INAPGOC Beri Penghargaan pada Para Sponsor Asian Para Games 2018

Foto INAPGOC

Asian Para Games 2018 telah berlangsung dengan sukses di Jakarta. Keberhasilan Indonesia sebagai tuan rumah disampaikan oleh Presiden Komite Paralimpik Asia Majid Rashed saat penutupan Asian Para Games 13 Oktober lalu. Kunci sukses pelaksanaan adalah kolaborasi berbagai pihak, diantaranya para sponsor.

Sebagai ungkapan apresiasi kepada perusahaan-perusahaan BUMN dan swasta yang telah berperan aktif, INAPGOC mengadakan Malam Penghargaan Sponsor Indonesia 2018 Asian Para Games hari Selasa (30/10) malam di Fairmont Hotel. Ketua Umum INAPGOC Raja Sapta Oktohari menyampaikan bahwa dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak menjadi faktor penentu suksesnya ajang olahraga disabilitas terbesar Asia yang ke-3 ini.

“Kesuksesan Asian Para Games 100% karena kerja kita semua. Termasuk di dalamnya support dan kerja sama dari para sponsor. Kita bisa membuktikan bahwa Indonesia berhasil menjadi tuan rumah terbaik sepanjang sejarah,” ungkap pria yang biasa disapa Okto ini.

Foto INAPGOC

Pada acara penganugerahan tersebut, Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga Gatot S. Dewa Broto mengungkapkan bahwa INAPGOC telah melaksanakan ajang olahraga multicabang dengan luar biasa meski persiapan yang dilakukan hanya 11 bulan.

“INAPGOC di bawah kepemimpinan Pak Okto betul-betul bekerja dengan efektif. Kurang dari 1 tahun. Dukungan dari sponsor membuat keberhasilan menjadi nyata,” jelas Gatot.

Terdapat 52 perusahaan yang berkomitmen memberikan dukungan dalam penyelenggaraan Asian Para Games dengan nilai lebih dari Rp 200 milyar. Sponsor dikategorikan ke dalam official prestige, official partner, official sponsor dan supporting sponsor.

Dalam kesempatan ini, seluruh perusahaan menerima plakat penghargaan. Penghargaan khusus diberikan kepada Bank BRI berupa obor Asian Para Games sebagai penghargaan atas komitmen memberikan dukungan penuh pawai obor yang dilakukan di delapan kota.***/ebn

Tinggalkan Indonesia, Atlet Disabilitas Torehkan Tulisan Inspiratif di Wall of Fame

Inspiring Wall–foto INAPGOC

Perhelatan Asian Para Games telah berakhir. Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan Asian Para Games ke-3 mendapat pujian dari Asian Paralympic Committee (APC) karena sukses menyelenggarakan ajang olahraga disabilitas se-Asia tersebut. Apresiasi tak hanya berasal dari Komite Paralimpik Asia, tetapi juga dari para atlet disabilitas yang telah berkompetisi tanggal 6-13 Oktober lalu.

Sejak hari Minggu (14/10) hingga Senin kemarin (15/10) sudah lebih dari 3.000 kontingen kembali ke negaranya. Para atlet dan ofisial meninggalkan Indonesia melalui Terminal 2 dan 3 Bandara Soekarno-Hatta.

foto-foto INAPGOC

Kesan yang baik dan memori yang indah tampaknya sangat membekas di dalam hati kontingen dari 43 negara peserta. Hal ini terlihat dari pesan yang mereka tuliskan di wall of fame yang berada di Bandara Soekarno-Hatta.

Berbagai ucapan terima kasih untuk Indonesia tertulis dalam kanvas yang berjumlah tiga buah tersebut. Ada tulisan “Big Thanks for Indonesia” dari Tim Uni Emirat Arab. Sementara itu atlet Iran Olad Mahdi menuliskan kata- kata “See you, Bravo Indonesia”. Terdapat pula tulisan “Dengan Keterbatasan Atlet Indonesia Tetap Semangat”. Bahkan ada tulisan “Asian Para Games Cool” dan “U Rock Guys”.

