Connect with us

Feature

KATA-KATA KEDUA: Buku Kata-kata Abai Qunanbayuli

Published

on

Pengantar Redaksi
Abai Qunanbayuly (1845 – 1904) adalah seorang penyair, filsuf, komposer, dan tokoh sastra tertulis Kazakstan. Bangsa Kazakh mengenal Abai juga sebagai reformis budaya. Karya besarnya adalah The Book of Words (Buku Kata-kata). Sebanyak 45 karya Abai kami persembahkan kepada sidang pembaca sebaga kudapan jiwa. Semoga kita bisa memetik hikmah dari setiap mutiara kata yang ditulis oleh Abai.

***

KATA-KATA KEDUA

Kala kukecil, sering kudengar kaum Kazakh mecemooh orang-orang Uzbek: “Kau orang Sart dengan jubah lebar, kau bawa jerami dari jauh hanya untuk menganyam atapmu! Kau menunduk dan memberi hormat ketika bertemu orang, tapi kau menghinanya di belakang. Kau takut pada sekitarmu; kau meracau tanpa henti, dan karena itulah mereka menyebutmu Surt-Sart [1] (orang Sart yang cerewet).

Bertemu kaum Nogai [2], kaum Kazakh juga mengolok dan memarahi mereka: “Orang Nogai takut dengan unta, menunggang kudanya pun cepat lelah, hingga mereka beristirahat sambil berjalan. Pelarian, prajurit dan pedagang –mereka berasal dari kaum Nogai. Tapi sudah sepantasnya kalian dipanggil Nokai [3] (dungu), bukan Nogai!”

Tentang kaum Rusia, mereka sering berkata: “Lembu Urus berkepala merah, apabila ia mengintai sebuah aul [4] (kampung), segeralah ia julurkan lehernya ke sana, ia lakukan apa pun yang terlintas di benaknya, mencari segala desas-desus dan gunjingan, dan percaya apa pun yang didengarnya”.

“Ya Tuhanku!” dengan bangga aku berpikir kala itu, “Ternyata dari seluruh luasnya dunia tak ada yang lebih baik dan lebih mulia dari kaum Kazakh!” Kata-kata seperti ini sungguh menghibur dan membahagiakanku. Namun inilah yang kulihat sekarang: Tak ada tumbuhan yang tak dapat ditanam kaum Sart, tak ada negeri yang tak kunjungi oleh pedagang kaum mereka, dan tak satu pun benda yang tak mampu mereka perbaiki dengan jemari mahir mereka. Rakyat jelata mereka hidup sentosa dan tidak mencari musuh. Seblum ada pedagang Rusia tinggal di kalangan kami, kaum Sart-lah yang menyediakan kaum Kazakh pakaian untuk yang hidup dan kain kafan untuk yang wafat, dan mereka jualah yang membeli ternak, membuat para ayah dan anak-anaknya sulit seiya-sekata dalam membagi hasil mereka. Sekarang, di bawah Rusia, kaum Sarts telah mengadaptasi inovasi lebih cepat daripada kaum lainnya. Hartawan yang mulia dan ulama terpelajar, keahlian dan kemewahan serta adab kesopanan –Kaum Sart punya segalanya.

Aku beralih ke kaum Nogai, dan melihat mereka bisa menciptakan prajurit yang hebat, serta tangguh menghadapi kemiskinan dengan penuh ketabahan. Mereka menghadapi kematian dengan rendah hati, melindungi keberadaan sekolah dan menghormati agama –mereka tahu caranya bekerja keras dan menjadi kaya, sebagaimana mereka tahu cara berpakaian dan bersenang-senang.

Tapi, kita kaum Kazakh, berpikir: Kami membanting tulang untuk orang kaya mereka demi sepotong roti. Mereka tidak akan membiarkan orang kaya kita masuk ke rumah mereka. “Hei, kau orang Kazakh,” kata mereka, “lantai kami bukan untuk dipijak oleh sepatu kotormu.” Aku tak akan bicara tentang orang Rusia. Kita bahkan tidak sanggup membandingkan diri dengan pelayan-pelayan mereka. Kemanakah masa suka cita kita dahulu pergi?

Dimanakah tawa riang kita?

***

Catatan Kaki:

[1] Surt-Sart: mengoceh, orang yang cerewet]
[2] Nogai: panggilan kaum Kazakh untuk Kaum Tartar]
[3] Nikai: dangkal, bodoh]
[4] Aul: Kampung, komunitas nomaden]

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement