25 Tahun EKI – Pentingnya Gerakan Kebudayaan di Masa Sulit

JAYAKARTA NEWS – Di masa sulit pandemi yang tak tahu kapan berakhir, Gerakan Kebudayaan sangat penting. Dirjen Kebudayaan Kemdikbudristek, Hilmar Farid mengemukakan hal tersebut dalam menyambut ultah ke 25 Eksotika Kharmawibangga Indonesia (EKI) Dance Company, kelompok tari yang masih eksis sampai sekarang.

Dikatakannya, di sanggar EKI, kita tidak hanya belajar tari, musik, budaya dan pendidikan, tetapi juga belajar kehidupan. Ratusan anggota EKI dengan berbagai latar belakang budaya terus berkreasi dan berkarya meski timbul masalah sosial yang dihadapinya dengan mengolah elemen-elemen secara luar biasa.

“Ini tantangan yang berat, EKI terus berkarya. Ada pasang surut, jatuh bangun dan pandemi, tapi mereka terus menghasilkan karya-karya yang baik,” beber Hilmar Farid yang pernah menjadi pengajar EKI atas ajakan Direktur Artistik EKI, Rusdi Rukmarata.

Sedangkan Menteri Pariwisata Sandiaga Uno menegaskan karya-karya pelaku seni dan penari EKI sangat diperlukan sekarang ini, dengan mengobarkan semangat berkepribadian dalam kebudayaan dan melaksanakan prokes secara ketat. “Suasana kekeluargaan yang dibangun di EKI patut ditiru, tanpa tergantung orangnya.

Eksotika Kharmawibangga Indonesia (EKI) Dance Company.

Yang penting gerakan ini tetap jalan dan eksis dengan menyalurkan bakat dan inspirasi baru di bidang tari, musik, film dan elemen budaya lain. Mengusung tema ‘Cerita dari Manggarai’,  ‘perusahaan tari’ EKI sampai sekarang diakui sukses merekrut banyak remaja pegiat kebudayaan. Mereka berlatih tari 6  – 8 jam sehari berikut tempat tinggal, asrama, pendapatan rutin hingga pendidikan gratis.

Mereka tertarik masuk EKI karena kepemimpinan Rusdi Rukmarata yang lulusan London Company Dance School dan Eiko Senosunoto  yang pimpinan EKI. Selama kurun waktu perjalanannya, sudah puluhan karya drama musikal dipentaskan, antara lain ‘Ken Dedes’, ‘Madame Dasima’, ‘Laki Laki’, ‘Gallery of Kisses’, ‘China Moon’, ‘Miss Kadaluwarsa’, ‘Kabaret Oriental’, ‘Ada Apa dengan Sinta’, ‘Jakarta Love Riot’ dsn seabreg karya lain.

Berkaitan entitas tari yang dikuasainya, EKI dipercaya menyelenggarakan festival di Spanyol, Paris, Belanda, India, Singapura, Malaysia hingga penyambutan tamu negara di Istana Negara Indonesia. Beberapa penari, penyanyi, artis, host dan dalang pernah direkrut EKI, seperti Rudy Wowor, Syaharani, Dian HP, Djaduk Ferianto dan Kua Etnika dll.

Eksotika Kharmawibangga Indonesia (EKI) Dance Company.

Tatkala pra pandemi, EKI bekerjasama dengan Dewan Kesenian Jakarta menghelat ‘Up Date’ selama 3-4 bulan dalam bentuk variety show (tradisi, ballet, kontemporer, tap, jazz, hip hop dan berbagai aliran tari lain) dengan menggaet penyandang disabilitas.

Tatkala pandemi melanda, EKI terkena imbasnya. Beberapa event dibatalkan, pelaku seni kehilangan panggung dan berbagai pertunjukan harus digelar secara virtual. Meski tahun ini sudah memiliki logo baru, EKI bakal menggebrak setahun ke depan dengan pergelaran drama musikal ‘Ken Dedes’ (re-enacment/reka ulang sejarah), pameran dan penerbitan buku. “Semoga ini semua berhasil. Doa kita semua,” pungkas Rusdi Rukmarata dengan suara bergetar penuh semangat. (pik)

Anak-anak Difabel ‘Ngedance’ Bersama EKI Dance Company

JAYAKARTA NEWS – SENI – khususnya seni tari dan musik – berhasil memadukan keterampilan unggul dari para penari dan penyanyi Eksotika Kharmawibangga Indonesia (EKI) Dance Company dengan insan-insan Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC) Jakarta, khususnya penyandang disabilitas fisik (Cerebral Palsy).

Tari dan nyanyi telah memacu rasa percaya diri insan istimewa YPAC Jakarta. Dengan latihan intensif dan disiplin, mereka berupaya menggelar penampilan, mengekspresikan kegembiraan dan keceriaan untuk menyapa khalayak di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), belum lama ini.

Disabilitas istimewa YPAC Jakarta tidak menyuguhkan kekurangan yang harus ditutupi dan ditenggelamkan, tetapi harus digali dan guna memperoleh suatu keunggulan yang spesial.

Delapan insan istimewa YPAC Jakarta , cowok dan cewek, tampil diatas kursi roda yang didorong oleh pemandunya ke atas panggung GKJ.

Sebuah nomor istimewa bertajuk ‘Aku Bisa’ merupakan segmen 1 dari pergelaran ‘EKI Update 4.1’ digebrak dengan riang. Kemudian, tampil puluhan penari cowok dan cewek dari EKI Dance Company dengan kostum milenial, warna-warni.

Show choir ini menampilkan mash up lagu ‘Aku Bisa’ dan ‘Best Day of My Life’. Mash up kedua lagu ini menunjukkan semangat hidup dan optimisme dalam mengejar impian, meski ada keterbatasan dan berbagai rintangan.

Dengan semangat optimisme, kita akan mencapai yang terbaik dalam hidup.

Ada 3 nomor tari lain yang disajikan oleh EKI Dance Company minus YPAC Jakarta. Tiga nomor tari yang berdurasi cukup singkat ini adalah Rampak Berbhinneka (koreografer Rusdi Rukmarata), Come Alive ) koreofrafer Rusdi Rukmarata dan 9 penari EKI lain) dan terakhir Stupid Baby (aransemen Michael Da Lopez).

Nomor pamungkas dibawakan oleh EKI Sound Machine yang kali ini menampilkan mash up dua nomor lagu lawas yaitu ‘Something Stupid’ dari Frank Sinatra dan Nancy Sinatra dan ‘Berdiri Bulu Romaku’ nyanyian Hetty Koes Endang.

Barulah musikal mini yang merupakan drama utama disajikan dengan durasi agak panjang. Judulnya ‘Ada Apa Dengan Sinta’, plesetan dari film terlaris ‘Ada Apa Dengan Cinta’. Delapan lagu digebrak – ya lagu Indonesia, ya lagu berbahasa Inggris dan ditutup dengan lagu berbahasa Mandarin.

Puluhan penari dan penyanyi dari EKI Dance Company berdialog lucu dan satire yang cerdas. Tema keberagaman budaya, etnis dan kepercayaan dari puak Betawi dan China dipanggungkan yang menyatu secara artistik tanpa terasakan lagi bahwa ini adalah kebudayaan Indonesia.

Yang pasti, persembahan EKI Dance Company kali in yang berkolaborasi dengan YPAC Jakarta sungguh asyik ditonton dan diresapi. (pik)