Kolom
Misteri Tali Lawe
Gde Mahesa
“Lawe” bahasa Jawa, terbuat dari serat atau benang berbahan kapas, bisa juga berarti kain. Dalam tradisi Jawa, benda ini menjadi simbol serta unsur upacara adat medhot benang, yang merupakan rangkaian upacara pernikahan di Jawa.
Lawe, memiliki filosofi tentang perlindungan, kesucian dan harapan, selain itu dipercaya untuk melindungi dari pengaruh jahat, juga menjadi pagar atau benteng spiritual, dan sebagai simbol untuk kehidupan yang lebih baik, serta dipercaya dapat mengikat roh jahat, sehingga tidak dapat mendekati dan melukai orang yang menggunakannya.
Benang putih, digunakan sebagai simbol kesucian dan kebaikan, dalam upacara ritual, benang putih diikatkan pada pergelangan tangan sebagai tanda agar hati selalu lurus dan benar. Benang yang baru, diharapkan dapat menjaga kehidupan seseorang agar terhindar dari keburukan dalam kehidupan.
Dalam konteks budaya Jawa, benang lawe dapat diartikan sebagai simbol kuasa, yang mengingatkan pada kekuatan Tuhan yang mengatur kehidupan manusia. Maka sering kita lihat benang ini digunakan dalam upacara ruwatan untuk menyucikan jiwa raga. Sehingga dalam tradisi Jawa mempunyai arti lebih dari sekadar benang, sebab merupakan simbol nilai-nilai spiritual.
Dalam konteks supranatural, benang lawe seringkali berfungsi sebagai media dalam upacara ruwatan, simbol perlindungan, atau bahkan sebagai alat dalam praktik ilmu hitam, seperti santet atau teluh. Dalam hal ini, benang lawe diikat dan diisi dengan energi negatif oleh pelaku, untuk ditujukan kepada korban.
Perlu diketahui bahwa penggunaan benang lawe dalam konteks supranatural ini sangat terkait dengan kepercayaan dan tradisi masyarakat tertentu. Tidak semua orang percaya atau menggunakan benang lawe dalam praktik supranatural. Lawe dengan segala arti dan fungsi dan bisa dijadikan “jimat keramat”
Nah….. siapa para pembaca yang menyimpan Lawe didompet sebagai jimat atau apa pun ? Ya ndak masalah, tetap sruputtt kopi pahitnya bullll bullll klepussss…
