Kolom
Ketika Ramalan Menyapa Zaman Digital: Jayabaya dan Ronggowarsito
Oleh Brigjen TNI Purn MJP Hutagaol
> “Zaman edan, yen ora edan ora keduman. Nanging begja-begjane wong lali, luwih begja wong kang eling lan waspada.”
— Prabu Jayabaya, Raja Kediri
***
I. Zaman yang Dinyanyikan dari Masa Silam
Berabad-abad sebelum dunia mengenal listrik, mesin, dan layar kaca, Prabu Jayabaya telah menulis tentang masa depan yang penuh kekacauan. Kini, bait-bait ramalannya seperti cermin besar — memantulkan wajah zaman modern yang kehilangan arah.
Dulu ramalan itu seperti dongeng: kereta tanpa kuda, manusia mati mendadak, bumi berguncang tanpa sebab. Kini semua itu menjadi nyata. Kendaraan tanpa pengemudi, perang tanpa prajurit, bencana datang silih berganti, dan manusia kehilangan kedamaian batin di tengah kemajuan luar biasa.
Dalam khazanah kebijaksanaan Nusantara, Raja Jayabaya dari Kediri (abad ke-12) dikenal melalui Jangka Jayabaya — bukan sekadar ramalan, melainkan refleksi kesadaran kolektif bangsa tentang siklus zaman. Ia menulis bahwa setiap masa memiliki titik jatuh dan kebangkitannya sendiri; setelah masa gelap akan lahir masa rahayu, masa terang di mana kebenaran dan keadilan kembali menjadi pandu bangsa.
Sementara itu, Raden Ngabehi Ronggowarsito (1802–1873), pujangga besar dari Surakarta, melanjutkan warisan Jayabaya dengan karya Serat Kalatidha. Di sana ia menggambarkan “Zaman Edan” — masa ketika kebenaran tertukar, dan orang bijak harus tetap eling lan waspada.
Ronggowarsito bukan sekadar pujangga, tetapi penjaga kesadaran moral bangsa. Ia menulis bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengingatkan manusia agar tidak kehilangan arah di tengah arus kekuasaan dan kepalsuan.
***
II. Kalabendu: Cermin dari Zaman Digital
> “Yen wis ana kreta mlaku tanpa jaran, wong mati sak mendadak, iku wis tandane jaman bakal rusak.”
Kalabendu bukan hanya kerusakan alam, tetapi juga kerusakan batin dan nurani manusia. Di era digital, informasi melimpah tetapi kebijaksanaan menipis. Kecerdasan buatan berkembang, namun manusia kehilangan arah rasa. Teknologi memperpendek jarak antarnegara, tetapi memperlebar jarak antarhati.
Hidup serba cepat, tetapi jiwa semakin hampa. Kita kaya data, tetapi miskin makna. Digital bisa menjadi cahaya atau kegelapan — tergantung pada kesadaran penggunanya.
***
III. Dunia Terbalik: Benar Jadi Salah, Salah Jadi Benar
Jayabaya menulis, “Akeh wong pinter ilang karepe, wong bodho akeh pangange.”
Kini kita menyaksikannya di ruang publik dan dunia maya. Yang berilmu kehilangan arah, yang tidak mengerti malah berkuasa atas opini. Yang benar dituduh salah, yang salah dibenarkan karena kepentingan.
Zaman ini menjadikan kepintaran tanpa kebijaksanaan, dan kekuasaan tanpa rasa. Kebenaran sering kalah oleh kepalsuan yang dikemas indah. Inilah wajah zaman edan yang dinyanyikan leluhur kita.
***
IV. Bencana Alam dan Bencana Nurani
> “Banyu mili ora karuan, gunung njeblug, bumi gemeter.”
Banjir, gempa, gunung meletus, dan perubahan iklim kini bukan sekadar peristiwa alam, melainkan pesan keseimbangan dari jagat raya.
Ketika keserakahan menggantikan kepedulian, ketika alam dijadikan objek eksploitasi, maka bumi menegur dengan caranya sendiri.
Bencana alam hanyalah bayangan dari bencana nurani. Yang rusak bukan hanya hutan dan sungai, tetapi juga hati dan pikiran manusia.
***
V. Satria Piningit: Kesadaran yang Menyala
Banyak menunggu Satria Piningit turun dari gunung atau langit. Padahal, yang ditunggu sesungguhnya adalah kesadaran suci yang bangkit dalam diri manusia — kesadaran untuk menolak arus kebohongan dan kegelapan.
Satria itu bisa lahir dalam siapa saja: pemimpin yang jujur, rakyat yang setia pada kebenaran, atau pribadi sederhana yang bekerja dalam diam.
Satria sejati tidak mencari panggung, tetapi menyalakan terang di lingkungannya. Ia bukan simbol politik, melainkan nurani bangsa yang hidup kembali.
***
VI. Eling lan Waspada: Jalan Menuju Rahayu
Jayabaya memberi kunci keselamatan: eling (ingat pada asal dan nilai luhur), dan waspada (sadar terhadap tipu daya zaman).
Kini manusia lebih ingat pada gawai daripada jati diri, lebih takut kehilangan citra daripada kehilangan moral.
Padahal rahayu tidak datang dari kekuasaan atau teknologi, melainkan dari keseimbangan batin, kebersihan hati, dan kesadaran untuk hidup selaras dengan alam.
Pemimpin yang eling lan waspada akan menuntun, bukan menindas.
Rakyat yang eling lan waspada akan menjaga, bukan merusak.
***
VII. Dari Kalabendu Menuju Rahayu
Jayabaya menulis: setelah masa rusak akan datang masa rahayu — masa terang dan damai.
Namun rahayu tidak datang sendiri; ia lahir dari perubahan manusia itu sendiri.
Langkah menuju rahayu:
1. Kesadaran kolektif untuk berbenah — meninggalkan keserakahan dan kebohongan.
2. Kepemimpinan berhati jernih — melayani, bukan memerintah dengan ambisi.
3. Pendidikan karakter dan kebijaksanaan — menumbuhkan manusia yang berpikir sekaligus berperasaan.
4. Pemulihan hubungan manusia dengan alam — menegakkan kembali keseimbangan kehidupan.
Ketika empat hal ini tumbuh, rahayu bukan sekadar ramalan, tetapi kenyataan yang bisa dirasakan bersama.
***
VIII. Penutup: Saatnya Bangkit dari Edan
> “Wong sing eling lan waspada ora bakal ilang dalane.”
Zaman ini adalah masa ujian besar bagi bangsa. Kita sedang berjalan di batas antara kehancuran dan kebangkitan. Namun dari setiap kekacauan selalu lahir kesadaran baru.
Bangkitlah kesadaran Nusantara — lapisan jiwa purba bangsa ini sedang terpanggil untuk menuntun langkah, mengembalikan harmoni antara manusia, alam, dan kebenaran.
Jangan menunggu penyelamat dari luar, karena terang itu sesungguhnya sudah ada di dalam setiap diri yang eling lan waspada.
***
Catatan Kaki
1. Jangka Jayabaya merupakan teks ramalan yang diyakini ditulis pada masa Kerajaan Kediri (abad ke-12), menggambarkan siklus peradaban Nusantara.
2. R.Ng. Ronggowarsito (1802–1873), pujangga terakhir Keraton Surakarta, menulis Serat Kalatidha yang menyinggung konsep Zaman Edan — simbol disorientasi moral bangsa menjelang perubahan besar.
