Khan juga diminta tidak naik helikopter lagi. Ribut. Pro-kontra. Kata satu pihak: biar saja naik helikopter, daripada memacetkan jalan. Pihak lain berkata: memang bisa saja, naik heli tidak mahal. Tapi tidak memberi simbol penghematan.

Imran sendiri kini ke Saudi Arabia. Siapa tahu bisa membantu Pakistan. Mengatasi persoalan keuangan jangka pendek: memberi pinjaman.

Kalau tidak pilihannya tinggal dua: ke IMF atau ke Xi Jinping.

Imran kelihatan arahnya: sedapat mungkin tidak ke Beijing. Tapi ia juga tidak memusuhi Tiongkok. Siapa tahu IMF juga tidak bisa membantu.

Pendapat umum di Pakistan memang lagi anti-Tiongkok. Gara-gara terlalu banyak proyek RRT di sana. Yang dirintis oleh Perdana Menteri Nawas Sharif. Melalui lembaga CPEC: China Pakistan Economic Cooperation.

Pakistan memang termasuk negara pertama. Yang menyambut hangat program Xi Jinping: one belt one road.

Imran sendiri sebenarnya punya terobosan lain. Sangat sensitif tapi luar biasa: membuka babak baru hubungan dengan India.

Kerjasama ekonomi dua negara bisa mengatasi banyak hal. Terutama devisa dan logistik.

Dua negara itu satu bahasa: urdu. Satu budaya. Hanya beda agama.

Memang masih banyak yang sensitif. Pemisahan Pakistan dari India dulu penuh luka. Ada masalah rebutan daerah Kashmir. Ada persaingan program nuklir.

Sebetulnya pendekatan itu sudah mulai dirintis. Minggu ini. Di New York. Mumpung semua Menlu lagi kumpul di sana. Untuk sidang PBB.

Pertemuan sudah diatur. Hari sudah ditetapkan. Tinggal tunggu pelaksanaan.

Dor!

Penjaga perbatasan India tewas. Di Kashmir.

India mau Pemilu tahun depan. Penembakan itu jadi isu politik. Saling kecam.

Pertemuan pun batal.

Imran punya niat kuat untuk melupakan masa lalu. Tapi garis keras di India memang sangat keras.

Imran punya jaringan yang kuat di India. Teman-teman lamanya. Sesama bintang pemain kriket dunia.

Di dalam negeri Imran masih sangat populer. Juga solid. Tapi juga harus waspada. Pengadilan tinggi di sana membebaskan Nawas Sharif.  Minggu lalu. Juga anak wanitanya. Tuduhan korupsi tidak terbukti.

Nawas sudah bebas sekarang. Setelah kehilangan segala-galanya: Jabatannya. Pabrik gulanya. Dan juga istrinya. Yang meninggal dunia di London, tiga minggu lalu, akibat kanker. Saat ia di dalam penjara. ***

Usir Taliban, ISIS Kini Kuasai Pegunungan Tora Bora

Seorang tentara Afghanistan saat terjadi serangan oleh gerilyawan ISIS di Provinsi Nangarhar pada bulan Mei lalu. Dalam upaya mengusir Taliban dari Tora Bora, para petempur ISIS mendapatkan basis yang mudah dikuasai, kata seorang pejabat Afghanistan. Kredit Ghulamullah Habibi / European Pressphoto Agency

 

 

 

KAWASAN pegunungan “Red Mountains” yang pernah menjadi benteng pertahanan Osama bin Laden di Afghanistan, Tora Bora, jatuh ke tangan petempur ISIS, yang dapat dimaknai sebagai kemenangan strategis dan simbolis yang signifikan.

Pejuang Taliban yang sebelumnya menguasai kompleks goa dan terowongan yang luas tersebut, telah melarikan diri pada Selasa (13/6/2017) malam, setelah ISIS melakukan penyerangan, demikian kesaksian yang disampaikan oleh penduduk desa setempat yang melarikan diri dari wilayah tersebut pada hari Rabu (14/6/2017).
Hazrat Ali, seorang anggota Parlemen dan  panglima perang terkemuka dari daerah tersebut, yang pernah membantu Amerika dalan upayana menangkap Osama bin Laden di Tora Bora pada tahun 2001, mengatakan bahwa serangan tersebut tidak lepas dari langkah Amerika untuk menjatuhkan apa yang disebut sebagai “mother bomb” terhadap ISIS yang bertahan di terowongan di Achin pada April lalu. Bom seberat 20.000 pon itu, dianggap sebagai bom non-nuklir terbesar yang pernah dikerahkan.

ISIS kemudian memutuskan untuk mengalihkan pengungsiannya ke gua dan terowongan di Tora Bora, kata Ali. “Sekitar 1.000 militan ISIS berkumpul di dekat Tora Bora, untuk menguasai daerah tersebut,” kata Ali.
“Saya memberi tahu pasukan pemerintah agar menyerang mereka, dan saya katakan kepada mereka, bahwa mereka (ISIS) mencoba menguasai Tora Bora, tapi mereka (pihak pemerintah) tidak memperhatikannya,” tambah Ali.

Seorang pejabat kepolisian Afghanistan setempat, juga mengkonfirmasi bahwa benteng Tora Bora telah jatuh ke tangan ISIS. “ISIS telah menguasai Tora Bora dan daerah sekitarnya,” katanya. “Para sesepuh suku ada di kantor saya. Mereka semua menyelamatkan diri dari daerah tersebut tadi malam.” Pejabat itu bersedia memberikan keterangan, dengan syarat merahasiakan jati dirinya, dengan alasan dirinya tidak berwenang untuk berbicara dengan pers.

Zabihullah Mujahid, juru bicara Taliban di daerah itu, membantah bahwa Tora Bora telah jatuh ke tangan ISIS. “Pertarungan sedang berlangsung di daerah Tora Bora antara ISIS dan mujahidin kami,” kata Mujahid melalui layanan pesan Viber. “Ini adalah garis depan antara mujahidin dan ISIS. Tidak ada yang maju di daerah ini. ”
Dia menuduh Amerika Serikat telah melakukan serangan udara untuk mendukung negara ISIS tersebut, namun demikian pejabat dan warga setempat menolak mendengar hal ini.

Menurut kesaksian warga, Taliban telah melarikan diri dari kawasan Tora Bora. “Taliban melarikan diri dari daerah itu tadi malam, dan meninggalkan kami kepada ISIS bersama wanita dan anak-anak kami,” kata Juma Gul, seorang sesepuh suku dari Lembah Suleymankhel, dekat dengan Tora Bora. Juma menambahkan, dia berada di antara ratusan keluarga yang melarikan diri dari daerah tersebut setelah ISIS mengambil alih. “Tidak ada perlawanan dari Taliban terhadap ISIS, dan suku setempat tidak bisa melawan mereka lagi. Jadi, kami baru saja lolos (dari maut).”

Dengan penguasaan di Tora Bora, menurut Ali, militan kini memiliki basis yang mudah pertahankan di Tora Bora. Lokasi itu sangat strategis karena mudah untuk mengakses ke banyak wilayah lain di Provinsi Nangarhar melalui pegunungan Spin Ghar di sepanjang perbatasan Pakistan, tempat Tora Bora berada. “ISIS memiliki benteng pertahanan dan akan mengambil-alih daerah ini satu per satu,” katanya.

Ali memiliki pengalaman yang luas dalam memerangi Al Qaeda di daerah tersebut, namun juga telah dituduh membantu Bin Laden melarikan diri dari Tora Bora pada bulan Desember 2001, yang dilaporkan mengkhianati sekutu Amerika dan Afghanistan saat mereka bertemu dengan pemimpin Al Qaeda. Atas tuduhan tersebut, Ali membantah telah melakukannya.

ISIS di Khorasan, tidak memiliki hubungan langsung dengan Al Qaeda, yang sebagian besar merupakan kekuatan dri daerah tersebut. Pada awalnya, ISS dibentuk oleh elemen-elemen Al Qaeda, dimana kedua kelompok itu memiliki banyak kesamaan doktrinal.

Pasukan pemerintah Afghanistan dan sekutu koalisi mereka di wilayah Tora Bora, telah terlibat pertempuran baru-baru ini melawan Taliban, kelompok yang telah mengakar di sana, dengan didukung oleh suku-suku setempat di sepanjang perbatasan pegunungan dengan Pakistan tersebut. Namun sejak Maret lalu, pasukan Afghanistan yang didukung oleh pasukan Operasi Khusus Amerika, telah melakukan upaya perlawanan yang kuat terhadap ISIS di Distrik Achin, dan juga di daerah Spin Ghar, yang lokasinya berada sekitar 50 mil ke timur Tora Bora.

Dalam pertempuran di distrik tersebut pada tahun ini, sebanyak enam tentara Amerika telah tewas.
Militer Amerika mengatakan telah membunuh ratusan pejuang ISIS di daerah Distrik Achin, termasuk “emir” ISIS di Khorasan, Sheikh Abdul Hasib. Hasib adalah mantan komandan Taliban Pakistan, yang memisahkan diri untuk bergabung dengan negara ISIS. Kedua kekuatan tersebut, ISIS dan Taliban telah bersaing ketat dalam dominasi di daerah yang mereka kendalikan, namun pejuang ISIS yang lebih ekstrim telah mendominasi Distrik Achin serta beberapa wilayah lainnya di bagian selatan Provinsi Nangarhar.

Pejabat Taliban prihatin dengan seruan ISIS, yang umumnya adalah kalangan muda, karena tidak sabar dengan kemajuan yang dicapai dalam kurun 15 tahun terakhir ini.

Di daerah Tora Bora, warga marah kepada Taliban dan pemerintah, karena membiarkan ISIS mengambil alih wilayah tersebut. Malak Tor, seorang tetua suku dari Distrik Pachir Agam, di mana Tora Bora berada, mengeluh bahwa tuntutan warga terhadap pemerintah agar menyerang ISIS yang berlindung di Tora Bora diabaikan.
Dengan menguasai kawasan Tora Bora, ISIS telah mengambil alih penguasaan sebuah tambang marmer besar dan juga sebuah depo bahan bakar. “Sekarang mereka menemukan sumber keuangan untuk mereka sendiri, dan akan sangat sulit untuk mengusir mereka dari Tora Bora,” kata Tor.

Presiden Ashraf Ghani pada Rabu (14/6/2017) telah memerintahkan Korps Angkatan Darat Afghanistan ke-201 untuk bergerak melawan ISIS di distrik-distrik, termasuk di antaraya di daerah Tora Bora, demikian penjelasan Attaullah Khogyani, juru bicara gubernur provinsi Nangarhar. Alim Eshaqzai, wakil gubernur setempat mengatakan, sesegra mungkin para pejabat keamanan akan memulai operasi penyerangan baik dari kekuatan di darat, udara dan serta artileri.***

sumber: NYT, VOA

Kisah Pelarian Keluarga Osama – “Kami Ingin Hidup Normal”

PADA tanggal 10 September 2001, para isteri Osama bin Laden diperintahkan menyiapkan pakaian satu koper tiap orang. Tidak seorangpun menjelaskan, hanya disebutkan suami mereka ingin memindahkan mereka dan anak-anak keluar dari Kandahar, Afghanistan. Sementara puteranya, yang sudah besar, bergabung bersama ayahnya dan saudara-saudara yang lain di lokasi tersembunyi. Anak laki-laki, yang ditinggalkan, baru berusia sembilan tahun dan dia terlihat takut pada suara senjata. Dia dan perempuan dan anak-anak lainnya dimasukkan kedalam sebuah bis tua buatan Soviet dan berjalan di jalan tanah pada rute Jalur Sutera.

Osama hanya berpesan, ketika mesin mati maka semua keluar dari bus.

Tiga hari kemudian, yang sama sekali tidak menyenangkan berkendaraan dengan bus tua tanpa AC. Mereka berhenti di luar kota Jalalabad, di (north-east) timur-laut Afghanistan, di samping benteng berdinding tanah setinggi empat meter dengan menara-menara penjagaan. Benteng ini adalah barak pelatihan al-Qaida berlokasi dekat desa dan Osama menamakannya Najm al-Jihad (Bintang Perang Suci). Benteng dikelilingi oleh tenda-tenda dengan pemandangan mirip berada di Bulan, karena kawasan yang kering dan berdebu. Anak ketiga Osama, Saad, menyebutnya sebagai Star Wars.  Di dalam benteng, terlihat tempat itu bertebaran kotak-kotak amunisi, makanan dan botol-botol kosong dimana-mana. Khairiah, salah satu isteri  Osama yang berperan sebagai pemimpin para perempuan, mengorganisasikan pembersihan benteng.

Di dalam benteng ada semacam rumah tempat tinggal mereka. Para perempuan menyiapkan tempat tidur, dengan selimut wool dan kasur busa tipis yang dibungkus dengan kain tua bekas baju. Mereka selalu memeriksa tempat tidur, karena ular dan kalajengking suka bersembunyi di tempat itu. Sedangkan kamar mandi terletak di luar rumah, yang dihubungkan dengan gang kecil. Selain itu, ada dapur seadanya dan di dalam dapur juga ada pompa air dan generator listrik. Para perempuan memasak di kompor tradisional Afghan ‘bukhar’ atau kompor terbuka. Sementara makanan terbaik diberikan kepada tiga ibu yang sedang menyusui. Suatu kondisi yang sangat bersahaja mengingat keluarga ini pernah hidup bergelimang kemewahan sebelumnya.

Saat di pelarian ini, Khadija (14 tahun),  puteri ketiga Osama, baru melahirkan. Dua tahun lalu, dia dan saudara tirinya, Fatima (12 tahun), dinikahkan kepada dua saudara berkebangsaan Saudi, yang berusia 30 tahun-an dan sudah beristeri dan punya anak. Para suami mereka juga pejuang mujahidin. Pada saat yang sama, Wafa, isteri putera Osama Saad bin Laden, juga mempunyai bayi. Dan juga isteri termuda Osama, Amal, baru melahirkan.

Para isteri Osama, yang karena alasan keagamaan berarti mereka tidak bisa berbicara langsung kepada para penjaga laki-laki mereka, berusaha memahami setiap berita apapun mengenai 9/11 (rangkaian serangan teroris di Amerika). Kejadian itu berlangsung ketika mereka sedang menuju Jalalabad. Pada bulan-bulan terakhir, di Kandahar terdengar isu-isu mengenai apa yang disebut sebagai “Operasi Pesawat”. Namun tidak seorangpun diluar orang dekat Osama mengetahui rencana detil operasi itu.

Tanpa keluarga laki-laki dewasa untuk melindungi mereka dan hanya para penjaga yang tidak bisa satu ruangan dengan mereka,  para isteri Osama diperintahkan untuk meledakkan diri mereka jika situasi jadi kritis. Bahkan Ladin, yang baru berusia sembilan tahun, mendapat tugas memandang ke udara mencari pesawat-pesawat jet musuh —- apalagi perang dengan Amerika tidak bisa dihindari lagi.

Pada malam hari, mereka tidur dibawah selimut bersama-sama dengan AK47 Kalashnikov dan beberapa granat sambil memikirkan keluarga dan teman yang ditinggalkan di kota-kota dan kapan mereka bisa bertemu kembali dengan suami dan putera-putera mereka.

***

Padahal belum lama berselang, para isteri Osama hidup bersama suami mereka di Tarnak Oila, sebuah benteng kuno di sebuah gurun dekat lapangan terbang Kandahar.  Di situ, para isteri mempunyai halaman cukup luas, yang ditembok, sehingga mreka bisa memelihara ayam dan kelinci. Kadang-kadang, saat tempat itu kosong dari para pria, mreka biasa berkumpul dan membuka cadar. Anak-anak juga ingat, mereka berkelahi memperebutkan konsol permainan Nintendo atau mendengarkan radio mencari stasiun yang menyiarkan lagu Madonna.

Namun pada masa itu ada pertentangan. Banyak anggota al-Qaida menyaktikan perdebatan sengit antara Osama dengan Omar, putranya yang masih remaja saat itu dan sebenarnya sedang dilatih untuk menggantikannya satu saat nanti. Postur Omar sangatlah mirip dengan ayahnya. Namun Omar tidak pernah setuju dengan obsesi ayahnya akan perang dan setelah dia mengetahui Operasi Pesawat, dia berketetapan meninggalkan ayahnya dan al-Qaida. Dia memohon ibunya, Najwa, untuk ikut serta. Tapi Najwa tidak pernah melanggar perintah suaminya, jadi Omar harus pergi sendiri. Belakangan, Omar mengatakan,“Jalan kekerasan ayah telah memisahkan kami selamanya.”

Namun pada akhir Agustus 2001, Najwa berubah. Dia mengingat kata-kata Omar, dia meminta kembali ke orang tuanya di Suriah — sebuah tindakan memberontak tak terduga dari perempuan yang mendampingi suaminya selama 26 tahun dan memberi 11 anak.

Sebenarnya Najwa tidak pernah bermimpi jadi isteri seorang Osama, yang dikenal dunia. Dia terkenal cantik dan hidup dengan kemewahan, dia adalah Ghanem, dari keluarga ternama di Suriah dan tinggal di daerah turisme Latakia, dimana para perempuan ber-bikini di pantai. Dia menikah dengan Osama tahun 1974, ketika dia baru berusia 16 tahun. Osama sendiri dikenal sebagai pemain sepakbola di universitasnya dan suka ngebut dengan mobil sport. Dia dilamar oleh putra ke 17 dari salah satu keluarga terkaya Arab Saudi, yang juga sepupunya. Dia tiba di Jeddah sebagai isteri Osama dan dia dengan enggan mengenakan cadar dan ‘niqab’, namun dibalik jubah hitamnya dia tetap mengenakan lipstik dan gaun perancang dunia.

Selama bertahun-tahun, permintaan Osama telah membuatnya lelah. Isteri saudara laki-lakinya mengingat Najwa sebagai perempuan yang murung, jemu, dan secara permanen hamil terus. “Dia tampak hampir selalu tidak terlihat,”ujar Carmen bin Laden, mantan isteri saudara tiri Osama, Yeslam.

Tidak pernah terpikirkan oleh Najwa  bahwa dia akan berada di rumah-rumah kecil kumuh di Kandahar, mengenakan ‘Burqa Afghan’, memasak dengan kompor sederhana dan menambal lubang-lubang peluru dengan kain wool untuk mencegah angin musim dingin masuk rumah. Belakangan dia mengatakan, Saya tidak pernah berhenti berdoa bahwa semua di dunia akan damai. Dan hidup kami mungkin akan kembali normal”

Ternyata bukan Operasi Pesawat yang meyakinkan Najwa untuk meninggalkan Osama. Ada juga pertanyaan mengenai isteri barunya. Osama mengambil beberapa isteri sebelumnya. Isteri keduanya tidak pernah mau berbicara dengan Najwa dan belakangan Osama menceraikannya. Namun isteri ketiga, Khairiah, adalah perempuan yang diusulkan Najwa. Sebagian anak yang dilahirkan Najwa mengalami cacat bawaan karena orang tua mereka sepupu langsung. Dua anaknya menderita hydrocephalus (air di otak) dan anak ketiga, Saad, austik. Namun Osama menolak perawatan medis, dia lebih mengandalkan pengobatan alternative dan doa.

Najwa pernah memasukkan anak-anaknya di klinik di Jeddah. Di klinik ini dia bertemu Khairiah, psikolog anak, tujuh tahun lebih tua dari Osama. Dan Osama ingin punya anak banyak dan Najwa mengusulkan Khairiah untuk dinikahi dan dia juga bisa membantu pendidikan anak-anak. Osama merasa itu sangat baik.

Khairiah akhirnya melahirkan putra Osama, Hamzah, yang mewarisi pandangan religius ayahnya. Khairiah juga berperan sebagai ‘pemimpin’ para perempuan dan anak-anak di keluarga besar Osama. Di ruangan Khairiah di Kandahar semua berkumpul dan menyelesaikan permasalahan antar mereka, berdiskusi soal perubahan yang terjadi, atau melobi untuk mendapat tambahan jatah beras, obat, atau buku sekolah.

 

Foto pasport istri termuda Osama bin Laden, Amal Ahmed Al Sadah, yang dipublikasikan surat kabar Pakistan, The News.

Tidak seperti Najwa, Khairiah adalah penganut Islam yang taat. Dia menikah tahun 1985, ketika itu Osama sudah ada di jalan jihad. Isteri keempat Osama, Seham, juga sangat religius, mengklaim dirinya keturunan nabi dan memperoleh gelar doktor dari Universitas Medina. Dia bekerja sebagai guru sebelum menikah dengan Osama, tahun 1987, dan ingin mendapat anak sebanyak-banyaknya. Sebelum 9/11, rumah Seham di Kandahar juga berfungsi sebagai ruang kelas keluarga, lengkap dengan papan tulis dan lembar-lembar ulangan yang dibeli di pasar. Anak-anak mengingat kadang-kadang Osama menginterupsi dengan melakukan ulangan matematika dan bahasa Inggris.

Osama berharap semua anak-anaknya mengambil peranan dalam jihad. Mereka tidak merayakan ulang tahun, tapi anak laki-laki terlihat direkam dengan memegang senjata atau mengunjungi wilayah pertempuran. Anak-anak perempuan dinikahkan beberapa saat setelah melewati pubertas kepada para pejuang mujahidin, yang usianya dua kali lipat dari mereka, dengan tujuan memperluas pengaruh al-Qaida.

Hanya Najwa yang berjuang untuk mengurangi nuansa kekerasan terhadap anak-anak. Mereka mengerumuninya dengan harapan mendapat kudapan dan terutama radio, dimana mereka mendengar lagu-lagu pop Amerika, memakan spaghetti Bolognese.

Ketika Osama memutuskan menikahi Amal al-Sadeh, yang baru berusia 18 tahun berasal dari Yaman, pada tahun 2000, memicu keluarga besar itu jadi berantakan. Sesaat sebelum 9/11, Amal melahirkan seorang puteri. Najwa pun keluar membawa anaknya yang paling kecil dan seorang putera, sudah dewasa tapi kecacatannya telah membuatnya tergantung kepada Najwa. Ketika Najwa menuju Suriah dia melihat keluarga besar itu lenyap.

“Hati saya hancur melihat anak-anak saya dikejauhan,” ujar Najwa. Khairiah dan Seham juga Amal tetap tinggal.

Kemudian 9/11, semua jadi pelarian….

Bom berjatuhan di seluruh Jalalabad pada November 2001, ketika itu Osama mendadak mendatangi benteng tempat tinggal keluarganya. Khairiah dan Seham sangat senang dan mengucapkan doa syukur. Tapi ini bukan kunjungan keluarga seperti biasanya. Osama langsung memerintahkan mereka segera mengisi koper-koper dengan pakaian. Pasukan AS dan sekutu Afghanistan-nya sedang bergerak maju kearahnya. Karena itu, Osama bergerak ke pertanian Zaitun miliknya di Lembah Melawa, pintu masuk ke Tora Bora, basisnya di kawasan pegunungan timur laut (north-eastern) Aghanistan. Hanya Puteranya, Othman dan Mohammed yang ikut dia. Sedangkan Hamzah, Khalid, dan Ladin diharapkan menjaga anggota keluarga perempuan dan anak-anak yang lebih muda. Saad, sebagai anggota keluarga tertua, bertindak sebagai kepala konvoi keluarga besar ini, yang juga termasuk menantu dan cucu Osama.

Osama berangkat dengan memberikan sajadah kepada setiap anak laki-lakinya dan mendorong mereka tetap tabah. Dia meninggalkan koper-koper berisi pakaian dan koin emas. Keluarganya, berpakaian tradisional, berangkat menembus malam dan mencoba memasuki Pakistan dari sebuah pintu perbatasan terpencil. Mereka menggunakan dokumen-dokumen Sudan, yang diberikan pemerintah Sudan ketika mereka tinggal di sana tahun 1990-an. Sementara paspor-paspor Saudi dimasukkan kedalam amplop coklat dan disembunyikan.

***

Pada Desember 2001, perang dengan Amerika meliputi seluruh Afghanistan. Osama menghilang, terakhir terlihat sedang bertahan terhadap pemboman besar-besaran di Tora Bora. Amerika berketetapan menghancurkan al-Qaida dan menyingkirkan Taliban dari tampuk kekuasaan.  Jadi siapapun yang berkaitan dengan Osama atau gerakannya jadi sasaran. Keluarga Osama, bersama ratusan petempur dan keluarganya, telah mencapai Pakistan. Namun Pakistan, setelah menandatangani jadi sekutu Presiden Bush dalam perang lawan terror, bukanlah tempat aman. Al-Qaida sangat membutuhkan tempat sembunyi baru, yang aman dan bisa di akses dengan mudah.

Keluarga Osama berhasil selamat dari sergapan di perbatasan Pakistan dan mencapai Karachi. Di kota ini, mereka disambut Khalid Sheikh Mohammed, otak dibalik 9/11. Tapi dia sebenarnya tidak tertarik jadi penjaga. Dengan keberhasilan besarnya, dia sedang sibuk menyusun rencana ‘spektakuler’ lain. Dia menyerahkan keluarga itu kepada sisa-sisa Dewan Syura al-Qaida dan terutama kepada ahli agama, Mahfouz Ibn El Waleed, yang selama ini berperan sebagai penasehat spiritual Osama dan teman dekatnya.

 

Paspor Hamzah, anak Osama bin Laden yang dikeluarkan oleh Pemerintah Arab Saudi

Mahfouz berdebat dengan koleganya selama berhari-hari tentang apa yang harus dilakukan untuk keluarga Osama. Sementara agen CIA mengintip dimana-mana. Helikopter-helikopter AS juga berterbangan di perbasaran Pakistan. Dia perlu tempat lain yang benar-benar tidak bisa dimasuki Amerika. Mereka merupakan keluarga yang paling dicara di dunia dan relatif mudah terlihat; tubuh tinggi, Arab, dan beberapa sangat mirip dengan Osama, serta tidak bisa berbicara bahasa setempat.

Pada akhirnya, mereka mencapai kesimpulan yang unik: kirim isteri dan anak-anak Osama bin Laden, pemimpin milisi radikal Sunni, untuk mendapat suaka di Iran, pusat kekuasaan Shiah.

Memilih percaya kepada Iran tampaknya, di permukaan, merupakan rencana konyol. Rejim itu tidak bisa diperkirakan dan selalu mencari keuntungan sendiri. Namun Iran berbatasan dengan Pakistan dan Afghanistan serta tidak punya hubungan diplomatik dengan AS sejak revolusi 1979 lalu. Tehran juga terkenal mendukung pihak manapun yang menentang musuh bebuyutannya; Amerika dan Israel, apalagi ada sejarah kontak rahasia antara Tehran dengan al-Qaida. Memberi tempat aman bagi al-Qaida pada situasi rawan ini bisa memperkuat posisi regional Iran dan berpontensi tidak jadi sasaran teroris di masa mendatang.

Januari 2002, George Bush memasukkan Iran kedalam daftar ‘poros kejahatan’. Setelah itu, pasukan khusus Iran, Quds, sebuah devisi rahasia dari Penjaga Revolusi, dipimpin oleh Mayor Jenderal Qassem Suleimani, memberi bantuan kepada al-Qaida. Mereka membangun kamp pengungsi di wilayah dekat perbatasan Afghanistan. Langsung saja, ratusan keluarga datang dengan bus, taksi, jalan kaki, atau kuda. Penjaga Taliban melarang pekerja bantuan asing, reporter, dan pengunjung lain yang tidak diinginkan memasuki kamp. Sementara itu, pejabat mengawal keluarga-keluarga (petinggi al-Qaida) ke Tehran.

Diantara keluarga-keluarga petinggi al-Qaida yang ke Tehran, Khairiah dan kelompok anak Osama ikut ke ibukota Iran itu. Sedangkan Seham dan anak-anaknya memilih tetap tinggal di Pakistan. Di Iran mereka dipimpin oleh Saif al-Adel, komandan militer al-Qaida, ke sebuah ladang pertanian di timur Zabol.

Anak dan cucu Osama di Abbottabad, Pakistan.

Saad, yang selalu berhati-hati, dengan bimbang bertanya kepada Saif tentang keamanan mereka. Dia ingin pulang ke neneknya, ibu Osama bernama Allia yang tinggal di kompleks perumahan bin Laden di Jeddah. Tapi Saif mengingatkan Saad bahwa kewarga-negaraan Saudi mereka sudah lama dicabut, apalagi Riyadh sangat dekat dengan pemerintahan Bush sehingga tidak mungkin kembali ke Saudi. Seseorang mengusulkan mengambil jalur darat ke Turki dan memasuki Suriah. Tapi Saif menyatakan menurut laporan dari pers Arab, badan intelejen Presiden Bashar al-Assad bekerjasama dengan AS. Saif mengusulkan kepada semua orang untuk tetap tinggal dan tidak menonjolkan kehadirannya, yang juga berarti tidak ada hubungan telepon.

Nasehat itu tidak menyenangkan Hamzah, yang masih membawa sajadah pemberian ayahnya di pertanian Zaitun di Lembah Melawa. Momen itu begitu meyakitkan dia sehingga, belakangan, dia menulis surat yang juga berisi dia “Mengingat semua senyuman ayah kepada saya, tiap kata yang dikatakannya dan tiap tatapannya kepada saya.”

Ketika Saif menyatakan kepada keluarga bahwa dia bisa menghubungi Osama, Hamzah menulis surat kepadanya — surat ini diumumkan oleh al-Qaida. Hamzah, yang terlahir dalam suasana perang dan tidak pernah mengenal damai dan sekarang dia di Iran, dia tidak melihat ada masa depan. Dalam suratnya dia mengatakan, “Katakan ayah, apa yang bisa dilakukan mengenai apa yang saya lihat. Apa yang terjadi terhadap kami,” permohonannya pada tahun 2002 lalu.

Osama, beberapa minggu kemudian menjawab dari tempat persembunyiannya, “Cukuplah untuk mengatakan saya sangat sedih. Maafkan saya, anakku, tapi saya hanya bisa melihat jalan terjal ke depan.” Dia juga memberi pesan kepada seluruh keluarga, meski mereka sudah ada di Iran tetap masih tidak aman. “Keamanan telah hilang, tapi bahaya tetap mengancam.”

Beberapa saat kemudian, terjadi razia dan penangkapan brutal di Iran. Keluarga Osama, Saif al-Adel, Mahfouz, dan petinggi al-Qaida lainnya ditangkap agen pemerintah Iran dan secara rahasia dipindahkan ke sebuah fasilitas pelatihan Quds di Tehran. Tempat ini, yang juga artinya penjara,  dekat dengan bekas istana Shah’s Sa’dabad, di utara kota. Lokasi ini secara resmi disebut Universitas Imam Ali untuk Perwira Angkatan Darat. Mereka ditempatkan di barak-barak dengan kamar-kamar seperti kotak-kotak sel dengan bagian tengahnya ada gang. Di halaman hanya ada gang dan lapangan, yang dipagari dengan tembok beton tiga meter lengkap dengan kawat berduri di atasnya. Renovasi dan perbaikan barak-barak itu sedang dilakukan, yang memperlihatkan keputusan memindahkan mereka diambil sangat tergesa-gesa. Petugas Iran menyebutnya, “Blok 100”, barak-barak yang tidak punya jendela dan hanya ada celah kecil di tembok bagian atas agar ada udara segar masuk. “Mungkin ini tempat Iran menyembunyikan bom nuklirnya,” kata seseorang yang baru tiba, menurut cerita Mahfouz.

Keluarga Bin Laden menunggu dari hari ke hari jadi minggu ke minggu, masa menunggu berbulan-bulan tanpa kabar ini membuat kekuatiran tumbuh. Kekuatiran mereka memang beralasan; pemerintahan sipil di Tehran mendapati ada keluarga petinggi al-Qaida yang secara rahasia dimasukkan ke Iran. Mereka sedang mendesak Mayor Jenderal Suleiman untuk menyerahkan keluarga Osama dan petinggi al-Qaida lainnya ke Washington DC dengan ‘bayaran’ pengakuan diplomatik, dan pengurangan sanksi-sanksi. Hanya ada satu halangan, obsesi Presiden Bush dan Dick Cheney untuk menggulingkan Saddam Hussein. Amerika sedang memusatkan perhatian pada invasi ke Irak, dengan menyatakan Baghdad mendukung al-Qaida. Karena itu, Gedung Putih menolak usulan Iran dan dengan itu juga mengesampingkan kesempatan untuk menahan para petinggi militer dan keluarga al-Qaida, termasuk keluarga Osama. Bisa dibayangkan, jika usulan Tehran diterima, maka al-Qaida akan jadi sangat lemah.

Pada tahun 2007, keluarga Osama di Iran makin bertambah dengan kelahiran beberapa cucu dan mereka juga telah direlokasi ke penjara lain berupa kompleks bangunan, yang disebut blok 300. Selalu ada ketegangan dengan tuan rumah mereka, kondisi buruk sanitasi dan makanan juga telah mengambil korban. Saad (28 tahun), saat itu telah mempunyai tiga anak, seorang putera diberinya nama Osama dan dua gadis kecil. Beberapa bulan sebelumnya, isterinya Wafa, melihat seorang puteranya meninggal karena pihak Iran menolak memasukkannya ke rumah sakit. Salah satu isteri anggota Dewan Shura juga meninggal karena permintaan layanan kesehatannya ditolak. Khairiah sendiri menderita masalah gigi yang berat dan sudah berjalan dengan tongkat.

Ketika ketegangan mencapai puncaknya, Mahfouz, yang tinggal bersama keluarga Osama, berjuang untuk mendapat konsesi. Kemudian, keluarga Osama memperoleh ‘liburan’ dengan kawalan pihak Iran, mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Tehran —- bercampur dengan turis-turis Amerika. Sesekali anak-anak Osama dan anggota Dewan Shura dibawa ke kompleks olah raga Elahieh. Saif al-Adel (kepalanya dihargai 55 juta dolar) berenang besama para diplomat asing.

‘Pertemanan’ sementara itu mencapai puncaknya pada bulan Oktober 2007 (Ramadan), ketika Iran mengundang seluruh ‘pengungsi’ al-Qaida berbuka bersama di sebuah restoran besar di hotel bintang lima di Tehran. Putra Osama mengundang balik para pejabat Iran untuk berbuka di tempat mereka. Kemudian hari jumat berikutnya, putra-putra Osama dijemput, di blok 300, menuju Universitas Tehran dan disambut disana oleh para pejabat Iran melewati ruang sembahyang besar untuk memasuki ruang kecil, yang diperlengkapi karpet sembahyang.

Sambutan meriah terdengar di luar ruang kecil itu dan pada saat yang sama televisi memperlihatkan para jamaah, termasuk alim ulama dan para pejabat, berdiri menyambut pemimpin Shiah, Ayatollah Ali Khamenei. Dan sembahyang Jumat ini disiarkan ke seluruh dunia melalui televisi Iran. Para putra Osama berada di ruang kecil di belakang dan jadi tamu pribadi Khamenei. Sementara di luar, para laki-laki berdiri dan berteriak, “Marg Bar Amrika” — Amerika mati!

***

Namun beberapa saat kemudian, hubungan tamu al-Qaida dan tuan rumah Iran kembali memburuk. Kali ini, sumber masalah adalah Suleiman Abu Ghaith — berkebangsaan Kuwait dan sempat jadi juru bicara Osama setelah 9/11. Dia juga menikahi puteri tertua Osama, Fatima.  Kewarga-negaraan Abu Ghaith sudah dicabut dan saat dalam tahanan dia melakukan mogok makan. Dia juga menulis buku ‘penyesalan’, yang berisi  penolakan Jihad Osama.

Soal Abu Ghaith kemudian membuat Iran marah. Namun ketika para penjaga Iran mencoba menahan dia, kerusuhan di penjara, blok 300,  meledak. Anggota al-Qaida, dari Mesir dan Libya, merobek seprei dan merusak tempat tidur kayu serta membakarnya. Mereka juga melempar bom Molotov dan mencoret pesan anti-Shiah di dinding penjara. Mahfouz menceritakan dia melihat cucu-cucu Osama melempari para penjaga dengan berteriak, “Kami telah diculik dan dimasukkan kedalam penjara rahasia. Penahanan kami ini melanggar hukum internasional.” Mereka lebih suka dituntut di pengadilan daripada hidup seperti itu.

Benteng Bintang Perang Suci di Jalalabad, tempat Osama memindahkan keluarganya pada September 2001

 

Hamzah bersumpah akan berjihad. Ibunya, Khairiah, menyatakan dia akan mendampingi suaminya. Sementara puteri Osama, Iman (17 tahun), berharap bisa berkumpul kembali dengan ibunya Najwa di Suriah. Namun pertama-tama seseorang harus melarikan diri dan menyampaikan aspirasi mereka. Meski ada pembicaraan bernada keras, mereka semua sebenarnya jadi takut akan dunia luar.

Sesaat setelah Fatima mengetahui Khadija, saudara perempuan kesayangannya, meninggal di Waziristan, Pakistan, karena melahirkan kembar, dan satu bayinya juga meninggal dan satu bayi perempuan sedang kritis. Fatima sangat terpukul dan tekanan kuat sangat terasa di tempat keluarga Osama berada.

Bulan Mei 2008, pejabat-pejabat Iran datang dengan misi persahabatan. Mereka membawa permen dan kue-kue. Saad bin Laden melihat gerbang dibiarkan terbuka. Dia berbiacara cepat dalam bahasa Arab untuk memerintahkan sepupu dan keponakannya lari. Mereka berlari ke pintu gerbang, yang mengejutkan para penjata Quds, dan tidak ingin menembaki anak-anak. Beberapa saat kemudian, para ibu berganung dengan mereka dengan duduk di pintu gerbang utama, dimana mereka bisa melihat penduduk setempat berlalu-lalang.

Mahfuz bercerita para perempuan beteriak, “Kami ingin bebas, kami ingin hak azasi manusia,” dan tetap duduk di pintu gerbang selama 36 jam. Dihadapkan dengan ‘tahanan’ al-Qaida, sangat rahasia, yang berteriak minta tolong, Mayjen Suleimani mengirim es krim untuk anak-anak dan makanan enak-enak untuk orang dewasanya. Semua makanan disajikan di pintu gerbang. Tapi tak seorangpun bergeming. Akhirnya, Iran mengirim tentara, mengenakan topeng ski dan berpakaian hitam, memaksa mereka masuk kembali ke Blok 300.

Beberapa hari kemudian, keluarga Osama diberi perintah untuk bersiap pergi dan mengepak pakaian kedalam koper-koper. Iran sudah tidak mampu lagi mengontrol ‘tamu’ al-Qaida, karena itu mereka harus pergi. Mereka dibawa ke gurun pasir, di kota bersejarah Yazd. Rumah-rumah baru, atau tepatnya penjara baru,  mereka dikelilingi oleh tembok batu bata.

Para penjaga Iran berada di ruangan dekat pintu gerbang utama. Mereka menegaskan, tidak ada lagi jalan-jalan ke luar —- keistimewaan itu telah berakhir. Namun anggota keluarga berjalan-jalan di dalam kompleks dan menemukan tidak ada kamera keamanan di belakang. Hamzah menyatakan siap melompat ke luar. Tapi Khairiah melarangnya. Hamzah, yang baru berusia 19 tahun, dipandang terlalu muda. Apalagi isterinya, Asma, baru saja melahirkan seorang puteri. Saad, yang hadir pada percakapan itu dan anak tertua, menyatakan dia akan melakukannya. Anggota keluarga lain menggeleng dengan rasa tidak percaya — dia tidak akan selamat. Namun malam itu, Saad memanjat dan melompat dari tembok serta berjalan kea rah gurun pasir. Dia menyatakan akan menemukan ayahnya di Pakistan dan menolong mereka semua.

Putera Osama bin Laden, Hamzah, yang sudah dinyatakan sebagai teroris global oleh AS

Setelah kaburnya Saad diketahui. Keluarga Osama dikembalikan ke Tehran, dimana mereka menemukan berada di tempat tahanan berbeda di tengah kompleks pasukan Quds. Di tempat ini setiap keluarga memperoleh satu apartemen dan ada juga sekolah, masjid, lapangan sepak bola, bahkan kolam renang. Mereka menyebut tempat itu sebagai ‘Kompleks Turis’. Namun dengan tembok tinggi dan sensor-sensor gerak, ini lebih dari sekedar penjara modern dan dari kamar mereka bisa mendengar latihan-latihan pasukan Quds.

Di akhir bulan pertama, beberapa putra Osama ditawari untuk melakukan hubungan telepon.  Mereka diselundupkan ke perbatasan Afghanistan dan diberikan telepon satelit Thuraya  — lokasi dan telepon dirancang untuk membingungkan pihak Amerika yang memantaunya — dan mereka diperintahkan untuk tidak mengungkapkan posisi mereka. Mereka berhasil menghubungi Omar bin Laden, putra Osama yang meninggalkan Afghanistan sebelum 9/11 dan tinggal di Qatar bersama Zaina, isterinya yang berasal dari Inggris. Selama bertahun-tahun, Omar dan ibunya, Najwa, menulis kepada Palang Merah Internasional dan PBB untuk menemukan keluarga mereka. Sekarang, mendadak mereka mendapat telepon dari gurun pasir. Omar berjanji akan menolong.

Setelah hubungan telepon, mereka kembali ke Tehran dan sangat senang. Namun datang kabar dari Pakistan, Saad bin Laden meninggal —- terbunuh dalam serangan drone di Waziristan. Malam itu, keluarga Osama berkumpul dan mereka sangat yakin Saad telah bergabung dengan ayahnya, dan sekarang mereka merasa putus asa.

***

On 21 November 2009, Mahfouz was deep into his late night Qur’anic reading when he heard a knock at the door. He opened it to find Iman, Osama’s daughter, now 18, requesting to see his daughter Khadija, her best friend. When they were alone, Iman took off a gold ring and handed it to her. “This was a gift from my father but now it’s yours,” Iman said, explaining that something was about to happen that would “hit the compound like an earthquake”.

Pada tanggal 21 November 2009, Mahfouz, tengah malam,  sedang membaca Al-Quran ketika dia mendengar ketokan di pintu. Dia membukanya dan Iman (18 tahun), putri Osama, meminta agar dia bertemu dengan Khadija, puterinya, sahabatnya.  Ketika mereka berbincang berdua, Iman mencopot cincin emas dan memberikannya kepada Khadija. “Cincin ini pemberian ayahku tapi sekarang jadi milikmu,” kata Iman dan dia menjelaskan akan ada kejadian yang membuat tempat penahanan mereka seperti dihantam gempa bumi besar.

Esoknya, para perempuan al-Qaida berkumpul di lapangan untuk melakukan belanja Eid. Iman berbincang-bincang dengan teman-temannya dan duduk bersama Khadija di bus, yang membawa mereka ke Shahvand sebuah supermarket bergaya barat di Lapangan Argentina dan selalu dipenuhi oleh para diplomat.

Ketika Khairiah dan Fatima bin Laden mengisi troli mereka, sementara anak-anak mengikuti sambil meminta permen. Iman menarik Khadija memasuki bagian mainan anak-anak. Bukankah mereka terlalu tua, tanya Khadija. Iman mengambil boneka bayi dan mengeluarkan pakaian, yang dia ambil dai bagian lain di mal, menanggalkan jubah (abaya) dan cadarnya (niqab) serta mengenakan celana jeans dan memakai hijab warna-warni dengan gaya Iran. Kemudian, dia membungkus boneka dengan selimut, seakan-akan itu bayi. Dia memeluk sahabatnya, setelah itu berlari. “Apa yang kamu lakukan?”. “Kelihatannya apa?” Jawab Iman, sebelum dia menghilang di keramaian.

Beberapa saat kemudian, para penjaga Iran menyadari Iman telah hilang, langsung agen-agen intel menyapu seluruh mal dan Lapangan Argentina itu. Namun Iman telah hilang. Dia meminjam telepon dari seorang perempuan dan menelepon kakak tertuanya, Abdullah bin Laden, yang sudah jadi pengusaha di Jeddah dan menolak jihad ayahnya sejak 1995 lalu. Abdullah tidak percaya bahwa dia berbicara dengan adiknya, yang disangkanya sudah mati. Kemudian, dia memerintahkan Iman lari ke Kedutaan Arab Saudi dan dia akan menelepon kedutaan.

Di Kompleks Turis, tempat penahanan keluarga Osama, semua orang duduk dengan diam. Mereka terlalu takut untuk berharap. Selama tiga hari tidak ada kabar apapun. Kemudian, ketika Mahfouz dan keluarganya menonton televisi kabel ada teks dibagian bawah layar, yang biasanya berisi iklan atau informasi lain, betulisan lain. Ada kabar, Iman baik-baik saja.

Iman berkumpul kembali dengan ibunya, Najwa, di Suriah pada awal 2010, setelah selama 100 hari tinggal di Kedutaan Arab Saudi di Tehran. Sekarang ini, dia tinggal di Jeddah bersama beberapa anggota keluarga lainnya, termasuk Fatima dan ibunya. Najwa sering ke Qatar untuk bertemu anggota keluarga lainnya, termasuk Omar dan Ladin.

Pada akhir 2010, Khairiah dan Hamzah dibebaskan oleh Iran dan berangkat untuk bergabung dengan Osama di Pakistan. Khairiah bersama-sama dengan suaminya ketika terbunuh dalam serangan AS di Abbottabad, bulan Mei 2011. Dia selamat bersama-sama dengan Hamzah, yang sekarang jadi tokoh pemimpin al-Qaida. Awal tahun 2017, AS menyatakan dia sebagai teroris global. Penyergapan 2011 juga menewaskan Khalid, putra Osama dari Seham.

Setelah setahun ditahan di Pakistan, Khairiah, Seham dan Amal, yang menyaksikan pembunuhan suami mereka, di deportasi ke Arab Saudi bersama dengan 11 anak dan cucu. Sekarang, mereka tinggal di sebuah perumahan di luar Jeddah.

Mahfouz, yang melihat berita kematian Osama dari Kompleks Turis, akhirnya berhasil melarikan diri dari Iran pada tahun 2012 dan kembali ke Mauritania. ***

 

 

Tulisan diatas berasal dari para anggota keluaga, yang diwawancarai dengan anomim, dan anggota senior al-Qaida, yang selama ini belum pernah berbicara, mengungkap kehidupan keluarga besar Osama berbulan-bulan dan tahunan setelah 9/11.

Buku Adrian Levy – Cathy Scoot berjudul: The Exile: The Flight of OsamaBin Laden.

Sumber informasi dari: theguardian.com tulisan Adrian Levy