Kolom
Kupas Ketupat Lontong
Gde Mahesa
Sebenarnya tidak perlu nunggu Lebaran atau momentum Idul Fitri, yang namanya kupat atau ketupat lontong bisa kita temukan dalam kuliner keseharian. Akan tetapi, dengan momen lebaran, kedua jenis makanan tersebut jadi tambah populer.
Ihwal arti kupat tentu Jayakarters sudah tahu. Namun sejenak kita kulik asal muasalnya kok bisa menjadi branding lebaran, khususnya di Indonesia.
Ketupat dan lontong bukan sekadar makanan pendamping opor saat Lebaran, namun telah menjadi simbol budaya yang sarat akan nilai spiritual, sejarah, dan filosofi mendalam, khususnya di tanah Jawa. Keduanya memiliki “misteri” atau makna tersembunyi dalam anyaman dan pembungkusnya.
Dalam budaya Jawa, ketupat atau kupat merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat. Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan. Laku papat artinya empat tindakan.
Sedangkan nama “lontong” kerap diartikan sebagai singkatan dari “olone dadi kothong”, yang bermakna “kejelekannya telah hilang”.
Kedua hal tersebut sangat erat kaitannya dengan semangat bulan Ramadan dan perayaan Idul Fitri, di mana umat muslim saling bermaafan.
Lontong dan ketupat, dua jenis makanan khas Indonesia, memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan penyebaran Islam di Jawa. Dalam catatan sejarah, Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo, dianggap sebagai orang pertama yang memperkenalkan ketupat dan lontong kepada masyarakat Jawa sebagai bagian dari dakwahnya.

Sunan Kalijaga membaurkan budaya Jawa/Hindu-Buddha (yang sebelumnya menganggap ketupat sebagai hal yang sakral) dengan nilai-nilai Islam.
Konon ketupat atau kupat merupakan simbol perayaan hari raya Islam pada masa pemerintahan Kesultanan Demak pimpinan Raden Fatah awal abad ke-15. Bentuknya yang persegi empat bermakna “kiblat papat lima pancer,” sebagai keseimbangan alam yakni 4 arah mata angin yang bertumpu pada satu pusat.
Dikutip dari buku Makna Ketupat dalam Upacara Telung Bulan di Denpasar karya Ni Made Yuliani dan I Ketut Wardana Yasa (2020), ketupat telah diperkenalkan sejak jaman Hindu-Buddha.
Penyebutan kupat, akupat, dan kupat-kupatan tercantum dalam Kakawin Kresnayana, Kakawin Subadra Wiwaha, dan Kidung Sri Tanjung. Sebagai negeri agraris pada jaman Hindu-Buddha, ketupat merupakan bagian dari bentuk pemujaan terhadap Dewi Sri, yang merupakan dewi tertinggi dan terpenting bagi masyarakat agraris salah satunya di Nusantara.
Dalam perjalanan waktu, terjadilah desakralisasi dan demitologisasi yang mana Dewi Sri tidak lagi dipuja sebagai dewi kesuburan dan pertanian tetapi hanya sebagai lambang dengan dipresentasikan dalam bentuk ketupat. Hingga akhirnya ketupat merupakan perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pada era selanjutnya yakni era Kerajaan Demak ‘Kupat’ memiliki definisi arti dalam bahasa Jawa, yaitu ngaku lepat yang berarti ‘mengakui kesalahan’ atau laku papat (4 perilaku) yang juga melambangkan 4 sisi dari kupat, yaitu lebaran (pintu maaf), luberan (berlimpah), leburan (saling memaafkan), dan laburan (dari kata Labur; putih, yang berarti ‘bersih dari dosa-dosa’).
Lalu, mengapa kemudian ada lontong?
Menyadari bahwa tak semua daerah bisa dengan mudah memperoleh bahan baku ketupat. Dalam hal ini daun kelapa muda atau janur yang hanya tumbuh di wilayah pesisir. Akhirnya, sang pendakwah yang bernama asli Raden Mas Syahid itu pun mengkreasikan ketupat dengan pembungkus yang lebih mudah ditemukan di manapun.
Ketupat dalam sesaji, khususnya tradisi Jawa, di mana anyaman rumit janur melambangkan kompleksitas dosa manusia, sementara nasi putih di dalamnya melambangkan kesucian hati.
Ketupat juga menjadi simbol penolak bala, harapan kemakmuran, dan penghormatan kepada leluhur.
Sedangkan lontong dalam sesaji Jawa maupun tradisi kuliner Nusantara memiliki makna simbolis yang mendalam, tidak sekadar sebagai makanan pendamping. Secara umum, lontong melambangkan kesederhanaan, keharmonisan, dan doa kepada Tuhan.
Bullllll….. bullllll…. klepussss…..
