Sempat Diledek “Bebek”, Akhirnya Helga Juara

Helga

MENGENAKAN busana adat Dayak-Kalimantan, gadis cilik itu berjalan anggun di atas catwalk mini, ruang belajar Coconut Trees Playgroup & Kindergarten, Bojongsari – Depok, Sabtu (21/4).

“Senyumnyaaa…. Senyumnyaaa….. Lihat ke depaaan…. Lihat ke depaaan….. ,” orang tua dan gurunya heboh memberi instruksi.

Helga melenggang tenang. Mendadak, langkah bocah cantik lima tahun itu nyaris mogok ketika Mickey, temannya di TK-A meledeknya, “Hiii… Helga kayak bebek, ada bulu-bulunya…..”

Ya, pagi itu, dengan balutan busana adat Dayak, Helga memang dirias kreatif, dengan tiga garis putih, di pipi kiri dan kanan, serta di dahi sebagai aksen, sesuai busana yang dikenakan. Ikat kepala adat Dayak memang ada juntaian bulu angsanya.

“Ayooo Helgaaa….,” seru penonton.

“Mickey… diam!” hardik penonton lain kepada Mickey yang masih tetap meledek Helga.

Helga

Beruntung, Helga tidak lama “mogok”, dan melanjutkan jalan anggun, lurus menyusur garis. Di ujung, ia menangkupkan kedua telapak tangan, dengan bentang siku tegak ke kiri dan kanan, lalu membungkuk. Setelah itu, ia sigap berputar, menyusur catwalk mini sambil melambai-lambaikan tangannya. Lambaian tangannya kelihatan pe-de, diiring senyum simpul yang terus ditebar sepanjang peragaan.

Finally… Helga keluar sebagai juara I, fashion show Hari Kartini, Coconut Trees Playgroup & Kindergarten 2018. Ia menyisikan peserta-peserta lain, baik dari kelas Playgroup, TK A, maupun TK B. Adapun juara kedua dan ketiga, diraih murid-murid TK-B, kakak kelas Helga. Juara 2 Kenzie, juara 3 Una.

Una, Kenzie, Helga

Peringatan Hari Kartini di Coconut Trees rutin diselenggarakan setiap tahun, dengan variasi acara yang berbeda. “Kalau yang fashion show, itu pasti ada. Sekalian kan… mumpung pada dandan busana daerah. Lucu-lucu,” ujar seorang guru.

Khusus tahun ini, pihak sekolah melibatkan para orang tua dalam acara Peringatan Hari Kartini, sebagai acara yang beda dari tahun lalu. Rombongan “emak-emak” pun ikut memeriahkan acara dengan lomba membuat dan merias tumpeng. Usai pengumuman pemenang dan pemberian hadiah, mereka pun makan siang bersama. ***

Semangkok Keju-Sosis di Tangan “Chef” Cilik

Tak kurang dari 21 murid Coconut Trees, Bojongsari di dapur Domino’s Pizza. Foto: Agus S

APA jadinya jika 21 anak-anak Playgroup dan TK berada di satu dapur? Gaduh, penuh celoteh, ada juga yang menangis. Itulah sekilas rekaman di dapur Domino’s Pizza yang ada di Jl Raya Sawangan 98, Bonjongsari, Kota Depok, Jawa Barat, baru-baru ini. Hari itu, Coconut Trees Playgroup & Kindergarten mengadakan acara “Cooking Class” untuk murid-muridnya.

Sekolah yang menempati satu bangunan ruko di Jl. Sawangan Residence Ideal, Bojongsari Baru, Bojongsari, Kota Depok, itu terbilang taat melaksanakan program-program pendidikan untuk murid-murid. Selain cooking class, secara reguler sekolah ini juga mengadakan kegiatan berenang, atau kunjungan ke tempat-tempat yang menarik bagi anak-anak. Salah satunya, berkunjung ke Pangkalan Udara Pondok Cabe, Tangerang Selatan, dan mempertontonkan aneka pesawat dan helikopter yang terparkir di hanggar.

Pagi itu, empat orang guru yang terdiri atas Miss Nunik, Miss Tika, Miss Iim, dan Miss Nita membimbing anak-anak didiknya ke Domino’s Pizza, yang berjarak beberapa ratus meter saja dari Coconut Trees. Tidak semua siswa turut, tapi tak kurang dari 21 siswa antusias mengikuti kegiatan cooking class. Mereka terdiri dari tiga murid Playgroup, 10 murid TK A, dan 9 murid TK B.

Pukul 08.15, para siswa dan guru serta sebagian orangtua yang ikut serta, sudah berkumpul di Domino’s Pizza. Seperempat jam kemudian, mereka dipersilakan naik ke lantai dua. Di sana, anak-anak dikenakan topi dan celemek ala chef. Mengingat keterbatasan ruang dapur, peserta kelas memasak hari itu dibagi menjadi tiga kelompok.

Kelompok pertama turun ke lantai dasar, tempat dapur pembuatan pizza berada. Di dapur, chef asli Domino’s sudah menyiapkan adonan pizza ukuran small. Tiap anak, diberikan satu mangkok berisi keju dan satu mangkok sosis untuk topping. Dengan bimbingan chef Domino’s, para murid mulai menaburkan keju dan sosis di atas kue pizza. Usai menuangkan topping, pizza pun dimasukkan oven. Selesai. Kelompok pertama pun diminta naik lagi ke lantai dua, dan selanjutnya bergilir kelompok dua turun. Begitu seterusnya sampai kelompok tiga berakhir.

Usai kelas memasak, anak-anak membawa pulang “hasil masakannya”. Bukan hanya itu. Para orang tua yang ikut serta, yang umumnya ibu-ibu, pun pulang tidak dengan tangan kosong. Mereka pun akhirnya pulang membawa pizza pesanan masing-masing. Bukan gratis tentunya, tapi membeli. ***

Helga, salah satu murid TK-A Coconut Trees dengan pizza “karya”-nya. Foto: Agus S