Sejuta Pisang Amsari

TANPA sensasi, Amsari bisa sukses menjadi penjual pisang. Modal lelaki paruh baya ini hanya tekun dan ulet. Kini, dari berjualan aneka pisang segar, Amsari bisa meraup pendapatan satu juta rupiah per hari. Ia bahkan mempekerjakan enam anak buah untuk membantunya berjualan pisang secara bergantian.

Warung buah Amsari terletak di Rawa Denok, Depok – Jawa Barat. Pagi pukul 06.00, ia sudah membuka usahanya. Jam tutup, biasanya pukul 15.00 WIB. Para pembeli yang datang, umumnya adalah langganan. Bisa dipahami, mengingat Amsari sudah berjualan pisang di tempat itu sejak tahun 2006.

Berbagai jenis pisang bisa didapat di warung Amsari. Mulai dari pisang ambon, ambon lumut, pisang raja, barangan, pisang mas, pisang nangka, pisang kepok, pisang raja, raja sereh, pisang tanduk, dan lain-lain. Memang, kata Amsari, ada kalanya jenis pisang tertentu kosong. Ini sangat tergantung pada pasokan yang ia dapat.

Seiring berjalannya waktu, Amsari menambah ragam jualannya dengan jenis buah yang lain. Biasanya, tergantung musim. Jika musim mangga, ia pun menjual mangga. Musim rambutan, ia pun sedia aneka jenis rambutan.

Dari ketekunannya berjualan pisang dan buah-buahan lainnya itu, Amsari sukses mengantar tiga orang anaknya menyelesaikan sekolah. Kini, Amsari bahkan mengaku lega, karena ketiga anaknya sudah berkeluarga. Selain memiliki rumah sendiri, juga sudah bisa membeli kendaraan roda dua. ***

Sibuk Dagang Lupa Kawin

BISNIS batik, lupa kawin. Itu kalimat singkat untuk menggambarkan sosok Agung (44). Setelah lulus STM, ia tidak berminat melanjutkan sekolah. Tidak juga ingin bekerja sesuai keahliannya. Tekadnya satu: Berdagang untuk membantu keluarga.

Berjualan batik, itu keputusannya. Maka, Agung pun keliling kota-kota penghasil batik di Jawa. Tujuan pertama ke Cirebon, mengenali dan mendalami batik trusmi. Kemudian geser ke Pekalongan, untuk lebih dekat mengenal batik pesisiran. Setelah itu ke Yogya dan Solo, pusat batik klasik Jawa. Selanjutnya ke Banyuwangi di Jawa Timur.

Syahdan, dengan modal seadanya, Agung berhasil membawa pulang aneka motif batik. Selain didapat dengan harga miring, ia pun bisa menjajakan aneka batik kepada calon konsumen. “Soalnya kan selera orang berbeda-beda. Ada yang senang batik Solo, ada juga yang senang batik pesisiran,” ujarnya.

Awal ia berjualan, dimulai dari lingkar terdeka. Keluarga besar, kemudian ke teman-teman, baru ke segmen lain di luar keduanya. Tidak jarang, ia menyambangi ibu-ibu majelis taklim yang sedang pengajian. Atau menggelar dagangan di acara-acara arisan keluarga.

Pendek kalimat, usahanya lancar-jaya. Dari jualan door to door, akhirnya ia bisa menyewa kios di sebuah pusat perbelanjaan. Ketekunan dan keuletan serta usaha keras pun berbuah manis. Kini, Agung tidak lagi dikenal sebagai penjual batik eceran, ia bahkan sudah melayani pembelian secara grosir. Bukan hanya itu, outletnya pun sudah bertambah di sejumlah mal.

Saking sibuk berdagang, satu hal ia lupa: Kawin. Tapi ia mengaku cukup bahagia akhirnya bisa membantu orang tua dan membiayai adik-adiknya sekolah. ***

Ngeri, Dua Anak Terlibat Pedofilia

MENTERI Sosial Khofifah Indar Parawansa langsung turun tangan ketika mengetahui bahwa dua tersangka pedofil ternyata masih berusia anak. Pihaknya juga mengapresiasi keberhasilan aparat Polda Metro Jaya yang telah meringkus empat orang pelaku pedofilia online yang beroperasi di media sosial Facebook menggunakan akun “Official Candy’s Group”.

Dua pedofil berusia anak itu masing-masing SH (16) dan DF (17) kini berada di Rumah Perlindungan Sosial Anak (Shelter) Kementerian Sosial di Bambu Apus, Jakarta.

Mensos mengatakan, Kementerian Sosial telah menyiapkan Tim Rehabilitasi Sosial Anak untuk memberikan konseling dan pendampingan terhadap dua pelaku ini. Mereka dirujuk Polda Metro Jaya pada Jumat (10/3) pukul 21.00 WIB ke Shelter. Sesuai prosedur tetap maka keduanya ditampung di Rumah Antara. Di tempat ini, tim akan melakukan registrasi, observasi, dan terapi awal.

“Tim terdiri dari para Pekerja Sosial, Tenaga Medis, dan Psikolog. Seluruhnya ada 18 orang. Tugasnya adalah memberikan pendampingan dan advokasi sosial, membantu proses pemulihan dan perubahan perilaku anak, memberikan pertimbangan kepada aparat penegak hukum untuk penanganan rehabilitasi sosial anak,” papar Khofifah.

Ia mengatakan kedua pelaku yang merupakan admin dari “Official Candy’s Group” di Facebook ini akan berada di Rumah Antara maksimal selama satu bulan. Dalam kurun waktu tersebut tim akan melakukan asessmen. Apabila proses tersebut selesai dan telah ditemukan bentuk penanganan yang tepat, mereka akan dipindahkan ke asrama yang juga berada di komplek shelter.

“Karena mereka masih berusia anak, maka selama proses penyidikan berjalan mereka kan tidak boleh ditahan di penjara. Maka mereka dititipkan di Shelter Kemensos di Bambu Apus. Sekarang proses observasi dan terapi masih terus berjalan, tapi memang belum sangat mendalam karena mereka masih harus bolak-balik menjalani pemeriksaan di Polda Metro,” kata Mensos.

Seperti diketahui Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Mochammad Iriawan dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (14/3) menyatakan Subdit VI Cyber Crime Polda Metro Jaya menangkap empat orang pengelola (admin) dari grup Facebook bernama Official Candy’s Group. Grup ini dijadikan sebagai wadah berbagi video dan foto yang memuat konten pornografi anak. Diperkirakan lebih dari 7.000 anggota aktif di dalam grup tersebut.

Para admin bertugas menerima anggota baru serta mengeluarkan anggota yang tidak aktif atau tidak ikut mengirimkan gambar atau video pelecehan anak di bawah umur. Polisi mencatat setidaknya ada 500 film dan 100 foto bermuatan pornografi anak dalam grup Facebook “Official Candy’s Groups”. Para anggota grup harus rutin mengirim video atau gambar pornografi anak terbaru yang belum pernah dikirim ke grup manapun. Apabila tak melakukannya, para pelaku yang berperan sebagai admin grup akan memberikan sanksi.

“Ini kejahatan yang mengancam generasi penerus bangsa ini. Bayangkan, ada 7.000 anggota yang aktif, maka ada berapa banyak jumlah korbannya? Bisa jadi lebih dari jumlah anggota grupnya,” tutup Mensos prihatin.***

Terjemur Demi Carabiniere

ENTAH untuk tujuan melihat kapal perang, helikopter atau sekadar ingin berfoto bersama awak kapal, kedatangan kapal Fregat Carabiniere ini sempat menarik ratusan warga Jakarta dan sekitar, ke Tanjung Priok, JICT2 Jakarta.

Jika melihat antrean panjang untuk mendapatkan karcis band favorit itu biasa, kali ini antrean yang terjadi pada hari Minggu lalu memang beda. Mulai dari anak kecil, remaja, dewasa dan orang tua berbaris rapi. Meski matahari cukup menyengat antrean bak “ular melingkar” bertahan berjam-jam. Sampai akhirnya mendapat giliran menaiki tangga kapal perang Carabiniere dari Italia.

Adalah Fregat Carabiniere, kapal Angkatan Laut Italia bersandar di Tanjung Priok selama 5 hari. Fregat dengan nomor lambung F 593 mulai meninggalkan pangkalannya di La Spezia, Italia Desember tahun lalu. Setelah  melintasi Terusan Suez, kapal ini singgah di Arab Saudi kemudian melintasi Samudra Hindia menuju Australia sebelum ke Indonesia. Dari Jakarta mereka singgah ke Malaysia, Singapura, Pakistan dan Sri Lanka sebelum kembali ke Italia

Penulis bersama penerbang helikopter kapal perang Italia.

Sebagai kapal dengan kemampuan anti kapal selam dengan panjang total 114 meter dan lebar 19,4 meter ini dapat menjalankan misi kapal tempur, anti rudal dan memiliki kemampuan perang terbuka dan dapat membawa dua helikopter. Kelebihan lainnya dapat menjalankan misi kemanusiaan seperti penanggulangan bencana dan dilibatkan dalam menyelamatkan penggungsi.

Tentu saja tujuan utama hadirnya kapal AL Italia ke Indonesia dan negara lainnya untuk menjalin kerjasama dengan jajaran Angkatan Laut di dunia, selain tentunya mendukung perwakilan Diplomatik Italia yang ada di negara tersebut di atas.

Mereka pun ingin menunjukkan bahwa kapal Carabiniere ini produk teknologi terkini Italia lewat program Frigate Europea Multi Missione (FREMM) yang dikembangkan dari Perancis dan Italia. Di samping tentunya negara ini sudah terkenal dalam beberapa hal seperti budaya, makanan, fashion dan tentu saja tim sepak bolanya.***

Berkebaya, Indah dan Mudah

SEBAGIAN perempuan beranggapan mengenakan kain kebaya hanya cocok digunakan saat menghadiri resepsi pernikahan atau acara resmi. Ada pula yang menganggap hanya bagi mereka yang usianya sudah lebih dari separuh abad.

Tapi kini anggapan tersebut dibantah kaum perempuan baik orang per orang maupun yang tergabung dalam komunitas. Bahwa berkain dan berkebaya atau berkebaya dipadupadankan dengan sarung kini sudah biasa dan cocok digunakan untuk kegiatan sehari hari.

Di antaranya Komunitas Cinta Berkain (KCB) yang belum lama ini merayakan ulang tahun ketiga, di Jakarta.”Berkebaya bukan sesuatu yang ribet, yang menjadikan perempuan sulit bergerak. Tanpa meninggalkan pakem, perempuan Indonesia memakai kebaya tetap bisa leluasa beraktifitas. Berkebaya pun tidak meninggalkan modernitas,” ungkap Fika Sumbogo, salah satu anggota KCB.

Hal senada diutarakan Rahmi Hidayati, ketua panitia acara diskusi bertema ‘Mencintai Indonesia dengan Berkebaya’. “Dengan berkebaya menjadikan perempuan Indonesia lebih dari sekadar modern, tetapi menjadikan perempuan modern kembali ke akarnya, yakni sebagai wanita Indonesia yang berbudaya, berjati diri, dan berkelas, bukan pengekor budaya bangsa lain.”

Harus diakui perempuan Indonesia kini lebih memilih pakaian yang praktis, sehingga perempuan berkebaya menjadi pemandangan yang langka. “Ini yang menjadikan Indonesia seperti kehilangan sebagian jati dirinya,” lanjut Rahmi belum lama ini di kantor Kemendikbud Jakarta.

Rasa keprihatinan ini yang mendasari sejumlah perempuan Indonesia membentuk komunitas perempuan berkebaya dengan tujuan menjaga dan melestarikan busana kebaya agar kembali dicintai dan dikenakan sehari-hari. Komunitas ini menggelar 1000 Perempuan Berkebaya, sebagai upaya mengajak perempuan Indonesia, tidak saja mencintai kebaya sebagai busana nasional, tetapi juga melestarikannya agar tetap terjaga dan dicintai oleh anak cucu pewaris Indonesia.

Busana tradisional ini merupakan warisan leluhur yang dikenakan oleh perempuan Indonesia sejak dulu di berbagai daerah, seperti Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Ambon.

Acara yang disertai diskusi dengan pembicara antara lain Prof. Dr. Edi Sedyawati (sejarawan), Musa Widyatmodjo (designer) dan Siska Sarwono (praktisi). Ketiganya mengupas masalah kebaya sesuai bidang masing-masing. Diharapkan dengan perhelatan ini akan mendorong pemerintah lebih peduli lagi terhadap kelestarian kebaya, dengan cara mengenalkannya sejak dini di bangku-bangku sekolah melalui kurikulum pendidikan kebudayaan.***

Ini Dia, Surganya Bogor

PERLU waktu tujuh tahun, untuk menjadikan rumah pohon dan air terjun Ciherang menjadi surganya Kabupaten Bogor. Betapa tidak, sensasi objek wisata yang satu ini benar-benar luar biasa. Berada di rumah pohon di atas jurang, manjanjikan desir “ngeri-ngeri sedap” di hati. Tak jauh dari lokasi itu, gerujugan air terjun Ciherang makin membuat mata ini ogah berkedip.

Nama resmi lokasinya adalah Ekowisata Curug Ciherang Bukit Batu. Letaknya di Desa Warga Jaya, Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Bogor. Mengingat tidak ada angkutan umum yang mengarah ke sana, itu artinya untuk bisa ke surganya Bogor harus membawa kendaraan sendiri, sepeda motor atau mobil. Terus terang, perlu perjuangan.

Penulis menikmati pemandangan jembatan menuju rumah pohon, dan aiir terjun Ciherang.

Pengalaman ke sana bersama anak-anak, menorehkan kesan getir. Dari Jakarta masuk tol Jagorawi dan keluar Citeurup. Nah, sampai sini saja lebih dari 30 km. Kendaraan dipacu ke arah Ciherang. Sekira 20 kilometer kemudian, belum juga menyentuh surga yang dimaksud. Khawatir tersesar, kami pun bertanya kepada pemilik kedai pinggir jalan. “Yaaa… masih sepuluh kilometer lagilah…,” jawabnya enteng.

Kalau saja tidak ada perasaan takut kesasar atau salah jalan, sejatinya jalan ke arah Curug Ciherang sangat indah. Melewati perbukitan, persawahan, dan udara sejuk, hijau dan hijau ke mana pun mata menatap, sungguh santapan mata yang bergizi.

Setiba di lokasi, rasa masygul akibat perjalanan yang terasa panjang dan melelahkan, terbayar lunas. Gemuruh air terjun yang sayup terdengar, benar-benar menyejukkan hati. Dalam bahasa Sunda, curug artinya air terjun, ci air, herang bening. Memang begitu adanya. Ditambah tiga undakan bebatuan besar yang tertimpa tumpahan air, membuat curug yang satu ini terkesan lebih eksotik.

Nah, satu spot lagi yang menarik, adalah rumah pohon. Dengan tiket dua ribu rupiah, pengunjung mendapat hak lima menit berselfie-ria. Inilah kono yang akhir-akhir ini menjadi spot selfie paling ngehits di jagat maya. Ditambah jembatan kayu menuju rumah kayu, membuat spot ini benar-benar menyenangkan.

Sebagai tempat wisata, memang kelihatannya belum sepenuhnya digarap oleh pemerintah daerah. Padahal, retribusi sudah diberlakukan. Tiap pengunjung dikenakan tiket Rp 5.000. Parkir sepeda motor juga Rp 5.000, sedangkan parkir mobil Rp 20.000.  ***

Hasil Kongko Perantau

ADA Jawa… Ada Batak… Ada Sunda… dan lain-lainnya. Ini bukan soal sukunya, tapi tentang manusia dari berbagai suku yang acap kongko-kongko tidak jelas. Pada malam-malam yang dingin, mereka ngobrol ngalor-ngidul sambil bermain gaple. Sesekali meledak tawa di antara mereka. Sungguh, sebuah usaha melepas penat-kerja, yang murah-meriah.

Singkat kata, satu di antara mereka kemudian memunculkan ide yang jelas, yakni membentuk paguyuban. Lahirlah, Paguyuban Sambungroso Jatibening. Itu terjadi tahun 1998. Kegiatannya, arisan secara rutin. Dari waktu ke waktu, paguyuban itu semakin solid. Itu berkat manfaat yang mereka rasakan sebagai anggota.

Nah, Minggu pagi yang lalu, bertempat di Jalan Salak, Jatibening Satu, Pondok Gede, Kota Bekasi, berlangsung acara pertemuan arisan paguyuban. Suasanya lebih meriah, karena sang tuan rumah, Suryadi, menyatukan dengan Paguyuban Bumi Reog Ponorogo. Kebetulan, Suryadi memang anggota di kedua paguyuban tersebut. “Biar lebih ramai, dan semoga memperluas hubungan silaturahmi,” ujar Suryadi, yang sehari-hari berprofesi sebagai penyanyi dan MC.

Sementara itu, Mulyono, Wakil Ketua Paguyuban Sambungroso ketika didaulat berbicara, menyampaikan rasa syukurnya, ihwal paguyuban yang terjalin selama ini. Ia kembali menegaskan, bahwa paguyuban tidak membedakan asal-usul, ras, suku, dan agama. Anggota paguyuban ada yang dari Jawa, Sunda, Betawi, Sumatera, dan lain-lain. Profesinya pun beragam, ada yang guru, PNS, tukang ojek, wiraswastawan, pegawai swasta, dan lain-lain. Semboyan mereka klasik: Asih-asah-asuh.

Dalam setiap pertemuan selalu diawali dengan hal-hal keagamaan seperti pembacaan surat yasin bersama, ceramah agama, kemudian dilanjutkan acara lain seputar arisan dan kegiatan paguyuban. Sesekali diselingi hiburan musik, yang pemain dan penyanyinya juga dari para anggota paguyuban sendiri.

Para pendiri dan sesepuh paguyuban berharap, dengan bersatu di paguyuban, bisa memberikan pembelajaran kepada anak-anak. Belajar bersosialisasi, belajar berkomunikasi di depan umum, dan tentu saja belajar berorganisasi.

Kini anggota paguyuban ini berjumlah 50 orang. Kegiatan yang rutin, terdiri dari arisan ibu-ibu dan arisan bapak bapak serta rencana arisan anak-anak. Jadi setiap pertemuan selalu dihadiiri tidak kurang dari 100 orang. Setiap anggota wajib membayar iuran pokok, iuran wajib dan iuran sosial. Uang itu digunakan untuk konsumsi saat berkumpul. Uang juga digunakan untuk kegiatan sosial maupun kegiatan lainnya. Jika ada anggota yang keluar, uang iuran pokok akan dikembalikan. ***

Anggota Paguyuban Sambungroso saat menghadiri acara pernikahan anggota.

Rindu Bakpia Durian Ambar Ketawang

JANGAN meninggalkan Yogyakarta tanpa bakpia… adalah benar adanya. Makanan khas kota gudeg ini, selain enak buat cemilan, juga menjadi salah satu oleh-oleh yang khas. Tapi yang satu ini, bukan bakpia sembarang bakpia.

Adalah bakpia Kencana, Ambar Ketawang. Ketika sahabatku, Mas Yanto (58) mengajak berburu bakpia Kencana Ambar Ketawang, saya spontan mengiyakan. Saya percaya, sahabat kuliahku ini tidak pernah mengecewakan jika merekomendasikan sesuatu. Termasuk, tentunya, bakpia.

Di luar itu, sejatinya saya terkesan dengan kata “Ambar Ketawang”. Entah mengapa, yang terlintas spontan adalah sesosok gadis mungil Yogya berambut panjang, dengan senyum yang manis. Ah… rupanya bukan itu yang dimaksud. Ambar Ketawang adalah nama daerah sekitar 6 kilometer barat kota Yogyakarta. Tepatnya di daerah Gamping. Ke sanalah, kami berburu bakpia.

Sebagai pusat oleh-oleh, cukup lengkap. Ada wingko, yangko, geplak, gula-kacang, dan masih banyak lagi. Tapi hidung ini langsung tersengat aroma durian, padahal jelas-jelas toko itu tidak menjual durian.

Selidik punya selidik, rupanya selain bakpia rasa kebanyakan (kacang ijo, keju, cokelat, susu, ubi ungu, kubu hitam), Kencana Ambar Ketawang juga menyediakan bakpia rasa durian.

Asep, 28 tahun, petugas kasir menuturkan tokonya tempat bekerja, mengusung konsep “open kitchen”, pembeli bisa langsung melihat proses pembuatan bakpia Kencana. Bau harum durian terus mengusik indra penciuman kami. Sebagai penggemar durian, kami segera beranjak ke arah dapur, bau harumnya lebih terasa. Dapur Ambar Ketawang.

Ternyata bakpia varian rasa durian baru saja selesai dibuat. Senyum manis karyawati yang ramah sepertinya membolehkan kami mencicipi bakpia tersebut. Hmmm… luar biasaa, isi duriannya lumer di lidah. Hangat lembut, tidak terlalu manis. Tak terasa sudah lima buah kami lahap.

Sesuatu yang berbeda dibanding bakpia merek lain. Bakpia Kencana memiliki kontur kulit lebih tipis, tidak kering, lembut, sehingga tidak keras dalam beberapa hari ataupun ketika sudah dingin. Racikan isinya juga lebih terasa, lembut, tidak terlalu manis. Soal harga. So-so…. Harga satu dus bakpia rasa kacang ijo, keju, cokelat, ubi ungu, isi 20 dibanderol Rp 42.000. Sedangkan rasa durian isi 10 dibanderol Rp 55.000.

Tak terasa… sudah lewat dua minggu kami mengunjungimu, tapi lumer durian di lidah serasa masih melekat. Salam rindu untuk Ambar Ketawang…. ***

Main Game Online, Bisa Mati

BERGIDIK bulu roma demi membaca berita ini: Pemuda asal Cina bernama chen rong-yu, 23 tahun, ditemukan tewas setelah bermain game online selama beberapa jam. Saat ditemukan jenazah dalam kondisi kaku duduk di atas kursi di sebuah warnet di sudut kota Beijing.

Bermain video game memang menjanjikan pengalaman seru dan mendebarkan. Apalagi, aplikasi game online sudah sedemikian canggih sehingga bisa bercakap-cakap sesama gamer, bahkan bertatap muka dengan gamer lain, yang ada kalanya ada di benua lain secara real time.

Contohnya game tembak-menembak call of duty. Gamer  dituntut bekerja sama dalam satu ronde secara grup melawan grup lain. Di dalamnya terdapat beberapa grup. Ada yang menyerang, ada yang bertahan.

Bermain sekaligus berinteraksi secara virtual, memang menjadi sangat mengasyikkan, dan addict. Karenanya, bisa sangat membahayakan jika tidak ada self control dari gamer itu sendiri. Bahkan bisa mengakibatkan kematian, seperti yang dialami pemuda Cina tadi.

Seorang calon psikolog bernama Diandra menganalisa, bermain game dengan cara duduk berlama-lama, bisa mengakibatkan stres. “Jadinya memang lucu, main game tapi justru bikin stres,” ujar Yonda, panggilan akrab mahasiswa Psikologi Binus University itu.

Selain itu, bisa menurunkan self esteem, atau harga diri, dan hingga level yang gawat bisa mengakibatkan kematian. Yonda mengatakan, bermain game juga bisa kecanduan, seperti mengonsumsi narkoba.

Salah satu metode penyembuhannya adalah dengan hypnotherapy. Meski tidak menjamin bisa lepas 100 persen, tetapi setidaknya bisa meminimalisir. “Peran terpenting adalah orang tua. Dampingi anak ketika bermain game. Yang lebih penting, beri batas waktu. Dengan begitu, gamer sadar, kapan berada di funia virtual, kapan kembali ke kehidupan nyata,” paparnya. ***

Modernisasi Kebun Binatang Ragunan

KAPAN terakhir kali Anda mengunjungi Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan? Kalau sudah lama tidak ke sana, info ini pasti penting buat Anda. Tetapi bagi yang baru-baru ini ke sana, abaikan saja.

Ini pengalaman mengunjungi Kebun Binatang Ragunan, seminggu lalu. Berdua seorang teman, saya dikenakan biaya Rp 30.000. Sempat berpikir, harga itu terlalu mahal, karena harga tiket masuk hanya Rp 4.000 per orang.

Setelah mendapat penjelasan dari petugas loket, barulah paham, bahwa tidak ada kenaikan harga tiket masuk (HTM). Uang Rp 30.000 yang harus dibayarkan, ternyata merupakan modernisasi sistem pembayaran, sekaligus menjadi paket yang kalau dihitung-hitung, sangat menguntungkan pengunjung.

Dengan membayar Rp 30.000, pengunjung diberi satu keping kartu. Kartu yang diterbitkan oleh Bank DKI itu ternyata multifungsi. Pertama, sebagai tanda masuk ke Kebun Binatang Ragunan. Selain itu, dengan kartu yang sama, bisa digunakan untuk naik bus Trans Jakarta (Jak Card).

Jika dirinci lebih detail, kartu itu peruntukannya adalah Rp 8.000 untuk HTM dua orang. Artinya, HTM tetap Rp 4.000 per pengunjung. Kemudian, dipotong lagi Rp 3.000 untuk parkir sepeda motor dan biaya Jak Card Rp 10.000. Artinya, masih ada saldo Rp 9.000 yang bisa digunakan untuk kunjungan berikutnya. Atau, bisa juga dipakai untuk bayar tiket naik Trans Jakarta ke barbagai jurusan.

Yang lebih menarik, kartu itu juga termasuk untuk bayar jasa toilet, yang dulu dipungut Rp 2.000, sekarang gratis. Sekalipun berkali-kali masuk toilet, tidak lagi dikenakan pungutan. Toilet di Kebun Binatang Ragunan juga sangat bersih, berkat dua penjaga kebersihan yang stand by dari pukul 10.00 – 17.00 WIB. ***