Kabar
Tanamur: Disko Top Era 70 hingga 90-an, Kini Jadi Warung Mie
JAYAKARTA NEWS— Bagi warga Jakarta tahun 70an, pasti tahu Tanah Abang Timur (Tanamur) Disko yang terletak di jalan Tanah Abang Timur nomor 14 Jakarta Pusat. Disko top ini mengusung konsep disco ala Barat. Interiornya unik, dekorasi tradisional lukisan batik dan roda pedati.
Pendirinya adalah Ahmad Fahmy Alhady (suami Ratna Sarumpaet yang aktivis dan sutradara teater/film) yang kala itu sedang studi Teknik Industri di Jerman Barat.
Dia tertarik saat memasuki diskotik terkenal di sana.
Kok di Indonesia nggak ada tempat hiburan seperti ini ya.
Pikiran dan jiwa bisnisnya cepat berputar. Bersama dua saudaranya Anis yang pemilik rumah dan Kadim, saat pulang ke Jakarta, ‘disulap’ lah rumah di Tanah Abang Timur 14.
Bermodal Rp 25 juta, berdirilah Tanamur Disko, diskotik pertama di Indonesia.
Masa Orde Baru ramah terhadap modal asing gegara ‘oil boom’ dan ditunjang kebijakan Gubernur Jakarta Ali Sadikin yang menjadikan Jakarta sebagai kota metropolitan.

Berdiri 12 November 1970, Tanamur terkenal di kalangan anak muda. Dari kaum jet set sampai selebritas kerap berajojing dan melepas penat di lantai dansa.
Suara musik berdebum kencang ditingkah gemerlap lampu berpendar mengitari ruangan. Anggota badan ber ‘head banging’ yaitu kepala dan leher bertingkah ritmis, enerjik dan elegan. Musik yang selalu ‘up date’ dari jenis rock, jazz, funk sampai pop menghentak mengajak pengunjung bergoyang.
Para selebritis dan tokoh terkenal mancanegara selalu melawat ke Tanamur. Sebut saja Mohammad Ali, Bee Gees, Deep Purple dan Mick Jagger ketika beraksi di Jakarta, pasti mampir ke Tanamur.
Sebagai pionir disko di RI, Tanamur menerapkan aturan yang longgar dari pengunjung yang berbusana jas sampai sandal jepit asal membayar cover charge boleh masuk. Asal jangan bikin keributan dan dilarang membawa senjata tajam.
Lihatlah pengunjung membaur di lantai dansa tanpa batasan ras, suku, bahasa dan kepercayaan. Teriakan ‘cheers’ (bersulang) terdengar selalu terjadi di setiap malam menjelang pagi di berbagai acara yang dihelat akhir pekan.

“Kita diskotik yang legal dan aturannya ketat. Rakyat biasa juga boleh masuk asal bayar,” kenang Vincent, peramu musik (disc jockey/dj) asal Merauke.
Masa itu, terkenal aktor John Travolta yang dijuluki ‘si raja disko’ yang filmnya ‘Saturday Night Fever’ meledak di mana-mana. Goyang hustle ala John Travolta yang diplesetkan jadi John Tralala ‘ditiru’ habis oleh Guruh SP dan kelompok Swara Mahardika nya.
Dan Tanamur pun sering jadi tempat nongkrong dan obat pusing bagi anak muda dan selebritas. Anak pejabat dan model top bertemu dan bercengkerama di sini.
“Daripada bete di rumah, mending ke Tanamur. Pokoknya, kala itu, bagi turis asing dan lokal ke Jakarta, kalau belum beringsut ke Tanamur, belum ke Jakarta deh,” ungkap Vincent.
Boleh dikata Tanamur menjadi pelopor menjamurnya diskotik permanen. Pesaingnya muncul. Ada Guwarama di HI dan Mini Disco di Gondangdia (bekas Warung Padang yang direnovasi)dan lain-lain.
Dan muncul pula Pitstop di bawah hotel Sari Pacific, Ebony, Rumour yang didirikan Ais Said, anggota DPR masa itu dan masih seabreg lagi.
Kini ?
Nama Tanamur tinggal kenangan. Akibat krismon dan bom Bali, berimbas ke Tanamur. Resmi tutup dan berhenti beroperasi tahun 2005. Pengunjung mulai sepi.
Kini Tanamur alih fungsi menjadi warung mie dan warung menjual rokok.
“Biar bangkrut dan tutup, saya tetap cinta Tanamur. Ini lahan pendapatan saya pertama. Nggak nyombong ya, saya sudah berkali-kali ditawari pekerjaan di Jerman, Perancis dan Amrik, saya tolak,” imbuh Vincent.
Ditambah lagi, pendiri Tanamur Ahmad Fahmy Alhadi wafat.
Sebuah sejarah tentang sebuah diskotik pertama yang menjadi pionir di Indonesia.
Tak ada lagi dentuman musik keras dan tak ada lagi goyang head banging dan hustle.
Tak ada lagi teriakan ‘cheers’ dan denting gelas Cola dan Vodka.
Orde Baru runtuh.
Tanamur dan bisnis diskotik pun raib. (pik)
