Connect with us

Kolom

Dilema Tenaga Pendidik dengan Media Sosial

Published

on

Oleh Cyndi Kay Sena, Mahasiswa Komunikasi Universitas PTIQ Jakarta

Kemudahan akses media sosial saat ini sangat mempengaruhi hubungan pengguna dengan ponselnya. Dari laporan State of Mobile 2024 diketahui, masyarakat Indonesia menjadi negara dengan pengguna ponsel paling tinggi di dunia dengan durasi rata-rata mencapai 6,05 jam perharinya pada 2023. Lalu disusul  Thailand, Argentina, Arab Saudi dan Brazil pada 5 tingkat teratas. Hal ini menggambarkan kondisi masyakarat Indonesia kecanduan gadget. Termasuk penggunaan media sosial seperti Instagram, Tiktok, Twitter dan terbaru Threads.

Pengguna internet dan media sosial beragam usia, mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa. Berbagai kalangan pun ikut meramaikan euphoria media sosial dari mulai masyarakat umum, petugas tena kerja kesehatan, selebriti, tokoh-tokoh politik juga tenaga pendidik. Dengan segala kepentingannya, media sosial menjadi wadah yang dipandang efektif untuk menyampaikan berbagai pesan dengan bentuk audio visual.

TikTok dinilai sebagai platform media sosial yang paling cepat menyebarkan konten- kontennya yang biasa disebut dengan viral. Inilah yang membuat penggunanya seringkali kecanduan karena efek dari popularitas instan yang bisa didapatkan. Platform buatan Zhang Yiming ini mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan dari tahun 2018 sampai sekarang.

Positif dan Negatif

Di balik kemudahan beroleh gawai, terdapat kisah miris. Belum lama ini, terjadi sebuah kasus yang dilakukan oleh tenaga pendidik akibat relasinya dengan media sosial yang dianggap tidak mencerminkan sebagai seorang yang amanah dalam menjalankan tugasnya di lembaga pendidikan.

Namanya Febrini, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 1 Mempawah, Kalimantan Barat, didemo ratusan siswa. Penyebabnya  karena telat mengisi Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PPDS) untuk kepentingan mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2025. Ini artinya ratusan siswa eligible gagal masuk Perguruan Tinggi Negeri favorit tanpa tes.

Dari akun TikTok Febrini, ada beberapa video yang unggah dengan menggunakan seragam ASN bewarna cokelat dan ada juga dengan latar lingkungan sekolah, selain itu banya video yang memperlihatkan aktivitas kesehariannya. Hal ini membuat para  siswa-siswi  menduga sebagai alasan kelalain Febrini. Yaitu: bermain media sosial hingga lupa waktu dan lalai dengan kewajibannya yang pada akhirnya merugikan banyak orang.

Sebagai tenaga pendidik apalagi seorang pengajar, sikap dan perilaku sebagai seorang guru sangat diperhatikan. Ia menjadi sosok yang digugu (dipercaya) yang mempunyai ilmu dan wawasan yang luas sehingga bisa menjadi sumber informasi yang credible, juga ditiru (diteladani) yang berarti segala perbuatannya berkaitan dengan moralitas yang dapat dijadikan contoh oleh murid-muridnya.

Apabila dalam penggunaan media sosial, tenaga pendidik justru memperlihatkan sikap tidak profesional, hal ini akan memengaruhi citra guru tersebut. Belum lagi, pemberitaan yang ramai tentang guru-guru yang mengajarkan murid untuk membuat konten bergoyang lalu diunggah di TikTok. Selain itu,  ada pula oknum guru yang viral karena merangkul penyanyi lalu menyawerkan sejumlah uang di perayaan HUT PGRI ke-77.

Beberapa contoh tersebut menjadikan sosok guru yang seharusnya mempunyai tanggung jawab untuk mentransfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) dan entransfer nilai (transfer of value),  kini semakin terkikis.

Efek yang ditimbulkan bukan hanya berdampak pada kalangan tenaga pendidik saja, namun juga permasalahan yang akhirnya muncul pada perilaku murid di sekolah. Realitas ini dapat dimaknai  sebagai kemunduran moralitas yang semakin lama semakin terlihat pada ranah pendidikam. Padahal seharusnya justru jadi pondasi awal seseorang untuk melangkah pada dunia yang lebih luas.

Nanum tidak semua cerita ihwal media sosial negatif, Karena  faktanya banyak juga yang positif. Salah satunya seperti dari akun @nonaguruu atau @janganjadiguru yang menjadikan TikTok sebagai wadah berbagi infomasi mengenai kebutuhan siswa, pendidikan serta media pembelajaran yang efektif. Sehingga bisa dicontoh untuk para guru lainnya.

Hal ini menjadi angin segar, diantara banyaknya pengaruh-pengaruh buruk yang bertebaran di berbagai platform. Akun-akun yang berusaha memberikan dampak baik terhadap sistem pendidikan di Indonesia ini meyakini bahwa dampak dari media sosial sangatlah besar. Sehingga apa yang mereka bagikan di akunnya masing- masing akan menjadi sebuah efektivitas kemajuan dalam hal teknologi maupun dunia pendidikan.

Perlu Regulasi

Dengan melihat fenomena yang terjadi ini, maka dapat dipahami bahwa media sosial memang seperti pisau bermata dua. Jika mampu mengelolanya dengan benar.  maka akan menghasilkan manfaat namun apabila tidak digunakan secara bijak justru akan menimbulkan masalah, bukan hanya untuk diri sendiri namun juga lingkungan sekitar.

Menurut penulis, hal yang mampu mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diingankan terutama dalam dunia pendidikan, perlu adanya regulasi yang secara tegas mengatur mengenai penggunaan media sosial di lingkungan sekolah. Juga pengaturan  mengenai waktu dan bentuk konten yang bisa diunggah oleh tenaga pendidik yang menggunakan seragam dinasnya. Tujuannya bukan untuk membatasi kreativitasnya, namun untuk menjaga agar seorang tenaga pendidik mampu memahami tanggung awab moral yang ada di tangannya.

Esensi dari pendidikan adalah membangun sebuah peradaban yang berakhlakul karimah dan melek secara intelektulitas. Jika tidak ada regulasi yang khusus memperhatikan hal ini, maka tenaga pendidik tidak ada pendoman mengenai penggunaan media sosialnya. Selain itu, perlunya pelatihan peningkatan kapasitas secara berkala agar tenaga pendidik dapat melakukan pendekatan kepada murid dengan cara yang lebih efektif dan terarah, bukan hanya dengan mengikuti apa yang sedang viral.

Harapannya pemerintah mampu mendukung hal ini agar para guru mampu untuk fokus mengembangkan potensi siswa namun juga tetap memberikan ruang kepada tenaga pendidik untuk lebih sejahtera dalam menerima haknya.***

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *