“Puas Kalian Sekarang?”: Politisi Slovakia Salahkan Media atas Upaya Pembunuhan Perdana Menteri

JAYAKARTA NEWS – Para jurnalis khawatir penembakan Perdana Menteri Slovakia, Robert Fico, akan digunakan sebagai “alat politik” untuk semakin mengekang kehidupan pers nan independen.

Perdana Menteri Slovakia — seorang populis pro-Rusia yang pernah terguling pada 2018 setelah pembunuhan jurnalis Ján Kuciak selama masa jabatannya — dikabarkan telah menjalani operasi darurat setelah upaya pembunuhan di sebuah kota di pusat negara itu.

Fico ditembak beberapa kali setelah acara politik di Handlova, sekitar 190 kilometer timur laut dari ibu kota Bratislava, dan diterbangkan ke rumah sakit di dekat Banska Bystrica dalam kondisi yang digambarkan sebagai “mengancam jiwa.” Setelah operasinya, dilaporkan bahwa kondisinya stabil dan diperkirakan akan selamat. Polisi telah menahan tersangka penembak, demikian seperti dilaporkan Reuters.

PM Slovakia Robert Fico (Foto: Uni Eropa)

Para pemimpin dunia dari Barat menyampaikan keprihatinan mereka, termasuk Presiden AS Joe Biden yang merilis pernyataan mengutuk “tindakan kekerasan yang mengerikan.” Menteri Dalam Negeri Slovakia, Matus Sutaj Estok, menggambarkannya di Facebook sebagai “hari terburuk dalam demokrasi [Slovakia]” dan mengatakan ada “motivasi politik yang jelas” di balik penembakan tersebut.

Anggota ICIJ dan pendiri Investigace.cz, Pavla Holcová, yang bekerja sama dengan Kuciak dalam cerita-cerita yang berasal dari Panama dan Paradise Papers ICIJ, bereaksi dengan cemas terhadap berita tersebut dan potensi implikasinya.

“Saya terkejut,” kata Holcová. “Ini semacam sinyal situasi ekstrem di Slovakia, dari polarisasi yang ekstrem.”

Sejak terpilih kembali musim gugur lalu, Fico dan koalisinya sering menekan pers independen, termasuk menghentikan komunikasi dengan beberapa media terkemuka dan merencanakan pengambilalihan media publik, menurut jurnalis lokal.

“Pemilihan pada bulan September pada dasarnya mengembalikan struktur kekuasaan lama ke kekuasaan, dan salah satu hal pertama yang mereka lakukan adalah mengecilkan ruang bagi pers bebas,” kata Holcová.

Holcová mengatakan negara tersebut telah melihat penurunan signifikan dalam kebebasan pers sejak Kuciak dan tunangannya, Martina Kušnírová, ditembak dalam dugaan pembunuhan kontrak.

Pembunuhan jurnalis tersebut — yang pertama dalam 25 tahun Slovakia sebagai negara merdeka — memicu protes massal dan krisis politik yang menjatuhkan pemerintahan negara tersebut. Meskipun empat orang yang terkait dengan kejahatan tersebut telah dihukum, dalang yang diduga — pengusaha Marian Kocner — telah dibebaskan dua kali.

Situasi Orwellian
Holcová khawatir upaya pembunuhan ini akan digunakan sebagai “alat politik” untuk memperburuk sentimen anti-pers. Reuters melaporkan bahwa sekutu dekat Fico, Lubos Blaha, telah mengutuk media dan oposisi politik karena “kebencian yang kalian sebarkan terhadap Robert Fico.” SME, sebuah media Slovakia, melaporkan Andrej Danko, ketua Partai Nasional Slovakia, bertanya kepada perwakilan media: “Sudah puas sekarang?”

