Arca Tatasawara: Merawat Nusantara dalam Harmoni, Meluncurkan Tiga Karya Visual setelah Tiga Tahun Perjuangan

Oleh: Heri Mulyono

Di tengah hiruk-pikuk industri musik modern yang didominasi nada-nada elektronik, ada sekelompok anak muda dari Malang yang memilih jalan berbeda. Mereka adalah Arca Tatasawara—grup musik etnik kontemporer yang sejak Agustus 2019 bertekad menghidupkan kembali sejarah, adat, dan cagar budaya Nusantara melalui alunan musik.

Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Namun, bagi tujuh musisi yang tergabung dalam Arca Tatasawara, rentang waktu itu terasa begitu berarti. Pada 16 Juni 2026, mereka akhirnya merilis tiga video klip untuk lagu Pertanian, Jegeg Sajan, dan Javarabian—sebuah karya yang membutuhkan proses produksi selama tiga tahun penuh.

“Peluncuran video klip ini sebagai dedikasi kami untuk fans yang terus membersamai langkah Arca Tatasawara dari awal hingga hari ini,” ujar Agus Wayan, yang akrab disapa Aak, sang pencipta lagu Jegeg Sajan dan Javarabian.

Dari Candi ke Pentas: Perjalanan Panjang Arca Tatasawara

Nama “Arca Tatasawara” sendiri bukanlah sekadar rangkaian kata. Terinspirasi dari pahatan pemusik yang terukir di Candi Jago, Tumpang, nama ini menjadi simbol misi mereka: menghidupkan kembali peninggalan leluhur melalui musik. Grup yang bermarkas di daerah Klojen, Malang ini awalnya terbentuk pada Agustus 2019 sebagai embrio kecil. Seiring berjalannya waktu, formasi mereka terus berkembang seiring masuknya seniman-seniman baru yang memiliki visi serupa.

Namun, baru pada tahun 2023, vokalis sekaligus pendiri, Nova Andiano (Kaji Nova), bersama Joko Prihatin dan Agus Wayan sepakat menamai grup ini “Arca Tatasawara”. Sejak saat itu, perjalanan mereka mulai mendapat perhatian yang lebih luas.

Puncaknya terjadi pada Agustus 2025 ketika mereka sukses menggelar konser tunggal bertajuk “Harmoni Candi Nada Zaman” di Candi Kidal. Konser yang mengusung tema pelestarian cagar budaya Nusantara melalui musik ini berhasil menarik perhatian publik dan kurator. Tak lama kemudian, Arca Tatasawara lolos kurasi Indonesia World Music Series, sebuah pencapaian yang membuka jalan bagi mereka untuk menggelar tur di dua kota di Kalimantan.

Tiga Lagu, Tiga Cerita, Satu Nusantara

Peluncuran tiga video klip ini bukan sekadar ajang pamer karya. Setiap lagu membawa cerita dan filosofi yang mendalam, menggambarkan kekayaan budaya Indonesia dari berbagai sudut.

Pertanian: Menggali Kearifan Leluhur dari Tanah Jawa

Lagu pertama, Pertanian, mengangkat tema yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Jawa. Seperti yang dinyatakan dalam prasasti Canggal (732 M), Dwipajawa adalah pulau yang kaya akan padi-padian. Melalui lagu ini, Arca Tatasawara ingin mengingatkan kembali pada kearifan agraris yang telah menjadi fondasi peradaban Nusantara.

Pengambilan gambar video klip ini dilakukan di Desa Sengguruh, Kepanjen, Kabupaten Malang. Hamparan sawah hijau, langit biru, dan kehidupan pedesaan yang autentik menjadi latar sempurna untuk lagu yang diciptakan oleh Nova ini. Peluncuran Pertanian juga bertepatan dengan momen Hari Krida Pertanian, menambah lapisan makna pada karya tersebut.

Jegeg Sajan: Merayakan Kecantikan dalam Tafsir Budaya

Jika lagu pertama membawa kita ke hamparan sawah Jawa, maka Jegeg Sajan mengajak kita menyelami keindahan budaya Bali. Judul yang dalam bahasa Bali berarti “gadis cantik” ini ternyata memiliki makna lebih dalam. Nova menjelaskan bahwa kecantikan yang dimaksud tidak sekadar fisik, tetapi merujuk pada sosok-sosok legendaris seperti Dewi Saraswati, istri Dewa Brahma yang penuh kebijaksanaan, atau Ken Dedes yang dalam kitab gancaran Pararaton diistilahkan dengan “hayu anulus”—kecantikan yang sempurna.

Pengambilan videografi dilakukan di area Museum Empu Purwa, bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang. Kostum yang digunakan dalam video klip ini juga tidak main-main. Dirancang oleh Dinar Weddover, busana para pemain terinspirasi dari ukiran motif relief di Candi Kidal, menciptakan harmoni visual yang memukau antara musik, tarian, dan sejarah.

Javarabian: Jejak Peradaban Islam di Tanah Jawa

Lagu ketiga, Javarabian, merupakan kata gabungan dari “Jawa” dan “Arabia”. Lagu ini menjadi jembatan yang menghubungkan dua peradaban besar yang telah berinteraksi selama berabad-abad di Nusantara. Nova menuturkan bahwa pengaruh agama dan budaya Islam telah memasuki Nusantara sejak abad XI Masehi, dengan jejak tertua ditemukan di situs Leran di pesisiran Gresik dan situs Pasai di Aceh pada abad XIII Masehi, yang diawali oleh pengaruh budaya Islam Persia dan Gujarat.

“Peluncuran Javarabian bertepatan dengan momentum peringatan 1 Muharam, menjadikannya sangat istimewa,” tambah Aak.

Visual videografi melibatkan tarian Sufi dari komunitas Gubuk Sufi di Jabung, Kabupaten Malang, menambah kedalaman spiritual pada karya ini.

Tiga Tahun yang Berharga

Proses produksi tiga video klip ini memakan waktu tiga tahun, sebuah durasi yang terbilang panjang di era serba instan. Namun bagi Arca Tatasawara, setiap detik dari perjalanan itu memiliki makna.

Selain tujuh personel inti—Nova (vokal, kecapi, gitar akustik), Agus Wayan (Sape Kalimantan dan Panting Bali), Koko (gitar elektrik dan backing vokal), Fisal (suling, saksofon, kendang, terompet), Mohammad (bass), Toetut (biola), dan Aditya (drum)—mereka juga melibatkan musisi tambahan seperti Wahyu (kendang dan gamelan) dan Ayub (biola).

“Dukungan dari berbagai pihak sangat berarti. Kami mengucapkan terima kasih kepada Ravy Dirga, mahasiswa Institut Asia yang memilih Arca Tatasawara sebagai tugas akhir skripsinya. Itu sangat menginspirasi kami untuk terus berkarya,” ungkap Nova.

Menatap Masa Depan

Setelah peluncuran tiga video klip yang dinanti-nanti, Arca Tatasawara tidak berencana berhenti. Mereka telah menjadwalkan sejumlah pertunjukan yang paling dekat akan digelar pada 12 Juli di Surabaya, 2 Agustus di Malang, dan 26 Agustus di Ubud, Bali. Bagi para penggemar, ini adalah kesempatan emas untuk menyaksikan langsung permainan musik etnik kontemporer yang memukau.

Lebih jauh, grup yang berfokus pada pelestarian sejarah, adat, dan cagar budaya ini sudah memiliki rencana untuk memproduksi video klip berikutnya untuk lagu-lagu seperti Singgah, Reng Medura, Garudeya, Nusantara, dan Malang.

“Kami ingin terus berkarya dan menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya Nusantara. Musik adalah bahasa universal, dan melalui bahasa itu kami berharap generasi muda bisa lebih mencintai budayanya sendiri,” pungkas Aak.

Dengan harmoni yang tercipta dari perpaduan instrumen tradisional seperti sape, kecapi, suling, dan gamelan dengan alat musik modern seperti gitar elektrik, bass, biola, dan drum, Arca Tatasawara telah membuktikan bahwa masa lalu dan masa kini bisa berjalan beriringan dalam sebuah melodi yang indah. Sebuah arca pemusik di Candi Jago mungkin telah diam selama berabad-abad, namun melalui Arca Tatasawara, suaranya kembali bergema. (*)

International Ethnic Music Festival, Menyediakan Ruang Apresiasi Baru dan Dialog Antar Musisi

JAYAKARTA NEWS – Musik etnik adalah musik yang dimiliki, dikembangkan, dikenal secara baik dan lazim dipakai oleh etnis tertentu untuk kepentingan tertentu. Secara turun temurun dalam keberagaman, selain sebagai hiburan, musik etnik juga acap digunakan untuk kepentingan keagamaan, peribadatan, misalnya menyangkut kelahiran, pernikahan dan kematian.

“Musik etnik atau musik tradisi punya peluang yang luas untuk bisa dikembangkan dan dikolaborasikan dengan musik apun. Inilah kedahsyatan musik tradisi Indonesia,” ujar Ketua Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang seorang musikus, Adra Karim, kepada penulis di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki (TIM), baru-baru ini.

Karena itulah, Komite Musik DKJ tahun ini menghelat International Ethnic Music Festival III (IEMF, dulu bernama Etno Musik Festival) selama dua hari di TIM yang diikuti musisi tradisi dari Betawi, Aceh, Riau, Ternate, Tangerang dan Bali, serta dari Meksiko dan Ekuador. Dikatakannya, tujuan IEMF adalah menyediakan ruang apresiasi baru bagi para musisi etnik di daerah.

“Selain itu, melalui festival ini juga mendorong terjadinya dialog antar musisi tradisional di tengah zaman yang terus berubah sehingga memunculkan gagasan-gagasan yang inovatif dalam pelestarian dan pengembangan musik tradisi, terutama di kalangan kaum muda,” ucap Adra Karim yang lama studi musik jazz di Belanda.

“Agar musik etnik warisan leluhur ini enggak punah tergerus zaman. Kemunculan generasi baru yang hidup dalam peradaban digital memberikan peluang terciptanya pemetaan kembali musik tradisional melalui media-media baru,” imbuh Adra Karim yang anak aktris teater dan film, Niniek L Karim.

Senada dengan Cholil Mahmud yang dikenal sebagai vokalis dan gitaris Efek Rumah Kaca.yang jufa anggota Komite Musik DKJ. “Banyak banget bisa kita gali dari musik tradisi.  Para musisinya bisa memainkan dan hidup dari musik tradisi. Penontonnya juga merasa punya kebanggaan, senang dan kangen dengerin musik tradisi,” beber Cholil Mahmud.

Sebagaimana genre musik lain, klasik atau jazz misalnya, musik etnik juga memiliki estetika sendiri yang dihasilkan dari alat musik, permainan nada, ritme dan tempo. Musik tradisi enggak sekedar bebunyian, tapi memberikan keindahan bunyi kepada pendengarnya agar masuk ke kedalaman penjiwaan. “Jelas, musik etnik adalah musik yang enggak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, dan bentuk pengungkapan diri yang mewujud menjadi identitas,” urai Adra Karim lagi.

Musik tradisi bisa dikolaborasikan dan ber ‘jam session’ dengan musik modern, pop,  rock atau musik Melayu yang kaya dengan ritme yang meliuk. What next ? Tergantung dari para musisi tradisi dan pemerintah yang bisa memfasilitasi warisan budaya ini. Sudah saatnya memasyarakatkan musik tradisi dan memusik tradisikan masyarakat, sebagaimana bidang olahraga dan ekonomi. (pik)

Musik Api Memet Chairul Slamet

JAYAKARTA NEWS – Di tengah pandemi Covid-19, musisi Yogya, Memet Chairul Slamet tak pantang menyerah. Ia terus mengasah kegelisahan kreatifnya untuk tetap berkarya. Hari Jumat (18/12/2020) pukul 19.00 WIB Memet akan mempersembahkan “Musik Api”.

Gelar karya terbaru Doktor Memet ini akan dilangsungkan di Royal House Cultural Activities, Jl. Gito Gati, Gondanglegi, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. “Karya ini saya persembahkan kepada guru saya almarhum Suka Hardjana, bertepatan momentum 100 hari wafatnya beliau,” ujar Memet yang juga dosen musik di ISI Yogyakarta itu.

Pimpinan kelompok musik etnik-kontemporer Gang Sadewa ini sebelumnya dikenal sebagai pencipta komposisi “Musik Batu”. “Kali ini saya menggunakan api sebagai sumber bunyi. Hal itu dimaksudkan untuk menghasilkan pola ritme yang kaya dengan timbre yang tak terduga,” ujar musisi berambut gondrong itu.

Pertunjukan Jumat malam mendatang, dikonsep dengan memadukan kecanggihan live multi media lengkap dengan piranti audio visualnya. Karya “Musik Api” akan dibagi menjadi empat bagian terpisah, tetapi menyatu ke dalam satu tema besar.

Memet menggambarkan, bagian 1 adalah “Percikan”. Disusul bagian 2 “Pemanfaatan”, bagian 3 “Peleburan” dan bagian 4 “Penanda Pertanda”. “Prinsipnya, karya seni pada dasarnya adalah sebuah media istimewa. Dalam karya tadi, makna kultural dibentuk dan dokuminikasikan. Dan yang lebih penting, bisa membangun pengetahuan tentang nilai dan makna yang terkandung di dalamnya,” ujar Memet.

Bagi Memet, keindahan bentuk api yang selalu berubah dapat memicu persepsi secara auditif. Dengan demikian akan hadir kesadaran rancang bangun komposisi yang tida lazim. “Komposisi tidak lazim akan lahir karena materi menentukan cara garapnya. Konsep yang saya gunakan adalah berangkat dari rasional tapi dapat dikonstruksi dan direkonstruksi,” tambahnya.

Bunyi kongkrit benda atau media apa pun yang menghadirlan berbagai warna bunyi akibat hadirnya unsur api menjadi material dalam menyusun komposisi yang dibangun secara imaginasi auditif. Dengan demikian alur maknanya bisa muncul dari visual yan dihadirkan maupun rangkaian bunyi yang saling bersahutan secara acak untuk membentuk berbagai pola ritme,” tambahnya.

Secara konsep, karya musik apa ini bercirikan kebaruan cara pandang. Karya Memet memiliki keunikan tak terduga, baik dalam takaran teknis maupun non-teknis, serta melampaui konvensi dan tradisi. “Yang terjadi nanti, musik api akan membuka ruang eksplorasi bunyi tak lazim dengan mengembangkan kemungkinan olah komposisi hasil reaksi atas kobaran api tersebut,” ujar lelaki kelahiran Madura itu.

Seperti halnya ketika melahirkan “Musik Batu”, maka dalam musik api juga Memet menemukan hal baru. Api menjadi elemen dan media untuk mengungkap ekspresi musikal ke dalam bentuk karya musik.

Pendek kalimat, Musik Api yang bakal disajikan Doktor Memet ini adalah musik eksperimental yang berdasar pada bentuk asli sumber bunyi (api), yang disusun secara art performing live dipadukan audio visual dan pre-recording.

“Semoga menjadi lebih menarik dengan hadirnya ragam ekspresi gerak pantomim sebagai dampak estetik kompositorik terhadap repertoar Musik Api. Untuk yang satu ini, kami gunakan teknik pertunjukan sinematografi. Pada bagian ini saya bekerjasama dengan GRK Asdrafi. Teman-teman Asdrafi yang mengeksplorasi efek bunyi api secara gerak indah dan pantomim lewat pengolahan digitalisasi audio visual,” papar Memet. (roso daras)

Oh Memet… Musikmu Mengagumkan!

Dalam setiap repertoar, Memet Chairul Slamet memadukan unsur musik tradisi. Foto: Ist

SUATU malam di angkringan, seorang teman pemusik berkata, “Musisi yang bisa mempertahankan idealismenya, sangat langka.” Kemarin dulu, Jayakartanews menemukan musisi langka yang dimaksud di Yogyakarta. Dia adalah Memet Chairul Slamet.

Menggawangi grup orchestra Gangsadewa Ethnic Ensemble, Memet, begitu ia akrab disapa, tetap kental dengan idealisme bermusik. Bukan saja konsisten dalam visi bermusik, ia juga konsisten dalam berkarya. Sejauh ini, Memet tidak terseret arus para musisi, komponis, arranger, menggapai apa yang mereka sebut sebagai “keberhasilan” dengan pergi ke Ibukota, dan mendegradasi kualitas bermusiknya, demi apa yang dinamakan “tuntutan pasar”.

Memet Chairul Slamet

Bagi Memet, musik adalah roh serta jiwa dalam kehidupannya. Setiap nafas adalah irama notasi. Itu yang dirasakan dosen pengajar musik di ISI Yogyakarta. Rutinitas berbagi ilmu dengan para mahasiswa, dilanjutkan dengan masuk studio bersama anggota Gangsadewa.

“Hidup saya di atas dua kaki, baik harfiah ataupun falsafah. Satu sisi sebagai pengajar atau akademisi, satu kaki lagi sebagai kreator. Saya mencoba menjalani sebaik-baiknya, tanpa beban,” ujar Memet. Di bidang akademik, Memet terus mengasah kemampuannya. Belum lama ini, ia melakukan konser ujian guna meraih gelar doktor.

Diakui, sesekali ia menerima tawaran pembuatan ilustrasi musik untuk sinetron maupun film layar lebar. Semua dengan catatan, sesuai dengan idealismenya. Bahkan, Memet juga pernah membuat ilustrasi musik untuk show spesial Deddy Corbuzier dan Romy Rafael. Hingga kini, ciri musik garapannya menjadi warna tersendiri di dunia persulapan Tanah Air.

Di luar itu, Memet Chairul Slamet konsisten berkarya bersama Gangsadewa yang dikomandaninya. Sepanjang perjalanan bermusik, namanya makin dikenal, tidak saja di kalangan dunia musik Indonesia, tetapi bahkan ke manca negara.

Memet Chairul Slamet, ketika tampil di Jepang. Foto: Ist

Konser musik Gangsadewa Ethnic Ensemble

“Musik batu”, elemen batu, zaman batu…

Bersama Gangsadewa, ia pernah menggelar konser di Senju, Tokyo serta sejumlah kota di Australia (Melbourne, Sydney, Perth, Canberra). Dalam banyak konser, ia senantiasa menyertakan elemen batu sebagai unsur bunyi. Saat ditanya “mengapa”, simple ia menjawab, “Yah… aku memang ingin mengenal lebih dalam tentang alam ini memalui karya-karyaku. Seperti juga manusia, yang mengawali peradabannya dalam era zaman batu menjadi dunia yang sekarang. Banyak hal bisa diserap selain filosofi juga keberadaan spiritual ala mini. Bayangkan dan pikiren dhewe….”

Hal lain yang membuat musisi kelahiran Bangkalan, Madura ini berbeda dari kebanyakan musisi lain adalah, “bermusik layaknya beribadah”. “Seperti ada perasaan, kalau saya tidak melakukan sesuatu (kebaikan) pada musik, maka saya merasa berdosa dan bisa masuk neraka… ha… ha… ha….,” ujarnya disusul tawa renyahnya.

Pemusik yang pernah mengenyam pendidikan di Asdrafi (Akademi Seni Drama dan Film) Yogyakarta itu, bisa dibilang pakar alat musik tiup. Major itu pula yang ia ambil ketika kemudian meninggalkan Asdrafi dan pindah ke AMI (Akademi Musik Indonesia) Yogyakarta.

Menikmati sekaligus mencermati perjalanan bermusik Memet, tak pelak kita akan disuguhi sebuah perjalanan bermusik yang konsisten pada idealisme dan konsep. Rasa cintanya kepada Tanah Air, bisa ditangkap dari kegemaran Memet melahirkan komposisi-komposisi musik etnik. Ia akrab dengan kerja penggarapan komposisi musik gabungan elemen pentatonik dan diatonik. “Aroma Nusantara” sangat kental tercium pada kebanyakan komposisi karya Memet Chairul Slamet.

Ia tidak peduli, jika karyanya belum atau bahkan tidak dilirik dunia entertainment. Ia juga tidak mempermasalahkan, jika musik Gangsadewa belum atau bahkan tidak diminati programer-programer musik televisi. “Saya tidak berburuk sangka. Itu karena mereka belum merasakan (musik saya). Kalau sudah (merasakan), pasti ketagihan,” katanya, lagi-lagi disusul tawa lepas tanpa beban.

Oh Memet… musikmu mengagumkan! ***