Waktunya Mempertahankan Teritori (Film) Kita

 Waktunya Mempertahankan Teritori (Film) Kita

‘Aum!’ renggut best cinematography (foto Lajar Tantjap)

JAYAKARTA NEWS – Hal terpenting yang harus kita lakukan di saat krisis terjadi adalah menjaga dan mempertahankan wilayah teritori kita. Tanpa ragu Jogja Netpac Asian Film Festival (JAFF) ke 16 yang baru saja usai berfokus pada kebangkitan sinema Indonesia yang juga merupakan bagian penting dari sinema Asia Tenggara.

Demikian kata Festival Director JAFF Netpac, Ifa Isfansyah. “Sinema Indonesia sedang menjadi pusat perhatian beberapa waktu belakangan ini. Sejumlah insan film membawa pulang ke tanah air piala-piala bergengsi di beberapa festival di luar negeri,” ujar Ifa Isfansyah sembari ditambahkan bahwa film-film yang diproduksi di era pandemi mulai muncul dan ditayangkan di bioskop di akhir tahun ini.

‘Preman’ raih best storytelling

“Sepuluh tahun lalu dalam penyelenggaraan JAFF, banyak penonton dan peminat film enggak bisa datang ke Jogja. Tahun ini, mereka berbondong-bondong datang dan menonton sederet film berkualitas baik dari Asia maupun dari Indonesia di Empire XXI, venue JAFF di Jogja” urai Ifa Isfansyah. Jelas, penonton muda menjadi bagian penting dari festival yang menyaksikan dan mendiskusikan film-film yang diputar karya generasi baru perfilman Asia maupun Indonesia.

Tentu, penonton harus menjalani prokes ketat dan sudah memiliki aplikasi peduli lindungi. Segendang sepenarian pernyataan Budi Irawanto selaku Festival President JAFF. “Kita harus tetap merawat kegigihan kita. Tak pelak, sinema mesti berhadapan dan beradaptasi dengan pandemi yang telah mengubah cara produksi, distribusi, eksibisi dan konsumsi film,” timpal Budi Irawanto.

Namun, terlepas dari segala rintangan dan hambatan yang terus melanda dunia karena amukan virus Covid, para sineas terus gigih membuat film berbobot dan melakukan pembaruan-pembaruan dan eksperimen tak terduga. Walakin, delapan hari penyelenggaraan memang melelahkan.

Panitia bagian kurator bekerja keras tiap hari menyeleksi sekitar 400an film yang masuk dan harus ‘menyunting’ lagi menjadi 116 film peserta. Dan inilah hasil 10 film dari berbagai kategori yang memang pantas diapresiasi : Golden Hanoman Award : ‘Taste’ (Vietnam). Silver Hanoman  :   ‘Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas’ dan ‘Yuni’. Netpac : ‘Taste’. Blencong : ‘Live in Cloud Cuckoo Land’ (Vietnam). Indonesian Screening Awards (ISA) : Film terbaik : ‘Kadet 1947’. Best Directory : ‘Kadet 1947’.  Honorary Mention for Directory : ‘Aum !’. Best performance : Putri Marino (‘Losmen Bu Broto’). Best storytelling : ‘Preman’. Best Cinematography : “Aum !’. (pik)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *