Sego Gegog Trenggalek, Nikmatnya Bikin Merem Melek

 Sego Gegog Trenggalek, Nikmatnya Bikin Merem Melek

JAYAKARTA NEWS – Pergilah ke Trenggalek. Memang, Anda mungkin tidak akan menemukan nama kota ini sebagai salah satu daerah yang menjadi rekomendasi utama biro perjalanan langganan Anda. Sekali-kali, lepaskan ketergantungan Anda pada biro perjalanan tuor Anda, dan jalanlah bersama pasangan atau rekan Anda, tak perlu mengajak tour guide biro biro perjalanan langgananan Anda.

Ya, pergilah ke Trennggalek di Jawa Timur. Ada beberapa tempat yang asyik untuk Anda kunjungi. Dan tentu saja, wisata kuliner Anda akan menemukan makanan yang —dalam bahasa Syahrini— sesuatu banget,

Namanya sego gegog (nasi gegog). Dari nomenklatur yang Anda dengar saja, sudah membuat penasaran bukan. Makanan ini memang unik, dan sangat merakyat di Trenggalek.

Histori kuliner ini dari penamaannya berasal dari akronim Sego Genem Godhong Gedhang. Artinya, nasi yang dibungkus menggunakan daun pisang.

Sego gegog yang dikenal kini, semula konon adalah kuliner yang menjadi sajian warga pedalaman di Trenggalek. Penyajiannya menggunakan daun pisang. Pada masa lalu, makanan seperti ini biasa digunakan untuk bekal para petani ketika bekerja di sawah, ladang, saat mereka bekerja mencari kayu atau berburu di hutan.

Pada masa lalu, hidangan sego gegog tergolong hidangan mewah. Mewah?! Betul, karen pada masa lalu, warga pedalaman di Trenggalek pada umumnya mengkonsumsi olahan gaplek (nasi gaplek atau juga thiwul).

Sego gegog nasinya punel, bukan pera. Dia disajikan dengan lauk ikan teri sambal pedas. Terbayang bukan, bagaimana kalau hidangan itu disantap di tengah hari saat bekerja di sawah atau ladang, Maknyus. Super nikmat!

Menjadi sesuatu banget ketika sego gegog didampingi dengan teh panas atau kopi tubruk olahan lokal, yang biasanya menyisakan butiran-butiran ampas kopi sebesar gula pasir yang mengapung. Nimkatnya menyentuh ubun-ubun. Bikin merem melek. Lidah menari-nari.

Setelah lidah dan mulut ‘dibakar’ oleh pedasnya sambal, langsung maknyus ketika saraf perasa dikunjungi wedang teh yang nasgithel (panas legi kenthel, teh panas kenal nan manis). Demikian pula saat Anda memilih kopi hitam lokal sebagai teman merahapi sego gegog. Dan maaf, sulit mendiskripsikan secara pas begaimana super nikmatnya makanan “kampung” ini dalam larik kata-kata. Anda akan memahami ini secara pas kalau sudah menginjakkan kaki di bumi Trenggalek dan menyantap sego gegog. Ooooo sensansinya nggak ketulungan……

Dan begitulah. Kini, seiring perkembangan zaman, kemajuan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Trenggalek yang diiringi munculnya aneka kuliner modern, sego gegog masih bertahan. Atau lebih tepatnya dipertahankan.

Jangan lihat tampilan warung yang menjajakan sego gegog. Memang biasa saja. Dan justru dengan kesederhanaannya itu, memberikan nuansa makan Anda lain daripada yang lain. Nggak perlu AC, karena semilir angin yang mengalir ke di dari pegunungan Gunung Wilis memberikan sapaan dan dekapan santat bersahabat, memberi suasana enak untuk menikmati sego gegog.

Salah satu warun sego gegog yang ramai dikunjungi pecinta kuliner adalah warung Mbah Tumirah. Dia bertutur, sego gegog menjadi istimewa karena nasinya dimasak dalam dua tahap.

Pertama, nasih dimasak setengah matang dengan diliwet misalnya. Kemudian, diambil dan bungkus dengan daun pisang dan langsung diberi campuran sambal ikan teri di atasnya.

Setelah itu, dikukus sampai matang kira-kira sekitar 15 menit. Porsi dari sego gegog ini kecil, jadi setiap orang bisa makan 2-3 bungkus dalam sekali makan. Ukurannya mirim sego kucing ala Jogja. Harganya murah, cuma Rp 2.000 per bungkus. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *