Presiden Jokowi Besuk Doni Monardo

JAKARTA – Pagi ini Selasa 7 November 2023 sekitar pukul 07.30 Presiden Joko Widodo berkunjung ke Rumah Sakit Siloam Semanggi untuk membesuk sekaligus mendoakan Letjen TNI Purn DR HC Doni Monardo.

Setiba di rumah sakit, Presiden langsung berjalan ke arah lift menuju lantai 29. Di atas, Presiden disambut Santi Monardo, istri Doni Monardo dan keluarga.

Presiden nampak mendoakan Kepala BNPB 2019-2021 itu. Setelah itu Presiden menyempatkan berbincang dengan keluarga bersama tim dokter yang merawat Doni. “Presiden berada di rumah sakit sekitar 30 an menit,” ujar Egy Massadiah, Tenaga Ahli BNPB 2019-2021 dan Anggota Satgas Covid 2020-2021.

Dalam kesempatan terpisah, Sekjen PPAD, Mayjen TNI Purn Komaruddin Simanjuntak juga mengucapkan terima kasih atas kehadiran Presiden Joko Widodo membesuk Doni, yang juga Ketua Umum PPAD (Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat).

“Mulai dari anak buah, masyarakat dari berbagai pelosok Tanah Air hingga Presiden RI Joko Widodo di tengah kesibukannya menjalankan tugas negara masih sempat meluangkan waktu berdoa untuk kesembuhan uda Doni Monardo. Semoga kehadiran beliau ke RS Siloam dapat menyemangati keluarga dan kondisi uda Doni,” ujar Komar seraya menambahkan, “teruslah kita berdoa. Berdoa untuk kesembuhan uda Doni Monardo…. Amin.” (*)

Presiden Joko Widodo didampingi keluarga Doni Monardo. (foto: PPAD)

Pepabri dan PPAD Tegaskan Netralitasnya dalam Pemilu 2024

JAKARTA, JAYAKARTA NEWS – Netralitas TNI kembali menjadi sorotan jelang Pemilu 2024. Itu terjadi ketika para purnawirawan (khususnya TNI-AD) berbeda pilihan dan dukungan politik. Utamanya terkait calon presiden.

Contoh, mantan KSAD, Jenderal TNI Purn Subagyo HS mendukung bakal capres Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Sementara Mantan Panglima TNI, Jenderal TNI Purn Andika Perkasa berada capres dari PDIP, Ganjar Pranowo. Sedangkan, Letnan Jenderal Purn TNI R. Ediwan Prabowo, S.I.P. dan sejumlah purnawirawan lain di kubu Anies Baswedan.

Menanggapi hal itu, KSAD Jenderal TNI Dudung Abdurachman mengatakan pensiunan TNI memang berhak menentukan sikap politik masing-masing. Namun ia memastikan dukungan para purnawirawan tadi tidak mencerminkan sikap Persatuan Purnawirawan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Pepabri) maupun Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD).

Dudung melontarkan pernyataannya itu usai menghadiri acara relokasi Markas Detasemen Perbekalan dan Angkutan (Denbekang) di Solo, Jumat (14/7/2022). Dudung juga mengingatkan anggota  TNI-AD aktif tetap menjaga netralitas di tahun politik 2024.

“Di situasi politik ini TNI harus loyalitas tegak lurus. Tegak lurus loyalitas kepada saya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat, saya kepada Panglima TNI, dan Panglima TNI loyalitas kepada Presiden Republik Indonesia. Itu loyalitas tegak lurus,” tegasnya.

Ketua Umum PPAD, Letjen TNI Purn Doni Monardo (kiri), Ketua Umum DPP PEPABRI, Jenderal TNI Purn Agum Gumelar (tiga dari kanan) bersama para pengurus DPP PEPABRI. (ist)

Sikap Pribadi

Bak gayung bersambut. Pernyataan KSAD Jenderal Dudung direspons Ketua Ketua Umum DPP PEPABRI periode 2022-2027, Jenderal TNI Purn Agum Gumelar, dan Ketua Umum PP PPAD periode 2021 – 2026, Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo.

Secara terpisah, keduanya menyatakan setuju dengan pernyataan KSAD Jenderal Dudung. “Sebagai wadah purnawirawan ABRI, sikap politik PEPABRI sangat jelas, yakni politik negara, bukan politik partisan. Sebagai organisasi, PEPABRI netral. Tegak lurus dengan Mabes TNI,” ujar Agum, lulusan Akabri 1968 itu.

Pria kelahiran Tasikmalaya 77 tahun lalu itu menegaskan, PEPABRI adalah Ormas non partai yang berwatak pejuang dalam melanjutkan pengabdiannya memberikan dharma bhakti terbaik kepada bangsa dan negara.

“Visi PEPABRI jelas, ‘Mewujudkan persatuan dan kesatuan serta solidaritas PEPABRI dengan terus meningkatkan kesejahteraan anggotanya dan memiliki kepedulian sosial  terhadap Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia’,” tambahnya.

Dilarang Jadi Pengurus

Dalam beberapa kesempatan terkait sikap politik organisasi, Doni Monardo melansir pernyataan tegas. “Dalam AD-ART sudah jelas, pengurus PPAD yang berpolitik praktis, harus mengundurkan diri. Jadi, kalau mau terjun ke politik praktis, jangan jadi pengurus. Sebab, pengurus adalah cermin organisasi PPAD yang non partisan dan netral dalam Pemilu,” ujar Danjen Kopassus 2014-2015 itu.

Karenanya, sikap para purnawirawan yang berbeda dukungan dan berbeda partai, adalah sikap pribadi. Sama sekali bukan mencerminkan sikap PPAD.

Agum maupun Doni berharap masyarakat bijak dalam melihat fenomena para purnawirawan yang berpolitik praktis. Beda pilihan adalah sebuah keniscayaan. “Jangankan  di lingkungan para purnawirawan, sedangkan dalam satu keluarga saja bisa terjadi beda pilihan. Itu yang disebut hak politik. Hak individu. Hak asasi.” tegas Agum Gumelar.

Doni mewanti-wanti anggota PPAD yang berpolitik praktis, agar tetap menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas. Mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan golongan. “Harus menjadi contoh, cara berpolitik yang elegan, santun, tidak menjelek-jelekkan atau membuka aib,” pungkas Doni.

Doni berharap, dengan semakin banyaknya purnawirawan yang terjun langsung ke dunia politik, akan memberikan dampak bagi kemajuan bangsa. “Kita gembira akan hadir Indonesia yang lebih baik, lebih rukun. Kelak juga menjadi tauladan bagi generasi muda, sehingga terjadi transformasi serta perpindahan tongkat estafet kepemimpinan yang lebih baik demi terwujudnya Indonesia Emas 2045,” tambah Kepala BNPB 2019-2021 itu.

Diskusi Panel, Pembekalan Politik bagi purnawirawan TNI-AD yang digasa PPAD. (foto: PPAD)

Pembekalan Politik

Guna membuka ruang agar para purnawirawan dapat mengabdi menyalurkan aspirasi politiknya, PPAD sudah tiga kali memberikan “Pembekalan Politik bagi Purnawirawan TNI AD”. Acara itu dimaksudkan memberi bekal bagi para purnawirawan yang hendak terjun ke politik.

Pembekalan pertama berlangsung 15 September 2022 yang diikuti secara offline dan juga online oleh para purnawirawan dari Sabang sampai Merauke.

Panitia menghadirkan purnawirawan yang sudah terjun di politik, dan berhasil menjadi wakil rakyat di DPR RI. Ketiganya adalah contoh purnawirawan yang berbeda pilihan partainya.

Mereka adalah Letjen TNI Purn Lodewijk Paulus (Sekjen Golkar), Mayjen TNI Purn Supiadin A. S. (Nasdem), dan Mayjen TNI Purn TB Hasanuddin (PDIP).

Acara serupa diulang lagi pada Kamis 29 September 2022. Pada sesi kedua ini, PPAD menghadirkan anggota DPR RI yang juga berlatar belakang TNI-Polri. Mereka adalah Letjen TNI Purn Evert Ernest (EE) Mangindaan, S.I.P dari Partai Demokrat, Komjen Pol Purn Drs Adang Daradjatun (Partai PKS), dan Mayjen TNI Purn Asril Hamzah Tanjung SIP (Gerindra).

Selanjutnya, Rabu, 19 Oktober 2022. Para panelisnya, adalah Anggota DPR RI yang juga Wakil Ketua Umum DPP PKB, Muhammad Hanif Dhakiri, S.Ag, M.Si, Menteri Tenaga Kerja 2014 – 2019, Dra Ermalena, Anggota DPR RI yang juga Wakil Ketua Umum DPP PPP dan Dian Istiqomah, S.Kep, anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi PAN.

Sebagai penutup, pada 25 Oktober 2022, panitia pembekalan PPAD menampilkan Jenderal TNI Purn Prof. Dr. Abdullah Mahmud Hendropriyono, S.T., S.H., M.H yang menekankan betapa pentingnya keterlibatan para purnawirawan di kancah politik, khususnya mengisi kursi legislatif di DPR RI, DPRD tingkat 1 dan 2. (rr)

Pekik “Komando” pada Pengukuhan PPAD Banten

JAYAKARTA NEWS, BANTEN – Pekik “Komando” terdengar berkali-kali di aula Makorem 064/Maulana Yusuf, Serang, Provinsi Banten, 27 Februari 2023. Pagi itu, Ketua Umum PPAD, Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo mengukuhkan pengurus DPD PPAD Provinsi Banten 2022 – 2026.

Tuan rumah, Danrem 064/MY, Brigjen TNI Tatang Subarna pun memekikkan salam “Komando” saat mengawali sambutan. “Dari tadi saya duduk di sana, pindah ke sini…. Itu karena kehadiran Jenderal Doni. Kharisma beliau sangat besar, dan masih terasa hingga hari ini. Di ruangan ini,” ujar Tatang.

Ia kebetulan prajurit “komando” yang banyak bersinggungan dengan sosok Doni Monardo, sebagai sesama anggota korps baret merah. Terlebih, Doni adalah Komandan Jenderal Kopassus 2014  – 2015. “Beliau adalah panutan dan idola saya. Saat beliau Komandan Batalyon, saya Komandan Unit. Jauh jaraknya,” kata Tatang sambil tertawa.

Ia mengikuti semua sepak terjang jenderal panutannya. Karenanya, ia mengetahui bagaimana Doni Monardo melahirkan program Emas Hijau dan Emas Biru saat menjabat Pangdam XVI/Pattimura (2015 – 2017). Ia juga program Citarum Harum yang digagas Doni Monardo saat Menjabat Pangdam III/Siliwangi (2017 – 2018).

“Di mana pun beliau bertugas, selalu meninggalkan jejak pengabdian yang monumental,” ujar Brigjen Tatang.

Termasuk saat Doni memimpin PPAD, yang sudah dikenal oleh para purnawirawan maupun para prajurit yang masih aktif, melalui program utama “peningkatan kesejahteraan”. “Tidak ada alasan untuk tidak membantu PPAD. Kami akan bantu penyiapan ruang kantor untuk PPAD Provinsi Banten. Apalagi, itu toh akan jadi kantor kami juga kalau nanti pensiun,” katanya.

Ketua Umum PP PPAD, Letjen TNI Purn Doni Monardo.

90 Persen Kopassus

Sementara itu, Kabid Organisasi PPAD, Mayjen TNI Eko Budi Soepriyanto menyatakan, bahwa 90 persen anggota PPAD berasal dari kesatuan baret merah. Tak heran, sebab di Serang bercokol Markas Grup 1/Para Komando.

“Nah, kebetulan Ketua PPAD Banten, Brigjen Abd Latif lama tinggal di Batujajar, karena ayahnya seorang perwira pelatih prajurit Kopassus di Pusdikpassus Batujajar. Jadi, darah merah mengalir di tubuhnya,” kata Mayjen Eko Budi. Ia menambahkan, sebanyak 27 pengurus, telah dikukuhkan oleh Ketua Umum PPAD, Letjen Purn Doni Monardo.

Dalam kesempatan itu, hadir Kapolda Banten diwakili oleh Kabagwatpers Biro SDM Polda Banten AKBP Widya Andriani, Danrem 064/MY Brigjen TNI Tatang Subarna selaku tuan rumah, didampingi para pejabat utama Korem 064/MY. Sementara, Gubernur Banten diwakili oleh pejabat Kesbangpol, serta unsur Forkopimda Provinsi Banten, para pengurus dan anggota PPAD, serta ormas Hipakad dan PPM.

Kenangan Operasi

Ketua Umum PPAD, Letjen TNI Purn Doni Monardo dalam sambutannya tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya berada di kota Serang. Kota yang ikut membesarkannya sebagai prajurit baret merah. Lulusan Akmil 1985 itu lalu mengisahkan pengalamannya melaksanakan tugas operasi bersama anggota Grup 1 Kopassus yang selalu menggenggam keberhasilan.

Kekuatan pasukan operasi lima orang, dan paling banyak 13 orang. Jumlah pasukan yang kecil, katanya, justru lebih bisa menjamin kerahasiaan gerakan. Bukan hanya itu, ia juga memilih personel lintas agama. Itu juga termasuk salah satu kunci sukses.

“Saat prajurit muslim menunaikan sholat, misalnya, ada pasukan beragama lain yang menjaga. Begitu pula sebaliknya,” ujar Doni Monardo.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua  PPAD Prov Banten terpilih, Brigjen TNI Abd Latif dalam sambutannya menyampaikan tekadnya untuk menjalankan tugas sesuai visi dan misi PPAD Pusat. “PPAD Banten adalah ormas non partisan. PPAD tidak berpolitik praktis. Itu garis PPAD Pusat yang kami pedomani. Fokus kami adalah politik kesejahteraan,” tambahnya.

Sementara, Gubernur Banten yang diwakili pejabat Kesbangpol mengharap, PPAD ke depan bisa menjalin kerjasama dengan Pemerintah Provinsi Banten. Utamanya dalam kegiatan-kegiatan yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. (*)

Danrem 064/MY Brigjen TNI Tatang Subarna (tiga dari kiri), bersama Kabid Organisasi PP PPAD, Mayjen TNI Eko Budi Soepriyanto (keempat dari kiri), dan Brigjen TNI Purn Abd Latif, Ketua DPD PPAD Provinsi Banten (lima dari kiri). (foto: bidkom PPAD)

Cerita Doni Monardo “Diprotes” Teman Temannya

PADANG, JAYAKARTA NEWS – Syahdan, suatu hari, di tahun 2018. Seseorang menelepon Letjen TNI Doni Monardo. Salah satu yang ia ingat betul dan sangat membekas hingga sekarang adalah “protes” sang teman yang juga orang Minang.

Kalimatnya kurang lebih begini, “Anda sudah menanam pohon dan menghijaukan banyak daerah di Indonesia, tapi kampung halaman sendiri gersang.”

Tersentak hati Doni. Ia terbayang, saat pulang kampung halaman dan mendarat di Bandara Internasional Minangkabau. Bandara yang dibangun tahun 2002 dan beroperasi tahun 2005 itu, berada di Kabupaten Padang Pariaman. Kurang lebih 30 km dari Kota Padang.

Jalan yang menghubungkan bandara ke kota Padang disebut Jalan By Pass. Saat itu kondisi jalan sangat gersang. Seketika terbersit gagasan untuk menghijaukan jalur tersebut.

Ia pun menghubungi sahabatnya, Ketua Dewan Penasihat Djarum Foundation, Yan Haryadi Susanto. “Saya menawarkan, apakah berkenan dengan program penghijauan di Padang?” ujar Doni.

Alhasil, terlaksanalah penanaman pohon trembesi di Jl By Pass sejauh kurang lebih 30 kilometer, kolaborasi Paguyuban Budiasi (Budidaya Trembesi) dan Djarum Foundation.

Kini, di sepanjang jalur by pass telah tertanam 2.020 pohon trembesi dengan ketinggian rata-rata lima sampai enam meter.

Nah, pohon-pohon itulah yang pada hari Selasa (7/2/2023) diserahterimakan dari Djarum Foundation – Budiasi kepada Pemeritah Kabupaten Padang Pariaman dan Pemkot Padang. Pohon-pohon yang ditanam sejak tahun 2018 itu, selama ini telah dirawat dengan baik oleh Djarum.

Tawaran Kolonel Doni

Acara Penandatanganan Serah Terima Terselesaikannya Program Penanaman Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) melalui program Djarum Trees For Life (DTFL) disaksikan oleh Gubernur Sumatera Barat, H. Mahyeldi Ansharullah, S.P. gelar Datuak Marajo, pejabat TNI-Polri serta Forkopimda Sumbar, Padang Pariaman, dan Kota Padang. Dari pihak Djarum antara lain hadir Yan Haryadi, dan FX Supandji.

Saat didaulat berbicara, Doni Monardo mengabarkan sebuah “untold story”, terkait persinggungannya dengan PT Djarum untuk program penghijauan.

Tersebutlah tahun 2010, saat ia berpangkat kolonel dan bertugas sebagai Danrem 061/Suryakencana, Bogor.

Doni yang sejak perwira pertama sudah getol menanam pohon itu, memberanikan diri menawarkan program penghijauan kepada Yan Haryadi. “Pak Yan waktu itu menjawab, boleh, nanti kami bahas, setelah itu kami undang pak Doni ke Djarum,” tutur Doni.

Foto bersama usai penandatanganan penyerahan perawatan 2.020 pohon trembesi di Jl By Pass, Padang. (Foto: Egy)

Benar. Djarum mengundang Doni Monardo untuk presentasi soal program penghijauan yang ditawarkannya. “Saya datang ke Djarum sendiri. Tidak pakai pengawal. Tidak pakai ajudan. Dan saya menjadi satu-satunya peserta rapat yang memakai pakaian dinas militer, dengan pangkat kolonel. Dari Djarum yang hadir banyak sekali. Termasuk jajaran direksi. Pak Victor Rachmat Hartono yang merupakan keluarga Djarum, juga hadir,” kenangnya.

Rapat dipimpin oleh seorang purnawirawan Angkatan Darat, Kolonel CPL Purn Soewarno Serad, pamen angkatan tahun 60-an. Jauh lebih senior dari Doni Monardo yang lulusan Akmil 1985.

“Beliau yang memimpin rapat. Waktu pembukaan, saya sudah dicecar dengan dua pertanyaan yang sangat menohok.

Pertama, apa iya kita akan kerjasama dengan seorang perwira AD yang kebijakannya bertentangan dengan kebijakan perusahaan kita. Maksudnya melarang prajurit merokok. Kedua, apa iya seorang tentara bisa ngurusi tanaman?” kata Doni sambil tersenyum getir.

Doni lalu berkisah,  pengalaman buruk peristiwa prajurit ketiduran selagi merokok. Hampir saja mengakibatkan kebakaran kasur yang fatal di asrama.

“Saya tidak melarang merokok, tapi saya menertibkan. Merokok itu ada tempatnya, dan jangan buang puntung rokok sembarangan,” tegasnya.

Pertanyaan kedua. Doni menjawab dengan membagikan buku berupa album foto before-after yang menggambarkan kegiatan yang dia lakukan dalam mereboisasi tanah tandus, dan hutan gundul. Album foto  itu disusun oleh Yuhan Subrata, salah satu staf Doni di Paguyuban Budiasi. Di antaranya penghijauan di Markas Komando Brigif Para Raider di Kariango, Sulawesi Selatan.

