Madani Film Festival 2024 : Berfokus Konflik di Sudan dan Palestina

JAYAKARTA NEWS— Melalui film dan buku kita bisa memperkenalkan kehidupan masyarakat muslim di Indonesia yang cinta damai dan menjunjung tinggi kerukunan.
Direktur Madani International Film Festival (MIFF), Putut Widjanarko mengemukakan hal tersebut dalam perbincangan dengan jurnalis di Studio Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, baru-baru ini.

Mengusung tema Marwah (dignity), MIFF 2024 yang akan dihelat 3 s d 6 Oktober 2024 di Jakarta menayangkan 57 film dari 20 negara.

“Untuk pengertian film Madani, kita memang membatasi pada film-film yang merepresentasikan dunia Islam sehari-hari,” kata Putut Widjanarko yang memproduseri film ‘Laskar Pelangi’, ‘Garuda Didadaku’ dan ‘Rumah Masa Depan’.

“Film Madani adalah film-film yang bercerita tentang umat Islam dan permasalahan khasnya. Ini adalah ‘living Islam’,” urai Putut yang menulis disertasi berjudul ‘Homeland, Identity and Media a Study of Indonesian Transnational Muslims in New York City’ untuk gelar Doktor ilmu komunikasi massa di Scripps College of Community di Amerika tahun 2007.
Senada pendapat Hikmat Darmawan selaku Board Festival.

“Kami berangkat dari semacam kepercayaan pada gagasan bahwa ada peluang membicarakan dunia Islam yang hidup, bukan semata Islam sebagai doktrin. Sebagai sebuah kontribusi pada percakapan global tentang isu-isu terkini dan masalah bersama yang dihadapi umat manusia,” urai Hikmat Darmawan yang dikenal sebagai kritikus, kurator dan peneliti di bidang budaya populer.

Setali tiga uang komentar dan pernyataan DR Kajian Film, Ekky Imanjaya bahwa MIFF jelas memegang posisi unik dalam dunia festival film.”Sebagai satu-satunya platform yang didedikasikan untuk isu penting moderasi agama, MIFF tidak hanya di Indonesia, tetapi mungkin di seluruh Asia dan bahkan dunia,” papar Ekky Imanjaya.

MIFF tahun ini berfokus pada konflik Sudan dan perang di Palestina yang belum berakhir.
“Akibat perang di Sudan mengakibatkan eksodus, warga mengungsi, krisis ekonomi dan krisis kesejahteraan masyarakat,” ungkap Ekky Imanjaya.

Dalam pembukaan MIFF di Cinepolis, Senayan Park diputar film ‘Goodbye Julia’ dan penutupannya di Metropole ditayangkan dua film tentang Palestina : ‘The Teacher’ dan ‘Walled Off’.

Walhasil, tema Marwah tahun ini mencoba menggugat dan mempertanyakan kepemimpinan dunia yang gagal menghentikan genosida Israel di Palestina dan kepemimpinan di negeri kita sendiri yang seolah abai terhadap berbagai kesalahan dan penyimpangan. (pik)

Anna Jobling: Aktris Malaysia yang Laris Main Film di Indonesia

JAYAKARTA NEWS— “I love Indonesian movie,” kata Anna Ellisa Gustin Jobling Abdul Rahman (24 tahun), aktris dari negara jiran Malaysia, membuka percakapan.
Ia ‘dihampiri’ sutradara Baim Wong untuk bermain di film horor ‘Lembayung’.

“Saya cuma dites dan disuruh tersenyum sama kak Baim. Peran saya sebagai dokter Tantri yang jahat. Mengamati peran ini, saya tengok banyak film untuk referensi,” tutur blasteran Malaysia n Inggris ini.

Tampaknya Anna cukup laris bermain film di Indonesia. Lepas Lembayung, ia sudah dinanti produser Chand Parwez Servia dan sutradara Archie Hekagery dari Starvision untuk bermain di film ‘Laut Tengah’.

“Kali ini peran saya lain. Saya jadi isteri pertama aktor Ibrahim Risyad yang menyuruhnya kahwin lagi dengan wanita lain alias poligami. Karena saya divonis kena kanker dan enggak bisa sembuh,” terang Anna Jobling yang berbahasa Indonesia campur bahasa Melayu.
Ia merasa senang bisa bermain film di Indonesia.

“Seperti di rumah sendiri. Kalau saya tak paham dialek Jakarta, saya minta tolong. Saya boleh tanya pada semua orang. Budak-budak pun di sini sangat terbuka dan membantu saya,” ungkapnya.

Dalam lawatan panjang untuk syuting di Jakarta, ia dapat banyak kado ulang tahun dari fans. Memang, Anna dilahirkan di Kuala Lumpur tanggal 14 Agustus 2000.

“So I’m very thankful. Fans sangat baik. Mereka very helpful and very kindness. I have to do molding,” beber Anna yang sukses berperan sebagai Melur dalam drama bertajuk ‘Firdaus’.

Kenapa ia berminat main film di Indonesia, Anna mengatakan “Ini peluang besar dan debut buat karir saya di Indonesia. Satu challenge. So, kak Baim bilang nantinya film Lembayung akan tayang juga di Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Semoga pawagam-pawagam (panggung wayang gambar, bioskop) di KL penuh dijejali khalayak,” urai Anna mantap dengan wajah berseri.

Ada tawaran main film lagi, Anna menjawab jujur.

“Tengok dan baca scrip dulu. Saya tak pilih-pilih peran. Peran antagonis pun saya mau. Seperti dokter Tantri itu. Jadi setan juga mau. Asal karakternya cocok,” timpal Anna Jobling yang rajin berbaur dengan siapa saja dan tak malu bertanya jika ada kendala bahasa di lokasi syuting. (pik)

NORAH: Film Pertama Arab Saudi yang Diputar di JWC

JAYAKARTA NEWS— Di bawah Muhammad Bin Salman (MBS), Arab Saudi memasuki babak baru. Film kini diproduksi, bioskop dibuka kembali. Konser musik KPop diizinkan dan kaum wanita boleh menyetir mobil.

Untuk pertama kalinya, setelah 35 tahun dilarang, Saudi Arabia menggelar FF Red Sea (Laut Merah) di Jeddah 2023 dan ikut FF Cannes 2024 di Perancis.

Satu-satunya film Arab yang bertajuk ‘Norah’ karya debut sutradara Taufik Alzaidi diputar di bagian Un Certain Regard di FF Cannes. Dan kini, film bergenre drama pedesaan (rural drama) ini ditayangkan di Jakarta World Cinema (JWC) di CGV, Grand Indonesia, Jakarta, Jumat (27/9/2024).

Maria Bahrawi sebagai Norah (foto arab news)

Norah adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama bibinya di desa terpencil yang jauh dari kota.
Dikisahkan dengan alur cerita yang kuat, Norah ingin kehidupan di luar batas-batas komunitasnya. Gadis yang masih bercadar ini (jika keluar rumah) berobsesi keluar dari desanya dan ingin mendapatkan apa yang diinginkannya

Ia diam-diam melawan aturan-aturan yang ketat. Norah membaca majalah asing yang dipenuhi foto wanita berbusana modis dan museum serta mendengarkan kaset musik dari Michael Jackson.

Ia sepaham dengan guru Nader yang kerap merokok merek Marlboro Reds buatan Amrik. Nader guru modern dengan dandanan bak bintang film berkaca mata hitam dan berkumis tebal.

Mendadak sontak Norah ingin digambar oleh Nader. Meski bercadar, namun Nader bisa melihat ‘wajah’ Norah secara sketsa imajinasi lewat tatapan matanya.

Gambar ini kemudian bocor keluar. Warga desa dan polisi yang konservatif dan fanatik pada tradisi leluhur ini mengusir Norah dari desanya. Bahkan, bibi Norah pun memaki dan mengutuk perbuatan Norah yang dianggap tak bermoral.

“Ini karya setan,” kutuk bibinya.

Kerjasama antara Nader yang pelukis dan Norah yang mau digambar dijembatani oleh seni bersama.

Cekak aos, film ini berakhir anti-klimaks. Ending film menjadi gelap dan nasib Norah tak pasti. Buku yang jadi simbol perubahan kini menjadi gelap kembali segelap gurun yang sesak dicurigai warga desa.

Sutradara Taufik Alzaidi terkesan hati-hati dalam menggarap skenario yang ditulisnya dan tampak ia tak ingin dicurigai sebagai sineas pembangkang. Meski karya perdananya dinilai sangat progresif dan penuh pembaruan.

Ia dipuji diluar tapi dikecam dan dikritik di negaranya.

Satu hal, lepas dari kekurangan-kekurangan sepele, seni peran Maria Bahrawi sebagai Norah dan Yacoub Alfarhan sebagai Nader boleh diacungi jempol. Mereka berdua bermain apik dan polos. Tanpa rasa canggung.

Pemeran lain seperti Abdullah Alsadhan dan Aixa Key bermain selaku sosok pelengkap cerita.
Walhasil, produksi Nebras Film berdurasi 1 jam 34 menit ini boleh disebut sebagai film ‘art’ yang cerdas dan ciamik. (pik)

Sukses Lepas Rindu Sheilagank di Bandung, bank bjb Mudahkan Nasabah Dapat Tiket

BANDUNG, JAYAKARTA NEWS — Sabtu (28/9/2024) menjadi hari yang tak terlupakan bagi para penggemar Sheila On 7 yang menghadiri konser  “Tunggu Aku di…” di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung. Konser ini berhasil menarik ribuan penonton yang sangat antusias mengikuti setiap lagu hits dari band legendaris tersebut.

Sejak awal konser hingga akhir, suasana penuh semangat mewarnai konser. Para penonton bergembira bersama, bernyanyi dengan lagu-lagu yang membawa mereka bernostalgia. Bandung menjadi kota penutup dalam rangkaian konser Sheila on 7 di 5 kota bertajuk “Tunggu Aku di…”, setelah sebelumnya digelar di Samarinda, Makassar, Pekanbaru, Medan.  .

Dalam rangkaian konser ini, bank bjb hadir di setiap kota untuk mendekatkan diri kepada nasabahnya. Jaringan kantor bank bjb yang tersebar di lima kota tersebut memberikan kemudahan akses layanan keuangan, sekaligus memfasilitasi nasabah untuk menikmati konser dengan lebih mudah. Konser di Bandung, sebagai kota penutup, menjadi bukti nyata komitmen bank bjb dalam memberikan pelayanan terbaik bagi nasabahnya.

Agung Darmawan, salah satu nasabah bank bjb asal Bandung,  sangat berterima kasih kepada bank bjb karena menyediakan berbagai dukungan untuk para penonton konser.

“Terima kasih banyak bank bjb yang sudah menyediakan fasilitas seperti charger HP, sehingga saya bisa tetap terhubung selama konser. Yang paling spesial, ada promo untuk pembelian merchandise! Untuk seluruh nasabah bank bjb jangan lupa beli merchandise menggunakan DIGI bank bjb,” ujar Agung dengan antusias.

Grace, Yoshepine, dan Dina, penggemar setia Sheila on 7 yang juga nasabah bank bjb, turut merasakan keseruan konser tersebut. Menurut mereka, konsernya pecah dan bisa melihat pentolan Sheila on 7 dengan lebih dekat. 

Tak hanya itu, Sophia Zahara, nasabah lainnya, juga mengungkapkan rasa puasnya dengan fasilitas yang diberikan oleh bank bjb. Karena bisa menggunakan charger, mendapat promo menarik, dan bisa mendapatkan kartu ATM bank bjb edisi Sheila on 7.  

Selama konser berlangsung, bank bjb juga memberikan berbagai promo termasuk diskon untuk pembelian merchandise resmi Sheila On 7 di lokasi konser untuk para pengguna DIGI bank bjb. Fasilitas charging station dan refreshment pun dapat dinikmati oleh pengunjung hanya dengan berdonasi melalui QRIS bank bjb dari Lembaga amal yang telah bekerjasama dengan bank bjb .

bank bjb tidak hanya fokus pada layanan perbankan konvensional, tetapi juga berupaya untuk mendekatkan diri dengan masyarakat melalui kegiatan yang menginspirasi dan memberikan dampak positif.

bank bjb berharap nasabah dapat merasakan manfaat lebih dari sekadar layanan perbankan. Melalui dukungan selama konser berlangsung di 5 kota, bank bjb berharap dapat mempererat hubungan dengan komunitas dan masyarakat luas.

