PPAD Gorontalo Siap Berkiprah

Brigjen TNI Purn Sofyan Yahya Botutihe, Ketua PPAD Gorontalo

JAYAKARTA NEWS – Brigjen TNI Purn Sofyan Yahya Botutihe, MBA resmi dikukuhkan menjadi Ketua PPAD Provinsi Gorontalo masa bhakti 2022 – 2027. Pengukuhan pengurus PPAD Gorontalo dilakukan oleh Ketua Umum PP PPAD, Letjen TNI Purn Doni Monardo di Aula Pemkot Gorontalo, Jumat (17/6/2022).

PPAD adalah organisasi yang pembinaannya di bawah Kepala Staf TNI-AD (Kasad), yang di dalamnya berhimpun para purnawirawan TNI-AD dari semua golongan, mulai golongan Perwira Tinggi (Pati), Perwira Menengah (Pamen) dan Perwira Pertama (Pama) sampai dengan Bintara dan Tamtama yang tersebar di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Seperti kita ketahui bersama, sesuai AD/ART PPAD, disampaikan bahwa untuk menjadi anggota PPAD tidaklah sulit dan tidak perlu mendaftarkan diri. Setiap Prajurit TNI-AD yang pensiun purna tugas atau yang diberhentikan dengan hormat secara otomatis akan menjadi anggota PPAD dan kepadanya nantinya akan diberikan KTA (Kartu Tanda Anggota) PPAD, sesuai mekanisme pengaturan pemberian KTA PPAD.

Ketua Umum PPAD, Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo.

Ketua Umum Doni Monardo berharap, PPAD Gorontalo segaris dan sejalan dengan politik kesejahteraan yang digulirkan pengurus pusat. Politik PPAD adalah politik negara dan politik kesejahteraan. PPAD akan fokus membantu meningkatkan kesejahteraan anggota dan juga kesejahteraan bangsa melalui berbagai kegiatan entrepreneurship.

Demikian juga dengan Provinsi Gorontalo. Wilayah yang berjuluk Provinsi Karawo itu adalah salah satu provinsi di utara Sulawesi yang memiliki Sumber Daya Alam dan potensi yang cukup melimpah, lokasinya sangat strategis, dan memberikan keuntungan tersendiri bagi pemerintah dan masyarakat Gorontalo. Potensi itu bisa dioptimalkan menjadi nilai ekonomi yang sangat baik.

Beberapa potensi Sumber Daya Alam yang dimiliki Provinsi “Serambi Madinah” dan dapat ditingkatkan pengelolaannya di antaranya sektor hasil hutan berupa kayu jati, rotan dan damar. Potensi sektor perkebunan berupa kelapa, kakao, kopi, cengkeh, pala, jambu, kacang mete, jagung dan ubi kayu. Sedangkan, potensi pada sektor perikanan dan kelautan, budidaya laut, budidaya air payau, dan budidaya air tawar.

Selanjutnya potensi pada sektor barang tambang berupa emas, perak, tembaga, batu gamping, toseki, batu granit, sirtu, zeolit, kaolin, pasir kuarsa, felspar, dan lempung atau clay. Hal tersebut harus dapat dimanfaatkan dengan optimal agar dapat segera memberikan manfaat yang lebih kepada pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan bangsa khususnya bagi masyarakat Provinsi Gorontalo.

Tekad Mengabdi

Ketua PPAD Provinsi Gorontalo Brigjen TNI Purn Sofyan Yahya Botutihe, MBA adalah sosok yang bertekad mendedikasikan diri bagi kemajuan organisasi dan para purnawirawan, utamanya di Gorontali. “Bermula dari Januari 2020. Saya menyampaikan kepada salah satu anggota PPAD Gorontali agar mendaftarkan saya sebagai anggota, karena saya juga putra daerah Gorontalo. Laporkan itu kepada ketua PPAD-mu,” kata saya kepada anggota PPAD yang bersama-sama Sofyan sama-sama menjadi pengurus Pertina (Persatuan Tinju Amatir Nasional).

Kabar berikut sungguh di luar dugaan Sofyan, karena ternyata pimpinan PPAD Provinsi Gorontalo kosong. Ketuanya, Kolonel CAJ Purn Mochtar Darise sudah wafat empat tahun lalu. Selama itu pula, PPAD Gorontalo dijalankan oleh Sekum PPAD Gorontalo, Peltu Purn Hi Subetan.

Mengetahui hal itu, Sofyan pun terpanggil untuk mengetahui lebih dalam kondisi PPAD Gorontalo, hingga akhirnya ia memutuskan ikut dalam pemilihan Ketua PPAD Provinsi Gorontalo dalam Musda yang dilangsungkan 18 Mei 2022. “Jika Anda bertanya motivasi, sangat banyak yang memotivasi saya,” ujarnya saat ditanya motivasinya menjadi Ketua PPAD Gorontalo.

Ia peduli atas keberadaan PPAD yang tanpa ketua. “Saya seorang perwira tinggi di kampung halaman, merasa terpanggil memimpin, mempererat setia kawan sesama anggota purnawirawan dan keluarganya. Selain itu, menjaga integritas, memperkokoh persatuan kesatuan, serta ikut berpartisipasi aktif dalam mengisi kemerdekaan, utamanya meningkatkan kesejahteraan para purnawirawan dan pensiunan PNS TNI-AD beserta keluarganya demi tegaknya NKRI,” papar Sofyan Yahya Botutihe.

Di atas motivasi itu semua, Yahya menungkapkan rasa syukurnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. “Saya anak desa Gorontalo, dari masyarakat biasa, bisa menjadi jenderal. Alhamdulillah. Allahu akbar!” pekiknya.

Karena itu pula, ia benar-benar rela dan ikhlas mengemban amanah untuk mengabdi, bersedekah, berbagi kasih, dan kebahagiaan kepada para purnawirawan TNI-AD dan pensiunan PNS TNI-AD sebagai rekan seperjuangan.

Ditanya ihwal politik kesejahteraan yang digulirkan Ketum Doni Monardo, ia menyambut positif. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan kekompakan dan kolaborasi pentahelix. Ia akan menggandeng para pihak, pemerintah, unsur masyarakat, pengusaha, akademisi, dan media dalam menggerakkan politik kesejahteraan di Gorontalo.

Selain itu, ia juga akan memaksimalkan badan usaha koperasi, Koperasi PPAD Mandiri. Memang, katanya, untuk menunjang konsep tersebut dibutuhkan eksekutor bisnis wirausaha yang kuat di lapangan. “Inilah salah satu tugas kami nantinya,” tambah Yahya Botutihe.

Saat ini, anggota PPAD Gorontalo berjumlah 150 orang. Bersama-sama pengurus dan anggota, ia akan memelihara dan membina kerukunan hidup antar umat beragama, melalui peningkatan kualitas sarana/prasarana keagamaan dan peribadatan. Ia juga bertekad memfasilitasi dan turut menanggulangi permasalahan kesejahteraan anggota beserta keluarganya.

Di bidang yang lain, PPAD Gorontalo akan meningkatkan kualitas pengetahuan dan ketrampilan  para purnawirawan  sesuai bakat pengetahuan tambahan lainnya, sehingga mampu menjadi seorang entrepreneur/wirausahawan. Melalui kerjasama lintas lembaga, PPAD Gorontalo bertekad memelihara asset, terutama lahan tidur dan gedung-gedung terlantas menjadi asset yang produktif dan berkualitas.

Terakhir, saat ditanya persinggungannya dengan Ketua Umum PPAD Letjen TNI Purn Doni Monardo, Yahya mengatakan cukup dekat, terutama karena mereka sama-sama angkatan 85. “Selama pendidikan Akmil, beliau menjadi dan panutan kami dalam segala hal antara lain disiplin tinggi, profesional, integritas, loyalitas, jiwa korsa, dan istiqamah. Ada satu lagi, beliau adalah pemersatu hati,” katanya.

Bersama Doni, ia juga pernah bersama-sama dalam penugasan Operasi di Timtim, khususnya di kabupaten Bau Cau. “Beliau sebagai Dansat Intel Kopassus, saya sebagai Kasiops Satgas Opster Yonif 301/Pks Kodam 3/Siliwangi,” tuturnya, mengenang.

Interaksi selanjutnya, sebagai Perwira Siswa  Diklapa-II di Pussenif Bandung. Mereka tergabung dalam satu kelompok belajar. “Yang tak terlupakan, bila waktu pesiar tiba kami rekreasi naik becak berdua cari tempat foto copy dan makan di restoran Padang,” kata Yahya sambil tertawa.

Beriktunya, saat Yahya menjabat Kasdim 0305/Pasaman di wilayah Kota Lubuk Sikaping, di Kampung mertua Doni Monardo, Taufik Martha yang saat itu menjabat Bupati Pasaman. “Ketum selalu silaturahmi dan mampir nongkrong di kantor saya sambil tukar menukar informasi. Biasanya itu terjadi saat libur Lebaran, atau di moment lainnya,” ujar Yahya.

Kenangan bersama Doni juga terukir saat Latihan Tempur Operasi Gabungan 2010 di Daerah Sangata Kalimantan Timur. Waktu itu, Ketum PPAD Doni Monardo menjabat Wasdal Satgas Intel dan ia selaku dosen Seskoad kala itu, ditugaskan oleh Mabes TNI sebagai Tim Penilai Satgas Operasi Darat. “Terakhir tahun 2018 pernah bertugas di Wantannas di mana Ketum sebagai Sekretaris Jenderal,” tambah Yahya Botutihe. (egy/roso)

Bibit Pohon Langka, Kado Ultah Doni Monardo

JAYAKARTA NEWS – Para pengurus pusat (PP) Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD), memberi kado spesial kepada ketua umumnya, Letjen TNI Purn Doni Monardo, yang tanggal 10 Mei genap berusia 59 tahun. Kado itu berupa bibit-bibit pohon. Salah satunya bibit pohon langka, ebony dan baoab.

“Tidak mungkinlah kami kasih beliau kado mobil, jam tangan, atau apa…. Sebab yang kami tahu, beliau sangat cinta pohon. Maka, tidak ada hadiah terbaik menurut kami, selain bibit pohon,” ujar Sekjen PP PPAD, Mayjen TNI Purn Komaruddin Simanjuntak, Rabu (11/5/2022) di aula Gedung PPAD, Jl. Matraman, Jakarta Timur.

Sejatinya, acara itu hendak dilangsungkan pagi hari, sebelum agenda utama hari ini, yakni penandatangan MoU antara PPAD dengan PT Parigi Aquakultura Prima (PAP). Akan tetapi, sehubungan berita duka, wafatnya Jenderal TNI Purn Widjojo Soejono, Ketum PPAD Doni Monardo langsung berangkat ke rumah duka. Karena itu, acara syukuran pun diundur pelaksanaannya menjadi seusai MoU.

Bibit-bibit pohon, menurut Komar, selain merupakan hobby Doni Monardo, juga bagian dari pelaksanaan sunah Rasul SAW. Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menanam tetumbuhan kemudian burung, manusia, dan hewan ternak memakan buah-buahan dari pohon yang dia tanam kecuali hal tersebut terhitung sedekah baginya” (HR. Bukhari).

Selain ada juga hadits Nabi SAW yang lain, “Meski Besok Mati, Tetaplah Menanam Pohon“. Pesan ini merupakan nasihat para nabi yang tertuang dalam hadis (HR. Bukhari & Ahmad).

Syahdan, acara syukuran ultah Doni pun berlangsung khidmat. Diawali dengan pemotongan kue. “Saya potong kue, tapi tolong jangan ada nyanyian selamat ulang tahun. Kita sedang dalam suasana berkabung atas wafatnya Jenderal Purnawirawan Widjojo Soejono. Pendiri PPAD,” kata Doni.

Ketua Umum PPAD, Letjen TNI Purn Doni Monardo menerima kado spesial berupa bibit pohon langka dari jajaran pengurus PP PPAD, Rabu (11/5/2022). (foto: egy massadiah)

Tugas Lapangan

Dalam sepatah-dua patah katanya, Doni mengatakan, “Ya, hari ini saya 59 tahun lebih sehari. Tapi relatif pensiunan muda, karena baru tahun lalu pensiun,” ujarnya.

Selama berdinas aktif, Doni termasuk perwira yang sangat jarang mendapat pos penugasan di basis. Sejak lulus Akmil 1985 hingga penugasan terakhir menjadi Danjen Kopassus (2014 – 2015), 70 persen berada di lapangan, 30 persen di basis.

Belum lagi empat kali penugasannya di satuan Paspampres, hingga terakhir memuncaki karier di satuan itu sebagai Komandan Paspampres (2012- 2014), hidupnya penuh penugasan di lapangan. Nyaris tidak pernah pulang ke rumah.

Tiba kemudian saat ia mendapat penugasan menjadi Pangdam XVI/Pattimura, yang membawahkan teritori Maluku dan Maluku Utara. “Itulah penugasan lapangan yang paling saya nikmati. Jadi saya bisa memanfaatkan untuk improvisasi dan berinovasi serta melakukan kunjungan kerja ke daerah-daerah terluar,” kata Doni.

Tugas berikutnya sebagai Pangdam III/Siliwangi (2017-2018). “Mungkin saya pangdam tercepat, hanya empat-bulan-delapan-hari. Tapi selama itu pula saya praktis tidak pernah pulang ke rumah, karena fokus mengurus Sungai Citarum,” katanya.

Meski hanya 4 bulan 8 hari, tetapi hampir semua anak buahnya merasakan dialah Pangdam “terlama”. Betapa tidak, tiap hari Doni beraktivitas, merancang strategi mengembalikan keharuman Citarum, dalam program Citarum Harum. “Hampir semua anak buah saya di Kodam Siliwangi, karena aktivitas yang sangat padat dan marathon, banyak yang drop fisiknya,” kata Doni sambil tertawa.

Penugasan berikut adalah Sesjen Wantanas, sekaligus anugerah turunnya bintang ketiga menjadi seorang Letnan Jenderal TNI. “Tapi di Wantanas relatif tidak lama, karena terus merangkap jabatan menjadi Kepala BNPB,” ujarnya seraya menambahkan, “dan di BNPB, seperti kita semua tahu, hari-hari kembali disibukkan mengatasi bencana, baik bencana alam maunun wabah Covid-19.”

Tiba saat pasca purnawirawan, Letjen TNI Purn Kiki Syahnakri menjumpainya. Ketika itu, ia menawarkan Doni posisi sebagai Ketua Umum PPAD, menggantikan dirinya yang sudah dua periode menjabat. Doni tidak serta merta menjawab. Ia minta waktu untuk berkonsultasi dengan banyak pihak, baik teman-teman maupun keluarga.

Tak lama kemudian, Kiki Syahnakri menghubungi lagi. Di situ Doni menganggap, tawaran Kiki serius. Teman-teman yang saya minta pertimbangan juga umumnya mendukung dan mengatakan bahwa PPAD adalah tugas pengabdian. “Saya sempat berseloroh, lha memang sebelumnya bukan pengabdian?” kata Doni sambil tertawa.

Syahdan, Munas PPAD 14 – 15 Desember 2021 pun menasbihkan Doni Monardo menjadi Ketua Umum PP PPAD, menggantikan Letjen TNI Purn Kiki Syahnakri. Tak lama, para senior banyak yang menghubunginya. Mereka umumnya berpesan, “Don, bagaimana kamu bsia bantu pensiunan agar lebih sejahtera.”

Itulah yang kemudian memotivasi Doni Monardo untuk menggulirkan program kesejahteraan (prosperity policy) sebagai program utama PPAD di era kepemimpinannya. Ia melengkapi struktur organisasi dengan Bidang Ekonomi dan bidang-bidang lain yang bisa mengakselerasi tujuannya, meningkatkan kesejahteraan purnawirawan TNI-AD.

Doni menyadari, mengubah mind-set purnawirawan TNI-AD dari mind-set prajurit ke mind-set entrepreneurship memang tidak mudah. Karenanya, Doni pun harus melangkah dengan time-line. Termasuk jika memang diperlukan reorganisasi di kepengurusan PPAD, mulai dari pusat sampai ke daerah.

Adanya Musda PPAD di sejumlah provinsi, oleh Doni dinilai sebagai momentum program reorganisasi agar PPAD lebih akseleratif. Ia berharap, ketua PPAD provinsi harus memiliki kapasitas dan kemampuan menjalin komunikasi dengan unsur Forkopimda provinsi.

Hal lain yang menjadi angan-angan Doni adalah membangun gedung PPAD yang lebih representatif. “Bayangkan, hanya untuk rapat hari ini saja, banyak tamu tidak kebagian tempat parkir.”

“Empat-lima tahun lagi saya harap tidak ada purnawirawan yang kesulitan dalam melanjutkan sisa pengabdiannya,” tegas Doni Monardo.

Acara pun ditutup dengan doa, dilanjutkan ramah tamah bersama. Sebagai intermezzo, tim Bidkom PPAD menayangkan video berdurasi 15 menit, berisi ucapan-ucapan selamat ulang tahun dari rekan-rekan Doni Monardo, mulai dari Menko PMK, Muhadjir Effendy, Pangkostrad Letjen TNI Maruli Simanjuntak, Dan Kopassus, Mayjen TNI Iwan Setiawan, dan teman-teman satu batalyonnya.

Selamat ulang tahun, jenderal! (egy/roso)

Gandeng PT Parigi, PPAD Terjun ke Budidaya Udang Vaname

JAYAKARTA NEWS – Hari ini, Rabu 11 Mei 2022, Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD)  menandatangani kerjasama dengan PT Parigi Akuakultura Prima (PAP). Kerjasama dilakukan antara Direktur Utama PT PAP, Ir Anang Mujiantoro dan Ketua Umum PP PPAD, Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo.

Anang dalam sambutannya menyatakan, kerjasama dengan PPAD adalah sebuah pilihan yang tepat, mengingat anggota PPAD memiliki kualitas SDM yang memadai, serta disiplin yang tinggi. “Syarat utama pengelolaan budidaya udang adalah disiplin. Dan disiplin adalah nafas prajurit, termasuk yang sudah purnawirawan,” ujar Anang.

Anang menambahkan, pihaknya kini memiliki lahan 500 hektare di Sulawesi Tengah dan berbagai daerah lain. Dari jumlah itu, sebagian sudah dikelola dengan manajemen dan teknologi yang tertata. Tahun 2021 yang lalu, PT PAP memulai panen perdana dengan hasil yang sangat memuaskan, yakni bica mencapai 70 tin per hektare.

Berkat prestasi itu, PT PAP mendapat apresiasi banyak pihak, termasuk dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). PT PAP bahkan diminta membantu mengembangkan program budidaya udang vaname ke daerah-daerah lain di Indonesia. “Kerjasama dengan PPAD, semoga bisa lebih mempercepat harapan kami untuk memperbanyak kegiatan budidaya udang di seluruh Indonesia,” ujar Anang.

Ketua Umum PP PPAD Letjen TNI Purn Doni Monardo bersama Direktur Utama PT PAP, Ir Anang Mujiantoro serta pengurus dan mitra PPAD lain, saat diwawancarai insan pers nasional. (foto: egy massadiah)

Eksportir Udang Terbesar

Sementara itu, Ketua Umum PPAD, Letjen TNI Purn Doni Monardo, meminta hadirin mengheningkan cipta sejenak, untuk almarhum Jenderal Purn Widjojo Soejono yang wafat hari ini, Rabu 11 Mei 2022 pukul 04.45 WIB di RSPAD Jakarta Pusat. Doni mengingatkan para hadirin atas amanat almarhum yang harus senantiasa dipegang teguh. Sebuah amanat yang sekarang dijadikan motto dan terpampang di aula utama Gedung PPAD.

Amanat alm Jenderal Widjojo Soejono adalah, “Bhayangkari negara baru berhenti berjuang jika tidak lagi mampu mendengar tembakan salvo di samping telinganya”. “Semangat itu harus terus kita gelorakan, dan mendasari setiap aktivitas kita, meskipun kita sudah purnawirawan,” ujar Doni.

Lebih lanjut Doni beralih ke topik pagi hari itu. Doni mengatakan, bahwa Indonesia memiliki pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Selain itu, Indonesia memiliki 17.000 pulau, yang sebagian besar memiliki pantai yang relatif tenang, sehingga sesuai untuk budidaya perikanan. “Ke depan, bisa kita kembangkan tidak hanya program aquakultur jenis udang vaname, tapi bisa juga ke ikan, lobster, udang, dan lain-lain,” tambah Doni.

Kita tahu, tambah Doni, bahwa sumber protein juga bisa didapat dari laut. Hasil laut punya nilai gizi yang sangat tinggi dan ke depan, kalau dikelola dengan baik, kebutuhan protein hewan lain bisa dipenuhi dengan budidaya udang dan hasil laut lain.

Budidaya hasil laut relatif lebih mudah, dan bisa dilakukan di beberapa lokasi, kecuali di lokasi (laut) yang tingkat pencemarannya tinggi. “Saya juga mengapresiasi hasil PT PAP yang bisa mencapai 70 ton per hektare, sementara yang lain antara 20 sampai 40 ton per hektare,” katanya.

Hasil optimal budidaya udang vaname PT PAP, dipastikan karena pengelolaan yang professional, modern, dan water management yang baik. Bicara udang, Doni punya pengalaman langsung dengan program Emas Biru (budidaya hasil laut) saat menjabat Pangdam XVI/Pattimura yang memiliki teritori Maluku dan Maluku Utara.

Dengan teknologi yang modern, serta pengalaman PAP, maka PPAD berharap program budidaya udang bisa dikembangkan hingga ke daerah-daerah. “Dengan keterlibatan unsur PPAD di berbagai daerah, kita harap kelak bisa menjadikan Indonesia sebagai eksportir udang terbesar di dunia,” ujar Doni Monardo.

Doni mendapat info, bahwa kunci sukses pengelolaan budidaya udang adalah disiplin. Disiplin merawat air agar tetap berkualitas, disiplin memberi pakan sesuai jadwal dan takaran, serta disipplin menjaga lingkungan agar tetap terjaga.

Modal utama “disiplin”, sudah dimiliki pra prajurit, walaupun sudah purna. Karenanya, kerja sama PPAD dan PT PAP diharap bisa memberi nilai tambah. Dengan kerja sama itu pula, Doni berharap PT PAP dalam waktu tidak terlalu lama, bisa menjadi produsen udang terbesar di Asia Tenggara, bahkan lebih dari itu.

Dalam kesempatan itu, Doni Monardo juga berharap pihak perbankan memberi dukungan atas MoU yang sudah dilangsungkan antara PT PAP dan PPAD. “Saya berharap pihak perbankan bisa melihat potensi yang ada,” tambah Doni.

Ditegaskan, budidaya udang dan hasil laut lain, adalah arah yang benar untuk bisnis ke depan. Tahun 2017, ada sebuah seminar internasional di Eropa, yang meminta negara-negara di dunia untuk beralih dari program perikanan tangkap menuju ke program perikanan budidaya.

Selain itu, juga sesuai dengan sustainable development goal yang juga dicanangkan Presiden Joko Widodo. Bagaimana ke depan, Presiden juga concern dengan program “ekonomi biru”, termasuk di dalamnya program budidaya udang vaname. “Selain bisa menjadi sektor unggulan ke depan, juga bisa menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan perekonomian nelayan. Sebab, nelayan kita efektif melaut hanya enam bulan dalam setahun. Sisanya tidak melaut karena faktor cuara. Kecuali  nelayan yang memiliki kapal bertonase besar,” papar Doni.

Dalam acara yang dipandu Kabid Ekonomi PP PPAD, Mayjen TNI Purn Wiyarto, usai MoU dilanjutkan dengan dialog dengan pihak perbankan, serta paparan presentasi tentang PPAD. (egy/roso)

Pesan Terakhir Widjojo Soejono kepada Doni Monardo

JAYAKARTA NEWS – Bangsa berduka atas berpulangnya tokoh militer kharismatik, Jenderal Purn Widjojo Soejono, pagi ini Rabu 11 Mei 2022 pukul 04.43 Wib di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Mantan Kepala Staf Kopkamtib, mantan Dan Puspassus 1967-1970 (sekarang Kopassus), wafat dalam usia 94 tahun lebih dua hari (lahir Tulung Agung, 09-05-1928).

Berita duka tersebut begitu mengagetkan penerimanya. Termasuk Ketua Umum PP PPAD, Letjen TNI Purn Doni Monardo. Alhasil, ia harus menjadwal ulang agenda halal bihalal pengurus PPAD pagi pukul 08.00, dan segera meluncur ke rumah duka di Jl. Karang Asem 1 No. 4-6 , Kuningan Timur, Kecamatan Setia Budi, Jakarta Selatan untuk memberi penghormatan terakhir.

“Masih terngiang di ingatan saya, saat beliau menelepon saya sekitar sebulan lalu. Hari itu, kami di kantor PPAD. Kemumudian masuk telepon dari pak Widjojo Soejono,” ujar Doni mengenang peristiwa terakhir saat ia berinteraksi dengan almarhum.

Dijumpai di Gedung PPAD seusai melayat ke rumah duka, Doni Monardo menyebut almarhum Jenderal Widjojo Soejono adalah seorang teladan. Ia juga menaruh perhatian yang sangat besar terhadap PPAD. “Lewat telepon beliau masih menanyakan, bagaimana perkembangan PPAD. Lalu menyatakan, program kesejahteraan yang kami gulirkan sebagai kebijakan, sudah benar, dan harus dipercepat pelaksanaannya,” ujar Danjen Kopassus 2014-2015 itu.

Doa terbaik kepada almarhum Jenderal TNI Purn Widjojo Soejono, dari Ketua Umum PP PPAD, Letjen TNI Doni Monardo. (bidkom PPAD)

Tidak berhenti di situ. Jenderal Widjojo Soejono juga menekankan agar Doni Monardo memberi perhatian kepada pengurus PPAD Provinsi. “Beliau berpesan, PPAD Provinsi harus lebih cepat bergerak. Artinya, beliau sangat concern dengan program kesejahteraan PPAD. Ini menjadi cambuk bagi saya untuk mempercepat reorganisasi PPAD di sejumlah daerah,” tegas Doni.

Tidak hanya itu. Sejak Doni Monardo menjabat Ketum PPAD akhir 2021, almarhum sangat aktif dalam setiap kegiatan. Antara lain, hadir virtual saat pengukuhan pengurus di Mabes AD. Hadir virtual saat pengurus PPAD melakukan rapat pengurus di Gedung PPAD, Jl. Matraman.

Sekilas Widjojo Soejono

Wafatnya Jenderal Widjojo Soejono tak pelak memupus purnawirawan bintang empat paling senior sisa generasi 1945. Sebelumnya ada tiga orang, namun dua orang wafat tahun 2021. Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo, wafat dalam usia 93,5 tahun pada Januari 2021. Menyusul Letjen TNI (Purn) Rais Abin, wafat dalam usia 94,5 tahun pada Maret 2021 lalu.

Tahun 2021, Widjojo Soejono menerima Satyalancana Perintis Kemerdekaan dari Presiden Jokowi. Penghargaan itu melengkapi sejumlah penghargaan yang pernah ia terima. Antara lain – Bintang Gerilya, Yudha Dharma Nararya Pratama, Kartika Eka Paksi Nararya Pratama, Satya Lencana 8, 16, dan 24 Tahun.

Widjojo Soejono dilahirkan di Tulungagung, Jawa Timur pada tanggal 9 Mei 1928 sebagai putera bungsu 15 orang bersaudara dengan Ayah Martodidjojo yang leluhurnya berasal dari Surakarta dan Ibu Roesmirah yang leluhurnya berasal dari Yogyakarta.

Sekolah Dasar ditempuh pada zaman Belanda (HIS). Melanjutkan ke Sekolah Teknik yang zaman Belanda bernama K.E.S., lalu zaman Jepang disebut Kogyo Gakko dan sekarang bernama SMK I Surabaya. Ia sekelas dengan Soewoto Sukendar yang kelak jadi Kepala Staf TNI Angkatan Udara dengan pangkat Marsekal TNI dan Widodo Budidarmo yang di kemudian hari jadi Kapolri dengan pangkat Jenderal Pol. Sedang Soemitro yang terakhir juga berbintang empat dan menjabat sebagai Wapangab merangkap Pangkopkamtib tapi dari jurusan yang berbeda.

Semangat kemerdekaan yang bergelora, mendorong Widjojo Soejono meninggalkan sekolah pada umur 17 tahun dan mengikuti Latihan Perwira Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor awal tahun 1945. Setelah lulus ia ditempatkan di Batalyon 4 Karesidenan Malang. Setelah pembubaran PETA dua hari menyusul Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ia ikut membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) di HBS Straat yang sekarang bernama Jalan Wijaya Kusuma, Surabaya.

Ketua Umum PP PPAD, Letjen TNI Purn Doni Monardo memberi salam duka cita terdalam kepada keluarga almarhum Jenderal Purn Widjojo Soejono. (bidkom PPAD)

Riwayat Jabatan

Letnan
BKR, TKR, TRI, TNI di Kota dan Wilayah Surabaya (1945)

Kapten
– Perwira Staf Resimen 33 Divisi VI/Narotama
– Kepala Staf Batalyon 29
– Wakil Komandan Batalyon Infanteri 511 (1949-1953)
– Komandan Batalyon Infanteri 505/Brawijaya (1953-1955)

Mayor
– Komandan Batalyon Infanteri 514 (1955-1957)
– Tugas belajar di Sekolah Staf & Komando Angkatan Darat (1957-1959)
– Tugas mengajar Taktik sebagai Guru di Pusat Infanteri (1959)

Letnan Kolonel
– Kepala Staf Resimen Para Komando AD, Letnan Kolonel (1959-1961)
– Komandan Brigade/Para, Caduad (1961-1963)
– Tugas belajar di US Army Command & General Staff Colledge, Forth Leavenworth. (1963-1964)

Kolonel
– Paban Operasi Staf Umum II AD (1964-1965)

Brigadir Jenderal
– Panglima Komando Tempur IV (1965-1967)
– Komandan Puspassus AD (1967-1970)
– Panglima Kodam XIII/Merdeka (1970-1971)

Mayor Jenderal
Panglima Kodam VIII/Brawijaya (1971-1975)

Letnan Jenderal
– Panglima Kowilhan III (Sulawesi – Kalimantan) (1975-1978)
– Panglima Kowilhan II (Jawa, Nusra dan Timor Timur) (1978-1980)
– Kendali operasional terhadap Operasi militer di Timor Timur

Jenderal
– Kepala Staf Kopkamtib (1980-1982)

Jenazah almarhum Jenderal Purn Widjojo Soejono dimakamkan Rabu 11 Mei 2022 pukul 13.30 WIB, di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMPNU) Kalibata, Jakarta Selatan. (egy/roso)

Golden Touch

Catatan Perjalanan Sumba Egy Massadiah Bagian 2 (Selesai)

JAYAKARTA NEWS – Berkat ajakan Franky, Letjen Purn Dr HC Doni Monardo berkesempatan menikmati kesempurnaan Nihi Resort, Sumba. Kata menikmati di sini mesti ditambahkan arti bahwa keduanya sedang berdiskusi intens terkait “menjual” keunggulan Indonesia di sektor pariwisata. Franky adalah seorang praktisi bisnis hospitality.

Franky dan Doni saling respek satu sama lain. Dalam banyak kesempatan, utamanya ketika berbicara mengenai sektor pariwisata, keduanya adalah orang yang paling lantang menyuarakan pendapat, “jual keunggulan Indonesia, sekaligus menjaga alam”.

Keduanya saling menginspirasi.

Franky. (foto: egy m)

Franky sendiri termasuk yang mengagumi Nihi. Ia bahkan sudah berinteraksi dengan Sumba sejak tahun 90-an. Sejumlah lahan yang dinilainya cocok untuk pembangunan villa pun sudah di tangan. Sayang, pembangunan infrastruktur di sana agak terhambat. Ujungnya, sarana transportasi regular belum maksimal.

“Akhirnya kami menunda pembangunan resort di Sumba dan kami alihkan ke daerah lain seperti di Bandung, Bali, dan Jawa Timur,” ujarnya.

Meski begitu, ia sudah menjalin komunikasi dengan Sumba Foundation. Sebuah yayasan yang sangat kredibel dalam mencetak SDM perhotelan. Franky bahkan sudah bertemu pendiri yayasan itu, Inge De Lathouwer, setahun sebelum dimulainya pembangunan Sumba Hotel School.

“Ketemunya di Jakarta, saat beliau mengurus perizinan ke Kemendikbud. Ide dan pelaksanaan serta manajemen Sumba Hotel School sangat baik. Mulai dari seleksi murid, kurikulum, dan belajar praktik, semua memberikan hasil yang sangat bagus,” tambah Franky.

Duet antara Inge dan Redemta dinilai sangat solid, terbukti dengan sudah banyaknya alumni Sumba Sotel School yang bekerja di berbagai hotel berbintang di Bali, Jakarta, sampai keluar negeri. “Beberapa lulusannya bahkan sudah menempati posisi cukup tinggi,” tambahnya.

Ihwal prestasi Nihi yang dua tahun berturut-turut menyabet prediket hotel/resort terbaik di dunia, dengan sendirinya telah menempatkan Pulau Sumba sebagai salah satu destinasi wisata dunia. Apa yang dijual?

Inge De Lathouwer. (foto: egy m)

Alam yang sangat indah serta budaya Sumba yang masih asli, serta banyaknya desa adat serta kepercayaan Merapu yang masih kental. “Saya berharap, kelak akan muncul Nihi-Nihi baru atau Amanresort, Alila, 6 Sense, Bulgari dan sebagainya. Biarlah Sumba menjadi destinasi premium. High yield and low destruction,” harap Franky.

Membangun resort dengan kualitas premium di lokasi yang eksotik, adalah keunggulan Indonesia. Sama seperti yang sering diungkapkan Doni Monardo, jika kita membangun hotel mewah pencakar langit, apalagi di perkotaan, sungguh “bukan Indonesia”. Indonesia harus menjual alamnya yang indah. Musim yang eksotik.

“Kalau hotel mewah, kita tidak akan bisa bersaing dengan hotel-hotel super mewah di kota-kota metropolitan dunia. Karena itu, kita harus menjual resort model Nihi. Sesuatu yang tidak dimiliki negara lain, sebab itulah keunggulan kita,” tegasnya.

Tak hanya berteori, tapi itu pula yang coba ia bangun sejak masuk dunia pariwisata dan hospitality tahun 80-an. Franky, misalnya, membangun hotel Amankila di Desa Manggis Karang Asem (1992), Chedi di Bandung (1993), Serai Manggis (1994, sekarang Alila Manggis), Chedi Ubud (1996 sekarang Alila Ubud), Alila Jakarta (2001). Lalu ia mendirikan Alila Brand tahun 2000, Alila Villas Uluwatu (2009), dan membangun hotel Dialoog Banyuwangi (2017).

Misi yang dicanangkan adalah, “Menciptakan destinasi liburan baru dengan membangun pusat-pusat life style yang berkelas seraya mempromosikan budaya dan konsep bangunan yang ramah lingkungan baik di dalam maupun luar Indonesia.”

Sedangkan visinya, “Menjadi pemimpin di industri life style melalui penggabungan konsep desain yang luar biasa, kekayaan budaya lokal dan keramahan lingkungan.”

Tunggu. Apakah Franky seorang hotelier? Awalnya bukan. Ia mendapatkan gelar sarjana di bidang Teknik Sipil dari University College London tahun 1981 dan mendapatkan gelar Master di bidang Struktur dan Pelat Baja dari Imperial College London tahun 1982.

Pria kelahiran Jakarta 26 Januari 1957, itu pada akhirnya berkecimpung di dunia pariwisata dan perhotelan. Dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di industri hotel dan pariwisata, ia merupakan salah satu pencetus pembangunan beberapa hotel yang sangat sukses di Indonesia. Perannya dalam tim pembangunan properti Alila Villa Uluwatu, Alila Ubud, Alila Manggis, Alila Jakarta, Awanjiwo, Amankila dan Chedi Bandung sunggulah tebal.

Selain itu, Franky Tjahyadikarta dikenal sebagai salah satu pendiri GHM Indonesia dan Mandara Spa, spa pertama yang dikelola secara internasional di Indonesia. Juga mendirikan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA). Perusahaan ini dikenal sebagai pengembang terkemuka di Indonesia yang fokus pada hotel dan resor ramah lingkungan.

Ciri khas BUVA adalah keunggulannya dalam arsitektur bertaraf internasional. BUVA menggabungkan inovasi, rekreasi dan gaya hidup menjadi suatu pengalaman unik dan baru bagi wisatawan lokal dan manca negara yang mencari tujuan wisata yang menonjolkan keselarasan budaya dan lingkungan di tengah-tengah kemewahan, ketenangan, dan petualangan.

Dalam kapasitas itulah, ia mengenal Doni Monardo dan klop dalam pandangan ihwal pariwisata dan perhotelan Indonesia. Ditanya komentarnya tentang sosok Doni Monardo, Franky spontan mengatakan, “Saya sangat kagum dan respek dengan Pak Doni. Beliau sederhana, rendah hati tapi sangat smart, tegas dan pandai bergaul ke atas maupun ke bawah itu bisa saya lihat dalam trip-trip kami bersama selama ini.”

Ditambahkan, kecintaan dan kepedulian Doni Monardo terhadap alam, hutan, gunung, sungai, dan laut yang besar, benar-benar sangat dibutuhkan di era saat ini. “Karena itulah kami menjadi sahabat dan semoga suatu saat bisa membangun bersama-sama,” ujarnya.

Franky bahkan mengikuti sepak terjang Doni Monardo, baik semasa aktif di militer, memimpin BNPB, hingga posisi terakhir sebagai Komisaris Utama PT Mind ID dan Ketua Umum PP Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD). “Saya juga melihat jejak dan kemajuan-kemajuan yang dicapai di daerah tempat beliau bertugas. Sangat terasa perubahan dan kemajuannya. Saya istilahkan Doni’s Golden Touch,” pungkas Franky Tjahyadikarta. (*)

*) Egy Massadiah, jurnalis senior, konsultan media, menulis sejumlah buku serta pembina Majalah “Jaga Alam”

Menguak Sisi Rahasia dan Jenaka Doni Monardo

Reviu atas buku “Titik Nol Corona”

JAYAKARTA NEWS – Sungguh, tidak banyak penulis buku yang bisa memotret objek tulisannya dari jarak yang begitu dekat dan intens, selama bertahun-tahun. Egy Massadiah adalah penulis yang beruntung. Posisinya sebagai Tenaga Ahli Kepala BNPB, membuat ia lekat dengan Kepala BNPB, Letjen TNI Dr (HC) Doni Monardo, di mana pun bertugas.

Sebagai jurnalis senior, instingnya mengalir untuk mencatat, merekam, dan menuangkannya menjadi esai-esai bernas, yang kemudian dibukukan. Dua tahun mendampingi Doni, sudah ratusan tulisan ditorehkan. Tiga buku sudah diterbitkan.

Dua buku terdahulu adalah Secangkir Kopi di Bawah Pohon dan Sepiring Sukun di Pinggir Kali. Kedua buku tadi di bawah satu tema (tagline) “Kiprah Doni Monardo Menjaga Alam”. “Alhamdulillah, kedua buku itu bisa menjadi kado ulang tahun Pak Doni tahun 2020. Sedangkan, pada ultah tahun 2021, 10 Mei yang lalu, saya memberinya kado satu buku, yang merupakan buku ketiga yang saya tulis,” ujar Egy Massadiah.

Buku ketiga Egy tentang Doni berjudul “Titik Nol Corona, Doni Monardo di Pusaran Wabah”. Buku ketiga ini pula yang menjadi kado Egy di hari ulang tahun Doni Monardo, 10 Mei 2021 lalu. Ia menyerahkannya usai acara tiup lilin, potong tumpeng, dan berbuka puasa bersama di Ruang Multy Media, lantai 10 Graha BNPB.

Penyerahan buku “Titik Nol Corona” tadi, seperti menandai launching buku. Segera setelahnya, buku ini sudah terpajang di beberapa situs belanja online, seperti Shopee dan Lazada. Selain, juga bisa dipesan melalui dua situs website: www.jagaalam.com dan www.kitajagaalam.id.

Buku ini adalah catatan intens Egy mendampingi jenderal bintang tiga itu berperang mengendalikan wabah Covid-19. Ada begitu banyak catatan menarik yang tidak saja memiliki nilai-nilai humanity, tetapi juga bernilai referensial.

Terlebih, buku ini mendapat kata sambutan yang menarik dari Menko PMK, Prof Muhadjir Effendy berjudul “Kisah Lapangan Mengatasi Pageblug”. Kesaksian Muhadjir Effendy mengendalikan Covid-19 bersama Doni Monardo, membekaskan kesan yang begitu mendalam.

Ribuan mil jarak telah ia tempuh bersama Doni Monardo dalam berbagai kegiatan kunjungan kerja mengatasi pageblug. Muhadjir tak henti memuji ketangguhan fisik Doni Monardo, kepiawaian serta kemampuannya mengatasi berbagai rintangan dan tantangan di lapangan.

Buku berukuran B-5 itu tampil anggun sekaligus gagah dengan ketebalan 427 halaman full color. Selain Sambutan Menko Muhadjir, pengantar penulis dan pengantar penerbit, buku ini berisikan 44 judul utama dan 12 judul turunan, sehingga keseluruhan menjadi 60 tulisan, ditambah galeri foto dan profil penulis.

Sebagai pembuka, Egy menempatkan tulisan berjudul “Kenangan Natuna Dua Jenderal” sebagai judul pertama. Latar belakang tulisan ini adalah kunjungan KSAL Laksamana TNI Yudo Margono ke markas BNPB/Satgas Covid-19. Dalam kesempatan itu, Laksamana Yudo dan Letjen Doni terlibat pembicaraan menyusuri jalan kenangan di awal bulan Februari 2020.

Saat itu, keduanya terlibat kerjasama spartan dan solid melayani karantina 238 WNI asal Kota Wuhan, Ibukota Provinsi Hubei, China. Doni Monardo dalam kapasitas sebagai Kepala BNPB, sedangkan Laksamana Madya (saat itu) Yudo Margono sebagai Panglima Kogabwilhan 1.

Catatan itu sangat menarik, sebab, sebelum virus corona resmi masuk Indonesia 2 Maret 2020, keduanya sudah bersinggungan dengan karantina WNI yang datang dari Wuhan, kota tempat asal-mula virus corona bercokol.

Di Natuna, mereka –antara lain– harus berhadapan dengan demonstran yang menolak aktivitas karantina. Bahkan dalam kesempatan dialog terbuka, penulis berhasil menangkap momentum saat salah seorang pendemo hendak melemparkan asbak ke arah Doni Monardo (halaman 12). Sangat dramatis.

Bagi yang rindu sosok jubir corona, Achmad Yurianto, buku ini mengupas tuntas sosok yang satu ini. Penampilannya di televisi berbulan-bulan lamanya, sosok Yudi sempat menjadi sosok yang sangat lekat di benak pemirsa televisi Indonesia. Ada sisi-sisi lain seorang Yuri yang baru terkuak di buku ini. Ditambah, hadirnya sosok cantik Reisa yang tak luput dari bidikan Egy Massadiah.

Ada pula potret sendu di balik momen bahagia ultah Doni Monardo 10 Mei 2020. Santi, sang istri, tergagap ketika harus menyampaikan sepatah-dua-patah-kata. Yang terucap hanya kalimat, “Rasanya mau menangis….”

Wajar jika perasaan Santi begitu campur-aduk. Antara bahagia bisa menjenguk suami yang tidur di kantor sambil merayakan ulang tahun bersama anak dan cucu, dan perasaan sedih karena merasa ada sekat yang memisahkan Doni dari keluarga. Toh, Santi paham, ketika Doni meminta izin untuk sementara tidak pulang. Pandemi tidak kenal hari libur. Penyebaran wabah tidak kenal jam kerja. Pandemi adalah peristiwa luar biasa, yang tak bisa ditanggulangi dengan cara biasa. Karenanya ia harus stand by 24 jam di kantor.

Lika-liku peristiwa menarik selama mukim di kantor, dituangkan pula oleh penulis dalam judul “60 Hari di Markas”. Satu di antaranya peristiwa lucu “Ketika Ajudan Doni Mencari Dokter Tugas” (halaman 151).

Judul lain yang tak kalah menarik adalah “Dari ‘Dukun’ hingga ‘Orang Gila’”. Sungguh, cerita ini tidak pernah Anda temukan di media mana pun. Dalam tulisan ini, penulis (Egy) bahkan terlibat langsung di dalamnya. Sebagai penulis, ia simpan rapat cerita-cerita itu, lalu disajikannya untuk Anda melalui buku terbitan PT Citra Jayakarta Nawa Astha dan Yayasan Kita Jaga Alam ini.

Pendek kalimat, jika harus merunut satu per satu tulisan dalam buku yang disunting oleh Roso Daras ini, tentu teramat panjang. Sebab, setiap tulisan memang memiliki daya tarik tersendiri. Beberapa tulisan, bisa jadi bukan topik eksklusif, tetapi di buku “Titik Nol Corona”, pembaca akan mendapatkan angle yang berbeda, ditambah data dan fakta baru yang tak terungkap di tulisan mana pun sebelumnya.

Contoh, tulisan berjudul “Insiden Ekspor APD”. Tulisan ini memotret kelangkaan APD (Alat Pelindung Diri) pada awal-awal pandemi. Menjadi eksklusif karena Egy melengkapinya dengan wawancara eksklusif bersama Marsekal Pertama (Marsma) TNI Jorry Soleman Koloay. Waasops TNI Marsma Jorry adalah salah satu tokoh penting di balik peristiwa yang dalam situasi normal, bisa diartikan sebagai “pembajakan APD”.

Selain topik human interest, buku ini juga memuat topik hard-news, yang dikemas dalam narasi gamblang. Topik yang dimaksud terkait dengan buntut kepulangan Habib Rizieq yang berbuntut panjang.

Egy menuliskannya dalam judul “Geger 20.000 Masker”. Di sinilah penulis menguak peristiwa di balik berita. Tidak saja latar belakang, tetapi sekaligus memberi gambaran lengkap di semua fase: pra – saat kejadian – pasca kejadian.

Sebagai penutup, Egy menyajikan sebuah tulisan yang sangat inspiratif, “Memuliakan Makna Berbagi”. Inspirasi tulisan berangkat dari sebuah tayangan pendek Diyanet TV, sebuah stasiun televisi yang dikelola kantor urusan agama Pemerintah Turki.

Tersebutlah pemandangan di sebuah kedai roti di tepi jalan besar. Bagian depan digunakan untuk memajang roti khas Turki yang dinamakan ekmek. Tampak keranjang digantungkan di tiang kanan. Orang Turki belum berasa makan kalau belum menyantap ekmek.

Datanglah seorang pria membeli delapan potong ekmek. Tapi pembeli hanya mengambil empat. Empat lainnya diamanahkan kepada penjual untuk disedekahkan kepada yang memerlukan. Sang penjual lalu memisahkan empat ekmek amanah dan memasukkan ke keranjang gantung.

Tak lama, datang si “miskin” memohon sekerat-dua-kerat ekmek, yang barangkali ada bagian rezekinya di kedai itu. Penjual pun mengambil tas dan memasukkan empat potong ekmek, dan menyerahkan pada si miskin. Lalu, si “miskin” mengembalikan yang dua.

Benar. Ia hanya perlu dua potong ekmek yang berukuran besar itu. Dua lainnya, ia minta dimasukkan kembali ke keranjang gantung, yang mungkin saja akan sangat berarti bagi si lapar lain.

Tak lama setelah kedatangan si miskin, datang wanita membeli empat ekmek. Lagi-lagi, ia tampak mengeluarkan dua, dan mengamanahkan kepada penjual untuk dibagikan kepada yang membutuhkan. Dengan senyum ramah, si penjual mengangguk dan memasukkan sedekah dua potong ekmek ke dalam keranjang gantung.

Sebuah pelajaran budi pekerti yang sangat agung. Si kaya tidak kikir, si miskin tidak tamak, dan si penjual tidak khianat. Begitu menyentuh tayangan tadi, membuat Egy mencari tahu tradisi apa gerangan yang tampaknya begitu membudaya di kehidupan sehari-hari masyarakat Turki. Diketahuilah, film pendek tadi adalah potret tradisi “askida ekmek”.

