The Wujil Hotel dan Tanda Gairah Wisata

 The Wujil Hotel dan Tanda Gairah Wisata

Kursi “bemo” di lobby hotel The Wujil yang menambah nuansa klasik (foto: ekk)

JAYAKARTA NEWS – Kami mulai bisa tersenyum kembali. Kata, Mely, petugas penerima tamu Hotel The Wujil, Semarang, Jawa Tengah seraya matanya tampak berkaca-kaca. Ketika menceritakan tamu yang menginap terus meningkat. Perasaan Mely tersebut bisa dimengerti karena hotel sempat berbulan nyaris tidak ada tamu dan berimbas pada kehidupan karyawan.

Senyum Mely itu, Sabtu pagi (8/10], boleh jadi juga mewakili manajemen Hotel The Wujil. Bahkan Mely juga dapat dikatakan mewakili sejumlah hotel di banyak tempat yang mulai diinapi banyak orang. Sejak memasuki akhir September 2021 keterisian kamar hotel mulai terjadi peningkatan.

Ini cerita perjalanan setelah satu setengah tahun tidak keluar rumah karena pandemi Corona. Persisnya, tanggal 7 Oktober 2021, saya mendapat undangan untuk bicara dalam diskusi tentang Media di Wonosobo, Jawa Tengah bersama sahabat lama Risa Karmida pengajar public speaking dari Yogyakarta. Dulu ketika Risa masih di Metro TV sering meliput acara yang saya produseri, Talkshow Polemik Radio Trijaya di Warung Daun Jakarta. Kali ini berani bepergian setelah melihat trend penderita yang terkena Covid-19 mulai mereda. Pemerintah juga sudah membuka sebagian pengetatan pergerakan orang.

Berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang tampak suasana Terminal 3 cukup ramai. Petugas Bandara Soekarno-Hatta mengakui terjadi peningkatan penumpang belakangan ini. Pesawat Citilink yang saya tumpangi juga penuh. Pergerakan atau aktivitas manusia tampaknya sudah dimulai. Walaupun tetap dengan protokol kesehatan ketat. Hal ini bisa dirasakan dari “ribetnya” prosedur masuk ruang Bandara  chek in sampai memasuki area ruang tunggu boarding. Ketat. Sepakat.

Memasuki Wonosobo Kamis malam hari dengan perhitungan masih banyak hotel kosong sehingga tidak pesan sebelumnya, ternyata salah. Hotel pilihan penuh. Terpaksa pakai extra bed karena saya perlu ditemani anak. Karyawati di meja penerima tamu Hotel Front One Harvest juga mengakui sudah beberapa pekan ini wisatawan mulai berdatangan.

Usai acara Diskusi Media saya meninggalkan Wonosobo menuju Semarang. Dalam perjalanan mencoba kontak hotel-hotel di Semarang ternyata penuh. Seorang teman menyarankan, ada The Wujil Hotel memasuki Semarang yang akan saya lewati nanti. Betul. Saya melihat hotel di wilayah Ungaran. Beruntung masih ada satu kamar. Kali ini tidak pakai ekxtra bed karena teman yang menemani ke Wonosobo pulang ke rumahnya di Semarang. Saya bersama anakku.

Luas dan Nyaman

Malam hari saat menaruh tas di kamar, terbaca brosur di meja. Wujil Night BBQ setiap Jumat dan Sabtu dan live musik, harga Rp. 99 ribu. Murah. Langsung coba. Lokasi di Agra Lounge lantai empat The Wujil Hotel. Suasana sangat nyaman. Kesan awal, luas, rapi dan apik. Separuh dari Agra Lounge ini terbuka atapnya sehingga menambah kenyamanan yang fantastis ketika menyantap makanan langsung di bawah langit.

Udara sejuk Gunung Ungaran berhembus lembut di area Agra Lounge juga menjadi nilai tambah suasana makan malam. Tetapi suasana tetap hangat dengan suara musik live permainan anak muda dari Salatiga yang tergabung dalam E-Coustic. Mereka memainkan musik irama yang enerjik.

Tampaknya pengunjung Agra Lounge lebih menyukai ruang terbuka jika melihat lebih banyak meja terisi di wilayah ini. Tentu ruang dengan atap tertutup juga menjadi plihan sejumlah pengunjung. Makanan yang disajikan cukup lengkap dan mewakili pilihan setiap orang. Ada, sup, salad, aneka grill, minuman segar dan lainnya. Penempatan kambing guling diawal jajaran menu makanan langsung membangkitkan selera. Strategi cerdas.

Pagi yang terang membuat suasana lobi The Wujil tampak nyata. Penggunaan meja kayu dengan ketebalan 8 cm dan lebar 70 cm yang jumlahnya cukup lumayan banyak sampai ruang breakfast menciptakan kesan klasik. Kayu selalu menciptakan citra tinggi di manapun. Manajemen The Wujil tampaknya menyukai asesoris kayu dipadu dengan sentuhan modern. Lesung tua yang bentuknya tidak lagi sempurna karena usia menjadi meja tamu lobi dipadu dengan kaca bening tebal.

Lobby The Wujil bermeja lesung semakin klasik dengan kursi “bemo” beralas anyaman rotan. Kursi bemo atau ada juga yang meyebut becak karena bentuknya yang melengkung dikenal nyaman diduduki. Kursi model tempo dulu yang umumnya di tempatkan di ruang tamu atau teras, nyaman diduduki. Pagi hari membaca koran dengan sajian kopi sangat pas rasanya.

Konon, luas hotel ini secara keseluruhan mencapai empat hektar dengan 102 kamar dan masih akan melalukan penambahan. Fasilitasnya untuk tamu keluarga cukup banyak dan variatif. Pendeknya, The Wujil Hotel ini cukup nyaman. Banyak tamu terkesan. *** (ekk)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *