Maladewa Surga bagi Turis, dan Kegalauan atas Ancaman Radikalisme

Sebuah Masjid di Maladewa

MALE CITY merupakan Ibukota  Maladewa (Maldives) berada. Ibukota ini berada di Pulau Male, salah satu dari 200 pulau yang dihuni dari ribuan pulau atol di negeri kepulauan yang berada di Lautan Hindia tersebut. 

Male adalah pulau surga, sehingga menjadi destinasi kunjungan wisatawan asing. Pemandangannya memang eksotik, belum lagi dengan lautnya yang bersih nian. Di balik itu semua, ada hal kejadian mengagetkan, dengan terjadinya kasus pembunuhan pada April lalu. Setelah kasus pembunuhan seorang blogger liberal itu,  banyak orang mengkhawatirkan  bahwa Maladewa, sebuah negara kepulauan dengan penduduk Muslim, tidak siap untuk melawan ekstremisme. Bloger yang malang tersebut, tewas setelah  ditikam sampai mati oleh sejumlah  penyerang.

Pembunuhan terhadap  Yameen Rasheed, 29, memunculkan kekhawatiran akan kesiapan masyarakat Maladewa untuk melawan aksi radikalisme dan terorisme. Kasus tersebut membuat   kekhawatiran akan keselamatan para turis,  terutama  bagi turis asing. Pada pihak lain, turis ini pulalah yang menjadi tempat bergantung  perekonomian negeri kepulauan itu. Kasus pem bunuhan bloger tersebut bukanlah sebuah ancaman  kosong.

Pada musim panas lalu, pemerintah Maladewa memperkenalkan kebijakan negara pertama mengenai terorisme. Pemerintah  menyerukan peningkatan kesadaran keselamatan di tempat-tempat wisata, serta meningkatkan keamanan  di pelabuhan laut dan di bandar udara (bandara).

Pada  Januari 2017, Kementerian Agama Republik Maladewa mengeluarkan rekomendasi kebijakan yang mencakup ketentuan yang menginstruksikan perusahaan pariwisata agar  memberikan kepada  pengunjung peraturan tertulis tentang bagaimana mereka merperilaku di negara Muslim.

Namun langkah itu dikritik kalangan  kritikus, dengan mengatakan  bahwa prakarsa tersebut  bersifat kosmetik, cuma sedikit saja melakukan  standarisasi kebijakan keselamatan. Langkah itu juga baru dilakukan  setelah pemangku kepentingan internasional, mendesak pihak berwenang Maladewa untuk mengakui ancaman ekstremisme terhadap pengunjung.

Dalam pariwisata, pendekatan yang dilakukan oleh  Maladewa memang tidak lazim. Maladewa menyediakan  satu resor tunggal di satu pulau. Situasi itu membuat  seluruh pulau tanpa tim pengaman yang kuat.  Maladewa terdiri dari  sekitar 1.200 pulau di Samudera Hindia, mampu menampung  1,2 juta pengunjung pada tahun 2016 lalu, 30.000 di antaranya datang dari Amerika Serikat.

Negara kepulauan ini selama tiga dekade  di bawah pemerintahan otokratis mantan presiden, Maumoon Abdul Gayoom. Namun  setelah terjadi transisi menuju demokrasi pada  tahun 2008, tersedia  ruang lebih terbuka  untuk mengekspresikan religi yang lebih besar. Ideologi konservatif seperti Salafisme pun terpotong.

“Anda tidak bisa mengatakan bahwa semua Salafisme adalah Islam radikal,” kata Azra Naseem, seorang peneliti Maldivian tentang ekstremisme di Dublin City University. “Tapi salafi  adalah bentuk Islam yang benar-benar dibawa ke Maladewa dari Arab Saudi dan tempat-tempat lain. Sekarang, ini dilembagakan, karena semua orang di universitas, di Kementerian Islam, mereka semua menyebarkan bentuk Islam ini. Dalam hal itu, tentu saja, akan ada jihadis. ”

 

Seorang petugas keamanan di sebuah resort di Pulau Kandooma, Maladewa. (Photo: Adam Dean/dari The New York Times)

 

Selama bertahun-tahun, upaya untuk melaporkan adanya sel-sel radikal, telah ditentang  keras. Pada tahun 2014, seorang jurnalis Maldivian terkemuka yang menulis tentang sekularisme dan ekstremisme, Ahmed Rilwan Abdulla, diculik. Apa yang dilakukan bloger Yameen Rasheed  adalah bagian dari kampanye yang didedikasikan untuk menemukan  Mr. Abdulla, seorang teman dekat dan masih hilang.

Polisi mengungkapkan, pihaknya  telah menangkap tujuh tersangka pada bulan Mei dalam kasus pembunuhan Mr. Rasheed, termasuk dua orang yang ditangkap dalam rekaman CCTV di TKP. Tapi mereka yang dekat dengan Mr. Rasheed telah mengungkapkan sedikit harapan, bahwa kasus ini akan dipecahkan tanpa tekanan dari pihak luar Maladewa.

Bulan lalu, pengacara yang mewakili keluarga Mr. Rasheed mengeluhkan  ke Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang meminta dilakukannya penyelidikan independen dan internasional.

Serangan besar terakhir di mana orang asing terluka di sini terjadi hampir satu dekade yang lalu, ketika sekelompok militan meledakkan bom rakitan di taman umum di ibu kota, Malé, melukai belasan turis. Namun  terkadang, keamanan turis di Maladewa  dilanggar dengan cara lain.

Tahun lalu, dua resor dirampok oleh sekelompok penyusup bertopeng, dan petugas keamanan diikat. Perampokan di resort jarang terjadi. Namun Ismail Ali, juru bicara polisi, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan The Maldives Independent bahwa ketika hal itu terjadi, mereka  berada di dalam pekerjaan. Hal ini tidak lepas dari relatif sederhananya untuk mendapatkan akses ke sebagian besar pulau di Maladewa.

“Sebagian besar resor memiliki satu jalur akses resmi. Ada pos keamanan yang dipantau untuk memantau siapa yang datang dan keluar dari pulau itu, ” katanya. “Tapi seperti pulau lain, cukup mudah masuk dari sisi lain juga.”

Industri pariwisata sebagian besar tetap diproteksi dari target terorisme. Namun demikian,  banyak resor di Maladewa tidak dilengkapi untuk menangkal  serangan yang setara dengan yang terjadi di tempat-tempat seperti Tunisia dan Bali, Indonesia.

Seorang kepala keamanan dari sebuah resor di atol utara Maladewa mengatakan, resor di negara tersebut tidak dipersiapkan. Menurutnya, peraturan dan kebijakan dari pemerintah diperlukan untuk menangani masalah ini. Kepala keamanan tersebut minta namanya dirahasiakan,  karena takut ditangkap pihak keamanan pemerintah,  dimana ada  sejarah pemenjaraan terhadap warga  yang membahas isu-isu sensitif seperti ini.

Abeer Ismail, petugas informasi di Kementerian Pariwisata, mengatakan bahwa sejauh yang dia tahu, tidak ada masalah keamanan yang dikeluhkan  secara resmi oleh resor manapun. Pengetatan  langkah-langkah keamanan konon justru  dirasa menganggu kalangan pelanggan kelas atas.

Direktur Jenderal National Counter Terrorism Center (NCTC), Brigadir  Jenderal Zakariyya Mansoor, mengatakan sepakat bahwa penting  untuk mengidentifikasi solusi non-invasif dan memelihara lingkungan yang tenang sebagaimana diharapkan oleh wisatawan. NCTC merupakan sebuah lembaga  pemerintah yang baru dibentuk,  yang diadakan sebagai  upaya untuk meningkatkan kesiagaan keamanan.

Jenderal  Mansoor  mengatakan, Maladewa  siap menghadapi ancaman teroris, seraya menunjuk   kebijakan nasional mengenai terorisme dan serangkaian  simulasi reguler  yang menargetkan  fasilitas wisata.

 

“Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi setiap resor dalam hal keselamatan dan keamanan,” kata Jenderal Mansoor. Dan sejauh ini, “Pemilik resor dan operator resor sangat kooperatif dengan kita.”

Ibrahim Hussain Shihab, juru bicara presiden Maladewa, Abdulla Yameen, menulis dalam sebuah email bahwa pemerintah menanggung kerugian akibat masalah  keamanan yang dialami turis, termasuk pencurian. Menurutnya,  pasukan keamanan “telah dilatih lebih dari cukup.” Dengan demikian,   tidak ada kebutuhan mendesak penempatan untuk pasukan keamanan di resor untuk membawa senjata api.

Pijhak  keamanan dan pejabat pemerintah Maladewa mengatakan, sampai saat ini tidak ada bukti adanya rencana serangan di negara tersebut. Tapi Mohamed, mantan perwira polisi yang bekerja untuk  kontra terorisme di  Kepolisian Maladewa —yang minta namanya  hanya disebut dengan satu nama saja,  khawatir akan adanya tindakan hukum  dari pemerintah— mendesak pentingnya  kehati-hatian.

Dia memberi contoh, kasus  kegaduhan lokal mengenai diberhentikannya  seorang guru Maladewa karena mengenakan niqab di kelas.  Mantan perwira polisi tersebut mengatakan, perkembangan seperti ini dapat digunakan sebagai umpan, bukan hanya untuk radikalisasi tetapi juga untuk mengkonsolidasikan dukungan untuk serangan terhadap Maladewa.

Dia mengkhawatirkan apa yang akan terjadi, jika  jihad kembali ke negara tersebut manakala  tindakan pengamanan yang lebih besar tidak dilakukan di industri pariwisata. Para jihadis membenci pariwisata dan tidak peduli apakah itu ada atau tidak.[nyt]

Tujuh Negara Teluk Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Qatar

TUJUH negara di kawasan Teluk memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Qatar, karena menganggap negara “kecil” tersebut telah mensponsori gerakan terorisme, sehingga sangat menganggu kawasan Teluk.

Langkah mula-mula pemutusan hubungan itu dilakukan oleh Bahrain, yang disusul Arab Saudi, Mesir, Libia, dan Uni Emirat Arab. Dua negara lain, Yaman dan Maladewa, juga melakukan langkah sama. Para pemimpin negara Teluk tersebut menuding Qatar telag mendukung kelompok-kelompok militan seperti kelompok yang menamakan diri sebagai Negara Islam (ISIS) dan Al Qaida. Tentu saja, tuduhan seperti disangkal oleh Qatar.

Menurut kantor berita Arab Saudi, SPA, Riyadh telah memutuskan untuk menutup perbatasannya dengan Qatar. Selain itu, Saudi juga memutus seluruh kontak darat, laut dan udara dengan Qatar. Atas keputusan itu, Qatar menilai, bahwa keputusan tersebut tidaklah benar dan tidak didasarkan pada fakta-fakta.

 

Keputusan enam negara teluk ini sama sekali belum pernah terjadi sebelumnya, dan hal ini menandakan adanya perpecahan yang sangat serius di antara negara-negara kuat di Teluk. Baik Qatar maupun keenam negara Teluk tersebut, adalah sama-sama sekutu dekat Amerika Serikat.

Dalam perkembangan belakangan ini, telah terjadi ketegangan antara negara-negara Teluk dan Iran. Saudi misalnya, menuduh Qatar ada di belakang para milisi yang didukung Iran.

 

 

Mengejutkan
Langkah pemutusan hubungan diplomatik mula-mula dilakukan Bahrain yang kemudian diikuti oleh Arab Saudi pada Senin pagi waktu setempat. Lalu, sekutu mereka pun menyusul keputusan tersebut. Menurut pejabat Saudi, sebagaimana dikutip SPA, keputusan itu dalam rangka melindungi keamanan nasional dari bahaya terorisme dan ekstremisme.
Terkait dengan keputusan ini, Bahrain, UEA, Saudi, memberi kesempatan warga negara Qatar selama dua pekan untuk meninggalkan wilayah mereka. Uni Emirat Arab memberi waktu 48 jam kepada para diplomat Qatar, untuk meninggalkan negara itu. Pihak Abu Dhabi melalui siaran pers kantor berita negara tersebut WMA, menuding Qatar telah mendukung, mendanai, dan merangkul terorisme, ekstremisme dan organisasi sektarian.

Langkah drastis juga dilakukan oleh maskapai penerbangan UEA Etihad Airways, Emirates dan Flydubai. Mereka akan menghentikan semua penerbangan ke dan dari ibu kota Qatar, Doha mulai Selasa (06/06/2017) waktu setempat. Tiga negara Teluk itu menutup wilayah udara mereka dari Qatar Airways

Bahrain menyatakan, mereka mengambil keputusan ini karena Qatar mengganggu keamanan dan stabilitas negeri itu, serta ikut campur dalam urusan dalam negeri Bahrai.

Sementara itu koalisi militer negara-negara Arab pimpinan Saudi, yang kini tengah memerangi pemberontak Yaman di Houthi, juga memerintahkan Qatar keluar dari aliansi itu, lantaran Qatar punya kontribusi dalam memperkuat terorisme dan mendukung kelompok ekstremis seperti al-Qaida dan ISIS serta punya relasi dengan para milisi pemberontak.

Memang, pemutusan hubungan dengan Qatar ini terjadi tiba-tiba, sekalipun demikian tidak terjadi serta merta. Masalahnya, memang telahg terjadi ketegangan yang berkembang selama bertahun-tahun, khususnya dalam beberapa pekan terakhir ini. Pada dua pekan lalu, enam negara Teluk telah memblokir situs berita Qatar, termasuk Al Jazeera.

Langkah itu dipicu adanya pemuatan berita oleh media pemerintah Qatar, yang merilis pernyataan kontroversial dari Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani, yang mengkritik Saudi. Namun pihak Doha menyatakan, bahwa pernyataan palsu, seraya menuduh bahwa itu sebagai kejahatan siber yang tercela.

Pada tahun 2014, Arab Saudi, Bahrain dan UEA pernah menarik duta besar mereka dari Qatar selema beberapa bulan. Langkah itu sebagai protes atas tudingan campur tangan dalam urusan dalam negeri mereka. Qatar menanggapi itu dengan menyatakan, bahwa kantor berita mereka telah diretas.

Sekalipun Qatar bergabung dengan koalisi pimpinan AS dalam melawan ISIS, namun para pemimpin Irak menuding, mereka mendukung keuangan ISIS. Di pihak lain, orang-orang kaya di Qatar, juga diyakini memberikan kontribusi dana yang besar kepada ISIS, sedangkan pemerintah Qatar mensuplai dana dan senjata untuk kelompok Islam garis keras di Suriah. Selain itu, Qatar juga dituding punya relasi dengan kelompok yang berafiliasi dengan al-Qaida, Front al Nusra.

Dalam pada itu Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson dalam pernyataannya di Sydney, mendesak negara-negara di kawasan itu untuk menyelesaikan perbedaan mereka melalui dialog. “Saya berharap bahwa hal ini tidak akan memiliki dampak besar, kalau saja ada dampaknya, pada perjuangan bersama melawan terorisme di wilayah ini atau di seluruh dunia,” tambahnya.

Penutupan akses darat Saudi – Qatar akan mempengaruhi pasukan pangan ke Qatar. Sekitar 40% pangan Qatar dipasok melalui jalur ini. ***