Tradisi yang sudah ada sejak zaman Kesultanan Utsmaniyah atau yang dikenal era Kekaisaran Ottoman (abad XII). Penulis menyelikpkan harap, tradisi “askida ekmek” dilakukan di gerai-gerai waralaba yang menjamur di tanah air, di warteg-warteg, di restoran-restoran padang, di kedai-kedai kopi……

Last but not least, belum lengkap catatan ini kalau tidak menyoroti cover buku “Titik Nol Corona, Doni Monardo di Pusaran Wabah”. Foto Doni Monardo sedang menengadahkan kedua tangan, sikap berdoa, seolah berdoa kepada Tuhan agar memberinya pertolongan membebaskan bangsanya dari wabah corona.

Jika Anda perhatikan, sisi menarik justru bukan pada posisi kedua tangan Doni Monardo (sekalipun secara maknawi, itu jelas lebih bermakna). Lihatlah rambuat Doni Monardo yang mulai menipis. Sebagian kulit kepalanya tampak jelas, sebagai pertanda ia mengalami kerontokan rambut yang dahsyat.

Sangat kontekstual dengan masa-masa under-pressure bergelut dengan wabah Covid-19. Tentu beda jika kita sandingkan dengan foto terbaru Doni Monardo. Rambut Doni seperti pulih dari kerontokan, mulai tebal dan terhindar dari kebotakan.

Maknanya, Doni Monardo telah berhasil mengendalikan kerontokan rambut. Semoga, sukses yang sama dalam mengendalikan pandemi Covid-19. (Sumarno)

*) Sumarno, Jurnalis Senior, Staf Puskamnas Universitas Bhayangkara Jaya

Moment Khusus Dua Danjen Kopassus

Catatan Egy Massadiah Menyambut HUT Komando Pasukan Khusus ke-70

JAYAKARTA NEWS – Rangkaian kenangan tugas mengalun penuh irama, saat dua jenderal Kopassus bernostalgia. Yang satu Iwan Setiawan (Danjen Kopassus 2022 – ). Satunya lagi, Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo, (Danjen Kopassus 2014-2015).

Laksana lantunan “tembang kenangan”, bulir-bulir memori tugas masa lalu mengucur deras. Hubungan Iwan dan Doni bukan sekadar senior-junior atau abang-adik. Keduanya memiliki kenangan dalam serangkaian penugasan operasi militer di Timor Timur, Aceh, Papua, Poso, dan lain-lain.

Itulah yang terekam di Gedung PPAD, Jl. Matraman, Jakarta Timur, Selasa (12/4/2022), saat Iwan Setiawan menyambangi Ketua Umum PP Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD), Letjen TNI Purn Doni Monardo dan jajaran.

“Hari ini saya senang bisa bertemu bapak Doni Monardo. Silaturahim ini juga sebagai bagian dari syukuran ulang tahun Kopassus ke 70 pada 16 April ini,” ujar prajurit baret merah yang sukses memimpin ekspedisi pendakian gunung tertinggi di dunia, Mount Everest pada tahun 1997, saat masih berpangkat Letnan Satu.

Ketua Umum PP PPAD, Letjen TNI Purn Doni Monardo menerima kunjungan Danjen Kopassus Mayjen TNI Iwan Setiawan, di Markas PPAD, Jl, Matraman, Jakarta Timur. (foto: egy massadiah)

Iwan meminta Doni Monardo berkenan menyuluhkan bimbingan. “Bersama pak Doni saya memiliki hubungan emosional. Paling teringat saat Ekspedisi Khatulistiwa di Kalimantan, Maret – Juli 2012. Beliau brigjen saya letkol,” ujar pria kelahiran Bandung, 16 Februari 1968 itu.

Saat itu, Letkol Iwan di posisi Wadan Pusdikpassus (Pusat Pendidikan Komando Pasukan Khusus/Kopassus). Dalam ekspedisi tersebut, ia menjabat Kabag Ops di bawah komando Wadanjen Kopassus Brigjen Doni Monardo.

“Beliau benar-benar terjun ke lapangan, tidur menggunakan ponco perorangan, basah kehujanan serta mandi di selokan yang airnya mengalir dari kebun sawit. Bahkan makan mie instan bersama,” kenang Iwan tersenyum.

Perwira lain yang turut serta adalah Letkol Gusti Putu Danny Karya Nugraha, Letkol Jonathan Binsar Parluhutan Sianipar, Letkol Fitry Taufik Sahari (Pakorwil Kalbar Kalteng – Kahub Kopassus), Letkol Rafael Granada Baay, dll. Mereka, tim ekspedisi yang berhari hari menyusuri perbatasan RI-Malaysia di Kalimantan. Sejumlah perwakilan mahasiswa juga ikut terlibat.

Danjen Kopassus Mayjen TNI Doni Monardo (2014-2015) bersama para asisten dan komandan satuan. Tampak Kolonel Inf Iwan Setiawan di belakang-kanan Doni Monardo. (foto: dokpri)

Dicintai Rakyat

Iwan bertekad, ke depan akan mengisi kemampuan prajurit baret merah agar makin profesional, militan dan dicintai rakyat. Iwan memaparkan bahwa personil Kopassus terdiri atas Grup 1, (Serang), Grup 2 (Kartasura), Grup 3 (Cijantung), Pusdiklat Kopassus (Batujajar), dan Sat 81 Gultor (Cijantung).

“Tapi izin, Danjen Kopassus tetap pak Doni. Saya hanya penerusnya,” ujar Iwan dengan nada gurau. Doni Monardo tampak terpingkal di balik masker yang tak pernah lepas.

Pria yang dalam keseharian kental dengan keceriaan khas Sunda ini, lagi-lagi membuat Doni Monardo tertawa saat menceritakan bagaimana ia telah bergegas datang ke markas PPAD dengan harapan tiba lebih dulu, meski ia tamu.

“Tapi apa yang terjadi. Saya lapor ya Pak Doni, di sini banyak senior yang ternyata sudah tiba lebih awal. Wah, saya merasa sangat terhormat. Ya, begitulah, luar biasa,” kata Iwan yang merasa sangat tersanjung karena setelah acara selesai, Ketua Umum PPAD beserta sejumlah pengurus mengantarnya hingga naik ke mobil. Sebuah pemandangan mengharukan sekaligus membanggakan dari senior kepada yuniornya.

Diam-diam Iwan sudah menelisik tentang PPAD, organisasi wadah purnawirawan TNI-AD yang dipimpin Doni Monardo. “Saya dapat informasi yang luar biasa dari para karyawan dan staf. Kalau dulu ngantor seminggu sekali, sekarang Senin sampai Jumat,” kata Iwan disambut tepuk tangan pengurus PPAD dan tamu yang hadir.

Bukan hanya itu, Iwan juga mengetahui kalau PPAD sekarang menggulirkan politik kesejahteraan. “Maju terus pantang mundur, dengan misi prosperity policy,” ujar Iwan.

Mantan Danjen Kopassus Mayjen TNI Widi Prasetijono menjalani tradisi penyerahan satuan Korps Baret Merah kepada penggantinya Brigjen TNI Iwan Setiawan di Markas Kopassus, Cijantung, Jakarta, Jumat (8/4/2022). (ist)

Misteri Delapan

Ihwal pelantikannya sebagai Danjen Kopassus, lagi-lagi Iwan menyampaikannya dalam narasi yang ringan dan menghibur. “Angka delapan ada yang bilang angka bagus. Kebetulan angka itu kok sepertinya melekat terus ke saya,” kata Iwan sambil tersenyum.

Maksudnya adalah, Iwan dilantik menjabat Danjen Kopassus tanggal 8, lahir tahun 68, Danjen ke-35 yang kalau dijumlah menjadi angka 8, dan kode panggilan Danjen Kopassus adalah 08.

Benar. Iwan adalah Danjen Kopassus ke-35 yang dilantik pada Jumat, 8 April 2022 lalu. Sementara, Doni Monardo adalah Danjen Kopassus ke-27 (2014-2015). Jarak Doni menjabat ke Iwan juga ada 8 Danjen – yakni 35 dikurangi 27 adalah 8.

Jaga Silaturahmi

“Sebagaimana dulu Bapak contohkan kepada kami, sebelum ultah Kopassus, bapak selalu melakukan silaturahmi kepada para senior. Termasuk kami silaturahmi ke Jenderal Widjojo Soejono, Danjen Kopassus ke-6 (1967 – 1970). Saat saya sampaikan salam dari pak Doni Monardo, beliau cepat menjawab, ‘beliau orang baik. Sampaikan salam hormat kembali buat pak Doni’,” katanya.

Iwan memuji dalam usia di atas 90 tahun, Widjojo Soejono relatif sangat sehat. Iwan sempat menguak memori 11 tahun lalu, saat mendampingi Doni Monardo bersilaturahmi dengan Widjojo yang saat itu berusia 83 tahun.

“Entah pak Doni masih ingat atau tidak. Waktu itu bapak tanya apa resep sehat pak Widjojo Soejono,” berkata begitu, Iwan berhenti sejenak menatap ke arah Doni Monardo yang duduk di sebelahnya.

Belum sempat Doni menjawab, Iwan melanjutkan ceritanya. Saat ditanya resep sehat, Widjojo menyampaikan tiga rahasia tetap sehat di usia sepuh.

Pertama, tidak boleh nganggur. Kedua, harus menyalurkan hobi. Ketiga, cari perempuan muda. “Waktu itu pak Doni kaget dan bereaksi spontan. Pak Doni jawab, ‘yang nomor satu dan dua siap laksanakan, tapi yang nomor tiga tidak bisa’, dan kita semua tertawa,” ujar Iwan, disusul tawa Doni Monardo dan hadirin.

Yongmoodo

Iwan melanjutkan catatan kenangan tugasnya, saat menjabat Komandan Brigade Infanteri (Brigif) 22/Ota Manasa, Gorontalo (2013-2014). Kala itu, situasi Gorontalo cukup panas, akibat bentrok antara Brimob Polda Gorontalo dan Anggota Kostrad Yonif 221 Kabupaten Gorontalo, yang terjadi April 2012.

Dengan gaya kepemimpinan ala “kampung”, (istilah Iwan) ia menyongsong tugas itu dengan niat tulus. “Saya tidur di barak, mandi telanjang bareng prajurit, memimpin lari marathon tiga jam. Kami bikin kolam renang, saya ajarkan cara berenang dan menyelam memakai baju PDL lengkap. Saya beri materi bela diri. Nah, saat itu saya kembali minta tolong pak Doni,” ujar Iwan, lagi-lagi sambil melirik ke arah Doni Monardo.

Tahun 2013, Doni Monardo dalam posisi Komandan Paspampres. Iwan tahu betul, seniornya itu adalah Wakil Ketua Umum Federasi Yongmoodo Indonesia (FYI) periode 2012 – 2016. Yongmoodo adalah beladiri Korea yang menjadi salah satu cabang beladiri wajib di TNI.

“Saya minta bantuan pak Doni untuk mendatangkan pelatih yongmoodo ke Gorontalo. Pak Doni kirim lima guru yongmoodo, level Dan V. Yang terbaiklah. Terima kasih pak Doni,” kata Iwan. Doni tersenyum mendengar paparan juniornya yang memang terkenal jenaka.

Nah, seiring meningkatnya skill beladiri, sikap prajurit Brigif 22/OM justru makin runduk, seperti ilmu padi. Pelan tapi pasti, kasus laten perseteruan dengan polisi bisa menguap.

Foto dari udara, Markas Brigif Para Raider 3/TBS, Kariango, Sulsel yang dulunya gersang dan tandus, saat ini sudah sangat rimbun. Penghijauan dilakukan saat Doni Monardo menjabat Dan Brigif di sana (2006-2008). (foto: dokpri)

Trembesi Kariango

Sebenarnya sebelum urusan dukungan pelatih Yongmoodo, Iwan sudah pernah juga menerima bantuan langsung dari Doni berupa bibit pohon trembesi. Saat baru dilantik Dan Brigif Gorontalo, Iwan menyaksikan persoalan lahan tandus dan gersang. Iwan pun “merajuk” kepada abangnya. “Beliau lantas bilang, Wan ambil pohon sebanyak mungkin, yang bisa kamu bawa dan tanam di Gorontalo. Lalu saya disuruh ambil bibit pohon di kebun bibit Bgirig Kariango,” kisahnya.

Kariango adalah nama desa Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Di sanalah bermarkas Brigade Infanteri Para Raider 3/Tri Budi Sakti atau Brigif Para Raider 3/TBS, yang pernah dikomandani Doni Monardo periode 2006 – 2008. Iwan pun mendengar success story Doni Monardo menghijaukan wilayah Brigif Kariango yang gersang dan tandus. Di Markas Brigif itu, tepatnya di lokasi persemaian bibit, sebuah tulisan bersejarah masih terpatri, yakni : Dari Kariango Ikut Hijaukan Indonesia.

“Pak Doni adalah legenda hidup tokoh penghijauan di Kariango, Maros, dan banyak daerah lain di Indonesia. Kalau saya hanya mengambil sedikit untuk Gorontalo. Trembesi di Gorontalo identik dengan Iwan Setiawan, padahal bibit-bibitnya dari pak Doni juga… ha… ha… Saya juga ikuti jejak beliau, untuk terus menjalin komunikasi dengan teman-teman di Gorontalo. Kadang-kadang mereka yang menghubungi, berterima kasih ini dan itu, padahal saya sudah lupa pernah memberi apa,” kata Iwan Setiawan.

Karier Iwan selanjutnya Asops Kasdam IV/Diponegoro (2013-2014), lalu Dan Pusdikpassus Batujajar (2014-2015), Komandan Rindam Jaya di Condet, Jakarta Timur (2015-2016), lanjut Danrem 052/Wijayakrama (2016—2018) yang berkedudukan di Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang.

Sebagai pamen senior, ia pun menempuh pendidikan Lemhannas, dan tercatat sebagai peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LVII Tahun 2018. Lulus Lemhannas ia kembali ke Mabes AD.

Saat di Mabes AD, Iwan pernah bersilaturahim dengan Kepala BNPB Doni Monardo, sekitar pertengahan tahun 2019. Saya ikut menemani cengkerama nostalgia keduanya di lantai 10, ruang kerja Doni, Graha BNPB.

Tak lama berselang Iwan mendapat promosi bintang satu dan menjabat Komandan Korem 173/Praja Vira Braja atau Korem 173/PVB, berkedudukan di Biak, masa bakti 2020 – 2021.

Kenangan Putu Danny

In memoriam: Mayjen Anumerta Gusti Putu Danny Karya Nugraha yang gugur di Papua.

Selama 18 bulan tugas di Papua, Iwan lebih banyak menghabiskan waktu di gunung-gunung. Maklum wilayahnya sangat luas, meliputi 11 kabupaten di Papua. Boleh jadi, Iwan termasuk perwira tinggi paling banyak masuk hutan serta melakukan kontak senjata dengan Kelompok Kriminal Bersenjata Papua.

Iwan mengisahkan interaksi dengan juniornya, Brigjen TNI Gusti Putu Danny Karya Nugraha (AMN 1993), Kepala BIN Daerah (Kabinda) Papua, yang gugur tertembak Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua, Minggu (25/4/2021) sore. Kontak tembak terjadi di di Kampung Dambet, Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Papua. Almarhum kemudian mendapat kenaikan pangkat kehormatan menjadi Mayjen Anumerta.

“Hari Sabtu-nya saya masih komunikasi dengan Putu. Dia bahkan mengingatkan, jangan banyak masuk (hutan). Waktu itu saya baru turun dari Timika. Dan esoknya, hari Minggu sore saya mendapat kabar Putu tertembak,” ujar Iwan, pilu.

Setelah hening sejenak, Iwan melanjutkan penuturannya tentang tugas pasca Papua, yakni menjadi Waaslat Kasad bidang Kermamil.

“Empat bulan kemudian, mendapat kepercayaan amanat yang sangat terhormat dan sangat membanggakan, yakni menjabat Danjen Kopassus,” papar Iwan.

Unconvetional Warfare

Giliran Doni Monardo menanggapi Iwan Setiawan. Ingatan Doni dalam lipatan masa lalu mencuat, mengalir otomatis. Kalimat pertama Doni adalah, “Dia (Iwan) adalah perwira yang pantang menyerah, tangguh, dan tidak pernah mengeluh.”

Doni “terprovokasi” dengan ucapan Iwan yang mengatakan, bertekad menebalkan “marwah” Kopassus.

Doni juga sedih dan menyesalkan gugurnya para prajurit terbaik, terutama akhir-akhir ini di Papua. “Yang perlu pak Danjen Kopassus catat, salah satu kemampuan Kopassus adalah di bidang Unconventional Warfare. Yakni taktik dan teknik sebagai gerilyawan menghadapi lawan gerilya (separatis bersenjata). Kemampuan bergerilya yang unggul. Baik ketika melakukan gerilya maupun kontra gerilya. Itu kemampuan dasar yang tidak boleh hilang dari Kopassus,” papar Doni.

Sekadar mengilas balik sejarah penugasan, Doni Monardo adalah salah satu komandan yang tidak punya catatan “gagal dalam tugas”. Lebih dari itu, Doni Monardo adalah komandan dengan catatan membawa pulang prajuritnya dengan utuh, bahkan tanpa ada yang terluka satu pun.

“Sebelum berangkat ke medan tugas, kita siapkan prajurit secara matang. Untuk menghadapi gerilyawan, kita harus punya kemampuan gerilyawan juga. Melebihi kemampuan gerilya musuh,” tutur Doni Kepala BNPB 2019 – 2021 itu.

Penulis bersama Letjen TNI Doni Monardo (saat menjabat Kepala BNPB) bersilaturahmi dengan Xanana Gusmao. (foto: dokpri)

Bau Badan, Bau Sabun

Doni berkisah, bagaimana strategi menghadapi operasi di Timor Timur, Aceh, atau daerah operasi mana pun. Hal penting pertama yang harus dipahami adalah bagaimana mengumpulkan informasi tentang keseharian mereka (musuh). Dengan kata lain, harus bisa menjadi bagian dari kehidupan musuh.

Sebelum terjun ke medan operasi, pasukan Doni Monardo sudah mengetahui cara mereka berjalan, cara mereka memasak, cara mereka mencari makan, cara mereka beraktivitas, cara mereka mengintai pasukan TNI, cara mereka melakukan penghadangan, cara mereka melakukan penyergapan, dan semua informasi tentang kebiasaan musuh.

“Apa pelajarannya, bahwa kemampuan unconventional warfare adalah keharusan. Tidak ada pilihan lain. Nah untuk bisa sampai kepada kemampuan itu, dibutuhkan sabar dan tahan menderita. Butuh tenaga dan kerelaan berkorban,” ujar Doni.

Bagaimana hasilnya, seorang prajurit komando akan tangguh di medan operasi. Tahan lapar dengan tidak makan, mampu melakukan pergerakan tanpa menimbulkan bunyi, mampu bergerak tanpa meninggalkan aroma bau (bau badan, bau sabun, bau shampoo, apalagi bau deodorant).

Tahun 2015, Danjen Kopassus Mayjen TNI Doni Monardo memberikan jaket baret merah kepada Boy Eluay, putra mendiang Theys Eluay. Boy pun menjadi “keluarga korps baret merah”. (foto: dokpri)

Theys Eluay

Doni juga mengilas sejarah Satgas Rajawali. Anggotanya terdiri atas Kopassus, Marinir, dan Infanteri TNI-AD. Sebelum berangkat ke medan operasi, semua dikonsolidasikan dulu dalam satu manajemen terintegrasi. Belajar dulu dari anggota OPM/GPK yang telah sadar. Mereka dijadikan narasumber untuk memberi informasi bagaimana latihan, cara makan, cara berhubungan dengan masyarakat, dan lain-lain.

“Waktu itu saya bilang ke pak Komar (Mayjen TNI Purn Komaruddin Simanjuntak, Sekjen PP PPAD-pen). Bahwa kelompok separatis bukan sembunyi di hutan atau di gunung, tapi sembunyi di bawah lidah rakyat. Kita harus melawan dengan kemampuan tempur dan territorial. Kalau kita punya kemampuan teritorial yang baik, rakyat dengan mudah akan membuka lidahnya. Dalam arti buka mulut memberi informasi apa saja yang kita butuhkan,” kata Doni Monardo.

Logika sederhana, di atas (gunung, hutan) sulit menemukan makanan. Karena itu, kelompok separatis atau KKB atau apa pun istilahnya, pasti tetap bersandar kepada masyarakat non-combatan. Cepat atau lambat mereka akan masuk kampung. “Jadi, ini meliputi kombinasi perang intelijen, gerilya, teritori, dan IT sekaligus. Dengan begitu, korban bisa diminimalisir dan kemampuan melumpuhkan semakin kuat,” tambahnya.

Dalam kapasitas sebagai Ketua Umum PPAD, Letjen Purn Doni Monardo menyampaikan kesiapannya membantu juniornya. “Meski kami sudah pensiun tapi selalu siap jika diperlukan. Kami tidak tega bahkan miris mendengar berita korban di pihak TNI atau Polri,” tegas Doni.

Doni pun membagi pengalaman yang bisa dipetik sebagai pelajaran. Salah satunya adalah bagaimana mengubah status lawan menjadi kawan. Pengalaman di Timor Timur dan Papua ia jadikan sebagai contoh kasus.

Betapa pasca kematian tokoh OPM, Theys Eluay November 2001, situasi Papua memanas. Doni Monardo tahun itu masih berpangkat Letkol dan menjabat Dandenma Paspampres. Tiga-belas tahun kemudian, saat Doni Monardo memuncaki jabatan Danjen Kopassus, ia melakukan pendekatan dengan keluarga Theys.

Pada ulang tahun Kopassus ke-63 tahun 2015, Doni Monardo mengundang Boy Eluay, putra pertama Theys Eluay. Doni ingat dua perwiranya yakni Letkol Richard Tampubolon (sekarang Mayjen – Pangdam Pattimura) dan Letkol Joe Sembiring ditugaskan mengawal misi undangan perdamaian itu.

Doni memberi jaket komando kehormatan kepada Boy Eluay dan dianugrahi “keluarga baret merah”. Yang terjadi kemudian adalah sikap saling memaafkan dan melupakan serta menerima masa lalu sebagai sebuah takdir. Deklarasi damai itu bahkan disaksikan Lily Wahid (Hj. Lili Chodidjah Wahid), adik kandung mendiang Presiden Gus Dur.

Saat ini, Yanto Eluay (adik Boy Eluay Almarhum) bahkan berada di garis terdepan dalam membela NKRI. Sikapnya tegas dalam mendukung NKRI, dan tegas pula dalam mengecam aksi KKB sebagai “mencoreng masyarakat adat Papua”. Yanto adalah pewaris posisi ondofolo (ketua suku) Kampung Sereh, Sentani, Papua. “Posisi kepala suku sangat kuat di Papua. Ini harus diperhatikan,” pesannya kepada Iwan.

Hubungan baik itu bahkan tetap dijaga hingga hari ini. “Setiap mereka ke ibukota, harus ada pendampingan dari keluarga besar baret merah. Mereka sudah menjadi keluarga besar baret merah,” kata Doni seraya menambahkan, “jalinan yang tak boleh putus itu bertujuan untuk mengurangi beban konflik di waktu-waktu yang akan datang.”

Iwan diminta meletakkan pondasi di Satuan Sandi Yudha atau yang lain. Agar dibentuk tim yang bekerja tidak saja saat mereka di Papua atau medan operasi lain. Tugas mereka merajut hubungan dengan para tokoh yang semula berseteru, lalu berbalik menjadi satu. Dulu lawan, sekarang kawan.

Bukan saja di Papua, potensi konflik itu boleh jadi masih ada di tempat-tempat lain. Nah, peran tim tersebut menjadi sangat strategis. “Tujuannya untuk menurunkan risiko konflik di masa sekarang dan masa datang,” tegas Doni.

Milik Bersama

Pesan penting lain dari Doni adalah, jangan membuat kesan seolah-olah lebih menonjol dibanding yang lain. Jangan banding-bandingkan Kopassus dengan satuan mana pun. Kopassus harus bisa menjadi milik bersama. Bisa menjadi pasukan yang dicintai oleh semua.

Saat Doni beracara di Hawaii, Amerika Serikat, ia sempat didatangi seorang komandan pasukan khusus dari sebuah negara. Ia bertanya bagaimana strategi mengubah lawan menjadi kawan.

Kepada Iwan, Doni mengingatkan kembali serta menekankan pentingnya menangkap musuh atau menaklukkan musuh tanpa keluar sebutir peluru pun. “Saya katakan, berbanggalah kalau bisa menaklukkan musuh tanpa letusan senapan,” ungkap Doni.

Akhir tahun 2019, saat Doni Monardo meluncurkan program Katana (Keluarga Tangguh Bencana) di Lhok Nga, Aceh Barat, tengah malam menyempatkan diri untuk bersilaturahmi dengan kawan-kawan eks GAM. (foto: dok pri)

Buku Aceh

Ada satu peristiwa lagi yang sangat mengesankan bagi Doni dan Iwan saat bertugas di Aceh. “Waktu itu Mayor Inf Iwan Setiawan adalah Kasi Ops Satgas Aceh. Saat akan mengakhiri tugas, dia telepon saya, ‘bang izin saya menghadap’,” tutur Doni mengenang.

Iwan pun menghadap Doni. Rupanya, ia hendak menyerahkan sebuah buku sambil mengatakan, “Mungkin buku ini berguna bagi abang.” Mata Doni terbelakak. Buku yang ia terima berisi semua nama dan nomor telepon tokoh (prominent people), baik di Indonesia atau di luar negeri, yang erat kaitannya dengan “operasi Aceh”.

“Berkat buku dari Iwan itu saya bisa membongkar jaringan Aceh termasuk yang di luar negeri. Luar biasa. Rupanya dia mendapat dokumen itu, dan selama ini dia simpan. Begitu mau pulang, baru diserahkan kepada saya. Wah, terima kasih Wan… bukumu sangat berharga buat saya,” kata Doni kepada Iwan.

Iwan menjawab cepat, “Saya serahkan kepada orang yang tepat.”

Purna silaturahmi, Iwan sempat meminta Wadanjen Kopassus Brigjen TNI Deddy Suryadi yang ikut mendampingi untuk membuat prasasti dari kalimat yang ada di dekat sosok Jenderal Widjojo Soejono. Tulisan itu berbunyi, “Bayangkari negara baru berhenti berjuang jika tidak lagi mampu mendengar tembakan salvo di samping telinga.”

Dirgahayu Komando Pasukan Khusus ke 70 tanggal 16 April 2022. (*)

*) Egy Massadiah, Penulis adalah wartawan senior, Tim Bidang Komunikasi PPAD (Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat), aktif menulis buku dan Ketua Yayasan “Kita Jaga Alam”

Pelangi Testimoni Citarum Harum

JAYAKARTA NEWS – Siang itu, bukit Cisanti yang merupakan hulu Sungai Citarum cukup sejuk. Langit melukiskan suasana “mendung tanpo udan”. Sebuah tenda berbalut kain merah-putih tampak megah, dengan hamparan karpet dan meja pendek, pertanda di situ akan digelar acara reriungan sambil lesehan.Di meja, selain benda wajib hand sanitizer, tampak satu piring berbalut tutup plastik wrap berisi kacang rebus, jagung rebus, dan umbi rebus. Kasdam III/Siliwangi, Brigjen TNI Dian Sundian sebagai tuan rumah, tampak sudah ada di lokasi, saat penggagas Citarum Harum, yang juga mantan Pangdam III/Siliwangi, Letjen TNI Purn Doni Monardo tiba di tempat.

Doni Monardo langsung memandang sekeliling area titik nol, hulu Sungai Citarum yang sangat sejuk penuh pepohonan. “Luar biasa… padahal dulu tempat ini gersang,” kata Doni sambil tertawa senang.

Prajurit Siliwangi tampak siaga dan sigap mengatur rangkaian acara kunjungan Doni Monardo yang saat ini menjabat Komisaris Utama PT MIND.ID, sebuah perusahaan konsorsium yang membawahkan perusahaan-perusahaan tambang milik negara. Ia mengajak serta jajaran direksi dan staf BUMN-BUMN tambang untuk melihat dari dekat program Citarum Harum. Harapannya, BUMN-BUMN tambang bisa mengambil hal-hal positif dari Cisanti untuk diaplikasikan dalam mereklamasi lahan bekas tambang di penambangan masing-masing.

Kasdam Brigjen Dian mengucapkan selamat datang kepada seluruh hadirin. Sebagai pejabat yang belum lama menjabat, ia mengaku langsung terlibat pula dalam program Citarum Harum warisan Doni Monardo. “Jika Sungai Citarum makin baik kondisinya, itu bukti bahwa Satgas bekerja. Meski begitu, kami tetap memohon arahan kepada pak Doni serta para senior.

Mayjen TNI Purn Yosua Pandit Sembiring, mantan Kasdam III/Siliwangi era Doni Monardo menggagas Citarum Harum. (foto: een irawan putra)

Tampak hadir dan menyampaikan testimoni, Mayjen TNI Purn Yosua Pandit Sembiring. Mantan Pangdam XVII/Cendrawasih itu adalah Kasdam III/Siliwangi era Pangdam Doni Monardo. Karenanya, ia tak bisa melupakan bagaimana awal mula lahirnya Program Citarum Harum.

“Saat wisuda purna wira di Magelang beberapa waktu lalu, pak Doni memang mengatakan rencana beliau mengadakan acara seperti yang kita saksikan hari ini. Sampai kemudian pak Doni menelepon dan mengajak ikut acara ini. Meski sejak itu kami jarang bertemu, tapi saya yakin moment ini memang bakal terjadi. Saya kenal betul karakter baliau,” kata Sembiring, sambil memandang Doni Monardo yang duduk di sebelah kirinya.

Sungai Citarum sangat besar arti, nilai, dan manfaatnya bagi masyarakat. Mengaliri tiga waduk sekaligus, Saguling, Carita, dan Jatiluhur. Ada jutaan orang yang menggantungkan hidupnya pada sungai ini. “Tiba saatnya saya mengetahui perihal status Citarum sebagai sungai terkotor di dunia,” ungkap Yosua.

“Kalau tidak salah urutannya, sungai terkotor pertama adalah Sungai Sarno Italia. Yang kedua, sungai Gangga di India. Ketiga sungai Pasig di Filipina. Keempat, Citarum di Indonesia. Dan kelima sungai Yellow River di Tiongkok,” katanya.

Konon, pernah ada statement kampanye saat pilkada yang mengatakan, bahwa di tahun 2017, air sungai Citarum sudah bisa diminum. “Faktanya, malah mendapat predikat sungai terkotor di dunia. Jadi, terus terang, sebelum Citarum Harum sudah banyak program memulihkan kondisi Citarum, tapi baru Citarum Harum yang berhasil,” katanya, bangga.

Yosua Sembiring menengarai, ketidakberhasilan program-program pemulihan Citarum yang terdahulu, karena dikerjakan secara sektoral. “Pak Doni masuk menjadi Pangdam kalau tidak salah 14 November 2017, empat bulan kemudian lahir Perpres Nomor 15 tahun 2018. Perpres ini mengatur dan melibatkan semua pihak. Dan sebelum lahir Perpres, kami hampir tiap hari rapat tiga kali, persis seperti orang minum obat,” katanya disusul tawa hadirin.

Selesai rapat bisa jam 22.00 atau 23.00, masih harus menyiapkan surat-surat. Praktis jam 02.00 dinihari baru istirahat. “Sejak itu saya banyak suntik vitamin,” katanya, lagi-lagi sambil tertawa.

Sejak menangani Citarum bersama Doni Monardo, sejak itu pula Yosua Sembiring menjadi “jenderal pro lingkungan”. “Karena saya paham betul penting dan strategisnya lingkungan dan ekosistem yang terjaga. Alhasil, ketika saya menjadi panglima di Papua, saya babat semua tambang-tambang liar. Tidak sedikit yang mencoba-coba menyuap,” katanya.

Yosua juga terinspirasi saat Doni Monardo membabat penambangan liar di Gunung Botak, Pulau Buru, Maluku. Itu pula yang ia jadikan pedoman. “Agak ngeri juga permainan para penambang liar itu. Tapi prinsip saya, lu jual gua beli, tidak ada urusan,” katanya tegas.

Begitu dalam ia tenggelam dalam program Citarum Harum, sampai-sampai anak-anaknya pun ikut melibatkan diri. “Mereka yang bikin taman di Cisanti. Sempat diwawancarai media segala…. Saya senang, anak-anak pun mulai peduli dengan Citarum,” kata Yosua.

Ia merasa sangat beruntung pernah bekerja langsung di bawah komando Doni Monardo. “Kita semua pasti tahulah, beliau seorang perwira pekerja keras, punya integritas, kapabel, dan visioner. Karenanya, saat menjadi Kasdam semua staf saya dorong untuk mengikuti irama beliau. Kalau beliau lari 150 km per jam, paling tidak kita mendekati angka itulah…. Saya motivasi mereka, ruh komando tidak harus menjadi prajurit komando, tapi warisi spiritnya, yaitu pantang menyerah,” ujar Yosua.

Happy dan Was-was

Anang Sudarna

Sementara itu, mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat, Anang Sudarna menambahkan, “Saya hadir di sini dengan dua perasaan: Happy dan was-was. Happy karena bisa silaturahmi dengan para pelaku dan penggiat Citarum Harum. Was-was tentang bagaimana nasib Citarum pasca berakhirnya Perpres tahun 2025,” katanya.

Air di Sungai Citarum memang sudah jauh lebih bersih dibanding empat tahun lalu. Yang perlu dikaji saat ini adalah apakah masyarakat sudah terlibat secara maksimal. Tidak saja membersihkan air, tapi juga menjaga kualitas kebersihan, bersih lingkungan, bersih rumah, bersih udara. Jadi selain bicara kualitas air, juga kualitas udara.

Karena itu, Citarum Harum perlu dibarengi program pengelolaan sampah. Menurut penelitian, sampah rumah tangga 56 – 58 persen adalah sampah organik. Selebihnya ada sampah kertas, plastik, gelas, kain, dan sebagainya. Itu artinya, sebagian besar sampah bisa dimanfaatkan.

Kalau tidak salah ada sekitar 1.400 desa yang berada di tepian Sungai Ciliwung, mulai dari Cisanti sampai Muara Bendera dekat Muara Gembong, Bekasi. Jika semua desa itu bisa mengelola sampah dengan baik, niscaya kualitas hidup masyarakat juga akan jauh lebih baik.

Prima Mayaningtyas

Bicara setelah Anang, adalah Prima Mayaningtyas, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat. Ia membenarkan, bahwa perhatian terhadap Citarum sudah ada sejak dahulu kala. Pernah ada program Citarum Bergetar, Citarum Geulis, Citarum Bestari. “Baru di Citarum Harum bisa dikatakan berhasil,” katanya.

Dalam banyak kesempatan Gubernur Ridwan Kamil mengatakan, bahwa yang bergerak di lapangan adalah TNI. Kualitas air Citarum tahun 2018 cemar berat 33,43 persen, naik menjadi 55 persen di kadar tercemar ringan. “Kami memantau di 150 titik, dan 100 titik di antaranya dilakukan sinkronisasi. Kualitas ketercemaran belakangan naik menjadi 50 persen, tapi masih dalam kategori tercemar ringan. Kami yakin masih terkendali sepanjang koordinasi tetap terjalin,” ujarnya.

Keberhasilan Citarum Harum bahkan sudah terdengar oleh telinga dunia. Gubernur Jawa Barat diundang ke Glasgow untuk presentasi Citarum Harum. Di sana, Gubernur Ridwan Kamil menyebutkan peran besar TNI dalam keberhasilan itu. Semua peserta sempat kaget, demi mendengar peran yang begitu besar dari TNI dalam pemulihan lingkungan.

Prima juga mendapat keluhan dari Dansektor mengenai sulitnya berkomunikasi dengan pejabat lingkungan hidup di tingkat kabupaten/kota. Untuk itu, ia telah mengeluarkan SK tentang naradamping dari Gubernur sebagai fungsi koordinator dengan naradamping di tingkat kabupaten/kota, agar bisa lebih sinergis dengan para Dansektor. “Saya berharap, tahun 2025, program Citarum Harum bisa sukses,” harap Prima.

Ada Tentara

Irma Hutabarat

Aktivis lingkungan Irma Hutabarat yang tampak hadir di Cisanti, unjuk kenangan saat dirinya bergelut dengan pemulihan situ Cisanti “sendirian”. “Saya beberapa kali mengadu ke pak Doni saat beliau menjabat Pangdam Pattimura. Tapi saat itu, beliau sedang sibuk dengan program emas biru dan emas hijau di sana,” katanya.

Tiba saatnya Doni Monardo bergeser menjadi Pangdam III/Siliwangi, 2017. Ia termasuk yang diundang, bersama Ipong Witono dari Wanadri, dan lain-lain. Doni minta masukan. “Sejak itu, ada anggota prajuritnya yang empat bulan di Cisanti tidak pulang-pulang.

Sampai sekarang, Irma masih rajin ke Cisanti menanam vetiver untuk mencegah longsor di daerah-daerah dengan tingkat kemiringan terjal. “Sejauh ini saya melihat masyarakat tertib, tapi karena ada tentara. Persoalannya, setelah 2025, apakah tanpa tentara kondisi masyarakat di bantaran Citarum masih bisa tertib?” tanya Irma.

Dini Dewi Heniarti

Acara siang itu juga dihadiri Dini Dewi Heniarti, dosen hukum Unisba yang menjadi “the women behind” lahirnya Perpres 15/2018. “Pertama kali ketemu pak Doni saya benar-benar merasa tertampar. Beliau mengatakan, banyak sarjana hukum yang hanya menyalahkan tentara, tentang HAM-lah, tentang demokrasi-lah…. Mana sarjana hukum yang bicara HAM Lingkungan?”

Lalu Doni pun bicara panjang lebar tentang ekokrasi, ujungnya ke program Citarum Harum. Ia membutuhkan draft Perpres untuk memayungi program tersebut. Dini pun merencanakan seminar nasional tentang Citarum. Sebuah seminar yang bermuara pada lahirnya Perpres.

“Saya pikir ngapain nunggu selesai seminar. Saya langsung kebut bikin draft Perpres. Empat jam selesai. Jam 08.00 sampai jam 12.00. Lalu jam 14.00 saya menghadap Kasdam pak Yosua. Beliau sedang diinfus vitamin. Tapi buru-buru infus dicabut, dan beliau langsung ikut rapat dalam kondisi kurang fit. Luar biasa semangatnya,” kenang Dini Dewi.

Dini mengaku memang tidak banyak berkotor-kotoran di Citarum. Ia bermain di ranah akademik. Hasilnya, sangat banyak mahasiswa S1, S2, bahkan S3 yang menulis skripsi, tesis, dan disertasi yang mengangkat Sungai Citarum. “Karena dikerjakan menggunakan teori dan metodologi ilmiah, maka hasilnya pun menjadi ilmiah. Jika ada yang membantah, harus melakukannya dengan cara yang sama,” katanya.

Peran TNI memang sangat dominan. Itu tergambar dari skripsi, tesis atau disertasi mengenai Citarum Harum. Tergambar bagaimana TNI menjadi penggerak bersama unsur masyarakat yang lain. Kolaborasi pentahelix. Peran TNI mengubah dan mengakselerasi program. “Dalam melakukan penelitian, para mahasiswa juga pasti mewawancarai para Komandan Sektor, di samping masyarakat,” ujarnya.

Ipong Witono

Berikutnya, berbicara Ipong Witono, tokoh Wanadri. “Kami memiliki program kaderisasi. Termasuk aktivis Wanadri yang aktif di Citarum Harum. Selama ini kami banyak berkiprah di Sektor 22, Citarik,” katanya.

Ipong juga mengagumi sepak terjang Doni Monardo. Bukan saja saat menjadi Pangdam III/Siliwangi dan memberi komando langsung keberhasilan Citarum Harum, tapi juga ketika Doni Monardo mendapat penugasan sebagai Kepala BNPB/Ketua Satgas Covid-19.

Ia bahkan masih teringat, ketika ada seorang aktivis mengkritik Doni Monardo di media massa. “Pak Doni bertanya kepada saya, ‘pak Ipong kenal penulisnya kan? Bisakah saya diperkenalkan? Saya ingin belajar dari dia’. Sungguh sikap yang sangat mengagumkan. Dan sejak itu, rasanya tidak ada satu pun aktivis atau penulis yang mengkritik program Citarum Harum, sebaliknya bahkan memberi dukungan yang luar biasa,” kata Ipong.

Didik Prasetyo

Reriungan siang itu juga dihadiri Dirut PTPN VII, Didik Prasetyo. Mantan Komut PT PAL itu ternyata memiliki hobby yang sama dengan Doni Monardo. “Benar pak Doni. Ke mana pun saya pergi, selalu bawa bibit pohon. Setiap melihat ada lahan kritis, langsung saya tanam pohon di situ. Pokoknya saya maunya nanam pohon terus…. Kebetulan disiplin saya dari Kehutanan,” ujar Didik.

Setelah mendapat tugas menjadi Dirut PTPN VIII yang banyak bersinggungan dengan Citarum, ia pun mengikuti dengan seksama program tersebut. “Saya sangat mengapresiasi keberhasilan program Citarum Harum. Harapan saya, success story Citarum Harum bisa ditularkan ke tempat-tempat lain. Masih sangat banyak sungai yang tercemar berat. Masih banyak sekali lahan kritis di negeri ini,” pungkasnya.

Media Darling

Brigjen TNI Purn Yudi Zanibar

Para Komandan Sektor angkatan pertama juga diberi kesempatan berbicara. Adalah Brigjen TNI Purn Yudi Zanibar yang menjadi jubir. “Kami benar-benar terbakar ketika Panglima (Pangdam Doni Monardo-pen), mengatakan, jangan sampai maung jadi meong, gara-gara kita tidak peduli dan membiarkan masalah pencemaran Citarum terjadi di depan mata,” ujarnya.

Ia pun mengenang suka-duka saat-saat awal menjadi Dan Sektor Satgas Citarum Harum. “Pak Doni ketika itu bilang, jangan bangga sudah menanam sejuta pohon. Aku ingin tahu, berapa pohon yang hidup. Kalau cerita menanam pohon, barangkali sejuta dua juta, semiliar pohon bisa ditanam, Bahkan kalau perlu lautan pun ditanami pohon. Pak Doni menekankan, berapa pohon yang jadi, atau yang hidup, itu yang beliau catat,” katanya.

Doni Monardo ia sebut panglima yang konsekuen. “Bayangkan, untuk operasional lapangan kami hanya diberi uang 800 ribu rupiah. Tapi setelah menghadap panglima, saya dikasih lima juta,” katanya sambil tertawa.

Karenanya, kepada Dan Satgas yang sekarang bertugas, ia menekankan agar jangan menyia-nyiakan tugas itu. Harus dijadikan pengalaman berharga. “Dulu kami tidak ada uang. Perpres belum turun, yang penting kami hajar dulu. Bekerja untuk lingkungan, seperti kata pak Doni harus diniatkan untuk ibadah, jangan niat yang lain,” katanya, seraya menambahkan, “dan kalau sudah pensiun seperti saya, ujung-ujungnya masuk PPAD.”

Hadirin tertawa mendengar paparan Yudi yang energik, spontan, dan tak jarang mengundang tawa. Termasuk Doni Monardo. Ia tertawa lebar ketika disinggung PPAD. Ya, Doni Monardo saat ini juga menjabat Ketua Umum Pengurus Pusat PPAD (Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat).

Alhasil, ia bersyukur ketika bintang jatuh ke pundaknya. “Bayangkan, seorang pamen khusus bisa langsung jadi Brigjen. Saya kira itu buah dari kebaikan yang kita tanam. Kerja ikhlas. Kerja yang mungkin biasa-biasa saja, tapi semata-mata kerja mencari ridho Allah,” ujar Yudi.

Yang juga sangat mengesankan adalah, sosoknya yang seolah menjadi “media darling”. “Semua wartawan asing mewawancarai saya. Jadi gambar saya ada di mana-mana, bahkan nyebar ke seluruh dunia. Apa tidak bangga,” katanya sambil tertawa.

Sampai saat ini, Yudi masih menyimpan kontak para wartawan dari 25 negara. “Bahkan video-video presentasi, baik yang digunakan oleh Kodam, oleh Dinas Lingkungan Hidup, itu video saya…. Bener kan bu Prima?” kata Yudi kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jabar, Prima Mayaningtyas. Prima mengangguk dan tertawa.

Kolonel Inf Belyuni Herliansyah

Setelah Yudi, giliran bicara berikutnya adalah Dan Sektor aktif. Tampil menjadi jubir Kolonel Inf Belyuni Herliansyah, yang saat ini menjabat Dan Sektor 2 Satgas Citarum yang ada di sekitar Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung.

Sebelum bertugas di Sektor 2, ia sudah beberapa kali menjabat Dan Sektor di sektor-sektor lain, antara lain Sektor 8, 10, dan 13. “Kendala dan tantangan di masing-masing sektor berbeda. Ada satu peristiwa saat kami sangat sulit mengajak aparat Pemda untuk bersama-sama membersihkan sampah. Akhrinya kami kerjakan secara mandiri. Sampai akhirnya ada institusi yang meminjamkan eskavator, meski tanpa BBM,” katanya jujur.

Sampah-sampah itu kemudian ditimbun dalam lubang-lubang besar yang telah dibikin sebelumnya. Di atas timbunan sampah, mereka membangun taman, sarana olahraga, dan fasilitas umum lain sehingga menjadi bermanfaat buat masyarakat. “Sejauh ini, keterlibatan Pemda Tingkat Dua masih belum optimal. Karenanya saya mengajak aparat Pemda agar berpikir bagaimana melanjutkan program ini pasca 2025. Jangan sampai Citarum kembali kotor penuh sampah,” kata Belyuni.

10 Pohon Sehari

Eyang Memet

Forum Cisanti Sabtu siang itu juga menjadi sangat terhormat karena hadirnya Eyang Memet. Tokoh Sunda yang dikenal sebagai aktivis penanam pohon. Ia rajin menanam pohon sejak usia 12 tahun. Eyang Memet, bernama lengkap Achmad Surahman. Ia tinggal di Kampung Papakmanggu, Pasir Jambu, Kabupaten Bandung. Di sana pula kebun bibit CV Walatra ia kelola dengan tekun.

Hingga hari ini, di usia yang lebih 70 tahun, Eyang Memet masih aktif menanam pohon. Sepuluh pohon tiap hari. Sungguh aksi luar biasa dari seorang manusia hebat.

“Terima kasih pak jenderal (Doni Monardo). Anda masih berbicara tentang purwadaksi. Itu kenangan waktu kita awal berjumpa. Pertemuan ini menjadi sangat bermakna. Saya pribadi berpendapat, orang yang cepat melupakan sejarah patut diragukan kredibilitasnya, dan jenderal Doni sangat menghargai sejarah,” katanya.

Eyang Memet pun masih teringat jelas kata-kata Doni Monardo saat pertama kali rapat di Makodam III/Siliwangi. “Pak Doni waktu itu berkata, kita semua sudah bekerja. Kita semua sudah bekerja tapi belum pernah bekerja sama. Itulah yang melahirkan konsep kolaborasi pentahelix. Insya Allah inspirasi pak Doni akan terjaga. Dua minggu lalu kami berkumpul dengan para aktivis pecinta alam yang ada di Jawa Barat. Spirit Bapak menjiwai pertemuan kami,” katanya, haru.

Jika ada yang ia harapkan saat ini adalah, hadirnya kebun bibit di tiap-tiap sektor. Tidak hanya terkonsentrasi di satu sektor. Konsep pembibitan dan penanaman pohon dengan kearifan lokal di masing-masing lokasi. “Menanam pohon tidak hanya dari sisi konservasi, tapi juga dari sisi religi, bahkan sisi budaya dan ekonomi,” katanya.

Kepada Doni Monardo ia menyampaikan bibit pohon kina yang akan ditanam mulai November 2022 ini. Ia berharap, dengan memperbanyak penanaman kina, akan mengurangi efek banjir tahunan yang selalu melanda Bandung. “Pohon kina ini punya nilai historis tinggi di Bandung. Mungkin banyak yang lupa, bahwa di Bandung ini ada PPTK, Pusat Penelitian Teh dan Kina. Alhasil, dengan menghidupkan lagi kina di Bandung, tidak saja bermanfaat dari sisi konservasi tapi juga bernilai ekonomi,” tambah Eyang Memet.

Eyang Memet berharap ada dukungan dari para pihak terhadap tekadnya menanam 30.000 bibit pohon kina tahun ini. “Saya bertekad mengawali. Apalagi saya sudah terbiasa menanam pohon, sejak rambut hitam sampai rambut saya putih semua,” ujarnya.

Mochamad Saleh Nugrahadi, Ph.D

Lebih terhormat lagi, karena forum siang itu juga dihadiri pejabat Kemenko Maritim dan Investasi (Marves). Hadir dan memberi testimoni, Mochamad Saleh Nugrahadi, Ph.D, Asisten Deputi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Konservasi Sumber Daya Alam pada Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan, Kemenko Marves RI.

Ia diminta menghadiri acara siang itu oleh Nani Hendiarti, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan, Kemenko Marves. “Bukan berarti Ibu Nanti tidak ingin bertemu pada Dan Sektor, tapi insya Allah beliau akan segera bertemu bapak-bapak sekalian,” katanya membuka testimoni.

Saleh me-rewind kunjungan Menko Marves Luhut B Panjaitan ke Bandung, 7 September 2021. Ketika itu, Menko Luhut menerima laporan pelaksanaan Perpres Citarum Harum. Semua laporan telah diteruskan ke Presiden Joko Widodo melalui surat resmi Menko tanggal 17 Maret 2022. “Intinya, pekerjaan bapak-bapak sudah sampai dengan resmi kepada pimpinan tertinggi,” katanya.

Menko Luhut juga selalu antusias memantau perkembangan Citarum Harum. Bahkan dalam kunjungan kerjanya ke Jatiluhur dan Bojongsoang beberapa waktu lalu, Menko Luhut mengajak dua mitranya, yaitu Dubes Jerman dan pejabat Bank Dunia. “Pak Menko sangat sering mempromosikan bagaimana perkembangan Citarum di forum-forum internasional,” kata Saleh.

Seperti sering diungkapkan Menko Luhut, bahwa pekerjaan Citarum Harum adalah pekerjaan hati. Program kemanusiaan. Tanpa hati dan rasa kemanusiaan yang tinggi, tidak mungkin Citarum Harum berhasil.

Ahmad Ikhsan

Yang juga diberi waktu untuk memberi testimoni adalah Kepala Desa Tarumaja Ahmad Ikhsan. “Sebagai kepala desa Tarumajaya, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, serta mengapresiasi program Citarum Harum pak Jenderal (Doni Monardo-pen),” katanya.

Ia melanjutkan, “Saya lahir di sini. Ada perubahan yang sangat luar biasa khususnya di desa kami. Di mana kedung yang semula airnya berwarna cokelat sekarang sudah hijau. Mudah-mudahan diikuti desa-desa yang lain.”

Ikhsan yang juga ketua Apdesi (Asosiasi Pemerintah Desa Indonesia) ini mengetahui persis, desa-desa yang ada di Kecamatan Kertasari yang jumlahnya ada delapan desa. “Persoalan sampah pun sudah tertangani dengan sangat baik. Tiap desa ada unit pengelolaan sampah sendiri. Dengan adanya program Citarum Harum, desa-desa sudah bisa mengelola sampah secara mandiri. Terima kasih, jenderal,” kata Ikhsan pula.

Desa yang ia pimpin memiliki luas 3.900 hektare dengan jumlah penduduk 16.000 jiwa. Sebagian besar mereka tinggal di bantaran Sungai Citarum. “Jika diperkenankan kepada Dinas Lingkungan Hidup, kami masih membutuhkan satu unit pengolah sampah untuk Dusun Lodaya. Dusun itu juga dekat dengan lokasi PTPN VIII. Banyak warga dan karyawan membuang sampah di kebun teh,” katanya. Permintaan itu juga ia tujukan kepada direksi PTPN VIII. “Bahkan ke kementerian pun kami sudah bersurat. Semoga ada yang segera memenuhi permintaan kami satu unit pengolah sampah,”

Terakhir, ia minta otoritas yang kompeten untuk menetapkan hak dan kewajiban bagi petani kopi yang ada di wilayahnya. Dengan adanya kejelasan, diharap masyarakat lebih antusias berkebun kopi, yang diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Penggagas Citarum Harum, Letjen TNI Purn Doni Monardo dan Ketua Harian Satgas Citarum Harum, Mayjen TNI Purn Dedi Kusnadi Tamim.

Cucuran Semangat

Sebelum statemen pamungkas dari Letjen TNI Purn Doni Monardo selaku penggagas Citarum Harum, giliran berbicara Ketua Harian Satuan Tugas Citarum Harum Mayjen TNI Purn Dedi Kusnadi Tamim.

Kepada para mantan Dan Sektor maupun Dan Sektor Aktif, Dedi juga menyampaikan apresiasinya. “Berkat kerja keras semuanya, Sungai Citarum lebih baik, bisa dinikmati dari hulu sampai hilir. Tak lepas pula dari peran dinas-dinas terkait, unsur LSM dan unsur masyarakat lain serta media,” katanya.

Ia sangat optimis akan keberhasilan program ini. Terlebih di beberapa sektor ada keterlibatan aktif para tokoh.

Kepada Dan Sektor ia berpesan agar tidak sekali-kali mengotori apa yang sudah dilakukan para pendahulu. “Mungkin banyak peluang untuk berbuat kotor, tapi ingatlah, yang kita lakukan semata-mata untuk masyarakat, untuk kepentingan generasi mendatang, dan semua kita kembalikan kepada Tuhan,” tambah Mayjen Purn Dedi.

Sisa waktu Perpres hingga tahun 2025 harus dioptimalkan. “Khsusus kepada pak Doni, saya mohon terus memberikan cucuran semangat serta petuah yang bisa kita jadikan pedoman dalam melaksanakan program Citarum Harum hingga tuntas,” harapnya.

Terkait perubahan perilaku masyarakat, menjadi tugas semua Dan Sektor khususnya dan Satgas pada umumnya. Dedi sempat berkomunikasi dengan Doni Monardo terkait kemungkinan perpanjangan Perpres. “Tapi pak Doni mengatakan, kalau Perpres diperpanjang, itu artinya kita tidak berhasil menangani Citarum. Waktu yang tersisa, adalah tantangan bagi kita semua untuk bekerja lebih maksimal,” pungkas Dedi. (*)

Catatan Egy Massadiah dan Roso Daras

Pesan Doni kepada Satgas Citarum Harum

“Jika kalian ingin pensiun kelak dengan kepala tegak, jangan sekali-kali tergiur iming-iming”

JAYAKARTA NEWS – Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo adalah “Kamus Hidup Citarum Harum”. Tidak salah jika Tuhan menakdirkan pria berdarah Minang ini dilahirkan di Cimahi, 10 Mei 1963. Ada semacam keterikatan antara Bumi Siliwangi dengan Doni.

Karenanya, ia meradang saat dunia gempar oleh berita viral ihwal penetapan status “sungai terkotor di dunia” kepada Sungai Citarum. Ditambah, saat ia menjabat Pangdam XVI/Pattimura, beberapa kali mendapat laporan kondisi Sungai Citarum yang memprihatinkan.

“Yang melaporkan kondisi Citarum antara lain pak Yudi dan bu Irma,” ujar Doni sambil menatap ke arah Brigjen TNI Purn Yudi Zanibar dan aktivis lingkungan Irma Hutabarat, di Cisanti, hulu Sungai Citarum, Sabtu (26/3/2020).

Benar. Hari itu, Doni Monardo mengajak jajaran direksi dan staf BUMN Tambang di bawah MIND ID ke Cisanti. Tujuannya adalah dialog dan saling belajar tentang bagaimana mereklamasi kerusakan lingkungan.

Seperti berulang kali Doni Monardo yang Komisaris Utama MIND ID itu menegaskan, bahwa perusahaan tambang merusak lingkungan untuk mengeksplorasi kekayaan bumi. Karenanya, proses reklamasi lahan bekas tambang harus menjadi perhatian utama, agar tidak mewariskan kerusakan bumi kepada anak-cucu.

Dalam forum yang juga dihadiri Ketua Satgas Citarum Harum dan para Komandan Sektor (Dan Sektor) Citarum Harum, Doni tegas mewanti-wanti, “Jangan tergiur iming-iming!”

“Jika kelak kalian ingin pensiun dengan kepala tegak, jangan sekali-kali tergiur iming-iming. Sebab, selalu akan datang pihak-pihak menawarkan iming-iming. Mereka terutama dari kalangan yang sering melakukan pelanggaran terhadap lingkungan. Pasti akan datang. Sekali lagi saya tegaskan, pasti akan ada yang datang memberi iming-iming. Ingat, hal-hal seperti itu, cepat atau lambat pasti akan ketahuan,” ujar Doni mewanti-wanti para juniornya.

Dibutuhkan keteguhan hati untuk menjaga marwah Citarum Harum. Hanya dengan cara seperti itu itu maka kualitas penataan Citarum bisa berjalan dengan baik. “Jangan korbankan masa depan anak-cucu kita hanya karena imbalan. Jangan mencoreng prestasi prajurit Siliwangi, prajurit maung Bandung yang sudah melegenda dan mendunia,” kata Doni pula.

Setelah sekian lama, Doni Monardo pun mengilas balik sejarah lahirnya Citarum Harum. “Begitu Kasad pulang ke Jakarta pasca Sertijab Pangdam III/Siliwangi, saya langsung gelar rapat. Kepada pak Kasdam juga saya sampaikan, kehebatan Siliwangi jangan hanya lip service, sebaliknya harus tanggung jawab terhadap persoalan besar di depan mata. Kita malu,” kata Doni membuka kisah.

Malu kenapa? Malu karena sudah beredar berita ke seluruh dunia, bahwa Citarum menjadi sungai terkotor di dunia. Ada bangkai binatang, ulatnya dipertontonkan. Ada bangkai kambing, potongan tubuh manusia, macam-macam. “Ada foto pak Anang (Anang Sudarna, dulu Kadis LH Jabar-red) lagi berdiri di tumpukan sampah yang juga viral. Salah satu yang memviralkan adalah Gary Bencheghib, warga Perancis naik kayak dari botol air mineral di tengah tumpukan sampah sungai Citarum. Itu saya ingat betul,” tambahnya.

Awalnya, Doni tidak begitu yakin mengenai kondisi Citarum yang begitu parah, sampai suatu ketika ia sempatkan diri membuka-buka YouTube tentang Citarum. Tayangan Citarum yang kotor juga ditayangkan di banyak negara. Bahkan ada tayangan YouTube berbahasa Vietnam juga menayangkan konten tentang pencemaran berat di Citarum. “Saya bilang kepada prajurit Siliwangi ketika itu, bahwa bangsa kita dipermalukan. Kita tidak bisa tinggal diam,” tegasnya.

Doni pun menemukan satu-satunya strategi mengatasi masalah, yaitu dengan hidup di tengah masyarakat dalam arti sebenarnya. Kebetulan Doni bertemu Sobirin Supardiyono, salah satu staf Direktorat Sumber Daya Air Kementerian PUPR (saat itu). Diskusi menyinggung seorang filsuf Tiongkok, Lao Tze yang terkenal dengan ungkapannya, “temuilah rakyatmu, hiduplah bersama mereka, mulailah dari apa yang mereka miliki sampai akhirnya mereka mengatakan aku telah mengerjakannya.”

Doni Monardo minta Kasdam III/Siliwangi ketika itu Brigjen TNI Yosua Pandit Sembiring untuk mendata jumlah perwira menengah yang siap menjadi Komandan Sektor. Dari sekitar 30 pamen, akhirnya 21 pamen khusus (Pamensus) dijadikan Komandan Sektor yang bertanggung jawab pada sektor-sektor di sepanjang sungai Citarum sepanjang 270 km. “Pak Kasdam juga saya minta melakukan survei lapangan sebelum menerjunkan para pamensus dan pasukan Siliwangi terjun ke lapangan,” katanya.

Bukan hanya itu, Doni juga minta Kakesdam III/Siliwangi, ketika itu Kolonel Ckm dr Is Prijadi untuk mengambil sampel air Citarum dan melakukan pengujian di laboratorium independen. “Beliau meninggal dunia 4 Desember 2020, semoga tenang di sisi Tuhan. Dokter Is Prijadi adalah salah satu pahlawan Citarum Harum,” kata Doni, khidmat.

Dokter Is Prijadi pun menyampaikan hasil lab. Dari situ Doni tahu air Sungai Citarum sangat tercemar. Mengandung logam berat, bakteri salmonella, e-coli, pseudomonas. Yang disebut terakhir, ternyata sangat berbahaya karena menyerang wanita, dan bisa mengakibatkan keputihan menahun. Logam beratnya juga sangat beragam, ada merkuri, sianida, cadmium, zeng, timbal, dan lain-lain.

Padahal, air Sungai Citarum termasuk yang mengalir di Kalimalang, adalah sumber air baku PDAM. Bagaimana bangsa kita mau hidup sehat, jika kondisi air yang digunakan dari air yang penuh limbah berbahaya, gugat Doni.

Selagi Doni Monardo menggelar rancangan strategi pemulihan Citarum, ia juga melaporkan ke Menko Maritim dan Investasi Luhut B Panjaitan. Semua dalam rangka, kolaborasi pentahelix. “Suatu hari kami diundang rapat bersama Menko Marves. Setelah selesai rapat, pak Menko meninggalkan tempat, saya didatangi pak Tb Haeru Rahayu, salah satu asisten deputi Kemenko Marves,” kenang Doni.

Saat itu, Tb Haeru Rahayu menyampaikan sebuah konsep penyelesaian Sungai Citarum. Demi melihat konsep dari Tb Haeru, Doni spontan menampik, “Waduh…. Anak buah saya cuma ngurusi sampah? Saya tidak mau. Saya tidak rela anak buah saya cuma disuruh ngurusi sampah. Kemampuan prajurit Siliwangi jauh di atas itu,” kata Doni.

Bukan hanya itu, masygul dengan konsep staf Kemenko Marves tadi, Doni bahkan tegas mengatakan, “Kalau itu konsepnya, silakan jalan sendiri. Saya tidak akan mengizinkan anak buah saya (hanya) ngurusi sampah Citarum.”

Tb Haeru Rahayu tentu saja kaget dengan reaksi keras Pangdam III/Siliwangi, Mayjen TNI Doni Monardo. Maka ia buru-buru menyampaikan, “Baik, kalau begitu, saya laporkan ke pak Safri.” Yang dimaksud adalah Safri Burhanuddin, Deputi Bidang Sumber Daya Manusia, IPTEK dan Budaya Maritim, Kemenko Marves.

Di kemudian hari Doni mendapat informasi, setelah Tb Haeru menyampaikan reaksinya, lalu pejabat di Kemenko Marves menukas lugas, “Ya sudah kalau itu maunya. Serahkan saja pada pak Doni.”

Mendapat “lampu hijau” dari Kemneko Marves, Doni Monardo makin kencang berlari menyiapkan segala sesuatu untuk operasi mulia, menghapus status “sungai terkotor” dari nama Citarum. Puncaknya, lahir Peraturan Presiden Nomor 15 tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum.

Alhamdulillah, hari ini kita melihat semuanya positif. Kita doakan semoga para Dansektor, pak Kasdam, pak Pangdam yang sekarang memimpin, bisa melanjutkan perjuangan, karena ini tugas mulia,” ujar Doni Monardo.

Penggagas Citarum Harum, Letjen TNI Purn Doni Monardo menerima plakat dari Ketua Harian Satgas Citarum Harum, Mayjen TNI Purn Dedi Kusnadi Tamim. (foto: yuhan)

Perubahan Perilaku

Perpres itu memiliki masa berlaku tujuh tahun. Itu artinya, Perpres 15/2018 akan berakhir tahun 2025. Masih ada sisa waktu untuk membuat program Citarum Harum berhasil secara permanen. Doni berharap, tidak sampai terjadi, pasca Perpres, Citarum kembali terbengkalai dan kotor kembali.

Persoalan mendasar, kata Doni Monardo adalah perubahan perilaku. Peraturan Presiden tentu tidak bisa memiliki durasi selama-lamanya. Sebaliknya jika sampai masa berlaku Perpres selesai, rasanya tidak elok jika meminta presiden memperpanjang. Sebab, itu bisa diartikan program belum berhasil.

“Maka tiga tahun ke depan harus kita maksimalkan untuk program perubahan perilaku,” ujar Doni Monardo. Ia juga tidak ingin tentara terus-menerus mengurusi Sungai Citarum. Tujuh tahun sudah cukup. Selanjutnya, peran tentara harus menjadi contoh, sehingga bisa diikuti oleh masyarakat.

Kalau toh ke depan tentara Siliwangi masih terlibat, perannya lebih kecil. Misalnya, hanya sebatas menjadi konsultan di bawah kendali Satgas. Pada saat itu, diharapkan masyarakat sudah memiliki kesadaran pentingnya menjaga Sungai Citarum. Tugas prajurit Siliwangi ke depan adalah bagaimana mengubah perilaku masyarakat.

Terakhir, Doni Monardo menyinggung masukan dari seorang pembicara, mengenai perlunya Satgas Citarum Harum memiliki seragam khusus. Dengan demikian, masyarakat ke depan bukan patuh karena baju loreng prajurit Siliwangi, melainkan benar-benar karena kesadaran.

Atas usulan tersebut, Doni Monardo setuju. Kiranya Satgas Citarum Harum perlu memikirkan ide kostum yang sesuai, yang dikenakan oleh para prajurit Siliwangi maupun masyarakat sipil. Besar harapan Doni Monardo sebagai penggagas Citarum Harum, ke depan Citarum akan kembali ke fungsinya sebagai sumber kehidupan manusia dan sumber peradaban bangsa. (*)

Catatan Egy Massadiah dan Roso Daras

Doni Monardo: Kita Kalahkah VOC

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS  – Mendadak jarum jam seperti berhenti berputar, dan kembali ke kenangan 37 tahun yang lalu.

Itulah yang terjadi saat Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD), Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo berjumpa Brigjen TNI Purn Heru Sudibyo, Ketua DPD PPAD Jawa Timur di Balai Prajurit Kodam V Brawijaya Selasa 8 Maret 2022.

“Pak Heru ini dulu komandan saya waktu pendidikan Sarcab (Dasar Kecabangan) Infanteri tahun 1985. Jadi, beliau ini pengasuh yang penuh perhatian. Beliau selalu datang ke barak dan memberi motivasi, sehingga akhirnya saya mendapat predikat lulusan terbaik Sarcab. Itu karena bimbingan pak Heru selaku komandan saya,” ujar Doni, disambut tepuk tangan hadirin.

“Setelah itu beliau mengajak saya menjadi Danramil setelah lulus jadi Letnan. Tapi nasib menentukan lain, (setelah lulus Akmil) saya bergabung ke Kopassus. Tapi berkat motivasi Bapak, saya selalu berlatih dengan gigih,” tambah Doni saat tatap muka dan konsolidasi organisasi PPAD yang diselenggarakan di Balai Prajurit, Markas Kodam V/Brawijaya, Jl. Raden Wijaya No. 1, Surabaya.

Dari kiri: Ketua DPD PPAD Jawa Timur, Brigjen TNI Purn Heru Sudibyo, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Nurchahyanto, Ketua PP PPAD, Letjen TNI Purn Doni Monardo. (foto: egy m)

Selain keluarga besar PPAD dan Hipakad, hadir Wagub Jawa Timur, Dr. H. Emil Elestianto Dardak, B.Bus., M.Sc. atau akrab disapa Emil Dardak. Juga hadir Letjen Purn Anto Mukti Putranto, S.Sos. mantan Komandan Kodiklat TNI-AD. Sebagai informasi Anto dan Doni kental berinteraksi ketika Kolonel Doni Monardo yang ketika itu menjabat Dan Brigif (2006 – 2008), menghijaukan lahan Kariango yang masih tandus. Mereka menanam pohon Trembesi, serta mencetuskan slogan “Dari Kariango menghijaukan Indonesia.

Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Mayjen TNI Nurchahyanto, dalam sambutannya mendukung penuh program PPAD. “Purnawirawan di Jawa Timur yang sudah kami wisuda otomatis langsung mendapat kartu anggota PPAD. Juga kami beri seragam PPAD. Kami sadar, bahwa kelak saat pensiun maka kami pun akan menjadi bagian dari PPAD,” ujar pangdam lulusan akmil 1987 ini.

Selanjutnya, Doni menyinggung sedikit seputar pandemi Covid-19. Selama menjabat Kepala BNPB/Ketua Satgas Covid-19, Doni beberapa kali ke Surabaya. Karenanya ia ingat, pasien Covid-19 di Jawa Timur relatif banyak yang mengidap diabetes. “Saya minta pasien Covid-19 dibuatkan menu khusus yang rendah gula, termasuk mengganti nasi dengan sagu,” ujar Doni.

Fenomena diabetes pada sebagian masyarakat di Jawa Timur, harus menjadi perhatian. “Semua pihak, termasuk para tokoh agama perlu ikut menyadarkan masyarakat agar mengurangi makanan dan minuman yang manis-manis,” ujar Doni.

Kecuali dapat warisan

Kepala BNPB 2019-2021 itu lalu mengilas-ringkas ihwal politik kesejahteraan yang digulirkannya dalam menakhodai PPAD periode 2021-2026. “Sesuai tujuan kemerdekaan bangsa kita, yaitu menciptakan masyarakat adil dan makmur.”

Sementara itu, kesejahteraan hanya bisa dicapai melalui usaha. Tidak ada yang bisa sejahtera tanpa usaha, kecuali mendapatkan warisan. Bagi prajurit purnawirawan, sulit untuk sejahtera hanya mengandalkan uang pensiun. “Bahkan sampai sekarang masih banyak purnawirawan yang menempati rumah dinas. Ada kalanya ini menjadi masalah,” kata Doni.

Selain itu, Doni juga concern terhadap aspek kesehatan para purnawirawan. “Tidak semua jenis penyakit di-cover asuransi. Sementara, lazim jika semakin tua usia manusia, semakin banyak penyakit. Meski pemerintah sudah mengalokasikan dana untuk kesehatan masyarakat, faktanya masih banyak purnawirawan mengalami problem kesehatan yang tak tertangani jaminan kesehatan,” katanya.

“Ini semua harus kita pikirkan. PPAD harus berbuat. Setiap pengurus PPAD di seluruh Indonesia harus memiliki strategi meningkatkan kesejahteraan melalui wirausaha,” ujar Doni yang juga Komisaris Utama PT Mind Id, konsorsium yang menaungi perusahaan-perusahaan BUMN tambang.

Dari kiri: Ketua DPD PPAD Jawa Timur, Brigjen TNI Purn Heru Sudibyo, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Nurchahyanto, Ketua Umum PP PPAD, Letjen TNI Purn Doni Monardo, dan Wagub Jawa Timur Emil Dardak. (foto: egy)

Indonesia Kaya Raya

Doni Monardo menyodorkan fakta menakjubkan. “VOC yang bercokol di tanah air kita tiga abad lebih, saat ini menjadi salah satu perusahaan terkaya di dunia. Asetnya mencapai 7,9 triliun US dollar (sekitar Rp 115 kuadriliun rupiah). Satu kuadriliun sama dengan seribu triliun. Sedangkan APBN kita, Rp 2.800 triliun. Bandingkan!” kata Doni seraya menambahkan, “kekayaan itu sebagian besar disumbang dari hasil rempah-rempah kita.”

VOC adalah monumen sejarah yang nyata: kaya raya karena rempah-rempah Nusantara. Bahkan pernah satu masa, harga satu kilogram pala sama dengan harga 1 kilogram emas. Bukti nyata adalah Pulau Run di Kepulauan Banda (Maluku) yang menjadi ajang rebutan Inggris dan Belanda.

Mati-matian Belanda dan Inggris berperang untuk menguasai perdagangan dunia. Terhitung dari tahun 1652-1654 perang pertama dilakukan dan perang kedua dimulai dari tahun 1665. Hingga akhirnya pada 31 Juli 1667, Traktat Breda dikeluarkan untuk memberi solusi damai dari perang-perang tersebut.

Salah satu isi dari Traktat Breda adalah Inggris harus mengakhiri kekuasaan mereka di Pulau Run, Kepulaun Banda, dan menyerahkan kepada Belanda. Sebagai gantinya, koloni Belanda, yakni Nieuw Amsterdam di Amerika Utara (kini Manhattan, New York) diserahkan ke Inggris. “Manhattan kini salah satu kota megah dan kaya raya di Amerika Serikat, sementara Pulau Run di Maluku, begitu-begitu saja,” ujar Doni prihatin.

Berikut, Doni menyebut tanaman nilam. Dikatakan, Nilam berasal dari singkatan Nederlands Indische Land ook Acheh Maatzchappij, sebuah perusahaan Belanda yang mengatur perdagangan dan sistem penjualan dari tanaman Patchouli. Perusahaan Belanda waktu itu bekerjasama dengan para Ulee Balang dalam pengelolaan ladang nilam di Aceh.

Hasil penelitian menyebutkan Nilam Aceh merupakan nilam terbaik dengan kandungan Patchouli Alkohol (PA) di atas 30 persen sehingga banyak dicari. “Begitu banyak kekayaan Nusantara. Bahkan saat kunjungan ke Belanda Mei 2019, saya menemukan tulisan ‘Specerijenmagazijn, Indie’s Welvaren’, yang artinya ‘Gudang rempah-rempah, harta kekayaan melimpah dari bumi Indonesia’. Itu adalah bukti nyata dan pengakuan dari Belanda yang tiga-setengah abad menjajah kita,” ujar Doni.

Di berbagai pulau, kita menjumpai banyak peninggalan berupa benteng. Selain benteng Belanda (VOC), ada benteng Inggris, Portugis, dan Spanyol. “Negara-negara itu pernah meraup hasil bumi kita untuk kesejahteraan mereka,” tambahnya.

Atas fakta sejarah masa lalu, Doni pun bertanya, “Bisakah kita mengulang sejarah itu?”, lalu dijawabnya sendiri, “Bisa, asal kita mau!” Ia bahkan meyakini, jika sektor rempah digarap dengan baik, Indonesia bisa lebih kaya dari VOC.

Doni mengingatkan, potensi tambang Indonesia pada saatnya akan habis. Tambang emas, nikel, bauksit, aluminium, batubara, akan habis. Tidak ada tambang yang abadi.

Satu-satunya yang tidak akan pernah habis, serta baik untuk generasi mendatang adalah vegetasi yang punya nilai ekonomi. Indonesia sejak dahulu terkenal dengan kekayaan rempah. Ditambah aneka kayu yang memiliki nilai ekonomi tinggi seperti gaharu, cendana, masoya, nilam, dan sebagainya. 

PPAD Jawa Timur bisa memulainya dengan merajut kolaborasi dengan Pemprov, didukung TNI-Polri serta unsur-unsur masyarakat yang lain.

 “Hingga hari ini, kita masih sangat tergantung pada obat-obatan impor. Padahal, kita memiliki aneka jenis tanaman herbal yang bisa menjadi obat. Sudah terbukti pula, herbal mampu meningkatkan imunitas tubuh manusia,” tambah Doni.

“Satu contoh saja, perusahaan jamu PT Sido Muncul Semarang, tahun lalu membukukan angka keuntungan Rp 1,2 triliun. Ini sangat luar biasa. Contoh itu bisa menjadi benchmark. Jawa Timur memiliki potensi sebagai penghasil obat-obatan herbal. Mari kita sama-sama berusaha mengurangi obat impor, dan sebaliknya kita ekspor obat herbal,” katanya.

Ia meminta para purnawirawan mengubah paradigma. Mengubah mindset. Usia 50-an, 60-an, masih bisa produktif. “Ingat, negara akan kuat kalau ekonomi rakyatnya juga kuat,” ujarnya.

PPAD, telah mendapat komitmen dari banyak pihak, termasuk kementerian dan lembaga negara. Di antaranya Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian BUMN (termasuk pasar digital BUMN), lembaga perbankan pemerintah, KADIN, perusahaan swasta, serta beberapa platform e-commerce.

PPAD harus terlibat aktif dalam ikut menggerakkan ekonomi masyarakat. Selain sektor “emas hijau”, juga budidaya laut. Peluang lain juga ada di sektor peternakan. Di bidang peternakan, PPAD bahkan sudah mengikat kerjasama dengan PT Berdikari (Persero).

“Mulailah dengan ikut meningkatkan ekonomi di sekitar kita. Bahkan bisa membuka lapangan kerja bagi para korban PHK. Di bawah kepemimpinan Ketua DPD PPAD Jawa Timur, pak Heru, dibantu Kodam V/Brawijaya, Pemprov Jatim bisa menjadi penggerak ekonomi, utamanya di Jawa Timur,” kata Doni pula.

Pada sesi kedua, dilakukan tatap muka dan presentasi mitra PPAD. Mereka adalah KADIN Jawa Timur, UMKM, BRI, dan PT Bangka Asindo Agri. Yang terakhir, mempresentasikan produk olahan sagu berupa mie sagu (Sagoo Mee).

Tancap Gas

Begitulah, di setiap kunjungannya, Doni Monardo menggugah semangat para purnawirawan. Untuk diketahui, setelah kepengurusan PP PPAD periode 2021 – 2026 dikukuhkan oleh Kasad Jenderal TNI Dudung Abdurachman 8 Februari 2022, Doni dan pengurus pusat PPAD langsung tancap gas. Menggalang kerjasama dengan berbagai pihak, dibarengi kunjungan kerja ke berbagai daerah.

Sementara, Sekjen PP PPAD, Mayjen TNI Purn Komaruddin Simanjuntak, menerjemahkannya ke dalam rapat-rapat intensif membahas program kerja bersama para Ketua Bidang dan pengurus lain. Tak terkecuali, ketua-ketua bidang pun bergerak cepat menerjemahkan program besar Ketua Umum. Ketua Dewan Pengawas merangkap Waketum, Letjen TNI Purn Dodik Wijanarko, ikut mengawal penyusunan program kerja itu.

Kunjungan kerja informal pertama ia lakukan ke Kalimantan Selatan, 23 Desember 2021. Saat mengunjungi kantor DPD PPAD Kalsel di Komplek Militer Lambung Mangkurat, Jl. A. Yani, Banjarmasin Timur, Doni disambut Ketua DPD PPAD Kalsel, Mayor (Purn) H. Sujoko dan jajarannya. Mereka membentuk dua barisan di teras kantor.

Dengan sajian babungku dan kue cincin, Doni Monardo berdialog santai dengan jajaran pengurus DPD PPAD Provinsi Kalimanten Selatan. Inilah kunjungan pertama tak resmi, Doni sejak terpilih menjadi Ketua Umum DPP PPAD, dalam Munas IV PPAD, 14-15 Desember 2021.

Sedangkan, kunjungan kerja resmi pertama dilakukan tanggal 16 – 19 Februari 2022 ke DPD PPAD Jawa Tengah.

Di Jawa Tengah, Doni Monardo mengajak pengurus PPAD ‘sowan’ ke senior Letjen TNI Purn Bibit Waluyo di Magelang. Di sela-sela waktu, Doni juga menyempatkan bertemu Bupati Cilacap dan timnya, membahas konservasi hutan mangrove di Nusakambangan.

Masih di Semarang, Doni Monardo dan sejumlah pengurus juga bertemu manajemen PT Sido Muncul, bicara soal rempah-rempah dan peluang kerjasama. Esoknya menuju Kota Kretek Kudus. Selain menjadi tamu PT Djarum Kudus, rombongan Doni Monardo juga bersilaturahmi ke garasi “raja bus” Kopral Kepala Purn H. Haryanto, pemiliki Perusahaan Otobus (PO) Haryanto. (egy massadiah)