Menyambut Seni Pertunjukan Multikultural dan Pamedan Pura Mangkunegaran

SURAKARTA, JAYAKARTA NEWS— Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali memukau penonton pada hari kedua yang berlangsung di dua lokasi ikonik, yakni Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pamedan Pura Mangkunegaran.

Sebanyak sepuluh pertunjukan memeriahkan malam ini, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia hingga kebudayaan mancanegara.

Festival dimulai dengan sambutan oleh Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn. “Tahun ini sangat spesial, ada dua pagelaran di Pamedan Mangkunegaran dan ISI Surakarta dalam satu malam. Alangkah bahagianya saya berhasil menggandeng ISI Surakarta, ini merupakan impian saya yang baru terlaksana tahun ini,” sambut Irawati.

Direktur SIPA, Dra. R. Ay. Irawati Kusumoasri, M.Sn/Foto: panitia SIPA

Dalam momen ini, Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum, juga menyampaikan sambutan hangatnya kepada seluruh tamu yang hadir memeriahkan acara SIPA 2024. “Pagelaran SIPA yang awalnya hanya milik Solo, kini telah menjadi milik bersama bahkan milik kalangan internasional. Saya berharap di tahun-tahun selanjutnya, semakin banyak anak muda yang melakukan pertunjukan seni,” tutur I Nyoman Sukerna.

Penampilan di Teater Besar ISI Surakarta dimulai oleh Park Na Hoon (Korea Selatan). Tidak ketinggalan, pertunjukan Victorian College of Arts, Dance (Australia), ISI Surakarta dan SLB N Karanganyar, Shin Dance Company (Korea Selatan), Chinese Youth Goodwill Association (Taiwan), Hor Pitu, dan Hanayura (Jepang). Penampilan dari Eko Supendi menjadi penutup  rangkaian pagelaran SIPA di ISI Surakarta dengan membawakan pertunjukkan dengan judul “Jiwanawatu”.

Sementara itu, di Pamedan Pura Mangkunegaran, pertunjukan lainnya menghadirkan keindahan seni lintas budaya yang mempesona. Sebuah tarian dengan judul “Preah Ream Liberates Sita” dibawakan oleh Youth Art Mask Theater and New Generation of Classical Dance (Kamboja).

Dilanjutkan dengan pementasan Kerja Kolektif 3 Koreografer Muda – Ayu Fatimah, Clairine Faiza, dan Fay Muthahhari (Surakarta). Tidak ketinggalan, Nyala Dance Theater (Malaysia) menggema merdu, menambah kemeriahan di tengah kota Surakarta malam itu. Puncak dari pertunjukan di Pamedan Pura Mangkunegaran ditandai dengan pentas RAMUGAD – Masyarakat Kamuning Gading (Bogor).

Hari kedua SIPA 2024 ini berhasil menunjukkan betapa seni dapat menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai budaya dan tradisi dari seluruh dunia. Festival ini tidak hanya menjadi ajang apresiasi seni, tetapi juga sebagai wadah dialog dan pertukaran budaya yang memperkaya pengetahuan serta pemahaman antarbangsa.***PR

Rayakan Kemeriahan SIPA, Pura Mangkunegaran Terpilih Sebagai Panggung Utama SIPA 2024

SURAKARTA, JAYAKARTA NEWS— Solo International Performing Arts (SIPA) 2024 kembali menghadirkan maha karya seni bertaraf internasional ke-16 yang bertema “Performing Royal Genesis.”

Acara akan diselenggarakan pada tanggal 29-31 Agustus 2024 di Pamedan Pura Mangkunegaran, Solo, dengan menampilkan seni tari, seni musik, dan seni teater dari Indonesia dan mancanegara.

Mengusung tema Performing Royal Genesis, SIPA telah bekerjasama dengan berbagai pihak seperti Semarak Candrakirana Art Center, Pura Mangkunegaran, serta Institut Seni Indonesia

(ISI) Surakarta. SIPA juga telah mendapat dukungan dari berbagai elemen pemerintahan mulai dari Pemerintah Kota Surakarta, Kementerian Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, serta Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Selain itu, panggung SIPA 2024 akan dimeriahkan oleh delegasi dari berbagai komunitas dan sanggar seni baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Delegasi dalam negeri datang dari kota Semarang, Bali, Padang, Bogor, Padangpanjang, Yogyakarta, dan Surakarta. Sedangkan delegasi luar negeri dimeriahkan oleh seniman dari tujuh negara, yakni Taiwan, Australia, Republic of Korea, Netherlands, Malayasia, Kamboja, serta Jepang.

Dengan pengalaman dan telah disaksikan lebih dari 40.000 penonton dalam kurun waktu 15 tahun terakhir, SIPA 2024 menghadirkan penari, pemusik, dan pemain teater dari Indonesia dan mancanegara dalam rangkaian acara yang megah di panggung terbuka.

SIPA merupakan kegiatan yang mencerminkan tradisi dan masa kini. Segala pertunjukan yang ditampilkan dalam SIPA merupakan perpaduan seni tradisional dan kontemporer. Hal ini berarti kebudayaan tradisional tetap digandeng dengan tren masa kini. Karena kebudayaan harus dapat mengikuti kebudayaan zaman sekarang agar tetap relevan dan seimbang.

“Hal ini sangatlah perlu dicontoh. Bahwa kita boleh mengikuti zaman dan pergaulan, tapi tidak dengan meninggalkan sesuatu yang berharga bagi diri kita,” tambah Irawati Kusumosari, Direktur SIPA.

Karena bekerjasama dengan ISI Surakarta, selain terdapat pagelaran kesenian, SIPA 2024 akan mengadakan international conference yang akan diselenggarakan di ISI Surakarta pada tanggal 29 Agustus 2024.

Selain itu, juga akan terdapat pementasan kesenian dari berbagai delegasi pada tanggal 30 Agustus 2024 mendatang, sehingga terdapat dua panggung pertunjukan SIPA, yakni di Pamedan Pura Mangkunegaran dan di ISI surakarta. Pada tanggal 31 Agustus 2024 mendatang, SIPA juga menghadirkan SIPA Mart, di mana menyajikan berbagai kerajinan dari 10 penjual dari mancanegara.

Penyelenggaraan SIPA 2024 juga menggandeng pelaku UMKM melalui sebuah kemasan kegiatan art market bertajuk SIPA Urban Market. Program SIPA Urban Market merupakan terobosan baru dari tahun sebelumnya untuk memberikan ruang bagi pelaku UMKM di Kota Solo.

Berbagai produk berupa makanan-minuman, fashion, kerajinan dan lain-lain yang berbasis budaya masyarakat Solo akan dihadirkan dalam pasar kreatif ini.***PR

LaLaLa Festival  Sukses Guncang Kawula Muda Jakarta

JAYAKARTA NEWS— LaLaLa Festival berhasil mengguncang Jakarta pada tanggal 23-25 Agustus 2024 di Jakarta International Expo (JIEXPO), Kemayoran. Pertama kali diselenggarakan pada tahun 2016, festival ini menjadi international forest festival pertama dan terbesar di Indonesia. Tahun 2024 ini, Lalala Festival kembali menyapa para pencinta musik di Indonesia dengan skala yang lebih besar dan spektakuler!

Acara ini berhasil menjadi ajang kumpul anak muda yang tak hanya menawarkan hiburan berupa konser musik, tetapi juga edukasi keuangan. Pasalnya, bank bjb, sebagai official banking partner, tidak hanya menyediakan pengalaman festival yang mengesankan, tetapi juga berbagai promo dan program menarik bagi para pengunjung.

Pemimpin Divisi Corporate Secretary bank bjb Widi Hartoto, menyampaikan bahwa dukungan bank bjb dalam acara ini adalah bagian dari upaya untuk lebih mendekatkan diri kepada generasi muda.

“Kami ingin menjadikan LaLaLa Festival bank bjb sebagai wadah di mana anak muda tidak hanya menikmati musik dan hiburan, tetapi juga mendapatkan edukasi tentang pentingnya literasi keuangan. Kami percaya bahwa acara seperti ini dapat menjadi sarana yang efektif untuk mengenalkan produk dan layanan bank bjb yang dapat mendukung kebutuhan finansial anak muda,” ujarnya.

Dalam acara ini, bank bjb juga menghadirkan berbagai promo menarik yang dapat dimanfaatkan oleh pengunjung. Salah satunya adalah promo eksklusif berupa akses fast track bagi pengguna aplikasi DIGI bank bjb, yang memungkinkan mereka untuk masuk ke area festival tanpa harus antre panjang. Promo lainnya adalah program ‘Buy 4 Get 1 Free’, di mana pengunjung bisa mendapatkan satu token tambahan untuk setiap pembelian empat token menggunakan kartu debit bank bjb atau aplikasi DIGI bank bjb.

Selain itu, bank bjb juga mengajak pengunjung untuk berpartisipasi dalam kegiatan interaktif yang seru dengan menawarkan merchandise keren bagi mereka yang membagikan momen seru di LaLaLa Festival di Instagram Story mereka. Syaratnya mudah, cukup follow dan tag akun resmi bank bjb di Instagram atau TikTok. 

Bagi pengunjung yang kehabisan baterai di tengah keseruan festival, bank bjb juga menyediakan fasilitas pengisian daya ponsel di booth bank bjb. Pengunjung cukup melakukan donasi melalui QRIS bank bjb untuk menikmati hingga 30 menit pengisian daya. Tidak hanya itu, pengunjung juga bisa menikmati minuman segar di booth bank bjb dengan melakukan donasi yang sama. Semua ini disiapkan oleh bank bjb untuk memastikan bahwa para pengunjung bisa menikmati festival dengan nyaman dan menyenangkan.

Salah satu pengunjung asal Jakarta, Dinda (24), mengungkapkan pengalamannya selama mengikuti LaLaLal Festival. “bank bjb bikin semuanya jadi gampang banget, mulai dari beli tiket sampai fasilitas di venue. Selain bisa nonton artis kesayangan kayak Isyana Sarasvati dan Nadin Amizah, aku juga bisa nikmatin berbagai promo dari bank bjb yang bikin pengalaman di Lalala Festival makin asik,” katanya. Dinda juga mengapresiasi akses cepat yang diberikan oleh bank bjb sehingga ia tidak perlu antre panjang untuk masuk ke area festival.

Di hari pertama, LaLaLa Stage menampilkan 10cm, penyanyi Korea Selatan yang terkenal dengan lagu-lagu pengisi soundtrack drama korea, kemudian Tyla, artis asal Afrika Selatan dilanjutkan Aurora, penyanyi dan penulis lagu asal Norwegia, tampil membawa suasana magis. Di Karma Stage Nothin’ But Thieves, band rock asal Inggris membawa penonton ke dalam pengalaman musikal yang luar biasa yang dilanjut oleh Birdy juga memanjakan penonton dengan suara merdunya. Deretan artis lokal seperti Maliq & D’Essentials tampil menyajikan nuansa jazz dan funk yang khas diikuti oleh Ardhito Pramono dan Danilla. Kedua artis lokal ini dikenal dengan gaya musik mereka yang unik dan menenangkan. Adapun penampilan dari Goodnight Electric, grup synthpop Indonesia yang memberikan sentuhan akhir yang penuh energi yang tampil di Bloom Stage.

Pada hari kedua, festival ini kembali dengan jajaran artis yang tidak kalah menarik. Di LaLaLa Stage, dimeriahkan oleh Lauren Spencer Smith, artis muda yang tengah naik daun, tampil membawa pop ballad yang emosional kepada penonton yang dilanjutkan oleh Sabrina Claudio, penyanyi asal Amerika Serikat dengan suara lembut dan lagu-lagu soul yang memukau serta Madison Beer tampil sebagai penutup, menghadirkan pop hits yang dinanti-nantikan oleh para penggemar.

Pada Karma Stage, Raisa Anggiani dan Isyana Sarasvati tampil membawa musik klasik yang dipadukan dengan pop modern. Kemudian, Bruno Major yang merupakan seorang penyanyi, penulis lagu dan gitaris berkebangsaan Inggris turut memeriahkan suasana serta So!Yoon!, grup asal Korea, menutup malam dengan penampilan mereka, menambah keragaman musik di festival ini. Bloom Stage dimeriahkan oleh Biru Baru, diikuti oleh The Adams yang tampil membawa energi punk rock ke panggung.

Hari terakhir, Minggu, 25 Agustus 2024,  juga tidak kalah menarik. Di LaLaLa Stage, Emotional Oranges, duo pop R&B dari Los Angeles, memikat penonton diakhiri oleh Sasha Alex Sloan dan Tori Kelly, penyanyi dan penulis lagu asal Amerika Serikat yang terkenal dengan lirik-liriknya yang jujur dan penuh perasaan.

Di Karma Stage, Nadin Amizah membuka penampilan di panggung ini dengan lagu-lagu penuh emosi yang telah dikenal luas di Indonesia. GAC tampil membawa nuansa pop dan R&B yang segar dan ditutup oleh The Temper Trap yang sangat dinantikan untuk menghibur penonton. Sedangkan, di Bloom Stage, penampilan dimulai oleh Ikkubaru, diikuti oleh Matter Halo dan Maria Taktouk memberikan warna tersendiri dengan gaya musiknya yang unik.

Dengan beragam artis yang tampil di setiap panggung, LaLaLa Festival 2024 menjanjikan pengalaman musik yang tidak akan terlupakan bagi para pengunjung. Setiap hari di festival ini menghadirkan suasana yang berbeda, namun tetap memancarkan energi yang sama menghubungkan musik, alam, dan para penggemarnya dalam harmoni sempurna.***PR

Giginfinity: Pergelaran Apik dan Energik

JAYAKARTA NEWS— Hampir tiga jam, ribuan khalayak yang memenuhi Istora Senayan Jakarta dibuat tersihir oleh penampilan band Gigi yang malam itu merayakan ulang tahunnya ke 30.

Bertajuk ‘Giginfinity’, 30an nomor lagu lawas dan baru digebrak secara nonstop. Kali ini, Gigi unjuk diri dengan 4 punggawa : Armand Maulana (vokal), Dewa Budjana (gitar), Thomas Ramdhan (bas) dan Gusty Hendy (drum).

Suasana gedung mendadak sontak riuh tatkala di backdrop panggung menyorot tulisan ‘Pernyataan Darurat’ dan gambar burung Garuda berwarna biru tua. Di layar kiri dan kanan tampil bendera merah putih.

Konser 30 Tahun Gigi di Istora Senayan (foto Herry)

Kemudian ada pula bendera Palestina dikibarkan sebagai dukungan RI terhadap penderitaan warga Palestina di Gaza. Lagu kebangsaan ‘Padamu Negeri’ ciptaan Kusbini diperdengarkan.

Seluruh khalayak takzim berdiri menyanyikan lagu penuh patriotisme itu.

Lagu pembuka bertajuk ‘Sang Pemimpi’ dilantunkan Armand Maulana yang melengking tinggi menggetarkan gedung. Khalayak di kelas Festival spontan berdiri ikut mendendangkan lagu ini.

Disusul lagu pop religi ‘Perdamaian’, ‘Amnesia’ dan ‘Cintailah Mereka’ disenandungkan Armand secara enerjik. Raungan gitar Budjana menyusul ditingkah gebukan drum Gusty Hendy. Dan petikan bas gitar Thomas Ramdhan yang berpenampilan kalem menambah punten kekuatan lagu ini.

Khalayak ikut menyalakan flash light, bergoyang sopan dan ikut larut tarik suara.
“Kami akan menggalang dana guna membantu merenovasi sekolah di NTT, doakan semoga segera terwujud,” teriak Armand disambut tepuk riuh gegap gempita khalayak.

Ketika lagu ‘Perdamaian’ digebrak, Armand secara merendah berucap ‘Izinkan kami membawakan nomor religi. Semoga lirik-liriknya membawa kita ke jalan yang benar,”. Dan di layar disorot video pemboman anak-anak dan kaum wanita di jalur Gaza oleh Israel.

“Semoga ada perdamaian di Palestina yang merdeka dari pemboman bertubi-tubi,” pesan lantang Armand.

Armand lagi-lagi membuat gimik kejutan. Ia turun ke tengah khalayak festival dan melantunkan ‘Hinakah’ dengan ciri dirinya yang khas dan penuh pesona.

Setelah lagu ‘Janji’, di babak II giliran beberapa bintang tamu unjuk diri. Trio Perunggu mendendangkan lagu ‘Pintu Sorga’ milik Gigi dengan penuh penghayatan penuh. Nuansanya sangat relijius.

Trio Ariel-Armand-Afgan di konser 30 tahun Gigi (foto ria)

Disusul Hivi! yang membawakan ‘Andai’, Fanny Sugi menyenandungkan ‘Perihal Cinta’ dan Mahalini menggebrak ‘Ooo…ooo…ooo…Nirwana’ kemudian tampil Nasril Irham alias Ariel Noah yang mengajak khalayak bernyanyi bareng dalam ‘My Facebook’.

Armandl nenggoda Ariel. “Yuk kita kolaborasi nyanyi bareng,” ajak Armand. “Hiatus (istirahat) dulu, Kang,” jawab Ariel sopan.

“Hayuk atuh mau,” giring Armand yang lalu juga mengajak Afgan. Jadilah Trio 3 A (Armand-Ariel-Afgan). Dan melesatlah nomor cadas ‘Terbang’ secara padu dan ciamik.

Dan terakhir Kris Dayanti atau akrab disapa KD nongol dengan medley ‘Nakal’ milik Gigi yang digabung lagu dangdut ‘Penasaran’ dari Rhoma Irama.

Menjelang tengah malam, Gigi secara nonstop menggiring khalayak bernyanyi dengan hit Gigi : ’11 Januari’, ‘Jomblo’ dan ‘Ya…ya…ya…’ sebagai lagu penutup.
Khalayak yang mayoritas Gigikita (fans setia Gigi) pulang dengan hati berbunga-bunga.
Perdamaian….perdamaian…pintu sorga…pintu sorga… (pik)

Delisa Herlina Bermain Elok di ‘Rindu Setengah Mati’

JAYAKARTA NEWS— Pemeran cantik Delisa Herlina kali ini melangkah ke ranah film.
Dalam web series ‘Rindu Setengah Mati’ yang dilaunching di Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Delisa tampil bersama Qya Ditra.

Dikisahkan, dua insan sudah menyelesaikan kisah cintanya namun tak pernah ingin menyudahi hubungan. Banyak peluang terlewatkan dan miskomunikasi yang terjadi, maka akhirnya mereka memilih untuk selesai.

Banyak usaha yang dilakukan Ditra hanya buat Lisa agar kembali ke pelukannya.
Apa sih yang membuat Ditra dan Lisa bisa menyelesaikan kisah cintanya ?

Web series sebanyak 16 episode yang akan tayang di aplikasi Viu ini dibintangi oleh sederet pemeran yaitu Delisa Herlina, Qya Ditra, Bara Ramadhan, Rebecca Albech, Jijeh Diana, Agdian Valentino, Derad, Citra Marpaung dan Alicia Djohar.

“Saya bangga bisa bermain di web series yang syutingnya di Bandung. Antar pemeran juga terjalin akrab dan saling berbagi pengalaman,” tutur Delisa Herlina.

Aktris senior Alicia Djohar yang Ketum Parfi juga berpendapat senada. “Suasana akrab penuh canda di lokasi syuting selalu mencuat. Enggak mengira kita sedang take kamera,” ujar Alicia Djohar.

Di sisi lain, Delisa Herlina sejak berusia 18 tahun sudah bekerja menjadi SPG untuk menebus ijazah sekolah. (pik)

Kromoleo: Teror Hantu Gali yang Dibunuh Penembak Misterius

JAYAKARTA NEWS— Sutradara Anggy Umbara membuat film lagi tentang hantu. Setelah ‘Siksa Neraka’, kali ini Anggy memvisualisasikan kisah hantu kromoleo yang populer di Majenang. Judulnya ‘Kromeleo: Teror Satu Malam’ yaitu hantu keranda mayat yang disisipkan isu sosial yang signifikan terkait sejarah.

“Hantu kromoleo populer di era 80an dan 90an. Jika ada sekelompok hantu yang membawa keranda mayat di suatu wilayah, warga desa percaya hari itu akan ada warganya yang akan mati,” ucap Anggy Umbara kepada penulis.

Anggy menekankan kali ini dia mengisahkan ihwal orang-orang yang terlalu banyak melanggar HAM dan peristiwa kelam dalam sejarah bangsa kita.

“Kita enggak boleh melupakan dan meninggalkan sejarah. Jasmerah. Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah,” tutur Anggy tegas.

Dikisahkan seorang anak gadis desa bernama Zia yang anaknya pak Jarot yang dikenal sebagai pimpinan Gabungan Anak Liar (Gali). Zia lalu menikah dengan anak pak Danang, Ketua Penembak Misterius (Petrus).

Entah alasan apa, Danang membunuh dan membantai semua Gali di desa tersebut.
Hal ini berakibat muncul arwah-arwah penasaran Gali yang mati mendadak sontak bangkit lagi.

Dan bagaimana nasib Zia ?

Dia dihadapkan dalam dua pilihan: pilih Danang kakeknya atau Jarot ayahnya?

Di sisi lain, Anggy juga berucap di film ini dia hadirkan sesuatu yang berbeda. Dia terapkan teknik pengambilan gambar tak biasa. Tanpa gunakan tripod dan semua adegan direkam penuh dengan kamera yang dipegang langsung oleh tangan.

“Pendekatan ini menciptakan pengalaman visual yang lebih personel dan mendalam. Seolah-olah penonton ada di tengah aksi dan ini semakin imersif dan mencekam,” papar Anggy.

Energi yang didapat beda banget. Enggak ada komersial. Serba tangan karena hendheld semua.
‘Kromoleo’ yang diproduksi Imperial Films akan tayang 21 Agustus 2024 dimeriahkan sederet pemeran top yaitu Safira Ratu Sofya, Tio Pakusadewo, Cornelio Sunny, Abun Sungkar, Aline Fauziah, Rukman Rosadi, Totos Rasiti, Vonny Anggraini dan Dayu Wijanto.

Sayup-sayup terdengar suara rintihan ‘moleo, moleo, kromoleo…’ yang diusung oleh sekelompok hantu pembawa keranda mayat di gedung bioskop
Dan siap meneror Anda ! (pik)

Febby Rastanty: Belajar Bahasa Jawa

JAYAKARTA NEWS— Berperan sebagai Kalis Mardiasih dalam film ‘Seni Memahami Kekasih’ karya sutradara Jeihan Angga, Febby Rastanty harus bisa berbahasa Jawa. “Semula saya gugup. Tapi saya berpikir dua kali. Saya explore lagi tantangannya,” tutur Febby polos.

Aktris asal Palembang ini lalu belajar bahasa Jawa kepada Jeihan Angga dan lawan mainnya, Elang El Gibran yang memang berasal dari Jogjakarta. “Kok enggak enak. Gimana ya caranya dienakin,” aku Febby yang kini fasih mengucapkan beberapa kata bahasa Jawa seperti kulo, sampeyan, inggih, matur nuwun dan mboten.

Pokoknya, tiada hari tanpa omong bahasa Jawa. Pas break syuting lagi jalan-jalan ke Malioboro sama Elang El Gibran, Febby berusaha bercakap-cakap bahasa Jawa.

“Walau masih roaming, saya sedapat mungkin berbahasa Jawa,” ucap Febby terpingkal.
‘Seni Memahami Kekasih’ produksi IDN Pictures ini menampilkan kisah cinta yang sederhana namun penuh tawa dan bahagia.

Tentang perjalanan cinta antara Agus Mulyadi (blogger) dengan Kalis Mardiasih (aktifis sosial dari NU).

Film yang penuh liku-liku percintaan unik dan lucu ini selain dibintangi Febby Rastanty dan Elang El Gibran, juga diramaikan Sisca Sara, Devina Aureel, Yusril Fahriza, Beni Siregar dan Dery Genoveva. (pik)

‘Tepatilah Janji’: Sudah Duduk Lupa Berdiri

JAYAKARTA NEWS— Hiruk pikuk Pilkada serentak 24 November 2024 membuat ranah sosial politik berdenyut. Para pimpinan partai politik tiap hari melawat ke sana ke mari membuat peraturan ini-itu yang kerap menggiring publik terkesima.

Politik ada maunya. Hari ini kawan. Besok lawan. Yang abadi adalah kepentingan sesaat.
Koalisi untuk keluarga ataukah koalisi untuk rakyat?

Apa kata para budayawan ihwal Pilkada?