Direktur Arrival, Depature, Logistic INAPGOC menyampaikan bahwa beberapa kontingen negara peserta yang masih berada di Jakarta.

“Hari ini masih ada kontingen yang akan meninggalkan Indonesia, tapi puncaknya yang sudah terjadi hari Minggu dan Senin kemarin,” ungkap Andrianto.

Arus kepulangan para atlet dan ofisial terus menjadi perhatian INAPGOC dan Komunitas Bandara Soekarno-Hatta hingga semuanya dengan selamat meninggalkan Indonesia.

“Secara bertahap terus akan terjadi kepulangan ke negara masing-masing sampai 18 Oktober nanti,” jelas Andrianto.

Wall of fame sengaja disiapkan untuk merekam kesan seluruh kontingen. Ucapan terima kasih juga tampak dituliskan bagi pelayanan di Bandara Soekarno-Hatta. Tiga kanvas yang disiapkan sudah dipenuhi tanda tangan para atlet dan ofisial hingga tidak menyisakan kanvas kosong sama sekali.

Terima kasih kepada semua atlet disabilitas yang telah berjuang meraih prestasi dan menghadirkan inspirasi bagi Asia. Sampai bertemu di Asian Para Games Hangzhou, China tahun 2022.***ebn/INAPGOC

Tangis Haru hingga Flash Mob Warnai Pelepasan Kontingen Asian Para Games 2018

Ketua INAPGOC Raja Sapta Oktohari datang ke Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta untuk melepas langsung kepulangan para atlet disabilitas beserta ofisial kembali ke negaranya masing-masing–foto INAPGOC

Asian Para Games 2018 telah resmi ditutup. Nuansa persahabatan tampak sangat jelas saat para kontingen atlet disabilitas akan kembali pulang ke negaranya masing- masing.

Sejak pagi hingga malam ini sekitar 2.000 atlet dan ofisial meninggalkan Jakarta. Beberapa negara di antaranya adalah China Taipei, Macau, Vietnam, Malaysia, dan Iran. Kontingen tersebut pulang melalui Bandara Soekarno-Hatta.

Ketua INAPGOC Raja Sapta Oktohari datang ke Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta untuk melepas langsung kepulangan para atlet disabilitas beserta ofisial kembali ke negaranya masing-masing.

foto INAPGOC

Suasana akrab dan haru tampak saat Ketua INAPGOC bertemu para atlet yang akan pulang ke negaranya. Apalagi para volunteer dengan para atlet dan ofisial yang mereka dampingi selama berada di Indonesia. Ada volunteer yang mencium tangan atlet layaknya kepada kakak atau orang tua. Ada pula volunteer dan atlet yang menangis berpelukan dalam momen perpisahan ini.

“Suasana kekeluargaan sangat terasa, terutama antara para volunteer dengan atlet dan ofisial yang didampingi. Perpisahan yang betul-betul mengharukan. Dalam waktu sekitar 10 hari sejak kontingen datang, ternyata semua melebur jadi saudara,” ucap pria yang biasa disapa Okto ini.

Tim yang tergabung dalam Komunitas Bandara Soekarno-Hatta juga selalu sigap mendampingi para atlet disabilitas. Dalam kesempatan tersebut, Okto menyampaikan apresiasinya bagi Komunitas Bandara Soekarno-Hatta.

“Tentu tidak lepas dari layanan teman-teman di bandara yang jadi wajah pertama saat para kontingen datang ke Jakarta. Sekarang mereka pulang ke negara masing-masing. Semoga semuanya berkesan positif dan mereka ingin kembali ke Indonesia lagi,” ujarnya.

Okto juga menambahkan jika penyelenggaraan Asian Para Games kemarin adalah yang terbaik dari yang pernah ada. “Presiden APC (Asian Paralympic Committee) semalam bilang bahwa Asian Para Games di Indonesia adalah yang terbaik,” ungkapnya.

