BULOG Bandung Pastikan Stok Beras Aman Sampai Akhir 2026, Warga tak Perlu ‘Panic Buying’

JAYAKARTA NEWS— Perum BULOG Cabang Bandung memastikan pasokan beras untuk wilayah Bandung Raya berada dalam kondisi aman dan mencukupi hingga akhir tahun 2026.

Pimpinan BULOG Cabang Bandung, Yanto Nurdianto, mengungkapkan bahwa per hari Kamis ini, jumlah cadangan beras yang tersimpan di gudang BULOG telah menyentuh angka 25 ribu ton. Pasokan tersebut dipastikan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sampai akhir Desember 2026.

“BULOG Cabang Bandung pada saat ini memiliki stok kurang lebih 25 ribu ton. Kemudian stok itu akan terus bertambah karena masih dilakukan penyerapan gabah dari petani,” ujar Yanto saat dikonfirmasi ANTARA di Bandung, Jawa Barat, Kamis.

Yanto optimistis ketahanan pasokan beras di wilayahnya akan semakin solid seiring dengan proses penyerapan hasil panen petani yang masih berjalan. Saat ini, realisasi penyerapan gabah telah mencapai 93 persen dari target keseluruhan sebesar 72 ribu ton. Pihaknya berharap target tersebut dapat tercapai sepenuhnya sehingga cadangan beras terus bertambah hingga penutupan tahun.

Jumlah cadangan yang ada saat ini dipastikan sangat memadai untuk mendukung distribusi program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Jika sewaktu-waktu terjadi kekurangan pasokan, BULOG Bandung juga dapat menerima pasokan cadangan dari kantor BULOG wilayah Jawa Barat lainnya.

Guna menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen, BULOG Bandung aktif menyalurkan beras SPHP ke pasar rakyat maupun ritel modern. Selain itu, kolaborasi dengan pemerintah daerah terus diperkuat melalui penyediaan beras di pasar murah dan operasi pasar sesuai ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET).

Menyikapi kondisi cadangan yang melimpah, Yanto meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebihan (panic buying).

“Untuk masyarakat saat ini juga kami tidak menyarankan adanya panic buying. Tidak perlu ada kekhawatiran karena memang stok sangat aman,” pungkasnya. (Sumber: Antara)

Pemerintah Catat Stok Cadangan Beras Capai 4 Juta Ton

JAYAKARTA NEWS – Pemerintah mencatatkan sejarah baru dalam tata kelola pangan nasional. Untuk pertama kalinya sejak Perum Bulog berdiri pada 1969, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) menembus 4 juta ton.

Berdasarkan laporan real-time per Kamis, 29 Mei 2025 pukul 21.41 WIB, serapan setara beras oleh Bulog telah mencapai 2.407.257 ton, dan total stok beras nasional resmi tercatat sebesar 4.001.059 ton.

“Saya menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh petani Indonesia, dan semua pihak telah bekerja bahu-membahu hingga Indonesia mencapai cadangan beras terbesar dalam sejarah,” ungkap Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman di Jakarta, Jumat (30/5/2025).

Mentan menyebut bahwa capaian spektakuler ini tak lepas dari gagasan besar Presiden Prabowo Subianto, yang secara konsisten mendorong berbagai terobosan strategis melalui penerbitan Instruksi Presiden (Inpres) untuk memperkuat produksi dan memudahkan petani dalam berusaha tani.

“Presiden Prabowo memberi perhatian luar biasa pada pertanian. Penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah Kering Panen sebesar Rp6.500/kg dan penghapusan sistem rafaksi menjadi bukti nyata. Petani kini menikmati harga jual yang menguntungkan, bahkan di saat panen raya,” tambahnya.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional pada Januari–Mei 2025 diperkirakan mencapai 16,55 juta ton, meningkat tajam 11,95 persen dari tahun sebelumnya.

Capaian tersebut juga sejalan dengan kinerja serapan Bulog yang mencatat rekor tertinggi dalam 57 tahun terakhir. Hingga akhir Mei 2025.

Bulog telah menyerap lebih dari 2,4 juta ton beras lokal, melonjak lebih dari 400 persen dibandingkan rata-rata serapan dalam periode sama 5 tahun terakhir yang hanya berada di kisaran 1,2 juta ton.

“Ini menunjukkan bahwa produksi dalam negeri tidak hanya meningkat, tapi juga diserap secara masif langsung dari petani. Langkah ini efektif memperkuat cadangan nasional dan menjaga kestabilan harga di tingkat petani,” terang Mentan Amran.

Mentan Amran menegaskan bahwa pencapaian 4 juta ton bukan sekadar angka statistik, melainkan simbol kuat dari meningkatnya kesejahteraan petani dan kemandirian bangsa.

“Dulu saat panen raya, harga gabah kerap anjlok dan petani merugi. Kini, mayoritas petani bisa menjual GKP minimal Rp6.500 per kg sesuai HPP, bahkan lebih. Ini buah dari kebijakan yang berpihak pada petani,” kata.Amran.

Mentan juga memberikan apresiasi khusus pada strategi agresif jemput bola yang dilakukan oleh Bulog dalam menyerap gabah petani secara langsung.

“Langkah Bulog menjemput hasil panen langsung dari petani sangat efektif. Ini bukan hanya memperkuat cadangan beras pemerintah, tapi juga memberikan kepastian harga dan pasar bagi petani kita,” jelas Mentan. (yog)

Dirut BULOG Cek Stok Beras di Pasar Johar Karawang, Bayu: Ini Sudah Mendekati Pasokan Normal

KARAWANG, JAYAKARTA NEWS – Direktur Utama Perum BULOG Bayu Krisnamurthi memantau kondisi stok beras di Pasar Johar Karawang dan melihat langsung pasokan beras yang mulai berlimpah mendekati kondisi normal.

Menurut Bayu tambahan pasokan dari beras SPHP sebesar 300 ton perhari membuat pasokan beras di Karawang sudah mendekati pasokan normal sebagaimana biasanya.

“Sebelumnya pasokan di Pasar Johar cuma 500 ton perhari, dengan tambahan SPHP 300 ton menjadi 800 ton per hari dan ini sudah mendekati pasokan normal disini yang rata-rata sebesar 1.000 ton perhari” kata Bayu.

Selanjutnya Sekretaris Paguyuban Pedagang Beras Pasar Johar Karawang Acin mengatakan saat ini kondisi harga beras di pasar tersebut ada penurunan harga sebesar Rp 1.000 sampai Rp 1.500 perkilo.

“Untuk beras lokal Demak harganya sudah turun dari 14.500 perkilo menjadi Rp13.500 perkilo. Sementara untuk beras premium yang tadinya Rp16.000 perkilo sekarang menjadi Rp14.500 perkilo,” katanya.

Menurut Acin, dengan adanya tambahan pasokan beras Bulog di Pasar Johar sangat berdampak terhadap penurunan harga beras.

Selain Pasar Induk Beras Cipinang yang merupakan pasar grosir tingkat konsumen, Pasar Johar Karawang merupakan pasar grosir produsen yang juga mempengaruhi kondisi perberasan di Jabodetabek.***/mel