Media Sosial Berdampak Buruk terhadap Kesehatan Mental di Indonesia

JAYAKARTA NEWS – Apa yang pertama kali Anda lakukan saat bangun tidur, ketika duduk di bangku angkutan umum, ketika menunggu bus atau kereta? Update status di medsos? Cek akun fecebook, IG, youtube, whatsApp, Line, atau sejenisnya?

Tahukah Anda, kecanduan media sosial seperti itu secara tidak sadar akan membawa Anda pada posisi sulit untuk tidak merasa rendah diri terhadap orang lain di era digital ini. Hal itu karena media sosial telah menciptakan kesan, bahwa setiap orang memiliki waktu terbaik dalam hidup mereka.

Itulah sebabnya, pada tingkat tertentu, keterikatan atau ketergantungan seseorang pada media sosial dapat menumbuhkan kebencian ketika ia melihat gambar-gambar bahagia yang diposting di platform media sosial. Muncul persanaan ‘ngiri’. Situausi itu berkontribusi terhadap kesehatan mental yang buruk, terutama di negara-negara berkembang seperti halnya di Indonesia.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh para akademisi, Sujarwoto, Gindo Tampubolon dan Adi Cilik Pierewan, media sosial dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mental seseorang.

Menurut laporan MedicalXpress, Indonesia adalah negara pengguna Facebook terbesar keempat di dunia dengan 54 juta pengguna. Platform medsos lainnya, Twitter memiliki 22 juta pengguna di Indonesia, yang menempatkan Indonesia sebagai negara pengguna Twitter terbesar kelima di dunia.

Dalam sebuah riset yang dipublikasikan dalam Jurnal Kesehatan Mental dan Ketergantungan, disebutkan riset yang dilakukan para peneliti tersebut menganalisis data dari Survei Kehidupan Keluarga Indonesia 2014 yang melibatkan 22.423 individu berusia 20 tahun ke atas di 9987 rumah tangga dan 297 kabupaten di Indonesia.

Penelitian itu memberi gambaran bahwa penggunaan media sosial membahayakan kesehatan mental orang dewasa. Temuan penelitian itu menunjukkan adanya peningkatan satu standar deviasi dalam penggunaan media sosial oleh orang dewasa, yang dikaitkan dengan peningkatan 9 persen di Pusat Studi Depresi Skala Epidemiologi.

Studi ini menemukan bahwa media sosial menyoroti tingginya tingkat ketimpangan negara, menciptakan kecemburuan dan perasaan dendam.

Dengan mengingat hal itu, peneliti Global Development Institute, Gindo Tampubolon mengatakan, “Ini adalah peringatan yang kuat bahwa teknologi ini dapat memiliki kelemahan.”

“Kami ingin melihat pejabat kesehatan masyarakat berpikir kreatif tentang bagaimana kami dapat mendorong orang untuk berhenti dari media sosial, atau untuk menyadari konsekuensi negatif yang dapat terjadi pada kesehatan mental,” tambah Gindo.***

Tips Mona Ratuliu Hindarkan Anak Kecanduan Gadget

ANDA barangkali termasuk orang tua yang kerepotan dengan kegemaran anak yang banyak menghabiskan waktunya di depan layar gadget. Seperti halnya Anda. Mona Ratuliu pun risau soal gadget.  Tapi, ia punya jalan keluar yang boleh Anda copy paste.

Kehadiran gadget memang tidak bisa ditolak oleh orang tua jaman now. Sulit, kalau tidak bisa dikatakan mustahil, untuk menjauhkan anak dari gadget.

Pesohor Mona Ratuliu mengaku, dirinya  mafhum dengan perilaku anaknya yang senang main  gadget. ‘Persahabatan’ anak dengan gadget menurutnya tak bisa dihindari.

Mona yang belum lama ini meluncurkan buku keduanya tentang parenting ini, mengaku menerapkan  aturan sederhana, agar anak bisa terawasi dalam bermain gadget.

“aya  tidak memberikan setiap anak memiliki gadget sendiri,  sistemnya meminjamkan. Saya juga bisa jadi lebih mudah untuk cek kegiatan mereka di situ, kemudian saya juga punya kuasa meminta kembali, jika ada apa-apa,” kata Mona belum lama ini.

Mona mengatakan, aktivitas anak usia di bawah 13 tahun di media sosial harus dalam pengawasan orang tua. Orang tua harus tahu siapa follower dan siapa yang difollow si anak.

Dia menceritakan, anak  temennya, memfollow kartun favorit.  “Awal-awal postingan kartun masih baik-baik saja, tetapi setelah berjalan  6 bulan, materi postingannya berbeda dan kontennya dewasa sekali,” kata  Mona.

Anak-anak pada awalnya tidak bermaksud  melihat konten seperti itu,  tetapi kalau terus membanjiri akun media sosialnya, bebrbahaya bagi perkembangan anak. ***