Fun Day 2019, Akhiri Rangkaian HUT Kota Bekasi

Suasana saat peserta lomba Out Of The Box – Fun Day 2019  melintasi rute di jalan Jenderal Ahmad Yani Bekasi, ( Foto : Nanang S )

JAYAKARTA NEWS – Wakil Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono, membuka acara Out Of The Box – Fun Day 2019 sekaligus menandai berakhirnya seluruh rangkaian acara HUT Kota Bekasi ke-22 yang diperingati setiap tanggal 10 Maret. Acara pamungkas itu diselenggarakan Minggu, 31 Maret 2019 di komplek Plaza Pemkot Bekasi.

Tri Adhianto beserta istri, Kapolres Metro Bekasi, Sekda dan perwakilan Bank BJB melepas 1.873 peserta fun bike (sepeda santaI) dan ribuan peserta fun walk (jalan santai). Peserta fun bike  menempuh jarak 15 km melalui  Jalan Jenderal Ahmad Yani-Jalan Raya Pekayon-Jalan Raya Kemang-Jalan Raya Siliwangi-Jalan Cut Meutia-Jalan Sersan Aswan-Jalan Lapangan Multiguna-Jalan Ir. Juanda-Jalan Pramuka-Jalan Veteran-Jalan Ir.Juanda dan finish di pelataran Pemkot Bekasi. Sedangkan peserta fun walk mengambil rute mengelilingi jalan Jenderal Ahmad Yani lalu kembali ke kantor Pemkot Kota.

Dalam kesempatan itu, Tri Adhianto menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh warga Kota Bekasi dan para sponsor. “Saya berharap ini menjadi kebahagiaan bagi seluruh masyarakat Kota Bekasi. Semua sehat bawa hadiah, mimpi indah kemudian memberikan kontribusi buat Bekasi. Kegiatan fun walk, fun bike dan senam sehat merupakan kegiatan olahraga yang dibutuhkan tubuh. Tapi kalau ada yang ingin berobat, sekarang kita punya kartu sehat,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat Kota Bekasi datang ke TPS pada 17 April 2019 nanti untuk menggunakan hak suaranya di Pemilu 2019, dan memastikan pelaksanaan pesta demokrasi di Kota Bekasi berjalan aman, tertib, dan terkendali.

Lautan masyarakat memadati ruas jalan, rute yang dilalui para peserta Fun Bike dan Fun Walk serta masyarakat umum lain. Kepadatan terutama di ruas Jalan Ahmad Yani sampai ke kawasan Summarecon. Terlebih, di wilayah ini rutin setiap Minggu pagi dijadikan zona car free day. Sekalipun pikuk dengan ribuan manusia, tetapi suasana tetap tertib berkat pengaturan petugas Satlantas Metro Bekasi dan Satuan Keamanan Pemkot Bekasi.

Tak terkecuali, area Plaza Pemkot Bekasi juga meriah. Sebab di situlah tempat berkumpul peserta fun bike maupun fun walk berkumpul setelah menyelesaikan putaran sesuai rute. Di area itu pula peserta menukarkan kupon dengan konsumsi. Kupon bernomor itu, nantinya diundi untuk mendapatkan doorprize.

Usai senam bersama, mereka dihibur dengan sajian musik dan atraksi budaya dari berbagai komunitas yang ada di Bekasi. Peserta pun bertahan, dengan harapan kupon yang dimilikinya, beruntung mendapatkan aneka hadiah yang disediakan panitia. Antara lain mobil, sepeda motor, sepeda, laptop, mesin cuci, kompor gas, ponsel, dan voucher senilai jutaan rupiah.

Dengan harap-harap cemas, mereka memperhatikan nomor kupon yang mereka bawa, setiap kali panitia membacakan nomor undian dari atas panggung. Suara gemuruh dan teriakan para peserta setiap kali nomornya tidak tersebut atau nomornya beda satu-dua digit di belakangnya. Rasa capek setelah mengikuti kegiatan lomba ditambah suasana terik matahari terkalahkan oleh besarnya harapan mereka untuk mendapatkan hadiah yang bisa dibawa pulang. Untuk mengalihkan dari rasa jenuh dan panasnya suasana, sang pembawa acara sesekali menggantinya dengan selingan joget dangdut.

Ribuan peserta lomba Out Of The Box – Fun Day 2019, dengan antusias memadati area lapangan Pemkot Kota Bekasi, saat pengundian hadiah door prize berlangsung. (foto : Nanang S)

Setelah sejumlah hadiah selesai dibagikan, giliran satu jenis hadiah yang sangat ditunggu-tunggu oleh para peserta, yaitu hadiah utama berupa sebuah mobil. Suasana makin seru, ada yang berteriak teriak, tidak sabar untuk cepat-cepat dibacakan, ada yang terdiam sambil khusuk berdo’a, tapi ada juga yang cuek. Akhirnya pembacaan nomor kupon pun dimulai, nomor pertama dibacakan oleh panitia, tidak ada peserta yang menjawab, pertanda kalau nomornya tidak sama, dikasih batas waktu sampai lima hitungan, kemudian dilanjutkan dengan nomor lain, juga sama tidak ada yang maju, giliran nomor ketiga dibacakan, dari belakang seorang pria sambil teriak dan langsung lari naik ke atas panggung untuk dicocokkan nomornya dengan panitia. Setelah panitia bilang cocok dan sah, ia langsung bersujud syukur di atas panggung karena mendapatkan rezeki yang tidak disangka-sangka.

Lelaki beruntung itu adalah Jumadi, salah satu peserta fun bike dari Pekayon Bekasi Selatan. Kepada awak media yang mengerumuninya ia mengaku sangat senang dan bahagia. Ditanya firasat, Jumadi hanya bilang, “Saya terus baca sholawat dan berdoa terus. Saya yakin… yakin sekali….“

Kemeriahan acara itu semua, tak lepas dari dukungan sponsor. Para sponsor di antaranya Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfostandi) Kota Bekasi, Luwak White Koffie, Bank BCA, Bank BJB, Astra Honda Motor, Telkom Indonesia, PLN, Bright Gas, Tremondi, Aqua, Alfamart, XL, Pegadaian, RM. Wulan Sari, dan HIPMI. (Nanang S.)

Lebih Dekat dengan Calon Wakil Walikota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono

Calon Walikota Bekasi, Tri Adhianto Tjahyono sesaat sebelum mendaftar ke KPUD Kota Bekasi. Foto: Roni JP

TULISAN ini bisa menjadi referensi masyarakat, ketika hendak menelisik rekam-jejak kandidat. Tri Adhianto menjalani karier tidak semata untuk kepentingan pribadi. Pengabdian dan kerja keras adalah petuah orang-tua yang menjadi pegangan hidupnya. “Bekerja harus keras tetapi cita-cita harus tinggi,” kata Tri Adhianto yang kembali mengulang apa yang pernah dikatakan ayahanda tercintanya.

Dr. H. Tri Adhianto Tjahyono, SE, MM lahir di Jakarta, 3 Januari 1970. Tumbuh dan besar di daerah Karet Kuningan yang kini menjadi Mall Abassador, dalam lingkungan yang sangat Islami dan kental dengan budaya Betawi. Ia blasteran Surabaya, Jawa Timur, dengan ibu berdarah Solo.

Kecil hingga besar di Jakarta tidak membuatnya kehilangan akar keluarga; kultur Jawa tetap kental mengendap dalam keluarganya. Bahkan, ayahanda selalu mengajak Tri kecil hingga besar menapak tilasi leluhurnya, sehingga tetap mengenal garis keturunan. “Istilahnya wisata dari makam ke makam,” selorohnya.

Karena pergeseran wilayah, musimnya penggusuran saat itu, pada 1986, lelaki bertubuh tinggi ini mengikuti ayah dan ibunya bergeser tempat tinggal ke Bekasi, Jawa Barat. Sejak itu, Bekasi menjadi tanah air kedua baginya. Meski begitu, saat itu ia masih menyelesaikan masa Sekolah Menengah Atas di SMAN 3 Jakarta.

Selepas SMA, Tri remaja menunda memasuki kuliah selama satu tahun. Sebagai anak ketiga dari enam bersaudara dan menjadi satu-satunya lelaki dalam keluarga, ada tanggung jawab besar menimbang keadaan keluarga saat itu. Kedua kakak perempuannya saat itu sudah berkuliah di Perguruan Tinggi swasta, sangat berat bagi orang tua yang tidak terlalu berlebihan jika memilih alur yang sama. Hal ini membulatkan tekad dirinya untuk masuk ke sekolah berbasis kedinasan, sehingga tidak membebani orang tua dalam hal biaya.

Tri Adhianto Tjahyono dalam lukisan karya pelukis Bekasi, Maryanto. 

Tekad itu terbukti mampu mendorongnya meraih rencananya. Tahun berikutnya ia diterima di Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Tapi karena kondisi ekonomi, Tri lebih memilih Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD).

“Mestinya saya melanjutkan cita-cita ayah saya dan mencapai itu,” kata Tri. Pada akhirnya, Tri memutuskan kembali ke pertimbangan awal untuk memilih pendidikan berbasis kedinasan. Maka, diputuskan dengan bulat ia menjadi taruna STTD, dahulu masih bernama Pendidikan D3 Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya (DLLAJR).

Paling tidak ada tiga petuah ayahnya yang selalu menjadi dasar baginya melangkah dan berkarya. Petuah kedua setelah petuah untuk kerja keras dan bercita-cita tinggi adalah hidup harus selalu lebih baik serta berguna bagi orang lain. Ada dorongan luar biasa bagi dirinya dan saudaranya, bahwa setiap pencapaian orang tua harus dilampaui untuk mencapai prinsip lebih baik.

Prinsip lebih baik dari apa yang dicapai orang tuanya telah menjadi bensin baginya meraih gelar sarjana strata tiga dan berhak menyandang gelar doktor dari Universitas Pasundan, Bandung. “Seluruh kakak beradik, kami semua alhamdulillah mencapai sarjana bahkan lebih. Semua bertumpu pada semangat mencapai tingkat lebih baik dari sebelumnya,” katanya.

Menjadi lebih baik, akan terus melandasi daya juang Tri dalam bekerja dan mengabdi. Mengikuti jejak sang ayah di birokrasi hingga level eselon empat, lelaki berputra tiga ini tidak ada pilihan kecuali menggenjot daya juang dan pengabdian melampui sang ayah. “Hal-hal baik yang menjadi motivasi ketika saya tumbuh kembang akan saya tularkan kepada anak-anak saya,” katanya. Semua petuah orang tua itu, bagi lelaki rumahan ini adalah motivasi yang membentuk karakter.

Lulus STTD pada 1993, mantan taruna ini ditempatkan di Direktorat Jenderal Perhubungan Darat di PT Kereta Api Indonesia selama satu tahun. Setahun berikutnya, 1994 hingga 2000, ia menempati pos baru sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Lampung. Diawali sebagai staf hingga menjabat sebagai koordinator jembatan timbang se-Provinsi Lampung. Dimulainya otonomi daerah, kemudian mengembalikan Tri ke Bekasi; tanah air keduanya dimana dia mengabdi. Sejak Oktober 2000 hingga kini resmilah seorang Tri Adhianto menjadi pengabdi sipil di Pemerintah Kota Bekasi.

Di sela masa ia menjadi taruna STTD, hatinya berlabuh pada gadis bernama Dwi Setyowati. Setelah melalui masa pacaran beberapa waktu, pada 1998 Tri mempersunting gadis impiannya itu menjadi pendamping hidupnya hingga kini. Pasangan ini dikaruniai tiga anak; Adhitya Gani, kelas dua SMA Krida Bandung, Sabrina Diah Salsabila, masuk di SMAN 1 Bekasi, dan Adhitya Bintang Zarif, kelas dua sekolah dasar.

“Bintang lahir sebagai jawaban munajat kami saat berangkat haji. Sebab rumah mulai terasa sepi dan kehilangan objek untuk menggoda dan bercanda,” kata Tri yang memilih rumah dan tempat kerja sebagai satu-satunya tempat ternyaman.

Membesarkan tiga jagoan di masa seperti ini tidak mudah. Paling sedikit ia meletakkan langkah paling awal mengikuti jejak orang tua dalam mendidik anak adalah membangun personal pride. “Dan titik awal personal pride ini adalah nama yang baik, seperti dicontohkan oleh Rasulullah SAW,” jelasnya.

Lebih jauh Tri mengatakan, kebanggaan diri yang dibangun dengan baik akan membentuk pribadi yang mampu memaknai lingkungan dan justru bukan dipengaruhi lingkungan. Namanya sendiri terbangun atas tiga kata harapan. Tri mengingat ia anak urutan ketiga, Adhi adalah baik, Anto adalah lelaki dan Tjahjono bermakna bersinar. Sehingga namanya menyimpan harapan orang tua-nya agar ia menjadi anak lelaki yang baik dan mampu memberikan cahaya kepada kehidupan keluarga.

Menempati beberapa pos sebelumnya hingga kini, pemerhati masalah transportasi ini relatif tidak bergeser dari bidang ilmu yang digelutinya. Jika sebelumnya lebih banyak bermain di wilayah rekayasa manajemen transportasi, didapuknya dirinya menjadi Kepala Dinas Bina Marga dan Tata Air, makin menasbihkan kapabilitasnya di bidang jalan dan pembangunan jalan. Sempat mengikuti pertukaran pegawai dengan Kota Gresham, Oregon USA melalui program USAID tahun 2001-2002, sehingga Kota Bekasi mampu untuk menerapkan ATCS (Area Traffic Control System) dengan menerapkan system count down pada traffic light. Bekasi adalah kota pertama yang menggunakan sistem tersebut.

“Kini adalah implementasi dari rancangan-rancangan yang dibangun saat masih di dinas lalu lintas, diimplementasikan dalam konteks riil pembangunan dan penambahan infrastuktur untuk rancangan itu,” katanya ketika ditanya tentang posisinya terakhir sebagai Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air

Sosok yang tampak sangat menguasai bidangnya ini, seperti siap terus meluncur melewati semua prestasi ayahnya. Bekasi barangkali harus bersiap melihat bintang baru bersinar seperti harapan yang dititipkan orang tua pada seorang Tri Adhianto Tjahyono. ***