Connect with us

Agribisnis

Produk Olahan Kelapa Maluku Utara Tembus ke Tiongkok

Published

on

Produk Olahan Kelapa Maluku Utara Tembus ke Tiongkok
Mentan Lepas Ekspor Produk Olahan Kelapa Maluku Utara (dok Kementan)

JAYAKARTA NEWS – Produk olahan komoditas kelapa asal Maluku Utara tembus ekspor ke Tiongkok senilai Rp24 triliun per tahun. Hilirisasi industri menjadi kunci.

“Saat ini ekspor kelapa kita bernilai sekitar Rp24 triliun per tahun. Jika dihilirisasi secara maksimal, nilainya bisa melonjak hingga 50-100 kali lipat, mencapai Rp1.000 triliun atau lebih,: ungkap Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat pelepasan ekspor di Halmahera Utara, dikutip Selasa (29/10/2025).

Menurut Mentan, hilirisasi industri kelapa menjadi kunci untuk meningkatkan nilai ekspor komoditas perkebunan nasional. Dengan mengolah kelapa menjadi produk bernilai tinggi, potensi ekonomi sektor ini diperkirakan bisa mencapai Rp1.000 triliun per tahun.

Ekspor kali ini menampilkan produk olahan seperti coconut milk, minyak kelapa murni (VCO), dan berbagai turunan lainnya, yang dihasilkan oleh PT NICO di Halmahera Utara.

Menurut Amran, langkah ini menjadi tonggak penting, menunjukkan bahwa hilirisasi kelapa kini telah berjalan hingga ke tingkat desa.

“Kita tidak lagi mengirim bahan mentah, tapi produk olahan. Ini adalah langkah bersejarah yang dimulai dari daerah,” kata Mentan Amran.

Mentan Amran juga mengatakan, program pengembangan 10 ribu hektare kebun kelapa baru di Maluku Utara pada 2026.

“Di Halmahera Utara akan ada 5 ribu hektare, sisanya di kabupaten lain. Ini gratis untuk petani. Jika berhasil, kita akan tambah lagi,” ujar Amran.

Amran menilai, hilirisasi perkebunan terbukti mampu meningkatkan nilai ekonomi kelapa secara signifikan. Dari harga Rp 3.000 per butir kelapa dapat meningkat hingga Rp 40 ribu.

“Harga kelapa mentah hanya Rp3.000 per butir. Tapi kalau diolah jadi coconut milk atau coconut water, nilainya bisa Rp40.000 hingga Rp50.000 per butir. Kenaikan ini sangat besar dan langsung berdampak pada kesejahteraan petani,” jelas Mentan Amran.

Data Kementerian Pertanian menyebutkan, Maluku Utara memiliki 158.953 hektare lahan kelapa produktif dengan produksi sekitar 1,02 miliar butir per tahun. Sebanyak 76 persen dari produksi ini telah diserap oleh industri hilir di provinsi tersebut.

“Kita tidak boleh hanya menjual kopra. Ke depan, kita ekspor coconut milk, coconut chips, hingga coconut flour. Ini akan meningkatkan devisa dan menekan kemiskinan di pedesaan,” tegas Amran.

Pemerintah juga berkomitmen untuk mendukung petani kelapa melalui penyediaan bibit unggul, pupuk, dan akses permodalan.

“Kami mendapat tambahan anggaran Rp10 triliun untuk menyediakan bibit gratis bagi petani, termasuk di Maluku Utara,” ungkap Mentan Amran. (yog)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement