Grojogan Watu Purbo adalah salah satu destinasi wisata alam yang sangat menarik. Terletak di Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, objek wisata ini menawarkan spot selfie yang sangat cantik.
Enam air terjun buatan tangan-tangan kreatif ini terletak di Sungai Krasak, yang berhulukan Gunung Merapi. Tapi tidak perlu kawatir. Jarak Grojogan Watu Purbo dengan puncak Merapi sekitar 17 kilometer. Relatif aman.
JAYAKARTA NEWS – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno menjajal atraksi seru saat visitasi 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021 ke Desa Wisata Karanganyar, Magelang Jawa Tengah, Selasa (12/10/2021).
Sebelum tiba di desa wisata yang berjarak 2,5 kilometer dari Candi Borobudur itu, Menparekraf Sandiaga berkeliling desa menaiki ATV, bermain sepak takraw bersama anak-anak, hingga mencoba kerajinan gerabah yang merupakan salah satu warisan leluhur, yang terdapat dalam interpretasi relief di candi Budha terbesar di dunia itu.
Sampai di balkondes Karanganyar, Sandiaga disambut tarian Kubro Ponco Siswo. Ia juga sempat melihat beraneka kerajinan di pendopo. Mulai dari bambu, gerabah, lukisan daun buddhis, kuliner hingga melihat kambing etawa yang susunya banyak kandungan untuk kesehatan tubuh, mulai dari sumber kalori, protein, dan lemak.
Di bidang ekonomi kreatif selain mempromosikan dan menjual produk kriya kerajinan gerabah, masyarakat desa terus berinovasi dalam memasarkan anyaman bambu dan ukir bambu untuk terus meningkatkan perekonomian lokal dalam wadah UMKM.
“Desa ini memiliki daya tarik wisata yang menggabungkan pesona alam dan budaya, dan kita bisa melihat sunrise dan yang sangat menarik di sini ada wisata gerabah. Yang dulu dipromosikan oleh Demi Moore dalam filmnya yang berjudul Ghost. Ini adalah pariwisata berbasis komunitas kita harapkan bisa jadi contoh pengelolaan desa wisata di Indonesia,” kata Menparekraf Sandiaga di desa wisata Karanganyar dalam Siaran Pers Kemenparekraf, Selasa (12/10).
Menparekraf juga sempat bermalam di salah satu dari 20 Balkondes yang ada di sekitar kawasan Destinasi Super Prioritas Borobudur itu. Ia mengatakan fasilitas di Balkondes ini sangat lengkap. Bangunan bergaya arsitektur Jawa ini mempunyai fasilitas resto, penginapan, galeri, dan aula. “Saya mengajak wisatawan yang berasal dari perkotaan untuk tinggal di Balkondes atau homestay milik masyarakat. Karena pengalamannya berbeda, bagaimana kita bisa merasakan suasana desa, kita juga bisa menikmati udara segar yang memiliki sensasi tersendiri. Meskipun namanya Balkondes tapi pengalamannya seperti bintang lima” katanya.
Untuk menuju ke tempat ini sangat mudah. Dari gerbang utama Candi Borobudur ambil arah ke selatan dan kemudian tinggal mengikuti informasi di papan petunjuk jalan menuju Desa Wisata Karanganyar. Dalam kesempatan tersebut, turut mendamping Menparekraf Sandiaga Uno, Direktur Tata Kelola Destinasi Indra Ni Tua, Dirut Badan Otorita Borobudur (BOB) Indah Juanita, Sekda Kabupaten Magelang Adi Waryanto. (*/mel)
Laporan Jayakarta News Channel dari ujung barat Indonesia, tepatnya dari Pulau Simeulue, Aceh. Pemandangan cantik tampak di senja hari itu. Kecantikan Simeulue, sebuah kecantikan pulau terluar yang belum tereksplor.
JAYAKARTA NEWS – Kami mulai bisa tersenyum kembali. Kata, Mely, petugas penerima tamu Hotel The Wujil, Semarang, Jawa Tengah seraya matanya tampak berkaca-kaca. Ketika menceritakan tamu yang menginap terus meningkat. Perasaan Mely tersebut bisa dimengerti karena hotel sempat berbulan nyaris tidak ada tamu dan berimbas pada kehidupan karyawan.
Senyum Mely itu, Sabtu pagi (8/10], boleh jadi juga mewakili manajemen Hotel The Wujil. Bahkan Mely juga dapat dikatakan mewakili sejumlah hotel di banyak tempat yang mulai diinapi banyak orang. Sejak memasuki akhir September 2021 keterisian kamar hotel mulai terjadi peningkatan.
Ini cerita perjalanan setelah satu setengah tahun tidak keluar rumah karena pandemi Corona. Persisnya, tanggal 7 Oktober 2021, saya mendapat undangan untuk bicara dalam diskusi tentang Media di Wonosobo, Jawa Tengah bersama sahabat lama Risa Karmida pengajar public speaking dari Yogyakarta. Dulu ketika Risa masih di Metro TV sering meliput acara yang saya produseri, Talkshow Polemik Radio Trijaya di Warung Daun Jakarta. Kali ini berani bepergian setelah melihat trend penderita yang terkena Covid-19 mulai mereda. Pemerintah juga sudah membuka sebagian pengetatan pergerakan orang.
Berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang tampak suasana Terminal 3 cukup ramai. Petugas Bandara Soekarno-Hatta mengakui terjadi peningkatan penumpang belakangan ini. Pesawat Citilink yang saya tumpangi juga penuh. Pergerakan atau aktivitas manusia tampaknya sudah dimulai. Walaupun tetap dengan protokol kesehatan ketat. Hal ini bisa dirasakan dari “ribetnya” prosedur masuk ruang Bandara chek in sampai memasuki area ruang tunggu boarding. Ketat. Sepakat.
Memasuki Wonosobo Kamis malam hari dengan perhitungan masih banyak hotel kosong sehingga tidak pesan sebelumnya, ternyata salah. Hotel pilihan penuh. Terpaksa pakai extra bed karena saya perlu ditemani anak. Karyawati di meja penerima tamu Hotel Front One Harvest juga mengakui sudah beberapa pekan ini wisatawan mulai berdatangan.
Usai acara Diskusi Media saya meninggalkan Wonosobo menuju Semarang. Dalam perjalanan mencoba kontak hotel-hotel di Semarang ternyata penuh. Seorang teman menyarankan, ada The Wujil Hotel memasuki Semarang yang akan saya lewati nanti. Betul. Saya melihat hotel di wilayah Ungaran. Beruntung masih ada satu kamar. Kali ini tidak pakai ekxtra bed karena teman yang menemani ke Wonosobo pulang ke rumahnya di Semarang. Saya bersama anakku.
Luas dan Nyaman
Malam hari saat menaruh tas di kamar, terbaca brosur di meja. Wujil Night BBQ setiap Jumat dan Sabtu dan live musik, harga Rp. 99 ribu. Murah. Langsung coba. Lokasi di Agra Lounge lantai empat The Wujil Hotel. Suasana sangat nyaman. Kesan awal, luas, rapi dan apik. Separuh dari Agra Lounge ini terbuka atapnya sehingga menambah kenyamanan yang fantastis ketika menyantap makanan langsung di bawah langit.
Udara sejuk Gunung Ungaran berhembus lembut di area Agra Lounge juga menjadi nilai tambah suasana makan malam. Tetapi suasana tetap hangat dengan suara musik live permainan anak muda dari Salatiga yang tergabung dalam E-Coustic. Mereka memainkan musik irama yang enerjik.
Tampaknya pengunjung Agra Lounge lebih menyukai ruang terbuka jika melihat lebih banyak meja terisi di wilayah ini. Tentu ruang dengan atap tertutup juga menjadi plihan sejumlah pengunjung. Makanan yang disajikan cukup lengkap dan mewakili pilihan setiap orang. Ada, sup, salad, aneka grill, minuman segar dan lainnya. Penempatan kambing guling diawal jajaran menu makanan langsung membangkitkan selera. Strategi cerdas.
Pagi yang terang membuat suasana lobi The Wujil tampak nyata. Penggunaan meja kayu dengan ketebalan 8 cm dan lebar 70 cm yang jumlahnya cukup lumayan banyak sampai ruang breakfast menciptakan kesan klasik. Kayu selalu menciptakan citra tinggi di manapun. Manajemen The Wujil tampaknya menyukai asesoris kayu dipadu dengan sentuhan modern. Lesung tua yang bentuknya tidak lagi sempurna karena usia menjadi meja tamu lobi dipadu dengan kaca bening tebal.
Lobby The Wujil bermeja lesung semakin klasik dengan kursi “bemo” beralas anyaman rotan. Kursi bemo atau ada juga yang meyebut becak karena bentuknya yang melengkung dikenal nyaman diduduki. Kursi model tempo dulu yang umumnya di tempatkan di ruang tamu atau teras, nyaman diduduki. Pagi hari membaca koran dengan sajian kopi sangat pas rasanya.
Konon, luas hotel ini secara keseluruhan mencapai empat hektar dengan 102 kamar dan masih akan melalukan penambahan. Fasilitasnya untuk tamu keluarga cukup banyak dan variatif. Pendeknya, The Wujil Hotel ini cukup nyaman. Banyak tamu terkesan. *** (ekk)
JAYAKARTA NEWS – Berada di Kampung Sereh, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua hari-hari ini, kita pasti akan mengucap, “nikmat mana lagi yang kau dustakan”. Betapa tidak, di sini, baru saja diresmikan pusat kuliner Hele’yo, yang menyajikan menu utama aneka olahan makanan pokok Papua, yakni sagu.
Tidak hanya itu, Kampung Sereh adalah salah satu “surga kecil” yang ada di Bumi Cendrawasih. Ia berlatar belakang Danau Sentani yang indah. Letaknya di bawah lereng Pegunungan Cagar Alam Cyclops. Danau ini memiliki luas sekitar 9.360 hektare dan berada di ketinggian 75 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Tidak keliru jika Kodam XVII/Cenderawasih sejak awal mendukung penuh pembangunan pusat kuliner Hele’yo. Adalah Kolonel (Czi) Arief Novianto, Kazidam Cenderawasih yang ditugaskan untuk membangun pusat kuliner itu.
Satu hal lagi yang patut diapresiasi adalah, pengambilan momentum yang tepat. Pusat kuliner Hele’yo diresmikan di tengah-tengah gegap-gempita Pekan Olahraga Nasional (PON) XX 2021, Papua.
Ribuan atlet termasuk official, ditambah para supporter datang dari berbagai penjuru Tanah Air ke wilayah paling timur Indonesia. Jika ditotal, barangkali sekitar 10.000 orang. Berdasar data, jumlah atlet (saja) mencapai 7.039 orang. Mereka berasal dari 34 kontingen (provinsi) di Indonesia. Ditambah, kontingen tuan rumah.
Hal itu dibenarkan Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Ignatius Yogo Triyono, saat menghadiri dan meresmikan pusat kuliner Hele’yo, Kamis (7/10/2021). Lulusan Akmil 1988 itu menambahkan, berdirinya pusat kuliner The Hele’yo merupakan salah satu wujud implementasi 8 Wajib TNI yang di antaranya adalah membantu kesulitan masyarakat yang berada di sekelilingnya. “Dan program ini sejatinya merupakan inisiasi dari Bapak Letjen TNI (Purn) Doni Monardo,” tambah Mayjen Yogo.
Pusat Kuliner The Hele’yo, lokasi yang pas untuk menyantap aneka olahan sagu sambil menikmati indahnya Danau Sentani. (foto: Pendam XVII/Cendrawasih)
Yogo benar. Doni-lah yang menggagas pusat kuliner tersebut pada tahun 2019. Karenanya, panitia mengundang Letjen TNI (Purn) Dr. (HC) Doni Monardo hadir dalam acara peresmian. Jarak pun tak menghalangi Doni untuk hadir, meski secara virtual.
Adapun undangan lain yang hadir pada acara hari itu adalah Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, S.E., M.Si, anggota MRP Ny. Dorlince Mehue, tokoh adat, tokoh masyarakat setempat dan sejumlah pejabat di lingkungan Kodam XVII/Cenderawasih.
