Di Bawah Laksana Tri Handoko, Kantor LIPI Seperti “Neraka”

Prof Dr Laksana Tri Handoko, Kepala LIPI yang didemo dan dituntut mundur dari jabatannya. (foto: ist)

JAYAKARTA NEWS – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang selama ini sejuk, mendadak bergejolak. Kantor itu ibarat neraka, khususnya bagi bagi para pegawai administrasi. Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko menganggap pegawai non peneliti sebagai beban dan penghambat kemajuan LIPI. Bahkan sikap LTH tampak begitu membenci pegawai administrasi.

Setidaknya, begitu yang tertuang dalam edaran yang diterima Jayakarta News, saat mereka menggelar aksi demonstrasi Jumat (15/2) lalu. Dalam aksi yang dipimpin Prof (Ris) Hermawan “Kikiek” Sulistyo itu, mereka menuntut LTH, sebutan untuk Kepala LIPI Laksana Tri Handoko, turun dari jabatannya. Bahkan dengan nada tinggi, Kikiek mengatakan, “Kita lihat, dia atau saya yang keluar dari LIPI. Kalian jangan takut. Kalau ada yang diancam, kasih tahu saya, biar saya urus dia!” ujar Kikiek geram.

Sementara dalam edaran berjudul “Surat untuk para Profesor Riset LIPI”, para pegawai administrasi merasa statusnya hanya numpang. Disebutkan, sejak Kepala LIPI dipegang LTH, kekacauan organisasi terus terjadi dengan mengusung kkonsep reorganisasi dan redistribusi. Konsep itu banyak memakan korban terutama bagi para pegawai non peneliti atau administrasi.

Para pegawai non peneliti betul-betul dianggap sebagai penghambat kemajuan LIPI oleh LTH. Hal itu terbukti dengan kebijakannya menempatkan dan memberi porsi jabatan kecil dan sempit bagi para pegawai administrasi. Langkah-langkah LTH yang menunjukkan betapa dia membentu pegawai administrasi ditunjukkan dalam selebaran itu, melalui serangkaian contoh.

Pertama, ihwal kebohongan membuka karier yang luas melalui jabatan fungsional non peneliti. Ternyata ini tidak benar. Para pegawai admin paling banter hanya bisa berkarier sampai fungsional muda dan sangat jarang yang bisa ke level madya, apalagi ke utama.

Kedua, penurunan grade atau peringkat tunjangan kinerja. Banyak pengelola administrasi yang grade-nya diturunkan LTH. Grade tunjangan kinerja (tukin) hanya diberikan ala kadarnya. LTH tidak memiliki keinginan meningkatkan kesejahteraan para pegawai admin. Banyak pegawai admin yang awalnya punya grade 7 diturunkan menjadi 5, bahkan masih banyak yang grad tukin-nya tidak jelas.

Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko lupa, bahwa raihan prestasi LIPI selama ini antara lain berkat kinerja admin. Misalnya, LIPI memperoleh opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) dari BPK, didominasi pekerjaan administrasi. LIPI dapat Reformasi Birokrasi yang baik, juga didominasi pekerjaan admin. LIPI menjadi salah satu pengelola SDM terbaik, juga didominasi pekerjaan admin.

Bukan hanya itu, berbagai penghargaan yang diraih LIPI seperti pelayanan publik, humas, dll, juga berkat pekerjaan admin. Bahkan, jika akhirnya LIPI banyak memiliki profesor riset, juga karena dukungan para pegawai admin. Dalam pernyataan itu juga tertulis, “Dengan berbagai peran yang berkontribusi besar dan baik terhadap LIPI dari para pegawai administrasi, tidak selayaknya LTH melecehkan dan menistakan para pegawai administrasi.”

