Doni Monardo: Orang Minang Pedagang, Bukan Penambang

JAYAKARTA NEWS— Novelis Ali Akbar Navis, pengarang “Robohnya Surau Kami” yang fenomenal itu, punya julukan khusus untuk kota kelahirannya: Padang Panjang. “Padang Panjang adalah kota yang berbahagia”. Hawanya yang sejuk, cocok menjadi “Kota Pelajar”.

Adalah Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo, pria berdarah Minang yang kini merisaukan julukan “kota yang berbahagia”. Pasalnya, ia melihat banyaknya kerusakan alam di bumi Sumatera Barat, terutama akibat penambangan.

Kerisauan Doni sudah lama dirasakan. Makin risau ketika ia mendapat amanat Presiden Jokowi memimpin Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) 2019 – 2021.

Dalam berbagai kunjungan ke Sumatera Barat (terkait kebencanaan), ia melihat langsung bagaimana sungai-sungai tidak lagi jernih airnya. Longsor yang mendera serta banjir bandang yang memilukan.

Pencemar sungai adalah praktik penambangan liar. Sekalipun banyak penambang liar ditindak aparat keamanan, faktanya, keberadaan mereka masih marak di lapangan.

Persoalan Sumatera Barat ternyata bukan hanya pada persoalan penambangan liar. Sekadar contoh, berdasarkan hasil pemantauan Tim Gabungan BNPB, Harian Kompas, dan pemerhati lingkungan hidup di Solok Selatan pada akhir 2019, ditemukan fakta bahwa kawasan hutan lindung yang berada di daerah aliran sungai Batanghari telah mengalami kerusakan parah.

Kerisauan Doni ditumpahkan saat ia memberi kuliah umum di hadapan sekitar 400 an mahasiswa ISI Padang Panjang. Acara ini berlangsung 2 jam pada hari Jumat, 21 Oktober 2022 di Gedung Pertunjukan Huriah Adam.

Doni mengajak masyarakat Minang secara umum, serta generasi muda pada khususnya untuk sama-sama menjaga alam Minang agar pulih. Alam yang lestari bukan hanya untuk kita, tetapi warisan bagi generasi yang akan datang.

Dalam kesempatan itu Doni juga menyampaikan kerisauannya terhadap abrasi yang terjadi di Pantai Padang.

“Waktu kecil saya sering lari-lari, main bola di pinggir pantai. Saya ingat, jarak bibir pantai dengan jalanan relatif jauh, tapi kondisi sekarang berbeda sekali. Jarak bibir pantai ke jalan semakin dekat karena abrasi,” kata Doni Monardo.

Doni mengajak masyarakat Minang tanpa kecuali untuk melakukan penyelamatan Pantai Padang dengan opsi mitigasi berbasis vegetasi. Antara lain dengan pembentukan Tombolo.

Yang pertama dengan metode submerged offshore breakwater (Pemecah gelombang lepas pantai terendam) dan Detached offshore breakwater (Pemecah gelombang lepas pantai terpisah). Kelak ombak yang membawa pasir, lambat laun menciptakan gumuk pasir, yang kemudian bisa menjadi tambahan “daratan” baru.

Peran Seniman

Dalam kesempatan itu, Doni juga menceritakan pengalamannya mengatasi problem lingkungan di berbagai daerah. Antara lain program Citarum Harum (Jawa Barat) dan penambangan liar Gunung Botak (Pulau Buru – Maluku).

Pengalaman itu pula yang menyadarkannya bahwa para seniman memiliki peranan penting dalam upaya pelestarian lingkungan. “Para mahasiswa ISI Padang Panjang mestinya juga turut mengambil peran dalam pelestarian lingkungan, baik melalui karya maupun terjun langsung ke lapangan. Dan yang tak kalah pentingnya melakukan perubahan perilaku,” tutur Letjen Doni Monardo.

Para mahasiswa ISI Padang Panjang diharap mampu menjadi bagian dari ecocracy (kedaulatan lingkungan hidup) yang akan mengemban tugas dalam pembenahan lingkungan sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar.

Selain kental dengan citra “seniman”, Sumatera Barat juga dikenal banyak melahirkan tokoh-tokoh politik dan ekonomi. Stigma orang Minang pandai berdagang, adalah stigma yang melekat secara turun-temurun.

Bagi Doni Monardo, kemampuan berdagang orang Minang adalah sesuatu yang harus dikembangkan agar makin banyak melahirkan para entrepreneur. Semakin banyak pengusaha, semakin makmur sebuah daerah, atau bangsa.

Profesi sebagai pedagang sebagai ciri orang Minang, jauh lebih terhormat dibanding profesi sebagai “penambang”. Apalagi penambang liar, yang bukan saja merusak alam, tetapi juga profesi yang merugikan. Bukan saja merugikan secara ekonomi juga secara sosial. “Orang Minang itu pedagang, bukan penambang,” tegas Doni.

Berbicara soal “saudagar”, ini juga relevan dengan tuntutan zaman. Seperti diketahui, maju-tidaknya suatu negara, sangat dipengaruhi berapa jumlah saudagarnya. Semakin banyak saudagar di suatu negara, maka semakin maju negara itu.

Indonesia, tercatat baru sekitar 3 persen penduduknya yang berprofesi sebagai pengusaha. Sementara negara-negara maju lebih dari 10 persen. Untuk itulah, ISI juga harus mampu menjawab tuntutan zaman, sekaligus tuntutan kebutuhan, tentang hadirnya jiwa-jiwa entrepreneur.

Dewan Penyantun

Hadirnya Doni Monardo di ISI Padang Panjang, tak terpisahkan dari statusnya sebagai anggota Dewan Penyantun di perguruan tinggi yang terlahir dengan nama ASKI (Akademi Seni Karawitan Indonesia) pada tahun 1965 lalu menjadi STSI itu.

Seperti diketahui, sepanjang karier militer, Doni belum pernah bertugas di daerah Minang. Padahal, ia berdarah Minang, baik dari garis ayah maupun ibu. Sebaliknya, daerah-daerah yang mendapat sentuhan pengabdiannya sebagai militer antara lain Sulawesi Selatan, Aceh, Maluku, Jawa Barat, dan lain-lain.

Di luar karier militer, Doni menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) 2019 – 2021, sekaligus Ketua Gugus Tugas/Satuan Tugas Penagangan Covid-19. Saat ini ia menjabat Komisaris Utama PT MIND ID dan Ketua Umum Pengurus Pusat PPAD (Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat).

Alhasil, ketika pihak ISI Padang Panjang memintanya duduk di Dewan Penyantun, tidak ada keraguan sedikit pun untuk menerimanya. Nama-nama lain yang bersinergi dengan Doni seperti Jusuf Kalla, Mufidah Jusuf Kalla, Andrinof Chaniago, Prof Fasli Djalal, Syahrul Ujud (Mantan Walikota Padang) dan lain-lain.

Sungguh bukan suatu kebetulan, ketika ia hadir dan berbicara di ISI Padang Panjang. Doni telah mencermati sejumlah kearifan lokal yang membuktikan keterkaitan yang sangat erat antara alam dan seni-budaya.

Alhasil, kehadiran Doni Monardo memberi kuliah umum di ISI Padang Panjang, dimanfaatkan untuk bertemu kerabat lama. Selain mengunjungi kampungnya Sungai Tarab serta Lintau Buo di Tanah Datar, Doni juga menyempatkan diri berziarah ke makam leluhur, termasuk mendiang ayah-ibunya. Di luar itu semua, Doni tak lupa memanjakan moment kepulangan ke Sumatera Barat untuk berburu kuliner yang terkenal lamak bana.

Kearifan Lokal

Kepedulian terhadap alam, di sejumlah daerah menjadi akar pengembangan seni dan budaya. Ia mengambil contoh dua provinsi yang kita sama-sama ketahui maju dalam hal seni dan budaya, yakni Bali dan Yogyakarta, yang berbasis kearifan lokal.

Di Bali hampir semua pranata kehidupan sosial dan budaya masyarakatnya disandarkan atas dasar filosofi “Tri Hita Karana”. “Tri” yang berarti tiga, “Hita” yang berarti kebahagiaan dan “Karana” yang berarti penyebab. “Tiga penyebab terciptanya kebahagiaan”.

Konsep kosmologi Tri Hita Karana merupakan konsep yang dapat melestarikan keaneka ragaman budaya dan lingkungan di tengah hantaman globalisasi. Hakikat tri hita karana menekankan tiga hubungan manusia dalam kehidupan di dunia ini. Ketiga hubungan itu meliputi hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam sekitar, dan hubungan dengan ke Tuhan yang saling terkait satu sama lain.

Di Yogyakarta, terdapat satu filosofi luhur “memayu hayuning bawana”. Filosofi itu dijadikan pondasi pendirian Negara Yogyakarta Hadiningrat pada 13 Maret 1755 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I. Secara harfiah artinya “mempercantik indahnya dunia”.

Ia kemudian menjadi falsafah hidup melindungi keselamatan dunia baik lahir maupun batin. Masyarakat berkewajiban “memayu hayuning bawana” atau memperindah keindahan dunia. Manusia harus memelihara dan memperbaiki lingkungan fisiknya. Di pihak lain, secara abstrak, manusia juga harus memelihara dan memperbaiki lingkungan spritualnya. Pandangan tersebut memberikan dorongan bahwa hidup manusia tidak mungkin lepas dari lingkungan.

Terbukti, seni dan budaya di Bali dan Yogya tumbuh subur hingga hari ini.

Bagaimana dengan Tanah Minang? Budaya Minangkabau juga mewariskan filosofi hidup yang kurang lebih sama: “Alam Takambang Jadi Guru”. Secara harafiah bisa diartikan “Alam Terkembang Menjadi Guru”.

Falsafah Minang, didasarkan kepada pengajaran yang berasal dari hukum agama dan alam. “Alam Takambang Jadi Guru” mengajarkan orang Minangkabau untuk mengambil pengalaman dari berbagai fenomena dan kejadian alam sebagai bentuk inspirasi, pengalaman hidup, ide dan pola berpikir.

Di sini alam tidak hanya berarti unsur alam saja (seperti air, tanah, angin, dll), tetapi juga lingkungan dimana kita berada. Seorang Minang diharapkan belajar dari lingkungan sekitar: tentunya menjaga alam dari kerusakan.

***Laporan Egy Massadiah dari Minangkabau

Letjen Purn Doni Monardo Bicara Purnawirawan di Kancah Politik

JAYAKARTA NEWS— “Purnawirawan silahkan berpolitik, itu hak konstitusi sebagai warga negara. Bagi yang berminat, salurkan melalui partai politik yang ada,” ujar Ketua Umum PP PPAD, Letjen TNI Purn Doni Monardo. Ia menyampaikan hal itu pada Diskusi Panel Pembekalan Politik Bagi Purnawirawan TNI AD.

Diskusi berlangsung di Aula Soeryadi, Gedung PPAD, Matraman, Jakarta Timur, Kamis (15/9). Dalam kesempatan itu, panitia menghadirkan tiga orang purnawirawan yang sudah terjun di politik, dan berhasil menjadi wakil rakyat di DPR RI, sebagai narasumber.

Mereka, antara lain Letjen TNI Purn Lodewijk Paulus (Sekjen Golkar), Mayjen TNI Purn Supiadin A. S. (Nasdem), Mayjen TNI Purn TB Hasanuddin (PDIP).

Dalam pengantar, Doni Monardo menegaskan, yang dilarang berpolitik praktis adalah “pengurus” PPAD.

“Pengurus, sesuai AD/ART organisasi, dilarang berpolitik praktis. Jadi kalau ada yang mau dan berminat terjun ke politik, silakan mundur sebagai pengurus PPAD,” tegas Kepala BNPB 2019 – 2021 itu.

Doni menyampaikan pentingnya sebagai warga negara untuk mengerti dunia politik. Diskusi pagi ini adalah salah satu alat mitigasi agar para purnawirawan tidak terjerembab dalam politik yang salah jalan.

Lebih lanjut, Doni mengingatkan pesan Bertolt Brecht, dramawan terkemuka, seorang penyair Jerman yang hidup di abad ke-19 (1898-1956). Pada saat Nazi berkuasa di Jerman, Brecht melakukan perlawanan menentang ideologi Nazi. Akan tetapi, karena memberontak, ia melarikan diri ke Amerika Serikat.

Pada akhir Perang Dunia II, Brecht kembali ke Jerman dan tinggal disana sampai akhir hayatnya.

Ada pernyataan Brecht yang terkenal. “Buta yang terburuk adalah buta politik. Dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik.”

“Orang buta politik begitu bodoh, sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya seraya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, dan rusaknya perusahaan nasional serta multinasional yang menguras kekayaan negeri.”

Anggota PPAD tidak boleh buta politik. Harus tahu peta politik, harus peka pada suhu politik.

Pagi itu, ketiga tokoh purnawirawan memberikan resep-resepnya, jurus-jurusnya, tips-tipsnya, agar para anggota PPAD yang tertarik terjun ke kancah politik praktis bisa mendapat kisi-kisi dalam menentukan pilihan politik serta jalan politik.

Letjen TNI Purn Lodewijk Paulus, membagikan pengalamannya ketika terjun sebagai caleg daerah pemilihan Lampung. Demikian pula Mayjen TNI Purn Supiadin A. S. (Nasdem) dan Mayjen TNI Purn TB Hasanuddin (PDIP) menceritakan lika liku mendulang suara di daerah pemilihan Jawa Barat.***rd

Air Mata Sersan Nainggolan di Hadapan Jenderal Doni Monardo, Ini Kisahnya

JAYAKARTA NEWS – Tanpa sadar matanya berkaca-kaca. Ia teramat haru atas pengalaman semasa di Batalyon 741/ Satya Bhakti Wirotama, Singaraja, Bali. Adalah sersan Hotlan Nainggolan yang mengilas kembali ingatannya tentang Mayor Doni Monardo, komandannya ketika itu.

“Waktu beliau menjadi Danyon tahun 1999, pangkatnya Mayor kemudian naik menjadi Letkol. Sedangkan saya prajurit tamtama berpangkat prada, prajurit-dua. Saya lulus sekolah tamtama di Kodam V/Brawijaya tahun 1998. Penempatan pertama langsung di Singaraja, di bawah Kodam IX/Udayana,” ujar Nainggolan, membuka kisah.

Itu artinya, saat Doni Monardo menjadi Danyon, usia dinas aktif Prada Nainggolan baru setahun. “Yang saya ingat betul, saat beliau masuk, langsung melakukan perombakan,” kata Nainggolan.

Markas Batalyon dibuat lebih rapih, teratur, dan bersih. Seluruh prajurit, mulai dari pangkat terendah hingga perwira tertinggi selain Danyon, diberi tugas spesifik. “Lalu beliau membangun tim olahraga Batalyon. Nah, saya termasuk yang dipilih masuk tim olahraga. Beliau langsung yang menggembleng kami,” kenangnya.

Bicara olahraga di militer, bukan semata jenis cabang olahraga yang kita ketahui pada umumnya, seperti sepakbola, tenis, bulutangkis, dan lain-lain. Ini tentang olahraga militer. “Kami digembleng untuk persiapan mengikuti Ton Tangkas (Peleton Tangkas) Angkatan Darat. Jadi langsung ke level nasional, mewakili Kodam IX/Udayana,” ujarnya.

Hotlan Nainggolan.

Ton Tangkas

Cabang-cabang olahraga yang dipertandingkan adalah cabang yang khas. Di antaranya lari militer (3.200 meter), renang militer, ilmu medan, menembak pistol, menembak senapan, lintas medan, dan lain-lain. “Seluruh atlet peleton tangkas harus bisa semua. Yang tidak bisa berenang, diajari renang langsung oleh komandan,” kata Nainggolan seraya menambahkan, “pak Doni menguasai semuanya.”

Sebagai prajurit yang dipersiapkan ke Ton Tangkas, Nainggolan –dan prajurit atlet lain—dibebaskan dari tugas dalam (Batalyon). Hari-hari mereka isi dengan berlatih dan berlatih. “Waktu itu menjelang Kejuaraan Ton Tangkas tahun 2000,” kata lelaki kelahrian Porsea, 23 Agustus 1977 itu.

Ada saja cara Danyon Doni Monardo memotivasi para prajurit untuk melecut prestasi setinggi-tingginya. Di setiap latihan, Doni selalu membuat simulasi seperti pertandingan yang sebenarnya. “Yang menang (latihan) juga mendapat hadiah dari komandan,” kata Nainggolan, sambil tertawa.

Nainggolan di mata Doni, berbakat untuk cabang menembak senjata otomatis. Karenanya, selain cabang-cabang lain, ia diberi porsi latihan menembak yang lebih dari yang lain.

Khusus olahraga berenang, Nainggolan punya kesan yang dalam. Bayangkan, sebelumnya ia kesulitan berenang. Apalagi renang militer, yang harus berpakaian PDL lengkap, dengan helm, ransel dan menenteng senapan, serta mengenakan sepatu lars. “Dari yang tidak bisa renang, saya sampai bisa. Catatan waktu terbaik saya 47 detik untuk jarak 50 meter,” kata Nainggolan, bangga.

Singkat kata Batalyon 741 Wirotama menyabet urutan ke-4. Tiga urutan di atasnya masing-masing: Kopassus, Kostrad, dan Kodam Jaya. “Sepanjang berdirinya batalyon, belum pernah tembus empat besar. Bahkan sepuluh besar pun belum pernah. Sejak itu, batalyon kami diperhitungkan di setiap olahraga militer,” kata ayah dua anak ini, bangga.

Badan Meriang

Kisah mengharu-biru ia tuturkan saat dikirim batalyon 741 pada ajang Porad (Pekan Olahraga TNI Angkatan Darat) tahun 2000. Kegiatan itu dipusatkan di markas Divisi Infanteri (Divif) I/Kostrad, Cilodong, Bogor, Jawa Barat. Nainggolan dipercaya turun di nomor menembak (senapan) otomatis.

“Besok pagi bertanding, malamnya saya sakit. Demam, badan meriang gak karuan,” katanya membuka kisah.

Mengetahui atletnya sakit, Danyon 741 Letkol Inf Doni Monardo segera mendatangi Nainggolan yang tergolek lemas di velbed barak Divif I/Kostrad. Ia mengajak serta Pasi Ops Yon 741, waktu itu, Kapten Inf Franz Yohanes Purba. Terakhir bertemu Nainggolan, Purba menjabat Staf Ahli Pangdam I/Bukit Barisan Bidang Hukum dan Humaniter, berpangkat kolonel. Saat ini, Purba menjabat Wadanmentar Akmil Magelang.

Kembali ke kisah Nainggolan yang tergolek demam sebelum turun ke pertandingan menembak otomatis esok paginya. Doni memeriksa kondisi Nainggolan dengan sangat kebapakan.

Pelan Doni bicara, “Nainggolan, kau tidak boleh sakit. Coba katakan, kamu ingin makan apa. Coba pikirkan, makanan apa yang sangat ingin kamu makan saat ini,” kata Nainggolan menirukan bujukan komandannya.

Sungguh tak karuan perasaan Nainggolan. Ia sangat segan didatangi dan diperhatiakn komandannya sedemikian rupa. Lama ia termenung, hingga akhirnya terlintas pikiran makanan kesukaannya di Porsea, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, yakni mie gomak.

Mie Gomak, kuliner khas daerah sekitar Danau Toba, mulai dari Porsea, Balige, Laguboti, Tarutung, hingga Tapanuli Selatan.

Mie Gomak

Pernah dengar menu Mie Gomak? Ia adalah makanan khas suku Batak Toba dari Sumatera Utara. Masakan khas ini bisa ditemui di daerah sekitar Danau Toba, mulai dari Porsea, Balige, Laguboti, Tarutung, hingga Tapanuli Selatan. Disebut mie gomak karena dahulu ketika mie akan disajikan ke piring, mienya “digomak” atau diremas langsung menggunakan tangan. Bentuknya mirip sphagetti (mi lidi), dimasak berkuah santan bumbu andaliman.

Doni sempat mengernyitkan dahi demi mendengar nama menu yang disebut Nainggolan. Ia seketika menoleh ke Kapten Purba yang mendampinginya. “Nah, Purba, kau cari sampai dapat mie gomak untuk Nainggolan. Setelah makan mie gomak dia sembuh dan besok bisa bertanding,” perintah Letkol Doni kepada Kapten Purba.

Correct, Kapten Purba mengangkat tangan hormat sambil menjawab, “Siap!” Balik kanan dan menghambur ke luar barak, mencari mie gomak.

Usai Kapten Purba pergi, Doni sejenak menemani Nainggolan, dan memintanya agar istirahat. Doni juga minta Nainggolan menenangkan pikiran, sambil menunggu mie gomak kesukaannya, yang sedang dicarikan oleh Kapten Purba.

“Jujur, perasaan saya campur-aduk, antara segan, takut, khawatir…. Bayangkan, di mana mencari mie gomak malam-malam begini. Di Cilodong pula!” kata Nainggolan, ekspresinya serius menahan tawa.

Mujur tak dapat ditolak, Purba berhasil mendapatkan mie gomak pesanan Nainggolan. Kejutan sekaligus prestasi yang luar biasa, pada saat itu. Makanya, Nainggolan sempat berpikir, ada kemungkinan Purba keliling Jakarta untuk mendapatkan mie kesukaannya.

Untuk diketahui, sebelum dinas di Batalyon 741, Purba pernah dinas di wilayah Jakarta. Ada lagi kemungkinan kedua, bagaimana ia mendapatkan mie gomak. Sebagai orang Batak, ia tak kurang akal untuk mencari orang Batak lain yang bisa menyiapkan mie gomak malam itu juga.

Entahlah. Nainggolan sendiri tak pernah mengetahui bagaimana “perjuangan” Kapten Purba melaksanakan perintah komandannya untuk mencarikan mie gomak bagi kesembuhannya.

Semir Sepatu

Frans Yohanes Purba

Yang ia tahu, Letkol Doni dan Kapten Purba kembali mendatangi tempat tidurnya, dan menenteng sebungkus mie gomak. “Nah, ini makanan yang sangat kamu inginkan. Sekarang makanlah selagi hangat. Pakaianmu biar Kapten Purba yang menyiapkan. Sepatumu, biar Kapten Purba yang menyemir,” kata Doni, lalu melempar pandang ke Kapten Purba.

Sigap Kapten Purba melaksanakan perintah komandannya. Ia pun menyemir sepatu Nainggolan hingga kinclong.

“Di situ saya tak kuasa menahan air mata. Betapa besar perhatian komandan saya, Pak Doni Monardo, dan juga perwira Pasiops saya, pak Purba. Pangkat saya hanya Prajurit Satu, beliau-beliau perwira,” kata Purba. Matanya berkaca-kaca.

Seketika, Nainggolan merasa segar kembali. Demamnya menguap. Perhatian komandan dan perwira di Batalyon 741, sungguh membesarkan hatinya. Kini ia bisa menyimpulkan, Doni Monardo sangat pandai membangun dan membina kesatuan.

“Saat itu, suasananya benar-benar tidak ada kesenjangan antara perwira, bintara, dan tamtama. Misi adalah segala-galanya. Hati saya seketika merasa membesar, semangat menyala-nyala, ingin rasanya malam segera berlalu, datang pagi dan bertanding. Saya akan berikan yang terbaik bagi komandan, bagi batalyon,” kata Nainggolan berapi-api.

Perhatian Doni tidak berhenti sampai di situ. Pagi-pagi sekali, ia sudah mendatangi barak prajurit, dan memastikan semua BAB. “Itu keharusan. Setiap pagi, kami semua para atlet wajib BAB. Kata komandan, supaya tidak demam panggung saat mulai tanding. Bayangkan, soal-soal kecil seperti itu pun beliau perhatikan,” kata Nainggolan pula.

Saat bertanding pun tiba. Hasilnya, sungguh luar biasa. Nainggolan, tamtama berpangkat prajurit satu dari batalyon “antah berantah” berhasil menyisihkan para penembak otomatis kesatuan lain. Bukan hanya itu, ia berhasil menembus papan atas, dengan meraih Juara III. Dua juara di atasnya direbut Kopassus (Juara I), dan Divisi I Kostrad (Juara II).

Jumpa komandan setelah belasan tahun tak bersua. Doni mengajak Nainggolan sarapan bersama. (foto: egy m)

Salam Wirotama

Sebuah kisah sekaligus kenangan manis yang akan terbawa hingga akhir hayat. “Tahun 2001 beliau pindah menjadi Dandenma Paspampres (2001—2003), posisinya digantikan Mayor Inf Ganip Warsito,” katanya. Nainggolan tetap di Batalyon Singaraja.

Tahun 2010, Nainggolan pindah tugas ke Kodim Karo, Sumatera Utara. “Waktu kejadian erupsi Gunung Sinabung pertama tahun 2010, saya pas di sini,” katanya.

Letusan Sinabung kembali mempertemukan dirinya dengan sang komandan. Ketika itu Doni mendampingi Presiden SBY meninjau Sinabung, dalam pangkat Kolonel dan jabatan Komandan Grup A Paspampres (2008 – 2010).

Ketika bertemu, Nainggolan langsung memberi hormat dan memberi salam, “Wirotama!” Seketika Doni ingat Nainggolan. Ia ingat prajurit pemesan mie gomak saat Porad di Cilodong sepuluh tahun lalu. “Saya diajaknya ke tenda beliau. Di sana banyak pejabat, banyak menteri. Ada yang bertanya, ‘ini siapa Don’, dan komandan menjabat, ‘ini dulu anak buah saya di Singaraja’,” kenang Nainggolan.

Pertemuan kedua (usai penugasan Singaraja), terjadi belum lama, hari Rabu 8 Juni 2022 di Taman Simalem Resort, Karo, Sumatera Utara. Kebetulan, Doni Monardo selaku Komut MIND ID berkunjung ke sana. Dalam kapasitas sebagai Staf Ahli Satgas Penyelamatan Danau Toba, Doni hadir dalam Rakor Penyelamatan Danau Toba. Acara di sana juga dilanjutkan aksi penanaman pohon di Bukit Gajah Bobok, Karo.

Nainggolan kini sudah berpangkat Sersan Satu (Sertu), dan berdinas di Unit Intel Kodim 0205/Tanah Karo. Saat itu, ia sedang menunggu di kamar Dandim Karo, Letkol Inf Benny Angga (Kopassus, Akmil 2003).

“Tiba-tiba saya melihat ada pak Doni Monardo. Saya langsung menghampiri dan hormat sambil beri salam, ‘Wirotama, jenderal’,” katanya.

Kenangan Manis Sepakbola

Doni tersenyum lebar melihat Nainggolan. Terkenang kembali kenangan Singaraja. Terkenang kembali mie gomak. Doni seketika mengajak Nainggolan sarapan bersama. Kepada anggota rombongan yang menyertai, Doni langsung mengenang heroisme Nainggolan dan tim sepakbola Batalyon 741. Saat itu, kesebelasan batalyonnya terjun dalam kejuaraan olahraga TNI-AD.

“Waktu itu tim saya kalah telak 6-0 hingga babak pertama. Lalu saya bangkitkan motivasi mereka dengan mengatakan, ‘tenang saja, mereka paling hanya kuat di 45 menit pertama. Kita sikat mereka di 45 menit babak dua’,” kata Doni sambil tertawa.

Apa yang dikatakan Doni ternyata benar. Babak kedua, ball possession (penguasaan bola) diambil alih kesebelasan Yon 741. Pelan-pelan, kesebelasan Doni mulai mencetak gol: 6 -1, 6 -2, 6 – 3, 6 – 4, 6 – 5, 6 – 6. Sampai di kedudukan imbang, moril pemain Yon 741 bangkit, dan main makin kesetanan. Dan ketika peluit panjang ditiup wasit, skor akhir adalah 6 – 9, untuk kemenangan Yon 741. Doni sangat bangga sebagai komandan batalyon.

Atas prestasi gemilang Yon 741, Nainggolan beberapa kali menyebutkan tingkat intensitas gemblengan yang diberikan Komandan Doni Monardo. “Wah, latihan kami imbang-imbanglah sama Kopassus,” katanya dalam logat Batak, sambil tertawa.

Ditanya kesannya atas pertemuan kembali dengan Doni Monardo, setelah 12 tahun (pasca Sinabung 2010), Nainggolan spontan menjawab, “Tidak berubah. Beliau selalu baik kepada prajurit. Sangat baik dan perhatian. Kalaupun keras, itu demi kami para prajurit yang dipimpin,” katanya. Nainggolan menambahkan, “suatu hari dalam sebuah apel saya ingat betul kata-kata beliau, tidak ada prajurit salah, yang salah adalah komandan.”

Pistol dan Menembak

Latihan menembak.

Karena itu, para perwira di Batalyon 741 pun digembleng jiwa kepemimpinan yang keras. Ia mencontohkan soal kemampuan menembak. Khalayak mengetahui, bahwa seorang perwira dibekali satu unit pistol. Akan tetapi, oleh Doni diberi tambahan kalimat, “Boleh membawa pistol kalau bisa menembak. Sebaliknya, yang tidak bisa menembak, letakkan pistol di meja saya. Jangan bawa pistol.”

Yang terjadi kemudian, semua perwira di Yon 741 pun berlatih menembak sasaran dengagn sangat intensif. Doni Monardo pula yang menjadi instruktur, hingga semua perwira akhirnya mahir menembak. Mereka pun boleh memegang pistol.

Saat wawancara diakhiri, buru-buru Nainggolan mencegah. Katanya, “Tunggu, ada satu lagi yang harus saya sampaikan terima kasih kepada beliau. Yaitu bentuk perhatian kepada kami mantan anak buahnya,” katanya.

Salah satu contoh, ia sebutkan saat batalyonnya mengikuti pertandingan olahraga militer di Serang, Banten. Tim Yon 741 hanya membawa satu kaos tim. Mereka pun menghubungi Doni. Tidak lama kemudian, datang bantuan kaos tim, lima set untuk tiap atlet. “Jadi kami ketambahan kaos tim lima, sumbangan beliau,” kata Nainggolan tersenyum lebar. (*)

(egy massadiah/roso daras)

Kisah Jenderal yang Pernah Jualan Es Mambo

JAYAKARTA NEWS – Suasana kantor PPAD penuh tawa dan diwarnai kenangan masa lalu. Hadir Jenderal TNI Purn Budiman, Kepala Staf TNI-Angkatan Darat (Kasad) ke-29 tahun 2013-2014.

Lulusan Akabri terbaik 1978 (Adhi Makayasa & Tri Sakti Wiratama) mengenang kembali masa masa ketika masih menjadi pengasuh di Lembah Tidar.

“Terutama yang letting 84 sampai 92, pasti pernah punya kenangan dengan saya. Sebab ketika itu saya menjadi pengasuh mereka,” ujar lulusan Terbaik Seskoad 1994 itu. Budiman juga tercatat sebagai Lulusan Terbaik Sesko TNI 2001 (Wira Adi Nugraha).

Putra Betawi kelahiran Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan itu, pada Rabu (7/9) tampak berada di Gedung PPAD, Matraman, Jakarta Pusat. Ia hadir atas undangan organisasi PPAD.

“Kami, pengurus PPAD 2021 – 2026 punya program menghadirkan para senior. Kami bersilaturahim, saling up date berbagai hal terkait program kesejahteraan PPAD. Tidak saja senior, tetapi juga yang memiliki kompetensi untuk memberi masukan kepada para pengurus. Utamanya masukan tentang bagaimana tetap produktif pasca purna tugas,” ujar Doni memberi pengantar.

Dalam kesempatan itu, Doni meminta seniornya, Jenderal Budiman sharing informasi. Selain informasi masalah-masalah yang aktual juga persoalan-persoalan kewirausahaan, yang menjadi fokus kepengurusan PPAD 2021 – 2026.

Doni juga melaporkan ihwal Silaturahmi Nasional (Silatnas) PPAD di JICC Sentul, Jumat (5/8/2022). Acara itu terselenggara untuk menepis anggapan bahwa PPAD merupakan organisasi purnawirawan kalangan jenderal. “Kami buktikan, PPAD itu bukan milik eksklusif perwira tinggi, para jenderal. PPPAD juga rumah bersama para purnawirawan bintara dan tamtama,” tegas Doni Monardo.

Ketua Umum PP PPAD, Letjen TNI Purn Doni Monardo memberi plakat PPAD kepada Kasad ke-29, Jenderal TNI Purn Budiman. (foto: egy m)

Es Mambo

Jenderal Budiman mengaku sangat terhormat diundang berbicara di hadapan pengurus dan anggota PPAD. Termasuk hadirnya para ketua paguyuban angkatan, mulai dari angkatan 1980 sampai 1988 yang hadir di Aula Soerjadi, Gedung PPAD.

Budiman membenarkan,  begitu banyak bidang pengabdian pasca seorang prajurit memasuki usia pensiun. Yang ingin berpolitik, bisa menganalisa peta kekuatan partai politik yang ada.

Sedangkan, yang ingin fokus ke bidang wiraswasta ia sarankan agar berhati-hati. “Supaya tidak tertipu. Sebab, banyak pensiunan yang niatnya bisnis, tapi malah tertipu. Termasuk saya,” ujar Budiman disusul tawa hadirin.

Budiman memuji hajat Silatnas, dan berharap bisa menjadi ajang silaturahmi regular di tahun-tahun yang akan datang. Terhadap program utama PPAD, yakni politik kesejahteraan, lagi-lagi Budiman menyatakan dukungannya.

“Sejahterakan dulu dirinya, baru bicara yang lain-lain. Kalau kita sejahtera, maka kita bisa merambah bidang apa pun, tanpa terganggu problem besok makan apa,” katanya.

Jiwa mandiri sudah tertanam pada diri Budiman. Ia menempa dirinya untuk bisa berprestasi di setiap jenjang pendidikan. Dan itu dibuktikan.

Selain itu, sebagai prajurit ia juga harus pandai memutar otak bagaimana mencukupi kebutuhan hidup. Selain memaksimalkan semua yang diberikan negara kepadanya, Budiman juga mencoba usaha. Usaha apa, saja yang penting halal.

“Sejak perwira pertama, ada saja yang saya lakukan di luar jam dinas. Mulai dari ternak bebek, ternak ayam, sampai jualan es mambo,” kata Budiman, berterus-terang.

Potensi Purnawirawan

Apa yang dilakukan PPAD dengan memberi pelatihan kepada para calon purnawirawan sungguh tepat. “Harus mulai disusun program jangka pendek yang sifatnya tahunan. Lalu jangka menengah yang berjangka 10 tahun, dan jangka panjang 20 tahunan. Jadi kita sudah punya bayangan, saat seratus tahun Indonesia merdeka 2045, wajah purnawirawan Angkatan Darat seperti apa,” katanya.

Budiman mengingatkan besarnya potensi purnawirawan TNI-AD. Sebuah potensi yang jika dioptimalkan, akan mampu memberi kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan bangsa. Ia lalu memberi contoh organisasi sejenis yang ada di negara tetangga.

“Bisnis purnawirawan tentara Malaysia bahkan ada yang sudah ekspansi ke luar negeri,” katanya.

Budiman mengawali kariernya sebagai Danton Yonzipur-3 di Kodam III/Siliwangi. Setelah itu, ia menjabat Danki-A Yonzipur-3 Kodam III/Siliwangi, Dankitar Akabri Darat, Pasiops Yon Dewasa Tarsis Akmil, Dan Kotakta Yontar Remaja. Lanjut jabatan berikut, Kasi Siapsat Bagbinsat Ditziad, dan Danden Zipur-6/Kodam VI Tanjung Pura.

Setelah itu, Budiman masuk ke Kopassus sebagai Kazi Kopassus, Danyon Zipur-10 Kostrad, dan Pabadya-3/Latgab Panan-II/Sopsad. Ia diangkat menjadi Sespri Wakil KSAD tahun 1997, kemudian Sespri KSAD tahun 1998 dan Koorspri KSAD pada tahun yang sama. (*)

Doni Monardo: Menjaga Alam Harus Jadi Perilaku, Bukan Slogan

JAYAKARTA NEWS – Sekitar 500 an mahasiswa baru antusias mengikuti acara Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Krisnadwipayana. Acara berlangsung Senin 5 September 2022.

Pusat kegiatan dilakukan di aula Kampus Jatiwaringin, Bekasi, Jawa Barat. Acara hari itu menghadirkan pembicara Letjen TNI Purn DR (HC) Doni Monardo. Ia adalah tokoh nasional yang dijuluki “jenderal pohon” dan penggiat lingkungan. Dikenal pula sebagai Kepala BNPB 2019 – 2021. Saat ini ia menjabat Ketua Umum Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD) dan Komisaris Utama BUMN tambang MIND ID.

Doni mengucapkan terima kasih kepada Civitas Akademika Universitas Krisnadwipayana yang mengundangnya pada acara penting itu. “Saya selalu menyebut nama Universitas Krisnadwipayana dengan penuh hormat. Sebab, inilah salah satu perguruan tinggi yang dirintis oleh para pejuang ’45,” ujarnya.

Doni mengusung materi “Sinergi Patriot, Lestari Budaya”. Ia membuka ceramahnya dengan menanyakan kepada semua mahasiswa baru, berapa orang yang menggunakan/membawa tumbler?

Budayakan Bawa Tumbler

Lulusan Akmil 1985 itu mengatakan bahwa ia sudah berhenti menggunakan botol minum plastik sekali pakai sejak tahun 2017. Kemana pun ia pergi pasti selalu membawa tumbler.

“Supaya ceramah saya pagi ini langsung ada manfaatnya izinkan saya meminta sesuatu pada panitia dan civitas akademika Unkris. Permintaan saya adalah mewajibkan semua anak didik dan juga para pengajar berhenti menggunakan botol plastik kemasan sekali pakai. Beralihlah ke tumbler,” kata Doni tegas yang disambut tepuk tangan hadirin.

Doni mengingatkan, mahasiswa baru yang hadir harus menjadi teladan dalam menjaga alam. Mantan pangdam Pattimura itu menantang hadirin. Tantangannya berupa, usai acara ini, mereka diminta meninggalkan tempat acara tanpa satu potong sampah pun tertinggal. “Budaya menjaga alam harus jadi perilaku, bukan sekedar slogan,” tegas Doni.

Bagi Doni, generasi muda adalah tumpuan bangsa menuju tata kehidupan yang lebih adil dan makmur.

Doni menekankan tujuan mencetak Indonesia Emas 2045 jangan sampai mengabaikan budaya merawat alam. “Indonesia emas akan menjadi Indonesia cemas jika alam negeri kita rusak,” tegasnya.

Dampak kerusakan lingkungan adalah ancaman nyata yang dihadapi generasi sekarang. Hampir semua sungai tercemar. “Bayangkan, jika padi mengandung logam berat akibat air yang tercemar. Bahkan, tidak sedikit ikan di sungai mengandung mercuri dan formalin. Padahal, untuk mewujudkan manusia berkualitas tidak cukup dari bangku sekolah atau bangku kuliah saja. Manusia berkualitas juga ditentukan oleh asupan gizi. Di samping, makan dan minum yang bebas racun, serta udara yang bersih dari polusi,” tegas Danjen Kopassus 2014 – 2015 itu.

Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo memberi pembekalan kepada para mahasiswa baru Unkris. (foto: egy m)

Ancaman Nyata

Menurut Doni, generasi muda dihadapkan pada ancaman nyata yang menghadang di depan mata. Ancaman bisa berupa potensi dan yang sudah terjadi. Disebut potensi ancaman, antara lain terjadinya perang atau konflik antarnegara. Bisa terjadi kapan saja.

Sebaliknya, ada ancaman nyata yang sudah dan sedang kita hadapi. “Ancaman nyata itu adalah, climate change dan atau kerusakan lingkungan,” tambahnya.

Berdasar data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tahun 2021 terjadi 5.402 bencana sepanjang tahun. Sedangkan, hingga Agustus tahun 2022 sudah terjadi 1.926 bencana. Hampir semua bencana diakibatkan oleh kerusakan alam dan perbuatan manusia.

Di akhir acara, Doni menyingung prinsip-prinsip demokrasi (kedaulatan di tangan rakyat). Selain demokrasi, Doni menitipkan pula pesan idealisme yang lain, yakni ecocracy (kedaulatan lingkungan hidup).

“Ecocracy merupakan gagasan yang tak jauh beda dengan paham-paham lain yang sudah dikenal sebelumnya. Misalnya, teokrasi (kedaulatan Tuhan), demokrasi (kedaulatan rakyat), nomokrasi (kedaulatan hukum),” pungkas Doni. (egy m)

Filosofi Se Helai Papeda (Kisah Doni Monardo Mengangkat Derajat Sagu Papua)

Kepala BNPB Letjen Doni Monardo melakukan kunjungan kerja ke Sentani Papua, 3 September 2019. Ia menyerahkan sejumlah bantuan untuk korban bencana banjir dan longsor yang terjadi Maret 2019.

Doni bertemu ondofolo dan masyarakat adat se-Danau Sentani dalam acara “Kebersamaan dalam se-Helai Papeda dari Pinggiran Danau Sentani untuk Persatuan dan Kedamaian Bagi Tanah Papua dan Indonesia” di Bumi Kenambai Umbai, Sentani, Jayapura.

Dalam pertemuan itu, Kepala BNPB menyerahkan bantuan perahu katamaran, alat pengasap ikan, 100 ribu bibit pohon masohi dan dua pabrik sagu yang rencana akan dibangun di Sentani, sebagai wilayah dengan ladang pohon sagu terbesar di Indonesia.

#donimonardo#egymassadiah#sagu

Kolaborasi Sumur Bor di Pulau Timor

Kisah Letjen Pur Doni, Pangkostrad Maruli dan Ketua Kadin Arsjad

JAYAKARTA NEWS— Desa Noelbaki, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur adalah satu di antara sekian desa di sana, yang kering-kerontang. Jangankan di musim kemarau, di musim hujan saja air susah didapat.

Tak heran jika masyarakat, termasuk ratusan pengungsi eks Timor Timur harus antre, bahkan berebut air setiap hari, dari satu sumber. Hal itu pula yang mengetuk “Bapak Air”, Letjen TNI Maruli Simanjuntak untuk menghadirkan air bersih di sana.

Alhasil, melalui kerjasama banyak pihak, terbangunlah 16 sumur bor bagi 1.674 rumah tangga atau 10.522 jiwa warga eks Timor Timur yang ada di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur. Titik-titik itu menggenapi sejumlah titik lain yang pernah dibangun oleh Maruli saat ia menjabat Pangdam IX/Udayana (2020 – 2022).

Bedanya, kali ini ia tidak melakukannya sendiri. Selepas Pangdam IX/Udayana, seperti kita tahu, Maruli promosi bintang tiga menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Perhatiannya pada program air bersih tetap dilanjutkan. Termasuk melanjutkan program yang ia canangkan saat masih menjabat Pangdam Udayana.

Termasuk pembangunan 16 sumur bor kali ini. Menurut Maruli, ke-16 sumur bor yang baru saja diresmikan, merupakan kolaborasi ide bersama Letjen TNI Doni Monardo dan Arsjad Rasjid dari Energy Group pada tahun 2021. Saat itu, tentu saja Maruli masih menjabat Pangdam IX/Udayana dan Doni Monardo masih menjabat Kepala BNPB. Pengerjaannya dilakukan oleh prajurit Kodam IX/Udayana mulai Desember 2021.

Sebanyak 16 sumur bor itu tersebar di lima kabupaten di Pulau Timor, yaitu Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Malaka, dan Kabupaten Belu. Banyak warga eks Timor Timur menetap di daerah itu setelah memilih bergabung dengan Indonesia pasca-penentuan pendapat tahun 1999. Selama tinggal di tempat yang baru, mereka kesulitan mendapatkan air bersih.

Di Kabupaten Kupang, misalnya, pemerintah membangun perumahan bagi warga eks Timor Timur, tetapi tidak dilengkapi fasilitas air bersih. Mereka juga kesulitan membangun sumur bor dengan harga paling rendah Rp 30 juta. Kondisi itu memaksa mereka meninggalkan tempat tersebut. Bahkan, ada sebagian yang memilih pulang kampung ke negara Timor Leste.

Di tempat terpisah, Doni Monardo lewat sambungan telepon mengatakan, krisis air bersih yang dialami warga eks Timor Timur dan masyarakat NTT menarik keprihatinannya. Daerah itu selalu mengalami krisis air bersih setiap tahun. Selain sumber air yang minim, musim hujan juga berlangsung singkat, yakni Desember hingga Maret.

”Dulu waktu masih taruna tahun 1985, saya bertugas di Pulau Timor sehingga tahu kondisi itu. Agustus 2021, saya mendapat informasi dari media yang menyorot nasib warga eks Timor Timur, termasuk masalah air bersih. Bersama Pak Arsjad Rasjid, kami mulai melakukan hal ini,” tutur prajurit baret merah itu.

Menurut Doni, persoalan air bersih menjadi pangkal berbagai masalah kesehatan di NTT, seperti tengkes atau stunting. Tengkes adalah anak dengan pertumbuhan tidak normal, baik berat maupun tinggi. Selain persoalan gizi, sanitasi masyarakat juga menjadi faktor penentu kesehatan anak. Sanitasi yang baik harus didukung dengan ketersediaan air bersih yang mencukupi.

Menurut Studi Status Gizi Indonesia 2021, NTT menjadi daerah dengan prevalensi tengkes tertinggi nasional. Dari 22 kabupaten/kota, 15 daerah berada di zona merah (prevalensi di atas 30 persen) dan 7 daerah lainnya di zona kuning (20-30 persen). Tidak ada satu pun kabupaten/kota di NTT masuk zona hijau (10-20 persen), apalagi zona biru (di bawah 10 persen).

Daerah dengan prevalensi tengkes tertinggi adalah Kabupaten Timor Tengah Selatan, yakni 48,3 persen. Artinya, 48 dari 100 anak balita di daerah itu mengalami tengkes. Daerah itu memuncaki nomor satu tertinggi dari 246 kabupaten/kota di 12 provinsi yang menjadi prioritas penanganan secara nasional. Angka itu lebih dari dua kali lipat dari standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menoleransi pada kisaran 20 persen. Arthur Ximenes (45), tokoh muda asal Timor Timur, mengapresiasi bantuan sumur bor yang diberikan kepada warga eks Timor Timur. Hal itu menunjukkan perhatian bagi mereka tidak surut. ”Memang di sana-sini masih ada kekurangan, tetapi kalau harap semua dari pemerintah pasti sulit karena banyak yang diurus,” kata Arthur yang sudah dua periode menjabat Kepala Desa Manusak di Kabupaten Kupang.***egy

Mimpi Amphibi untuk Kemakmuran Negeri

JAYAKARTA NEWS – Safari menggalang kolaborasi dengan para pihak, terus dilancarkan Ketua Umum PPAD, Letjen TNI Purn Doni Monardo. Hari ini, Jumat (1/7), Doni melakukan audiensi dengan Ketua Umum Perhimpunan Purnawirawan TNI Angkatan Udara (PPAU), Marsekal TNI Purn Djoko Suyanto, di kantor PPAU Gedung Persada Purnawira, JI. Raya Protokol Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Selain membahas jalinan kerjasama, keduanya juga menjadikan ajang tersebut sebagai ajang temu-kangen. Djoko Suyanto adalah Panglima TNI 2006 – 2007. Setelah itu, menjabat Menko Polhukam 2009 – 2014, di era kepemimpinan Presiden SBY. Sementara, Doni Monardo menjabat Dan Paspampres pada tahun 2012 – 2014. Saat itu keduanya terbilang intens berinteraksi.

Karenanya, silaturahmi pada hari Jumat berkah itu, berlangsung sangat cair. Laiknya pertemuan kakak-beradik yang cukup lama tak bersua. Tak heran jika Djoko Suyanto menyambut positif ajakan kerjasama Doni Monardo untuk besama-sama meningkatkan kesejahteraan purnawirawan, tidak saja purnawirawan TNI-AD, tetapi juga TNI-AU. Hal sama juga sedia digalang dengan Persatuan Purnawirawan TNI-AL dan Polri.

Seperti laiknya sikap adik kepada kakak, maka Doni pun menyampaikan rencana program PPAD, utamanya dalam menggulirkan program politik kesejahteraan. Saat bersamaan, Doni juga menjajagi kemungkinan kerjasama dengan PPAU dalam banyak hal, utamanya alam meningkatkan kesejahteraan purnawirawan maupun kesejahteraan masyarakat.

Hambatan Transportasi

Dalam kesempatan itu, Doni minta dukungan PPAU untuk membahas dengan stakeholder terkait di dunia penerbangan agar memudahkan transportasi udara pengangkut hasil laut dan hasil bumi dari Indonesia Timur.

Indonesia timur luar bisa, kata Doni. Hasil laut berupa ikan, kepiting, lobster, serta hasil alam dari Indonesia Timur sangat bagus dan memiliki potensi besar untuk mendatangkan devisa negara. “Saya pernah punya pengalaman di Saumlaki, Kabupatan Tanimbar Maluku. Banyak hasil laut seperti kepiting yang tidak bisa dijual ke luar karena tidak adanya armada udara untuk mengangkut. Akhirnya, kesempatan mendapatkan potensi SDA dari Indonesia Timur tidak maksimal,” ujar Pangdam XVI/Pattimura 2015 – 2017 itu.

Selain itu, Doni juga menyebutkan potensi ikan tilapia (nila) yang ada di Danau Toba. Ikan Danau Toba sangat diminati. Bahkan punya peluang ekspor ke Amerika Serikat dalam bentuk fillet. Lagi-lagi tidak maksimal karena terkendala armada pengangkutan udara (kargo).

Alangkah idealnya jika PPAU juga menaruh perhatian terhadap potensi tersebut, dan meminta IPTN memperbanyak produksi pesawat jenis amphibi. “Belum lagi potensi minyak atsiri dan bahan baku farmasi dari tanaman hutan. Kita bisa menjadi produsen bahan baku herbal tingkat dunia jika digarap dengan baik. Tentunya akan meningkatkan perekonomian kita,” kata Doni, seraya mencontohkan salah seorang temannya yang berhasil mengekspor atsiri dan beroleh keuntungan hingga Rp 1,2 triiun. (egy)

Gandeng bank bjb, PPAD Bantu Tuntaskan Persoalan Bangsa

JAYAKARTA NEWS – Lepas subuh di hari Selasa (21/6/2022), Ketua Umum PPAD, Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo meluncur ke Bandung. Selain bertemu Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Doni juga dijadwalkan hadir di ruang rapat lantai 7 Menara bank bjb, Jl. Naripan 12 – 14, Bandung untuk menandatangani nota kesepahaman antara PPAD dan bank bjb.

Begitulah. Program politik kesejahteraan yang digulirkan Doni Monardo disambut positif dunia perbankan. Satu di antaranya adalah bank bjb, sebuah bank BUMD yang didirkan sejak 20 Mei 1961, dan menjadi Bank Pembangunan Daerah pertama di Indonesia yang melantai di Bursa Efek Jakarta, sejak 2010.

Ketika menyambut Doni Monardo dan rombongan, Dirut Dirut bank bjb, Yuddy Renaldi juga mengemukakan sederet prestasi yang telah ditorehkan bank yang dipimpinnya. Secara nasional, bank bjb urutan 14 dari 107 bank di Indonesia, dan merupakan bank pembangunan daerah terbaik dan terbesar di Indonesia dengan total asset posisi Maret 2022 sebesar Rp 158 triliun.

Pria kelahiran Bogor 1964 yang mantan pejabat Bank BNI itu juga menyebutkan sebaran bank bjb sebanyak 2.804 jaringan di 14 provinsi di seluruh Indonesia. “Visi kami adalah ‘Menjadi Bank Pilihan Utama Anda’. Melalui MoU ini, bank bjb bisa memberikan support dan layanan terbaik dari sisi perbankan. Guyon kami, insya Allah lebih baik dari bank lain,” ujar pria berambut putih itu, disambut tawa dan tepuk tangan yang hadir.

Yuddy juga menyampaikan sejumlah kerjasama yang sudah dan akan terjalin. Di antaranya dengan Kodam III/Siliwangi (sejak 2020), dan dengan Mabes TNI (dijadwalkan akhir Juni 2022). “Saat bertemu Panglima TNI, kami diminta menyiapkan video untuk disebar ke seluruh teritori, agar seragam. Sedang kami siapkan,” ujar lulusan Magister Manajemen STIE IPWI Jakarta tahun 2000 itu.

Ketua Umum PPAD, Letjen TNI Purn Doni Monardo (kanan), dan Kabid Ekonomi PPAD, Mayjen TNI Purn Wiyarto, di Menara bank bjb, Bandung. (foto: bank bjb)

Masuk 10 Besar

Doni Monardo dalam sambutannya mengapresiasi pencapaian prestasi bank bjb. “Semoga tahun depan bisa masuk 10 besar,” doanya, dan di-amin-i para hadirin.

Kepala BNPB 2019-2021 itu juga menaruh harapan besar pasca MoU antara PPAD dan bank bjb. Di bawah kendali Kabid Ekonomi Mayjen TNI Purn Wiyarto, PPAD memiliki rencana kegiatan wirausaha, sebagai program utama organisasi. “Politik PPAD adalah politik kenegaraan dan politik kesejahteraan. Kami tidak berpolitik praktis,” tegas Doni Monardo.

Jika ada purnawirawan TNI-AD berpolitik praktis, dipersilakan melalui organisasi politik yang ada, sebagai wujud hak individu. Karena itu, tegas Danjen Kopassus 2014-2015, segenap pengurus PPAD tidak berpolitik praktis.

“Selain di politik, sesungguhnya ada bidang pengabdian lain, setelah purna tugas sebagai prajurit TNI, yakni ikut membantu pemerintah menyelesaikan persoalan yang belum terselesaikan secara maksimal, utamanya di bidang kesejahteraan masyarakat,” paparnya.

Dalam kurun 2,5 tahun terakhir, sejak pandemi covid-19 melanda negeri, banyak warga negara kehilangan pekerjaan. Menurut catatan resmi, jumlahnya sekitar 2 juta orang. Banyak perusahaan menurun drastis omzetnya dan mengurangi jumlah karyawan. Banyak pula industri yang tutup sama sekali.

Sementara, Doni Monardo punya pengalaman dalam sejumlah penugasan, yang jika disimpulkan sesuai dengan pepatah Inggris yang berbunyi, “a hungry man become an angry man”. “Kalau perut kosong, sangat mudah diprovokasi untuk berbuat kerusuhan,” ujarnya.

Melalui PPAD, Doni Monardo bertekad menggerakkan potensi para purnawirawan menjadi salah satu motor lajunya ekonomi negara, utamanya pasca covid-19. Setiap upaya yang dilakukan, bermuara pada terciptanya unit usaha yang produktif, sehingga mampu menyerap tenaga kerja.

“Dalam banyak kesempatan saya mengatakan, para pencipta lapangan kerja adalah pahlawan masa kini dan yang akan datang,” ujar Doni Monardo.

Di tengah kita, ada kondisi yang bisa dibilang darurat. Utamanya mereka yang hidup dalam tekanan ekonomi akibat efek pandemi. Tanpa uang dan pekerjaan, masyarakat tidak bisa mendapatkan asupan makanan bergizi. Mereka juga tidak bisa mengakses kesehatan yang layak, termasuk akses pendidikan bagi putra-putrinya. “Sehingga kalau ada purnawirawan yang berhasil menciptakan lapangan kerja, saya katakan mereka adalah pahlawan,” tegasnya.

Ketua Umum PPAD, Letjen TNI Purn Doni Monardo ikut nyemplung ke tambak dan memanen udang vaname di tambak PT Parigi Aquakultura Prima, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. (foto: bidkom ppad)

Karena itu pula, PPAD terus menggeliat menjalin kerjasama dengan para pihak. Termasuk dengan PT Parigi Aquakultura Prima, perusahaan yang sukses dengan budidaya udang vaname di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

“Saya sudah mempelajari, sukses PT PAP antara lain berkat disiplin manajemen serta water treatment atau ekosistem yang baik. Tak heran jika tambak udang di sana, satu hektare bisa menghasilkan 70 ton, sementara tambak-tambak kebanyakan kurang dari 30 ton,” tambahnya.

Kini, sukses PAP sudah menjadi buah bibir nasional. Perkampungan tempat tambak udang mereka berada, menjadi sejahtera. Dulu mereka miskin, sekarang berkecukupan. Banyak yang sudah pergi umrah dan mendaftar haji. Dealer sepeda motor laris. “Pas panen raya, gaji tenaga ahli di sana mungkin sama dengan gaji Dirut bank bjb,” kata Doni berseloroh.

Hal lain yang jadi perhatian Doni Monardo adalah pengembangan sumber pangan alternatif sagu. Pada dasarnya, bangsa kita bukan bangsa pemakan nasi, tapi pemakan sagu. Beras berasal dari China. Kemudian disusul beras India.

Dari sisi bahasa, ada kemiripan antara kata “sagu” dengan “sego”, bahasa Jawa yang berarti nasi. Ada kemiripan juga dengan “sangu”, bahasa Sunda yang juga berarti nasi. Padahal, aslinya sagu sebagai makan pokok nenek moyang kita, bukan nasi dalam arti beras dari China. Sebaliknya, nasi adalah bahasa China (naxi).

“Waktu saya latihan militer di Jawa Barat, sering dengar warga Sunda bicara ‘aya sangu’? Yang artinya, ada nasi?” kata Doni sambil tertawa, mengenang awal-awal tugasnya sebagai prajurit TNI.

Di sejumlah wilayah di Tanah Air, utamanya di kawasan dengan habitat bakau yang baik, Doni Monaro juga membawa PPAD melirik peluang budidaya kepiting bakau. “Ke depan, kita kembangkan pangan sagu dikombinasi kepiting dan udang, serta sayur daun kelor, maka kita akan menjadi bangsa yang kuat dan mandiri di bidang pangan,” ujar Doni optimistis.

Sebelum mengakhiri sambutan, Doni Monardo tak lupa menyampaikan terima kasih kepada bank bjb yang berperan aktif mengucurkan dana CSR bagi program Citarum Harum. Program yang ia gagas tahun 2017-2018 saat menjabat Pangdam III/Siliwangi. “Mudah-mudahan CSR lingkungan bisa semakin ditambah karena di Jabar saya merasakan kualitas lingkungan menurun,” katanya.

Jika musim hujan, banyak terjadi banjir dan longsor yang menelan korban. Berdasar data BNPB, korban banjir dan longsor di wilayah Jawa Barat paling besar dibanding provinsi lain di Indonesia. “Semoga dengan memperhatikan ekosistem, kerugian akibat bencana alam bisa ditekan di kemudian hari,” harapnya. (egy/roso)

bank bjb Kolaborasi dengan PPAD, Mudahkan Nasabah Transaksi Perbankan

JAYAKARTANEWS – bank bjb melakukan kolaborasi dan sinergi dengan Persatuan Purnawirawan TNI – AD (PPAD) dengan menghadirkan layanan funding, lending serta transaksi yang memudahkan nasabah. Penandatanganan Nota Kesepahaman antara bank bjb dengan PPAD berlangsung pada Selasa, 21 Juni 2022 di Ruang Rapat Lantai 7 Menara bank bjb, Kota Bandung.

Hadir dalam acara tersebut dari Ketua Umum PPAD yakni Letjen TNI Purn. Dr. (H.C) Doni Monardo, Ketua Bidang Ekonomi Mayjen TNI Purn. Wiyarto, Wakil Ketua Bidang Ekonomi Brigjen TNI Purn. Edison Simanjuntak, Anggota Bidang Ekonomi Brigjen TNI Purn. Aminulloh, Sekretaris Bidang Hukum Kolonel Chk. Purn. Murtini, S.H., M.H, Anggota Bidang Ekonomi Een Iriawan Putra, Tim PT Parigi Aquakultura Prima (PAP).

Selain itu juga dihadiri Direktur Utama bank bjb Yuddy Renaldi, Direktur Konsumer dan Ritel bank bjb Suartini, Plt Pemimpin Divisi Hubungan Kelembagaan bank bjb Denny Mulyadi dan Pemimpin Divisi Ritel bank bjb Rudy Purwadhi.

Ruang lingkup MoU bank bjb dan Persatuan Purnawirawan TNI – AD (PPAD) meliputi Funding, Lending, serta Transaksi yaitu Sarana layanan perbankan yang membantu dan memudahkan nasabah dalam melakukan transaksi perbankan meliputi Penggunaan Layanan Informasi Keuangan Perbankan, serta Jasa layanan perbankan lainnya sesuai dengan kesepakatan para pihak.

“bank bjb berkolaborasi dengan PPAD untuk menghadirkan kemudahan layanan perbankan bagi Purnawirawan TNI AD,” ujar Pemimpin Divisi Corporate Secretary bank bjb Widi Hartoto.

Ketua Umum PPAD, Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo dan Direktur Konsumer dan Ritel bank bjb Suartini, menunjukkan naskah kerjasama yang sudah ditandatangani kedua pihak, disaksikan Kepala Bidang Ekonomi PPAD, Mayjen TNI Purn Wiyarto (kiri), dan Dirut bank bjb, Yuddy Renaldi. (foto: bank bjb)

bank bjb dan Persatuan Purnawirawan TNI – AD (PPAD) memiliki visi dan misi yang sejalan, yakni menjaga dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Melalui kerjasama dengan PPAD ini, bank bjb juga berharap dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa atas dasar persaudaraan dan kekeluargaan serta mempererat kesetiakawanan sosial sesama anggota dan warga PPAD.

“bank bjb mendukung tugas PPAD melaksanakan kegiatan khususnya di bidang Ekonomi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan anggota dan keluarga PPAD,” kata Widi.

Menurut Widi, sinergi bank bjb dengan PPAD juga memiliki potensi kerjasama bisnis yang menjanjikan, yakni potensi pengelolaan Giro, serta potensi penggunanaan layanan bank seperti Payroll, IBC, VA dan Precious.

“Kerjasama bank bjb dan PPAD akan saling menguntungkan dan diharapkan akan mempererat hubungan kedua belah pihak,” kata Widi. (pr)

Penandatanganan MoU bank bjb dan PPAD, oleh Ketua Umum PPAD, Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo, dan Direktur Konsumer dan Ritel bank bjb Suartini. Tampak Dirut bank bjb Yuddy Renaldi menyaksikan (kanan). (foto: bank bjb)