Kolom
Indonesia Suarakan Perdamaian Palestina–Israel: Damai Lebih Mulia daripada Dendam
Konflik Palestina–Israel mengguncang nurani dunia. Di Sidang Majelis Umum PBB ke-79 di New York, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato penuh pembelaan atas kebijakan negerinya.
Di sisi lain, penderitaan rakyat Palestina belum berakhir—korban sipil, khususnya anak-anak dan perempuan, terus berjatuhan.
Dalam forum yang sama, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengambil posisi berbeda: bukan membela satu pihak, melainkan menyuarakan jalan damai yang bermartabat. Indonesia kembali menegaskan dukungannya pada solusi dua negara yang adil: Palestina berhak merdeka, Israel berhak hidup aman.
Amanat UUD 1945
Sikap Indonesia tidak lahir tiba-tiba. Sejak proklamasi, bangsa ini menegaskan pijakan moral yang kokoh. Pembukaan UUD 1945 menyatakan:
> “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.”
Amanat konstitusi inilah yang membuat Indonesia konsisten membela hak bangsa Palestina untuk hidup merdeka. Namun di saat yang sama, Indonesia juga mengingatkan dunia bahwa Israel sebagai bangsa pun memiliki hak untuk hidup aman tanpa ancaman pemusnahan.

Semangat Bandung yang Tak Pernah Padam
Tahun 1955, Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung. Konferensi bersejarah itu melahirkan Dasasila Bandung, yang menegaskan penolakan terhadap kolonialisme, penghormatan persamaan derajat bangsa-bangsa, dan penyelesaian sengketa secara damai.
Semangat Bandung masih relevan hingga kini. Dunia diingatkan bahwa kekerasan hanya akan melahirkan lingkaran dendam lintas generasi. Penyelesaian damai, bagaimana pun sulitnya, tetap menjadi jalan yang paling bermartabat.
Prinsip Non-Blok
Enam tahun kemudian, Indonesia turut membidani lahirnya Gerakan Non-Blok (1961) bersama India, Mesir, Yugoslavia, dan negara lain. Prinsipnya jelas: tidak berpihak buta pada blok Barat atau Timur, melainkan menempuh jalur independen yang berpihak pada kemanusiaan dan keadilan.
Hari ini, prinsip Non-Blok kembali mendapat ujian. Indonesia menolak berpihak membabi buta—baik pada Israel maupun Hamas yang didukung Iran. Indonesia memilih berpihak pada kemanusiaan, menempatkan hak hidup manusia lebih tinggi daripada kepentingan geopolitik.

Suara Prabowo di PBB
Dalam pidatonya di PBB, Presiden Prabowo menekankan tiga hal penting:
1. Hentikan segera kekerasan dan korban sipil.
2. Tegakkan keadilan bagi rakyat Palestina.
3. Berikan jaminan keamanan bagi Israel dan Palestina untuk hidup berdampingan.
Pesan ini terdengar sederhana, tetapi justru di situlah kekuatannya. Indonesia tidak berbicara dengan bahasa senjata, melainkan dengan bahasa kemanusiaan. Pesannya tegas: damai lebih mulia daripada dendam.

Belajar dari Nelson Mandela
Sejarah dunia sudah memberi teladan yang nyata. Nelson Mandela, pejuang anti-apartheid Afrika Selatan, dipenjara selama 27 tahun oleh rezim kulit putih. Ia kehilangan kebebasan, keluarganya hancur, hidupnya terenggut oleh jeruji besi.
Namun ketika keluar dari penjara pada 1990, Mandela tidak menebar dendam. Ia memilih jalan rekonsiliasi, mengajak bangsa kulit hitam dan kulit putih hidup bersama dalam satu negara demokratis. Empat tahun kemudian, Mandela terpilih sebagai Presiden Afrika Selatan—dan menjadi simbol perdamaian dunia.
Apa yang dilakukan Mandela memberi pelajaran penting: luka sejarah tidak harus diwariskan sebagai dendam. Luka bisa disembuhkan jika ada kebesaran hati untuk memilih perdamaian. Inilah pelajaran yang seharusnya menginspirasi para pemimpin Timur Tengah.

Penutup: Pilih Kemanusiaan, Bukan Kebencian
Indonesia pernah menjadi inspirasi dunia lewat Bandung 1955. Kini, melalui suara Presiden Prabowo di PBB, Indonesia kembali menawarkan pencerahan:
Jangan hanya memilih pihak, tetapi pilihlah kemanusiaan.
Jangan hanya mengulang dendam, tetapi hentikan penderitaan.
Kemenangan sejati bukanlah mengalahkan lawan, melainkan mengakhiri perang dan membangun perdamaian.
Seperti Nelson Mandela yang membuktikan bahwa rekonsiliasi lebih kuat daripada kebencian, Indonesia mengingatkan dunia bahwa perdamaian jauh lebih berharga daripada kemenangan semu dalam perang.
***

Penulis: MJP Hutagaol
Jakarta, 1 Oktober 2025
Catatan Kaki
1. Benjamin Netanyahu, Pidato Sidang Majelis Umum PBB ke-79, New York, September 2025.
2. Prabowo Subianto, Pidato Sidang Majelis Umum PBB ke-79, New York, September 2025.
3. Konferensi Asia Afrika, Dasasila Bandung, Bandung, 1955.
4. Nelson Mandela, Long Walk to Freedom, 1994.
