Celengan yang Membawa Terang

RATUSAN rumah di desa tertinggal itu sekarang terang-benderang pada waktu malam. Semua berasal dari gerakan ‘’Filantropis Cilik’’ yang dimotori ribuan siswa-siswi taman kanak-kanak dan sekolah dasar Muhammadiyah, di Jakarta. Dampak kegiatan itu sungguh di luar dugaan!

Ada pemandangan yang berbeda di rumah Ahmad, pada hari pertama Ramadhan, tahun ini. Untuk kali pertama, mereka bisa menikmati buka dan sahur bersama-sama, diterangi cahaya lampu listrik.

Ahmad, salah satu warga yang menikmati buka puasa dan sahur diterangi lampu energi surya. Foto: JTO

Ahmad adalah salah satu warga Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, yang ‘’beruntung’’. Rumahnya mendapat bantuan satu set lampu tenaga surya, bersama 500 rumah lainnya, pada tahap pertama. Masih ada 1.500 rumah yang harus menanti bantuan tahap kedua dan ketiga.

Siapa pihak yang berbaik hati itu? Bantuan itu ternyata berasal dari anak-anak sekolah taman kanak-kanak dan sekolah dasar Muhammadiyah di Jakarta. Sebanyak 10 ribu siswa bergotong-royong. Menyisihkan sebagian uang jajannya. Ditabung melalui gerakan ‘’Filantropis Cilik’’. Gagasan lembaga amil zakat Muhammadiyah, Lazismu, pada bulan Ramadhan tahun lalu.

Dalam program ‘’Filantropis Cilik’’, setiap siswa mendapat sebuah celengan kaleng. Setiap hari, para siswa memasukkan uang ke dalam celengan itu. Dua minggu kemudian, celengan dikumpulkan melalui guru kelas masing-masing. Lalu dihitung bersama-sama. Dana yang dikumpulkan kemudian diserahkan kepada Lazismu.

Dari 10 ribu kaleng, terkumpul dana Rp 480 juta. Berarti rata-rata per siswa menyumbang sebesar Rp 48 ribu. Setiap siswa menabung per hari antara Rp 4 ribu hingga Rp 5 ribu.

Oleh Lazismu, dana tersebut dibelanjakan paket lampu tenaga surya dan paket alat sekolah. Seperti tas, buku dan alat tulis lainnya. Semua dikirimkan kepada masyarakat kurang mampu di beberapa desa tertinggal di Timor Tengah Selatan. Yang 98 persen penduduknya beragama Nasrani.

Distribusi paket bantuan lampu energi surya melalui skema yang ditetapkan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). Tim kerja di bawah Kantor Staf Wakil Presiden. Nama programnya: ‘’Indonesia Terang’’.

Tim TNP2K bersama Roy Babys anggota DPRD Timor Tengah Selatan seusai seminar Indonesia Terang di Jakarta pekan lalu. Foto: JTO

Menurut riset TNP2K, listrik merupakan sarana dasar untuk mengentas kemiskinan. Masalahnya, ada beberapa daerah yang belum bisa dilayani jaringan listrik PLN. Bahkan hingga 10 tahun mendatang. Salah satunya, beberapa desa di Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Sebagai solusi, TNP2K menginisiasi program listrik tenaga surya. Melibatkan berbagai unsur masyarakat seperti lembaga amil zakat dan perusahaan yang memiliki program corporate social responsibility (CSR). Lazismu menjadi lembaga zakat pertama, yang berpartisipasi dalam program itu. Yang dananya, sebagian berasal dari para filantropis cilik itu.

Hasil implementasi tahap pertama tahun 2017, diseminarkan pekan lalu. Banyak eksekutif perusahaan besar yang hadir. Mereka ingin mengetahui, dampak positif program ‘’Indonesia Terang’’. Setelah dilaksanakan selama setahun.

Seperti rekomendasi hasil penelitian, ‘’Indonesia Terang’’ menghasilkan peningkatan produktivitas masyarakat dalam berbagai sektor. Di bidang ekonomi, masyarakat bisa meningkatkan jam kerja di ladang. Hasil menenun juga lebih banyak karena bisa dilakukan hingga tengah malam.

Di bidang pendidikan, kehadiran lampu listrik tenaga surya menyebabkan anak-anak bisa belajar pada malam hari. Semangat belajarnya meningkat. Prestasi di sekolahnya juga membaik.

Di bidang religi, lampu listrik tenaga matahari juga membuat takmir masjid dan mushola bisa mendirikan jamaah salat magrib, isya dan subuh. Termasuk, kegiatan buka Bersama dan salat tarawih.

Sebagai program latihan berderma, ‘’Filantropis Cilik’’ bisa dibilang sukses. Karena itu, tahun ini ‘’Filantropis Cilik’’ dijadikan program nasional. Dijalankan hampir semua kantor Lazismu di seluruh Indonesia. Dengan target 100 ribu siswa. Dengan sasaran lebih luas: pulau-pulau terpencil di Indonesia bagian timur. ***

Kejutan “Indonesia Terang” dari TNI

Paulus, Direktur PT ATW Sejahtera, dalam sebuah acara presentasi.

Ada program ‘’Indonesia Terang’’ yang tak kalah menarik dibanding program serupa yang dimotori Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). Pelaksananya Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Sama-sama mencanangkan program penerangan rumah penduduk yang tidak teraliri listrik PLN dengan lampu hemat energi. Sama-sama bertujuan untuk mempercepat peningkatan kesejahteraan kelompok masyarakat miskin dan tertinggal. Bedanya hanya pada pilihan produknya.

TNP2K yang berada di bawah Kantor Sekretariat Wakil Presiden itu menggunakan lampu listrik tipe LED dengan panel surya sebagai sumber energi. Sedangkan TNI menggunakan lampu LED yang dihidupkan dengan genset.

Lampu bertenaga matahari bisa menyala pada malam hari karena menerima energi yang tersimpan dalam baterai. Baterai mendapat energi dari panel surya. Panel surya memperoleh energi dari sinar matahari (light) pada siang hari. TNP2K memberikan bantuan lampu tenaga surya dengan paket 3 lampu ditambah 1 baterai dan 1 solar panel. Satu sistem itu bekerja secara independen.

Paket yang diberikan TNI sedikit berbeda. Masyarakat menerima bantuan berupa 5 lampu ditambah 1 aki. Dalam setiap kelompok dengan jumlah tertentu, TNI memberikan sebuah genset.

Fungsi genset tentu saja untuk mengalirkan setrum ke aki. Sekali charge dengan waktu sekitar 3 jam, cukup untuk menghidupkan 5 lampu selama sebulan. Jadi, penerima bantuan harus nge-charge aki sebulan sekali.

Meski program ini sudah bisa menjadi solusi, menurut saya masih ada kendala teknisnya. Misalnya, bagaimana kalau genset tidak bisa dioperasikan karena daerah itu sulit memperoleh bahan bakar minyak (BBM)? Bagaimana kalau pusat penjualan BBM lokasinya sangat jauh? Alangkah repotnya mencari BBM agar bisa melayani masyarakat yang ingin menyetrumkan aki?

Terpikir sebuah ide, untuk mengganti genset berbahan bakar minyak itu dengan ‘’genset’’ berbahan bakar terbarukan. Yang jumlahnya melimpah ruah. Yang bisa dimanfaatkan secara gratis: tenaga sinar matahari!

Dengan panel surya yang jumlahnya memadai, pasti bisa menghasilkan listrik yang setara dengan genset BBM. Berarti keberadaan genset BBM itu bisa digantikan.

Dengan panel surya, penyedia jasa setrum aki tidak punya ketergantungan lagi dengan BBM. Tidak perlu pusing mencari BBM yang mungkin jauh lokasinya. Tidak perlu pusing mencari BBM yang mungkin stoknya habis. Selama matahari masih bersinar, berarti genset ramah lingkungan itu akan terus beroperasi. Bisa di hutan-hutan, di gunung-gunung, bahkan di pulau-pulau terpencil yang tak terjamah listrik.

Segera saya kontak Paulus, Direktur PT ATW Sejahtera. Perusahaan itu bergerak dalam bidang penyedia solusi energi surya untuk residensial dan industrial. Saya hanya ingin memastikan, ketersediaan produk solar cell yang bisa menggantikan genset BBM itu.

Paulus tentu saja gembira mendengar cerita saya. Minggu depan, pria asal Banyumas itu mengundang saya ke kantornya untuk mendiskusikan genset tenaga surya. Mudah-mudahan, pertemuan ini bisa menghasilkan sebuah solusi baru: menghadirkan Indonesia Terang hingga jauh ke pedalaman Nusantara.

TNI hebat! ***