Tiga Orang Dosen Stikosa AWS Secara Bersamaan Peroleh Hibah Kemendikbudristek

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS– Tiga orang dosen Stikosa AWS secara bersamaan meraih pendanaan hibah pengabdian kepada masyarakat dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemendikbudristek Tahun 2025.

Ditemui di kampus Stikosa AWS, Jl Nginden Intan Timur I/18 Medokan Semampir Surabaya, Jumat (30/5), Kaprodi Bisnis Digital Stikosa AWS, Mochammad Arkansyah, M.I.Kom menyampaikan rasa syukur dan harapannya.

“Ini berkat dorongan LPPM dan Stikosa AWS yang terus mendukung pengembangan kompetensi riset para dosen” ujarnya gembira.

Arkansyah sendiri merupakan salah satu dosen penerima hibah pengabdian dari Kemendikbudristek tersebut. Beranggotakan dua orang dosen Stikosa AWS, Ratna Puspita Sari dan Yunita, ia mengajukan proposal pengabdian berjudul “Pemberdayaan Masyarakat Bisnis Digital Kampung Kue Rungkut Surabaya untuk Digital Branding dan E-Commerce UMKM.”

Program ini bertujuan mendorong transformasi digital bagi pelaku UMKM di kawasan Kampung Kue Rungkut, Surabaya, dengan fokus pada penguatan branding digital dan pemanfaatan platform e-commerce agar pelaku usaha lokal mampu bersaing di era ekonomi digital.

Sedangkan dua orang dosen Stikosa AWS yang juga menerima hibah pengabdian adalah Suprihatin, M.Med.Kom dan Baswara Yua Kristama, M.Sos atau akrab dipanggil Joa Ibas.

Dihubungi via tilpun, Suprihatin meyebut bahwa jenis hibah yang diterimanya adalah Penelitian Fundamental Bima Kemdiktisaintek 2025. Melalui proposal bertajuk “Membaca Strategi Komunikasi Politik Anggota Legislatif Perempuan di Parlemen Daerah: Studi Kasus di Provinsi Jawa Timur”, Suprihatin menyorot partisipasi perempuan dalam politik.

Beranggotakan dua orang Dosen Stikosa AWS, yakni Ratna Puspita Sari dan Anita Agustina Wulandari serta Rini Nurchofifah, mahasiswa Stikosa AWS, Suprihatin menggunakan metode metode kualitatif dengan studi kasus.

Menurut Suprihatin, dari data Pemilu 2019, jumlah anggota DPR RI perempuan hanya mencapai 20,87% atau 120 dari 575 kursi. Tren serupa juga terjadi di tingkat daerah. Di Provinsi Jawa Timur, misalnya, dari total 120 anggota DPRD Provinsi periode 2019–2024, hanya sekitar 23 orang atau 19,2% yang merupakan perempuan.

Padahal dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, disebut bahwa keterwakilan perempuan dalam calon legislatif adalah 30 %.

Meskipun aturan tersebut telah diberlakukan selama lebih dari satu dekade, keterwakilan perempuan di parlemen—baik pusat maupun daerah—belum pernah berhasil mencapai angka 30% secara nasional.

“Peran perempuan di lembaga legislatif seringkali terbentur oleh dominasi budaya patriarkal, mekanisme politik partai, hingga keterbatasan dalam strategi komunikasi politik yang efektif. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana perempuan legislator di daerah, khususnya di Provinsi Jawa Timur, membangun representasi politiknya dan merancang strategi komunikasi politik untuk mempertahankan eksistensi serta memperluas pengaruhnya” ujarnya.

Sedangkan Joa Ibas, yang juga kepala LPPM Stikosa AWS, mendapat hibah pengabdian melalui proposalnya : Efektivitas Strategi Komunikasi Partisipatif Dalam Meningkatkan Partisipasi Sosial Remaja Karang Taruna Melalui Pendekatan Research Capacity Building di Kabupaten Sidoarjo.

Menurut Ibas, penelitian ini bertujuan merumuskan strategi komunikasi partisipatif berbasis empati dalam program Research Capacity Building (RCB) untuk meningkatkan partisipasi sosial dan kapabilitas pemuda Karang Taruna di Sidoarjo.

Atas capaian ini, Ketua Stikosa AWS, Dr Jokhanan Kristiyono, M.Med.Kom menyatakan apresiasinya.

Pihaknya sangat mengapresiasi capaian para dosen Stikosa-AWS dalam meraih pendanaan nasional. Ini menunjukkan kualitas dan dedikasi tinggi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan serta kontribusi nyata kepada masyarakat.

“Capaian ini menjadi bukti komitmen Stikosa AWS dalam mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi, khususnya dalam aspek keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam program riset dan pengabdian kepada masyarakat yang berdampak langsung” ujarnya, penuh semangat.***poedji

Gebrakan Baru Tim Dosen Stikosa AWS, Menerbitkan Dua Karya Buku Sekaligus

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS – Gebrakan baru tim dosen Stikosa AWS di tahun 2025, dengan menerbitkan sekaligus dua buku tentang ilmu komunikasi.

Buku pertama “Digital Marketing Communication” dan “Sinematografi”. Kedua buku tersebut sudah dirilis sejak April 2025.

Ditemui di kampus Stikosa AWS, Jl Nginden Intan Timur I/18 Medokan Semampir Surabaya, Sabtu (3/5), Ketua Program Studi Digimarkom, Mochamad Arkansyah, M.Ikom mengatakan, penerbitan buku ini merupakan wujud komitmen mendukung kemajuan literasi komunikasi visual sekaligus menegaskan posisi kampus Stikosa AWS sebagai pusat pengembangan keilmuan komunikasi berbasis teknologi dan kreativitas.

