Dari Sampah Tercipta Karya Seni Indah

 Dari Sampah Tercipta Karya Seni Indah

Bintang dan Rozzan dalam Art Expo “#kepoinaja”

Bunda Dewi menerima rangkaian bunga saat membuka Pameran “#kepoin Aja” Di Sangkring Art Space dari Rozzan (Kiri) dan Bintang (kanan). (foto: nina)

JAYAKARTA NEWS – Bintang dan Rozzan menampilkan karya seni rupa yang bertolak dari pemanfaatan limbah. Di Art Expo “#kepoinaja” seni tidak berhenti untuk seni. Ia memberi solusi pada persoalan hidup manusia yang tak pernah bisa disetop kehadirannya. Masalah sampah!

Brosur produk makanan, kemasan bohlam dan kotak sepatu bagi banyak orang adalah barang buangan. Mereka tak memiliki arti. Tapi, perupa remaja Bintang Tanatimur, mampu menyulap benda sampah itu menjadi kolase yang indah. Di atas sebuah kotak sepatu yang ia gelar, Bintang menempelkan kemasan bohlam dan kertas brosur. Tangan kreatifnya mencacah-cacah ruang yang tercipta menjadi bentuk-bentuk geometris tak beraturan. Di dalam ruang-ruang itu Bintang melukis berbagai ragam bangun dan garis dengan sapuan warna-warna kuat menyala. Jadilah “Rich”, 76 x 66 cm, sebuah karya seni kaya bentuk, sarat warna.    

Karya Bintang lainnya, “Barokah”, juga kolase. Remaja kelas satu SMP Nurul Islam ini menempelkan 17 buah bungkus bekas kemasan di atas kertas ukuran 100 cm x 100 cm, membentuk empat barisan. Setiap baris berisi empat buah kecuali baris ketiga yang dihuni lima bungkus kemasan. Sebuah keputusan yang berani. Sebab, kolom yang kemudian tercipta tidak membentuk garis lurus yang kaku dan monoton. Itu justru menambah kesan hidup. Karya yang tercipta secara keseluruhan menjadi lebih hidup lagi oleh goresan Bintang. Di atas ruang-ruang pembungkus itu Bintang melukis aneka bentuk dengan spidol. Ada buah anggur. Ada paha ayam goreng. Ada sepatu. Ada gitar. Ada pohon. Ada gelas berisi minuman. Ada bentuk geometris berwujud seperti bintang. Sebuah imajinasi yang liar dari remaja yang bercita-cita menjadi pelukis dan pemusik ini.            

Seratusan pengunjung memadati acara pembukaan Pameran “#kepoin Aja” di Sangkring Art Space Yogyakarta. (foto: nina)
Pengunjung menikmati karya karya Bintang dan Rozzan pada saat pembukaan Pameran “#kepoin Aja”. (foto: nina)
Suasana pojok melukis tanpa cat di sela-sela pameran “#kepoinaja”. (foto: nina)

Sementara Rozzan menciptakan sesosok manusia dari bahan  kardus yang sudah selayaknya pantas menghuni keranjang sampah. Tak asal sosok yang ia ciptakan. Michael Jackson! Penyanyi kelas jagad raya itu menjadi idola Rozzan. Kardus ia potong-potong. Guntingan itu ia satukan menjadi wujud manusia tiga dimensi.  Cat acrilyc ia gunakan untuk menegaskan bahwa si manusia ciptaannya itu adalah Michael Jackson lewat ciri khas si penyanyi  mulai dari tampang, rambut keriting sampai aksesoris topi, kacamata hitam, baju dan sepatu.  Rozzan menamainya “The Way You Make Me Feel”, sama seperti satu judul lagu dari “The King of Pop” itu.

“Defeading Math” karya Rozzan. (foto: nina)
Kiri: “Rich” kolase karya Bintang. Kanan: “Barokah” kolase karya Bintang. (foto: nina)

Boneka yang terbuat dari potongan kanvas juga menjadi media Rozzan berekspresi. Di bagian belakang, ia oleskan satu warna terang. Di bagian depan badan si boneka, ia mencorat coret angka-angka. Aneka warnanya. Beragam ukurannya. Berserakan letaknya. Angka-angka itu memberikan kesan si boneka seperti hidup walau organ-organnya tidak lengkap: tanpa mata juga tak memiliki hidung dan mulut. Rozzan yang bercita-cita menjadi arsitek ini menamai karya tiga dimensi ini “Defeading Math.”

Rozzan Favian Jiwani dan Bintang Tanatimur bukan pesulap yang menghadirkan benda baru lewat bantuan tongkat ajaib dan mantra bim salabim. Mereka mendandani barang buangan yang  layak menghuni keranjang sampah lewat tangan kreatif, imaginasi tanpa batas dan tentu saja ketekunan yang luar biasa. Bagi remaja yang tumbuh di era milenial, berkarya dengan limbah adalah sesuatu yang tak biasa.

Bintang memberikan alasan mengapa limbah ia tampilkan untuk karyanya. “Setiap hari, rumah saya menghasilkan banyak sampah. Saya mencoba meminimalisir.”  Rozzan pun berargumen, “Aku suka Michael Jackson. Aku buat dia dari kardus.” Kedua cowok belia itu memiliki kisahnya masing-masing. Mereka menyatukan cerita itu lewat pameran lukisan bersama di Sangkring Art Project, Nitiprayan, Sanggrahan, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Pameran yang berjudul “#kepoinaja” itu dibuka 31 Maret dan berlangsung sampai dengan tanggal 19 April.

Rozzan dan Bintang terhitung mujur. Mereka tumbuh di lingkungan yang mendukung. Orang tua masing-masing memfasilitasi dan menyuguhkan suasana yang pas untuk memancing kreativitas mereka. Pikiran kedua bocah itu mampu menangkap, merekam dan kemudian meramu segala ihwal yang  mereka temui di seputar kehidupannya. Proses itu mengendap jauh di dasar ingatan, dan  pada perjalanan berikutnya, keduanya menuangkan ramuan itu ke dalam sebuah karya seni.

Rozzan dan karya-karyanya. (foto: nina)
Michael Jackson, Iron Man dan Deadpool karya tiga dimensi Rozzan. (foto: nina)

Cerita Rozzan, “Sejak kecil aku suka  corat coret. Lalu ayah memberiku kertas dan mengajariku menggambar. Tahun 2014, aku mulai melukis di atas kanvas.” Namun dalam pembukaan pameran di Sangkring Art Project sore itu, di depan hadirin, Rozzan mengakui bahwa ide-idenya malah bukan berasal dari sang ayah, M.A. Rozig – fotografer, tetapi muncul dari  orang lain. “Saya terinspirasi dari karya teman-temannya Bapak yang seniman,” tutur murid kelas satu SMP Mutiara Persada ini.  Tahun 2018, Rozzan duet bersama sang ayah dalam visual art exibition yang diberi judul “Artmosphere”.

Tutur Bintang yang beberapa kali berpameran baik tunggal, duet atau bersama banyak perupa anak, “Aku melukis setiap Sabtu dan Minggu. Di sekolah, aku lebih suka corat coret sendiri di tengah pelajaran yang membosankan.” Ia terdorong melukis berkat suasana rumahnya yang ‘nyeni banget’ sekaligus dukungan orang tua yang mendampingi sekaligus menfasilitasi. Rumah Bintang di kawasan Jatak, Jalan Godean Yogya penuh dengan lukisan. Tak ada dinding di tempat tinggalnya yang tampak melompong.  Setiap jengkalnya tergantung karya seni. Ayahnya, Mikke Susanto, adalah dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang juga perupa. Bundanya, Rina Kurniyati, adalah pelukis kaca. “Tugas kami sebagai orang tua adalah memfasilitasi agar anak-anak bisa tumbuh dan berkembang secara maksimal,” kata Rina di hadapan seratusan pengunjung yang memadati pembukaan pameran. Pada kesempatan itu, Rozzan dan Bintang mempersembahkan rangkaian kembang cantik kepada bunda masing-masing sebagai ungkapan sayang dan rasa terimakasih.

Pada pembukaan pameta “#kepoinaja” Rozzan dan Bintang menyerahkan rangkaian bunga untuk Bunda masing-masing. sebuah ungkapan rasa sayang dan terimakasih. (foto: nina)

Bunda Dewi Smaragdina, Ketua Blue Economy Foundation, berdecak kagum pada sosok Bintang dan Rozzan. “Bintang dan Rozzan adalah bagian dari implementasi. Barang yang bagi orang lain sampah, di tangan remaja empat belas tahun ini, disulap menjadi benda seni  bernilai tinggi,” paparnya. Ia menyempatkan terbang dari Jakarta ke Yogyakarta khusus untuk membuka acara Art Expo “#kepoinaja”. Bunda Dewi menambahkan ada tiga hal yang ia lihat pada sosok kedua remaja berbakat itu. Pertama, hasil karyanya luar biasa. Anak-anak mendapatkan kebebasan berpikir dan ruang lingkup yang mendukung, ini yang kedua. Dan terakhir, Rozzan dan Bintang menginspirasi teman sebaya maupun para orang tua untuk ikut terlibat dalam mendongkrak nilai dari benda-benda tak berhaga di seputaran tempat tinggal mereka.

Kata Bunda Dewi, “Indonesia masuk dalam fase darurat sampah!” Menurut penilaiannya, jika ukuran darurat itu terbentang dari angka 1 sampai dengan 10, posisi Indonesia berada pada urutan ke-9. Si Bunda yang juga duduk sebagai anggota Dewan Penilai MAPPI (Masyarakat Profesi Penilai Indonesia) mengajak masyarakat Indonesia untuk mulai peduli memafaatkan sampah seperti yang dilakukan Bintang dan Rozzan. “Sentuhan kreativitas dan inovasi mampu membuat benda tak berguna menjadi bernilai, bahkan sampai jutaan,” tambahnya. Ia mengkoleksi beberapa lukisan Bintang yang dibelinya dengan harga jutaan rupiah.  

Bunda Dewi sendiri merespon kondisi kegentingan di areal produksi sampah nasional ini dengan membuat proyek pegelolaan sampah di Jepara, Kepulauan Seribu dan Karimun Jawa. (Ernaningtyas

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *