Peringatan Dini BMKG: Hujan Disertai Petir Angin Kencang Berpotensi Terjadi di Jakarta hingga Sore

JAYAKARTA NEWS— Hujan yang mengguyur Jakarta sejak kemarin hingga hari ini membuat sebagian wilayah di Jakarta terendam. Menurut prakiraan cuaca terkini dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi di wilayah Jabodetabek hingga Sabtu (16/7) malam nanti.

BMKG juga mengeluarkan informasi peringatan dini yang menyatakan bahwa hujan yang dapat disertai petir serta angin kencang berpotensi terjadi di Jakarta Barat, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur pada siang dan sore hari.

“Waspada potensi hujan disertai kilat/petir dan angin kencang di Jakbar, Jaksel dan Jaktim pada siang dan sore hari,” tulis BMKG dalam keterangan resmi.

Sementara BPBD DKI Jakarta mencatat ada 71 RT yang tergenang banjir dengan ketinggian mencapai 200 cm. Berdasarkan data Kepala Pusat Data dan Informasi BPBD DKI Jakarta Muhammad Insyaf, ketinggian air di 71 RT itu beragam. Ketinggian air mulai dari 40 cm hingga 200 cm.

Kabupaten Bogor dan Waspada Banjir Meluas

Mengitip siaran pers BNPB, Kabupaten Bogor sudah lebih dulu banjir akibat hujan deras dengan intensitas tinggi dan adanya pendangkalan Daerah Aliran Sungai (DAS) Pesanggrahan. Tercatat enam wilayah kecamatan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat mengalami banjir Jumat (15/7).

Adapun wilayah terdampak adalah meliputi Kecamatan Sukaraja, Kecamatan Citeureup, Kecamatan Bojong Gede, Kecamatan Jonggol, Kecamatan Kemang dan Kecamatan Cibinong.

Kaji cepat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor yang dilaporkan kepada Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana, ada sebanyak 3.891 jiwa dari 941 KK yang terdampak. Selain itu ada 941 unit rumah dan tiga tempat ibadah yang terdampak banjir dengan Tinggi Muka Air (TMA) 50-100 sentimeter.

Banjir juga sempat memaksa kurang lebih 209 jiwa mengungsi sementara saat tempat tinggal mereka terendam air. Namun saat ini mereka sudah kembali ke rumah masing-masing setelah banjir surut.

Sebagai upaya penanganan darurat banjir, tim BPBD Kabupaten Bogor terus bersiaga untuk kaji cepat, koordinasi dengan lintas instansi terkait dan evakuasi warga apabila ada yang harus dievakuasi.

Mengingat wilayah Kabupaten Bogor sudah mengalami banjir, maka wilayah lain seperti Jakarta khususnya di sepanjang DAS Ciliwung dan wilayah Banten, khususnya Lebak dan Tangerang diminta untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan dapat melakukan upaya mitigasi dari potensi banjir.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banten, Nana mengatakan bahwa banjir di Kabupaten Bogor secara otomatis akan berdampak langsung kepada wilayah Lebak dan Tangerang. Beliau meminta dukungan dan bantuan logistik dan khususnya peralatan, mengingat stok milik BPBD Banten kosong.

“Siap, yang jelas karena Bogor banjir, akan berdampak langsung ke Banten, yaitu Lebak dan Wilayah Tangerang,” kata Nana melalui pesan singkat.

Hingga siaran pers ini diturunkan, beberapa laporan kejadian banjir dan permintaan evakuasi dari masyarakat mulai diterima baik oleh Pusdalops BNPB maupun BPBD. Hal itu langsung diteruskan dan mendapat respon cepat oleh masing-masing OPD di wilayah, seperti Basarnas, BPBD, TNI, Polri, dinas terkait dan relawan penanggulangan bencana.

Belum ada laporan mengenai korban jiwa, namun pendataan dan kaji cepat masih dilakukan di lapangan dan perkembangan informasi darurat banjir wilayah Jabodetabek akan diberikan secara berkala.

BNPB tetap mengimbau kepada pemangku kebijakan di daerah bersama masyarakat agar melakukan segala upaya yang merujuk pada mitigasi dan peningkatan kesiapsiagaan seperti normalisasi sungai, susur sungai, pembersihan sungai dari sumbatan sampah, sosialisasi kepada masyarakat dan memantau perkembangan cuaca secara berkala.

Masyarakat yang tinggal di sekitar lereng tebing dan bantaran sungai agar lebih meningkatkan kewaspadaan. Apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi hingga lebih dari satu jam, maka diimbau agar mengungsi ke lokasi yang lebih aman.***/ebn

Jebolnya Tanggul Citarum

Senin 22 Februari pukul 08.00 Menko PMK Prof Muhadjir Effendy, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo melakukan peninjauan di lokasi jebolnya tanggul Sungai Citarum dan sejumlah titik terdampak banjir lainnya di wilayah Bekasi dan Karawang, Jawa Barat.

Hal tersebut disampaikan oleh Egy Massadiah Tenaga Ahli BNPB seusai melakukan peninjauan udara menggunakan helikopter di Halim Perdana Kusuma, Jakarta. “Kami terbang sekitar 1 jam,” kata Egy.

Sebagaimana diinformasikan sebelumnya, pada Minggu (21/2), pukul 01.00 WIB, terjadi curah hujan yang tinggi dan jebolnya tanggul sungai Citarum menyebabkan banjir di 4 desa di Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Kerawang Provinsi Jawa Barat. Simak pantauan videonya.

BNPB Dukung Penanganan Darurat Banjir Jakarta dan Sekitarnya

JAYAKARTA NEWS – BNPB memberikan dukungan dalam penanganan darurat banjir di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Tim Reaksi Cepat (TRC) BNPB berkoordinasi dengan BPBD DKI Jakarta dalam menghadapi banjir di wilayah.

TRC BNPB memberikan bantuan masker kain sebanyak 2.000 buah kepada BPBD untuk mendukung protokol kesehatan di masa pandemi. Tim juga meninjau titik-titik pengungsian dan melakukan kaji cepat terhadap dukungan yang sewaktu-waktu dibutuhkan oleh pemerintah daerah setempat.

Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) BNPB melaporkan kejadian banjir pada Sabtu (20/2), pukul 15.00 WIB, di Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Kota Jakarta Timur. Sebanyak 333 KK atau 1.109 jiwa terdampak di kawasan tersebut atau sekitar 23 RT (8 RW). Berdasarkan perkembangan pada pukul 14.00 WIB, Jumlah warga mengungsi berjumlah 1.222 jiwa, dengan rincian dewasa 918 jiwa, remaja 151, balita 89 dan lansia 64.

Warga yang mengungsi tersebar di beberapa titik, seperti fasilitas tempat ibadah, sekolah maupun tempat lapang.

Sore tadi, tinggi muka air mencapai sekitar 200 cm di Kawasan terdampak. Tim gabungan dari BPBD DKI Jakarta, Basarnas, TNI dan Polri melakukan evakuasi warga. Sedangkan kerugian material, BPBD masih melakukan pendataan di lapangan.

Terkait dengan upaya penanganan banjir, Pemerintah Daerah DKI Jakarta, khususnya di Kelurahan Cipingan Melayu, telah memberikan peringatan dini kepada warga setempat mengenai potensi cuaca ekstrem pada 18 – 19 Februari 2021. Peringatan tersebut bersumber dari BMKG.

Dalam penanganan darurat, pemerintah setempat telah mendistribusikan bantuan logistik dan penyelamatan serta evakuasi warga terdampak. BPBD DKI Jakarta mendirikan pos lapangan di Universitas Borobudur dengan kekuatan 40 personel. Selain itu, tenda pengungsian telah didirikan dan penyiagaan perahu karet sejumlah 3 unit. Dinas PUPR membantu dengan pengoperasian mobil toilet.

Menyikapi pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, warga yang mengungsi di pos pengungsian Universitas Borobudur telah menjalani tes swab antigen.

Sementara itu, berdasarkan laporan banjir pada PetaBencana.id dan BPBD DKI Jakarta hingga Sabtu malam (20/2), dalam 24 jam terakhir telah terkumpul 349 laporan dari masyarakat dan 142 RW di Jakarta telah terdampak banjir. Platform ini juga mengalami kenaikan sebesar 2.000 persen dalam kurun waktu tersebut, Hal ini dikarenakan warga yang ingin memanfaatkan informasi banjir dalam menghindari bahaya dan mengambil keputusan darurat. 

Laporan banjir PetaBencana.id dikumpulkan dengan metode crowdsourcing yang memanfaatkan informasi masyarakat melalui kanal media sosial, seperti Facebook, Telegram, dan Twitter, dan aplikasi lokal Qlue dan PasangMata.com. Selain memanfaatkan laporan dari media sosial warga yang langsung ditampilkan dalam web secara real-time, platform ini juga terhubung dengan laporan resmi yang diinput oleh instansi pemerintah, dalam hal ini BPBD DKI Jakarta. (*/rr)

Waspada, 10 – 15 Januari Bencana Babak Dua

Jayakarta News – Jangan sekali-kali berpikir, banjir besar yang mengepung Jabodetabek, 1 Januari 2020 adalah yang pertama dan terakhir di musim penghujan ini. Banjir serupa, besar kemungkinan akan terulang antara tanggal 10 – 15 Januari 2020. Jika benar terjadi, itu akan menjadi bencana babak dua tahun 2020.

Hal itu terkuak Kamis (02/01/2020) pagi, saat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Doni Monardo memimpin Rakor Penanganan Dampak Banjir Jabodetabek, di Graha BNPB, Jl. Pramuka, Jakarta Timur. Di situ hadir banyak pemangku kepentingan, antara lain Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D.

Dalam kesempatan itu, Kepala BMKG menyampaikan prediksi cuaca terkini dan potensi bencana dalam dua pekan ke depan yang patut diwaspadai. Mantan rektor UGM Yogyakarta itu menyebut aliran udara basah dari Timur Afrika yang diperkirakan menuju wilayah Indonesia.

Kedatangan udara basah dari Timur Afrika itu dapat mengakibatkan potensi hujan ekstrem. Kapan terjadinya? Dwikorita menyebut kisaran tanggal 10 – 15 Januari 2020. Bahkan tidak hanya berhenti di tanggal 15 Januari, potensi hujan ekstrem itu masih akan terus terjadi hingga pertengahan Februari 2020.

Sejumlah wilayah yang diprediksi akan terdampak hujan deras menurut pradiksi BMKG meliputi Sumatera bagian tengah, Jawa, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi bagian selatan hingga tenggara. “Masyarakat harus waspada,” ujar wanita Yogyakarta kelahiran tahun 1964 itu.

Atas adanya potensi bencana banjir ekstrim susulan, BPPT yang telah menyapkan antisipasi dengan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). BPPT akan menggunakan TMC untuk percepatan penurunan hujan. Rencananya BPPT akan menurunkan hujan ke Selat Sunda atau Lampung, namun jika arah angin ke timur akan di turunkan ke waduk-waduk seperti Jatiluhur dan Jatigede.

Untuk membantu proses TMC tersebut, BPPT bersama BNPB dan TNI akan mengerahkan 2 jenis pesawat yakni CN295 dan Casa. “

“Inilah manifestasi dari ‘bencana urusan bersama’. Rakor ini sekaligus contoh kesadaran kolektif, serta  koordinasi antarlembaga agar penanganan banjir di Jabodetabek lebih terintegrasi,“ jelas  Doni Monardo, seraya menambahkan, “melalui langkah antisipasi tersebut, semoga curah hujan bisa digeser. Tapi bukan berarti kita lepas kewaspadaan.”

Lebih lanjut, Rakor yang dipimpin Doni Monardo itu juga terlihat sinergitas antarintansi dalam menanggulangi musibah banjir yang melanda Jabodetabek.

Para pihak yang hadir, menyampaikan komitmennya. Dari Kementerian BUMN misalnya, akan membentuk tim bantuan dukungan banjir Jabodetabek untuk masing-masing sektor, yaitu Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Bogor dan Bekasi dengan masing-masing menempatkan empat orang perwakilan di masing-maising wilayah.

Bantuan dari BUMN dalam bentuk CSR, berupa logistik, makanan, obat-obatan, peralatan evakuasi seperti perahu karet, dan lain-lain. Sedangkan dari pihak Jasa Marga, akan menggratiskan tol dalam kota, dimulai hari ini.

Kementerian Kesehatan sejauh ini sudah menerjunkan tim Satgas kesehatan, berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta maupun Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Bekasi dan Bogor. Menurut informasi, masih banyak lokasi yang belum terlayani kesehantanya. Satu hal yang perlu diwaspadi penyakit ikutan pasca banjir, seperti penyakit kulit, gatal-gatal, diare ISPA, Leptospirosis, dll.

Dari pihak TNI menyediakan bantuan personel di DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten dengan rincian 3.680 personil, TNI AD, AL, AU yang bertugas pengamanan logistik tim kesehatan dapur umum, 50 perahu karet, 10 kapal, 5 heli TNI AU dan AD untuk evakuasi medis, pengamatan udara, distribusi logistik, 32 truk. Kemudian 84 Koramil untuk logistik dan pengungsi. Untuk Jawa Barat akan diterjunkan 2.500 personel, 25 truk dan Banten 1.000 personel juga 15 truk. Selanjutnya TNI juga akan mengerahkan masing-masing 1 unit pesawat CN295 dan Cassa untuk TMC.

Polda Metro Jaya juga telah mengerahkann satuan dengan kemampuan SAR yaitu Brimob Sabhara dan Polair untuk membantu mengevakuasi korban banjir sejak kemarin di 263 titik termasuk di 9 titik ruas tol jabodetabek.

Selanjutnya dari Palang Merah Indonesia menerjunkan 395 personel untuk Jabodetabek dan akan ditambah jika diperlukan, dengan rincian untuk personil Evakuasi, ambulan, dapur umum dan psikososial. Peralatan 11 perahu karet, 14 ambulance, 8 kendaraan operasional, truk 2, dapur umum 5 titik di dki dan 1 titik di banten.

Dari LSM/NGO dan relawan sudah bergerak di lapangan sejak awal kejadian banjir, seperti PMI, LPBI NU, MDMC, BAZNAS, ORARI, RAPI, dll, mereka bergerak sesuai dengan kapasiatas yang dimilikinya, baik itu evakuasi, kesehatan, psikososial, radio komunikasi, dll.

Menanggapi seluruh paparan perwakilan Kementerian/Lembaga dan relawan yang hadir, Kepala BNPB Doni Monardo berharap, di setiap posko harus saling bersinergi, berkumpul di satu posko dan tidak menyebar, untuk memudahkan koordinasi. Di samping itu, masing-masing walikota diharapkan untuk menjadi Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) di wilayahnya masing-masing, khususnya untuk wilayah Provinsi DKI Jakarta.

Lebih lanjut Kepala BNPB menegaskan, bahwa pemerintah harus fokus mengurus para pengungsi. Setelah itu, memperhatikan para korban. Di samping, mengatasi masalah dan kesulitan lalin seperti tidak adanya aliran listrik, air bersih, dan lain-lain. (*/rr)