Pegawai administrasi LIPI di bawah kepemimpinan LTH betul-betil menjadi budak belian, ditempatkan seenaknya dengan fasilitas ala kadarnya. LTH betul-betul menjadi pemimpin yang zhalim dan sangat tidak manusiawi. “Kami berterima kasih kepada para profesor riset yang sudah berusaha secara luar biasa untuk menghentikan kebrutalan dan kebiadaban LTH. Semoga usaha bapak/ibu membuahkan hasil baik,” bunyi penutup pernyataan itu. (rr)

Kepala LIPI Dinilai Bodoh dan “Koppeg”

Aksi demo karyawan dan peneliti LIPI. Mereka menuntut keadilan. Mereka juga mendesak Kepala LIPI, Dr Laksana Tri Handoko turun dari jabatannya. (foto: roso daras)

JAYAKARTA NEWS – Seperti harimau turun gunung, Prof Hermawan “Kikiek” Sulistyo memimpin demo para peneliti dan karyawan administrasi LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Usai Jumatan kemarin (15/2/19), ruang terbuka di antara dua bangunan kantor LIPI di Jl Gatot Subroto dimeriahkan aksi demo yang dipimpin Kikiek.

Laksana erupsi gunung berapi, aksi kemarin adalah sebuah letusan kegelisahan, ketidakpuasan, kekecewaan, dan kemarahan sekaligus, kepada Kepala LIPI, Dr Laksana Tri Handoko. Kepala LIPI yang dilantik Mei 2018 itu, disebut-sebut sebagai Ketua LIPI terburuk yang pernah memimpin LIPI. Bahkan terburuk sejak lembaga ini dibentuk awal sekali sebagai Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI) melalui Undang-Undang (UU) No.6 Tahun 1956.

Dengan dalih efisiensi, ia meluncurkan konsep reorganisasi dan redistribusi yang kemudian banyak memakan korban, terutama para pegawai non peneliti atau administrasi. Dengan anggaran yang hanya sekitar Rp 1 triliun, ia dinilai gagal. Alih-alih berpikir cerdas bagaimana menutup anggaran yang dirasa kecil, yang ia lakukan justru menyewakan aset-aset LIPI kepada pihak luar.

Sejumlah UPT di luar Jakarta, sudah disewa-sewakan. Bahkan, function hall LIPI di lantai dua pun dikerjasama-kelola dengan pihak lain. “Bahkan kami sendiri dibatasi untuk bisa menggunakan aula yang nota bene milik kami. Sudah dibatasi, disuruh bayar mahal pula. Bagaimana kami tidak berontak!” ujar Hermawan Sulistyo, yang dikenal “mbahnya” aktivis itu.

Alhasil, aksi demo yang diikuti para karyawan dan peneliti LIPI, bahkan sejumlah peneliti senior, profesor pun turut serta, lebih meriah dengan tampilnya sejumlah profesor dan peneliti muda, serta karyawan administrasi berorasi. Salah satu orator meneriakkan, “Peneliti boleh salah, tetapi peneliti tidak boleh bohong!”

Kalimat itu ditujukan kepada Kepala LIPI LTH yang sudah banyak mengubarh kebohongan. Disambar oleh Prof Kikiek dengan kalimat keras, “Dia belum bisa kencing lurus, kami sudah membangun LIPI. Masih bagus kalau bodoh tapi mau mendengar. Yang ini, sudah bodoh, koppeg pula!” ujarnya keras.

Kikiek juga meradang mendengar Laksana Tri Handoko (LTH) menebar-nebar ancaman bahkan melakukan hukuman-hukuman kepada karyawan administrasi. “Bagi yang diancam, kasih tahu saya, mana ancamanannya, kapan kejadiannya…. biar saya urus dia!” ujar karateka Dan IV itu.

Pendek kata, aksi pegawai administrasi dan peneliti LIPI kemarin akan terus berlangsung hingga LTH lengser dari jabatannya. Mereka bahkan sudah mengadu ke DPR. Perwakilan mereka juga sudah beraudiensi dengan Menristek Dikti dan Men-PAN-RB. Kedua institusi kementerian itu menjanjikan akan menegur Kepala LIPI LTH.

“Ini tidak cukup ditegur. Kalau LIPI mau maju ya harus diganti. Itu saja. Makanya saya akan kawal perjuangan ini sampai dia turun. Kita buktikan, saya atau dia yang keluar dari LIPI,” ujar Hermawan Sulistyo disambut sorak-sorai peserta demo. (monang/rr)

Prof Hermawan “Kikiek” Sulistyo memimpin aksi demo karyawan dan peneliti LIPI, Jumat (15/2/2019). (foto: roso daras)