• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech
Lidah Rakyat, Nama Berani: Jajanan Nusantara dan Tradisi Penamaan yang Tak Tahu Malu

Lidah Rakyat, Nama Berani: Jajanan Nusantara dan Tradisi Penamaan yang Tak Tahu Malu

February 24, 2026
Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

October 23, 2026
Warga Makassar Padati Lokasi Gerakan Pangan Murah, BULOG Salurkan 1,5 Ton Beras

Warga Makassar Padati Lokasi Gerakan Pangan Murah, BULOG Salurkan 1,5 Ton Beras

October 22, 2026
Rehabilitasi Irigasi di Bangli Berikan Manfaat bagi Petani, Perbaikan Saluran Terus Dioptimalkan

Rehabilitasi Irigasi di Bangli Berikan Manfaat bagi Petani, Perbaikan Saluran Terus Dioptimalkan

October 22, 2026
Ketika Para Penjaga Nurani Bangsa Mendesak Gibran Mundur sebagai Wakil Presiden

Ketika Para Penjaga Nurani Bangsa Mendesak Gibran Mundur sebagai Wakil Presiden

October 22, 2026
Letjen Iwan Setiawan, Dari Everest ke Kostrad”

Letjen Iwan Setiawan, Dari Everest ke Kostrad”

October 22, 2026
Empat Tahun Berperang Rusia Kehilangan 350.000 Tentaranya, Putin: ‘Kemenangan akan Selalu Milik Kita!

Jalan Perdamaian Terbuka? Presiden Putin Setuju Perundingan Damai dengan AS dan Ukraina

October 22, 2026
Puisi-puisi Visual Yusuf Susilo Hartono

Puisi-puisi Visual Yusuf Susilo Hartono

October 22, 2026
Bareskrim Telusuri Aset Lebih dari Rp500 Miliar dalam Kasus PT Dana Syariah Indonesia

Bareskrim Telusuri Aset Lebih dari Rp500 Miliar dalam Kasus PT Dana Syariah Indonesia

October 22, 2026
BP3MI DIY Latih 80 Calon Pekerja Migran Indonesia Siap Tembus Pasar Kerja Global

BP3MI DIY Latih 80 Calon Pekerja Migran Indonesia Siap Tembus Pasar Kerja Global

October 22, 2026
Presiden Instruksikan Usut Tuntas Keterlibatan Manusia dan Korporasi dalam Karhutla

Presiden Instruksikan Usut Tuntas Keterlibatan Manusia dan Korporasi dalam Karhutla

October 21, 2026
Film Laut Bercerita: Tentang Keberanian, Persahabatan dan Kehilangan

Film Laut Bercerita: Tentang Keberanian, Persahabatan dan Kehilangan

October 21, 2026
Tinjau Penanganan Karhutla Tahura R Soerjo, Khofifah Tekankan  Keselamatan Petugas dan Relawan

Tinjau Penanganan Karhutla Tahura R Soerjo, Khofifah Tekankan  Keselamatan Petugas dan Relawan

October 21, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Friday, October 23, 2026
Jayakarta News
  • Home
  • News
    • All
    • Business
    • Politics
    • Science
    • World
    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

    Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

    BPS Catat Komoditas Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor Pertanian

    GAPKI Catat Ekspor Produk Sawit Agustus 2026 Naik 12,56 Persen

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Trending Tags

    • Donald Trump
    • Future of News
    • Climate Change
    • Market Stories
    • Election Results
    • Flat Earth
  • Tech
    • All
    • Gear
    • Startup

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Trending Tags

    • Flat Earth
    • Sillicon Valley
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Golden Globes
    • Future of News
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    Trump-May special relationship gets special treatment in the streets of London

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

    Lady Gaga Pulled Off One of the Best Halftime Shows Ever

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result
Home Kolom

Lidah Rakyat, Nama Berani: Jajanan Nusantara dan Tradisi Penamaan yang Tak Tahu Malu

by admin
February 24, 2026
in Kolom
0
Lidah Rakyat, Nama Berani: Jajanan Nusantara dan Tradisi Penamaan yang Tak Tahu Malu
492
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Sebuah Jurnalisme Sejarah Jajanan Nusantara

Oleh : Heri Mulyono

Bayangkan Anda berdiri di tengah hiruk-pikuk pasar tradisional di Bantul, Yogyakarta. Asap mengepul dari wajan minyak panas. Seorang ibu paruh baya berteriak dengan santai kepada calon pembelinya: “Kontol kejepit, Bu! Enak, anget, murah!” Tak ada yang tersipu. Tak ada yang menoleh dengan ekspresi terkejut. Semua berlangsung wajar—sama wajarnya seperti menjual tempe atau jadah.

Inilah Nusantara, tempat di mana nama makanan bisa terdengar begitu liar di telinga modern, namun justru menyimpan kearifan, kelugasan, dan bahkan filsafat tersendiri. Di sinilah letak keunikannya: di balik nama-nama yang membuat orang kota mengernyit, tersembunyi tradisi penamaan yang sudah berusia lebih dari satu abad—lahir bukan dari sembarangan, melainkan dari cara pandang masyarakat agraris yang jujur, langsung, dan tanpa pretensi.

Peta Kuliner yang “Berbahaya”

Mari kita keliling Nusantara melalui lidah dan nama.

Peli Kipu adalah penganan khas Blora, Jawa Tengah. Berbentuk seperti kue keris panjang bertaburan wijen, rasanya manis dan renyah. Dalam bahasa Jawa, peli berarti penis, dan kipu berarti kotor. Gabungkan keduanya, dan Anda akan mengerti mengapa namanya terasa provokatif. Namun asal penamaannya sederhana: bentuk adonan yang memanjang, ditaburi wijen hingga terkesan “berbintil-bintil,” secara visual dianggap menyerupai alat kelamin laki-laki dalam kondisi tertentu. Di Solo, kue serupa kini lebih banyak dijual dengan nama mancho—sebuah penyesuaian terhadap selera zaman yang makin peka.

Peli Gudiken dari Jawa Timur adalah saudara kandungnya. Berbeda dalam teknik dan tekstur, namun mewarisi logika penamaan yang sama: bentuk fisik sebagai cermin nama.

Bergeser ke Kontol Kambing dari Malang, Jawa Timur. Gorengan berbahan kacang hijau atau kacang tolo yang dicampur gula ini sudah lama jadi primadona di pasar-pasar tradisional kota apel itu. Isiannya adalah kacang hijau atau kacang tolo yang diberi campuran gula, dan jajanan ini mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional.

Mengapa namanya demikian? Tidak ada dokumentasi pasti. Yang ada hanya ingatan kolektif: bentuknya memanjang, sedikit bengkok, permukaannya keriput akibat digoreng—dan imajinasi masyarakat bekerja dengan cara yang sangat visual.

Di Bantul, ada Kontol Kejepit—atau dalam singkatan yang lebih sopan disebut tolpit. Nama kontol kejepit muncul dari cara pembuatannya, yakni dengan cara dijepit menggunakan sumpit bambu, membuat kue ini memiliki bentuk yang unik. Kue adrem yang terbuat dari tepung beras, gula jawa, dan digoreng ini hadir dalam beragam warna. Rasanya manis, teksturnya kenyal—dan namanya, menurut para pembeli, justru menjadi daya tarik tersendiri.

Lalu ada Dawet Jembut Kecabut dari Purworejo. Meski terdengar vulgar, nama Jembut Kecabut merupakan akronim dari Jembatan Butuh, Kecamatan Butuh, sebab penjual es dawet tersebut berada di sebelah timur jembatan itu. Es dawet hitam bertape ketan ini segar, manis, dan gurih—sama sekali tidak ada hubungannya dengan konotasi yang terbayang saat pertama kali mendengar namanya. Ini adalah contoh penamaan berbasis lokasi yang bertabrakan secara fonetis dengan kosakata vulgar.

Sementara Kupat Jembut dari Semarang punya kisah yang lebih dalam. Ketupat jembut merupakan ketupat yang dibelah diagonal tanpa putus, lalu disisipkan isian yang terdiri dari taoge, kol, parutan kelapa, dan bumbu-bumbu. Tampilan taoge yang mencuat dari ketupat itu dianggap menyerupai rambut kemaluan perempuan. Yang membuat Kupat Jembut istimewa bukan sekadar namanya, melainkan konteksnya: makanan ini menjadi sajian spesial yang hanya dihidangkan saat tradisi Syawalan di Semarang, Jawa Tengah, dan menurut Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan UGM Murdijati Gardjito, tradisi ini sudah ada sejak tahun 1950-an.

Dari Penjuru Lain Nusantara

Fenomena ini bukan monopoli Jawa Tengah dan DIY. Ia tersebar ke seluruh Nusantara.

Kontol Sapi dari Cilegon, Banten, adalah kue dari tepung beras ketan dan kelapa yang digoreng lalu dilumuri gula jawa cair. Bentuknya lonjong panjang—dan orang Cilegon tak merasa perlu memperindah namanya.

Turuk Bintul dari Jepara merupakan jajanan berbahan ketan dengan taburan kacang tolo. Nama turuk bintul terdiri dari kata turuk yang merupakan sebutan kemaluan perempuan dalam bahasa Jawa, sementara kata bintul berarti bengkak kecil—seolah-olah terdapat bekas bintul atau bengkak kecil pada jajanan ini.

Kontol Pesok dari Brebes adalah roti manis lonjong bertabur wijen yang digoreng. Nama pesok disematkan karena sajian ini bertekstur lembut dan mudah peyot atau pesok saat ditekan dengan jari.

Peler Berdebu dari Kepulauan Seribu, Jakarta, adalah versi lokal klepon: ubi ditumbuk, dicampur sagu, diisi gula merah, dikukus, dan ditaburi kelapa parut. Konon Peler Bedebu sudah ada sejak tahun 1970-an dan merupakan makanan khas Kepulauan Seribu.

Bol Jaran dari Jawa—nama yang merujuk pada bagian belakang kuda—adalah sebutan untuk kue ku berbentuk motif kura-kura berwarna merah yang populer saat Imlek dan selamatan.

Tai Kucing atau telek dari Solo adalah camilan tepung ketan bertabur gula yang juga dikenal sebagai widaran manis. Sejarawan Solo Heri Priyatmoko menjelaskan bahwa makanan ini sudah ada lebih dari satu abad, dan sumber tertua yang menyebutnya adalah majalah Sasadara terbitan Radyapustaka tahun 1901.

Wedang Pejuh dari Kudus, yang namanya mengingatkan pada cairan tertentu, ternyata adalah akronim dari: jeruk pemelo, jahe, sereh, dan susu kental manis. Segar dan hangat—jauh dari konotasi namanya.

Dan dari Aceh, ada Memek—bubur khas Pulau Simeulue berbahan pisang, beras ketan, dan santan. Dalam bahasa setempat, memek berasal dari kata mamemek yang artinya mengunyah beras. Sama sekali tidak vulgar dalam konteks aslinya.

Bedah Antropologi: Mengapa Nama-Nama Ini Lahir?

Pertanyaan yang lebih menarik bukan apa nama-nama itu, melainkan mengapa masyarakat merasa nyaman menggunakannya—bahkan mewariskannya lintas generasi.

1. Logika Penamaan Visual: Dunia Sebelum Metafora yang Sopan

Sejarawan Solo Heri Priyatmoko menjelaskan: “Wong Jawa senantiasa tidak memperumit dalam perkara penamaan barang. Acap terinspirasi dengan apa yang dijumpai di sekitarnya.”  Ini adalah prinsip kognitif yang sangat tua: penamaan berdasarkan kemiripan visual langsung, tanpa filter kesopanan yang baru muncul belakangan. Masyarakat agraris yang hidup dekat dengan alam—tubuh manusia, hewan, tanah—memandang anatomi bukan sebagai hal tabu, melainkan sebagai referensi deskriptif yang paling mudah diakses.

Dalam kerangka antropologi, ini disebut sebagai folk taxonomy—taksonomi rakyat yang mengkategorikan dunia berdasarkan pengalaman indrawi langsung, bukan berdasarkan norma linguistik yang dibangun institusi.

2. Tubuh sebagai Peta Semesta: Dimensi Filosofis

Dalam kosmologi Jawa—dan banyak tradisi Asia Tenggara—tubuh manusia bukan sesuatu yang memalukan. Tubuh adalah mikrokosmos, cerminan dari makrokosmos alam semesta. Organ reproduksi, dalam kerangka ini, bukan sesuatu yang hina; ia adalah simbol kesuburan, kelanjutan hidup, dan kekuatan kreatif.

Beberapa antropolog menghubungkan fenomena ini dengan tradisi phallicism yang tersebar luas di Asia Tenggara sebelum datangnya pengaruh kolonialisme dan puritanisme agama modern. Di Bali, misalnya, simbol phallus (lingga) adalah representasi spiritual yang dihormati. Di Nias dan beberapa masyarakat Dayak, referensi anatomis dalam ritual dan penamaan benda adalah hal yang lumrah—bukan lelucon, melainkan penanda kosmologis.

Ketika seorang nenek di Bantul menamakan kue buatannya “kontol kejepit,” ia mungkin tidak sedang bergurau. Ia sedang melakukan apa yang nenek moyangnya lakukan selama ratusan tahun: mendeskripsikan dengan jujur apa yang ia lihat.