Dengan adanya program promosi yang menarik dari bank bjb, konser ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga membawa pesan positif tentang pentingnya menabung.  Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, segera menabung di bank bjb dan download aplikasi  DIGI bank bjb, nikmati berbagai kemudahannya!***PR

7 Festival Musik yang Diadakan di Alam Terbuka

JAYAKARTA NEWS – Festival musik seringnya diilhami oleh tema pemersatu seperti musik nasional, musik modern, atau promosi karya komposer terkemuka. Tak ada yang bisa mengalahkan euforia menonton konser musisi favorit secara langsung, bahkan saat konser sudah selesai, biasanya penonton masih merasakan euforia konser hingga berhari-hari kemudian.

Apalagi  konser yang punya konsep unik seperti konser yang diadakan di tengah alam. Mendengar konser di alam terbuka memiliki sensasi tersendiri bagi penikmatnya. Itu sebabnya, semakin banyak festival musik yang diadakan di alam terbuka.

Berikut festival musik di Indonesia yang diadakan di alam terbuka, dikutip dari Laman Kemenparekraf, Kamis (26/9/2024).

1. Jazz Gunung Bromo

Gunung Bromo sudah sejak lama menjadi destinasi wisata favorit di Jawa Timur. Pesona gunung ini semakin menarik ketika indahnya panorama pegunungan diselingi alunan musik jazz yang dibawakan para musisi ternama tanah air dan mancanegara. Acara yang digelar setiap tahun ini layak disaksikan minimal sekali seumur hidup untuk kamu yang mengaku pecinta musik jazz sejati. Kapan lagi menikmati musik jazz berlatang belakang pegunungan Bromo yang indah?

2. Jazz Pinggir kali Purbalingga

Festival ini menjadi salah satu bentuk dari gerakan menumbuhkan kecintaan kepada sungai. Itu sebabnya disebut sebagai Festival JazzGirLi yang dikemas menjadi festival musik dengan konsep perkemahan 3 hari 2 malam. Kegiatannya berupa sarasehan tentang sungai, workshop menangani sampah sungai, penanaman pohon di tepian sungai, dan diakhiri dengan konser musik jazz dengan paduan alat musik modern dan alat musik daur ulang dari bahan sampah sungai.

Foto: seorang gadis sedang memainkan alat tabuh di alam (Shutterstock/Jozef Klopacka)

3. Beach Jazz Festival Benyuwangi

Bukan hanya di pegunungan, konser musik jazz juga ada yang diadakan di pinggir pantai tepatnya di Banyuwangi. Beach Jazz Festival merupakan salah satu rangkaian peringatan ulang tahun Kabupaten Banyuwangi. Tak hanya konser musik, Beach Jazz Festival juga menjadi ajang untuk mempromosikan kota Banyuwangi. Beberapa musisi yang pernah tampil di acara ini adalah Tulus, Raisa, dan White Shoes and the Couples Company.

4. Mahakam Jazz Fiesta Samarinda

Musik jazz tampaknya sudah mulai membumi di Indonesia, terbukti dengan semakin banyaknya kota yang mengadakan festival musik jazz, termasuk Samarinda. Mahakam Jazz Fiesta merupakan salah satu acara musik jazz yang bertaraf internasional dan banyak diminati oleh para musisi maupun pecinta musik jazz. Konser unik di Indonesia ini digelar di pinggir Sungai Mahakam. Indahnya sungai Mahakam dan alunan jazz yang syahdu rasanya merupakan kenikmatan ganda bagi pecinta alam dan musik.

5. Jazz Atas Awan Dieng

Jazz Atas Awan merupakan salah satu konser unik di Indonesia. Digelar di dataran tinggi Dieng, Jazz Atas Awan menjadi rangkaian acara Dieng Culture Festival yang biasanya diadakan pada bulan Juli hingga Agustus. Konsepnya yang unik membuat pagelaran ini menyedot perhatian dari berbagai wisatawan mancanegara. Selain menikmati syahdunya musik jazz, pengunjung pun dapat menikmati keindahan alam khas dataran tinggi Dieng.

Foto: seorang pria sedang mendengarkan musik dengan tenang memandangi pepohonan di hutan (shutterstock/muse studio)

6. Moker Camp di Kalimantan Barat 

Kota Pontianak juga mempunyai konser unik yang lokasinya menyatu dengan alam, yaitu Moker Camp yang diadakan di tepi pantai Pulau Temajo, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Sesuai namanya, Moker Camp dibungkus seperti kegiatan kemah yang cocok untuk kamu yang menyukai kegiatan camping. Dalam event ini, Sobat Parekrafi bisa tidur di tenda, makan bersama, sampai menanam mangrove. Kegiatan yang paling ditunggu adalah malam api unggun di mana band-band indie Pontianak memainkan musiknya.

7. Eco Music Camp

Eco Music Camp digelar di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, Sukamantri, Bogor. Konsepnya menyajikan konser pada penonton yang berkemah. Para peserta selama tiga hari dapat menikmati pagelaran dari musisi lokal hingga mancanegara, dari berbagai genre musik seperti religius hingga jazz. Selain panggung musik, diadakan pula workshop dan coaching clinic serta  diskusi dan  pemutaran film.***/mel

Tulang Belulang Tulang: Perjalanan Tradisi dan Harga Diri Keluarga Batak

JAYAKARTA NEWS— Aspek dalam budaya Batak bisa digali dalam adegan film seperti ‘Ngeri Ngeri Sedap’ dan ‘Agak Laen’. Kini, tradisi dan adat istiadat Batak sekali lagi divisualisasikan di film ‘Tulang Belulang Tulang’ (TBT) karya sutradara Sammaria Sari Simanjuntak.

Dibungkus komedi yang sangat kental, film ini mengisahkan tradisi ‘mangokal holi’ yaitu adat memindahkan tulang belulang para leluhur dari Bandung ke Danau Toba dengan membongkar kembali makam untuk mengumpulkan sisa tulang dan menempatkan ke bangunan Tugu.

“Dalam film ini, Danau Toba sangat istimewa dan bermakna simbolis tentang masalah yang dihadapi keluarga Batak,” kata Sammaria Simanjuntak.

Apesnya, kopor berisi tulang ketika berangkat hilang di bandara. Keluarga di Bandung harus segera menemukan kopor tersebut. Kalau tidak, akan dikutuk sang nenek sementara keluarga besar siap berpesta di Danau Toba. “Perjalanan mencari tulang belulang yang hilang menjadi kekuatan film ini,” papar Sammaria Simanjuntak.

“Harapan saya melalui film ini mampu membawa kebahagiaan dan ketenangan warga Batak dalam merayakan setiap perjuangan yang dilalui dalam kehidupannya,” imbuhnya.
Bergenre drama komedi dan road trip, TBT penuh perenungan yang mendalam.

Atiqah Hasiholan bermain cemerlang sebagai wanita Batak (foto adhya)

“Plot cerita penuh dinamika. Perjalanan menjadi kacau dan gelak tawa. Di setiap titik ketemu konflik diluar nalar,” tutur Atiqah Hasiholan, pemeran utama.

TBT dibuat tidak hanya menghibur tapi punya misi cerdas : mempromosikan Danau Toba dan destinasi wisata di Sumut yang kaya budaya dan adat istiadat.

Jujur, akting pemeran sangat natural. Sekeranjang pemeran memeriahkan TBT yaitu Landung Simatupang, Dominique Sanda, Tika Bravani, Tanta Ginting, Lina Marpaung (Mak Gondut), David Saragih, Tasha Siahaan dan Cornel Nadeak.

Produksi Adhya Pictures dan Pomp Pictures ini bakal hadir di bioskop 26 September 2024.
TBT adalah film hasil inkubasi produksi program Indonesiana 2021 yang digelar Kemendikbud Ristek RI. (pik)

Giring Rilis Mini Album ‘Serigala’

JAYAKARTA NEWS— Apa kabar Giring Ganesha Djumaryo ? Sejak gagal jadi anggota DPR RI, eks vokalis band Nidji dan politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini kembali ke ranah musik.

Baru-baru ini, Giring merilis mini album bertajuk ‘Serigala’ dengan label Musica Studios.
Berisi tiga lagu baru ciptaan Giring yaitu ‘Serigala’, ‘Candu’ dan ‘Berani’. “Serigala itu tentang penghianatan yang dibalas dengan cinta. Candu tentang cinta pada isterinya, Cyntia Riza dan Berani ihwal terlahir kembali lagi ke musik,” kata Giring yang meluncurkan album di HW Superhouse, Jakarta, baru-baru ini.

Giring mengungkapkan ada kerinduan ke musik. “Lalu saya ambil gitar dan main piano. Dan terciptalah lagu ini,” ucap Giring yang menciptakan lagu ‘Laskar Pelangi’ dan jadi original sound track (OST) film berjudul sama.

Giring yang dulu berambut kribo berharap lagu barunya bisa diterima khalayak pencinta musik. Produser Musica Studios, Indrawati Wijaya atau akrab dipanggil bu Acin yakin album Giring akan sukses.

“Karena lirik lagunya bagus. Saya percaya dan yakin,” jelas bu Acin jujur.
“Giring itu orangnya humble. Kala rekaman, dia bicara merendah. Katanya kalau gagal, dia mau jual kue. Wah…ini pasti bercanda,” imbuh bu Acin.

Sore itu, Giring dengan stage act yang atraktif tarik suara lima lagu, tiga lagu baru n 2 lagu lawas. Dua lagunya bersama Nidji berjudul ‘Hapus Aku” dan ‘Laskar Pelangi’ digebrak manis dan memukau.

Bahkan, Giring juga mengajak jurnalis dan pengunjung yang hadir ikut bernyanyi bareng. Suasana riuh. “Saya doakan yang ikut bernyanyi berumur panjang. Cicilan sewa rumah segera lunas dan uang sekolah anak beres..,” doa Giring

Amin ya robbal alamin.
Ah…Giring bercanda.
Namun, dia tulis, ikhlas dan humble. (pik)

SUMALA: Dendam Anak Iblis di Semarang

JAYAKARTA NEWS— Sineas Rizal Mantovani menggandeng Hitmaker Studio membuat film horor bertajuk ‘Sumala’. Diangkat dari kisah nyata tahun 1948 di Semarang. Syuting dilakukan di Desa Wonosekar, Karangawen, Demak.

Pasutri Soedjiman dan Sulastri sudah lama mendambakan bayi. Guna mendapatkan buah hati, berbagai ritual dijalankan. Sulastri kerap pergi ke pasar membeli ramuan herbal. Ia juga meminum sajen untuk menjadi perantara proses menjadi hamil.

Diam-diam Sulastri mengadakan perjanjian dengan iblis. Dukun ilmu hitam bernama Tukinah menjadi perantara Sulastri dengan iblis. Ia menyuruh Sulastri minum darah.

Sulastri hamil anak cewek kembar. Soedjiman mendengar kabar itu bahagia tapi semu.
Pasalnya, orok yang satu dari manusia sedangkan orok satunya lagi dari keturunan iblis.
Kumala yang lahir cacat langsung dibunuh Soedjiman dan Sumala dibiarkan hidup tapi menderita keterbelakangan mental.

Peristiwa misterius mencuat. Warga desa geger dan ketakutan. Tiap hari, seorang anak mati dengan cara tragis. Sumala dituding sumber petaka. Anak setan membalas dendam dan memasuki tubuh Sumala.

Film yang akan beredar di bioskop 26 September 2024 ini dibintangi dua pemeran senior yaitu Luna Maya dan Darius Sinathriya. Luna Maya yang kelahiran Bali ini dijuluki ‘Ratu Horor’ yang seni perannya dinilai apik dan cemerlang.

Pemeran lain boleh dibilang cukup pas memerankan karakter masing-masing. Ada Makayla Rose Hilli (15 tahun) yang didaulat menjadi Kumala dan Sumala meski baru sekali ini tampil di ranah film, namun aktingnya lumayan menjanjikan dan beroleh pujian.

Ivonne Dahler, Sriyatun, Denino Basrial dan Nandito Hidayatullah Putra serta warga desa Wonosekar yang menjadi cameo memperkuat plot film ini.

Produksi Hitmaker, Legacy dan Masih Belajar Pictures boleh diberi punten tinggi.
Kali ini, film horor Sumala karya Rizal Mantovani meski ceritanya mencekam dan menggedor jantung, namun layak diberi nilai teratas.

Rizal Mantovani benar-benar naik kelas ! (pik)

BCL Duet Bersama Yuna dari Malaysia

JAYAKARTA NEWS— Nama Bunga Citra Lestari (BCL) cukup dikenal di negara jiran Malaysia. Setiap konsernya di Kualalumpur, khalayak dipastikan penuh.

Baru-baru ini, BCL merilis single duet bersama biduanita Yuna dari Malaysia bertajuk ‘Watak Utama’. “Saya sudah lama mahu duet dengan kak BCL. Setiap ada jadual kami berdua busy. Saya gembira dapat peluang ini,” jelas Yuna yang mengaku fans berat BCL. “She is an amazing singer dan actrees,” imbuhnya.

Yuna memaparkan, cukup seru ia bisa berduet dengan BCL.”Kerana kami seronok merekam lagu ini buat peminat,” ungkapnya polos.

Yuna menjelaskan punya style yang aneh. “Kami bergaya Y2K dimana kami mau beri kejutan. It’s a very cute video yang enak ditonton. Ini sesuatu yang baru. Very catchy. Tak hanya sound tapi juga segi visualnya yang dimanjakan,” beber YunaSingle yang diproduseri Pierre Jamerson ini,

BCL mengatakan adalah perpaduan dua bahasa. “Saya tulis lirik bahasa Indonesianya. Memang saya sudah lama ingin berduet,” terang BCL.

Yuna adalah isteri Adam Sinclair (adik almarhum Ashraf Sinclair). “Jadi Yuna itu sister in law. Ini proyek bersama dua negara. Ini momen istimewa. Saya ‘adore’ sama Yuna,” cetus BCL.

Ada dua panduan genre masing-masing. Liriknya tentang cinta yang mendalam.
“Musik dan liriknya simple. Easy listening,” tambah BCL

Proses rekaman, BCL bilang tak ada kesulitan. (pik)

Yosep Anggi Noen: Apa Itu Sinema Kontemplatif

JAYAKARTA NEWS— Yosep Anggi Prasetya alias Yosep Anggi Noen (41 tahun) dikenal selalu membuat sederet film yang unik dan kontemplatif. “Sinema kontemplatif atau sinema lambat adalah sinema yang mengajak penonton merenung, bergaya minimalis dan observasif,” kata Yosep dalam launching trailer misteri horor berjudul ‘Tebusan Dosa’ di Jakarta, baru-baru ini.

Ya, Yosep baru kali ini membuat film bergenre horor. Produksi Palari Films bersama Studio Showbox dari Korsel ini mempertemukan dua bintang berbakat Happy Salma dan Putri Marino.

Beberapa film besutannya (film panjang dan film pendek) berhasil masuk nominasi bahkan meraih penghargaan di festival film di dalam dan luar negeri. ‘Lunchbox’, ‘Vakansi Yang Janggal dan Penyakit Lainnya’, ‘Istirahatlah Kata Kata’ (biopic penyair Widji Tukul), ‘The Science of Fictions’ (Hiruk Pikuk Si Alkisah) dan ’24 Jam bersama Gaspar’ adalah beberapa film Yosep yang tidak saja plot dan ceritanya yang aneh dan unik, tapi juga judulnya cukup unik dan mengajak penonton berkontemplasi.

“Saya paling suka film pertama saya yaitu ‘Lunchbox’ dan ‘Kisah Cinta Yang Asu’ berupa drama pendek berdurasi 30 menit,” tutur Yosep.

‘Lunchbox’ berkisah ihwal fenomena lunchbox milik murid SMP yang hilang. Box berisi makanan berat ini jadi rebutan anak-anak SMP yang lain dan ditemukan anak Punk yang lapar.
“Lunchbox bernada masif dan ini gambaran tentang kemiskinan yang nyata,” jelasnya.
Bagi Yosep, film adalah media penyampai ekspresi.

“Menceritakan kegelisahan yang saya alami dan cara bertutur saya murni dari dalam jiwa saya,” terang Yosep yang mengaku mulai tertarik menonton televisi sejak usia 7 tahun di Kampung Kaliduren, Sleman.

Di Kampung itu, hanya orang tua Yosep yang memiliki televisi. ‘Moving image’ ini jadi tontonan bareng se kampung. TV punya kekuatan menarik dan luar biasa kala itu.
Menginjak SMA, Yosep dengan kamera pinjaman, mencoba membuat dan mengkaji film.

“Sejak saya kuliah saya hidup dari dan menghidupi film itu sendiri,” imbuhnya.
Hidup adalah keunikan dan pilihan. Yosep kala itu tidak paham apa itu bisnis film dan film populer.

“Pokoknya membuat film. Apa yang terpikir di otak divisualisasikan ke sinema,” urainya lagi.
Masa itu, awalnya dia tak paham arti ‘roll’ dan ‘action’. Yosep cuek dan terus saja membuat dan membuat, bekerja dan bekerja.

Film menghidupi dan dihidupkan oleh Yosep. Tak banyak sutradara, penulis, editor dan pengajar film seperti Yosep. (pik)