Foto-foto diambil tahun 2006 saat Doni menjabat Dan Brigif di sana, dan menyandingkannya dengan foto-foto di lokasi yang sama empat tahun kemudian (2010). “Itulah modal saya untuk menjawab pertanyaan yang kedua. Percuma saya jelaskan panjang lebar, yang belum tentu beliau paham. Tapi saya tunjukkan bukti apa yang telah saya kerjakan,” kata Doni.

Buku “before-after” kegiatan penghijauan itu pun berputar dari satu tangan ke tangan yang lain. Dari satu pasang mata ke pasang mata peserta rapat yang lain. Termasuk ke tangan Victor Hartono. Dan setelah selesai melihat album foto itu, pimpinan rapat yang purnawirawan kolonel itu pun berkata tegas, “Kalau begitu, kita layak dan pantas bekerjasama dengan kolonel angkatan darat yang satu ini.”

Plong dan lega hati Doni Monardo. Dan hanya hitungan hari ke depan, pihak Djarum datang ke Bogor, ke kantor Doni Monardo. Mereka pun diajak ke Kebun Bibit Rancamaya. Kebun bibit yang sudah lama dirintis Doni.

Menurut Doni, lahan kebun bibit Rancamaya dipinjamkan oleh  Kenneth Lian, sahabat Doni. “Boleh kami gunakan selama belum dimanfaatkan oleh Rancamaya Estate,” kenang Doni.

Delegasi Djarum menyaksikan hamparan bibit pohon trembesi dan sengon di lokasi tersebut. “Sayap kiri ada 40 ribu bibit trembesi, sayap kanan ada 40 ribu bibit sengon,” katanya.

Sejak itu pula, Doni (Peguyuban Budiasi) dan Djarum Foundation bergandeng tangan melakukan penanaman trembesi di berbagai daerah, mulai dari Jalur Pantura Jawa, sekitar bandara Lombok NTB, bandara Kualanamu Medan, dan masih banyak daerah lain, termasuk jalur by pass Padang.

“Saya bangga dengan Djarum. Prinsipnya sama dengan prinsip saya. Tidak pernah menghitung berapa jumlah pohon yang ditanam. Yang kami catat adalah berapa jumlah pohon yang tumbuh subur. Jadi waktu saya tawarkan program penanaman pohon di Padang ke pak Yan, secara bergurau beliau bilang, ‘kalau pak Doni yang minta, kami tidak bisa menolak,” ujarnya sambil tertawa dan disusul tepuk tangan hadirin.

Tahun 2018, saat Doni mengajak Djarum menghijaukan jalur by pass Padang, posisinya sebagai sesjen wantanas.

“Proses penanamannya, banyak dibantu oleh para prajurit Korem Padang. Dan perawatannya selama empat tahun lebih, dilakukan dengan sangat baik oleh Djarum, sehingga hasilnya bisa kita saksikan hari ini,” kata Kepala BNPB 2019 – 2021 yang kini duduk sebagai komisaris utama BUMN MIND ID itu.

Sebenarnya jika ditarik mundur, interaksi Doni terkait penghijauan dengan kampung halamannya sudah dimulai sejak tahun 2008. Kala itu Doni menjabat Dan Brigif Kariango. Saat yang sama adik leftingnya sama sama korps baret merah, Letkol Yan Pun Pulung putra Tana Toraja sedang menjabat sebagai Kasrem Padang.

Yan Pulung datang menemuinya di Kariango dan meminta biji trembesi  berikut poly bagnya. Doni menyerahkan 200 ribu biji trembesi, lalu diangkut ke Padang. Yan Pulung kemudian melakukan persemaian di halaman belakang rumah dinas Kasrem. Setelah proses pembibitan mekar, mereka kemudian menaman trembesi di sejumlah titik di kota Padang. Hari ini inisiatif Yan Pulung itu sudah ikut meneduhi kota Padang.

FX Supanji (Djarum Foundation) berfoto di dekat trembesi yang ditanamnya tahun 2018 di Jl By Pass, Padang. (Foto: roso d)

Serap Gas

Doni juga memuji Djarum yang cerdas dalam memilih jenis pohon trembesi untuk penghijauan.  Menurut Dr. Ir. H. Endes N. Dahlan, Dosen Fakultas Kehutanan Institut Peranian Bogor, trembesi memiliki daya serap gas CO2 yang sangat tinggi. Satu batang pohon Trembesi mampu menyerap 28,5 ton gas CO2 setiap tahunnya (diameter tajuk 15m). Selain itu pohon trembesi juga mampu menurunkan konsentrasi gas secara efektif.

Vice President Director Djarum Foundation FX Supanji mengilas secara ringkas perjalanan Djarum Foundation dalam kegiatan penghijauan di seluruh wilayah Indonesia.

Sejak tahun 2010, Djarum memiliki program penanaman trembesi di sepanjang jalan protokol pantura. Dari Kudus ke barat hingga Merak. Dari Kudus ke timur hingga Banyuwangi. Total panjang jalan yang ditanami sejauh 1.350 km. “Tidak hanya menanam, tapi juga merawat dan memastikan pohon tumbuh dengan subur,” katanya.

Lalu kegiatan itu berlanjut tahun 2015, tahun 2018 dan hingga sekarang. Wilayah lain yang telah ditanami trembesi Djarum antara lain lingkar Madura, sekitar bandara Lombok, bandara Kualanamu, kawasan Joglosemar (Jogja – Solo – Semarang), dan lain-lain.

Saat ini pun sudah dimulai program penanaman trembesi di jalur tol Trans Sumatera sepanjang 2.800 km. “Penanamannya sudah dimulai dari Lampung. Harapannya, begitu pembangunan tol Trans Sumatera rampung, sudah tampak hijau dan rimbun karena tembesi di kiri-kanannya. Selain membuat pemandangan jadi indah, juga bisa membuat teduh para pelintas Trans Sumatera,” kata Supanji.

“Semoga ini menginspirasi setiap manusia di bumi, untuk ikut menjaga lingkungan dengan menanam dan merawat pohon,” tambahnya.

Larangan Menebang Pohon

Di tempat yang sama, Gubernur Sumatera Barat H. Mahyeldi Ansharullah, S.P. gelar Datuak Marajo, mengaku baru mendapat jawaban atas pertanyaan sekian tahun lalu. “Tadi dikatakan, tahun 2018 dimulai penanaman pohon. Waktu itu saya walikota. Sempat bertanya, siapa ini yang menggali lubang di sepanjang jalan by pass dan menanami pohon? Hari ini saya baru mendapat jawabannya. Ternyata ini program sosial Djarum dan Budiasi,” kata Mahyeldi. Gubernur juga menyampaikan, saat ini di wilayah Sumatera Barat, orang tidak boleh sembarangan menebang pohon. Sudah diatur Peraturan Daerah. Penebang pohon tanpa izin, bisa dipidanakan. (eg/rd)

PPAD dan Entrepreneurship untuk Kemakmuran Bangsa

Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat, di bawah kepemimpinan Ketua Umum Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo mencanangkan politik kesejahteraan. Untuk itu, ia mendorong para purnawirawan dan calon purnawirawan untuk menjadi pengusaha. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang sejahtera. #ppad#donimonardo#egymassadiah

Sido Rempah, Meracik Ulang Kejayaan Rempah Nusantara

JAYAKARTA NEWS— Perawakan kecil. Pembawaan bersahaja. Rambutnya nyaris tanpa bersisir. Pendidikan formalnya SMA saja. Namanya Irwan Hidayat (75 tahun). Dialah lelaki yang kini berjuang “menulis ulang” kisah kejayaan rempah Nusantara.

Momentum bersejarah dicanangkan di tanggal istimewa, 22 Desember 2022. Hari itu, Ibu Pertiwi menjadi saksi peresmian Pusat Laboratorium Penelitian Rempah Indonesia yang berlokasi di kawasan Pabrik Sido Muncul, Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

“Persiapannya hanya seminggu. Ya, kami kerja kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Mirip legenda Bandung Bondowoso,” kata Irwan mengisahkan lahirnya laboratorium yang dilengkapi nursery serta empat green house.

Meski begitu, proyek laboratorium rempah bukanlah ide dadakan. Presiden Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk itu mengaku sudah lama ingin merambah ke usaha selain jamu. “Kami ingin memproduksi produk turunan rempah, istilahnya bumbu dapur,” ujar lelaki kelahiran Yogyakarta, 23 April 1947 itu.

Tekadnya semakin mantap ketika sekitar empat tahun lalu (2018), bertemu Pangdam III/Siliwangi, Mayjen TNI Doni Monardo terkait program Citarum Harum.

“Dalam satu kesempatan, pak Doni bercerita tentang ‘emas hijau’, berbicara tentang potensi rempah hingga ke sejarah kejayaan rempah Nusantara. Seketika saya mantap memutuskan proyek yang hari ini kita sama-sama saksikan,” ujar Irwan.

Harus Istimewa

Untuk masuk ke bisnis rempah, maka harus diawali dengan penelitian rempah. Hanya dengan begitu, akan lahir produk rempah yang tidak biasa-biasa saja, melainkan kualitas istimewa. Jahe, jahe yang istimewa. Minyak atsiri, nilam, juga yang istimewa.

“Jika kita mau masuk pasar global, tidak cukup dengan kualitas biasa. Harus yang istimewa,” tegas cucu pendiri Sido Muncul yang bernama Rahkmat Sulistio (Go Djing Nio) itu.

Irwan sadar, penghasil rempah bukan hanya Indonesia, tetapi ia juga tahu bahwa potensi rempah terbesar ada di negara kita.

Irwan Hidayat, Presdir Sido Muncul

Berangkat dari Pusat Penelitian Rempah itulah ia bertekad menekuni bisnis berbasis rempah. Tidak melulu jamu. “Baru-baru ini saya punya pengalaman membuat resep ayam rempah. Ketika saya coba, rasanya kurang enak. Lalu kita tambahkan salah satu bahan rempah dari India, hasilnya menjadi enak sekali. Ini pun melalui penelitian,” tambah ayah tiga anak itu.

Laboratorium Rempah Sido Muncul sekaligus akan mengakomodir para peneliti dari berbagai perguruan tinggi. “Karena itu, hari ini pun kami mengundang para peneliti dari berbagai perguruan tinggi. Kita bersama-sama mengembangkan rempah Indonesia kembali menjadi rempah kelas dunia,” tekad Irwan.

Sekalipun begitu, Irwan juga mengingatkan bahwa faktor laboratorium sejatinya hanya 10 persen, sebab 90 persen kunci keberhasilan lainnya ada di SDM. Dan dari 90 persen itu, 85 persennya adalah gagasan. “Kalau kita punya banyak gagasan, pasti akan melahirkan sesuatu yang baik,” ujarnya.

Laboratorium Sido Muncul, tambahnya, membutuhkan tiga hal. Pertama, kerjasama atau partnership dari para pihak, utamanya para peneliti. Kedua, saran dan gagasan baru. Ketiga, dorongan semangat. “Tiga hal itu yang akan membuat kami yakin, bahwa langkah ini sudah benar,” kata Irwan.

Dari laboratorium itu pula kelak akan lahir produk-produk dengan brand Sido Rempah atau bisa juga Sido Bumbu, Sido Masak. “Apa pun, yang penting memakai kata Sido di depan. Sebab, kode saham kami di pasar modal memang Sido,” ujarnya.

Kejayaan Rempah

Hari yang penting, di acara yang penting, juga dihadiri orang penting di mata Irwan Hidayat. Ia adalah Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo. Tokoh militer yang sering dijuluki “jenderal pohon” ini pun diminta menyampaikan testimoni.

“Saya mendukung penuh apa yang dilakukan Sido Muncul untuk mengembalikan kejayaan rempah Indonesia. Pak Irwan, jangan takut dengan jalur sutra. Jalur sutra tidak ada apa-apanya dibandingkan jalur rempah,” kata Doni yang Ketua Umum Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD) itu.

Untuk diketahui, tambah Doni, asset VOC karena perdagangan rempah di wilayah Nusantara, khususnya di Jawa dan Indonesia bagian Timur (Maluku dan Maluku Utara), mencapai 7,9 triliun Dollar AS. “Itu data yang kami dapat dari literatur global”.

Bukti lain, sebuah “papan pengakuan” yang ada di salah satu objek wisata di Belanda. Bulan Mei Tahun 2019, dalam kapasitas sebagai Kepala BNPB, Doni ke Belanda untuk menelisik dokumen kebencanaan yang dicatat Belanda saat berkuasa atas wilayah kita, 3,5 abad lamanya.

Pada sebuah bangunan kayu, ditempel papan dengan tulisan berbahasa Belanda, yang kurang lebih artinya, “Gudang rempah harta kekayaan melimpah dari bumi Indonesia”.

“Jadi kalau pak Irwan dan keluarga besar Sido Muncul memutuskan hari ini mengangkat kembali kejayaan rempah Indonesia, ini adalah gagasan yang sangat-sangat-sangat brilian,” kata Doni disambut tepuk tangan hadirin.

Inisiator “Citarum Harum” serta pencetus program “emas biru” dan “emas hijau” itu mengingatkan ihwal besarnya jumlah petani kita yang masih hidup dalam kondisi kurang sejahtera. Program mengembalikan kejayaan rempah, sedikit-banyak akan mengangkat kaum petani, terlebih dengan dukungan akademisi (para peneliti).

“Pak Irwan, para purnawirawan Angkatan Darat yang sudah merintis program-program yang berhubungan dengan pertanian, akan bersama pak Irwan dan keluarga besar Sido Muncul,” tegas Doni Monardo.

Purnawirawan PPAD siap bersinergi dengan berbagai latar belakang yang dimiliki. Doni mengingatkan, pada dasarnya purnawirawan tidak boleh berhenti berjuang. “Kalau dulu berjuang mengangkat senjata, sekarang berjuang di bidang ekonomi. Perang sekarang adalah perang ekonomi. Tujuannya rakyat sejahtera,” tambahnya.

Sabang-Merauke

Seperti halnya Irwan, maka Doni pun menaruh harapan kepada para peneliti dan akademisi. Peran mereka sangat besar dalam meningkatkan kualitas. Termasuk kualitas hasil rempah. “Saya ceritakan pengalaman saya keliling Sabang sampai Merauke. Betapa banyak komoditi yang jika kita olah bisa mengangkat harkat dan kesejahteraan bangsa,” ujarnya.

Ia lalu menyebut nilam. “Tadi pak Irwan menyebut pohon nilam. Itu ada sejarahnya. Nilam adalah singkatan dari Nederlands Indische Land ook Acheh Maatzchappij, sebuah perusahaan Belanda yang mengatur perdagangan dan sistem penjualan tanaman Patchouli. Tanaman herbal yang daunnya disuling menjadi atsiri. Orang lalu mengenalnya sebagai minyak nilam,” papar Doni, fasih.

Ada lagi jenis tanaman lain untuk kepentingan atsiri, antara lain kulit pohon masoya (bahan baku parfum Hermes) dan cendana. Harga per satu kilogram mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

“Potensi itu sangat besar di negara kita. Jadi, kerjasama antara dunia usaha dengan peneliti dan didukung pemerintah, niscaya akan memberikan manfaat luar biasa bagi bangsa kita,” ujar Doni optimis.

Kepala BNPB 2019 – 2021 itu lalu menyebutkan tentang cengkeh. Baru-baru ini ia menemukan pohon cengkeh di tengah hutan di Pulau Seram, Maluku. Buah cengkeh itu tiga kali lebih besar dari buah cengkeh yang kita kenal. “Jumlahnya tidak banyak. Jika berkenan, saya siap mengantarkan bapak-ibu peneliti untuk melihat pohon cengkeh hutan di Pulau Seram,” kata Doni menjabat Pangdam XVI/Pattimura 2015 – 2017 itu.

Selain cengkeh, ada juga pohon lemon “raksasa”. Jika pohon lemon kebanyakan tingginya hanya dua sampai tiga meter, Doni menemukan pohon lemon setinggi hampir 10 meter. “Sekali lagi, potensi emas hijau kita luar biasa. Selamat berjuang pak Irwan dan Sido Muncul,” tambahnya.

Pionir Rempah

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memuji langkah Sido Muncul sebagai pionir penelitian rempah di Indonesia. “Jamunya sudah jalan, sekarang bergeser ke rempah. Setelah ini, apa lagi….,” kata Ganjar.

Ganjar lalu menyampaikan kisah menarik saat berkunjung ke Suriname. “Saya sempat tersinggung,” kata Ganjar dengan ekspresi lucu.

Ia lalu berkisah. Lazimnya sebuah kunjungan, maka Ganjar menyerahkan cendera mata berupa miniatur Candi Borobudur. Pejabat Suriname tadi lalu membalas dengan memberinya cenderamata yang membuat Gajar “tersinggung”. “Apa coba! Saya mendapat souvenir Tolak Angin Sido Muncul…” kata Ganjar disusul tawa dan tepuk tangan hadirin.

Seperti halnya Doni, maka Ganjar pun punya pengalaman di negeri Belanda. Dalam satu kesempatan ia berbincang dengan para veteran. Mereka menceritakan, bahwa zaman dulu tidak ada makanan yang tasty atau enak. Yang ada rasa tawar cenderung hambar, seperti roti, susu, dan keju.

“Mereka mengakui, ada makanan enak di Belanda setelah terjadi penjelajahan dan penjajahan. Termasuk menemukan rempah-rempah dari Indonesia,” kisah Ganjar.

Ganjar lalu membayangkan, seandainya laboratorium rempah ini sudah menghasilkan produk-produk berkelas global, maka semua kedutaan bekerjasama dengan pemerintah lokal di berbagai negara untuk membuka toko rempah Indonesia. “Rempah, bukan saja memakmurkan bangsa, tetapi juga bisa menjadi alat diplomasi,” ujarnya.

Dukungan BPOM

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Dr. Ir. Penny K. Lukito, MCP yang hadir pagi itu, mengilas pengalamannya di sejumlah negara. Betapa kebutuhan rempah sangat tinggi.

Hari ini, bertepatan hari Ibu, kata Penny, adalah momentum yang sangat penting bagi berdirinya tonggak kejayaan kembali rempah Indonesia. “Karena itu, saya prioritaskan untuk hadir di acara ini,” ujar Penny pula.

Ke depan, rempah Indonesia yang berangkat dari Laboratorium Rempah Sido Muncul diharapkan memainkan peran penting adalam event dua tahunan, Spices of the World. “BPOM selalu mendampingi peserta dari Indonesia. Eventnya dimulai dengan pameran di Dubai. Sekarang menjadi event rutin dua tahunan. Di situ merupakan ajang terbaik untuk memasarkan produk rempah kita ke seluruh dunia,” katanya.

Penny juga mengapresiasi Sido Muncul sebagai salah satu industri jamu, yang mendapatkan CPOB (Cara Produksi Obat yang Baik). Itu karena Sido Muncul telah mengikuti aturan BPOM. “Kami siap mendampingi untuk proses selanjutnya,” tegas Penny. (Egy Massadiah)

Kenangan Natuna Laksamana Yudo

Catatan Egy Massadiah

PENGANTAR: Laksamana TNI Yudo Margono, resmi menjadi Panglima TNI ke-22. Ia dilantik Presiden Jokowi di Istana Negara hari Senin tanggal 19 Des 2022. Penulis menyimpan catatan menarik, tentang Yudo.

Kisah itu terjadi tahun 2020, saat Yudo menjabat Pangkogabwilhan I berpangkat Laksamana Madya. Penulis saat itu mendampingi Kepala BNPB Doni Monardo dalam proses pemulangan WNI di Natuna, mendengarkan langsung dari Doni, “Orang ini (Yudo Margono) kerjanya sangat bagus. Dia bakal jadi Kasal.” Tentu saja “rerasan” itu hanya kami yang tahu. Hingga akhirnya 20 Mei 2020 Yudo dilantik menjadi Kasal ke-28. Dengan naiknya Yudo Margono sebagai Panglima TNI, “ramalan” Doni Monardo terlampaui.

Tulisan tentang Yudo dan Doni, ini sudah termuat di buku yang saya tulis “Titik Nol Corona: Doni Monardo di Pusaran Wabah” (halaman 1) terbit tahun 2021. Simak nukilannya:

*

Tahukah Anda, efek plasebo menghirup seduhan kopi. Ternyata tidak hanya mendatangkan perasaan relaks, seperti dilansir Jurnal Science Alert, Amerika Serikat. Bagi dua orang jenderal ini, secangkir kopi bahkan bisa merajut sepanjang jalan kenangan.

Setidaknya, itulah kesan yang saya tangkap Selasa (9/6/2020) saat Ketua Gugus Tugas Covid-19, Letjen TNI Doni Monardo menerima kunjungan KSAL Laksamana TNI Yudo Margono. Bertempat di ruang kerjanya, Lantai 10 Graha BNPB, Jl. Pramuka, Jakarta Timur, tuan rumah Doni Monardo menyuguhkan Kopi Puntang.

Kopi favorit Doni Monardo itu memang sudah kesohor. Bahkan saat kunjungan ke Jenewa dan Den Haag Belanda Mei 2019 Doni pun membekali dirinya dengan kopi puntang. Kopi Gunung Puntang, Jawa Barat bahkan pernah menjuarai Specialty Coffee Association of America Expo di Atlanta, Amerika Serikat, 2016.

Laksamana Yudo dan Letjen Doni terlibat pembicaraan menyusuri jalan kenangan di awal bulan Februari 2020. Saat itu, keduanya terlibat kerjasama spartan dan solid melayani karantina 238 WNI asal Kota Wuhan, Ibukota Provinsi Hubei, China. Doni Monardo dalam kapasitas sebagai Kepala BNPB, sedangkan Laksamana Madya (saat itu) Yudo Margono sebagai Panglima Kogabwilhan 1.

Teritori Kogabwilhan 1 meliputi wilayah darat: Sumatera, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Sedangkan wilayah laut yang dikuasainya meliputi perairan di sekitar Sumatera, DKI, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan ALKI-1 beserta perairan sekitarnya. Untuk wilayah udara, meliputi di atas Sumatera, DKI, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tegah dan ALKI-1 beserta perairan sekitarnya.

“Ketika mendapat berita itu, saya segera meluncur ke Natuna, menjumpai Bapak Menko PMK, Menkes, dan Kepala BNPB,” kenang lelaki kelahiran Madiun 26 November 1965 itu.

Masih segar dalam ingatan Laksamana Yudo dan Letjen Doni, bahwa menit, jam, dan hari-hari yang bergulir sejak pertemuan akhir Januari 2020 itu menjadi waktu yang berputar dengan torsi penuh. Sangat kencang, tetapi harus dijaga agar tetap presisi.

Betapa tidak. Keesokan harinya, 1 Februari 2020 satu pesawat komersial berikut tenaga medis diterbangkan ke Wuhan, menjemput WNI plus personel dari KBRI Beijing.

Natuna adalah tempat yang dipilih untuk mengarantina mereka. “Semula mau memakai Komplek Komposit Marinir, tapi urung, dan akhirnya diputuskan memakai hangar Pangkalan Udara (Lanut) Raden Sajad Saleh,” ujar alumnus AAL angkatan ke-33 tahun 1988 itu.

Pembatalan pemakaian Komplek Komposit Marinir yang menjadi markas prajurit serta gudang persenjataan itu, karena dua alasan. Pertama, lokasinya harus dilalui melintas Kota Ranai, Kecamatan Bunguran Timur, ibukota Kabupaten Natuna. Kedua, fasilitas yang ada di komplek itu dinilai kurang memadai.

“Mengapa menjadi kenangan tak terlupakan? Bayangkan, dalam waktu kurang dari dua hari, kami harus mengubah hangar menjadi lokasi karantina,” kisah Laksamana Yudo.

Laksana legenda penciptaan Candi Sewu oleh Bandung Bondowoso dalam waktu satu malam, kurang lebih seperti itulah Yudo Margono dan prajuritnya bekerja. Penyiapan tempat tidur lengkap dengan fasilitas pendingin ruangan, hingga sarana MCK lengkap dengan penyediaan sabun, sampo, sikat gigi, dan odol sampai gunting kuku. Tak ketinggalan pakaian dalam, baju kaos, dan celana tidur.

“Tak hanya itu, kami juga menyiapkan fasilitas hiburan seperti karaoke, sport center, dan lain-lain. Di samping, membuat run down kegiatan para penghuni karantina sehari-hari, selama 14 hari. Mulai dari olahraga pagi, kegiatan ibadah menurut keyakinan para penghuni karantina, penyediaan wifi dan sebagainya. Pendek kata, itu semua menjadi kenangan yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Saya berterima kasih kepada pak Doni yang telah melibatkan kami dalam tugas itu,” papar Yudo.

Doni tersenyum haru mendengar kisah nostalgia yang dipaparkan Laksamana Yudo. Tidak kalah takzim, Letjen Doni balas mengucapkan terima kasih dan apresiasi sebesar-besarnya atas kerja keras Yudo dan para prajurit Kogabwilhan 1. Inilah salah satu kerjasama dengan militer terbaik yang pernah ia rasakan.

Apalagi, persoalan yang mengemuka saat itu bukan saja persoalan teknis penyiapan sarana karantina. Ada persoalan lain yang tak kalah krusial, yakni aksi demo masyarakat Natuna yang menolak karantina WNI dari Wuhan. Mereka ketakutan, masuknya ratusan WNI dari kota pertama ditemukannya virus corona itu, akan menularkan wabah di pulau Natuna yang indah.

Hari bersejarah itu pun tiba. Pagi 2 Februari 2020, sebanyak 238 WNI ditambah 5 petugas pendamping dari KBRI Beijing tiba di Bandara Internasional Hang Nadim, Batam menggunakan pesawat komersial. Dari Batam, disiapkan tiga unit pesawat TNI-AU, hercules, dan dua boeing untuk membawanya ke Natuna.

Syahdan, 14 hari waktu karantina pun berlangsung relatif lancar dan memuaskan banyak pihak. Di satu sisi, masyarakat Natuna akhirnya menyadari bahwa mereka memang benar-benar dalam kondisi sehat seperti disampaikan Presiden Joko Widodo di awal.

Berkat dukungan masyarakat Natuna pula, akhirnya WNI dan staf KBRI yang menjalani karantina itu dinyatakan sehat, dan diperbolehkan kembali ke daerah masing-masing.

Mimpi Buruk World Dream

Belum habis kopi puntang di cangkir putih berlogo BNPB ketika Laksamana Yudo melanjutkan nostalgianya bersama Doni Monardo. Kisah dramatis penyiapan karantina di Natuna, ternyata menjadi seri pertama. Sebab, masih ada seri kedua yang tak kalah seru, yakni evakuasi Anak Buah Kapal (ABK) Warga Negara Indonesia (WNI) di kapal pesiar mewah World Dream di Pulau Sebaru, Kepulauan Seribu, Jakarta.

Suatu hari, Doni menghubungi Yudo dan mengabarkan bahwa Dream Cruise Hong Kong, operator kapal pesiar World Dream minta izin menurunkan ABK asal Indonesia. Tugas Doni kepada Yudo adalah, “menahan” kapal barang sehari-dua, sambil menyiapkan Pulau Sebaru Kecil, sebagai tempat karantina 188 ABK World Dream asal Indonesia.

Yudo mengaku tidak mudah. Sebab, kapal itu mendesak bisa mendapat izin menurunkan ABK asal Indonesia, atau melanjutkan perjalanan ke Filipina. Yudo pun melakukan negosiasi, dengan dukungan Doni Monardo. Termasuk dukungan biaya selama menunggu, jika diperlukan.

“Persoalannya, kapal itu pintar. Mereka meminta izin dari posisi perairan internasional antara Malaysia dan Pulau Bintan. Kalau saja mereka ada di perairan Indonesia, saya punya kewenangan untuk menahan,” ujar Yudo.

Melalui negosiasi yang alot, Yudo berhasil membuat World Dream menunggu di perairan Malaysia. Selama itu, Yudo dan para prajurit Kogabwilhan menyiapkan Pulau Sebaru kecil untuk karantina ABK tadi.

Syahdan, Jumat sore tanggal 28 Februari 2020, para ABK berhasil dievakuasi menggunakan kapal perang TNI-AL (KRI Soeharso). Prosesnya cukup dramatis. Penanganannya pun lebih hati-hati dan “rahasia”, agar tidak muncul keresahan. Lebih-lebih kalau kemudian “digoreng” menjadi hoax yang bisa memancing demo massa, seperti yang terjadi di Natuna.

Hari itu, Doni Monardo meluncur ke Cirebon, hendak mengawal proses evakuasi. Dia tidak sendiri. Ada dalam rombongan itu Menko PMK Muhadjir Effendy, Menkes Terawan Agus Putranto, Menhub Budi Karya Sumadi, dan sejumlah pejabat lain.

Pukul 18.00 WIB, rombongan ini meninjau ke Pelabuhan Cirebon, tempat KRI Dr Soeharso berlabuh. Kapal ini sudah stand by dan siap mengangkut para ABK dari pelabuhan Cirebon ke Kepulauan Seribu.

Sambil menunggu datangnya para ABK, rombongan menuju salah satu hotel di kota Majalengka. Lima jam kemudian, hampir tengah malam mereka menuju Bandara Kertajati. Tidak lama, mendaratlah pesawat A330 Garuda Indonesia menurunkan para ABK.

Satu unit bus lengkap dengan dua unit forijder sudah bersiap di Kertajati. Malam itu juga, bus meluncur ke pelabuhan Cirebon. Jarak bandara Kertajati ke pelabuhan Cirebon sekitar 58 km, normalnya bisa dijangkau dalam waktu satu jam. Tapi Doni sebelumnya memberi instruksi kepada petugas lapangan, agar rombongan memacu kecepatan, agar lebih cepat tiba di pelabuhan. Sekali lagi, Doni mengantisipasi insiden semacam penghadangan atau apa pun selama proses evakuasi.

Benar saja. Kurang dari 50 menit, bus sudah tiba di pelabuhan Cirebon. Para penumpang langsung masuk KRI Dr Soeharso. Kapal pun melakukan prosedur cast off (melepas semua tali tambat), dan perlahan meninggalkan pelabunan Cirebon menuju Pulau Sebaru Kecil, tempat “muatan” akan menjalani karantina selama 14 hari.

Doni dan rombongan pejabat, melepas rombongan ABK tadi dari dalam ruang tunggu bandara Kertajati. Itu pun dari kejauhan. Jika dihitung meter, tidak kurang dari 300 meter jaraknya.

Menhub Terpapar

Tak lama setelah peristiwa itu, Menhub Budi Karya Sumadi dinyatakan positif terinfeksi Covid-19. Beredar spekulasi, Menhub terpapar corona di Cirebon, saat menyaksikan langsung proses evakuasi ABK World Dream di Cirebon.

Saya ada di sana. Saya bisa pastikan, spekulasi itu keliru. Sebab, posisi para pejabat yang menyaksikan proses evakuasi dengan posisi kapal, seperti saya sebut di atas, cukup jauh. Bahkan sangat jauh untuk virus bisa menyerang. Tapi sudahlah. Bersyukur, Menhub sudah dinyatakan sembuh.

Lain kisah di Cirebon, lain lagi kisah persiapan sarana evakuasi di Pulau Sebaru, Kepulauan Seribu. Yudo juga mengisahkan anggotanya sempat tertahan angin kencang. “Mendekati Pulau Sebaru, angin kencang dan dan gelombang pasang. Saya minta TNI-AL mengerahkan armada amphibi untuk memboyong peralatan menuju dermaga Pulau Sebaru. Wah… penuh perjuangan…,” kata Yudo. Ada tawa di bibirnya, tetapi tatapan matanya seperti menerawang jauh ke waktu yang telah lewat.

Selesaikah persoalan ABK World Dream? Masih panjang kisah. Ada cerita soal kesulitan air bersih, genset mati, bahkan kejadian demo ABK yang membuat Yudo harus mengambil sikap tegas.

Bermula dari ekspektasi berlebihan para ABK. Demi mendengar bahwa mereka harus menjalani karantina di Pulau Sebaru, maka para ABK tadi pun mencari tahu ihwal Pulau Sebaru melalui laman google. Tentu saja, image yang muncul adalah foto-foto sebuah pulau yang elok rupa.

Apa daya, ekspektasi mereka terlalu berlebihan. Karenanya, mereka kecewa saat mendapati tempat karantina yang terbilang sederhana. Apalagi, tiga hari karantina, langsung dihadapkan para problem kesulitan air bersih. Sebab, mata air di Sebaru, mendadak kering karena disedot tak kurang dari 100 ton air setiap hari.

“Kami mengerahkan kapal TNI AL yang mampu memasok 2.000 ton air ke Sebaru. Tapi, satu persoalan air selesai, persoalan lain muncul seperti genset yang mati, dan kami segera datangkan genset milik Lantamal,” tutur Yudo.

Suatu hari, para ABK yang terbiasa hidup di kapal pesiar, merasa tidak tahan hidup di karantina Pulau Sebaru. Mereka kecewa karena kenyataannya tidak seindah yang mereka bayangkan. Meski, cukup memadai dari sisi fisik bangunan dan fasilitas yang disiapkan pemerintah.

Sebagai bentuk pelampiasan rasa kecewa, mereka melakukan unjuk rasa, dengan melakukan aksi corat-coret di dinding dan jendela kaca bangunan karantina. Mendengar itu, Yudo hanya bisa mengelus dada. Tapi, toh dia harus turun tangan menenangkan dan memberi pengertian.

Jika hari-hari sebelumnya Yudo mengunjungi Pulau Sebaru menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) secara lengkap, hari itu ia datang tanpa APD, dan mengenakan pakaian loreng, pakaian dinas lapangan tentara. Lengkap (ketika itu) dengan pangkat tiga bintang di pundak kiri-kanan.

Dengan nada berat dan tatap mata tajam, kepada para ABK yang demo, Yudo meminta untuk menerima keadaan. Setidaknya selama 14 hari, sebelum mereka dinyatakan benar-benar sehat dan diperbolehkan pulang berkumpul bersama keluarga.

Berkat ketegasan dan pendekatan persuasif, sejak itu, tidak ada lagi masalah. Mereka semua menerima keadaan, dan menyadari posisi dan kondisinya.

Sebagai penutup tulisan, izinkan saya menyampaikan kenangan pribadi. Suatu hari ketika di Natuna, Februari 2020, Doni Monardo berkata, “Orang ini (yang dimaksud adalah Yudo Margono-pen) kerjanya sangat bagus. Suatu saat, beliau layak menjadi Kasal.”

Selamat, Laksamana! Jales veva jaya mahe!***

Saatnya PPAD “Berperang” untuk Kesejahteraan

JAYAKARTA NEWS – Tarian angngaru menyambut kehadiran Ketua Umum PP PPAD, Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo di aula Kodam IV/Hasanuddin, Selasa (6/12/2022). Hari ini, Doni mengukuhkan pengurus DPD PPAD Provinsi Sulawesi Selatan hasil Musyawarah Provinsi sehari sebelumnya.

Brigjen (Purn) A. Baso Amirullah secara aklamasi kembali terpilih memimpin PPAD untuk periode 2022 – 2027. Pengurus baru dilantik di aula Makodam XIV/Hasanuddin, Jl. Urip Sumoharjo, Panaikang, Kec. Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Hadir dalam acara tersebut, Pangdam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Dr Totok Imam Santoso, Kapolda Sulsel, Irjen Pol Nana Sudjana, perwakilan dari TNI-AL, TNI-AU, Sekda Provinsi Sulsel, para akademisi, serta unsur-unsur lain di Sulawesi Selatan seperti Hipakad, FKPPI, dan PPM.

Penyerahan pataka PPAD dari Ketum PP PPAD Letjen TNI Purn Doni Monardo kepada Ketua DPD PPAD Sulawesi Selatan, Brigjen TNI Purn A Baso Amirullah, di aula Kodam XIV/Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (6/12/2022). (Foto: egy m)

Kenangan Sulsel

Dalam kesempatan itu, Doni Monardo menyampaikan kesannya yang mendalam terhadap kota Makassas khususnya, dan wilayah Sulawesi Selatan pada umumnya. “Setiap medan tugas selalu meninggalkan kesan. Dan Makassar adalah sedalam-dalamnya kesan,” ujarnya.

Bentang waktu antara 2006 sampai 2008, Doni mendapat penugasan sebagai Komandan Brigif Linud 3/Tri Budi Mahasakti (2006—2008), atau sering disebut Brigif Kariango. Di sinilah ia jatuh cinta dengan pohon trembesi.

Mak comblangnya adalah tokoh lingkungan, mendiang Andi Tenri ‘Onny’ Gappa (Semoga almarhum tenang di sisi Tuhan). Sejak itu pula, Doni mencanangkan tekad “Dari Kariango Ikut Hijaukan Indonesia”. Tak kurang dari 26 titik di Sulawesi Selatan telah ditanami trembesi, saat itu.

Tidak hanya di Markas Brigif Kariango, tetapi juga di Pangkep, Maros, Barru, Pare-pare, Luwu, Gowa, Sidrap, Mamuju, Toraja Utara, dan tentu saja Makassar. Termasuk Lapangan Karebosi. Karenanya, setiap Doni mengunjungi Sulsel, tak ubahnya seperti mengunjungi “anak-anak” trembesi yang sekarang sudah rindang.

Bukan hanya itu. Di Makassar pula Doni menyekolahkan anak-anak di SD dan SMP Athirah milik Bapak Jusuf Kalla.

Doni merasa gembira bisa kembali menginjakkan kaki di bumi Ujung Pandang. Bukan saja “reuni trembesi”, tetapi juga reuni dengan teman-teman purnawirawan TNI-AD yang sekarang tergabung dalam wadah Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat.

Diingatkan, biarlah yang lain berperang di bidang politik. PPAD akan berperang untuk meningkatkan kesejahteraan. Ia mengucapkan terima kasih kepada pengurus PPAD yang lama, dan mengucapkan selamat kepada pengurus baru. Doni mengingatkan, bahwa purnawirawan hanyalah soal administrasi. Prinsipnya, pengabdian kepada bangsa dan negara tidak mengenal batas ruang dan waktu.

Semangat pantang menyerah dan terus berjuang, hendaknya menjadi landasan aktivitas pengurus. Perjuangan kita saat ini jauh lebih luas, yaitu pada bidang kesejahteraan. Hanya bangsa sejahtera yang bisa melahirkan sebuah peradaban maju.

Pesan yang sama selalu saya ulang di setiap pengukuhan pengurus PPAD Provinsi yang baru terbentuk. Bahwa, politik PPAD adalah politik negara dan politik kesejahteraan. Semua kegiatan yang dirancang, hendaknya paralel dengan garis-garis besar program Pengurus Pusat PPAD.

Sulawesi Selatan, sebagai provinsi dengan luas 46.717 km² dan jumlah penduduk sekitar 9 juta jiwa, adalah salah satu provinsi paling potensial di Indonesia. Dari sekian banyak potensi daerah, setidaknya saya mencatat potensi laut dan agro yang luar biasa.

Selain menjadi penghasil kakao terbesar di Indonesia, Sulawesi Selatan juga terkenal dengan kopinya. Sejak zaman Belanda, perkebunan kopi yang terkenal ada di Tana Toraja dan Enrekang. Belum lagi potensi rumput lautnya.

Sebagai Komisaris Utama di PT MIND ID, sebuah konsorsium BUMN Tambang milik negara, Doni Monardo juga mengetahui besaran potensi tambang di sini. Selain minyak bumi, juga ada gas alam, besi, zeolite, seng, kaolin, dan batu gamping.

Sedangkan di bidang pariwisata? Siapa tak kenal film “Senja di Pantai Losari”. Masih banyak objek wisata eksotik di sini.

Semua potensi tadi, adalah peluang yang bisa dikerjakan oleh PPAD Sulsel, melalui kolaborasi pentahelix. Libatkan pemerintah daerah, komunitas masyarakat, akademisi, pengusaha, dan media.

Pesan saya: PPAD Sulawesi Selatan harus segera “tancap gas” berkarya bagi anggota, masyarakat, bangsa dan negara. Inilah pengabdian kita yang tak kan pernah berhenti sebagai prajurit. Status purnawirawan hanyalah masalah administrasi.

Tahun Politik

Hal lain yang ditegaskan adalah perihal “Tahun Politik” yang segera menyongsong di depan mata. Untuk kesekian kalinya pula, ditegaskan bahwa pengurus PPAD tidak boleh berpolitik praktis, sesuai AD-ART. Jika ada anggota pengurus yang ingin terjun ke politik praktis, dipersilakan mengundurkan diri.

Sebaliknya, anggota PPAD bebas berpolitik praktis. Anggota PPAD, sebagaimana warga negara lain memiliki hak konstitusional untuk dipilih dan memilih.

Terkait hal itu pula, PPAD Pusat sudah melakukan 3 (tiga) kali Diskusi Panel sosialiasi politik dengan menghadirkan para anggota DPR RI dari semua parpol. Tujuannya adalah, agar kita tidak buta politik. Purnawirawan harus melek politik. Barangkali program yang sama bisa dilakukan dalam skala provinsi.

Tak Mau Kalah

Sementara itu, Ketua DPD PPAD Sulsel, Brigjen (Purn) A. Baso Amirullah dalam sambutannya sempat menyentak perhatian hadiri, dengan pembawaannya yang lugas, serta tutur kata yang cadas, dalam usia yang menginjak 70 tahun.

Baso siap menyatukan langkah dengan program kesejahteraan yang digulirkan PP PPAD. Ia juga mengagumi karya-karya besar yang telah dilakukan sekaligus diwariskan Doni Monardo. Ia menyebut penghijauan trembesi dari Brigif Kariango, kemudian program emas biru dan emas hijau saat menjabat Pangdam XVI/Pattimura, sampai penanaman trembesi di hampir seluruh pelosok negeri.

Yang tak kalah fenomenal adalah prestasi Ketua Umum PPAD menjadikan sungai terkotor di dunia, Sungai Citarum, menjadi sungai yang bersih dengan program “Citarum Harum”.  Termasuk gelar Silaltnas PPAD 2022 yang mendapat rekor dunia. “Beliau juga yang mengajukan usulan peningkatan gaji purnawirawan,” tambah Baso Amirullah.

Kabar terbaru kiprah Ketua Umum PPAD yang menyumbangkan tak kurang dari 140 ribu bibit pohon untuk IKN Nusantara, pun telah didengar oleh Baso Amirullah dan seluruh purnawirawan di Sulsel. “Karena itu, kami tak mau kalah. DPD Sulawesi Selatan pun akan ikut menyumbangkan pohon untuk IKN,” tambah Baso.

Arahan Pangdam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Totok Imam Santoso. (foto: mukti)

Teman Jogging

Sementara itu, Pangdam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Totok Imam Santoso dalam sambutannya mengawali dengan rasa senang dan antusiasnya menyambut kehadiran Doni Monardo. Ini seperti reuni baginya. Totok adalah Irdam XVI/Pattimura saat Doni menjadi panglima di sana.

“Kalau pagi, saya sering menemani beliau jogging. Yang lain tidak ada yang berani,” ujarnya mengenang kisah 2015-2017 di Ambon. “Dan kalau jogging, setidaknya ada sepuluh perintah baru yang harus saya catat dan laksankaan. Begitu hampir tiap hari. Beliau begitu detail dan perfect,” tambahnya sambil tertawa.

Doni Monardo pun menjadi inspirasi ketika Totok menjabat Pangdam. Ia mengikuti jejak Doni untuk tidak motong anggaran, bahkan tidak menerima setoran atau dana operasi. Semua dikembalikan untuk pekerjaan. “Saya ingat, di Kodam Pattimura, beliau mengharuskan semua satuan menempel anggarannya di depan, supaya bisa dibaca oleh para asisten. Jadi spirit yang saya tangkap adalah transparansi. Dan di Kodam Hasanuddin, saya terapkan itu, pak Doni,” ujar Totok disambut tepuk tangan hadirin.

Kepada PPAD Sulsesl, Mayjen Totok mengucapkan selamat. Ia pun akan meminta para Danrem, para Dandim di wilayah Kodam Hasanuddin untuk bergandeng tangan dengan PPAD. “Tahun depan kita masuk tahun politik. Akan banyak riak-riak. Kalau kita kompak dan membangun komunikasi dengan stakeholder lain, niscaya kita bisa melewati tahun politik dengan aman dan damai,” harapnya.

Mengubah nmijnset, kodam irdam, tidak ada satu pun yang dipotong. Semua gunakan utk kepentinan epruntukannya, kalau ketahuan saya copot. Dana operasi juga. Dana ops tidak disalurkan secara ketentuan, ketahuan saya laporkan, balgikan semuanya.  Semua anggaran ditempel di depan kantor masing masing. Pencantuman semua anggota ilakan melihat. Tranparansi.

Arahan Ketua Umum PP PPAD, Letjen TNI Purn Doni Monardo. Saat memberi sambutan, Doni meminta Tigor, seorang pengusaha sukses Sulsel untuk naik ke podium dan menyampaikan gambaran potensi industri makanan yang bisa dikerjasamakan dengan PPAD. (foto: egy m).

Undang Tigor

Ada hal menarik. Di tengah sambutan, datang Tigor dari PT Boma. Doni langsung memintanya naik ke atas panggung, berdiri di sebelah Doni. Tigor mengelola industri yang terintegrasi, dari hulu sampai hilir. “Saya minta pak Tigor menyampaikan apa yang dikerjakan, sehingga bisa menginspirasi kami,” ujar Doni.

Tigor menyampaikan industri yang dikembangkan. “Produk kami ditekankan pada bagaimana memberi nilai tambah. Hanya dengan begitu kami bisa menyerap tenaga kerja. Jadi kami tidak menjual komoditas, tetapi memproduksi yang siap makan. Ingat, populasi kita nomor 4 terbesar di dunia, jelas butuh lapangan kerja,” katanya.

Salah satu yang disampaikan adalah ihwal pembibitan udang. Teknologi yang diterapkan, membuat para petambak udang semakin makmur. “Kalau bapak-bapak terjun ke industri ini, bisa-bisa yang belum pensiun juga ingin cepat pensiun. Bayangkan, penghasilannya bisa mencapai 15 juta per bulan,” ujar Tigor.

Di akhir sambutannya, Doni minta Ketua DPD PPAD Sulsel dan Pangdam XIV/Hasanuddin mengalokasikan waktu untuk bisa mengunjungi pabrik milik Tigor, dan belajar banyak dari sana. Jika memungkinkan, bisa dijalin kerjasama untuk peningkatan kesejahteraan prajurit dan purnawirawan ke depan. (roso/egy)

Lulusan SMA Taruna Nusantara Jadi Entrepreneur

MAGELANG, JAYAKARTA NEWS – Komisaris Utama MIND ID, Doni Monardo memenuhi panggilan Kepala Sekolah SMA Taruna Nusantara Magelang , Mayjen TNI Purn Tono Suratman Kamis 1 Desember 2022. Keduanya memang memiliki hubungan yang sangat dekat, terutama saat berada di kesatuan Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Tono akmil 1975 dan Doni akmil 1985 pernah berada dalam satu tugas operasi di Timor Timor.

Di hadapan lebih dari seribu siswa, Doni menyampaikan rasa bangganya kepada lulusan SMA Taruna Nusantara. Tak kurang dari 85 lulusan SMA TN melanjutkannya ke Akademi Militer (Darat, Laut, Udara) dan Akademi Kepolisian.

“Tapi sayang kalau putra-putri terbaik lulusan TN semua berorientasi menjadi TNI/Polri. Masih terlalu banyak bidang pengabdian lain, terutama di bidang entrepreneurship,” ujar Kepala BNPB 2019 – 2021 itu.

Doni berharap, lulusan SMA TN harus lebih banyak lagi melirik dunia entrepreneurship. “Ingat, negara kita sangat kaya raya akan sumber daya alam. Sayang kalau kekayaan negara kita hanya dikelola oleh segelintir warga negara, dan tidak bisa membuat bangsa kita sejahtera,” tambahnya.

Doni lalu mencontohkan beberapa kekayaan alam kita, yang jika dikelola dengan baik, bisa menjadi jembatan menuju tercapainya cita-cita pendiri bangsa, menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang adil dan makmur.

“Pertama, saya contohkan karet. Produksi karet Indonesia adalah terbesar kedua di dunia, setelah Thailand. Tapi lihat apakah petani karet kita lebih sejahtera? Karena kita menjual karet mentah. Padahal, dari ujung kaki hingga ujung rambut membutuhkan unsur karet. Kita kekurangan SDM yang mau dan mampu mengelola karet menjadi bernilai tambah lebih tinggi,” paparnya.

Contoh berikutnya, ia sebut kayu. Negara dengan alam yang begitu subur, harusnya bisa jauh lebih makmur dari negara-negara Skandinavia jika kita mengelola hutan dan menanam pohon dengan baik.

Doni kemudian membuka tabir kekayaan VOC yang mencapai 7,9 triliun dollar AS. Sebuah asset yang jauh lebih besar dibandingkan dengan 20 perusahaan kakap dunia, seperti Apple, Samsung, Tesla, dan lain-lain. “Dari mana kekayaan VOC itu berasal? Dari bumi Nusantara!” tegas Doni.

Itu semua yang disebut Doni sebagai ‘emas hijau’. “Masih ada ‘emas biru’, yaitu hasil laut. Karena miskin teknologi, nelayan kita kalah dengan nelayan negara-negara maju. Tingkatan nelayan kita masih mencari ikan, sementara dengan bantuan teknologi, nelayan asing sudah sampai pada tingkatan ‘menangkap ikan’. Dengan teknologi, mereka mengetahui spot-spot ikan. Nah, ini yang saya maksud bidang pengabdian lain yang terbuka luas buat adik-adik sekalian,” kata Doni Monardo.

Penentu Kejayaan

Dalam kesempatan itu, Doni mengajak Danny Praditya, Direktur Operasi & Portofolio MIND ID. Danny menceritakan bagaimana negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa mengalami inflasi yang tinggi. “Melihat kondisi dunia, kita jauh lebih baik,” ujarnya.

Danny yang pernah merajut karier sebagai seorang guru SMP itu juga memberi motivasi kepada para siswa SMA TN agar membuka cakrawala berpikir lebih luas. Termasuk dalam menentukan masa depan.

“The future is in your hand. Saran saya, pilihlah profesi yang sesuai dengan passion. Hanya dengan begitu, kita bisa bekerja lebih produktif, jangan paksakan bekerja di satu bidang yang tidak sesuai dengan passion,” tambahnya.

Danny lalu memberi gambaran umum tentang potensi tambang dan mineral yang dimiliki Indonesia.  Ia mencontohkan, trend motor atau mobil listrik, yang berbahan baku nikel (untuk baterai).

“Amerika dan Eropa yang punya gagasan, tetapi yang mengeksekusi China. Kenapa? Karena Amerika dan Eropa tidak punya resources nikel, sementara Cina punya. Maka Cina bisa dengan mudah mengeksekusi ide mobil dan motor listrik. Karena itu yang beredar di pasaran lebih banyak mobil dan motor listrik Cina daripada Amerika dan Eropa,” kata Danny.

Ia lalu menyebut potensi tambang dan mineral lain yang dikandung bumi Indonesia. Jauh lebih lengkap dibanding negara mana pun. Karena itulah, para lulusan SMA TN adalah penentu kejayaan Indonesia ke depan. Lulusan-lulusan SMA TN menjadi salah satu tumpuan bagi lahirnya Indonesia Emas di tahun 2045.

Menamam Manggis

Usai memberi pembekalan, Kepala SMA TN, Mayjen TNI Purn Tono Suratman mendampingi Doni Monardo dan Danny Praditya menanam pohon manggis di sisi kiri halaman depan komplek sekolahan. Sebelum  penanam, diawali dengan upacara sederhana oleh para siswa SMA TN.

Dalam kesempatan itu, Doni turun langsung ke lubang yang hendak ditanam pohon manggis. Ia melepas polybag dengan cutter. Gerakannya sangat hati-hati. “Bongkahan tanah ini tidak boleh pecah, dan akar pohon harus dijaga dengan baik. Begini cara yang benar menanam bibit pohon yang sudah memiliki ketinggian di atas satu-setengah meter ini,” kata Doni.

Danny Praditya pun menirukan cara Doni menanam pohon manggis di lokasi yang sama. Rangkaian acara pagi hingga siang itu ditutup dengan makan siang bersama.

“Komando!” pekik salam Doni Monardo kepada seniornya, Tono Suratman, sesaat sebelum masuk mobil dan meninggalkan komplek SMA TN Magelang.

“Komando!” balas Tono Suratman. ***rr

Doni Monardo Ingatkan Spirit Pahlawan kepada Pengurus Baru PPAD Jatim

JAYAKARTA NEWS – Mayjen TNI Purn Dr Wibisono Poespitohadi dikukuhkan menjadi Ketua DPD PPAD Provinsi Jawa Timur bersama jajaran pengurus lainnya, Rabu (26/10/2022). Wibisono menggantikan ketua sebelumnya, Brigjen TNI Heru Sudibyo, yang di kepengurusan baru menjabat Anggota Badan Pertimbangan.

Pengukuhan oleh Ketua Umum PP PPAD, Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo, berlangsung di Aula Pomdam V/Brawijaya, Jl, Kesatriyan 41, Wonokromo, Surabaya. Kepengurusan baru adalah hasil Musyawarah Provinsi (Musprov) IV PPAD Jawa Timur yang berlangsung 27 – 28 September 2022.

Sejumlah “purnawirawan remaja” mewarnai kepengurusan PPAD Jatim yang baru. Ketua Badan Pertimbangan misalnya, dijabat Letjen TNI Purn Wisnoe Prasetja Boedi. Lulusan Akmil 1986 terakhir menjabat Inspektur Jenderal TNI-AD (2021 – 2022). Sedangkan, Wakil Ketua Badan Pertimbangan, dijabat Mayjen TNI Purn Arif Susilo, mantan Wasahli Kasad.

Sementara itu, Ketua DPD PPAD Jatim, Mayjen TNI Purn Drs. Wibisono Poespitohadi, M.Sc., M.Si. (Han) terakhir menjabat Kasatwas Unhan. Ia juga pernah menjabat Direktur Pengadaan Perum Bulog. Saat ini ia aktif mengajar di Universitas Merdeka (Unmer) Malang.

Pagi itu, Doni Monardo dan staf PPAD Pusat, tiba lebih awal di bandara Juanda. Karenanya, sebelum ke acara pengukuhan, ia sempat singgah di Markas Kodam V/Brawijaya. Kebetulan, pagi itu tengah berlangsung acara kepramukaan yang dihadiri Forkopimda Jawa Timur.

Alhasil, selain bertemu Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Nurchahyanto, Doni juga bertemu Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Keduanya sempat mengilas balik sejumlah tugas bersama ketika Doni menjabat Kepala BNPB 2019 – 2021. Selain terlibat penanganan bencana alam di Semeru (Lumajang), Malang, dan daerah lain di Jawa Timur, juga bencana non alam Covid-19.

Jelang jadwal pengukuhan, Doni pun bergeser ke markas Pomdam V/Brawijaya yang hanya berjarak ratusan meter saja dari markas Kodam.

Ketua Umum PP PPAD, Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo berfoto bersama jajaran pengurus DPD PPAD Provinsi Jawa Timur, usai pengukuhan, Rabu (26/10/2022). (foto: egy)

Spirit Pahlawan

Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, Doni pun mengukuhkan kepengurusan DPD PPAD Jawa Timur masa bakti 2022 – 2027. Kepengurusan berjumlah 28 personel, terdiri atas 5 (lima) personel Badan Pertimbangan, 21 personel Badan Pengurus, dan 2 (dua) personel Badan Pengawas. “Kepada para pengurus, saya ucapkan selamat dan selamat bekerja,” kata Doni.

Ditambahkan, spirit kepahlawanan harus menjadi nafas kerja PPAD Jawa Timur. Semangat pantang menyerah, hendaknya menjadi landasan aktivitas program kesejahteraan yang digulirkan.

Pesan berulang juga disampaikan Doni. Bahwa, politik PPAD adalah politik negara dan politik kesejahteraan. Semua kegiatan yang dirancang, hendaknya paralel dengan garis-garis besar program Pengurus Pusat PPAD.

Jawa Timur, sebagai provinsi dengan luas 47,800 km² dan jumlah penduduk sekitar 39,74 juta, adalah salah satu provinsi terbesar di Indonesia. Dari sekian banyak potensi daerah, setidaknya ada dua potensi terbesar, perikanan dan peternakan.

Jawa Timur mempunyai potensi perikanan darat dan perikanan laut. Sementara, di bidang peternakan, tak kurang dari 40 persen dari seluruh jenis ternak di Indonesia, dipasok dari Jawa Timur. Selain merupakan daerah produksi ternak potong, Jawa Timur juga merupakan pemasok ternak ke seluruh daerah di Indonesia.

Di luar kedua sektor itu, masih sangat banyak peluang yang bisa dikerjakan oleh PPAD Provinsi Jawa Timur, melalui kolaborasi pentahelix. “Libatkan pemerintah daerah, komunitas masyarakat, akademisi, pengusaha, dan media,” tambahnya.

PPAD Jawa Timur diminta segera “tancap gas” berkarya bagi anggota, masyarakat, bangsa dan negara. Inilah pengabdian yang tak kan pernah berhenti sebagai prajurit. Status purnawirawan hanyalah masalah administrasi.

Dari kiri: Ketua Umum PP PPAD, Letjen TNI Purn Doni Monardo, Ketua DPD PPAD Provinsi Jawa Timur, Mayjen TNI Purn Wibisono Poespitohadi, dan Wakil Ketua Bidang Organisasi PP PPAD, Brigjen TNI Edison Simanjuntak. (foto: egy m)

Tahun Politik

Hal lain yang disampaikan Doni adalah perihal “Tahun Politik”. Ditegaskan, sesuai AD-ART, pengurus PPAD tidak boleh berpolitik praktis. Jika ada anggota pengurus yang ingin terjun ke politik praktis, dipersilakan mengundurkan diri.

Sebaliknya, anggota PPAD bebas berpolitik praktis. Anggota PPAD, sebagaimana warga negara lain memiliki hak konstitusional untuk dipilih dan memilih.

Keseluruhan jalannya acara Pengukuhan Pengurus DPD PPAD Provinsi Jawa Timur, berlangsung tertib dan lancar. Hal itu tak lepas dari kegesitan Brigjen TNI Purn Edison Simanjuntak, Wakil Ketua Bidang Organisasi PP PPAD dalam mengkoordinasikan kelancaran acara. (egy)