Connect with us

Feature

KATA PERTAMA Buku Kata-kata Abai Qunanbayuli

Published

on

Pengantar Redaksi
Abai Qunanbayuly (1845 – 1904) adalah orang besar bangsa Kazakh. Ia seorang penyair, filsuf, komposer, dan tokoh sastra tertulis. Bangsa Kazakstan mengenal Abai juga sebagai reformis budaya. Karya besarnya adalah The Book of Words (Buku Kata-kata). Sebanyak 45 karya Abai kami persembahkan kepada sidang pembaca sebaga kudapan jiwa. Semoga kita bisa memetik hikmah dari setiap mutiara kata yang ditulis oleh Abai.

KATA PERTAMA

Demi kebaikan maupun keburukan, telah kuarungi kehidupan ini, melalui perjalanan panjang sarat akan perjuangan dan perseteruan, perselisihan dan pertentangan, penderitaan dan kegelisahan, hingga akhirnya tiba di titik usia lanjut kutemukan diriku di ujung tambatan, lelah atas segalanya.

Telah kusadari keangkuhan dan kegagalan atas jerih payahku, serta betapa kejinya keberadaanku.

Dengan apa kumengisi hidupku kini dan bagaimana kujalani sisa kehidupanku nanti? Sungguh kalut diriku terombang ambing tak kuasa menemukan jawaban atas pertanyaan ini.

Memimpin rakyat? Tidak, rakyat tidak mungkin dikendalikan. Biarlah beban ini ditanggung oleh seseorang yang rela mengikat dirinya pada penyakit yang tak dapat disembuhkan, atau oleh sosok pemuda dengan hati menggelora penuh gairah semangat membara. Semongga Allah menjauhkanku dari beban di luar kekuatanku! Mestikah aku melipatgandakan hasil ternak? Tidak, tak bisa kubegitu. Biarlah para darah muda mengembangbiakkan ternak jika memang itu yang mereka butuhkan. Tapi tak akan kugelapkan malamku untuk merawat ternak demi menghibur para berandal, pencuri, dan tukang nebeng.

Menghabiskan waktu menyibukkan diri menimba ilmu? Tetapi bagaimana aku akan mendalaminya ketika tak seorang pun ada untuk bertukar ilmu? Lalu, kepada siapa akan kuteruskan ilmu yang kuraih? Kepada siapa pula aku bertanya tentang hal yang aku sendiri tak tahu? Apalah guna duduk di padang rumput nan sepi dengan menggenggam setangkai arshin [1] (pengukur) untuk menjual kain? Terlalu banyak ilmu yang menjadi kepahitan dan kebencian yang mempercepat usia senja jika tdak ada seseorang di sampingmu untuk berbagi suka dan duka.

Memilih jalan para Sufi dan mengabdikan diri di jalan agama? Tidak, rasanya bukan itu pula yang kuinginkan. Panggilan hati ini membutuhkan ketenangan dan kedamaian pikiran seutuhnya. Namun aku pun belum mengenal kedamaian, dalam jiwa maupun dalam hidupku –dan ketakwaan seperti apa yang mampu berada di tengan orang-orang ini, di atas bumi ini!

Mendidik anak-anak, mungkin? Tidak, ini pun jauh dari kuasaku. Kiranya kumampu mengarahkan anak-anak, tentu kumampu, tapi diri ini pun tak menahu apa yang aku ajarkan dan bagaimana caranya.

Untuk pekerjaan apa, tujuan dan jenis masyarakat apakah, yang bisa kudidik mereka? Dengan langkah apa aku mengarahkan mereka dan menunjukkan jalan pada mereka jika diriku sendiri tak dapat melihat sepertimana murid-muridku mampu memanfaatkan ilmu yang mereka pelajari? Dan demikian jualah, aku masih tak kuasa menjadikan diriku berguna.

Jadi, kuputuskan sudah: mulai saat ini, hanyalah pena dan kertas yang menjadi pelipur laraku, dan aku akan menuangkan buah pikiranku. Kiranya seseorang dapat menemukan sesuatu yang berguna di sini, untuk ia salin dan ingat. Dan jika tak seorang pun membutuhkan kata-kataku, kata-kata ini akan tetap bersamaku.

Dan kini, kerisauan tak lagi bersemayam dalam diriku.

***

[1]: arshin: tangkai pengukur zaman dulu sekitar 28\inci.]

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement