Luna dan Maxime Direkrut Anggy di Film ‘Gundik’

JAYAKARTA NEWS— Gundik menurut KBBI adalah bini gelap, wanita peliharaan dan isteri yang tak resmi, tak dinikahi serta tak tercatat dalam aturan perkawinan yang ada.
Sutradara Anggy Umbara tertarik dengan kisah gundik dan mengangkatnya ke layar lebar dan syuting digeber seputar Juli dan Agustus.

“Saya menyatukan kisah gundik dengan kekinian. Gundik itu simbol sukses masa lampau,” tutur Anggy Umbara dalam acara selamatan film ‘Gundik’ di Jakarta, baru-baru ini.
Yang jadi gundik siapa saja, Anggy tak mau membocorkannya.

Yang jelas, pasangan artis yang sedang berpacaran yaitu Luna Maya dan Maxime Bouttier direkrutnya selain pemeran-pemeran lain diantaranya Agus Kuncoro, Ratu Sofya, Rukman Rosadi, Dian Sidik, Arif Didu, Tio Pakusadewo, Ence Bagus, Yatie Surachman dan Cornelia Sunny.

“Gundik itu bukan cuma simbol kecantikan wanita tapi juga simbol kekuatan dan perlawanan terhadap penjajahan di waktu yang sama,” jelas Anggy lagi. Wanita adalah obyek bagi pria yang sukses dalam kedudukan dan karirnya.

“Kesetaraan ini yang memikat saya memvisualkannya,” imbuh Anggy yang sukses membuat film ‘Vina : Sebelum 7 Hari’.

Shankar R selaku Associate Producer mengemukakan Gundik berasal dari urban legend yang masih relevan di era kiwari. “Ditarik garis lurus, ini semua bermuara pada keserakahan manusia. Hal ini yang jadi benang merah di film,” papar Shankar.

Setali tiga uang Luna Maya. “Manusia terkadang sedia melakukan apa saja dan kehilangan sisi manusianya jika dapat jabatan, kuasa dan kaya,” timpal Luna Maya.

Maxim Bouttier kagum dengan kreasi Anggy dan sudah lama ingin diarahkannya.”Ini paket komplet. Ada cinta, drama keluarga, humor sampai ke gore dan teror yang enggak ada habisnya,” kata Maxime yang pernah bermain dalam produksi film Hollywood bertajuk ‘Ticket to Paradise’ bersama Julia Roberts dan George Clooney.

Agus Kuncoro yang lama vakum sejak 2016 bisa kembali bermain film. “Enggak ada alasan menolak tawaran dari mas Anggy,” tegas Agus Kuncoro.

Tio Pakusadewo berpendapat di film ini setiap karakter punya keserakahan sendiri. “Masing-masing kadarnya beda. Dan saya akan ikut syuting di Jabodetabek dan pantai di Jawa Barat,” urai Tio Pakusadewo.

Diharapkan ‘Gundik’ produksi bersama Umbara Brothers, Makara Films dan Rumpi Entertainment ini bisa beredar di bioskop akhir 2024. (pik)

Meriahnya Pergelaran Solo Keroncong Festival 2024

JAYAKARTA NEWS— Pergelaran Solo Keroncong Festival 2024 dibuka secara meriah dan menakjubkan. Hari pertama SKF 2024 dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh seluruh pengunjung yang hadir secara khidmat kemudian dibuka secara resmi dengan pantun oleh Dadang Rizki Ratman selaku Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif

Ahli Utama, Kemenparekraf, di dampingi oleh Siti Kothimah selaku Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Kota Surakarta, dan Bambang Supriambodo selaku perwakilan dari sponsor Pupuk Sriwidjaja Palembang, kemudian dilanjutkan pembunyian alat musik ukulele.

Penampilan pembuka dari Tari Gregah Rajamala di susul Fashion Show oleh Belle ame agency bersama Linda Susanti fashion designer, dan Dinda Nur Safira by Rory Wardhana. Bestie Keroncong yang hadir secara langsung di area Pamedan Mangkunegaran memenuhi area panggung main stage dan supporting stage yang tampak memadati sejak pukul 15.30 WIB.

Kemeriahan SKF 2024 hari pertama diisi para musisi keroncong kenamaan nasional seperti Ok. Alunan Semut Ireng, Ok. Pandawa, Kos Atos, Ok. Citra Ungaran feat Lala Atila dan Dimas Pratama, Serikat Keroncong Surakarta (SKS)

Di samping itu, terdapat penampilan musisi keroncong luar negeri yaitu Orkes Keroncong Ok. Sujana Bakti dari Malaysia, Rodrigo Parejo dari Spanyol dan Agnes Serfozo dari Hungaria.

SKF 2024 yang diselenggarakan di Pamedan Mangkunegaran telah menghadirkan berbagai side activity yang keren dan menarik. Sebelum acara dibuka dengan para pengunjung dimanjakan dengan atraksi konvoi motor customs dari area Jalan Slamet Riyadi sampai Pamedan Mangkunegaran. Activity seru lainnya seperti demonstrasi dari barbershop, penampilan fashion show batik, workshop nail art dan tato, dan terdapat pameran buku.

Perhelatan SKF 2024 tidak hanya berlangsung di Pamedan Mangkunegaran sebagai main stage. Panitia juga menyajikan supporting stage di belakang FOH Pura Mangkunegaran dan

area panggung Kulonuwun Kopi Saka Omahsinten yang diisi dengan penampilan orkes keroncong dari Jagad Keroncong Nusantara dan SMK N 8 Surakarta.

Semarak SKF 2024 telah membawa suasana gembira dan antusias penonton yang besar. Hal tersebut direspon positif oleh salah satu musisi keroncong nasional sekaligus performer SKF hari ini.

“Luar biasa hari ini, kacau sekali. Semoga Kos Atos diundang lagi tahun depan. Solo Keroncong Festival Becik Ketitik Keroncong Ketara” ucap Kos Atos.***PR

GAZA: Tentang Rindu dan Kehilangan

JAYAKARTA NEWS— Nonton ‘Hayya’ dan ‘Hayya 2’, kini sutradara Jastis Arimba melanjutkan sekuel drama keluarga ini.

Meski berlatar isu Palestina, tapi Hayya 3 alias Gaza ini bisa ditonton secara terpisah tanpa harus melihat bagian pertama maupun kedua. “Dan Gaza yang nama anak cowok berusia 8 tahun baru tampil di sekuel 3,” kata Jastis Arimba kepada penulis di Jakarta.

Produksi Warna Pictures ini akan mulai syuting di Jabodetabek, 20 Juli 2024. Kenapa enggak syuting di jalur Gaza (Palestina) seperti Hayya dan Hayya 2 ? “Terjadi genosida di Gaza. Ini bukan perang agama, tapi pembantaian terhadap wanita dan anak. Enggak cuma masjid dan rumah sakit yang dibom. Gereja juga jadi sasaran dan hancur lebur,” tutur Jastis.

Kisah tentang rindu dan kehilangan ini berfokus pada Abdullah Gaza yang yatim piatu. Sejak kematian ayahnya yang relawan kemanusiaan,:Gaza dititipkan di rumah panti yang dikelola ustazah Dewi dan sahabatnya, Rafa Shafira.

Di rumah panti ini Gaza bertemu dengan Hayya (13 tahun), gadis kecil asal Palestina yang telah empat tahun mencari kedamaian di Indonesia. Genosida di Palestina membuat Hayya urung dipulangkan ke tanah kelahirannya.

Hubungan Gaza dan Hayya lambat laun menjadi dekat. Kehadiran Gaza layaknya pengobat rindu bagi Hayya. Mengingat namanya mirip dengan tanah kelahirannya. Kehidupan mereka kembali ceria, saling mengisi satu sama lain, hingga suatu peristiwa buruk kembali mengintai dan mengancam nyawa mereka.

“Ditargetkan Gaza tayang serentak di bioskop akhir tahun ini,” imbuh Jastis.
Produser Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia menambahkan semoga melalui Gaza ini kita dapat memberikan donasi terbaik.

“Rencananya, 40% hasil keuntungan penjualan tiket akan disumbangkan untuk Palestina yang hingga kini belum merdeka. Seperti tahun 2019 melalui film Hayya alhamdullilah telah didonasikan lebih 2, 7 Milyar untuk Palestina dan Indonesia,” ungkap Helvy Tiana Rosa.

Gaza (Hayya 3) didukung deretan artis ternama seperti Cut Syifa, Arafah Rianti, Amna Shahab, Adhin Abdul Hakim, Anyun Cadel, Aryani Fitria, Oki Setiana Dewi, Dony Michael, Mario Irwinsyaj, Fauzi Baadilla, Meyda Sefira, Erick Yusuf, Husein Idol, Andy Boim, Ridwan Roul, Kelya Arcelia, Asma Nadia, Andi Biru Laut dan Azamy Syauqy (bintang cilik).

Soundtrack akan dikerjakan Dwiki Dharmawan dan Melly Goeslaw. Film ini juga didukung ustaz Bachtiar Nasir dan Muhammad Husein Gaza sebagai konsultan dan Imam T Saptono produser eksekutif. Dukungan juga datang dari AQL, Friends of Palestine, International Networking for Humanitarian (INH) dan LAZ Al Azhar. (pik)

‘Catatan Harian Menantu Sinting’: tentang Adat dan Budaya Batak

JAYAKARTA NEWS— Sutradara Sunil Soraya biasa membuat film bergenre drama. Kali ini, bersama Soraya Films, ia merilis film drama komedi yang berjudul ‘Catatan Harian Menantu Sinting”.

Diadaptasi dari novel laris karya Rosi L Simamora, film ini benar-benar penuh ledakan tawa.
Dari awal hingga akhir, setiap dialog menggiring penonton terpingkal. Terlebih lagi, tiga pemeran utamanya – Raditya Dika Nasution, Ariel Tatum dan dr Lina Marpaung – lihai mengisi celah dengan dialog-dialog cerdas dan saling pingpong tak berkesudahan.

Rumah tangga pasutri Sahat dan Minar dikisahkan penuh lika liku, konflik dan dinamika.
Mereka harus tinggal serumah dengan mamak mertua karena persoalan keuangan.
Karena Minar kerap berselisih paham dengan mamak mertua, sahat dan Minar pindah rumah agar bisa mandiri tanpa campur tangan mertua.
Malam hari hujan lebat, mamak mertua mendadak sontak menyambangi rumah Sahat dan Minar. Terpaksa mereka menerima kehadiran mamak mertua tinggal di rumah baru Sahat.
Tentang konsep cinta dan keluarga, Minar dan mamak mertua berbeda pendapat.
Minar berpandangan, cinta adalah ‘quality time’ dan komunikasi yang baik.
Namun, mamak mertua lain. Cinta diukur dari kehadiran cucu laki-laki penerus keluarga Batak.

“Ketiganya punya peran karakter unik. Kombinasi mereka benar-benar patut digarisbawahi dalam urusan pernikahan, adat istiadat dan budaya Batak. Dari dulu sampai sekarang,” lontar Sunil Soraya.

Dalam soal ranjang sampai kondom, vibrator dan tetek bengek kecil, mamak mertua selalu ikut berpendapat dan ingin tahu lebih detil.

Ariel Tatum bilang nyaman banget tatkala disyut beradegan ranjang bersama Raditya Dika.
“Enggak jadi soal. Kita sebelum syuting mengadakan workshop dsn diskusi lebih dulu. Jadi syuting berjalan lancar dan enak. Enggak ada kendala,” jelas Ariel Tatum.

Begitu pula Raditya Dika yang sudah punya isteri dan dua anak. “Pak Sunil Soraya memberikan keleluasaan bagi pemeran sehingga kita enggak salting (salah tingkah),” urai Raditya Dika, komika dan dosen di Fakultas Sosial dan Politik UI jurusan produksi media.\

Kali ini, Raditya Dika berperan full sebagai aktor. Di beberapa film sebelumnya (‘Koala Kumal’, ‘Cinta Brontosaurus’, ‘Marmut Merah Jambu’ dll), Raditya Dika bertindak sebagai sutradara dan penulis naskah.

Film ini juga dimeriahkan oleh segerobak artis terkenal seperti Robby Purba, Raline Shah, Rizma Simbolon, Dicky Pardosi, Simon Parulian Girsang dan Ruth Riani Pasaribu.
Diakurasi untuk 13 tahun ke atas oleh LSF, ‘Catatan Harian Menantu Sinting’ akan beredar di bioskop 18 Juli 2024.

Yuk kita bergembira (dengan sederet lagu Batak) dan berhahahihi bersama menantu sinting dan mertua ceriwis. (pik)

Wulan Guritno Jadi Preman Penguasa di Penjara

JAYAKARTA NEWS— Apa enaknya jadi preman penguasa di penjara ? Tanyakan saja pada Wulan Guritno yang bermain dalam film ‘Bangsal Isolasi’ karya sutradara Adhe Dharmasatrya.

“Ya, saya jadi kepala preman yang syutingnya di Benteng Van Der Wijck di Kebumen, Gombong. “Benteng peninggalan kolonial Belanda ini jadi destinasi favorit masyarakat Kebumen khususnya dan Jawa Tengah umumnya,” ujar Wulan Guritno yang berpose di pelataran Benteng tertua itu.

“Morning from Kebumen,” sapa Wulan ramah.

Saat itu lagi break syuting. Wulan yang masih tetap cantik, modis dan ‘still going strong’ mengenakan kaos singlet dan celana borju tua. Blasteran Jawa dan Inggris ini menikmati panorama Kebumen dan hampir tiap hari naik sepeda tua.

“Saya juga sempat pergi ke pantai Pecaron dan Sagara View di Kecamatan Ayah, Kebumen. Saya berkecipak kecipuk di pinggiran pantai saja. Maklum, laut di selatan arusnya sangat deras. Bahaya kalau berenang di tengah. Nanti jadi anak buahnya Nyi Roro Kidul,” imbuh Wulan menunjuk celana borju hijau tua yang dikenakannya. Warna hijau adalah pantangan bagi turis dan pelancong di laut Kidul (selatan).

Di film produksi Mesari dan JP Pictures yang akan dirilis bulan Juli ini, Wulan beradu akting dengan Kimberly Rider dan Ibrahim Risyad plus para extras (figuran) masyarakat Kebumen.
Mengisahkan sepak terjang jurnalis wanita yang menyamar jadi napi. Jurnalis ini ditugaskan menelusuri kehidupan dan kematian misterius di lapas wanita. (pik)

‘Pusaka’ Kutukan di Masa Lalu

JAYAKARTA NEWS— Sutradara Rizal Mantovani beraksi lagi. Setelah merampungkan ‘Kereta Berdarah’, kali ini bersama Multi Vision Plus (MVP) merilis film horor gore bertajuk ‘Pusaka’.
Gore adalah jenis horor berbau kekerasan dan sadis serta pemeranannya berdarah-darah disertai kanibalisme.

Tak heran film ini diakurasi LSF untuk 21 tahun ke atas. “Ini kan sample untuk press screening. Nantinya yang beredar untuk 17 tahun setelah beberapa adegan kita edit ulang sedikit,” kata produser Amrit Punjabi.

“Saya memainkan aspek gore yang cukup kental berdasar premis dan naskah yang ditulis Husein M Atmodjo. Ini adalah film horor yang berbeda,” tegas Rizal Mantovani.

Mengusung tema kutukan dari benda-benda lawas di masa lalu. Sebuah kejadian misterius di rumah besar milik kolektor Risang Wisangko, yang diwariskan kepada dua anaknya.
Dibantu seorang profesor dan tim arkeolog, rumah besar itu akan direnovasi menjadi museum yang dipenuhi arca, prasasti, senjata dan pusaka di masa lalu.

“Tapi kisah mencekam ini terjadi pada orang-orang modern dan metropolitan. Rekan kerja, keluarga dan ada yang jatuh cinta juga, semuanya mendadak harus berada di antara hidup dan mati.

Hal itu terjadi ketika terlepasnya kutukan berbahaya sebuah pusaka. “Saya mengajak penonton seperti naik roller coaster. Makin naik makin menegangkan dan mengerikan. Emosi penonton diaduk-aduk dan suatu peristiwa berdarah-darah terjadi di rumah tua tersebut. Kutukan terlepas dan roh dari makhluk arsal menuntut balas,” terang Rizal Mantovani.

Uniknya, peristiwa gore muncul di sepertiga film dan terjadilah kejadian mencekam yang mengerikan. Rumah tua digenangi darah dan darah.

Produser Amrit Punjabi mengaku peristiwa gore kerap mencuat dalam sejarah raja-raja zaman dulu. “Ada Keris Empu Gandring yang menewaskan banyak pemiliknya di sebuah Kerajaan di Jawa di masa lalu. Saya penasaran saat melihat benda-benda pusaka di Museum di Jawa,” urai Amrit Punjabi.

“Saya hanya ingin menyuguhkan tontonan yang menegangkan dan mengerikan. Kita selama ini terlalu banyak teori ini itu yang enggak ketemu. Film ini enggak ke situ arahnya. Pokoknya penonton terhibur saja,” imbuh Amrit Punjabi lagi.

Alhasil, ‘Pusaka’ adalah film yang menghibur. Dan penonton pulang membawa pesan sendiri.
Memeriahkan film Pusaka, berderet pemeran tampil seperti Susan Sameh, Shaarifah Daanish, Ajil Ditto, Slamet Rahardjo, Ully Triani, Ikhsan Samiaji, Bukie B Mansyur, Joseph Kara, Sahila Hisyam, Cokie Anwar serta banyak cameo. (pik)

‘Mungkin Esok Lusa atau Nanti’: Manusia harus Miliki Kebermanfaatan bagi Orang Lain

JAYAKARTA NEWS— Ditengah gempuran film horor yang masif, Kolam Ikan Pictures berani mengambil keputusan membuat genre drama yang penuh muatan positif dan sarat makna.
‘Mungkin Esok Lusa atau Nanti’ (Menanti) adalah judul film yang merupakan debut sutradara Iwan Kurniawan yang menjadi oase di ranah perfilman nasional saat ini.

“Film berdurasi 114 menit ini enggak melulu berkisah hanya soal cinta kepada lawan jenis, tapi rasa cinta kepada sahabat dan bakti kepada orang tua,” kata Iwan Kurniawan kepada penulis.

Mengambil seting lokasi di Selo (Boyolali) dan Istanbul, Turki. Mata penonton dimanjakan oleh visual panorama yang cantik desa Selo, dan hangatnya kota Istanbul, Turki dengan alur cerita yang menyentuh.

Melalui film ini Iwan Kurniawan yang juga produser ini memaparkan bahwa manusia sebagai makhluk sosial harus memiliki kebermanfaatan bagi orang lain. “Sesuai dengan misi Kolam Ikan untuk membawa pesan positif dalam karyanya. Film ini berangkat dari pesan-pesan baik seperti ‘khoirunnas anfa’uhum linnas’ – sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Refleksi ini terlihat dari peran-peran di film ini, baik Ning, Dewo maupun Radit, yang dibungkus keseluruhan jalan cerita,” imbuh Iwan.

Meski diperankan oleh beberapa bintang baru, seperti Natasya Nurhalima, Bilal Fadh, Tegar Iman dan Devi Permata Sari, namun mereka mampu unjuk seni peran yang cemerlang.
Sederet aktor dan aktris senior juga ikut meramaikan film ini, diantaranya Olga Lydia, Akbar Kobar, Terry Putri, Intan Erlita dan Farid Aja.

Kisah cinta segi tiga ini tentang kesetiaan yang terbalut manis yang mendadak hancur porak poranda setelah Raditya, pria yang dikasihinya ternyata mengingkari janjinya dan akan menikahi wanita lain pilihan ibunya.

Apakah Kemuning alias Ning, seorang gadis desa yang sempat meraih beasiswa S2 untuk menyelesaikan sekolahnya di Turki harus menelan pil pahit menerima kenyataan ini?

“Diharapkan film ini bisa diterima oleh penonton film Indonesia dan bisa menjadi inspirasi bagi anak muda untuk jangan takut berkarya karena semua pasti mampu,” ungkap Iwan yang sudah kerap membuat program televisi dan menjadi promotor konser musik.
Ini satu pembuktian Iwan Kurniawan: Mungkin esok lusa atau nanti ! (pik)

‘Harta, Tahta, Boru Ni Raja’: Angkat Budaya Batak

JAYAKARTA NEWS— Sukses film Pariban, produser Agustinus Sitorus tancap gas lagi.
Ia siap menghadirkan karya baru yang mengangkat budaya Batak. Film bergenre komedi romantis berjudul ‘Harta, Tahta, Boru Ni Raja’ kali ini menggandeng Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) dan Layar Production.

Boru Ni Raja diartikan puteri Raja yang baik-baik, mandiri dan hormat kepada suami, orang tua, teman dan mertua.

“Ide cerita dan gagasan serta skenario film ini ditulis oleh saya. Saya ingin proses pengambilan gambarnya sesuai apa yang saya bayangkan sebelumnya. Puji Tuhan semua berjalan lancar,” jelas Agustinus Sitorus yang juga bertindak sebagai sutradara dalam acara gala premiere di Jakarta, baru-baru ini.

Agustinus Sitorus, sutradara dan Produser (foto pim)

“Saya ingin membuat film yang punya misi ke depan dan tampilkan budaya-budaya yang ada di negara kita. Karena film adalah produk budaya,” tutur Agustinus Sitorus yang berhobi traveling ini.

Ditambahkannya, alam Indonesia itu sangat indah dan elok, flora dan fauna menggugah pesona, kulinernya lezat dan obyek wisatanya memukau. “Saya juga akan melanjutkan syuting film ‘Anak Medan’ di Korea,” imbuh alumni UI program Magister jurusan Komunikasi ini.
Mark Natama Saragi yang berperan sebagai Jerry Tan (Panjaitan) memaparkan bahwa ini kesempatan langka saat ditawari langsung menerima.

“Ternyata double combo dapat liburan sekaligus bekerja di Danau Toba,” kata Mark Natama Saragi yang lulus Sarjana Teknik Elektro dari ITB.

Segendang sepenarian pendapat Tabitha Christabela Napitupulu yang ikut bermain di film ini.
“Siapa enggak kenal Danau Toba? Juga di film ini ada visualisasi Museum D I Panjaitan di Balige (DI Panjaitan adalah Pahlawan Revolusi), dan hingar bingar kota Medan yang terkenal becak motor-nya,” decak Tabitha Napitupulu, Ratu Pariwisata Sumut beberapa tahun silam.

Berkisah tentang Jerry Tan yang judul skripsinya selalu ditolak dosen, tertinggal oleh sahabatnya yaitu Elin, Aliya dan Hendro yang lulus lebih dulu.

Atas usul teman-temannya, judul skripsinya akhirnya diterima yang membahas tentang sejarah tokoh Nasional DI Panjaitan. Setelah Jerry Tan mengharuskan pergi ke kampung halamannya di Balige untuk pertama kalinya dan tiga sahabatnya guna riset skripsinya.

Ternyata, selain menyelesaikan skripsi, di kampung halaman ia juga menyelesaikan kisah cintanya.

Sederet idola remaja hadir menjadi cast di film ini antara lain Mark Natama Saragi, Novia Situmeang, Frislly Herlind, Fadian Holao, Fahira Almira, Tabitha Christabela Napitupulu, Jenda Ras Yuanda Munthe, Diknal Sitorus, Wahyu Dito, Galih Indharto, Nelson Lumbantoruan, Catherine Panjaitan, plus penampilan Siantar Rap Foundation.

‘Harta, Tahta, Boru Ni Raja’ meramaikan bioskop 11 Juli 2024.
Horas ! Mauliate Godang ! (pik)

Maudy Koesnaedi dan Chicco Kurniawan Terlibat Film ‘1 Kakak 7 Ponakan’

JAYAKARTA NEWS— Dua bintang terkenal Maudy Koesnaedi dan Chicco Kurniawan akan bermain dalam film drama berjudul ‘1 Kakak 7 Ponakan’ (1 K 7 P) yang disutradarai Yandi Laurens.

Produksi Mandala Pictures dan Cerita Films ini adalah adaptasi dari sinetron 1996 karya Arswendo Atmowiloto yang dibintangi Sandy Nayoan, Novia Kolopaking dan Derry Drajat.
Kali ini, sederet pemeran akan memeriahkan 1 K 7 P versi baru selain Maudy Koesnaedi dan Chicco Kurniawan : Amanda Rawles, Fatih Unru, Freya JKT48, Ahmad Nadif, Kawai Labiba, Ringgo Agus Rahman, Niken Anjani dan Kiki Narendra.

Sutradara Yandi Laurens (foto mandala

“Ini tantangan buat saya. Kan mas Arswendo sudah wafat, jadi saya harus paham jalan pikiran beliau melalui plot dalam sinetronnya,” kata Yandi Laurens dalam acara potong tumpeng di Jakarta, baru-baru ini.

Diakuinya, ini dilema. Namun dari diskusi dan riset, dicari jalan tengahnya yaitu Yandi Laurens

mencoba kenal lewat karya Arswendo dan ini baru dapat ‘nyawa’ nya.
Lebih dari dua dekade karya ini dibuat dan jelas ada perubahan zaman.

“Saya jaga narasinya agar enggak melenceng. Karya Arswendo ini merupakan nilai keluarga yang asli di zaman itu. Dan ini jelas ada tantangan baru dan kita bisa menghadapi dan melewatinya bersama,” jelas Yandi Laurens optimis.

Chicco Kurniawan (foto mandala)

Chicco Kurniawan, aktor terbaik FFI 2022 mengaku alur cerita 1 K 7 P itu menangkat isu ‘sandwich generation’ yaitu generasi orang dewasa yang harus menghidupi beban tiga generasi yaitu orang tua; diri sendiri dan anaknya.

“Kondisi tersebut dianalogikan sebuah makanan yang terhimpit dua roti,” tutur Chicco Kurniawan emosional. “Jadi di sini yang diperlukan adalah perasaan sebagai manusia. Bukan masalah teknisnya,” tegasnya.

Maudy Koesnaedi yang dikenal sebagai Zaenab di ‘ Si Doel Anak Sekolahan’ berharap keterlibatannya di film ini dapat membawa berkah dan doa.

“Maklum. Kan sejak 2023 saya pindah ke Bali bersama suami dan anak. Tapi selama syuting nanti saya bisa tinggal di apartemen,” beber Maudy Koesnaedi yang pernah terpilih sebagai pemeran pembantu wanita terpuji di FF Bandung 2014 dan aktris pendukung terbaik IMA 2014.

Syuting film 1 K 7 P mulai 4 Juli 2024 di Jakarta.”Tapi kapan rilisnya, belum tahu. Moga-moga bisa cepat di tahun 2025,” timpal produser Lavesh Samtani. (pik)

Hadiri Gala Premier Film ‘Jurnal Risa’, Bamsoet Dorong Peningkatan Industri Film Indonesia

JAYAKARTA NEWS-— Ketua MPR RI sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo mengapresiasi dirilisnya film bergenre horor ‘Jurnal Risa’. Film ‘Jurnal Risa’ diangkat dari salah satu akun YouTube Jurnal Risa yang digarap oleh konten kreator Risa Saraswati. Risa dikenal sebagai youtuber yang  gemar mengeksploitasi hal-hal berbau mistis atau horor.

“Kisah yang diangkat dalam film ‘Jurnal Risa’ merupakan salah satu kejadian mistis yang pernah dialami oleh tim Jurnal Risa. Bercerita tentang fenomena dan pencarian dokumentasi horor oleh tim Jurnal Risa yang dikenal dengan kemampuannya berinteraksi dengan dunia supranatural,” ujar Bamsoet usai menghadiri gala premier film ‘Jurnal Risa’ di Jakarta, Kamis malam (4/7/24).

Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 bidang Hukum & Keamanan ini menjelaskan, film horor merupakan salah satu genre film yang banyak diminati masyarakat Indonesia. Film horor di Indonesia mampu mengalahkan film-film genre lainnya. Tingginya minat menonton film horor karena kisah yang diangkat identik dengan tema-tema cerita dan keyakinan lokal yang tumbuh di masyarakat Indonesia.

“Salah satu faktor film horor banyak diminati penonton Indonesia karena Indonesia kaya dengan mitos, legenda, dan cerita seram yang menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat. Film horor yang memadukan elemen-elemen tersebut seringkali berhasil menarik perhatian penonton karena mampu menciptakan kengerian yang bersumber dari budaya sendiri,” kata Bamsoet.

Ketua Dewan Pembina Depinas SOKSI (Ormas Pendiri Partai Golkar) dan Kepala Badan Polhukam KADIN Indonesia ini memaparkan, industri film Indonesia telah mengalami perkembangan yang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Data Badan Perfilman Indonesia (BPI) mencatat di tahun 2019 industri film Indonesia mampu menyedot 51,2 juta penonton bioskop. Namun, angka tersebut merosot tajam akibat pandemi Covid-19.

“Di tahun 2021 jumlah penonton film merosot hingga berkisar 4,5 juta penonton saat pandemi COVID-19. Usai pandemi, jumlah penonton kembali beranjak meningkat dengan 24 juta penonton pada tahun 2022. Kemudian kembali naik di tahun 2023 hingga mencapai 55 juta penonton bioskop,” papar Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila dan Wakil Ketua Umum FKPPI ini menambahkan, banyak faktor yang berkontribusi terhadap pertumbuhan industri film tanah air. Diantaranya, peningkatan kualitas produksi, semakin banyaknya bakat lokal yang berkembang, dan juga dukungan dari pemerintah dan lembaga terkait.

“Selain itu, perkembangan teknologi turut memainkan peran penting dalam industri film Indonesia. Semakin berkembangnya teknologi produksi film, termasuk efek khusus dan CGI, membuka peluang bagi sineas Indonesia untuk menghasilkan karya-karya yang lebih berkualitas secara visual,” pungkas Bamsoet. (pik)