Jayakarta News – Puluhan tahun lalu, masih terkenang saat berbaris di depan kelas. Mengantre untuk disuntik. Penulis mengalami hal itu. Bersama teman satu kelas lain, antri disuntik BCG di sekolah SD Strada Van Lith I pagi, Gunung Sahari Raya, Jakarta Pusat.
Pemberian imunisasi ini, terus berlanjut,
dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi. Semasa itu, entah ada isu
atau tidak ada isu, tapi yang penulis ingat, orang tua biasa saja ketika
anak-anaknya diberi suntikan di sekolah. Seolah wajar dan bahkan sangat baik
bagi anak-anak mereka saat pulang dan menunjukkan bekas suntikan di lengan kiri
atas.
Itulah imunisasi. Suntikan vaksin ke dalam
tubuh agar anak mendapatkan kekebelan dan terhindar dari penyakit menular. Sampai
saat ini, imunisasi tetap menjadi hal penting yang dilakukan pemerintah untuk anak
di Indonesia. Sekarang, bahkan sejak bayi baru lahir, mereka sudah diberikan
vaksin yang dinamanakan imunisasi dasar.
Membahas imunisasi dasar di Indonesia, melalui
Humas Ditjen P2P Kemenkes RI, Jayakarta News mendapatkan keterangan
dari subdit imunisasi, bahwa capaian Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) untuk anak
usia 0-11 bulan, pada tahun 2018 adalah 92 persen dari target 92,5 persen.
Sedangkan untuk tahun 2019, saat ini datanya belum lengkap namun capaian
sementara untuk tahun 2019 per 20 Feb 2020 adalah 91,1 persen dari target 93 persen.
Dijelaskan
juga bahwa imunisasi merupakan salah satu upaya preventif dalam memberikan
perlindungan kepada anak sejak dini, sejak dilahirkan ke dunia ini, dari
penyakit menular. Untuk itulah, Kementerian Kesehatan terus berupaya
meningkatkan akses, pemerataan dan kualitas pelayanan imunisasi hingga ke
daerah yang sulit.
Untuk hal
ini Kementerian Kesehatan menjamin ketersediaan vaksin dan logistik imunisasi dengan
dukungan peralatan rantai vaksin serta petugas kesehatan yang berkualitas. Hal
ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia terutama
generasi penerus bangsa yang menjadi salah satu prioritas dan bagian penting
dalam Pembangunan Nasional. Dengan tujuan ini, ditetapkan pencapaian target
untuk tahun 2020 adalah 92,9 persen.
Untuk
mecapai itu semua, pemerintah dalam hal ini Kemenkes terus melakukan
edukasi kepada masyarakat, melalui kerjasama dengan berbagai organisasi masyarakat,
organisasi keagamaan, media massa serta iklan layanan masyarakat. Kemenkes juga
akan
terus menggalakkan Gerakan Masyarakat
Hidup Sehat atau GERMAS, melalui Puskesmas.
Pendekatan yang dilakukan Puskesmas sebagai pelayanan kesehatan antara lain mendatangi
keluarga-keluarga di wilayah kerjanya. Imunisasi dasar lengkap merupakan salah
satu
indikator
untuk mencapai tujuan keluarga sehat.
Para ibu membawa anaknya diimunisasi di Posyandu Desa Nagrak, Bogor. (foto: dokumentasi)
Anak
Harus Sehat
Tercatat pada tahun 2018 masih ada kurang
lebih 10% anak usia 0-11 bulan yang imunisasi dasarnya belum lengkap atau belum
mendapatkan imunisasi sama sekali. Mengenai hal ini, dijelaskan, banyak penelitian
imunologi dan epidemiologi di berbagai negara membuktikan bahwa bayi balita
yang tidak diimunisasi lengkap tidak mempunyai kekebalan spesifik terhadap
penyakit-penyakit berbahaya. Dan jika bayi- bayi dan anak-anak ini berkumpul
maka dapat menyebarkan penyakit pada lingkungan sekitarnya.
Mereka mudah tertular penyakit tersebut dan
akan menderita sakit berat. Mereka juga dapat menjadi sumber penularan penyakit
untuk anak-anak lain, sehingga penyakit menyebar luas, dan dapat terjadi KLB yang
menyebabkan banyak kematian dan cacat.
Pada periode Jan-Febr 2020, didapati jumlah suspek
Difteri sebanyak 61 kasus, dan setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium
terdapat 12 kasus konfirm/positif difteri dengan 1 orang kematian. Kasus
positif terbanyak dilaporkan dari Kalimantan Timur sebanyak 3 kasus dan Aceh
ada 2 kasus.
Namun, jumlah ini sudah menurun dibandingkan tahun 2019 dan 2018. Cakupan imunisasi yang rendah pada beberapa daerah kantong, tentunya dapat
menimbulkan atau berpotensi meningkatnya
penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti Difteri,
Campak, Polio, dan lainnya.
Sebagaimana pernah terjadi tahun 2017 Kejadian Luar Biasa (KLB)
Difteri dan Campak pada beberapa daerah kantong tersebut serta pada akhir tahun
2018 dilaporkan adanya kasus Polio type 1 di Papua. Untuk hal ini berbagai upaya
telah dilakukan oleh Kemkes bersama pemerintah daerah setempat untuk
melaksanakan kegiatan Outbreak Respon Immunization (ORI).
ORI ini merupakan salah satu upaya penanggulangan KLB suatu penyakit
dengan pemberian imunisasi dan merupakan strategi untuk mencapai kekebalan
individu atau komunitas hingga sebesar 90 – 95%. Sehingga KLB PD3I tersebut
bisa diatasi.
Kegiatan imunisasi di Posyandu Desa Nagrak Bogor, 10 Feb 2020 (foto: dokumentasi)
Imunisasi Dunia
Kesadaran pentingnya imunisasi juga merupakan bagian dari komitmen
masyarakat dunia. Karena itu, setiap tahun diadakan Pekan Imunisasi Dunia (PID)
pada bulan April di minggu ke 4. Hal ini sudah diadakan sejak tahun 2013.
Melalui kegiatan PID ini, tentu saja sangat diharapkan dapat
mengingatkan masyarakat tentang pentingnya imunisasi yang lengkap. Sehingga dengan sadar dan penuh
tanggung jawab akan membawa anaknya ke pos pelayanan imunisasi. Semua pelayanan
imunisasi yang diberikan pemerintah tidak dipungut biaya sama sekali atau gratis.
Sementara bagi anak sekolah ada program BIAS yaitu kegiatan Bulan
Imunisasi Anak Sekolah. Program ini adalah imunisasi lanjutan yang diberikan
kepada anak usia sekolah dasar yang dilaksanakan di bulan Agustus dan November.
Di bulan Agustus, anak-anak diberikan imunisasi Campak/Measles Rubella
(MR) kepada anak kelas1.
Sedangkan di bulan November, diberikan imunisasi DT atau Diphteria
Tetanus untuk kelas 1 dan imunisasi Difteri Tetanus untuk kelas 2 dan 5. Imunisasi
DT atau Diphteria Tetanus, untuk mencegah infeksi difteri, tetanus. Sedangkan
imunisasi Td adalah tetanus diphteria yang merupakan imunisasi lanjutan agar
anak semakin kebal dengan kedua penyakit tadi.
Kanker Serviks
Dalam perkembangannya saat ini. Dijelaskan juga, bahwa di beberapa
daerah telah diperkenalkan dan diberikan imunisasi HPV yang diberikan sebanyak
2 (dua) dosis yaitu dosis pertama pada anak perempuan kelas 5 dan dosis kedua
ketika anak perempuan tesebut duduk di kelas 6 SD. Imunisasi HPV atau Human
Papilloma Viru merupakan
virus yang menjadi penyebab kanker serviks pada wanita. Sehingga Vaksin HPV
diberikan kepada para anak perempuan untuk mencegah infeksi virus HPV.
Semua program ini tentu saja baik adanya.
Untuk itu, diakui oleh pihak Kemkes perlu informasi yang tepat tentang imunisasi.
Masyarakat harus mendapatkan informasi secara jelas dan lengkap. Penyampaian
informasi ini dilakukan oleh Kemkes dan jajarannya, serta melibatkan
partisipasi masyarakat seperti kader, organisasi profesi yaitu dokter atau
bidan. Proses ini harus terus dilakukan dan berharap semakin banyak masyarakat
yang menerima dan memahaminya. Kemudian
dengan kesadaran hidup sehat bersedia membawa diri dan anaknya ke faskes
terdekat utk mendapatkan pelayanan imunisasi.
Apa pun isu miring yang beredar mengenai pemberian
imunisasi harusnya tidak mengalahkan informasi pentingnya vaksin kekebalan ini
bagi kesehatan anak-anak. (melva tobing)
Jayakarta News – Syaiful Ardhi (8) termasuk bocah beruntung. Sejak bayi hingga kini, penyakit yang pernah menghinggapi tubuhnya sebatas batuk pilek (bapil) dan sedikit demam yang menyertainya. Menurut cerita Suharti, sang ibu, bapil Syaiful itu biasanya berlangsung beberapa hari saja, lantas sembuh. Cukup dilawan dengan obat ringan yang diperoleh dari Puskesmas.
“Saya mengimunisasi
Syaiful rutin sejak bayi sampai sekarang,” kata Suharti. Ia percaya, imunisasi
berperan penting membangun daya tahan putra bungsunya itu dari serangan penyakit
menular berbahaya semisal campak atau polio. Siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI)
Pondok Pandanaran Ngaglik, Sleman – Yogyakarta ini
mendapatkan imunisasi dasar lengkap di usia 0-9 bulan. Tak hanya itu, imunisasi
lanjutan pun ia dapatkan di sekolah, tanpa lowong, sesuai program
pemerintah.
Kiri: Alfarezki Dan Bunda Latiffa. Kanan: Syaiful, Bunda Suharti dan sang Ayah. Kiri: Grace dan Eyang Nia. Kanan: Arka dan Bunda Lina.
Ibu tiga anak itu,
saat dijumpai JayakartaNews di Puskesmas Ngaglik
2 Sleman Yogyakarta akhir pekan lalu, menyatakan, semua anaknya mendapatkan
imunisasi lengkap. Dua anak pertamanya bebas penyakit menular berbahaya hingga
dewasa dan kini mereka telah mandiri.
Usia Syaiful selisih
12 tahun dari kakak keduanya. “Saya rajin mengimunisasi anak demi kesehatan
mereka. Saya takut bila tidak diimunisasi, mereka bisa terkena penyakit serius
sampai cacat,” tutur Suharti usai memperbarui KB IUD yang ia jalani setiap 8
tahun sekali.
Ia bertandang ke
Puskesmas sendirian, sepulang mengantar Syaiful ke Pondok Pandanaran. Menurut wanita yang mukim di Suruh, Kelurahan
Donoharjo, Kecamatan Ngaglik Kabupaten Sleman ini, jika anak sampai cacat
akibat polio misalnya, maka biaya pengobatannya malah akan menjadi besar.
Memperoleh manfaat kesehatan berkat imunisasi juga didapatkan Arka, Reno, Grace, Alfarezki, dan kakak beradik Arsyifa-Arshad. Mereka semua adalah bocah-bocah dari berbagai tingkat usia warga Desa Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.
Kiri: Reno dan Bunda Nonik. Kanan: Arsyifa, Arshad dan Ayah Fendi. (foto: ernaningtyas)Puskesmas Ngaglik 2, Sleman – Yogyakarta. (foto: ernaningtyas)
Saat dijumpai JayakartaNews mereka sedang asyik
bermain dengan incaran masing-masing, dan tak satu pun memegang hape. Anak-anak
tampak sehat dan gembira, kecuali Grace yang sedang dalam proses pemulihan dari
sakit batuk-panas dan Alfarezki si bayi dua bulan yang tengah lelap.
Reno tak
henti-hentinya mengagumi poster bergambar aneka binatang kesukaannya. Arka
menaiki mobil-mobilan plastik warna hitam berbahan bakar ayunan kaki sendiri. Ia
berlagak layaknya pembalap profesional yang sedang bertahan di posisi terdepan.
Sementara kakak beradik Arsyifa dan Arshad sama sekali tak memiliki rasa takut
di tengah kerumunan anak dan para orang tua, kala acara penimbangan balita di
kampung mereka.
“Imunisasi dasar Grace lengkap sampai dengan satu tahun,” kata sang nenek, Suwardaniyah (58). Kedua orang tuanya bekerja. Sehari-hari balita dua tahun satu bulan ini diasuh Nia, sapaan akrab Suwardaniyah. Saat dijumpai Jayakarta News, pemilik nama panjang F Grace Eldora Arian Surya ini tampak lesu, kurang bersemangat. “Grace baru saja terserang batuk,” tambahnya.
Nenek dua cucu, Grace dan Nindi, ini menjelaskan bahwa paling banter sakit Grace batuk pilek. Tak ada penyakit akibat wabah seperti campak yang pernah dideritanya. Catatan di seputar tumbuh kembangnya –tinggi badan, berat badan, bicara, makan, kecerdasan– berlangsung normal sesuai tingkat usia. Menurut penuturan sang nenek, dalam kondisi sehat, Grace anak yang aktif dan responsif. “Ayo da-da sama papa!” ajak Nia saat mendapati Anton, ayah Grace, melintas dengan motor, kira-kira tujuh meteran jaraknya di depan keduanya. Si cucu itu langsung melambaikan tangan kanan, melepas kepergian sang ayah mencari nafkah. Senyumnya mengembang matanya menyorot motor dan si penunggang, sampai sosoknya tak lagi tersapu pandang.
Nia menjelaskan bahwa dua cucunya mendapatkan imunisasi lengkap sejak lahir. Kekebalan tubuh buatan itu mereka dapatkan dari bidan Istri Utami yang berpraktik tak jauh dari tempat tinggalnya. “Imunisasi penting buat cucu-cucu saya, agar mereka tidak terserang penyakit macam-macam,” tutur Nia. Menurutnya, bila anak terkena bapil, itu kejadian biasa apalagi jika sedang musimnya.
Arka, teman sekampung
Grace di Dusun Kadipuro Sinduharjo Ngaglik Sleman, juga mendapatkan imunisasi
lengkap. Sang ibu, Lina Sontang, bercerita bahwa saat usia kandungannya
menginjak enam bulan, ia sakit. “Trombosit saya drop, bukan karena demam berdarah,
tetapi karena sebab lain,” tutur Lina.
Di detik-detik awal
kehidupannya, Arka, yang bernama lengkap G Arka Putra Alvaro Sianipar, pun
mengalami penurunan trombosit seperti dirinya. Bayi Arka sempat mendapat
perawatan medis selama seminggu pascalahir. Untunglah, kecanggihan medis
membantu proses pemulihannya.
“Untuk meningkatkan
daya tahan tubuh, saya mengimunisasi Arka sesuai jadwal. Awalnya di Rumah Sakit
Panti Rapih Yogyakarta tempat kontrol Arka untuk mengatasi masalah
trombositnya. Setelah ia sehat, saya pindah ke bidan Tutik Purwani di Plumbon,
Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman,” kata Lina menceritakan pengalamannya.
F Reno Pandega, kakak
sepupu Arka juga mendapatkan imunisasi dasar lengkap. “Reno lahir sampai
selesai mendapatkan imunisasi dasar di tempat praktik Bidan Tutik Purwani,”
tutur Nonik sang ibu. Sampai usia empat tahun sekarang ini Reno tumbuh menjadi
anak yang sehat dan ceria. “Gajah… singa… ular… beruang…!” teriak Reno sambil menunjuk
satu per satu gambar binatang pada selembar
poster berukuran 40×60 cm, selayaknya guru yang tengah mengabsen murid di kelas
yang gaduh.
Di Dusun Kadipuro, Sinduharjo, Ngaglik Sleman itu, dua bulan silam
lahir bayi laki-laki bernama Muhammad D Alfarezki. Sang ibu, Latiffa, seperti
ibu-ibu muda lain di kampung ini, mengimunisasi putra pertamanya itu. “Saat usia
dua hari, Alfarezki mendapatkan imunisasi Hepatitis (HB 0), sebulan kemudian
mendapatkan suntikan BCG dan minggu depan ia akan menerima vaksin IPV 1 atau
pentavalen plus polio satu,” kata Latiffa sambil membuka-buka buku Kesehatan
Ibu dan Anak yang bersampul merah muda, bergambarkan pasangan suami istri
dengan satu balita putri dalam pose berdiri.
Sambil mendekap
Alfarezki yang sedang tidur nyenyak di pangkuannya, Latiffa bercerita bahwa
keputusan untuk imunisasi itu ia ambil karena alasan kesehatan. “Imunisasi kan
untuk kekebalan tubuh, biar nggak gampang kena penyakit menular berbahaya,” kata
Latiffa mengutip pesan bidan yang pembantu persalinan dan yang mengimunisasi
putra pertamanya itu.
Cerita yang sama datang dari kampung Jaban, sebelah timur Dusun Kadipuro. Di pedukuhan itu tinggal keluarga Fendi Setyawan (31), berputra dua, semuanya balita, Earlina Arsyifa Salsabila (4,4 tahun) dan Arshad Reyhan Kaffeel (2,2 tahun). Kala Sabtu (22/2), Fendi membawa putra putrinya ke Posyandu di dekat rumahnya. “Arsyifa dan Arsyad tumbuh normal sesuai usianya dan selalu gembira. Anak saya sehat. Kalaupun mereka sakit, paling-paling batuk pilek,” kata Fendi yang datang ke posyandu bersama ibundanya, nenek dari kedua anaknya.
Sambil menunggu dua buah hatinya ditimbang, diukur tinggi badan, dicatat lingkar lengan dan kepala serta diberi vitamin A, Fendi bercerita bahwa Arsyifa dan Arshad mendapatkan imunisasi dasar lengkap dilanjutkan imunisasi tambahan di tempat praktik Bidan Istri Utami. “Saya kurang paham imunisasi tambahan mereka apa, istri saya yang tahu,” ujar pewiraswasta muda ini.
“Untuk daya tahan tubuhnya dari wabah penyakit berbahaya saya percaya imunisasi dan untuk memantau perkembangannya saya selalu datang ke Posyandu,” tambah Fendi sambil melangkah mendekati Arshad dan Arsyifa yang baru saja selesai menjalani pengecekan dan masing-masing telah mendapatkan sepaket menu sehat untuk makan siang.
Saat isu miring seputar
vaksin yang menyangkut haram-halal, vaksin penyebab autis bahkan pemicu kematian dikemukakan, mereka
memberikan aneka jawaban. “Saya tidak pernah mendengar kabar itu,” jawab Lina
Sontang. “Namanya program pemerintah, pastilah aman,” kata Minten Jumari, nenek
Latiffa yang ikut nimbrung saat JayakartaNews bertandang ke
rumahnya.
“Justru kalau tidak
divaksin, saya malah takut cucu saya terserang macam-macam penyakit,” tutur
Nia. “Yang penting imunisasi lengkap, yakin saja anak jadi kebal dan selamat
dari penyakit menular berbahaya, polio misalnya,” sahut Nonik. “Sampai sekarang
anak saya baik-baik saja, saya tidak tahu itu (halal-haram, vaksin bikin
autis),” reaksi Fendi. “Percaya saja, imunisasi aman. Kalau tidak diimunisasi
malah tidak aman, anak bisa cacat,” sahut Suharti.
Syaiful, Arka, Grace,
Reno, Alfarezki, Arsyita dan Arshad adalah para bocah yang orang tuanya
meyakini imunisasi penting sebagai tameng untuk menangkal penyakit, utamanya
penyakit menular berbahaya yang memicu komplikasi dan berakibat fatal. Para bocah dan orang tua mereka itu seperti
mewakili pemeran dalam lagu gubahan AT Mahmud yang berjudul “Aku Anak Sehat”:
Aku anak sehat tubuhku kuat
Karena ibuku rajin dan cermat
Semasa aku bayi selalu diberi ASI
Makanan bergizi dan imunisasi
…..
BIAS Puskesma Ngaglik 2 di SD Donoharjo. (foto: ernaningtyas)
Para orang tua itu
percaya, ketika imunisasi diberikan sesuai aturan, si buah hati terlindungi
dari aneka penyakit menular berbahaya yang bisa memicu komplikasi, bahkan cacat
sampai kematian. Imuninasi itu membuat anak-anak mereka seperti pribadi-pribadi
yang dilapisi selimut transparan yang berfungsi sebagai pelindung. Mereka
setuju dengan pernyataan: imunisasi oke, penyakit menular berbahaya no way.
Tidak semua anak memiliki orang tua yang meyakini bahwa imunisasi penting. Suharti yang juga kader Balita di kampungnya mendapati satu orang bocah tetangganya yang tidak mendapatkan imunisasi. “Ayah si anak yang tidak percaya imunisasi itu berasal dari Lampung, ibunya asli kampung. Mereka meragukan kehalalan vaksin yang kabarnya mengandung babi,” papar Suharti.
Tak hanya Suharti yang mendapati pengalaman seperti itu. Bidan Yuli Amperawati, Nutrisionis Theodorus Indarto, dokter Trisni Nur Andayani dan Retno Sutomo dokter spesialis anak Rumah Sakit Dr Sardjito Yogyakarta, memiliki pengalaman masing-masing seputar penolakan vaksin.
Kiri: Bidan Yuli Amperawati. Kanan: Nutrisionis Theodorus Indarto.
Garda BIAS Puskesmas Ngaglik 2
BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) merupakan program tahunan nasional. Perhelatan akbar tindakan preventif terhadap pencegahan penyakit menular ini ada di bawah kendali Kementrian Kesehatan (Kemenkes). Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) bertanggungjawab sebagai eksekutor lapangan. Bila Puskesmas Ngaglik 2 menambahkan kata “Garda” di depan BIAS, itu dilakukan bukan tanpa alasan.
Di beberapa tempat yang menjadi wilayah kerja instansi kesehatan pelat merah ini penolakan terhadap imunisasi sering terjadi. Ada berbagai sebab antara lain isu haram vaksin. Garda berarti pengawal. Garda BIAS: sepasukan pengawal yang bertugas mensukseskan pelaksanaan BIAS.
dr Trisni Nur Andayani
Garda BIAS murni milik
Puskesmas Ngaglik 2 yang beralamat di Jalan Tentara Pelajar, Donoharjo,
Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Program ini dicanangkan tahun
2013. “Garda BIAS melibatkan lintas sektoral mulai dari persiapan, koordinasi,
sosialisasi, sampai sweeping murid
yang belum terimunisasi,” kata dr Trisni Nur Andayani, Kepala Puskesmas
itu.
BIAS merupakan imunisasi lanjutan yang diberikan kepada anak
sekolah dasar (SD) setiap Agustus dan November. Bulan Agustus, program
vaksinasi massal ini memberikan
imunisasi MR (campak-measles rubella) kepada anak kelas 1. Bulan November
tindakan preventif skala nasional ini
memberikan imunisasi DT kepada siswa kelas 1 dan TD kepada anak kelas 2 dan
kelas 5. DT atau Diphteria Tetanus berfungsi mencegah infeksi difteri dan
tetanus. TD atau Tenanus Diphteria adalah imunisasi lanjutan agar anak kian
kebal terhadap kedua penyakit menular tersebut.
Menurut catatan Puskesmas Ngaglik 2, ada tiga sekolah dan dua kampung yang memiliki sejarah menolak imunisasi: SDIT Hidayatullah, Pondok Al Ansor, Sekolah Taruna Alquran serta kampung Tanjung Sari dan Wonosalam. Nutrisionis Theodorus Indarto dan Bidan Yuli Amperawati, saat ditemui JayakartaNews akhir pekan lalu, menceritakan pengalaman mereka seputar penolakan pengimunan di wilayah yang menjadi tanggung jawab Puskesmas Ngaglik 2.
Keduanya karyawan yang telah cukup lama malang melintang di tempat itu. Theo, sapaan akrab Theodorus Indarto bergabung tahun 2002. Bidan Yuli, panggilan Yuli Amperawati datang tahun 2011. Ia pindahan dari Puskesmas Ngaglik 1.
Theo bercerita. Tahun 2005, ada Pekan Imunisasi Nasional (PIN). Agendanya pemberian vaksinasi polio tetes. “Terjadi penolakan besar-besaran di dua sekolah yakni SDIT Hidayatullah dan Pondok Al Ansor,” kata Theo. Alasan penolakan itu berkaitan dengan kepercayaan tertentu yang mempertanyakan haram-halal vaksin.
Ia mengakui, jika ada penolakan seperti itu bisa dipastikan bahwa petugas Puskesmas menjadi enggan masuk. “Paling drop cakupan imunisasi sekolah ada di wilayah kerja Puskesmas kami,” tambahnya. “Pak Theo gigih berjuang untuk menaikkan cakupan itu,” timpal Bidan Yuli.
Logo PIN 2005
Puskesmas Ngaglik 2
tak lantas diam. “Kami berusaha memberikan pemahaman manfaat imunisasi di
kantong-kantong penolak,” kata Theo. Berbagai pihak yang berasal dari lintas
sektoral seperti Muspika, Koramil, MUI, KUA dan wakil kabupaten dilibatkan.
Serempak mereka bergerak memberikan edukasi pentingnya imunisasi.
Para ustad yang
menjadi panutan mereka, akhirnya bisa memahami. Angka cakupan meroket.
Hidayatullah misalnya, cakupan imunisasi yang awalnya 40 persen,
pascasosialisasi gabungan itu, angkanya melonjak dua kali lipat menjadi 80
persen. “Itu prestasi besar. Satu bulan waktu yang kami gunakan untuk mendekati
pihak sekolah,” tutur Theo.
Dalam laman resminya
di media sosial pada 1 Juli 2016, Puskesmas Ngaglik 2 yang berjarak sekitar 14
km dari pusat kota Yogya ini mengunggah berita
bahwa program imunisasi belum bisa diterima sepenuhnya oleh masyarakat.
Ada dua dusun yang menolaknya: Tanjung Sari dan Wonosalam. Di kedua tempat itu
cakupan imunisasi selama bertahun-tahun rendah. Akibatnya kelompok rentan
campak bertambah.
Tahun 2011 kejadian
luar biasa (KLB) pecah. Di Tanjung Sari dan Wonosalam campak mewabah. Penyakit
ruam kulit yang berpotensi komplikasi pneumonia (infeksi paru-paru) dan radang
otak itu menyerang 102 bocah. Tahun 2014, campak kembali berulah. Penyakit yang
disebabkan paramixovirus ini menyerang 36 siswa SDIT Hidayatullah. Demikian
berita sembilan dan enam tahun lampau, yang empat tahun silam diunggah.
Cerita lain
diungkapkan oleh Bidan Yuli. Beberapa waktu silam, banyak orang tua murid Sekolah Taruna Alquran menolak imunisasi. Cakupan imunisasi di sekolah
dasar ini berada di angka 50 persen. Sebabnya beragam. Ada isu vaksin haram
karena mengandung babi, imunisasi tidak bermanfaat bagi tubuh, vaksin penyebab
autis atau sewaktu bayi sudah mendapatkan imunisasi lengkap sehingga mereka
merasa tidak memerlukan imunisasi lanjutan atau booster.
Di Taruna Alquran,
pihak sekolah sendiri yang kemudian melakukan aksi. “Kebetulan ada satu orang
tua murid yang berprofesi menjadi dokter. Dokter itulah yang kemudian
menjelaskan tentang pentingnya imunisasi kepada para orang tua siswa. Rupanya
orang tua yang dokter itu lebih dipercaya dari pada kami orang pemerintah. Angka
cakupan pun naik drastis hingga mencapai
95 persen bahkan sekolah ini pernah berangka cakupan 100 persen,” papar bidan
Yuli panjang lebar.
Yuli memiliki cerita dari sekolah lain,
namun ia tak menyebutkan identitasnya. “Di sekolah itu orang tua yang tidak
menyetujui anak mereka diimunisasi dikumpulkan. Mereka diberi penjelasan
manfaat imunisasi,” kata Yuli.
Tak berhenti sebatas itu. Si kepala
sekolah, saat menerima murid baru mengultimuatum calon anak didiknya. “Kalau
tidak mau diimunisasi, tidak usah sekolah disini,” tambah Yuli mengutip si
kepala sekolah. BIAS tahun 2019 kemarin imunisasi MR (campak-measles rubela) di
tempat itu mencapai 96 persen.
Yuli dan Theo
mengemukakan bahwa cakupan imunisasi sekolah di wilayah kerja Puskesmas Ngaglik
2 meningkat di empat tahun terakhir: 87 persen, 88 persen, 89 persen dan tahun
lalu tembus sedikit di atas 90-an persen. Sukses itu tak otomatis akan berulang
di tahun-tahun berikutnya. “Ganti pemimpin, kembali terjadi penolakan,” kata
Bidan Yuli.
Kedua petugas itu
mensinyalir bahwa penolakan itu bisa jadi disebabkan gara-gara masyarakat melek
internet. “Mereka membaca vaksin mengandung babi atau vaksin penyebab autis ya
dari internet,” tutur Theo.
Pernah ada yang
mencuplik hasil penelitian tahun 80-an yang mengambil sampel 12 anak autis yang
pernah mendapat suntikan vaksin. Padahal berita itu tidak benar dan sudah
dicabut,” sahut Yuli. Theo menimpali bahwa tidak semua yang mereka baca dari
internet menghambat imunisasi. Ada yang sebaliknya. “Pondok Al Ansor misalnya,
dari internet mereka tahu bahwa negera Arab pun mengimunisasi warga
kanak-kanak. Berita ini berpengaruh positif terhadap keputusan mengimunisasi
anak di pondok itu,” tambahnya.
Dinamika penolakan imunisasi yang selalu berulang itu membuat Puskesmas Ngaglik 2 memperkokoh Garda BIAS yang didanai oleh BOK (Bantuan Operasional Kesehatan). Dokter Trisni mengungkapkan pihaknya menyusun beberapa agenda kerja untuk Garda BIAS tahun 2020: pertemuan koordinasi, pembiayaan pelaksanaan BIAS, desiminasi informasi BIAS di sekolah, pertemuan koordinasi dengan lingkungan sekolah, komite sekolah dan MUI dalam pelaksanaan imunisasi, sweeping BIAS, workshop imunisasi di sekolah sampai surveilans KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi).
“Sekolah-sekolah yang mencapai angka cakupan 100 persen kami beri piagam. Yang sudah pernah meraih piagam itu SD Brengosan 1 dan 2,” tandas dr Trisni. Di Kecamatan Ngaglik Sleman Yogyakarta ada pula Puskesmas Ngaglik 1.
Dinamika imunisasi di tempat ini berbeda. “Di Puskesmas kami tidak pernah ada cerita penolakan imunisasi,” kata dokter Yuli Hamidah, Kepala Puskesmas Ngaglik 1. Perjalanan imunisasi yang lancar-lancar saja di tempat ini menggoreskan angka cakupan yang fantastik, nyaris mendekati 100 persen. Dokter Yuli, demikian ia disapa, memberikan catatan tangan cakupan imunisasi di Puskesmas yang dipimpinnya, pada tahun 2019.
Cakupan Imunisasi Puskesmas Ngaglik 1 tahun 2019
sumber: Puskesmas Ngaglik 1, Sleman Yogyakarta
Dokter Yuli dan koleganya dokter Trisni
sama-sama memimpin puskesmas yang berperan menjadi ujung tombak pelaksanaan
imunisasi. Puskesmas keduanya berada di Kecamatan yang sama, tetapi karakter
masyarakat yang menjadi wilayah kerja mereka berbeda. Dokter Yuli mengutarakan,
kendati tak ada penolakan, bukan berarti pihaknya leha-leha. Beberapa agenda dijalankan
untuk mencapai prestasi cakupan sekaligus mempertahankannya: pendataan
imunisasi oleh kader, sosialisasi imunisasi kepada guru lintas sektor,
sosialisasi imunisasi kepada kader dan masyarakat, pemberian sertifikat kepada
balita yang sudah menyelesaikan imunisasi sampai booster (pengulangan).
Sementara dokter Trisni dan pasukannya
mesti berupaya lebih keras. Di era dunia yang serba digital, hoaks seputar
vaksin terus berkelindan di seputar kehidupan. Namun ia percaya bahwa Garda
BIAS-nya mampu menjadi jurus jitu penolak isu-isu miring yang mengganjal
perjalanan imunisasi. Harapannya, berkat Garda BIAS angka cakupan terus
meningkat dan yang penting KLB tidak muncul di wilayah kerja Puskesmas ini.
dr Retno Sutomo, Sp.A(K), Ph.D. (foto: ernaningtyas)
Perangi Hoaks Seputar
Vaksin
“Vaksin
mengandung babi? Imunisasi penyebab autis, cacat, kematian? O… itu semua
hoaks, tidak benar, jauh panggang dari api,” kata dokter Retno Sutomo, Sp.A(K),
Ph.D. Kepala Tumbuh Kembang Anak RSUP Dr Sardjito Yogyakarta ini termasuk sosok
yang disibukkan oleh berita bohong yang
menyangkut dunia pencegahan penyakit menular pada anak-anak lewat imunisasi.
Seiring profesinya sebagai konsultan tumbuh kembang anak, ia selalu berkampanye
di berbagai tempat akan pentingnya imunisasi sekaligus meluruskan kabar miring
seputar vaksin.
“Sebenarnya hoaks di seputar imunisasi itu
isu lama yang sudah sangat membosankan,” kata dokter Tomo, panggilan akrabnya. Kendati
kabar itu sudah merebak lama, telah disanggah pula, bahkan dicabut oleh
pengunggahnya, namun ada baiknya semua pemangku kepentingan tetap selalu
waspada. Ini penting, sebab, di era dunia digital seperti saat ini, kabar
apa saja, baik cerita baru maupun lama, terlebih berita hoaks yang sarat
rekayasa, bisa mencuat kapan saja, dimana saja, menyasar dan dipercayai siapa
saja. Di dunia pencegahan penyakit menular anak, kabar bohong itu lazimnya
berupa vaksin mengandung babi, imunisasi penyebab autis, penyebab cacat bahkan
perenggut nyawa.
Dokter Tomo mengakui hampir semua pasien yang berjumpa dengannya menduga bahwa di dalam vaksin ada ekstrak babi. Kepada mereka, dokter yang merangkap dosen di Departemen Ilmu Kesehatan Anak (IKA) Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK-UGM) ini memberikan penjelasannya. Dia katakan, tidak benar ada kandungan babi di dalam vaksin. Yang benar adalah: proses penyiapan media untuk menumbuhkan bahan baku vaksin memakai enzim dari pankreas babi. Tujuannya untuk memotong protein menjadi bahan makanan bagi si kuman. Kalau media sudah jadi dan siap ditanami, bahan enzim babi itu harus dihilangkan. Sebab, jika enzim itu masih bercokol di media tanam, kuman menolak tumbuh.
“Jadi, tidak benar asumsi para pasien saya yang menduga ada daging babi di dalam vaksin, DNA (Deoxyribo Nucleic Acid)-nya pun tak ada,” tegas dokter Tomo. Dia menjelaskan, dalam pengecekan terakhirnya, telah dipastikan bahwa produk vaksin bebas kandungan apapun yang berasal dari babi. Pembuktian vaksin bebas unsur babi itu melibatkan pula tim dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Produsen vaksin di tanah air adalah Biofarma, sebuah perusahaan BUMN. Hanya ada satu saja vaksin yang masih diimpor Indonesia, yakni MR produksi India. Sementara negeri ini telah mengekspor hasil vaksinnya ke lebih dari 120 negara di dunia, termasuk ke negara-negara di Timur Tengah.
Dokter Tomo menjelaskan, enzim pankreas babi dipilih karena ia paling efisien. Saat ini, sedang dicari alternatif pengganti enzim pankreas babi. “Upaya mencari bahan substitusi itu penting supaya tidak menimbulkan syak wasangka,” tambahnya. Lagi pula tidak semua vaksin dikembangkan dengan media tanam berbahan enzim babi. Hanya vaksin rota virus dan polio tetes yang menggunakannya. “Vaksin polio tetes itu di DIY sudah tidak dipakai. Ia digantikan vaksin polio suntik. Jadi sangat sedikit vaksin yang pengembangannya dibantu media berbahan enzim babi, apalagi vaksin yang masuk program nasional,” papar dokter Tomo.
Arsyifa Dan Arshad Di Posyandu pedukuhan Jaban. (foto: ernaningtyas)
Sebenarnya pula, kata dokter Tomo, di klinik anak yang ia pimpin, dalam sepuluh tahun terakhir, tak sampai mencapai hitungan lima jumlah kasus pasien penolak imunisasi. Alasan utama si penolak, vaksin mengandung babi. “Namun yang sedikit ini, bisa berpengaruh ketika berita penolakan itu kemudian dibesar-besarkan,” tambahnya. Ia mengakui, isu halal-haram vaksin memang menduduki ranking tinggi penyumbang hoaks di seputar vaksin. Ada pasien yang setelah mendapatkan penjelasan kemudian mengizinkan anaknya diimunisasi, namun ada juga kasus sama dan si orang tua anak tetap menolaknya. Kedua tipe pasien itu pernah dihadapi langsung dokter Tomo. Ia menukil dua kasus.
Kasus pasien pertama terjadi tiga tahun silam. Ada kakak beradik menderita campak. Keduanya belum pernah mendapatkan imunisasi karena orang tua mereka meragukan kehalalan vaksin. Anak-anak itu mengalami komplikasi pneumonia atau infeksi paru sehingga harus menerima alat bantu napas. Akhir cerita keduanya sembuh. “Si ibu tidak menduga sama sekali bahwa campak yang bergejala ruam-ruam merah di kulit bisa menyeret si penderita terkena komplikasi infeksi paru-paru bahkan si pasien berpotensi pula menderita peradangan otak. Setelah paham, si ibu malah meminta anaknya diimunisasi semua vaksin, tidak hanya sebatas yang masuk program pemerintah,” papar dokter Tomo.
Pasien kedua beda cerita. Ini terjadi setahun lampau. Ada balita, tidak diimunisasi, terinfeksi campak. Pasien bayi ini juga menderita komplikasi pneumonia. Ia berhasil sembuh. “Kita menjelaskan kepada orang tuanya agar si bayi diimunisasi. Namun mereka tetap menolak semua vaksin karena alasan kehalalan,” cerita dokter Tomo. Keputusan si ibu menolak imunisasi karena pengaruh dari kakak dan suaminya. Dua cerita ber-ending beda. Dokter Tomo menegaskan, isu kehalalan vaksin yang bersikait dengan agama tertentu acapkali ia jumpai dalam kasus penolakan imunisasi. Namun demikian, apa pun reaksi orang tua, informasi seputar imunisasi tetap harus disebarluaskan secara benar.
Dokter Tomo menyebutkan ada berita yang tidak benar lainnya seputar vaksin yakni imunisasi menyebabkan autis. Dia menegaskan bahwa pernyataan itu tidak beralasan sama sekali. Ceritanya, hoaks ini berawal tahun 1998. Seorang dokter bedah Inggris meneliti sekelompok anak penderita autis. Ia memeriksa secara mikroskopis dengan mengambil sampel usus pasien untuk dilihat perkembangannya. Laporan hasil penelitiannya dimuat sebuah jurnal ilmiah papan atas. Kesimpulannya, penerima vaksin MMR (campak, rubela, gondongan) banyak yang menderita autis.
Poliklinik Tumbuh Kembang Anak RSUP Dr Sardjito Yogyakarta. (foto: ernaningtyas)
Peneliti lain mengulangnya, tetapi mereka semua tidak mendapatkan kesimpulan yang sama. Tahun 2010 peneliti Inggris itu mengakui bahwa dirinya telah melakukan semacam kebohongan publik dengan memalsukan data. “Ada motif akademis dibalik semua itu. Si peneliti ingin hasil risetnya dimuat di jurnal bergengsi agar bombastis,” tutur dokter Tomo. Akhirnya artikel itu dicabut.
Tak hanya sebatas itu. Lisensinya sebagai dokter ikut dibatalkan. “Tapi bayangkan, selama 12 tahun artikel itu bertahan dan berkelana ke mana-mana,” tambah dokter Tomo. Efeknya sangat besar. Celakanya, walau tulisan itu telah dicabut, masih saja ada yang memunculkan kembali dan yang lebih celaka lagi masih ada yang mempercayai. “Saya tegaskan sekali lagi, tidak ada hubungan sama sekali antara pemberian vaksin MMR dengan autis,” tambahnya.
Dokter Tomo menjabat juga sebagai Sekretaris Komite Daerah Pemantauan dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komda PP KIPI) DIY sejak 2010 hingga sekarang. Komda ini ada di setiap propinsi, bersifat independen dan profesional. Semua hasil penelitian Komda KIPI dikirim ke tingkat pusat. Tugas instansi ini menganalisis laporan yang berkaitan dengan efek negatif yang muncul pascaimunisasi.
“Komda
KIPI meneliti, apakah efek negatif itu berkaitan dengan imunisasi atau tidak,”
tuturnya. Ia menambahkan, selama ini yang ia jumpai hanyalah faktor kebetulan
saja. Kebetulan pas habis disuntik vaksin, ada sakit lain yang mulai berjalan,
kebetulan pula penyebabnya masih berupa
tunas sehingga tak terdeteksi sebelum imunisasi.
Dokter Tomo menceritakan, ada faktor
kebetulan yang pernah heboh terjadi saat kepemimpinan Presiden SBY.
Peristiwanya berlangsung di Cikeas sekitar sepuluh tahun silam. Waktu itu ada
kabar bocah lumpuh setelah divaksin polio. Kejadian ini menyulut demo di
kediaman orang nomor satu Indonesia kala itu.
Hasil penyelidikan mengungkapkan bahwa si
bocah memiliki infeksi tbc tulang belakang. Kebetulan setelah
diimunisasi ia terjatuh dari kursi lantas lumpuh. “Kelumpuhan itu bukan karena
imunisasi. Pembiusan radiologi membuktikan bahwa keropos tulang belakang itu
akibat tbc tulang. Berita yang terlanjur beredar adalah anak lumpuh karena
vaksin. Hoaks lagi!” katanya.
“Imunisasi menyebabkan mati? Wah, penyebab mati itu bisa macam-macam,”
jawab dokter Tomo menanggapi isu vaksin bisa menyebabkan kematian. Tindakan
medis memang ada resikonya. Tapi yang mesti diingat adalah, pertama: imunisasi
diberikan kepada anak sehat agar ia menjadi lebih sehat. Kejadian ikutan
pascaimunisasi yang umum ditemui adalah demam ringan atau bengkak di tempat
suntikan. Anak menjadi rewel karenanya. Efek itu tergolong ringan. Kedua,
ketika vaksin menjadi program, lebih besar keuntungannya dari pada resikonya.
Ada satu lagi informasi tidak benar yang menghambat pelaksanaan imunisasi. Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa imunisasi cukup diperoleh lewat pemberian ASI (Air Susu Ibu). “Kata mereka imun is ASI, jadi imunisasi cukup diperoleh lewat ASI,” tutur dokter Tomo. Ia membenarkan bahwa di dalam ASI ada kandungan bahan untuk kekebalan tubuh. Tetapi itu bersifat umum. Sedangkan imunisasi bersifat spesifik dalam membentuk kekebalan tubuh terhadap masing-masing virus atau bakteri.
Dokter Tomo mengakui hoaks bukan satu-satunya alasan pasien menolak imunisasi. Tetapi memang alasan itu cukup signifikan. Karena itu, upaya memerangi hoaks ini menjadi agenda rutinnya. Cara yang ia tempuh adalah memberikan informasi yang benar seputar manfaat vaksinasi. Itu ia lakukan baik pada saat menghadapi pasien maupun dalam aneka kesempatan yang melibatkan banyak audiens. Ia memiliki sebundel slide yang menjelaskan secara lengkap manfaat imunisasi sampai pelurusan berita hoaks lewat infografis sederhana yang amat mudah dipahami. Beberapa contohnya:
Sumber: Makalah “Mengapa Imunisasi Pada Anak Penting” oleh dr Retno Sutomo Sp.A(K) Ph.D
“Tidak perlu sakit dulu demi mendapatkan kekebalan alamiah, sebab kekebalan ini tidak memadai serta beresiko besar: pasien sembuh dengan komplikasi atau bisa meninggal dunia,” papar dokter Tomo. Sementara imunisasi adalah kekebalan buatan tanpa membuat si pasien menderita sakit. Ia menunjukkan beberapa ilustrasinya tentang resiko pasien terinfeksi penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi:
Dokter Tomo merasakan bahwa hoaks seputar vaksin sudah sangat membosankan. Isu tak berdasar itu selalu berulang dan berulang, celakanya semua itu berdasar info yang sudah usang. Ini persis pengalaman Bidan Yuli dan Theo dari Puskesmas Ngaglik 2. Untungnya para pemangku kepentingan di bidang kesehatan itu tak pernah bosan mengedukasi masyarakat perihal manfaat imunisasi, juga tentang informasi yang benar untuk meluruskan berita-berita hoaks yang liar berseliweran di era dunia digital. Ini semua merupakan upaya menuju dunia bebas penyakit menular.
Indonesia telah bebas polio maupun tetanus. Kendati demikian imunisasi untuk kedua penyakit menular itu tetap harus berjalan. Negeri ini menargetkan bebas campak-rubela pada tahun 2020.
Sementara tahun 2019 lalu, kasus campak dunia meroket. Kurban terbesar ada di Kongo. Ratusan ribu warga negara di Afrika itu terinfeksi campak, dua ribu lebih di antaranya meninggal dunia. Para bocah-bocah Kongo kurban campak itu rupanya tak seberuntung Syaiful Ardhi dan para bocah Kecamatan Ngaglik lainnya yang telah mendapatkan perlindungan melalui imunisasi.
Seperti ada tentara di dalam tubuh bocah-bocah Ngaglik itu. “Pasukan bersenjata” mereka siap menembakkan peluru ke arah virus penyebab penyakit menular berbahaya. Imunisasi oke, penyakit menular berbahaya no way. (Ernaningtyas)