Jayakarta News
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result

Banu Rusman Korban Nyawa ke-65 Sepak Bola Indonesia

Banu Rusman Korban Nyawa ke-65 Sepak Bola Indonesia

admin by admin
October 15, 2017
in Sport
0

DUKA-cita kembali menyelimuti sepak bola Indonesia. Seorang penonton bernama Banu Rusman meninggal dunia karena aksi pengeroyokan yang terjadi usai pertandingan Persita Tangerang melawan PSMS Medan di Stadion Mini Cibinong, Jawa Barat, Rabu (11/10) dalam laga terakhir Babak 16 Besar Liga 2 Indonesia.

Banu, remaja berusia, 17 tahun, mengalami pendarahan di otak akibat pukulan balok dan sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON), Cawang. Pria yang merupakan anggota Laskar Benteng Viola (LBV), suporter Persita, Korwil Tangerang Selatan, mengembuskan nafas terakhir, Kamis (12/10). Setelah disemayamkan di rumah duka, Kapling Serpong RT02/04, Kelurahan Serpong, Tangerang Selatan, Banu dimakamkan di Pekalongan.

“Kasus meninggalnya Banu harus diusut tuntas. Karena ini kejadian khusus lantaran pengeroyokan dilakukan aparat negara yang dating untuk menyaksikan pertandingan,” kata Akmal Marhali, Koordinator Save Our Soccer #SOS. “Sudah terlalu banyak tumbal nyawa di sepak bola Indonesia dan tak ada satu pun yang tuntas diusut. Akibatnya kejadian terus berulang. Satu nyawa terlalu mahal untuk sepak bola. Ini harus jadi perhatian serius PSSI dan Pemerintah,” Akmal menambahkan.

Berdasarkan data Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Save Our Soccer #SOS, Banu “tumbal nyawa” ke-65 dari “kejamnya” sepak bola Indonesia sejak Liga Indonesia digulirkan pada 1994/1995 (lihat data statistik Litbang #SOS).  Khusus untuk fans Persita, Banu adalah korban keempat.

Sebelumnya,  menimpa Muhammad Tommy, 17, dan Ahmad Hariri, 15, akibat bentrokan supporter di Tangerang pada 19 April 2011. Keduanya meninggal akibat pukulan benda keras (rantai besi, balok, dan batu). Pada 16 Maret 2017, giliran Ferdian Fikri, 14, yang juga tewas akibat tusukan benda tajam karena suporter. Total, selama 2017, sudah 11 “tumbal nyawa” di sepak bola Indonesia. Terbanyak kedua, setelah 2012 yang mengorbankan 12 nyawa.

“Selama ini pengusutan terhadap tewasnya suporter tak pernah tuntas. Hanya lips service setelah itu hilang ditelan bumi. Perlu langkah nyata dari PSSI dan Pemerintah untuk menuntaskannya. Sepak bola itu bukan tempat mempertontonkan kekuataan. Bukan medan pertempuran, bukan kuburan untuk korban yang berjatuhan. Sepakbola adalah hiburan. Panggung mengekspresikan kegembiraan. Tempat meluapkan kebahagiaan,” kata Akmal.

Selain mengusut tuntas pelaku pengeroyokan dan memberikan hukuman sepadan, #SOS juga meminta PSSI dan Pemerintah (dalam hal ini Kemenpora), melakukan evaluasi total terhadap kompetisi yang sedang berjalan. Dalam berbagai aspeknya, mulai dari penegakkan aturan sampai pelanggaran yang dilakukan. Bentrokan suporter, vandalism, anarkisme, di lapangan tak lepas dari kurang tegasnya PSSI dan Pemerintah dalam menegakkan aturan. “Fungsi pengawasan harus benar-benar dilakukan. Masyarakat hanya ingin hiburan dan sepak bola berprestasi. Bukan sejumlah ‘dagelan’ yang akhirnya menyulut emosi dan mengorbankan nyawa,” Akmal menambahkan.

#SOS juga menyarankan PSSI dan Pemerintah mengevaluasi keikutsertaan lembaga negara di kompetisi sepak bola profesional. Mengembalikan tugas aparat kepada fungsi utamanya. Menjaga dan mengamankan negara serta menjadi pengayom masyarakat. “Sangat riskan bila lembaga negara apalagi aparat penegak hukum (TNI dan Polisi) ikut terlibat di kompetisi. Potensi terjadi gesekan di level grass-root sangat besar apalagi sepak bola melibatkan massa (penonton, suporter, fans). Aparat keamanan lebih baik dikembalikan ke fungsi utamanya. Termasuk menjaga keamanan dan kenyamanan dalam pertandingan sepak bola” Akmal menegaskan. ***

Tags: akmal marhalibanu rusmahsave our soccerSoccersuporter sepakbola tewas
Previous Post

Kahoowa Kopi Karo, Kopi Kampung Kualitas Dunia

Next Post

Damn… Ibu Entin, Makanan kok Enak Semua!

admin

admin

Next Post

Warning: Undefined array key "jnews-75x75" in /home/jayakartanews.com/public_html/wp-content/themes/jnews/class/Image/Image.php on line 114

Warning: Trying to access array offset on value of type null in /home/jayakartanews.com/public_html/wp-content/themes/jnews/class/Image/ImageLazyLoad.php on line 105
Damn… Ibu Entin, Makanan kok Enak Semua!

Damn... Ibu Entin, Makanan kok Enak Semua!

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2018 JayakartaNews

No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah

© 2018 JayakartaNews

Go to mobile version