Tak ada yang menyangkal, jejak-jejak Doni Monardo di Sentani tampak begitu jelas dan nyata. Bermula dari bencana alam banjir bandang di Kabupaten Jayapura tahun 2019 yang menewaskan tak kurang dari 100 orang. Saat itu, sebagai kepala BNPB, Doni terjun langsung ke sana.
Bukan saja persoalan bencana banjir yang disentuh, Doni yang juga Pembina Yayasan Kita Jaga Alam itu menaruh perhatian terhadap pemulihan perekonomian masyarakat. Dalam banyak kesempatan, Doni menekankan tekadnya memuliakan Papua lewat pendekatan kesejahteraan, sebagaimana jejak Emas Biru dan Emas Hijau di Maluku saat dirinya menjabat Panglima Kodam XVI/Pattimura.
“Salah satu upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua tadi adalah mengangkat potensi alam Papua ke pentas nasional. Berangkat dari konsep kolaborasi pentahelix, maka saya melibatkan semua unsur untuk terlibat, termasuk para pengusaha,” jelas mantan Kepala BNPB itu.
Doni bersyukur gagasannya terwujud. Tak lupa, ia menyampaikan terima kasih kepada para pihak yang mendukung berdirinya The Hele’yo. Ia berharap, Hele’yo akan mampu mengggerakkan perekonomian masyarakat Kampung Sereh, Sentani pada khususnya, dan warga Papua pada umumnya.
“PON XII di Papua adalah momentum yang sangat baik. Tempat ini akan menjadi salah satu destinasi wisata para peserta PON dari berbagai daerah,” tandas Doni.
Jejak Doni di Sentani
Mendiang Theys Eluay
Sedikit mengilas balik jejak-jejak Doni Monardo di Sentani, tampak jelas jika kita membuka buku “Titik Nol Corona: Doni Monardo di Pusaran Wabah”. Pada halaman 213, buku karya Egy Massadiah itu mengangkat judul menarik “Theys Eluay Tersenyum di Surga”.
Judul itu mengguratkan sejarah pahit yang berakhir manis. Sejak kematian tokoh Papua Theys Eluay tahun 2001, hubungan Kopassus dengan Papua boleh dibilang memanas. Kopassus tidak saja mendapat kecaman masyarakat Papua, tetapi dunia.
Syahdan, Doni Monardo mendapat penugasan menjadi Danjen Kopassus tahun 2014 – 2015. Saat itu Doni masih merasakan adanya duri tajam. Doni kontan mengundang Boy Michael Eluay, putra sulung mendiang Theys ke Markas Kopassus di Cijantung, Jakarta Timur, pada momen peringatan ulang tahun Kopassus ke-63.
Boy pun keluar dari persembunyiannya dan memenuhi undangan Doni. Mereka melakukan pembicaraan dari hati ke hati, begitu intens dan mendalam. Semua kecamuk rasa dan emosi dikuak untuk kemudian diredam.
Akhirnya, Boy dengan lapang dada memaafkan pelaku pembunuhan terhadap ayahnya. Bahkan kepada media, Boy saat itu mengatakan, “Tak ada lagi dendam. Kami diajarkan untuk saling mengasihi, seperti ajaran leluhur.”
Perdamaian dan persaudaraan itu pun dikukuhkan dengan pemberian jaket Kopassus bertuliskan “Sahabat Kopassus” di dada kiri, dan nama Boy Eluay di dada kanan. Doni Monardo langsung yang memakaikan jaket itu ke tubuh Boy.
Persahabatan itu terus dipelihara, sekalipun Doni tak lagi menjabat Danjen Kopassus. Boy wafat tahun 2018 karena sakit. Lagi-lagi Doni pun sempat mengupayakan perawatan atas sakitnya di RSPAD, di bawah penanganan langsung Direktur RSPAD (ketika itu) Dr Terawan Agus Putranto (mantan Menkes).
Sejak Boy wafat, posisi ondofolo atau kepala suku Sentani dipegang adik Boy yang bernama Yanto Eluay (hingga sekarang). Jalinan persahabatan Doni dan Yanto pun tersambung dan tak pernah putus. Alhasil, mereka dipertemukan Tuhan, saat Sentani dilanda banjir, dan (kebetulan) Doni Monardo menjabat Kepala BNPB.
