Dihantam Badai Corona, Tempe Kahla Tetap Bertahan Jadi Energi Kehidupan

JAYAKARTA NEWS – “Mental tempe!” Penggabungan kata ini menyiratkan sesuatu yang negatif. Kata ‘tempe’ seolah dikonotasikan lembek dan mudah hancur. Sehingga mental tempe bisa menjadi mental yang mudah hancur dan tidak kuat. Orang bemental tempe dimaknai sebagai orang yang tidak berani bersaing. Makanya Bung Karno pernah menyerukan kepada Rakyat Indonesia, “Jangan Bermental Tempe!”

Tapi, sesungguhnya, sebagai makanan, tempe adalah makanan rakyat yang berprotein tinggi. Sangat dibutuhkan tubuh. Kenyataannya, tempe tetap ada dalam peradaban manusia, sejak dahulu hingga saat ini.

Dan, bagi Vivi Hervianty, perempuan bertubuh mungil dari Kampung Nagrak, Sukabumi,  Jawa Barat, bicara tentang tempe adalah bicara tentang kisah hidupnya. Sejarahnya.

Maka, ‘Nyali tempe’ tidak berlaku bagi Vivi Hervianty, perempuan berusia 47 tahun itu. Tubuh kecilnya yang terlihat ringkih, justru menyimpan energi besar, semangat pantang menyerah menjalankan usaha tempenya di masa pandemi ini.

Vivi di tempat produksi Keripik Tempe Kahla (foto:istimewa)

Hampir dua tahun Pandemi COVID-19 ‘menyerang’ dunia, selama itu pula, Vivi terus  berjuang menjalankan usahanya, Keripik Tempe Kahla. Tak kenal lelah, Vivi memasarkan ‘tempe’-nya tanpa memilih-milih tempat. Warung kecil maupun besar dijalaninya.  Desa dan kota, ditelusurinya. Bahkan ke Cina pun dicobanya.

Hasilnya? Keripik Tempe Kahla yang diproduksi sejak awal 2015,  tetap beredar hingga saat ini. “Walaupun produksi merosot banget, tapi Alhamdulilah, saya bisa kirim ke Cina baru-baru ini,” papar Vivi kepada Jayakarta News (17/10/2021).

Bulan September, baru lalu, Vivi bisa mengirim produknya ke Cina. “Tidak banyak sih, hanya 2000 pieces. Tapi saya bersyukur bisa kirim ke Cina, semoga bisa repeat order.”

Tapi sebelumnya, yaitu di bulan Juli, Vivi juga sudah mengirim tempenya ke Jepang sebagai contoh untuk tes pasar. “Ada yang  mau pesan, tapi kami harus kirim contoh dulu sebagai tes pasar disana.” Selain Jepang, kata Vivi, masih ada yang sedang diprospek, yaitu Jedah. “Yang ini lagi kirim penawaran, Mbak,” ujar Vivi bersemangat.   

Mengelola usahanya, Vivi tidak fokus memasarkan tempenya ke luar negeri. Apalagi masa pandemi seperti ini. Sudah ada yang pesan 15.000 pieces tapi belum bisa terpenuhi karena terkendala pandemi COVID-19. “Semoga dalam waktu dekat, bisa terealisasi,” harapnya.

Karena itu, strategi penjualan yang diterapkan Vivi adalah tetap ‘menggandeng’ warung-warung kecil. “Saya kan awalnya memasarkan melalui mereka. Jadi, walaupun saya bisa menjual ke luar negeri, warung kecil tetap saya pertahankan,” katanya bersemengat.

Berharap ‘Dikenal’ Melalui Warung Kecil  

Ada kerinduan Vivi bermitra dengan warung-warung kecil.  Dengan menjual produknya di warung-warung kecil, dia ingin agar Keripik Tempe Kahla bisa  ‘dikenal’ bagaikan makanan ringan lainnya dari pabrik-pabrik besar yang juga beredar di warung-warung kecil.

Keripik Tempe Kahla ada di Warung Kecil (foto:istimewa)

Vivi menyebutkan beberapa contoh merek makanan ringan yang populer. “Saya ingin agar usaha-usaha kecil menengah seperti saya ini bisa juga besar namanya, seperti produk jajanan lainnya yang namanya terkenal walau di warung-warung kecil.”

Karena itu, warung kecil bagi Vivi bagaikan penyulut semangatnya untuk terus berkembang dan bahkan bisa dikenal secara luas. Sehingga jika orang menyebut keripik tempe, yang teringat adalah Keripik Tempe Kahla dan tersedia di warung kecil. Tentu dengah harga yang murah, sebagaimana jajanan lainnya. Dengan begitu, dia juga bisa menjadi energi bagi warung-warung kecil di sekitarannnya yaitu di Kampung Nagrak, Sukabumi, Jawa Barat.

Mengubah Tampilan Harga 2000-an  

Untuk  menopang cita-citanya itu,  Vivi pun mengubah tampilan ‘sang tempe’. Semula hanya dibungkus plastik dengan tempelan kertas berisi nama produk, ‘Keripik Tempe Kahla’.  Kini telah berubah jauh lebih bagus dan lebih hiegienis.   “Saya ubah seperti produk terkenal lainnya. Jadi lebih bagus tampilannya, walaupun harganya 2000 per bungkusnya.”

Mengubah tampilan produknya, tentu saja akan mengubah jumlah keuntungannya. “Memang jadi lebih sedikit keuntungannya. Tapi tidak apa-apa demi cita-cita saya tercapai,” ujarnya sambil tertawa.

Bandrol yang ditetapkan pun, sangat terjangkau, yaitu Rp 2000 satunya. “Murah dan sehat, Mbak tempe saya ini,” ujar Vivi ‘mempromosikan’ produk warungan-nya itu.

Patut diacungi jempol semangat Vivi. Sebagai Mitra Binaan Pertamina, Vivi mengaku memang harus tetap semangat berusaha. Karena harus bertanggung jawab terhadap bantuan yang dipercayakan kepadanya dari Pertamina.

Kahla Dari Kampungan Jadi Modern

Bersama suaminya, Handry Wahyudi (49), Vivi mulai mencoba membangun usaha tempe sejak akhir 2014. Rumahnya yang berada di Kampung Nagrak Lebak RT 01/02, Desa Balekambang, Nagrak, Sukabumi, Jawa Barat dijadikan sebagai  Rumah Produksi Keripik Tempe Kahla.  

Tempe Kahla di antara jajanan lainnya (foto:istimewa)

Pasangan suami istri ini mulai serius memproduksi Keripik Tempe saat memasuki tahun 2015. Dengan memakai nama anak semata wayangnya, Kahla. Nama ini adalah singkatan dari ‘Berkah Langit’.  Vivi berharap itulah yang akan terjadi melalui usahanya ini, penuh berkah bagi dirinya dan orang lain.

Karena itu, Vivi semangat memasarkan produknya. Mulai dari sekitar rumah, merambah ke luar dari kampungnya, sampai ke Jakarta, dan bahkan bisa mencapai luar Jawa.

Tampilan semula plastik, perlahan menjadi lebih menarik dengan bungkusan berlapis alumunium foil. Vivi merancang sendiri tampilan tempenya. Dari yang kelihatan kampungan, menjadi tampilan modern.

Dengan usaha yang serius tempenya pun merambah hingga ke manca negara. Vivi tidak sendiri dalam menjalankan usahanya. Dia dibantu oleh Pertamina.  

Bantuan Pertamina di Masa Pandemi

Awal tahun 2020, Pertamina melirik usaha Vivi. “Bagi saya, ini berkah, saya bisa menjadi mitra binaan Pertamina, apalagi waktu itu baru mulai masa pandemi,” kisah Vivi.

Sebagai Mitra Binaan Pertamina, Vivi mendapatkan pinjaman lunak dan berbagai kesempatan pameran untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat luas. Seperti ikut dalam Pameran Pertamina SMEXPO 2020 yang dilakukan secara virtual.

Bantuan Pertamina semakin lengkap dengan pelatihan-pelatihan yang diberikan. Misalnya, pelatihan foto produk. Serta kesempatan memasarkan Keripik Tempe Kahla melalui market yang disediakan dan katalog Pertamina.

Seperti yang dikatakan Unit Manager Communication, Relations & CSR Pemasaran Regional Jawa Bagian Barat, Eko Kristiawan, Pertamina terus mendukung para pelaku Usaha Kecil Menengah (UMK) agar bisa terus bertahan di tengah pandemi COVID-19 dan bisa berpartisipasi dalam pameran offline/online yang diadakan perusahaan. “Karena pameran menjadi salah satu ajang promosi untuk mendapatkan pembeli, baik dari dalam maupun luar negeri,” ujar Eko, sebagaimana dikutip dari Laman Resmi Pertamina, Juli 2021.

Tampilan Keripik Tempe Kahla di warung-warung kecil (foto:istimewa)

Menurut Eko, melalui Program Pendanaan Usaha Mikro dan Kecil, Pertamina terus berupaya menggerakan ekonomi masyarakat melalui pembinaan usaha mikro kecil, agar dapat berkembang dan mandiri. Serta turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) poin 8. “Yaitu menyediakan pekerjaan yang layak dan mendukung pertumbuhan ekonomi.”

Dukungan Pertamina di tengah terpaan badai Corona, energi bagi Vivi jadikan tempe populer di warung kecil dan layak mendunia. Keripik Tempe Kahla, tetap ada dengan berbagai varian, ada rasa original atau lainnya seperti keju dan balado atau jagung bakar. Dengan harga, ada yang hanya 2000 rupiah, ada juga 15.000 rupiah.***(Melva Tobing)

Kahla, Berkah Keripik Tempe dari Kampung Nagrak

 Jayakarta News – Tidak ada yang menyangka, jalan setapak sekitar 50-an meter itu menuju rumah produksi Keripik Tempe Kahla. Makanan tradisional yang diolah  pasangan Vivi Herviany (46) dan Handry Wahyudi (48), menjadi penganan kelas dunia. Rumah produksi ini berada di Kampung Nagrak Lebak RT 01/02, Desa Balekambang, Nagrak, Sukabumi, Jawa Barat.

Memasuki lahan seluas 500 meter itu, terasa sejuk dengan banyaknya pepohonan di halaman. Ada lengkeng, jambu, jeruk purut, sawo, mangga dan lainnya. Di lahan itu berdiri dua bangunan, rumah produksi Keripik Tempe Kahla dan tempat tinggal mereka. Pintu masuk menuju lahan ini, hanyalah gerbang kecil. Di depannya, terbentang lahan luas persawahan hijau dan diperindah dengan penampakan ujung Gunung Gede dari kejauhan. “Kami sengaja mengambil tempat disini. Sepi dan udaranya bersih. Sudah bosen dengan keramaian di Jakarta,” ujar Vivi ramah sambil tertawa ringan kepada Jayakarta News, Selasa siang (6/10/2020). 

Sebelum memutuskan mengolah tempe menjadi sumber rejekinya, Vivi dan suami telah mengalami jatuh bangun dalam pekerjaan dan usaha. “Seperti lagu dangdut, mba, jatuh bangun, sebelum kami memutuskan untuk fokus mengolah usaha ini,” kisah perempuan yang murah ketawa ini mengenai perjalanan usahanya yang dimulai sejak akhir 2014.

Pasangan suami istri Handry dan Vivi di depan rumah produksi Keripik Tempe Kahla. (foto: jayakarta news/ melva tobing)

Jatuh Bangun di Kampung Nagrak

Di awali tahun 2008, Vivi dan Handry hijrah ke Kampung Nagrak, Sukabumi dari Jakarta. Saat itu, kantor tempat mereka bekerja, bangkrut. Dengan modal seadanya, diputuskan untuk pindah ke Sukabumi. Di tempat barunya ini, Vivi membuka usaha counter handphone. Ia berpikir, akan sukses jika membuka usaha ini. “Di Jakarta kan sudah ramai dengan penggunaan handphone, saya pikir, ini juga akan berimbas ke Sukabumi. Jadi, kalau saya buka counter hp, bisa laku nih,” kisah Vivi yang berharap  akan mendapatkan keuntungan dari usaha barunya itu. Namun, perkiraannya meleset. Tahun 2009, usahanya pun bangkrut.

Pasangan suami istri ini tidak lagi membuka usaha. Mereka memutuskan bekerja saja di kantoran. Mereka mencoba melamar sebagai sales di sebuah perusahaan rokok kelas daerah. “Kebetulan saat itu ada lowongan jadi sales di perusahaan rokok kelas kampung. Kami coba melamar, eehh… diterima,” kata Vivi sambil tertawa renyah.  

Pekerjaan ini ditekuni Vivi bersama suaminya. Hingga di tahun 2014, Vivi merasa sudah cukup berhasil bekerja sebagai sales. Ini dibuktikan dengan telah diangkatnya Handry sebagai kepala bagian di perusahaan rokok tersebut. Nama rokok yang tadinya kurang dikenal, kini telah diterima di pasaran sekitar Jawa dan Sukabumi. Bukan hanya itu, Vivi juga berhasil sebagai sales lepas atau sales yang hanya mempromosikan produk baru di perusahaan rokok ternama itu. “Selain di perusahaan rokok daerah, saya juga ‘nyambi’ di perusahaan rokok ternama sebagai sales lepas dan tahun 2014 saya berhasil menjadi juara pertama se-Jabar memasarkan merek baru dari rokok itu dalam tiga bulan,” Vivi bersemangat menceritakan keberhasilannya sebagai sales di Kampung Nagrak itu.

Keberhasilannya sebagai sales rokok, membuat Vivi mulai berpikir untuk membuka usaha sendiri.  “Penghargaan itu membuka pikiran saya untuk usaha sendiri. Saya pe-de banget waktu itu dan merasa, ngapain saya promosiin barang orang terus dan berhasil lagi. Kenapa saya tidak mencoba menjual produk sendiri. Selain itu, saya juga ingin sekali membuka lapangan kerja untuk orang-orang di kampung saya ini,” ujarnya. 

Maka Vivi pun memutuskan untuk membuka usaha sendiri di bidang makanan. “Saya berpikir, makanan apa yang digemari orang, bisa untuk cemilan, juga pakai nasi. Ya Tempe. Kalau singkong, kan tidak bisa dimakan dengan nasi. Tapi kalau tempe, bisa untuk makanan iseng, juga dengan nasi sebagai lauk.” 

Akhir 2014, Vivi dan suami, mulai mencoba memproduksi keripik tempe. Sekalipun masih mencoba-cobanya dan memproduksi dalam jumlah kecil, Vivi melakukannya dengan serius. Dia juga langsung memberi nama untuk produknya itu dengan nama anak satu-satunya, Kahla. Jadilah, produknya  itu bernama Keripik Tempe Kahla dengan  jangkauan edarnya hanya di warung-warung kecil seputaran Kampung Nagrak. 

Handry Wahyudi dan Vivi Herviany saat pameran Keripik Tempe Kahla di Trade Expo Indonesia ke 34, ICE BSD Tangerang, 2019. (foto: ist)

Berkah dari Keripik Tempe   

“Mulanya kami hanya mencoba sedikit-sedikit dengan modal tidak seberapa,” ujarnya sambil tersenyum mengenang awal usahanya itu. Pengolahan dilakukan berdua, suami istri saja, setelah pulang kerja. “Semua kami kerjakan sendiri. Beli tempe, membumbukannya, menggorengnya hingga menghantar ke warung-warung sekitar kampung ini saja.”   

Berharap tempe olahannya bisa digemari masyarakat, Vivi menjualnya dengan harga seribu rupiah dalam bungkusan plastik kecil-kecil. “Ke warung kami kasih harga 800 rupiah. Warung ambil untung 200 rupiah. Alhamdulilah, tempe saya laku, mba. Baru sebulan, sudah banyak yang minta untuk dijual kembali. Bahkan, bisa beredar di luar kampung ini,” tutur Vivi dengan wajah sumringah menandakan bahwa dia mengambil keputusan yang tepat untuk memproduksi keripik tempe Kahla. 

Karena itu, memasuki tahun 2015, Vivi dan Handry menetapkan hati untuk berhenti dari pekerjaan dan fokus mengolah usahanya. “Kami mau fokus untuk usaha ini. Jadi, masuk tahun 2015 kami keluar dari pekerjaan sebagai sales,” ujarnya.

Dengan usaha yang serius dan modal nekat, di tahun yang sama, Vivi mulai memasarkan keripik tempenya ke arah kota Sukabumi. Untuk itu, Vivi perlu mengubah image makanannya dengan memberikan packing yang jauh lebih baik. “Dari pelastik, saya ubah ke aluminium foil. Saya desain bungkusnya menjadi lebih baik dan ini memerlukan modal yang tidak sedikit,” ujar Vivi sambil menunjukan jejeran pajangan keripik tempe Kahla di rumahnya.

Dengan packing yang baru, harga keripiknya pun tentu berubah, menjadi 15.000 rupiah tiap bungkusnya. Sekalipun demikian, Vivi tidak menghilangkan bungkus kecil-kecil seperti semula untuk beredar di sekitar tempat tinggalnya. “Saya ibarat terjun bebas ketika itu, mengubah harga, mengubah packingan, mengubah standart tempe saya.”

Terjun bebas yang dimaksud adalah, untuk mengubah itu semua, diperlukan modal yang tidak sedikit untuk memesan bungkus-bungkus baru. Dan, ini membuat modal itu terpendam beberapa waktu. Namun, kegigihannya mempromosikan barang dagangannya, membuat tempe Kahla terus berkembang.

“Saya mengikuti pameran-pameran. Dari kelas kampung, sampai kelas nasional. Dari kelas arisan, sampai pameran di gedung-gedung perbelanjaan.” Ujar Vivi mengenai usaha yang dilakukan untuk mempromosikan keripik tempe Kahla. “Pameran di pelosok-pelosok pun saya ikuti. Karena, disitulah kesempatan untuk memperkenalkan produk saya. Dan, saya selalu membawa tester cukup banyak. Saya tidak mau pelit sama tester. Tiap orang yang berkunjung ke pameran, bahkan lewat saja pun saya tawarkan untuk mencicipi keripik tempe saya,” ujar Vivi.

Selain pameran, Vivi juga memasukan tempenya ke tempat-tempat tertentu seperti toko oleh-oleh di daerah-daerah, rumah-rumah makan hingga Sarinah Thamrin Jakarta dan beberapa bandara. Usahanya terus berkembang dengan adanya re-seller, agen dan distributor untuk produknya. Untuk reseler cukup membeli 30 bungkus, agen harus mengambil 100 bungkus,  sedangkan distributor  500 bungkus. Saat ini, Vivi sudah memiliki 30 reseler dan lima distributor yang tersebar di Tangerang, Depok, Bekasi dan Bandung. Setiap distributor mempunyai agennya masing-masing. Seperti distributor di Bandung mempunyai agen sampai ke Malaysia. “Agen yang langsung di saya ada delapan, yang di distributor, saya kurang paham berapa totalnya,” ujar Vivi mengenai perkembangan usahanya itu.

Seperti namanya, Kahla yang adalah singkatan Berkah Langit, tentu saja Vivi berharap usahanya ini menjadi berkah. Bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk orang-orang di sekitarnya bahkan masyarakat luas.

Saat ini, keripik tempe Kahla sudah masuk di pasaran sekitar Jakarta, Tangerang, Bandung, Serang,  Medan, Pekan Baru, Jambi dan masih banyak tempat lainnya di Indonesia. Sementara pasar internasional, keripik tempe Kahla telah beredar di Malaysia, Bangkok, Korea, Kanada, Oslo. New zealand, Australia. “Bahkan saat ini sedang dipersiapkan pasar Eropa, Jeddah sambil menunggu pandemi. Vietnam dan Myanmar dalam proses pengiriman sample” ujar Vivi bersemangat mengingat perkemangan keripik tempe Kahla yang memberikan berkah baginya.

Tahun 2019, Vivi sempat mengikuti pameran di TEI atau Trade Expo Indonesia ke-34, yang telah berlangsung di ICE BSD, Tangerang.  Ajang ini adalah pameran yang diadakan tiap tahun untuk mempertemukan produsen dengan para investor. Dari ajang ini, diakui Vivi, keripik tempe Kahla semakin dikenal masyarakat. 

Vivi tidak mau melupakan orang-orang di sekitarnya. Karena itu, ia mengambil pegawai orang-orang di sekitarnya dan hanya mengambil pegawai pria. “Wanita bisa bekerja di pabrik di sekitar sini. Tetapi pria susah untuk masuk ke pabrik. Makanya, saya hanya mengambil pria untuk menjadi karyawan saya. Apalagi sekarang ini, susah mencari kerja. Tetapi alhamdulilah mba, saya masih bisa produksi dan karyawan masih bisa kerja,” ujar Vivi yang mengaku tidak masalah jika urusan proses produksi tempe seperti mengiris dan menggoreng tempe dan memasukan dalam packing dilakukan tenaga pria.

Varian dan Rasa pun Berkembang

Berkembangnya usaha Vivi di pasaran, jenis produk pun berkembang. Saat ini Keripik Tempe Kahla ada yang beredar di pasaran ada lima varian dengan berbagai rasa. Tempe Crispy Chips dengan tujuh rasa yaitu original, spicy hot, ayam bawang, sapi panggang, jagung bakar, balado dan keju.  Tempe Stick Bumbu Rujak ada tiga rasa yaitu potongan buah honje, nanas dan mangga. Ada Tempe Crispy sambel toel.  Tempe Baby Hot dengan campuran jengkol, teri dan rebon. Dan, terakhir adalah Seblak Tempe.

Tempe yang digunakan Vivi adalah tempe pesanan khusus ke tempat langganannya. “Ada langganan khusus untuk mengambil tempe. Mereka sudah tau permintaan kita seperti apa,” ujar Vivi. Semua tempe yang dipesannya, hanya sampai pada peragian. Setelah itu, oleh Vivi, tempe tersebut diberi bumbu dan kemudian didiamkan satu hari. Keesokannya, Vivi akan melihat ‘kematangan’ tempe tersebut. Jika menurutnya tempe tersebut sudah matang, barulah mulai diproses untuk dijadikan keripik tempe. “Setelah matang dari proses peragian, barulah tempe itu diiris-iris, lalu dicelupkan ke dalam bumbu yang sudah kami racik sendiri, setelah itu masuk ke proses penggorengan.”

Semua proses pembuatan kripik tempe berada di bawah pengawasan Vivi sekalipun dikerjakan oleh para karyawannya. Sekali memproduksi tempe, Vivi memerlukan 15 kg tempe. Setelah diproduksi, keripik tempe ini akan masuk ke dalam tong-tong besar untuk kemudian dipacking sesuai dengan permintaan atau jika akan dipasarkan.

Vivi mengakui, kondisi pandemi saat ini, juga berimbas kepada produksinya. Biasanya Vivi bisa menghasilkan keuntungan  lebih 25 juta dalam satu bulan. Namun, saat ini, hanya bisa separuhnya. Namun demikian, Vivi tetap mensyukuri karena tempenya masih tetap bisa diproduksi bahkan saat ini sedang dalam persiapan untuk dikirim ke Amerika.

Bermitra dengan Pertamina

Memasuki tahun 2020, Keripik Tempe Kahla mempunyai kesempatan untuk menjadi mitra Perusahaan Energi Nasional, yaitu Pertamina. Tentu saja Vivi merasa senang dan bangga dengan kesempatan ini. Dalam kondisi pandemi saat ini, Vivi malah mendapatkan pinjaman lunak dari Pertamina sejumlah 75 juta rupiah.  Dengan uang tersebut, Vivi mengakui bisa membeli mesin produksi dan menambah dana untuk membangun rumah produksi. “Sungguh berkah mba bagi saya bisa dijadikan mitra Pertamina,” kata Vivi dengan merendah.

Bermitra dengan Pertamina, tidak hanya mendapatkan pinjaman lunak tetapi juga ada kesempatan mempromosikan produknya dalam skala lebih luas dan besar. September lalu, Keripik Tempe Kahla sempat ikut dalam pameran Pertamina SMEXPO 2020 yang dilakukan secara virtual.

Dari pameran virtual itu, bagi Vivi pun, adalah berkah. Produknya terjual cukup banyak. “Pameran itu, sangat membantu. Karena ada penjualan dan ada juga beberapa buyer yang ingin memasarkan produk saya walaupun itu lokal. Tapi saya sangat bersyukur. Apalagi dalam masa-masa seperti ini,” ujar Vivi lagi.

Bagi Vivi, sesuai dengan harapannya sejak semula memulai usahanya memberi nama Kahla yang adalah singkatan Berkah Langit. “Saya memang sangat beharap usaha ini bisa menjadi berkah, bukan hanya untuk keluarga saya, tetapi juga untuk orang-orang di sekitar saya,” ujar Vivi sambil menutupkan tangan dan menengadah ke langit. 

Semoga…. (melva tobing)