Film ‘Yuni’ – Antara Mitos dan Patriarki

 Film ‘Yuni’ – Antara Mitos dan Patriarki

Adegan film ‘Yuni’ (foto Fourcolours Films).

JAYAKARTA NEWS – Bagi masyarakat di daerah, banyak yang masih percaya adanya mitos, klenik dan dongeng tahyul yang saling berkelindan. Terlebih lagi, di suatu daerah tertentu yang dominan menganut sistem patriarki (laki-laki paling berkuasa), kaum wanita sering ditindas (entah disengaja atau tidak disengaja) dalam hal-hal tertentu, seperti kekuasaan dalam sosial politik, bahkan dalam otoritas rumah tangga dan keluarga.

Kaum hawa masih saja terbelenggu dan terjerat oleh budaya dan agama. Yuni (dimainkan secara baik oleh Arawinda Kirana), siswi SMA di suatu daerah yang berbahasa Jaseng (Jawa Serang, Jawa Banten) punya obsesi ingin membebaskan diri dari tradisi budaya patriarki. Dia gadis remaja cerdas dan tangkas yang bermimpi besar  untuk kuliah di kota.

Yuni simbolisasi cewek yang berpikiran ingin maju jauh ke depan. Vivere pericoloso alias nyerempet-nyerempet bahaya, istilah jadulnya. Ia berani menolak lamaran dua  lelaki yang terpikat kepada dirinya. Salah seorang gurunya yang bertampang ganteng yang acap diolok-olok punya ‘pantat bagus’ juga ditepisnya. Penolakan ini memicu gosip.

Mencuat mitos di kalangan warga desa tersebut, jika seorang wanita menolak tiga lamaran, ia tak akan menikah seumur hidup. Sialnya, Yuni mendapat tekanan dari orang tuanya, agar ia segera menikah dan menerima lamaran ketiga.

Berhasilkah Yuni yang ‘memberontak’ dan berupaya melepaskan diri dari belenggu patriarki dan sistem tradisi dan agama yang tidak sesuai dan selaras lagi dengan kekinian?

Sepanjang durasi hampir dua jam, kita menyaksikan gerak langkah dan ulah tingkah Yuni yang lekas, yang dinamis dan bergerak cepat. Bahkan, dalam urusan seks pun, pemikiran Yuni jauh selangkah ke depan dibanding teman-teman sekelasnya.  Misalnya dalam soal kondom, masturbasi dan tes keperawanan di sekolahnya. Ia bahkan mau ditiduri (atau meniduri) seorang kawan lelaki kelasnya yang menjual pulsa, di sebuah bangunan sunyi nun jauh dari keramaian.

Dalam hal ini, sutradara  Kamila Andini sukses menggiring Arawinda Kirana, aktris pendatang baru berseni peran mencorong. Perhatikan gesture dan improvisasi Arawinda yang cemerlang memerankan Yuni. Jujur kita katakan ‘roh’ Yuni hadir kedalam tubuh Arawinda Kirana.

Maka tak salah Dewan Juri FFI 2021 menobatkan Arawinda Kirana sebagai aktris utama terbaik yang pantas menggondol piala Citra. Memang, sesuai judulnya, film produksi Fourcolours Films dan Star Vision ini hampir seluruhnya bicara ihwal potret perjalanan masa remaja di sekolah tentang Yuni.

Sedangkan pemeran-pemeran lain hanya sampiran saja, seperti Kevin Ardilova, Dimas Aditya, Asmara Abigail, Marissa Anita, Muhammad Khan, Ayu Laksmi, Neneng Risma dan sekeranjang artis lain. Hanya yang pantas diketengahkan akting Asmara Abigail yang suka bersolek dan mengajak Yuni ke salon serta berajojing di diskotek yang dipenuhi warna ungu. Kehadiran Asmara Abigail pun tak perlu disesalkan. Dia hanya muncul sebagai pelengkap, lalu menghilang begitu saja.

Cerita yang ditulis Kamila Andini dan Prisma Rusdi diakui sangat kuat di segi penokohan dan alur cerita. Plot lurus yang tidak njlimet boleh dipujikan. Dan yang penting, ‘Yuni’ sebagai film Indonesia setelah menyabet Platform Prize di Toronto International Film Festival, sekali lagi meraih Silver Hanoman Awards di Jogja International Netpac Film Festival yang baru saja dihelat di Jogjakarta. Semoga ‘Yuni’ yang mewakili Indonesia di ajang Oscar Academy Awards kategori feature film 2022 dapat merenggut prestasi di negara Paman Sam. (pik)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.