LIPI: Arus Laut Indonesia Ikut Tentukan Kondisi Iklim Global

JAYAKARTA NEWS— Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko mengatakan interaksi Arus Lintas Indonesia (Arlindo) di perairan Nusantara dengan sistem atmosfera pada dasarnya ikut menentukan kondisi iklim global.

“Arlindo cukup berpengaruh sebab merupakan aliran massa air yang bergerak dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia di garis lintang rendah,” ujar Tri Handoko di Jakarta, baru baru ini.

Untuk mempelajari interaksi samudera dan atmosfer tersebut, tambah dia tentunya penting untuk melibatkan alat ataupun sarana yang memadai dan memang mampu mendukung riset tersebut.

Dalam hal ini LIPI terus memaksimalkan seluruh infrastruktur serta sumber daya manusia di instansi tersebut agar dapat dimanfaatkan oleh segala keperluan riset termasuk mempelajari Arlindo lebih dalam.

“Untuk meneliti interaksi samudera dan atmosfer kita melibatkan Kapal Riset Baruna Jaya VIII sebab memang sarananya mendukung,” sebutnya.

Apalagi, Kapal Riset Baruna Jaya VIII tersebut telah menjadi kapal penjelajah samudera dengan instrumentasi canggih. Bahkan selalu sedia setiap saat untuk menjelajah samudera terdalam di Indonesia dan sekitarnya.

Ia menegaskan terkait armada riset yang dimiliki LIPI tersebut, pihaknya selalu membuka ruang untuk seluruh peneliti di Indonesia dan luar negeri untuk menggunakannya termasuk kapal riset tersebut.

Menurutnya, hal itu disebabkan setiap kegiatan riset yang bertujuan atau berguna untuk menjawab berbagai topik fundamental dan bersifat keilmuan besar atau berpengaruh tentunya membutuhkan sarana yang cukup pula. “Yang terpenting hasil risetnya dapat berguna bagi masyarakat luas,” ujar Tri Handoko.

Sebelumnya, LIPI melalui Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI melakukan eksplorasi Arlindo bersama The First Institute of Oceanography Tiongkok dan Departement of Atmospheric and Oceanic Science University of Maryland-Amerika Serikat sejak 18 November 2018.***/lipi/jpp/ebn

Kepala LIPI Dinilai Bodoh dan “Koppeg”

Aksi demo karyawan dan peneliti LIPI. Mereka menuntut keadilan. Mereka juga mendesak Kepala LIPI, Dr Laksana Tri Handoko turun dari jabatannya. (foto: roso daras)

JAYAKARTA NEWS – Seperti harimau turun gunung, Prof Hermawan “Kikiek” Sulistyo memimpin demo para peneliti dan karyawan administrasi LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Usai Jumatan kemarin (15/2/19), ruang terbuka di antara dua bangunan kantor LIPI di Jl Gatot Subroto dimeriahkan aksi demo yang dipimpin Kikiek.

Laksana erupsi gunung berapi, aksi kemarin adalah sebuah letusan kegelisahan, ketidakpuasan, kekecewaan, dan kemarahan sekaligus, kepada Kepala LIPI, Dr Laksana Tri Handoko. Kepala LIPI yang dilantik Mei 2018 itu, disebut-sebut sebagai Ketua LIPI terburuk yang pernah memimpin LIPI. Bahkan terburuk sejak lembaga ini dibentuk awal sekali sebagai Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI) melalui Undang-Undang (UU) No.6 Tahun 1956.

Dengan dalih efisiensi, ia meluncurkan konsep reorganisasi dan redistribusi yang kemudian banyak memakan korban, terutama para pegawai non peneliti atau administrasi. Dengan anggaran yang hanya sekitar Rp 1 triliun, ia dinilai gagal. Alih-alih berpikir cerdas bagaimana menutup anggaran yang dirasa kecil, yang ia lakukan justru menyewakan aset-aset LIPI kepada pihak luar.

Sejumlah UPT di luar Jakarta, sudah disewa-sewakan. Bahkan, function hall LIPI di lantai dua pun dikerjasama-kelola dengan pihak lain. “Bahkan kami sendiri dibatasi untuk bisa menggunakan aula yang nota bene milik kami. Sudah dibatasi, disuruh bayar mahal pula. Bagaimana kami tidak berontak!” ujar Hermawan Sulistyo, yang dikenal “mbahnya” aktivis itu.

Alhasil, aksi demo yang diikuti para karyawan dan peneliti LIPI, bahkan sejumlah peneliti senior, profesor pun turut serta, lebih meriah dengan tampilnya sejumlah profesor dan peneliti muda, serta karyawan administrasi berorasi. Salah satu orator meneriakkan, “Peneliti boleh salah, tetapi peneliti tidak boleh bohong!”

Kalimat itu ditujukan kepada Kepala LIPI LTH yang sudah banyak mengubarh kebohongan. Disambar oleh Prof Kikiek dengan kalimat keras, “Dia belum bisa kencing lurus, kami sudah membangun LIPI. Masih bagus kalau bodoh tapi mau mendengar. Yang ini, sudah bodoh, koppeg pula!” ujarnya keras.

Kikiek juga meradang mendengar Laksana Tri Handoko (LTH) menebar-nebar ancaman bahkan melakukan hukuman-hukuman kepada karyawan administrasi. “Bagi yang diancam, kasih tahu saya, mana ancamanannya, kapan kejadiannya…. biar saya urus dia!” ujar karateka Dan IV itu.

Pendek kata, aksi pegawai administrasi dan peneliti LIPI kemarin akan terus berlangsung hingga LTH lengser dari jabatannya. Mereka bahkan sudah mengadu ke DPR. Perwakilan mereka juga sudah beraudiensi dengan Menristek Dikti dan Men-PAN-RB. Kedua institusi kementerian itu menjanjikan akan menegur Kepala LIPI LTH.

“Ini tidak cukup ditegur. Kalau LIPI mau maju ya harus diganti. Itu saja. Makanya saya akan kawal perjuangan ini sampai dia turun. Kita buktikan, saya atau dia yang keluar dari LIPI,” ujar Hermawan Sulistyo disambut sorak-sorai peserta demo. (monang/rr)

Prof Hermawan “Kikiek” Sulistyo memimpin aksi demo karyawan dan peneliti LIPI, Jumat (15/2/2019). (foto: roso daras)