Martin Turček, seorang jurnalis investigasi Slovakia dengan Aktuality.sk, mengatakan tekanan perlahan membuat jurnalisme TV kurang kritis terhadap pemerintah — yang, jika terus berlanjut, dapat berdampak pada orang tua atau orang yang tinggal di kota-kota kecil, yang menurut Turček kurang mungkin mengonsumsi berita secara digital atau cetak. Peter Sabo, seorang jurnalis Slovakia juga dengan Aktuality.sk, mengatakan banyak media terbesar dimiliki oleh oligarki — meninggalkan ruang berita kecil, NGO sebagai “satu-satunya media bebas.”

“Ini semacam situasi Orwellian,” kata Sabo. “Orang-orang yang selama bertahun-tahun memproduksi kata-kata yang sangat penuh kebencian tentang media dan oposisi, tentang LSM — sekarang mereka mengatakan bahwa media, oposisi, dan LSM pada dasarnya adalah pihak yang bertanggung jawab atas kebencian.”

Namun Turček mengatakan dia adalah seorang optimis. Meskipun dia telah melaporkan secara luas tentang Fico, pemerintahnya, dan korupsi di Slovakia, berita tentang upaya pembunuhan “menyakitkan untuk dilihat.”

“Terkadang terjadi kekacauan seperti ini hanya menghasilkan perang media besar dan segalanya,” katanya. “Tapi terkadang, dalam momen-momen seperti ini, sebenarnya bisa terjadi bahwa sebuah bangsa menjadi sedikit lebih bersatu.” (ICIJ/sm)

Khashoggi sampai di Twitter Qahtani

Jamal Khashoggi–image posted on Facebook by jamal khashoggi/ndtv com

Oleh: Dahlan Iskan

Pangeran MbS pasti akan aman. Tidak mungkin jatuh. Arab Saudi bukan negara demokrasi. Yang pemimpinnya bisa mudah dijatuhkan.

Dan lagi, tangan kanannya pasti melindunginya: Saud al Qahtani. Yang umurnya kini di puncak kejayaannya: 40 tahun.

Wartawan Khashoggi boleh meninggal. Dengan cara  dibunuh. Di konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki. Oleh 15 orang tim intelejen kerajaan. Yang terbang khusus ke Istanbul. Dengan dua pesawat jet carteran. Yang terbang dari Riyadh.

Tapi kekuasaan kerajaan Arab Saudi tidak akan runtuh. Cukup ada yang mau dikorbankan. Salah satunya Saud al Qahtani itu.

Qahtani sudah dipecat. Tepatnya digeser.

Jabatannya sebagai penasehat pangeran MbS sudah dihapus. Jabatan barunya ‘cuma’  Chairman Federasi Cyber Security, Programming dan Drone. Itu jabatan lamanya dulu.

Karir Qahtani memang amat cepat. Setelah lulus dari fakultas hukum ia masuk Angkatan Udara. Pangkatnya sebenarnya masih kapten. Tapi kekuasaannya besar. Terutama tiga tahun terakhir. Setelah menjadi tangan kanan Muhamad bin Salman. Yang di Saudi lebih populer dipanggil Pangeran MbS.

Qahtani mulai dekat MbS saat pangeran itu masih menjadi gubernur ibukota Arab Saudi, Riyadh. Di kalangan wartawan senior, Qahtani dikenal sebagai Steve Banon-nya Donald Trump. Tokoh yang agresif dalam menghabisi lawan-lawan politik. Lewat media. Lewat Sosmed. Lewat pernyataan-pernyataan menyerangnya.

Qahtani bukan tokoh misterius. Bukan sosok tersembunyi. Qahtani sangat tampil ‘inilah dadaku’.

Saud al-Qahtani, penasihan Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman—foto alaraby.co.uk

Ia punya grup WA. Salah satunya dengan para pemimpin redaksi dan tokoh-tokoh wartawan. Para Pimred bisa mengenal watak keras dan agresifnya. Hanya lewat grup WA itu saja.

Ia juga aktif di twitter. Orang-orang kritis pada pemerintah diserangnya. Di twitternya.

Pernah dalam suatu medsos ia menyebut sudah punya daftar hitam. Mereka yang dianggap anti pemerintah.

Dan …. itu pula yang mencelakakannya. Atau mencelakakan pangerannya.

Qahtani menggunakan skype. Untuk berkomunikasi dengan tim 15 orang itu.

Harian terkemuka South China Morning Post bahkan menyebut ada perintah ini: ”Bawa ke saya kepala anjing itu”. Dalam pembicaraan skypenya.

Rekaman skype itulah yang kini ada di tangan Presiden Turki: Tayeb Erdogan. Ini yang membuat Arab Saudi tidak berkutik.

Semula Saudi menolak keras kejadian di konsulat itu. Berulang kali. Tanggal 2 Oktober itu Khashoggi sudah meninggalkan konsulat. Baik-baik saja.

Tapi calon istrinya tidak melihat Khashoggi keluar pintu. Hatice Cengiz menunggu di luar pagar. Sejak pukul 13.00. Dia juga yang mengantar Khashoggi ke konsulat. Untuk mengambil surat keterangan: sudah menceraikan istrinya yang dulu. Sebagai syarat untuk bisa menikah dengan wanita Turki itu. Minggu depannya.

Turki terus mengungkapkan kejadian sebenarnya di dalam konsulat. Saudi tidak berkutik: mengakui wartawan 56 tahun itu tewas. Tiga minggu kemudian.

Tapi masih ada tidak jujurnya: meninggal karena berkelahi. Belakangan diperbaiki lagi: meninggal karena tersedak. Akibat tenggorokan tercekik.

Saya tidak bisa menterjemahkan arti yang pas dari kata ‘chokehold’. Yang dinyatakan sebagai penyebab kematiannya. Versi Saudi.

Yang jelas kepala Khashoggi belum ditemukan.

Keikutsertaan seorang dokter ahli forensik di ‘tim 15’ itu sempat menimbulkan spekulasi: Khashoggi dimutilasi. Potongan-potongan tubuhnya ditanam di hutan: 15 km dari konsulat.

Atau jangan-jangan sudah dibawa pulang. Setidaknya kepalanya. Seperti di zaman kekhalifahan dulu.

Kalau Pengeran MbS benar-benar selamat kali ini, itu untuk yang ketiga kalinya. Dalam dua tahun ini.

Tahun lalu Qahtani menyandera orang penting: Perdana Menteri Lebanon, Saad Al Hariri. Di Riyadh.

Lebanon sempat heboh. Perdana Menterinya hilang. Lucu sekali. Perdana menteri kok hilang. Tahu-tahu ia muncul di TV Arab Saudi: menyatakan mengundurkan diri dari jabatan perdana menteri.

Saat disandera itulah Qahtani ambil posisi penting. Ia yang ‘menangani’ Hariri. Perdana menteri dari aliran Sunni tapi dianggap tidak bisa menekan  mayoritas di Lebanon: Syiah.

”Tidak ada pilihan bagi Anda. Kecuali mengundurkan diri. Dan menandatangani pernyataan ini,” ujar Qahtani. Seperti dikutip media internasional.

Hariri akhirnya bebas. Setelah Presiden Prancis, Emmanuel Macron, turun tangan. Pergi sendiri ke Riyadh.

Demikian juga ketika tahun lalu Saudi menghukum Qatar. Mengisolasinya. Memblokadenya. Sampai sekarang. Bahkan akan membuat laut pemisah. Di perbatasan dua negara.

Qatar tetap bertahan. Sampai sekarang. Qatar cukup kaya. Apalagi dua tetangganya membantu: Iran dan Turki. Dua negara yang amat dibenci Saudi.

Qahtani sendiri tidak perlu grogi. Dulu ia sering mengatakan di twitternya: ia tidak melakukan apa pun tanpa persetujuan tuannya.

Atau pernah juga mengatakan begini: Apakah Anda pikir saya membuat putusan tanpa petunjuk? Saya adalah petugas. Hanya menjalankan perintah atasan.

Memang itu tidak dalam konteks lenyapnya Khashoggi.

Itu saat ia masih sangat berkuasa.

Dan mungkin masih akan terus berkuasa.

Ia masih muda.***