Bukan sekali Doni ke Sentani, tapi beberapa kali. Satu kali di antaranya ia sempat mengajak Menko PMK Muhadjir Effendy, Anggota DPR RI Ace Hasan Syadzily, dan rombongan singgah ke pendopo adat Onfofolo Sentani, dan diterima ondofolo Yanto Eulay.
Kini, jejak Doni di Sentani makin terpatri dengan diresmikannya Pusat Kuliner The Hele’yo.
Nah, mungkin Anda bertanya-tanya, apa makna Hele’yo, sehingga dijadikan nama pusat kuliner itu?
Penjelasan pun meluncur dari Ny. Dorlince Mehue yang mewakili Ondofolo Kampung Sereh. Ia menuturkan, bahwa Kampung Sereh bahasa aslinya disebut Hele’yo. Sebuah kampung yang mempunyai nilai sejarah luar biasa.
Hele’yo mempunyai arti tempat wadah air dan makanan yang berasal dari tanah liat. Dalam kesempatan itu, Ny Dorlince juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan perhatian yang begitu besar kepada masyarakat Papua khususnya masyarakat Kampung Sereh.
“Mewakili Ondofolo dan atas nama seluruh masyarakat adat Kampung Sereh mengucap syukur dan terima kasih kepada Bapak Letjen TNI (Purn) Dr. (HC) Doni Monardo, Pangdam XVII/Cenderawasih dan Bupati Jayapura atas pembangunan Pusat Kuliner The Hele’yo,” ungkapnya.
Dalam acara peresmian tersebut juga dilaksanakan penandatanganan penyerahan Pusat Kuliner The Hele’yo dari Pangdam XVII/Cenderawasih kepada Yanto Eluay yang diwakili oleh istrinya, Ny Yolanda Eluay.
Kini, saatnya Anda mencatat objek pusat kuliner “Hele’yo” dalam agenda kunjungan ke Papua. Nikmati aneka olahan sagu. Nikmati panorama surgawi Danau Sentani. (Roso/Egy)
Trans Studio Bandung, sejak berdiri tahun 2011, belum ada yang menandingi. Utamanya dalam hal kelengkapan dan keluasan area. Tak heran jika pelancong luar kota, merasa belum ke Bandung kalau belum seru-seruan di Trans Studio Bandung.
Seperti apa kondisi Trans Studio Bandung di era pandemi? Konon tidak semua wahana beroperasi. Bahkan harga tiket masuknya pun didiskon model “buy 1 get 1 free”.
Taman Burung Cemara Asri, terletak sekitar 8 km dari kota Medan. Nama taman burung tak lepas dari ribuan burung yang mukim di sini. Ada bangau, belibis, dan lain-lain.
Selain aneka jenis burung, juga terdapat danau buatan dengan berbagai jenis ikan di dalamnya. Salah satunya ikan lele berukuran besar. Bahkan ada yang seukuran lengan orang dewasa.
Sebuah spot menarik yang bisa dikunjungi, mengisi liburan.
Candi Plaosan adalah sebutan untuk kompleks percandian di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Candi ini terletak kira-kira satu kilometer ke arah timur-laut dari Candi Sewu atau Candi Prambanan.
Mengapa candi ini juga disebut candi cinta? Simak video ini.
Ada lebih dari 20 kilometer ruas sungai Ciliwung yang menjadi ajang wisata arung sungai. Lebih tepatnya, wisata arung edukasi sungai Ciliwung. Berangkat dari Pos Pantau Ratujaya dan berakhir di kolong jembatan Juanda, Kota Depok. Cukup seru.
Kalau saja masyarakat makin giat memelihara kebersihan sungai Ciliwung, bukan tidak mungkin sepanjang aliran Ciliwung bisa menjadi ajang wisata arung sungai yang menarik.
Sebutan pantai, tidak saja berlaku untuk bibir samudera, melainkan juga tepian danau. Seperti yang ada dalam video ini: Pantai Bahari. Pantai yang berada di Kabupaten Parapat ini, memang dinamakan Pantai Bahari.
Meski, arti bahari sendiri adalah laut. Apakah itu berarti masyarakat Parapat menganggap danau adalah laut? Apalah arti sebuah nama. Nikmati saja keindahannya.