Melepas para atlet disabilitas tentu saja tak selalu dalam suasana sedih. Karena Okto bersama para anggota Komunitas Bandara Soekarno-Hatta melepas atlet disabilitas dengan melakukan flash mob. Diiringi Song of Victory sebagai lagu resmi Asian Para Games 2018, para atlet dan ofisial juga mengikuti gerakan tersebut dengan penuh keceriaan.

Keberanian, kesetaraan, dan determinasi para atlet betul-betul hadir sebagai inspirasi Asia yang luar biasa. Selamat jalan dan sampai jumpa di Asian Para Games 2022 di Hangzhou, China!***INAPGOC

Alokasi Dana Bonus Membengkak, Jokowi: Negara Nggak Rugi!!!

Presiden Joko Widodo bertemu dengan Kontingen Asian Para Games Indonesia di Istana Bogor–Sabtu (13/10)–foto instagrama imamnahrawi

Presiden Joko Widodo gembira  atas raihan prestasi atlet-atlet Indonesia di Asian Para Games 2018. Sebagaimana harapan Presiden sebelumnya bahwa jika target meleset, maka ‘meleset’ harus ke atas. Harapan itu terwujud akhirnya. Kontingen Asian Para Games Indonesia ditargetkan meraih 16 emas dan berada di posisi 8 besar. “Nyatanya semua meleset. Meleset ke atas,” kata Jokowi sambil tersenyum lebar saat bertemu dengan Kontingen Indonesia di Istana Bogor, pagi tadi.

Selain acara ramah tamah, acara pertemuan itu juga diisi dengan penyerahan bonus secara simbolik kepada atlet-atlet peraih medali.

Berikut ini kutipan pernyataan Presiden Joko Widodo:

“Pelatih official atlet yang hadir di istana bogor selamat pagi.  Sejak awal saya melihat dedikasi kerja keras dalam berlatih. Saya liat badminton. Tenis meja. Lawn ball,  menembak. Saya liat sebuah dedikasi dan kerja keras dalam menyiapkan diri dalam menghadai asian paragames 2018,

Sebuah kerja keras yang luar biasa,  target 16 emas masuk 8 besar harus,  tapi nyatanya meleset semuanya,  meleset keatas.

Waktu saya melihat,  saat itu kita baru dapat 9 emas,  tapi saya bisik ini sebenernya bisa 18, paling tidak target sudah terlampaui.

Hari berikut diberitahu sudah 24. Berikutnya diberitahu 34. Tadi saya diberitahu. Pak pasti nih 35.

Kalau masuk 35, kita bisa masuk ranking 5.

APBN  yang luar biasa, lebih banyak tapi kita syukuri bersama atas nama negara bangsa indonesia.

Saya serahkan langsung bonus,  saya sampaikan berkali kali bonusnya sama dengan Asian Games.

Yang jelas emas dapat Rp1.5 miliar.

Terserah mau dipake apa.

Itu sesuai dengan prestasi bapak ibu.

Negara kita ga rugi karena kalian telah mengangkat nama indonesia ke kancah Asia. jaga nama baik negara ini dalam kancah internasional”.***INAPGOC

 

Dapat Bonus Rp2,25 Miliar, Ini Rencana Fadli…

M Fadli, atlet balap sepeda Asian Para Games 2018–foto jawa pos

Perasaan senang dan bangga menyelimuti Muhammad Fadli  Immamudin saat berhasil meraih medali emas nomor 4.000 M Individual Persuit (IP) Putra C-4 dengan mencatat waktu 05 menit, 03 detik dalam lomba yang digelar di Velodrome Rawamangun Jakarta, Jumat (12/10/2018).

Dia sukses mengubur impian saingan terberat yang merupakan juara bertahan, Mohd Najib dari Malaysia yang harus puas dengan medali perak dengan catatan waktu 5 menit, 0,6 detik. Medali perunggu direbut Gurlal Singh (India) dengan waktu 6 menit.

“Alhamdulillah, saya bisa menyumbangkan medali emas bagi Kontingen Indonesia pada penampilan perdana di Asian Para Games 2018. Prestasi yang saya capai ini berkat dorongan dan doa dari keluarga, orang tua serta masyarakat Indonesia,” kata M Fadli usai lomba.

M Fadli, istri dan anaknya seusai meraih medali emas balap sepeda ASian Para Games 2018–foto azhari

Sebagai bentuk rasa syukur, Fadli berniat mempergunakan bonus yang diterimanya untuk ditabung, biaya umroh keluarga dan menyumbang korban gempa bumi dan tsunami Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.

“Ya, saya memang berniat memberangkatkan keluarga dan orang tua umroh dari bonus yang diberikan pemerintah. Dan, saya juga akan menyumbang untuk korban gempa dan tsunami Palu dan Donggala,” kata pembalap yang salah satu kakinya diamputasi akibat ditabrak rider Thailand di Sentul International Circuit, 3 tahun lalu itu.

Di Asian Para Games III/2018, ayah sati anak ini meraih 1 medali emas, 1 perak dan 1 perunggu. Total bonus yang diterimanya mencapai Rp2,250 miliar.

Rinciannya, Rp 1,5 miliar untuk peraih medali emas dan Rp 500 juta untuk medali perak dan Rp250 juta medali perunggu.***azhari

Indonesia ‘Banjir’ Medali, Pemerintah Tambah Anggaran Bonus Atlet

foto ilustrasi- istimewa

Di luar dugaan, medali Indonesia terus bertambah. Padahal target Kontingen Indonesia pada Asian Para Games 2018 ini hanyalah 16 medali emas. Sementara sampai hari ini, Kamis sore medali emas yang dikoleksi sudah mencapai 24 emas. Belum lagi medali perak dan perunggu. Sehingga total medali Indonesia adalah 96 medali. Rinciannya, 24 emas 33 perak dan 39 perunggu.

Di sisi lain, pemerintah tadinya memperkirakan kalaupun ‘meleset ke atas’ emas yang bakal didapat sekitar 20 keping. Berdasarkan perkiraan tersebut pemerintah pun menyiapkan dana sekitar Rp204 miliar untuk bonus para atlet.

Ternyata semuanya di luar perkiraan. Medali emas maupun medali-medali lainnya terus mengalir ke kubu tuan rumah. Dengan hasil gemilang ini, mau tidak mau pemerintah sesuai komitmennya untuk memberi bonus yang sama seperti atlet Asian Games, maka harus merogoh kocek lebih dalam lagi untuk menambah uang bonus.

Hal ini juga diakuo oleh Menteri Pemuda dan Olah Raga, Imam Nahrawi yang menjelaskan, awalnya disiapkan dana Rp204 miliar dengan maksimal 20 medali emas. Namun karena Kontingen Indonesia terus menambah medali maka pemerintah akan mendambah dana bonus atlet. Rencananya bonus atlet tersebut diberikan Sabtu 13 Oktober 2018, sebelum upacara penutupan Asian Para Games.

Bonus akan kami berikan Sabtu, sebelum penutupan, sebelum keringatnya kering,” kata Imam saat ditemui di Jakarta Internasional Velodrome, Jakarta, Kamis (11/10/2018).
Untuk menyiasati dana tambahan, pihaknya rencananya akan mengambil dari dana yang tidak terserap di Kemenpora untuk dialokasikan pada bonus. Ini memang sudah menjadi komitmen pemerintah untuk menghargai jerih payah atlet yang telah berjuang mengharumkan nama Indonesia.

Seperti halnya Asian Games lalu dimana atlet-atlet yang tidak mendapat medali pun mendapat bonus, maka pada Asian Para Games  pun demikian. Atlet-atlet yang tak meraih medali, juga akan mendapat bonus sekitar Rp20 juta.

Sebegaiamana diketahui, bonus yang rencanakan akan diberikan adalah Rp1,5 miliar untuk peraih medali emas nomor perorangan, Rp500 juta untuk medali perak dan Rp250 juta untuk medali perunggu.

Untuk bonus medali emas ganda sekitar Rp 1 miliar per orang (satu pasangan mendapat Rp 2 miliar), dan beregu Rp 750 juta per orang. Medali perak ganda Rp 400 juta dan beregu Rp 300 juta per orang. Medali perunggu ganda Rp 200 juta dan beregu Rp 150 juta per atlet. ***/ebn

Tiket Penutupan Asian Para Games Sudah Dijual, Buruan Beli Jangan Sampai Kehabisan!

INAPGOC

Tak terasa event Asian Para Games 2018 segera berakhir. Persisnya Sabtu 13 Oktober 2018. Berbeda dengan upacara pembukaan yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, maka pada penutupan pesta olah raga akbar disabilitas se-Asia ini akan digelat di Stadion Madya Gelora Bung Karno. Nah bagi masyarakat yang ingin menonton, mungkin sejak sekarang sudah bisa siap-siap beli tiketnya.

Sejak Kamis siang (11/10) tiket telah dijual di situs asianparagames2018.loket.com. Tiket dijual dengan harga yang cukup terjangkau. Untuk festive class (non-seating) dijual seharga Rp 400.000. Tersedia pula festive wheelchair seharga Rp 200.000. Sedangkan untuk class 1 east dijual seharga Rp 500.000. Kemudian untuk class 2 east dan class 2 west bisa dibeli dengan harga Rp 250.000.

Setelah opening ceremony yang berhasil memukau dengan pertunjukan yg penuh makna, tentu upacara penutupan ini tak kalah seru untuk disaksikan. Tema yang diangkat adalah Moment of Wonder. Sebuah perayaan keajaiban disiapkan oleh panitia pelaksana INAPGOC sebagai bentuk selebrasi bagi para atlet disabilitas negara-negara Asia yang telah berkompetisi sekaligus melebur menjadi saudara di saat bersamaan. Juga apresiasi kepada para relawan dan seluruh masyarakat yang telah memberikan energi positif bagi para atlet dan ofisial.

Pertunjukan tak hanya dimeriahkan oleh bintang Indonesia, melainkan juga artis internasional. Beberapa nama besar siap menghibur diantaranya Rio Febrian, NTRL, Judika, Cokelat, Sheryl Sheindafia, Claudya Fritsca, Naura, dan Zizi Raziq. Tak ketinggalan girlband asal Korea Selatan, AOA akan turut meramaikan acara ini. Jadi tunggu apalagi, ayo segera dapatkan tiket Closing Ceremony Asian Para Games 2018.***/ebn/INAPGOC

 

Kisah Inspiratif: Korban Perang Irak-Iran yang Bangkit dari Keterpurukan

Ammar Hadi Ali, atlet wheelchair fencing asal Irak–foto INAPGOC

Semula atlet Wheelchair Fencing asal Irak, Ammar Hadi Ali tak membayangkan jika ia akhirnya menjadi seorang atlet Para Games. Namun, jalan hidupnya itu kemudian berubah setelah peristiwa yang menimpanya ketika Perang Iran-Irak masih berkecamuk di negerinya.

Ya, Ali-sapaan akrabnya- adalah salah satu korban dari keganasan perang dua negara tetangga itu. Ia menjadi korban serpihan bom yang kemudian melumpuhkan pinggang dan kakinya. Sehingga ia tak sanggup berjalan menggunakan dua kakinya lagi.

“Kejadiannya di 2007, ketika saya sedang bekerja di memasang atap rumah. Tiba-tiba, bom meledak tak jauh dari tempat saya berdiri. Akhirnya, saya harus mengalami hal ini,” ungkap atlet yang kini berusia 33 tahun itu.

Setelah mengalami persitiwa itu, ia mengaku sempat frustrasi karena menganggap masa depannya suram. Namun, beruntung beberapa teman dan keluarganya terus memotivasinya agar tidak cepat putus asa.

“Apalagi ketika itu saya sedang rajin-rajin mengumpulkan uang untuk menikah. Tapi, setelah kejadian itu saya tidak bisa bekerja lagi,” ceritanya.

Namun, rupanya Tuhan berkehendak lain, Ali mengambil hikmah dari kejadian yang dialaminya itu, setelah ada perwakilan dari National Paralympic Comitte (NPC) Irak menawarkannya untuk menjadi atlet Wheelchair Fencing (Anggar Kursi Roda).

“Tepatnya di 2009 saya mulai dikenalkan dengan olahraga ini. Padahal semula saya tak pernah kenal dengan olah raga ini,” kata peraih emas nomor EP kategori B di Asian Para Games Guangzhou, China 2010 itu.

Sejak saat itu, semangat hidup Ali mulai bangkit dan ia terus menekuni olahraga ini yang akhirnya merubah jalan hidupnya. “Berkat olahraga ini juga saya bisa berkeliling ke negara lainnya untuk mengikuti kejuaraan ini,” kata Ayah dari dua orang putra itu.

Di ajang Asian Para Games 2018 Indonesia, Ali merupakan salah satu atlet tangguh yang patut diwaspadai oleh lawan-lawannya, terutama para atlet China. “ Atlet China merupakan saingan terberat saya. Mereka sukar untuk dikalahkan,” ungkap atlet yang juga pernah meraih perak di Asian Para Games 204 Incheon, Korea, di nomor Floret itu.

Kini, selain fokus menjadi berlatih, Ali juga seorang wiraswastawan dengan memiliki workshop pintu dan jendela  sendiri di rumahnya. “Alhamdullilah, Allah memang berkehendak lain, ternyata masa depan saya tidak sesuram yang pernah saya bayangkan sebelumnya setelah peristiwa yang saya alami,” ujar Ali yang kini telah mengantongi medali perak di nomor EP dan perunggu di nomor Foil pada Asian Para Games 2018 Indonesia ini. ***ebn/INAPGOC

Surprise! Tim Lawn Bowls Indonesia Raup 4 Emas 3 Perak 4 Perunggu

I Wayan Damai kebagian medali perunggu tunggal putra B6 lawn bowls–foto INAPGOC

Cabang lawn bowls Indonesia membuat kejutan pada Asian Para Games (APG) 2018. Meski tak diperhitungkan, nyatanya mampu mengemas empat medali emas, tiga perak dan empat perunggu. Medali itu masih bisa bertambah lantaran kelas mixed pairs masih dipertandingkan pada Kamis-Jumat (11-12 Oktober).

Pelatih lawn bowls Indonesia, Nur Islahuzzaman mengatakan, awalnya anak-anak asuhnya tak ditarget apa-apa di pesta olahraga penyandang disabilitas terbesar di Asia ini. Sebab, olahraga lawn bowls Indonesia masih tergolong baru.

“Kita ibarat bayi baru lahir. Sedangkan lawan sudah sangat matang. Tapi kita bisa membuat kejutan, bahkan lawan kuat kita, Korea, Jepang dan Malaysia mengakui kualitas atlet Indonesia,” ujar Islahuzzaman.

Empat medali emas Indonesia dipersembahkan Dwi Widiantoro (Kelas Open B1), Suwondo (Open B4), Mella Windasari (Tunggal Putri B6) dan Julia Verawati (Open B2). Sedangkan tiga medali perak disumbangkan Dian Kristiyaningsih (Open B3), Retnowati Yugia (Tunggal Putri B6) dan Ni’matul Fauziah (Open B1). Adapun empat keping perunggu disabet Sriyanti (Tunggal Putri B7), I Wayan Damai (Tunggal Putra B6), Asep Darmawan (Tunggal Putra B7) dan Sudarno (Tunggal Putra B8).***/ebn/INAPGOC

Menpora Imam Nahrawi: Bonus Peraih Medali Asian Para Games Segera Cair!

Menpora Imam Nahrawi bersama atlet Wheelchair Fencing Indonesia di venues cabang olahraga Wheelchair Fencing Asian Para Games 2018 di Gedung POPKI Cibubur, Jakarta Timur, Rabu(10/10)—foto INAPGOC

Suasana penuh keakraban tergambar ketika Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi menyambangi venues cabang olahraga Wheelchair Fencing Asian Para Games 2018 di Gedung POPKI Cibubur, Jakarta Timur, Rabu(10/10).

Mengenakan kemeja batik yang didominasi warna hijau, Menpora tak hanya menjalin keakraban dengan para atlet Wheelchair Fencing Indonesia. Bahkan ia pun berbaur di bangku penonton untuk ikut menyemangati atlet Indonesia yang berlaga.

Setibanya di Gedung POPKI, Imam Nahrawi tak langsung duduk di bangku VVIP yang telah disediakan. Dia justru beranjak mendatangi satu persatu para atlet Wheelchair Fencing Indonesia yang akan bertanding. Bahkan, membantu memasang sabuk atlet Indonesia Agus Suprayitno yang akan berlaga di nomor Individual Male Degen Senior B.

Selain itu, ia juga mendatangi tim beregu putri Sabre Indonesia yang sehari sebelumnya meraih medali perunggu.

Menurutnya, kehadirannya di cabang olahraga Wheelchair Fencing untuk memastikan semua fasilitas dan kisi-kisi detil penyelenggaraan ini harus benar-benar siap.

Menpora Imam Nahrawi duduk bersama para penonton pertandingan wheelchair fencing di Gedung POPKI Cibubur, Jakarta Timur, Rabu(10/10)–foto INAPGOC

“Saya bersyukur setelah berbincang dengan salah satu Techinal Delegate dari IWAS Mr. Udo Ziegler, bahwa venues anggar sangat memenuhi syarat dari semua aspek. Mulai dari venuesnya, penyelenggaraan, dan volunter cukup bagus. Dan bahkan mereka sangat senang sekali bahwa suporter atau penonton sangat antusias meski cabang ini baru pertama kalinya di pertandingkan di Indonesia,” tutur Imam Nahrawi.

Ia mengatakan, kehadirannya dalam rangka memotivasi para atlet Indonesia yang sedang berjuang karena mereka tentu punya tekad. “Tekad ini harus kita tambah dengan energi. Siapa tahu kehadiran saya di sini bisa menyemangati mereka,” kata pria asal Madura itu.

Meski cabang olahraga Wheelchair Fencing masih sangat baru di Indonesia, Imam Nahrawi berharap agar kesempatan bertemu dengan para atlet dari negara lainnya yang memiliki prestasi sebagai juara Asia dan Dunia dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi para atlet Indonesia untuk menyiapkan tim yang lebih tangguh di masa depan.

“Kesempatan ini harus dijadikan modal bagi mereka untuk menyiapkan tim yang lebih panjang waktunya dan lebih bagus lagi dari segi teknik, fisik dan mental untuk menyiapkan tim menghadapi kejuaraan multievent lagi kedepannya,” tandas Imam Nahrawi.

Kepada para atlet Imam Nahrawi juga berjanji untuk segera mengucurkan bonus bagi para peraih medali sama seperti penghargaan yang diberikan kepada para atlet yang berprestasi di ajang Asian Games 2018 lalu.

“Perlakuan yang sama akan kami berikan kepada para atlet yang berprestasi di ajang Asian Para Games. Kami akan mengucurkan bonus sebelum keringat mereka kering,” janjinya.***INAPGOC