Diskusi Daring Kophi dan Kemendikbud: ‘Saatnya Bangkit Bersama’

JAYAKARTA NEWS—Saat pandemi Covid 19, banyak seniman musik nganggur dan alih pekerjaan. “Bisa dibilang prestasi mereka mandeg. Memang sih belakangan ada konser musik secara live streaming, tapi sedikit. Jauh dari harapan,” beber promotor Deteksi, Harry ‘Koko’ Santoso dalam diskusi daring bertopik ‘Saatnya Bangkit Bersama’ yang digelar oleh Komunitas Pewarta Hiburan Indonesia (Kophi) bekerjasama dengan Direktorat Film, Musik dan Media Baru, Kemendikbud, Rabu (2/9/2020).

Harry ‘Koko’ Santoso , promotor musik dari Deteksi Production (foto Instagram).

Harry Santoso mengakui, memang hanya beberapa nama band besar yang unjuk diri dalam konser musik, seperti God Bless, Slank, Konser 7 Ruang dan terakhir Kahitna di PRJ, Kemayoran secara drive in (penonton melihat dari dalam mobil). “Tapi mereka dibatasi oleh ruang dan psychical distancing. Enggak kayak dulu sebelum pandemi, dari Sabang sampai Merauke diramaikan oleh band-band indie di daerah,” lontar Harry Santoso.

Meski demikian, dia mengusulkan agar musisi daerah bisa bekerjasama dengan KONI daerah dan Pemda setempat. Gedung Olahraga bisa ‘disulap’ menjadi Gedung konser musik.

Selain konser musik yang dihelat secara virtual di kafe dan drive in, juga mencuat prestasi dari anak bangsa yang mengadakan konser musik diatas kapal Arka Kinari keliling dunia. Penggagasnya Intan dari GSUI yang punya kreatifitas brilian di tengah pandemi.

“Imbauan yang lain adalah agar para pelaku dan promotor musik diberi kemudahan dan kelonggaran. Pajak Tontonan (PTO) sebesar 10 sampai 20 % terlalu besar. Kalau bisa, gratiskan,” ucap Harry Koko.

Selain itu, izin keramaian juga diberi kemudahan agar cepat selesai prosesnya. Jangan terlalu bertele-tele dan birokratis. “Hampir setengah tahun kita terjebak pandemi. Sungguh perih dan pedih. Tapi kita enggak boleh putus asa. Kita tetap berkarya. Pemerintah sudah bantu dengan BLT. Kita siap memasuki masa adaptasi kenormalan baru,” imbuh Harry Santoso.

“Mari kita bangkit dan duduk bersama. Musik itu bukan soal mudah. Tetap disiplin, adaptasi dan jaga jarak. Pelan-pelan kita bisa mengatasi masa sulit ini,” harap Harry Santoso yang pernah sukses menggelar konser musik termegah Soundrenaline dan Parade Bedug dari Aceh sampai Banyuwangi.

Sedangkan musikus Candra Darusman memaparkan ‘badai’ wabah Covid 19 ini benar-benar menghantam tidak hanya bidang kesehatan, tapi juga ekonomi. “Ini luar biasa dampaknya. Negara-negara luar minus 40, bahkan ada yang 15 %. Sudah 16 negara umumkan resesi. Semoga pada triwulan ke 2, negara kita hanya minus 5 %. Dampak ekonomi ini menyangkut periuk nasi para musisi. Ada musisi jual makanan dan semoga ini hanya solusi antara. Mereka tetap akan main musik,” urai Candra Darusman selaku Ketum Federasi Serikat Musik Indonesia (Fesmi) yang juga musisi/penyanyi band Chaseiro dan Karimata.

Di sisi lain, pandemi ini menjadi katalis bagi para musisi. Dikatakan, ada 3 jenis musisi selama wabah pandemi, yaitu musisi mapan, musisi pas-pasan dan musisi rentan. Sesuai peraturan Pemprov DKI Jakarta, bahwa ada pembatasan sosial selama musisi main di kafe dan klub. Penonton dibatasi 30% dan band yang unjuk diri hanya dibolehkan hanya 4 personel.

“Baik main pakai alat elektrik maupun akustik, sama saja. Yang acapela (tanpa iringan musik, misalnya boy band) ya harus berformasi 4 orang. “Sebagai seniman musik, jujur saya lebih suka main live di ruang terbuka yang dihadiri banyak khalayak. Main virtual tanpa penonton dan tanpa tepuk tangan. Enggak bisa gantikan suasana dan inter aksi main secara open door. Tapi apa boleh buat, kita harus kencangkan ikat pinggang terus selama pandemi. Kemarin-kemarin sudah ngegas, tiba-tiba ngerem lagi…,” tandas Candra Darusman tertawa.

Sementara Edi Irawan selaku Kapokja Apresiasi dan Literasi Kemendikbud lebih banyak bicara ihwal data. Dan ‘data’ adalah Kunci, seperti kata host Benny Benke dan Edo. Sementara bidang baru yaitu Film, Musik dan Media Baru sudah sering menggelar workshop, pameran, pergelaran seni, klinik musik dan membuat konten-konten musik. Yang bicara ihwal film adalah Firman Bintang, Ketua Dewan Pertimbangan PPFI (persatuan perusahaan film).

Sebelum pandemi, industri film nasional sudah seperti terdampak. Misalnya soal tata edar yang masih silang sengkarut. Sebuah film nasional yang sudah lolos sensor dan disertai STLS dari Lembaga Sensor Film masih sulit tayang di bioskop di seluruh Indonesia.

Bagaimana dengan pembukaan bioskop di Jakarta yang konon sudah mendapat izin dan restu dari Gubernur dan Gugus Tugas? “Jangan terburu-buru membuka bioskop. Ada jaminan penonton datang enggak,” beber Firman Bintang yang menambahkan pembukaan bioskop di Korsel justru menjadi kluster baru. Lalu? “Jangan meratap. Kita sudah terpapar dan terkapar. Sampai nanti. Sampai mati,” pungkas Firman Bintang mengakhiri diskusi santai melalui aplikasi Zoom. (pik)

Kophi dan Fariz RM Gelar Aksi Kemanusiaan

JAYAKARTA NEWS—Komunitas Pewarta Hiburan (Kophi) dan Fariz RM Management kembali semaikan aksi kemanusiaan ditengah pandemi C19. Sebanyak 100 paket makanan diberikan kepada pedagang dan warga di sekitar Pasar Buncit, Jakarta Selatan.

Managing Director Fariz RM Management, Permata Belladona Warokka  mengatakan, kolaborasi ini menjadi bentuk komitmen dan konsistensi untuk peduli pada masyarakat terdampak

“Semoga bantuan ini bisa memberikan manfaat,” kata Bella. Ditambahkan, berbuat  nyata itu hal terpenting. “Dan kegiatan semacam ini bisa meringankan beban masyarakat,” imbuhnya.

Foto Humas Kophi

Caca Gracia selaku manager Fariz RM berharap, semoga dengan aksi ini pesan agar selalu berpikir positip bertambah dan bisa memberikan hal baik kepada sesama. Ketua Kophi, Benny Benke berterima kasih atas donasi yang digelar.

“Ini menjadi reguler selama Ramadhan,” timpal Benny Benke yang juga wartawan Suara Merdeka. “Disini doa mengalir untuk keselamatan dan kesehatan kita semua. Indahnya berbagi,” tandas Benny Benke. (pik)

Komunitas Pewarta Hiburan Donasi Masker dan Uang

JAYAKARTA NEWS— Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilaksanakan di Jakarta sejak Jumat (10/4) direspons positif oleh Komunitas Pewarta Hiburan (Kophi). Pelaksanaan donasi  telah digelar dalam bentuk pembagian masker gratis serta uang tunai sebanyak 200 paket.

“Kami berharap bantuan kecil ini bisa bermanfaat buat warga yang terdampak langsung dari virus Corona,” kata Benny Benke selaku Ketua Kophi di Jakarta. Dalam kesempatan itu, Benny Benke dan kawan-kawan bergerak langsung ke wilayah yang ada anggotanya yaitu Bekasi, Depok, Bogor dan Jakarta.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada XL Axiata, Erick Martoyo (musisi) dan beberapa pihak yang tak mau disebutkan namanya,” ucap Benny Benke, wartawan senior di koran Suara Merdeka ini. Penasehat Kophi, Arey Arifin menegaskan bahwa pembagian donasi diberikan langsung kepada pengendara ojek online, pemulung dan janda.

Donasi untuk para driver ojol–foto istimewa

“Kami khususkan kaum fakir miskin. Donasi berupa sembako dan uang tunai,” urai Arey Arifin. “Kophi juga memberikan masker bagi yang belum memiliki. Ini nilai manfaat tambahan selama mereka menganggur atau yang pemasukannya berkurang,” timpal Benny Benke lagi. Kophi yang didirikan di Jakarta oleh beberapa wartawan hiburan telah menghimpun dan mewawancarai kalangan seniman, artis, produser musik dan film serta pekerja kreatif.

Hal ini guna menanggapi ajakan pemerintah agar Work From Home, Stay at Home dan apresiasi kepada tenaga medis. Puluhan artis dan produser telah diwawancarai Kophi, diantaranya Ari Lasso, Once Mekel, Ruth Sahanaya, Kaka Slank, Dewi Perssik, Nikita Mirzani, Armand Maulana, Tora Sudiro, Mulan Jameela, Rebecca Reijman, Harry ‘Koko’ Santoso, Chand Parwez Servia dan pesohor lain. (pik)