3. Humor sebagai Strategi Sosial

Dari sudut pandang sosiologi, nama-nama ini juga berfungsi sebagai social glue—perekat sosial melalui tawa bersama. Di komunitas kecil, candaan bersama menciptakan rasa kebersamaan. Nama makanan yang mengundang tawa menjadi penanda identitas komunal: ini milik kita, dan kita tidak malu karenanya.

Dalam teori komunikasi, ini disebut carnivalesque—konsep yang dikembangkan filsuf Rusia Mikhail Bakhtin—yakni ruang di mana norma-norma sosial yang ketat sementara dibalik, tubuh dirayakan, dan bahasa yang biasanya ditekan justru dimunculkan. Pasar tradisional adalah ruang carnivalesque par excellence: bising, penuh warna, dan bebas dari kesopanan formal.

4. Pergeseran Makna Akibat Modernisasi

Fenomena menarik lainnya adalah bagaimana nama-nama ini bertransformasi atau bertahan justru karena tekanan modernisasi. Di era media sosial, nama seperti “kontol kejepit” menjadi viral—bukan karena masyarakat Bantul tiba-tiba menjadi vulgar, melainkan karena orang kota menemukan sesuatu yang dianggap shocking namun menghibur.

Ironinya, viralitas inilah yang kemudian menyelamatkan banyak jajanan ini dari kepunahan. Peli Kipu yang nyaris terlupakan kini mulai dijual lagi karena rasa penasaran wisatawan. Tolpit (kontol kejepit) menjadi primadona di Pasar Kangen Yogyakarta. Makanan-makanan ini menemukan pasar baru—bukan karena nostalgia, melainkan karena nama mereka yang provokatif bekerja sebagai strategi pemasaran organik yang luar biasa efektif.

Warisan yang Tak Boleh Malu

Ada sebuah paradoks yang indah di sini. Semakin “jorok” namanya, semakin ia bertahan. Sementara jajanan dengan nama biasa-biasa saja hilang ditelan zaman, Kontol Kejepit dan kawan-kawannya terus hidup—dibicarakan, diburu, dan difoto untuk diunggah ke media sosial.

Ini mengajarkan sesuatu yang dalam tentang memori kolektif: bahwa yang bertahan bukanlah selalu yang paling sopan atau paling elegan, melainkan yang paling jujur pada dirinya sendiri. Jajanan-jajanan ini adalah potret masyarakat yang tidak kenal munafik—masyarakat yang menamai dunia dengan apa yang mereka lihat, merayakan tubuh dengan cara yang sederhana, dan menyimpan filosofi besar di balik nama yang terdengar kecil.

Penamaan makanan tersebut, pada akhirnya, disepakati secara kolektif hingga akhirnya dikenal secara turun-temurun dan populer sebagai penamaan umum hingga saat ini. Itu bukan kecelakaan sejarah. Itu adalah pilihan budaya yang sadar—pilihan untuk tidak berpura-pura.

Di tengah dunia yang makin terstandarisasi, makin steril, dan makin khawatir pada political correctness, ada sesuatu yang melegakan dari sepiring kontol kejepit yang panas, renyah, dan sama sekali tidak peduli pada penilaian orang: ia ada, ia enak, dan ia bangga dengan namanya sendiri.

Begitulah jajanan rakyat Nusantara berbicara—keras, jujur, dan tak pernah memohon maaf.(*)

Tags: jurnalisme sejarah jajanan nusantaranama-nama porno jajanan nusantara
Share197Tweet123
admin

admin

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

April 22, 2018
Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

June 22, 2018
Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

January 30, 2019
Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

19
SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

11
Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

8
Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

October 23, 2026
Warga Makassar Padati Lokasi Gerakan Pangan Murah, BULOG Salurkan 1,5 Ton Beras

Warga Makassar Padati Lokasi Gerakan Pangan Murah, BULOG Salurkan 1,5 Ton Beras

October 22, 2026
Rehabilitasi Irigasi di Bangli Berikan Manfaat bagi Petani, Perbaikan Saluran Terus Dioptimalkan

Rehabilitasi Irigasi di Bangli Berikan Manfaat bagi Petani, Perbaikan Saluran Terus Dioptimalkan

October 22, 2026
Jayakarta News

Copyright © 2026 Jayakarta News

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politics
    • Business
    • World
    • Science
  • Entertainment
    • Gaming
    • Music
    • Movie
    • Sports
  • Tech
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup
  • Lifestyle
    • Food
    • Fashion
    • Health
    • Travel

Copyright © 2026 Jayakarta News

Go to mobile version