Khashoggi sampai di Twitter Qahtani

Jamal Khashoggi–image posted on Facebook by jamal khashoggi/ndtv com

Oleh: Dahlan Iskan

Pangeran MbS pasti akan aman. Tidak mungkin jatuh. Arab Saudi bukan negara demokrasi. Yang pemimpinnya bisa mudah dijatuhkan.

Dan lagi, tangan kanannya pasti melindunginya: Saud al Qahtani. Yang umurnya kini di puncak kejayaannya: 40 tahun.

Wartawan Khashoggi boleh meninggal. Dengan cara  dibunuh. Di konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki. Oleh 15 orang tim intelejen kerajaan. Yang terbang khusus ke Istanbul. Dengan dua pesawat jet carteran. Yang terbang dari Riyadh.

Tapi kekuasaan kerajaan Arab Saudi tidak akan runtuh. Cukup ada yang mau dikorbankan. Salah satunya Saud al Qahtani itu.

Qahtani sudah dipecat. Tepatnya digeser.

Jabatannya sebagai penasehat pangeran MbS sudah dihapus. Jabatan barunya ‘cuma’  Chairman Federasi Cyber Security, Programming dan Drone. Itu jabatan lamanya dulu.

Karir Qahtani memang amat cepat. Setelah lulus dari fakultas hukum ia masuk Angkatan Udara. Pangkatnya sebenarnya masih kapten. Tapi kekuasaannya besar. Terutama tiga tahun terakhir. Setelah menjadi tangan kanan Muhamad bin Salman. Yang di Saudi lebih populer dipanggil Pangeran MbS.

Qahtani mulai dekat MbS saat pangeran itu masih menjadi gubernur ibukota Arab Saudi, Riyadh. Di kalangan wartawan senior, Qahtani dikenal sebagai Steve Banon-nya Donald Trump. Tokoh yang agresif dalam menghabisi lawan-lawan politik. Lewat media. Lewat Sosmed. Lewat pernyataan-pernyataan menyerangnya.

Qahtani bukan tokoh misterius. Bukan sosok tersembunyi. Qahtani sangat tampil ‘inilah dadaku’.

Saud al-Qahtani, penasihan Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman—foto alaraby.co.uk

Ia punya grup WA. Salah satunya dengan para pemimpin redaksi dan tokoh-tokoh wartawan. Para Pimred bisa mengenal watak keras dan agresifnya. Hanya lewat grup WA itu saja.

Ia juga aktif di twitter. Orang-orang kritis pada pemerintah diserangnya. Di twitternya.

Pernah dalam suatu medsos ia menyebut sudah punya daftar hitam. Mereka yang dianggap anti pemerintah.

Dan …. itu pula yang mencelakakannya. Atau mencelakakan pangerannya.

Qahtani menggunakan skype. Untuk berkomunikasi dengan tim 15 orang itu.

Harian terkemuka South China Morning Post bahkan menyebut ada perintah ini: ”Bawa ke saya kepala anjing itu”. Dalam pembicaraan skypenya.

Rekaman skype itulah yang kini ada di tangan Presiden Turki: Tayeb Erdogan. Ini yang membuat Arab Saudi tidak berkutik.

Semula Saudi menolak keras kejadian di konsulat itu. Berulang kali. Tanggal 2 Oktober itu Khashoggi sudah meninggalkan konsulat. Baik-baik saja.

Tapi calon istrinya tidak melihat Khashoggi keluar pintu. Hatice Cengiz menunggu di luar pagar. Sejak pukul 13.00. Dia juga yang mengantar Khashoggi ke konsulat. Untuk mengambil surat keterangan: sudah menceraikan istrinya yang dulu. Sebagai syarat untuk bisa menikah dengan wanita Turki itu. Minggu depannya.

Turki terus mengungkapkan kejadian sebenarnya di dalam konsulat. Saudi tidak berkutik: mengakui wartawan 56 tahun itu tewas. Tiga minggu kemudian.

Tapi masih ada tidak jujurnya: meninggal karena berkelahi. Belakangan diperbaiki lagi: meninggal karena tersedak. Akibat tenggorokan tercekik.

Saya tidak bisa menterjemahkan arti yang pas dari kata ‘chokehold’. Yang dinyatakan sebagai penyebab kematiannya. Versi Saudi.

Yang jelas kepala Khashoggi belum ditemukan.

Keikutsertaan seorang dokter ahli forensik di ‘tim 15’ itu sempat menimbulkan spekulasi: Khashoggi dimutilasi. Potongan-potongan tubuhnya ditanam di hutan: 15 km dari konsulat.

Atau jangan-jangan sudah dibawa pulang. Setidaknya kepalanya. Seperti di zaman kekhalifahan dulu.

Kalau Pengeran MbS benar-benar selamat kali ini, itu untuk yang ketiga kalinya. Dalam dua tahun ini.

Tahun lalu Qahtani menyandera orang penting: Perdana Menteri Lebanon, Saad Al Hariri. Di Riyadh.

Lebanon sempat heboh. Perdana Menterinya hilang. Lucu sekali. Perdana menteri kok hilang. Tahu-tahu ia muncul di TV Arab Saudi: menyatakan mengundurkan diri dari jabatan perdana menteri.

Saat disandera itulah Qahtani ambil posisi penting. Ia yang ‘menangani’ Hariri. Perdana menteri dari aliran Sunni tapi dianggap tidak bisa menekan  mayoritas di Lebanon: Syiah.

”Tidak ada pilihan bagi Anda. Kecuali mengundurkan diri. Dan menandatangani pernyataan ini,” ujar Qahtani. Seperti dikutip media internasional.

Hariri akhirnya bebas. Setelah Presiden Prancis, Emmanuel Macron, turun tangan. Pergi sendiri ke Riyadh.

Demikian juga ketika tahun lalu Saudi menghukum Qatar. Mengisolasinya. Memblokadenya. Sampai sekarang. Bahkan akan membuat laut pemisah. Di perbatasan dua negara.

Qatar tetap bertahan. Sampai sekarang. Qatar cukup kaya. Apalagi dua tetangganya membantu: Iran dan Turki. Dua negara yang amat dibenci Saudi.

Qahtani sendiri tidak perlu grogi. Dulu ia sering mengatakan di twitternya: ia tidak melakukan apa pun tanpa persetujuan tuannya.

Atau pernah juga mengatakan begini: Apakah Anda pikir saya membuat putusan tanpa petunjuk? Saya adalah petugas. Hanya menjalankan perintah atasan.

Memang itu tidak dalam konteks lenyapnya Khashoggi.

Itu saat ia masih sangat berkuasa.

Dan mungkin masih akan terus berkuasa.

Ia masih muda.***

Jamal Khashoggi di Kesaksian Calon Istri

Sumber foto-dnaindia com

Oleh: Dahlan Iskan

Sudah sebelas jam calon istri itu menunggu calon suaminya. Belum juga keluar. Sang calon suami sudah berpesan. Sebelum memasuki bangunan rendah itu.

”Kalau saya tidak keluar, adinda hubungi X. Beliau tangan kanan presiden,” ujar calon suami.

Itulah dialog terakhir antara wartawan Jamal Khashoggi dengan calon istrinya: Hatice Cengiz.

Jamal adalah mantan Pimred Al-Watan. Koran nomor tiga terbesar di Arab Saudi. Cengiz adalah wanita Turki. Yang akan dikawini Jamal minggu ini.
Sambil mengatakan pesan itu Jamal menyerahkan dua buah HP-nya ke Cengiz.

Itu sesuai dengan prosedur di situ. Tamu yang akan memasuki gedung itu tidak boleh membawa HP.

Itulah gedung konsulat Arab Saudi di Istambul, Turki. Jamal adalah warga negara Arab Saudi. Yang lagi melarikan diri ke Amerika. Sejak dua tahun lalu. Ia merasa tidak aman di negerinya sendiri. Akibat pekerjaan yang dicintainya: wartawan, penulis.

Jamal banyak menulis tentang perjuangan pembaharuan politik di Saudi. Tentang hak-hak wanita. Dan tentang yang paling sensitif di sana: mengkritik ulama salafi yang doktriner.

Jamal sebenarnya tidak pernah mengusik soal istana. Atau keluarga raja. Ia tahu. Itu super sensitif. Tapi tetap saja Jamal mengalami banyak tekanan.
Pernah Jamal hanya jadi pemimpin redaksi selama 53 hari. Harus berhenti. Karena kebijakan redaksinya yang tidak sejalan dengan penguasa.

Begitu melarikan diri ke Amerika Jamal diterima dengan suka cita. Oleh harian Washington Post. Jadilah Jamal penulis di harian yang begitu terkenalnya.

Begitu memasuki ruang redaksi Washington Post Jamal berbinar. ”Begitu rindu saya dengan suasana ruang redaksi begini,” katanya. Seperti ditulis Washington Post.

Tapi Jamal juga mulai rindu tanah air. Rindu kultur Arabnya. Maka Jamal sering ke Turki.

Mei lalu Jamal menghadiri salah satu konferensi di Istambul. Ketemu Cengiz. Cocok. Tiga bulan kemudian sepakat menikah.

Jamal 59 tahun.
Cengiz 36 tahun.
Beda usia 23 tahun.

Hari pernikahan pun ditetapkan: Minggu pertama Oktober 2018.
Tempat pernikahannya juga sudah ditetapkan: masjid di Istambul. Yang arsitekturnya menjadi obat rindu bagi Jamal: mirip dengan masjid di tempat kelahirannya: kota Madinah al-Munawarah.

Jamal pun mulai mengurus surat-surat untuk nikah. Surat yang terpenting adalah: keterangan tertulis bahwa ia benar-benar telah menceraikan istrinya yang dulu.

Tanpa surat itu lembaga perkawinan di Turki tidak akan mengawinkannya.
Itulah sebabnya Jamal ke konsulat Arab Saudi di Istambul.

Itu ia lakukan tanggal 28 September lalu. Diantar oleh calon istrinya.

Jamal tidak mengalami kesulitan. Saat keluar dari konsulat ia terlihat senyun-senyum terus. Begitulah kesaksian Cengiz.

Jamal bercerita: orang konsulat baik-baik. Menyambutnya dengan ramah. Menjanjikan semuanya akan beres. Tapi perlu sedikit waktu. Disuruhnya kembali tanggal 2 Oktober. Untuk mengambil surat keterangan cerainya.

Lega.
Senang.
Gembira.
Persiapan nikah pun kian serius.

Sore itu juga Jamal terbang ke London. Urusan nikah dianggap tidak ada masalah.

Di London Jamal diingatkan banyak temannya. Agar tetap waspada.
Tanggal 1 Oktober Jamal kembali ke Istambul. Untuk mengambil surat keterangan cerai. Keesokan harinya. ”Pukul 13:00,” kata petugas konsulat.

Calon istri kembali mengantarkan Jamal ke konsulat. Menunggu di luar pagar. Jamal menyerahkan dua HP-nya. Dan berpesan untuk menelepon tangan kanan Presiden Erdogan. Kalau terjadi sesuatu yang mencurigakan.

Itulah pertemuan terakhir si calon mempelai. Jamal tidak pernah keluar dari gedung itu.

Cengiz terus gelisah. Selama 11 jam panantiannya. Lalu berkesimpulan: Jamal mengalami sesuatu. Cengiz pun menelepon si tangan kanan presiden.
Gempar.
Turki turun tangan.
Minta konsulat Saudi membuka diri. Ada apa dengan Jamal.

Konsulat memberi jawaban: Jamal sudah keluar dari gedung konsulat. Tidak ada lagi urusan tersisa.

Cengiz bersaksi: tidak ada tanda-tanda Jamal keluar dari gedung. CCTV Turki juga tidak menunjukkan ada orang seperti Jamal meninggalkan konsulat. Termasuk CCTV di pintu yang satunya lagi.

Menurut Cengiz lalu-lintas keluar-masuk gedung itu mencurigakan.
Pemerintah Turki akhirnya mengumumkan kesimpulan penyelidikannya: Jamal dibunuh. Di dalam gedung konsulat. Oleh 15 orang intelijen. Yang siang itu tiba dari Saudi. Dengan pesawat khusus. Lalu balik lagi ke Saudi. Sore harinya. Dengan pesawat yang sama.

Mereka bisa lolos dengan mudah. Menggunakan fasilitas diplomatik.
Tiadanya gerakan ‘seperti mayat’ keluar gedung menandakan hal lain: kemungkinan tubuhnya dipotong-potong kecil.

Hubungan Turki-Saudi pun –yang tidak mesra itu– memanas. Jamal jadi berita dunia. Entah di mana ujungnya.

Penyelidikan yang juga penting adalah: isi HP Jamal. Yang di-connect-kan dengan jam tangan Apple warna hitam.

Mestinya semua informasi akhir terekam di jam tangan itu. Yang terhubung dengan HP itu.

Jam tangannya memang ikut lenyap. Tapi jejaknya sulit terhapus.***