Buku pertama “Digital Marketing Communication” , ditulis oleh tim dosen yang terdiri dari Mochammad Arkansyah, M.I.Kom, Dr. Jokhanan Kristiyono, S.T., M.Med.Kom, Baswara Yua Kristama, M.Sosio., dan Yuga Adi Kusuma, S.AB., M.PSDM.

Diterbitkan dengan ukuran 15,5 x 23 cm sebanyak 437 halaman, buku ini tercatat dengan ISBN: 978-634-220-382-8 dan dipatok dengan harga Rp 139.000/buku.

Buku ini hadir sebagai referensi komprehensif dalam memahami konsep, strategi, dan implementasi pemasaran digital yang semakin relevan di era Society 5.0. Selain itu bertujuan untuk memperkuat pemahaman dan keterampilan strategis dalam dunia pemasaran digital berbasis data, sekaligus merespons tren komunikasi bisnis yang berkembang cepat di tengah kemajuan teknologi.

Disusun oleh para ahli berpengalaman, buku ini mengintegrasikan pendekatan akademis dan praktis yang dapat langsung diaplikasikan dalam membangun serta mengembangkan bisnis digital.

Di era digital seperti sekarang, digital marketing bukan lagi sekadar opsi, tetapi menjadi kebutuhan utama. Buku ini kami susun tidak hanya untuk meningkatkan literasi digital marketing, tetapi juga sebagai kontribusi dalam meningkatkan kualitas pengajaran serta reputasi akademik dosen Stikosa AWS.

Buku kedua, “Sinematografi”, merupakan panduan praktis nemahami dunia Sinema Visual. Ditulis oleh tim dosen Stikosa AWS, Yunita Indinabila, S.Sos., M.I.Kom., Mochammad Arkansyah, S.I.Kom., M.I.Kom., Athok Murtadlo, S.Kom.I., M.Sos., dan Aulia Afniar Rahmawati, S.I.Kom., M.Med.Kom.

Diterbitkan dalam ukuran 15,5 x 23 cm, buku setebal 122 halaman ini dicetak pertama kali pada April 2025, dengan ISBN 978-634-220-385-9, dan dibanderol dengan harga terjangkau sebesar Rp69.000.

Berbeda dari buku akademik lainnya, Sinematografi dirancang untuk menjadi jembatan antara teori dasar dan praktik teknis dalam dunia sinema. Buku ini membahas elemen-elemen penting sinematografi seperti: Sejarah dan evolusi sinematografi, Tata kamera dan pencahayaan, Teknik pengambilan gambar (shot, angle, movement), Komposisi visual dan framing, Peran sinematografi dalam storytelling, Studi kasus dan praktik produksi film pendek.

“Buku ini kami susun untuk menjawab kebutuhan mahasiswa komunikasi, praktisi konten kreatif, dan siapa pun yang ingin memahami dasar-dasar sinematografi secara aplikatif. Di tengah ledakan industri konten visual digital, pemahaman teknis seperti ini menjadi sangat penting,” ujar Arka, salah satu penulis buku tersebut.

Dihubungi di tempat yang sama, Ketua Stikosa AWS, Dr Jokhanan Kristiyono mengatakan, terus mendorong para dosen muda Stikosa AWS untuk giat menulis buku, dalam upaya menegaskan peran Stikosa AWS sebagai pusat pengembangan keilmuan komunikasi dan pemasaran digital di Indonesia, serta komitmennya dalam mencetak lulusan yang siap bersaing di era ekonomi digital global.

“Kedua buku ini merupakan pilot project untuk penerbitan buku selanjutnya karya para dosen Stikosa AWS” ujar Jokhanan yang juga sedang menyelesaikan karya buku terbarunya tersebut.***poedji

Munio ke-6 Diisi dengan Istiqosah dan Santunan untuk Anak-anak Yatim

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS – Acara diskusi terbuka, Munio ! kembali digelar di pendopo kampus Stikosa AWS, Jl Nginden Intan Timur I/18 Surabaya, Jumat (21/3), di tengah hujan lebat yang mengguyur kota Surabaya.

Bertema ”Puasa, Menahan Diri atau Menahan Lapar”, acara Munio ke-6 di 10 hari terakhir bulan Ramadhan ini dikemas istimewa.

Setelah pelaksanaan diskusi, dilanjutkan dengan istigosah dan pemberian bingkisan & santunan lebaran kepada puluhan anak yatim dari Panti Asuhan Yatim Assalafiyah Surabaya serta buka puasa bersama.

Di kesempatan terpisah, Ketua Stikosa AWS, Jokhanan Kristiyono, menyatakan rasa harunya bahwa acara buka puasa bersama jajaran Dosen & Tendik, pengurus Yayasan, tamu undangan yang hadir serta anak-anak yatim ini terselenggara dengan lancar.

“Guyup rukun dan santun akan terus kita upayakan di lingkungan kampus sehari-hari” ujarnya.

Dipandu Athok Murtadhlo, Gagas Aji dan Clara Devita, acara ini menghadirkan sejumlah narasumber. Antara lain Dr Suprawoto (mantan Bupati Magetan 2 periode) yang juga Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Wartawan Jawa Timur (YPWJT), Zainal Arifin Emka (ex Wapemred Harian Surabaya Post yang juga Dosen Stikosa AWS), Muhajir Sulthonul A. (Ketua RTIK Jawa Timur), Probo Darono, Sigit (Ahli Filologi) dan Ratna Puspita Sari (Wakil Ketua Stikosa AWS).

Sebagai pegiat TIK, Muhajir berpendapat bahwa puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, namun juga hendaknya jari juga ikut berpuasa. Artinya, menahan diri dari komen amarah maupun kalimat tidak senonoh di media sosial. Hal senada disampaikan Ratna Puspita.

Ia menyayangkan konten mokel (membatalkan puasa) yang cukup marak di berbagai platform medsos. Menurut Zainal Arifin, puasa harus dilakukan dengan kesadaran agar bisa memaknai hakekat puasa, tidak sekedar menjalankan kewajiban.

Sejak diadakan pertama kali pada awal Oktober 2024, kerja bareng dengan kolokium.id, Munio telah menjadi acara reguler tiap bulan di Stikosa AWS.

Acara ini banyak mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan. Setiap episode menyoroti tema aktual yang beragam.

Narasumber tidak terbatas pada tokoh yang bicara di panggung, namun setiap peserta boleh menyatakan pendapatnya secara bebas dan terbuka. Menyitir statement Jokhanan, Munio merupakan ruang publik tempat kita bersuara bareng menyampaikan opini.

Ada yang bicara, ada yang mendengar. Tidak terbatas pada ruang-ruang kelas yang terkotak-kotak untuk belajar teori.

Selain digelar secara off air di kampus Stikosa AWS, acara ini juga diproduksi untuk program tv, bertajuk “Munio On Screen” dipandu Dr Sukowidodo. Bisa di akses di Youtube kanal Munio TV. ***poedji

MoT Implementasi Desa Cerdas Nasional di Stikosa AWS

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS – Selama dua hari 20- 21 Februari 2025 Stikosa AWS menjadi tempat penyelenggaraan Master of Trainer (MoT) Peningkatan Kapasitas Pendampingan Implementasi Desa Cerdas Nasional 2025.

Acara ini diselenggarakan Relawan Teknologi Informasi & Komunikasi (RTIK) bekerja sama dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia.

Acara MoT yang diselenggarakan secara hybrid di ruang multimedia kampus Stikosa AWS itu didahului dengan acara pembukaan yang berlangsung di aula Diskominfo Jawa Timur, Jl. Ahmad Yani 242 Surabaya (19/2).

Narasumber MoT adalah beberapa tenaga ahli dari Kemendes, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), RTIK, Pengelola Nama Domain Indonesia (Pandi), Assosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Jawa Timur serta Ketua Stikosa AWS, Dr Jokhanan Kristiyono, M.Med.Kom.

Menurut Ketua Umum RTIK, Hani Purnawanti, peserta MoT yang hadir berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Antara lain dari Kalimantan Selatan, Bengkulu, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Bali.

Mereka akan diminta melaksanakan sosialisasi Desa Cerdas dan pemberdayaan RTIK dengan melaksanakan pendampingan di wilayah masing-masing.

“Sosialisasi dan pendampingan ini berlaku secara nasional di lokus-lokus yang sudah ditentukan oleh Kemendesa maupun desa yang secara swadaya menginginkan program ini” ujar Hani.

Dalam sambutan pengarahan, Kabid Kemasyarakatan Desa Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Jatim, Drs Tri Yuwono, M.Si mengatakan bahwa desa adalah pilar utama dalam perencanaan pembangunan nasional. UU No 6/2014 sudah mencanangkan desa sebagai subyek, bukan lagi sebagai obyek seperti pada tahun-tahun sebelumnya.

Oleh karena itu ia berpesan kepada para peserta MoT, sebelum masuk ke desa harus memahami betul seluk beluk tentang desa selain kompetensi yang dipunyai para pendamping desa dalam melaksanakan sosialisasi dan pemberdayaan

Tri Yuwono mengatakan, walaupun mempunyai 286 wilayah kepulauan namun Jawa Timur tidak termasuk dalam daerah 3 T (tertinggal, terdepan dan terluar) dalam skala nasional. Ia menyebut data, dari 7721 desa yang ada di Jawa Timur, 4019 desa atau 43,5 % merupakan desa mandiri. Yakni desa yang mempunyai ketersediaan dan akses terhadap layanan dasar, kegiatan sosial, kegiatan ekonomi, lingkungan, aksesibilitas dan administrasi pemerintahan yang sudah sangat baik.

Atau desa yang sudah bisa mengelola sumber daya alam sendiri untuk meningkatkan kesejahteraan. Sisanya terdiri dari kategori desa maju sebanyak 2924 desa, kategori berkembang 778 desa dan tidak ada satupun kategori desa tertinggal atau sangat tertinggal.

Dalam sesi pembekalan di ruang multimedia kampus Stikosa AWS, berbagai materi disampaikan oleh masing-masing narasumber. Mulai dari tata kelola desa cerdas, tata kelola Bumdes, teknologi internet desa mandiri, praktek micro teaching dan sebagainya.

Salah satu narasumber, Mujianto, kordinator program desa cerdas Kementerian Desa PDT memberi tips dan trik menarik bagaimana melakukan perencanaan, pendampingan dan pemberdayaan di desa. Ia memberi contoh desa Sri Mulyo di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta yang sudah melaksanakan digitalisasi desa dengan sangat bagusnya. Desa ini merupakan desa percontohan pengelolaan desa terbaik se Indonesia dan banyak didatangi tamu-tamu mancanegara untuk belajar tata kelola desa.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua RTIK Jawa Timur, Muhajir Shultonul Azis, M.I.Kom mengatakan bahwa penyelenggaraan MoT berskala nasional ini sengaja memilih kampus Stikosa AWS sebagai tempat pelaksanaan kegiatan.

“Stikosa AWS merupakan salah satu mitra Relawan TIK yang selama ini berkomitmen untuk bersama-sama melaksanakan pemberdayaan dengan komunitas Relawan TIK ke desa melalui program Desa Cerdas” ujarnya.

Hal ini dibenarkan oleh Jokhanan. Menurut Ketua Stikosa AWS tersebut, kerjasama dengan RTIK Jatim sudah berlangsung lama. Bahkan sudah terbentuk Komisariat RTIK Stikosa AWS pada tanggal 2 Juni 2022.***poedji

Stikosa AWS dan Puskakom Kembali Menggelar Sekolah Legislatif

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS – Stikosa AWS dan Pusat Kajian Komunikasi (Puskakom) Surabaya kembali menggelar Sekolah Legislatif bersama para legislator dari DPC Partai NasDem Kab Probolinggo, Minggu (19/01) di Hotel Elmi Surabaya.

Kegiatan ini untuk meningkatkan pemahaman masyarakat atau kelompok tertentu tentang peran, fungsi, dan mekanisme kerja legislatif.

Sejumlah akademisi tampil sebagai narasumber, yakni Dr. Suko Widodo, M.Si, Psikolog Dr. Diana Rahmasari, M. Psi., Prof. Dr Ignatia Martha Hendrati, M.E dan Yuga Adi Kusuma, M.PSDM.

Suko Widodo memberikan materi pembekalan Mengubah Kata Menjadi Kebijakan: Public Speaking Efektif untuk Anggota Dewan.

Menurutnya, materi ini merupakan keterampilan yang sangat penting bagi anggota dewan, karena mereka sering berbicara di depan publik, menyampaikan pendapat dalam sidang, berdialog dengan konstituen, atau memberikan pidato dalam acara formal maupun informal.

“Sekolah legislatif ini merupakan langkah cerdas antisipasi meningkatnya tuntutan publik. Melalui sekolah ini, dewan bisa mudah beradaptasi dengan perubahan zaman” ujar Suko, yang juga Direktur Pengembangan & Kerjasama Stikosa AWS.

Pada kesempatan tersebut Hj. Dini Rahmania, S.IAN., MM. sebagai peserta sekaligus anggota DPR RI komisi 8 memberikan apresiasi yang tinggi atas penyelenggaraan sekolah legislatif terutama para pemateri dapat memotivasi para legislator dari partai NasDem kabupaten Probolinggo untuk pendidikan politik yang berkualitas guna mendukung demokrasi yang lebih sehat dan inklusif.

“Materi terkait etika dan transparans ini dapat menekankan pentingnya integritas dalam politik. Dan ada saling berbagi pengalaman langsung tentang proses debat dan pengambilan keputusan di legislatif” tuturnya.

Hj Dini menambahkan, Sekolah Legislatif akan terus diselenggarakan guna mendorong para legislator dari NasDem bergerak cerdas untuk pembangunan daerah terutama untuk riset opini public dan digital public speaking.

Yuga Adi Kusuma, S.AB., M.PSDM. selaku pengelola kegiatan juga dosen Digimarcom Stikosa AWS menjelaskan bahwa Sekolah Legislatif ini dilaksanakan oleh lembaga pemerintah, DPRD, partai politik, atau organisasi nonpemerintah untuk mempersiapkan individu agar mampu berkontribusi dalam proses pembuatan kebijakan, baik sebagai calon anggota legislatif (caleg) maupun sebagai warga aktif yang memahami proses legislasi.

“Sekolah legislatif ini bertujuan meningkatkan wawasan tentang sistem politik, proses legislasi, serta tanggung jawab dan etika legislatif serta melatih kemampuan seperti membuat undang-undang, lobi politik, advokasi kebijakan, dan berbicara di depan publik.”pungkas Yuga.***poedji

Acara MUNIO! Stikosa AWS, Dihadiri Tokoh Berkegiatan Tentang Kepahlawanan

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS– Acara MUNIO! episode dua yang digelar di halaman kampus Stikosa AWS, Jl. Nginden Intan Timur I/18 Surabaya, Jumat malam 8/11/2024 dihadiri banyak tokoh, sesuai esensi tema yang diangkat.

Thema malam itu yakni, setiap orang adalah pahlawan. Setiap orang menjalani peperangannya masing masing. Dan setiap orang adalah pahlawan.

Tampak hadir Herlina Harsono Nyoto, psikolog dan anggota dewan fraksi Demokrat DPRD Surabaya, Prof Suyanto dari Unair, dr Prayoga dari Rumah Sakit Kristen Mojowarno, Prigi Arisandi dari Ecoton, Fajar Arifianto Isnugroho Dirut Rumah Pemotongan Hewan Surabaya, Kompol Gandi Dharma SH, SIK, MH Wakapolres Ponorogo dan Meimura, seniman teater/ludruk.

Pemandu diskusi, Dr Sukowidodo mangatakan, tema acara MUNIO kali ini memang menghadirkan para tokoh yang kegiatannya mengandung esensi kepahlawanan namun luput dari perhatian khalayak.

Dokter Prayoga memberi contoh tindakan sederhana untuk menjadi pahlawan. Ia mengamati bahwa mayoritas rumah sakit maupun fasilitas umum lainnya menggunakan papan petunjuk menggunakan bahasa Inggris dengan terjemahan bahasa Indonesia.

Padahal, mayoritas pengguna di daerah adalah orang Jawa. Oleh karena itu ia menginisiasi penggunaan papan petunjuk menggunakan bahasa Jawa, khususnya di Rumah Sakit Kristen Mojowarno, Jombang.

Hal ini akan lebih memudahkan pengunjung dan juga sebagai upaya pelestarian bahasa Jawa.

Upaya yang dilakukan Prigi Arisandi lain lagi. Aktifis lingkungan hidup ini menyoroti masalah polusi dan kesehatan yang diakibatkan oleh plastik. Bahkan banyak warga masyarakat yang tidak menyadari bahwa dirinya sudah tercemar oleh mikro plastik yang bisa menimbulkan berbagai masalah kesehatan, khususnya di bagian wajah.

Oleh karena itu ia membuka layanan uji laboratorium bagi masyarakat yang ingin memeriksakan wajahnya sudah mengandung mikro plastik atau tidak di beberapa tempat umum di Surabaya. Ia menyebut pemeriksaan uji mikro plastik akan dilaksanakan tanggal 13 November 2024 mulai jam 10.00 sampai jam 13.00 di depan gedung Grahadi Surabaya, dan secara bertutut turut juga dilaksanakan di tempat lainnya.

Bagi warga Jawa Timur, khususnya pemerhati lingkungan, nama Prigi dikenal sebagai pendiri ECOTON (Ecological Observation and Wetland Conservations) atau Yayasan Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah.

Ia dua kali menerima penghargaan internasional dalam bidang lingkungan hidup. Antara lain Anugerah Lingkungan Goldman pada tahun 2011 berkat usahanya dalam mengurangi polusi industri di Sungai Surabaya. Dan pada tahun 2024, ia menerima penghargaan Environmental Humanitarian Award untuk individu dari Humanity Awards.

Demikian juga seniman Meimura. Ia konsisten memainkan tokoh Besut & Rusmini, yang merupakan cikal bakal pertunjukan seni ludruk. Dalam acara di halaman kampus Stikosa AWS tersebut, Meimura memainkan Besutan lengkap dengan tari Remo ala besutan bersama seniman Den Bei.

Yang sangat menarik adalah ungkapan Herlina Harsono Nyoto. Menurutnya, sebagai anggota dewan dituntut untuk bisa bicara dan menulis, yang bermanfaat untuk masyarakat. Sebagai anggota komisi C Herlina menyoroti masalah pengelolaan sampah di kota Surabaya. Sesuai standart lingkungan, perlu dilakukan pemilahan antara sampah kering dan sampah basah.

Ia sendiri, dan banyak juga ibu-ibu lain sudah bersusah payah memilah antara sampah kering dengan sampah basah sebelum dibuang ke tempat pembuangan sementara (TPS).

Tapi yang banyak sekali terjadi adalah, petugas pengambil sampah mencampur kembali kedua jenis sampah tersebut. Dari kebiasaan tersebut, ia menyuarakan pendapatnya agar Pemerintah Kota melakukan campur tangan intervensi dari TPS ke TPA. Dari hasil bicaranya tersebut, kini sedang dipersiapkan regulasi yang mengatur pengelolaan sampah.

Demikanlah, kisah-kisah dari para narasumber tersebut sangat inspiratif, yang menegaskan bahwa setiap orang bisa menjadi pahlawan, baik di lingkungan kecil keluarga maupun di masyarakat.

Sebagai acara reguler tiap bulan di kampus Stikosa AWS, MUNIO ! akan mengangkat tema lain yang lebih menarik dengan beragam narasumber yang representatif.***poedji

Membaca Takdir Nusantara ke-2 di Stikosa AWS Tetap Dibanjiri Para Jamaah

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS – Mengulang sukses gelar pengajian maiyah di panggung terbuka halaman kampus Stikosa AWS pada akhir Juli 2024 lalu, komunitas Bang Bang Wetan kembali menggelar pengajian serupa di tempat yang sama, Minggu (20/10/2024) malam.

Kendati tanpa kehadiran sang maskot, Mas Sabrang Neo Letto, namun pengajian maiyah malam itu tetap dibanjiri para jamaah yang mayoritas anak muda.

Mengangkat tema “Membaca takdir nusantara, menuju Indonesia berdaulat” menghadirkan tiga narasumber dari beragam latar belakang profesi. Yakni Dr Trijoyo dari kalangan akademisi, Komikal Fuad Andi Sasmita dan Totenk Rosmawan, pimpinan Sanggar Lidi Surabaya dari kalangan budayawan.

Walaupun tema yang diangkat relatif cukup berat, namun pengajian tetap dalam suasana cair dan santai. Seloroh komedian Fuad dengan logat khas Madura serta selingan ludrukan Robert Bayonet dan Arif dari grup ludruk Luntas cukup menyegarkan suasana.

Tema Membaca takdir nusantara berangkat dari pemikiran sang pendiri pengajian maiyah, Emha Ainun Najib atau sering dipanggil Mbah Nun, bahwa nusantara ini membutuhkan kebangkitan.

Tidak hanya dalam pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi lebih penting lagi, kebangkitan spiritual. Seperti kisah nabi Khidir yang merusak perahu untuk menyelamatkan masa depan. Kita harus siap merusak “perahu-perahu”, yakni sistem yang selama ini tampak berjalan baik, tapi sesungguhnya membawa kehancuran.

Jika ingin berdaulat, kita harus siap untuk mengorbankan kenyamanan semu demi masa depan yang lebih bijak dan berkelanjutan.

Tema ini seolah memberi pesan khusus kepada pemimpin baru Republik Indonesia, Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka beserta jajaran kabinet yang baru dilantik pada hari yang sama, 20 Oktober 2024.

Sebagai ahli sejarah Islam, Trijoyo menyampaikan pandangannya bahwa di setiap kemajuan peradaban suatu bangsa selalu ada pemimpin yang mempunyai kapasitas sesuai jamannya.

Faktor pertama yang harus dibangun terlebih dahulu adalah sektor ekonomi dan keamanan. Kegiatan ekonomi dan perdagangan dapat berjalan baik jika keamanan suatu negara terjamin aman, baik militer yang kuat maupun kemampuan dalam mengendalikan keamanan. Setelah itu baru sektor pendidikan atau peradaban.

Trijoyo mengambil contoh masa kepemimpinan Sultan Harun Al Rasyid (786 – 803 M), khalifah kelima dari Dinasti Abbasiyah. Masa ini merupakan puncak keemasan Islam yang diakui dunia. Pada saat itu Baghdad menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dunia.

Perbedaan pendapat merupakan hal yang biasa. Bahkan timbulnya empat mashab Syafii, Hambali, Maliki dan Hanafi terjadi pada masa Abbasiyah, tegas dosen Ilmu Sejarah Islam salah satu universitas di Surabaya itu.

Sebaliknya kemunduran suatu bangsa atau hancurnya suatu dinasti disebabkan oleh disintegrasi atau perpecahan dan korupsi. Jika pemimpin suatu negara melakukan korupsi, maka akan ditiru oleh pejabat-pejabat dibawahnya.
Akhirnya suatu negara hancur karena korupsi.

Banyak pikiran dan pertanyaan kritis yang dilontarkan narasumber dan jamaah yang hadir. Sampai waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari, diskusi masih berlangsung dengan seru.

Dalam beberapa kali kesempatan, Ketua Stikosa AWS Dr Jokhanan Kristiyono, M.Med.Kom menyatakan bahwa Stikosa AWS memang memberi wadah public space atau ruang terbuka untuk acara diskusi secara terbuka dan bebas menyampaikan uneg-uneg atau pendapat.

Selain pengajian maiyah Bang Bang Wetan, Stikosa AWS juga akan menggelar kembali acara forum komunikasi, diskusi dan belajar terbuka bertajuk MUNIO ! yang mendapat sambutan sangat baik dari banyak pihak.

Acara ini sendiri merupakan rangkaian dari Dies Natalis Stikosa AWS ke-60. ***poedji

Memoles Citra di Akhir Masa Jabatan, Jokhanan Kristiyono: Jangan Korbankan Masyarakat

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS— Kabar politisi sibuk memoles citra positif menjelang akhir masa jabatan menuai pendapat dari Jokhanan Kristiyono, pemerhati komunikasi politik dari Stikosa AWS. Katanya, pemolesan citra dalam politik sah-sah saja, tetapi jangan sampai mengorbankan masyarakat yang bingung memahami apa yang terjadi.

“Secara umum, penciptaan narasi positif ini hal yang wajar. Karena politisi berharap dapat menghindari kritik dari lawan politik atau media,” ungkapnya di Kampus Stikosa AWS, Kamis (17/10/2024).

Fenomena politisi yang memoles citra positif menjelang akhir masa jabatan, kata Jokhanan, kerap terjadi untuk menjaga atau menciptakan citra positif.

Dengan cara ini politisi berharap dapat mempertahankan basis pendukung yang sudah ada dan bahkan menarik simpati dari kelompok pemilih baru. Ini penting untuk menjaga pengaruh politik mereka, baik di masa jabatan saat ini maupun di masa depan.

Alasan lain, ini dilakukan untuk membangun legasi. Politisi ingin meninggalkan warisan positif selama menjabat. Dengan mempromosikan pencapaian dan program-program yang berhasil, mereka berharap dapat dikenang sebagai pemimpin yang sukses.

“Bagi politisi yang ingin melanjutkan karir politik, citra positif sangat penting untuk mendapatkan dukungan partai atau masyarakat dalam pemilihan berikutnya. Di sisi lain, citra yang baik dapat membuka peluang bagi politisi untuk mendapatkan posisi strategis di sektor swasta setelah pensiun dari dunia politik,” terang Jokhanan yang juga tercatat sebagai Ketua Stikosa AWS ini.

Dalam hal apapun, reputasi selalu menjadi hal yang penting. Kalkulasi sederhana, kata Jokhanan, semakin lemah tingkat popularitas seorang politisi, semakin besar kemungkinan ia akan melakukan upaya ekstra untuk memoles citra.

Hal lain, situasi politik yang dinamis dan kompetitif juga dapat mendorong politisi untuk lebih agresif dalam mempromosikan diri.

Kebingungan Masyarakat

Ketika reputasi dari politisi menurun, dan saat itu juga dia bekerja keras memoles citra di media berita dan media sosial, sebetulnya yang paling dikorbankan adalah masyarakat.

“Karena mereka akan kesulitan mencari jawaban, apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana membedakan antara upaya pemolesan citra yang manipulatif dan yang memang seharusnya. Apalagi jika aksi pemolesan merambah media mainstream,” kata Jokhanan.

Dalam kondisi demikian, ia pun mengingatkan bahwa literasi media selalu dibutuhkan. Apakah tindakan seorang politisi sejalan dengan pernyataan-pernyataan yang mereka sampaikan? Jika ada ketidaksesuaian yang signifikan, maka perlu dipertanyakan ketulusan upaya pemolesan citra mereka.

“Jangan hanya mengandalkan satu sumber informasi. Cobalah untuk mencari informasi dari berbagai media, termasuk media sosial dan laporan independen. Dengan begitu, kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif,” tegas Jokhanan.

Inisiatif ini diperlukan agar masyarakat terbiasa melakukan analisis kritis terhadap sebuah klaim. Setiap klaim yang disampaikan oleh politisi perlu diuji kebenarannya. Periksa data, fakta, dan bukti yang mendukung klaim tersebut. Jangan mudah percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan.

Meski agak berisiko, membaca reaksi publik juga jadi jalan keluar. Bagaimana publik merespons upaya pemolesan citra tersebut? Apakah ada banyak pihak yang meragukan atau bahkan mengkritik? Reaksi publik bisa menjadi indikator yang cukup baik untuk menilai keaslian upaya tersebut.

“Lihatlah jejak rekam seorang politisi. Apakah mereka memiliki sejarah panjang dalam melakukan tindakan yang konsisten dengan nilai-nilai yang mereka promosikan saat ini? Jejak rekam bisa memberikan gambaran yang lebih jelas tentang karakter dan niat seseorang,” tutup Jokhanan.***poedji

Pakar Komunikasi Stikosa AWS Ingatkan Potensi Hoaks Berbasis AI di Pilkada 2024

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS – Hoaks masih terus bermunculan. Mulai dari kabar give away dari Raffi Ahmad di Facebook, proses mematikan sapi dengan cara ditembak yang disinyalir terjadi di RPH Surabaya, hingga info Gibran Rakabuming Raka yang dikabarkan mundur dan diganti Anies Baswedan. Rangkaian catatan ini, kata Riesta Ayu Oktarina, pemerhati media dari Stikosa AWS, jadi catatan suram dunia digital apalagi menjelang Pilkada 2024.

“Catatan kami, sebaran ini kuat di media sosial. Sementara banyak pengguna internet saat ini lebih suka mencari informasi di media sosial, bukan media pemberitaan,” kata Riesta yang juga tercatat sebagai dosen komunikasi di Stikosa AWS ini, Kamis (10/10/2024).

Langkah keliru, karena mencari informasi yang tidak terverifikasi, kerap diikuti tindak sebar ulang karena referensi pengguna yang terbatas.

“Dulu ada kampanye hati-hati menyebar informasi di media sosial. Tapi kebiasaan re-share itu masih kuat. Akibatnya info hoaks juga tersebar cepat,” katanya.

Diakui, media sosial memang memungkinkan informasi menyebar dengan sangat cepat. Platform seperti Facebook, Instgram, X, Tiktok dan WhatsApp memiliki fitur berbagi yang memudahkan pengguna menyebarkan informasi tanpa verifikasi, sehingga hoaks dapat tersebar dalam hitungan detik ke banyak orang. Di sisi lain, pengguna media sosial tak selalu memiliki literasi digital yang baik.

“Banyak pengguna media sosial masih kurang memahami bagaimana memverifikasi kebenaran informasi. Mereka cenderung mempercayai dan membagikan informasi yang sesuai dengan keyakinan mereka tanpa mengecek sumber atau kredibilitas informasi tersebut,” jelas Riesta.

Kondisi ini, lanjut dia, diperburuk dengan algoritma platform media sosial sering kali memperkuat informasi yang mendapatkan banyak interaksi, tanpa mempertimbangkan apakah informasi tersebut benar atau salah. Hal ini menyebabkan hoaks yang bersifat sensasional atau memicu emosi lebih mudah viral dibandingkan berita yang benar dan netral.

Lebih lanjut, Kaprodi Ilmu Komunikasi Stikosa AWS ini juga menggaris bawahi aspek emosional manusia. Katanya, informasi yang menimbulkan emosi kuat, seperti ketakutan, kemarahan, atau harapan, lebih mungkin untuk dibagikan.

“Hoaks sering kali dirancang untuk memanfaatkan emosi ini, sehingga orang terpicu untuk menyebarkannya tanpa berpikir kritis terlebih dahulu,” kata dia.

Dalam konteks makro, hoaks akan mendapat ruang hebat saat momen politik, termasuk Pemilu 2024 lalu dan Pilkada 2024 mendatang.

“Hoaks sering kali dimanfaatkan sebagai alat untuk memperkuat polarisasi politik atau sosial. Di tengah perpecahan politik yang kuat, orang cenderung percaya pada informasi yang mendukung pandangan politik atau ideologi mereka, terlepas dari kebenarannya,” terang Riesta.

Penggunaan AI dan Literasi Digital

Meskipun beberapa platform telah menerapkan langkah-langkah untuk memerangi hoaks, Riesta melihat masih banyak informasi palsu yang lolos dari pengawasan. Upaya moderasi belum cukup kuat untuk menangkal banjir hoaks yang beredar setiap hari.

Banyak pihak yang menyebarkan hoaks karena ada insentif ekonomi (misalnya untuk mendapatkan klik atau iklan) atau politik (untuk memanipulasi opini publik). Dengan menyebarkan informasi palsu, mereka bisa mendapatkan keuntungan finansial atau politik.

“Dengan kombinasi faktor-faktor tersebut, hoaks memiliki lingkungan yang subur untuk berkembang di media sosial. Tantangan terbesar adalah bagaimana meningkatkan literasi digital masyarakat, memperkuat moderasi platform, serta mendorong budaya verifikasi informasi sebelum membagikannya,” jelas Riesta lagi.

Terkait penggunaan AI dalam konteks hoaks, Riesta menyampaikan, produknya sudah semakin banyak. Penggunaan kecerdasan buatan untuk membuat hoaks, terutama dalam bentuk video, audio, dan gambar, menjadi semakin umum dan canggih.

Dari pantauan yang dilakukan, penggunaan itu terjadi dalam konteks deepfake, yaitu teknologi yang menggunakan AI dan pembelajaran mesin untuk menciptakan video atau audio yang sangat realistis dengan menirukan wajah atau suara seseorang.

“Dengan menggunakan algoritma, seseorang dapat mengganti wajah atau suara dalam video asli dengan yang lain, sehingga tampak seolah-olah orang tersebut melakukan atau mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah mereka lakukan atau katakan,” ingatnya.

Kedua, pembuatan suara sintetis. Riesta melihat, produksi konten ini memanfaatkan teknologi Text-to-Speech (TTS) yang dapat menghasilkan suara manusia yang sangat alami dengan meniru nada, intonasi, dan emosi.

AI dapat dilatih untuk meniru suara individu tertentu dengan cukup akurat, yang memungkinkan pembuat hoaks untuk menghasilkan rekaman suara yang seolah-olah berasal dari orang terkenal atau pejabat publik.

Dengan mengumpulkan data suara dari rekaman yang ada, AI dapat menganalisis dan menciptakan pola suara yang mirip dengan suara target, sehingga memungkinkan pembuatan audio yang sangat meyakinkan.

“Ketiga adalah manipulasi gambar. Teknologi generatif seperti DALL-E atau Stable Diffusion dapat digunakan untuk menciptakan gambar yang sepenuhnya baru atau memanipulasi gambar yang sudah ada. Ini dapat mencakup pembuatan gambar palsu dari tokoh publik dalam situasi yang merugikan atau menyesatkan,” papar Riesta.

Saat teknologi AI berkembang pesat, deteksi hoaks berbasis AI menjadi semakin sulit. Meskipun ada alat yang dirancang untuk mendeteksi deepfake dan konten palsu lainnya, teknologi juga terus berkembang, sehingga menciptakan tantangan bagi pakar keamanan dan media untuk mengidentifikasi konten yang sebenarnya.

“Untuk itu, kita butuh niat baik untuk mencegah sebaran dan produksi hoaks. Edukasi untuk masyarakat, etika, dan regulasi, mesti di satu suarakan. Karena ini problem serius! Penting bagi platform teknologi, pemerintah, dan masyarakat untuk bekerja sama dalam mengatasi penyebaran hoaks yang dihasilkan oleh AI,” tegasnya.

Sebagai akademisi, Riesta kemudian mengingatkan agar setiap elemen potensial mau melakukan upaya bersama. Baik lembaga pendidikan, lembaga media massa, bahkan individu.

“Setiap lembaga harus mengintegrasikan kurikulum literasi digital yang kuat. Literasi ini harus mencakup kemampuan untuk membedakan informasi yang benar dari yang salah, bagaimana teknologi AI bekerja, serta cara mendeteksi konten palsu. Dari situ kita menghadang potensi hoaks,” tandasnya.***poedji

Alumni Stikosa AWS Bagikan 320 Makan Siang Gratis untuk Anak Yatim Piatu

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS – Alumni Stikosa AWS membagikan 320 nasi kotak ke beberapa panti asuhan di Surabaya dan Sidoarjo, Jumat (20/9/2024).

Giat alumni yang tergabung dalam IKA Stikosa AWS ini digelar untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, sekaligus kegiatan Road to Dies Natalis ke-60 Stikosa AWS.

Dian Laksana, penanggung jawab acara menjelaskan, ratusan nasi kotak hasil donasi alumni ini diserahkan agar bisa dinikmati sebagai makan siang anak-anak yatim piatu.

“Ini upaya kami untuk meneladani Rasulullah yang sangat peduli pada anak-anak yatim. Mengasah rasa peduli, berbagi kebahagiaan. Karenanya, beliau adalah rahmat bagi semesta alam,” kata Dian.

Ia menambahkan, nasi kotak yang diperoleh merupakan hasil donasi dari alumni yang tersebar di seluruh Indonesia, khususnya di Surabaya dan Jakarta. Alumni yang memiliki latar belakang beragam, kemudian mengirim donasi ke rekening yang disiapkan IKA Stikosa AWS.

Dana yang terkumpul kemudian dirupakan dalam bentuk nasi kotak, lalu dibagikan ke Pantia Asuhan Istiqomah di Sidoarjo, Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah II di Surabaya, Griya Yatim di Sidoarjo, dan Panti Asuhan Wachid Hasyim di Surabaya.

“Kami berharap agar apa yang sudah kami lakukan ini bisa memberi manfaat bagi mereka, anak-anak yatim di Surabaya dan Sidoarjo,” tutup Dian.

Dalam kegiatan Jumat penuh berkah ini, Jokhanan Kristiyono, Ketua Stikosa AWS, juga ikut membagikan nasi kotak ke panti asuhan yang sudah dipilih. Melihat proses yang ada, ia mengaku merasa sangat bangga.

“Alumni Stikosa AWS tidak hanya berwacana dalam berbagi dan mengasah rasa peduli, tetapi langsung melakukan aksi nyata, dan ini menjadi inspirasi bagi kita semua, khususnya untuk para mahasiswa yang saat ini masih aktif kuliah di kampus,” kata Jokhanan.

Semangat berbagi, lanjut dia, muncul dari kepekaan dan rasa kemanusiaan. Ketika seseorang memiliki kepekaan yang tinggi terhadap kesulitan atau kebutuhan orang lain, hal itu dapat memicu dorongan untuk berbagi.

“Berbagi merupakan wujud nyata dari rasa kemanusiaan. Ketika seseorang merasakan penderitaan yang lain, rasa kemanusiaan akan mendorong tindakan nyata berupa berbagi atau membantu. Dan dalam konteks komunikasi, ini adalah proses penyampaian pesan dengan aksi nyata,” terangnya.

Terkait Road to Dies Natalis Stikosa AWS, Jokhanan menjelaskan, kegiatan IKA Stikosa AWS berbagi ini merupakan kick off rangkaian kegiatan.

“November 2024 ini Stikosa AWS akan merayakan Dies Natalis ke-60. Ada beberapa program yang sudah kami siapkan. Kegiatan yang ada ini merupakan tanggung jawab kami sebagai lembaga pendidikan komunikasi, kampus komunikasi tertua di Indonesia Timur,” tutup Jokhanan.***poedji