“Civic education sangat penting di kompleksitas Pemilu dan Pilkada yang riuh rendah,” tutur Garin Nugroho, sineas terkemuka yang baru saja meluncurkan film terbarunya bertajuk ‘Tepatilah Janji’ di Jakarta, baru-baru ini.

Dikatakannya, film adalah media yang sangat langka. Pendekatan drama komedi di film adalah salah satu cara untuk mengajak warga pemilih di berbagai wilayah Indonesia. “Film memicu kemampuan guna memengaruhi opini, sikap dan peri laku warga. Dengan gambaran situasi, karakter dan konflik tertentu, film dapat mencuatkan diskusi sosial, perubahan budaya dan pengaruh politik ke penontonnya,” ucap Garin.

Setali tiga uang pendapat Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Mochammad Afifuddin, Pemilu dan Pilkada adalah sarana integrasi bangsa dan mengajak pemilih gunakan hak pilihnya secara bijak, melawan politik uang, politik identitas dan SARA serta membangun sikap toleransi.

“Dan film ini bukan sekadar tontonan tapi juga tuntunan. Ada pesan yang ingin disampaikan lewat film ini bahwa kalau sudah duduk jangan lupa berdiri,” tegas Mochamad Afifuddin.
Produksi KPU, Padi Padi dan Garin Films ini sekuel dari film ‘Kejarlah Janji’ yang juga disutradarai Garin juga.

Kali ini, deretan pemeran yang menghiasi ‘Tepatilah Janji’ adalah Ibnu Jamil, Cut Mini, Shenina Cinnamon, Bima Zeno, Kevin Abani, Faradina Mufti, Givina Lukita, Siti Fauziah, Trio Timus, Trio Tikus, Orkes Jaya Abadi dan seabreg cameo yang menjadi rakyat kecil.

Dalam sekuel ini, dikisahkan Adam (anak ibu Pertiwi) berambisi menjadi Bupati yang tidak saja menghadapi tantangan dari warga tapi juga rintangan dari keluarganya sendiri.
Ini tak pernah diduganya sama sekali. Bahkan, kali ini, Adam juga mendapat penolakan dan perlawanan dari isterinya, Tari.

Bagaimana ending film ini tontonlah ‘Tepatilah Janji’ yang bisa diputar di ruang-ruang publik seperti balai desa, kampus, layar tancap, bioskop rakyat dan ruang alternatif lainnya.
“Film ini bersifat non profit, dan politik itu harus menghibur. Dan juga harus diputar di seluruh jaringan warga dan pemilih pemula serta generasi milenial. Karena mengangkat isu yang dekat dengan lingkungan desa dan kabupaten, maka pendidikan votersnya ditandai pada linkungan pilkada yaitu pemilihan kepala daerah,” timpal Garin Nugroho.***pik

Egi Fedly Jadi Dosen Ghaib

JAYAKARTA NEWS— Pemikiran dan gagasan baru dalam dunia pendidikan terus berkembang. Terkini, perpeloncoan sudah lama diganti acara diskusi dan kegiatan sosial yang lebih bermanfaat. Mengajar anak didik tidak harus menyiksa dan melakukan kekerasan terhadap mahasiswa.

Dalam film terbaru yang disutradarai Guntur Soeharjanto berjudul ‘Dosen Ghaib: Sudah Malam atau Sudah Tahu’, digambarkan ciri diri pak Bakti yang keras dan galak. Dia dijuluki dosen killer.

“Saya memvisualisasikan ke layar yang saya adaptasi dari cerita viral di media sosial. Tentang urban legend di kampus,” lontar Guntur Soeharjanto kepada penulis.

Ihwal cara pengajaran guru Bakti yang membawa isu teror dalam ranah pendidikan kita.
Penulis Evlyn Afnilia mengaku cerita yang kerap terjadi di kampus memang benar-benar terjadi dan hal ini menjadi pembelajaran buat anak didik kita.

“Pentingnya kesehatan mental dan cara pengajaran kiwari yang semua berubah. Ramah lingkungan dan terjadi diskusi yang hangat dan seru, enggak lagi set back ke zaman model dosen killer atau dosen galak,” saran Evlyn Afnilia.
Produser dan CEO rumah produksi Dee Company, Dheeraj Kalwani memaparkan syuting di Jawa Tengah yang terbantu banyak cameo yang menjadi mahasiswa di kampus.

“Suasananya asyik banget. Saling sharing. Enggak ada pemeran yang senior lebih lihai dibanding pemeran junior. Semuanya berbagi peran,” jelas Dheeraj Kalwani.

Ersya Aurella yang menjadi pemeran menerangkan sistem pendidikan kini enggak lagi mengejar nilai tapi proses bersama dan sosialisasi dengan teman-teman se kampus.
Endy Arfian sependapat.

“Saya selama syuting empat hari enggak mandi guna mendalami peran sebagai Fattah. Jadi badan disemprot parfum biar tetap wangi,” kata Endy Arfian yang dulu tetkenal sebagai pemeran anak di film ‘Pengabdi Setan’.

Pengalaman mengerikan dialami Annette Edoarda yang harus digantung pakai sling.
“Awalnya ngeri dan takut. Tapi ini demi peran saya harus bisa melakukannya,” terangnya.

Pemeran lain seperti Ryan Wijaya juga sama mengalami badan berdarah-darah ketika adegan fighting di lokasi.

Egi Fedly yang paling senior dan menjadi dosen killer sangat puas atas hasil kerja sama antar pemeran dalam film ini. “Rambut saya dibiarkan awut-awutan. Kalau berjalan selalu membawa tongkat khasnya yang menimbulkan bunyi keras. Dan kaki saya enggak menyentuh tanah alias ngambang. Kan namanya dosen ghaib. Meski sudah mati tapi arwah pak Bakti masih gentayangan,” tutur Egi Fedly terpingkal.

‘Dosen Ghaib’ akan gentayangan di bioskop jelang HUT Kemerdekaan RI : 15 Agustus 2024 mendatang. (pik)

‘Rumah Dinas Bapak’: Kisah Nyata Dodit Mulyanto Difilmkan

JAYAKARTA NEWS— Kisah nyata komika Dodit Mulyanto diangkat ke film oleh sutradara Bobby Prasetyo berjudul ‘Rumah Dinas Bapak’. “Ini tayangan menakutkan dan menghibur. Genrenya horor komedi,” kata Dodit Mulyanto kepada penulis.

Kisah keluarga Dodit yang tinggal di rumah dinas sang Bapak sebagai Mantri Perhutani di hutan jati. Dodit, ibu, mbak Lis dan mas Dewo harus ikut Bapak pindah ke rumah dinas barunya di tengah hutan jati.
Di sana, ada sebuah penjara yang konon digunakan untuk menghukum blandong (pembalak kayu).
Anehnya, tiap malam Jumat kliwon hal-hal mengerikan terjadi. Semuanya mendapat teror. Termasuk dua anak buah Bapak, Sugeng dan Kasno.
Apa yang sebenarnya terjadi ?

Dalam film produksi Starvision ini, Dodit juga ikut membintangi bersama Putri Ayudya, Yasamin Jasem, Elang El Gibran, Octavianus Fransiskus, Sadana Agung, Fajar Nugra, Rukman Rosadi, Fatmah Faisal Nahdi dan Egi Al Fariz.

“Diangkatnya kisah nyata yang pernah saya alami ini sekaligus menjadi penghormatan buat almarhum Bapak. Sebagai mantri hutan yang harus berjuang sendirian di hutan jati,” tambah Dodit.

Sutradara Bobby Prasetyo mengingatkan masa kecil Dodit pada era masa kecil dirinya juga pada tahun 1990an.

“Perpaduan elemen horor dan komedi dalam satu film membuat saya sangat antusias. Rasanya seperti satu kali masak bisa menyajikan dua rasa sekaligus,” timpal Bobby Prasetyo.

Sama halnya dengan penulis skenario Evelyn Afnilia. “Yang menarik dari film ini adanya ruang-ruang komedi yang disuguhkan di tengah situasi horor yang mencekam,” kata Evelyn.

“Film ini tersampaikan lebih real dan disajikan dengan komedi yang menggiring penonton berteriak tetapi juga tertawa,” papar produser Chand Parwez Servia.

Bertindak sebagai konsultan komedi adalah Erwin Wu.

‘Rumah Dinas Bapak’ akan menakuti dan menghibur penonton mulai 8 Agustus 2024 di bioskop Indonesia. (pik)